Disclaimer: I do not own every single story or even the characters of Ansatsu Kyoushitsu/Assassination Classroom.

"Seorang ayah tetap menyayangi anaknya meski dia tidak memperlihatkannya."


Sweet Revenge: Apa yang Kau Lakukan?!

"Gakushuu-kun!" seru Gakuhou kaget melihat kondisi puteranya. Wajah Gakushuu memar dimana-mana, kulitnya lebih pucat dari sebelumnya. Seragamnya berbalut darah, dasinya diikat seperti akan mencekik leher Gakushuu sendiri. "Apa..apa yang kau lakukan padanya?!" dari wajahnya, Gakuhou yakin anaknya belum makan apapun sejak dia diculik.

"Heh! Cepat ngomong!" suara Takaoka terdengar, tapi orangnya tidak terlihat.

"A..ayah, eum, Kepala Sekolah," Gakushuu menatap ayahnya, "Saya tidak apa-apa. Maaf, saya belum bisa mengerjakan berkas-berkas OSIS yang menumpuk itu." Mata violet yang biasanya penuh semangat itu sekarang lesu, seolah kehidupan di dalamnya telah direngut.

Semua yang ada di situ terdiam. "Dia..ketua OSIS yang sangat bertanggung jawab ya," gumam Koro sensei.

"I..iya. Tapi aku tidak menyangka dia malah memberitahuku soal ini lebih dulu ketimbang memberitahukan kondisinya atau apa saja yang sudah dilakukan orang gila itu padanya," Gakuhou mengernyitkan keningnya.

"Bukan itu, Bodoh! Yang tadi sudah kukatakan padamu!" gerutu Takaoka marah, menyodok lengan Gakushuu dengan sebuah kayu.

"Siapa yang kau panggil, Bodoh, hah?!" bentak Gakushuu. Ia kesal sedari tadi, lelaki-wajah-bergaris itu terus memanggilnya "bodoh".

"Diam kau, Bocah!" Gakuhou bisa melihat Takaoka menampar Gakushuu dengan kasar, membuat pipi anak itu merah.

"Tadi kau menyuruhku bicara!" Gakushuu membentak Takaoka lagi, anak itu seolah tidak ada takutnya.

"Hm," Gakuhou berdeham, "Jadi apa maksud semua ini? Kenapa kau ikat anakku di tiang seperti itu?"

Takaoka mengeluarkan suara tawa liciknya. "Ah, Kepala Sekolah. Aku tidak menduga Anda sepelupa itu. Ingatkah terakhir kali kita bertemu? Kau memecatku dengan sangat tidak hormat, membuatku jadi bulan-bulanan di Departemen Pertahanan," tangannya menarik rambut Gakushuu, membuat wajahnya terangkat. "Nah, sepanjang yang aku tahu. Hanya makhluk ini harta berhargamu. Betul kan? Terbukti dari wajahmu yang mengkhawatirkannya sekarang."

Gakushuu kaget mendengar kata-kata Takaoka. Dirinya, harta paling berharga ayahnya? Bukannya harta berharga ayahnya adalah uang dan kekuasaan? Ia melihat wajah ayahnya, memastikan apa yang dikatakan Takaoka, ayahnya memang terlihat khawatir, bahkan terlihat seperti belum tidur semalaman.

"Dan berhubung di pulau kemarin aku gagal membunuh gurita itu, serahkan dia padaku, dan anakmu akan selamat," Gakuhou memandang Koro sensei.

"Bagaimana, Kepala Sekolah?" Takaoka menarik rambut Gakushuu lebih kuat lagi, membuat anak itu meringis.

"Kau punya waktu 24 jam. Aku sudah menyemprotkan gas yang membuatnya lumpuh saat menangkapnya kemarin. Memang sih, efeknya tidak berlangsung lama, tapi kalau kau tidak datang dalam kurun waktu 24 jam, aku akan menyuntikkan cairan kimia yang akan membuatnya benar-benar lumpuh," Takaoka menunjukkan sebuah suntikan berisi cairan berwarna hijau.

Gakushuu merinding membayangkannya. Ia harus kabur. Apa pun caranya. Gakuhou menggebrak mejanya, wajahnya memerah marah. "Jangan berani-beraninya kau sentuh anakku! Awas saja kau! Akan kumasukkan kau ke dalam penjara!" teriak Gakuhou sambil mengacungkan jarinya.

Lagi-lagi Gakushuu terkejut. Wah rupanya aku masih dianggap anak, pikirnya takjub, kukira manusia itu hanya menganggapku sebagai budaknya.

"Wah, wah, Kepala Sekolah, kalau kau memanggil polisi, anakmu ini akan langsung kumatikan lho,"

"Kurang ajar! Kau pikir anakku apaan, hah?!"

Takaoka tertawa jahat lalu memutuskan video call dengan Gakuhou. Yang diputuskan merasa sangat marah, "Lihat saja, brengsek! Aku akan panggil polisi!" geramnya, jarinya sibuk memencet nomor polisi di handphonenya.

Tapi tentakel Koro sensei mencegah Gakuhou memencet tombol panggilan. "Tidak, Kepala Sekolah. Menurutku itu tidak bijaksana. Aku sudah melihat sendiri bagaimana dia mengancam murid-muridku. Kalau dia sudah mengancam, maka dia tidak akan segan-segan melakukannya."

Wajah Gakuhou memucat. Dia benar-benar berurusan dengan manusia keji, ia harus hati-hati mengambil langkah. Ia memejamkan mata violetnya, memikirkan strategi untuk menyelamatkan Gakushuu.

"Koro sensei, kalau sudah begini, apa kau yakin bisa membantuku?" tanya Gakuhou tanpa membuka matanya.

"Akan kucoba sebisaku Kepala Sekolah. Tapi dengan kecepatan Mach 20 ku, pasti aku bisa membantumu mengalahkan Takaoka! Nurufufufu!" wajah kuning Koro sensei berubah menjadi garis-garis warna hijau dan kuning.

Gakuhou sedikit merasa tenang. Semoga saja gurita kuning ini benar. Tidak salah juga sepertinya ia minta bantuan Koro sensei. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja kerjanya. Ia menatap tumpukan berkas yang belum ia selesaikan. Tangannya membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah album foto usang.

Koro sensei mengamati bosnya. Gakuhou kembali duduk di samping Koro sensei dan mulai membuka album itu. "Aku merindukannya," gumam Gakuhou, memandang foto Gakushuu waktu masih bayi. "Aku rasa selama ini aku telah menjadi ayah yang jahat."

Benar-benar tsundere, pikir Koro sensei. Di balik sikap dingin dan keras terhadap anaknya, rupanya Gakuhou masih mempunyai hati sebagai seorang ayah. Benar kata Takaoka, harta berharganya adalah Gakushuu.

"Sepi juga ya, tidak ada yang bisa diajak berdebat," gumam Gakuhou.

"Eh?! Jadi kau cuma merindukannya karena tidak ada teman berdebat?!"

Gakuhou diam saja, tapi ia tersenyum. Ada foto Gakushuu saat baru masuk TK, ia tersenyum gembira sambil menggenggam tangan Gakuhou. "Yah, itu juga termasuk," ujarnya, membuat Koro sensei hampir tersedak kue yang dimakannya.

Koro sensei membiarkan sang kepala sekolah bernostalgia dengan kenangan akan keluarganya. "Wah, Kepala Sekolah, apa itu istrimu?" Koro sensei keceplosan bertanya setelah matanya menangkap sosok wanita berdada besar berdiri di samping Gakuhou.

"Dasar mesum!" seru Gakuhou, menarik pisau anti-Koro sensei dari saku celananya, berniat membunuh gurita mesum itu.

"Nurufufufu! Maafkan aku, Kepala Sekolah!" Koro sensei melesat menghindari tusukan pisau Gakuhou.

"Ternyata benar apa yang aku dengar dari anak-anak kelas E itu! Kau punya ketertarikan terhadap wanita berdada besar!" sungut Gakuhou, melempar pisaunya. "Tapi jangan dengan istriku juga! Lama-lama tidak kubayar gajimu!"

"Nyunya!" Koro sensei langsung bergidik, ia tidak mungkin makan tisu goreng dan gula pasir lagi! "Ma..maafkan aku!" buru-buru ia membersihkan ruangan Gakuhou, merapikan berkas-berkasnya, dan bahkan membuatkan teh untuk atasannya itu.

Gakuhou menatapnya, sedikit geli. "Gurita ini gampang sekali panik. Apa nanti dia bisa membantuku?" gumamnya.

"Lihat saja. Aku akan berusaha menyelamatkannya, apa pun bayarannya," kata Gakuhou, melepas sebuah foto dari album itu lalu memasukkannya ke kantung kemejanya. Foto keluarganya.


Gakushuu menatap Takaoka kesal. "Hoi! Mana janjimu! Katamu kalau aku sudah bicara pada ayahku, kau akan memberiku makanan!"

"Yah, itu kan kalau kau menuruti perkataanku," ujar Takaoka tenang.

"Kalau aku menuruti kata-kata yang kau buat itu, aku akan kelihatan lemah!" balas Gakushuu sengit. "Apa kata ayahku kalau aku berperilaku seperti orang lemah?!"

Takaoka berdiri, menghampiri Gakushuu. Anak itu langsung menutup mulutnya. Kalau ia terus mengajak Takaoka berantem seperti ini terus-terusan, bisa-bisa nyawanya melayang sebelum 24 jam genap.

Pria berbadan kekar itu mengikatkan sebuah kain di mulut Gakushuu. "Bersyukurlah aku hanya mengikat mulutmu, bukan menjahitnya," kepalanya menoleh ke arah mesin jahit yang ada di belakang tiang tempat Gakushuu diikat.

Mata violet Gakushuu melebar ngeri. Badannya memang sudah bisa digerakkan lagi, tapi tanpa air dan makanan, percuma saja.

Sinar matahari sudah mulai menerobos dari lubang ventilasi. Gakushuu benci berada di gudang itu. Udaranya pengap, banyak tikus berkeliaran, malahan dia sempat diserang kecoak terbang. Ia menggeliat tidak karuan, berjuang untuk memerdekakan dirinya dari kecoak yang hinggap di pundaknya. Baru kali itu dia melihat kecoak. Biasanya kalau ketahuan ada kecoak di rumahnya, ayahnya pasti akan menyuruh pembantu-pembantu mereka melakukan pembersihan besar-besaran.

Sudah 10 jam berlalu sejak ia terakhir kali berhubungan dengan ayahnya. Sejak itu dia baru diberi minum segelas ocha dingin. Hanya segelas. Belum pernah ia rindu rumahnya seperti sekarang ini. Ia rindu kasurnya, rindu segarnya air yang mengalir di tenggorokannya… Sial, rutuk Gakushuu dalam benaknya, itu semua hanya membuatku semakin haus!

Luka-luka di badannya masih terasa perih. Lututnya perih karena tergores aspal ketika Takaoka menyeretnya. Sikunya juga berdarah karena menggesek lantai saat Takaoka melemparnya ke gudang ini. Baju seragamnya sudah kusut dan kotor, dasinya sudah tidak berbentuk lagi, Gakushu merasa Takaoka ingin mencekiknya perlahan dengan ikatan dasi super ketat itu.

KLONTANG..!

Gakushuu berjengit kaget, Takaoka melemparkan sebuah piring berisi makanan di hadapannya. "Kulepaskan ikatan tanganmu kali ini saja. Makanlah sepuasmu sebelum aku membunuhmu," cengiran horror Takaoka membuat perut Gakushuu setengah kenyang.

Begitu ikatan tangannya dilepas, Gakushuu langsung melahap makanan di depannya. Dalam sekejap, piring itu sudah bersih. "Terima kasih," kata Gakushuu, sebenarnya dia belum kenyang, tapi ya sudahlah.

Takaoka tersenyum licik. Benar-benar bodoh, tawanya dalam hati, benar juga ya, orang kalau sudah lapar dan lemah pasti akan memakan apa pun yang ada di depannya.

Gakushuu merasa ada yang aneh dengan perutnya setelah ia memakan makanan itu. Ia mencoba mengingat-ingat lagi. Memang sih rasanya agak aneh, ada sedikit rasa asam. Bukan sedikit. Memang rasanya asam.

"A..apa yang barusan kau berikan?!" jerit Gakushuu, segera saja ia memuntahkan semua makanan yang barusan ia telan.

"Fufufufu! Kau tidak menyadarinya, ya?" Takaoka merekam Gakushuu yang sedang muntah. "Wah, kalau aku kirim ini ke ayahmu, reaksinya gimana ya?"

"Dasar setan!" umpat Gakushuu, nyaris menyemburkan muntahnya ke Takaoka. "Kau memberikanku makanan basi!"

"Wah jangan begitu dong. Masih bagus kan tidak kutambahkan sianida di dalamnya?"

Gakushuu semakin mual membayangkannya. Kepalanya terasa pening tidak karuan, badannya memprotes racun yang masuk ke tubuhnya. Menurut perkiraannya, makanan itu pasti sudah seminggu lebih didiamkan. Hal terakhir yang ia dengar adalah, suara tawa puas Takaoka, selebihnya, tidak ada.


Gakuhou terpaksa harus memasang senyum selama memimpin rapat. Baginya, orang-orang itu tidak berhak tahu apa yang sedang menimpanya ataupun apa yang ia rasakan.

Ia lega ketika rapat berakhir. "Eh, apa ini?" gumamnya, bergegas membuka e-mail berisi video yang baru saja masuk.

"Hei, Kepala Sekolah. Lihat deh, apa yang aku lakukan pada anakmu!" suara Takaoka membuat wajah Gakuhou memerah, marah.

Terlihat Gakushuu yang sedang muntah-muntah sambil memegangi perutnya. "Dasar setan! Kau memberiku makanan basi!" seru Gakushuu.

"Ma..makanan basi?!" Gakuhou berteriak.

"Wah, wah, lihat deh. Sepertinya Asano-kun sudah mulai lelah. Yah, dia tidur. Padahal pertunjukkan ini sedang seru-serunya loh," ujar Takaoka, menyodok tubuh lemas Gakushuu dengan sepatunya.

"Ti..tidur?! Dia pingsan! Kurang ajar! Kurang ajar! Beraninya dia!" Gakuhou memakikan sederet kata-kata tidak pantas lagi sambil menutup laptopnya dan berjalan ke mobilnya.

"Koro sensei!" panggilnya ketika melihat gurita itu hendak terbang dengan kecepatan supernya.

"Nyu? Nanti saja Kepala Sekolah! Aku harus ke Hawaii! Di sana ada toko es krim yang baru buka!" serunya enteng, seakan lupa kenapa dia bekerja sama dengan sang kepala sekolah.

"Gurita ini," geram Gakuhou. "Kau tidak ingin gajimu dinaikkan, eh?"

"Gaji? Gaji.. OH GAJI!" Koro sensei langsung menghampiri Gakuhou.

"Kita akan menyusun rencana sekarang. Malam nanti, setelah matahari terbenam, kita akan berangkat. Aku sudah tidak tahan lagi. Mana bisa aku bertahan melihat puteraku disakiti tanpa melakukan apapun?" geramnya, Gakuhou mengepalkan tangannya sangat kencang, sampai-sampai Koro sensei takut lelaki itu akan mematahkan jarinya sendiri.

"Dilihat dari video yang kemarin kita saksikan bersama, sepertinya mereka ada di ruangan bawah tanah. Itu semua menjelaskan kenapa kau tidak bisa mencium bau tubuh mereka. Sekarang aku mau kau mencari dimana tepatnya ruang bawah tanah itu. Temui aku di ruang kerjaku jika kau sudah menemukannya," ujar Gakuhou panjang lebar, merinci pengamatannya.

Koro sensei mengangguk, "Hai! Aku pergi sekarang!" sedetik kemudian, angin kencang menerpa Gakuhou, angin yang disebabkan perginya Koro sensei.

"Lihat saja Takaoka. Kau berani berurusan dengan keluargaku, akan kubuat kau membayar lebih," senyum licik Gakuhou muncul lagi.

Pojoknya Author: Akhirnya sisi mesum Koro sensei muncul :v. Jadi mulai chapter depan, kita bakal tahu gimana sisi kebapakan Gakuhou, dan sisi keanakan Gakushuu *bahasa apa ini*. Maafkan jika ada kesalahan EYD, OOC yang tidak berkenan, kemesuman si tako, atau adegan kekerasan yang enggak keras (?). Terima kasih yang telah berkenan review, favorite, dan bahkan follow, setiap ada notif, Author seneng banget :'). Oh ya, selamat merayakan Idul Fitri ya kawan-kawan, yang merayakan! Mohon maaf lahir dan batin :).