Proyek kami sudah berjalan lancar sekitar tiga bulan yang lalu. Rumahku sudah bukan lagi yang dulu, aku sudah pindah ke perumahan yang jauh lebih dekat dengan kantorku. Hampir semuanya baru, termasuk handphone beserta kartu SIMnya.

Waktu berlalu begitu cepat, sekarang sudah tanggal 21 Juni. Libur musim panas di kantorku akan dimulai besok.

Kalau dihitung-hitung, sudah sekitar 7 bulan aku bersamaan dengan Miya. Dia menganggapku serius dengannya, tidak beda jauh dengan perempuan lainnya juga, dia juga banyak maunya.

Aku bergegas menyandang tasku dan mengendarai mobilku menuju ke rumah.

...

Tak lama setelah aku memarkirkan mobilku di garasi samping rumah, handphoneku berdering.

"Halo?"

"..."

"Halo? Ini siapa ya?"

Tidak ada jawaban sama sekali, aneh. Aku segera mengakhiri telepon tersebut.

Penelepon tersebut tidak masuk di kontakku, singkatnya penelepon tak dikenal. Tapi rasanya aku pernah melihat nomor ini dulu. Siapa ya?

...

Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur dan berbaring diatasnya.

Seluruh lampu kamar kumatikan, aku menarik selimutku dan menaruh handphoneku dalam mode silent di meja samping.

Pikiranku sedikit gelisah, penelepon tadi membuat aku tak bisa tidur sama sekali. Sudah berkali-kali aku membolak-balikkan badan, mengubah posisi tidur, tetap saja aku terjaga malam ini.

Lupakan, Alu, lupakan. Untuk apa memikirkan hal yang nggak penting.

Akhirnya aku bisa menyingkirkan jauh-jauh pikiran itu. Bisa tidur tenang juga.

Ah, terik sekali rasanya. Aku menghalau pandanganku dari sinar matahari yang menembus jendela kamarku. Rasanya seperti sudah hampir siang.

Kualihkan pandanganku ke lawan arah dengan jendela, tangan kananku meraih handphoneku yang tergeletak diatas meja kecil.

79 panggilan tak terjawab dan sebuah notifikasi dari sosial mediaku.

Panggilan tersebut dari dua nomor yang tak kukenal, salah satunya adalah nomor yang kemarin malam meneleponku.

"Hari ini adalah ulang tahun Zilong. Mari ucapkan!"

Zilong...

...

Aku bergegas mengambil kunci mobil lalu melajukan mobilku lebih kencang dari biasanya.

Rumahnya terlihat kosong, aku sudah memencet bel berkali-kali, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Huft, matahari sudah mulai beranjak naik tepat diatas kepala, suhu semakin panas.

Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi bagiku untuk balikkan dengannya.

Aku kembali masuk ke mobil, handphoneku berdering.

"Halo?"

"Alu, kamu dimana sih?! Aku udah satu jam nunggu kamu di tempat janjian kita kemarin tau!"

"Maaf, ya. Aku batalin janji kita hari ini ya?"

"Kamu tuh nggak mikir ya?! Aku udah capek-capek daritadi kesini, nungguin kamu, emangnya kamu gak tau disini panas kayak apa?!"

"Iya, iya, otw"

Kuakhiri telepon itu dan segera menginjak gas menuju taman.

...

Ah, untung ada parkiran yang tersisa.

Tak lama setelah aku selesai membayar tiket parkir di mesin otomatis, seseorang menarik lenganku dengan kasar.