Disclaimer : Aoyama Gosho
Higashiyama
6.45
Ruangan itu hening seketika. Seluruh peralatan makan ditaruh diatas mangkok nasi. Bahkan, Mitsuo yang biasanya tidak pernah berhenti makan dikeadaan apapun kali ini berhenti sejenak.
"F-familier b-bagaimana?" Akhirnya Haru yang bertanya.
Aki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Entahlah. Aku seperti merasa pernah memakannya. Dan, rasanya tadi aku seperti melihat sebuah kilasan memori. Tapi sangat dikit dan kabur." Aki berusaha mengingat-ingat, tetapi, lagi-lagi kepalanya terasa sakit lagi.
Lagi-lagi hening. Hening yang sangat mencekam. Jika harus memilih, Aki akan memilih berada di tempat yang sangat ramai dibandingkan tempat sesunyi ini. Rasanya seperti.. seperti ia merasa sendirian. Dan Aki tidak suka merasa sendirian. Walaupun kenyataannya, semua orang sendirian di dunia ini.
Tiba-tiba, Haru bangkit dari tempat duduknya. Dengan secepat kilat, ia berjalan ke arah Aki dan mengambil piringnya. Lalu, ia segera berjalan menuju pintu geser.
"Hei, kenapa diambil?" Aki tidak bisa menyembunyikan keheranannya. Dia kan, belum selesai makan.
Haru berhenti 2 langkah dari pintu. Tanpa berbalik, ia menjawab. "Tidak baik makan sambil memaksakan diri mengingat memori, nanti pusing."
"Lho, bukannya bagus ya? Dengan begitu aku jadi bisa lebih cepat mengingat siapa diriku." Aki mengerutkan dahinya dalam.
"Tidak!" Haru berteriak. Kali ini, ia berbalik menghadap Aki.
Wajah Haru memerah karena marah. Untuk kesekian kalinya, Aki heran. Mengapa Haru yang marah? Harusnya kan, dirinya yang marah karena makanannya diambil paksa. Masih kebingungan, Aki menatap Haru meminta penjelasan.
Merasa diperhatikan oleh Aki dan seluruh orang diruangan, ia menjadi gugup sendiri. "Yaa, hanya jangan dipaksakan saja. Kau baru saja lupa ingatan beberapa hari. Kalau dipaksakan pasti pusing. Kalau mau ingat, pelan-pelan saja." Ia menyelipkan rambutnya dengan gugup ke belakang telinganya.
Aki berusaha menerima alasannya. Walaupun masuk akal, tetapi ia merasa ada hal lain yang ingin disembunyikan Haru. Tetapi, ia tidak ingin memperpanjang masalah. "Baiklah, terserahmu saja. Tetapi, aku lapar." Ia memegang perutnya sambil memasang tampang memelas.
Haru mengulas senyum lebar, bahunya tidak setegang tadi lagi. "Tunggu sebentar ya, aku akan masak lagi. Masih ada daging sisa makan malam kemarin." Tanpa menunggu jawaban, ia langsung pergi secepat angin.
Seperginya Haru dari ruangan, ruangan itu masih sunyi. Hanya terdengar beberapa suara kunyahan dari beberapa biksu yang sudah mulai makan lagi. Yang paling diam, tentu saja Biksu Nobu. Hatinya sedang berkecamuk melihat sikap anaknya tadi. Semua sudah terlambat, semua akan terulang lagi.
Sementara, Aki yang sedang duduk diam karena kelaparan semakin bingung dengan kesunyian ruangan ini. Ia merasa, orang-orang disini mengetahui alasan dibalik sikap Haru tadi. Ia menggeser duduknya mendekat ke arah Mitsuo.
"Hei, kenapa sih Haru tadi?" ia berbisik kepada Mitsuo yang baru saja menghabiskan omuricenya.
Seperti yang Aki duga, tubuh Mitsuo menegang seketika. Mitsuo mengusap-usap kepala plontosnya. "Tidak ada apa-apa, kurasa. Ia hanya khawatir saja denganmu." Katanya tanpa memandang Aki. Aki tahu bahwa Mitsuo berbohong.
"Benarkah?" pancing Aki lagi.
Mitsuo terlihat ragu sejenak, lalu ia menganngguk. Aki menghembuskan nafas pelan, ia berbisik kepada dirinya sendiri. "Aku merasa ada yang aneh dengan Haru."
Tak diduga, ternyata Mitsuo mendengarnya. Secepat kilat, kepala Mitsuo berputar menghadap Aki. "Benarkah? Kenapa itu?"
Aki mengerutkan dahinya. Walaupun ia lupa ingatan, tetapi ia bisa mengetahui orang tersebut berbohong, gugup, atau penasaran dari gelagatnya. Dan, Mitsuo memancarkan ketiganya sekaligus.
"Entahlah. Tetapi, aku merasa ia sedang menyembunyikan sesuatu. Begitu pula dengan kalian." Aki melirik Mitsuo dengan tenang, ingin melihat reaksi sahabat barunya itu.
Mitsuo segera mengalihkan pandangannya dari Aki, memandang piring kosong yang berada di dapannya. Ia berbisik lirih kepada dirinya, atau mungkin kepada Aki. "Kau pasti akan tahu, Aki. Cepat atau lambat. Tetapi, kurasa sekarang belum waktunya."
Aki mendengarnya dengan jelas, tetapi memilih untuk pura-pura tidak mendengar. Ia menyilangkan tangannya di depan dadanya, berusaha mencerna kata-kata Misuo. Baru saja ia mencoba berpikir, pintu geser kembali terbuka. Haru datang membawa daging beserta nasi untuk Aki.
"Maaf agak lama. Selamat makan, Aki!" Haru menaruh makanan itu didepan Aki, lalu kembali ke tempat duduknya dan kembali menyantap omuricenya.
Aki menatap Haru penuh selidik, tetapi pikirannya segera teralih oleh wangi sedap daging buatan Haru. Ia segera mengambil sumpit lalu menyuap makanannya. Masa bodohlah dengan Haru, yang penting ia makan dulu.
Tokyo
12.30 PM
SMU Ekoda
Semua murid menahan nafas dengan tegang. Di depan, Yamanigi sensei sedang membagikan hasil ulangan mendadak matematika kemarin. Bisa ditebak, 75% siswanya pasti remidi.
"Aoko Nakamori." Aoko Nakamori berjalan sambil menunduk menuju depan. Tanpa diberitahu pun, ia sudah tahu bahwa nilainya kebakaran.
"42." Sensei menyerahkan lembar ulangannya dengan tampang acuh. Benar kan perasaannya?
Aoko mengambil kertas tersebut dengan cepat, lalu segera berbalik menuju tempat duduknya. "Nakamori." Suara sensei menghentikannya. Ia kembali berbalik dan memandang sensei penuh tanya. Apalagi kesalahannya?
"Yaa?" ia bertanya dengan hati-hati.
"Sudah 2 hari lebih Kuroba tidak datang, kamu tahu alasannya atau tidak?" Ooh, ternyata tentang si Kuroba, pikir Aoko. Seketika ia lega. Paling tidak dia tidak akan diberikan tugas tambahan karena remidi.
"Tidak. Mengapa sensei bertanya pada saya?"
"Sensei pikir kamu tahu berhubung kalian adalah teman dari kecil." Sensei menatap Aoko dengan polos. "Untuk yang lainnya, kalau tahu alasan dari absen Kuroba, tolong beritahu sensei!" serempak, sekelas membuat koor "hai".
Tanpa perlu disuruh, Aoko berjalan kembali ke tempat duduknya. Dalam hati, ia juga penasaran dengan Kuroba. Kemarin, ia iseng mendatangi tempat tinggalnya, tetapi walaupun ia sudah membunyikan bel puluhan atau bahkan ribuan kali, pintu tempat tinggal Kuroba tetap tidak terbuka.
Aoko menyelipkan kertas ulangannya dengan asal. Ia membuka bukunya dan mencoba memfokuskan diri menjawab soal-soal ajaib matematika. Tetapi, sekeras apapun ia mencoba, ia tetap tidak bisa. Pikirannya terus menerus melayang, memikirkan keadaan Kuroba.
Ia membayangkan jika Kuroba tertimpa hal buruk. Seperti, kecopetan, diculik atau tak sengaja makan ikan. Ya, Kuroba memang alergi terhadap ikan.
Dengan cepat, ia menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Kuroba melakukan suatu hal yang ceroboh. Aoko mengeluarkan pensil sambil membuat keputusan. Ia akan menunggu sampai besok, jika Kuroba tetap tidak masuk, ia akan mencarinya.
Higashiyama
Kamis, 21 Maret 2014
05.46 AM
Aki terbangun dengan badan sakit luar biasa. Ia mengerang saat berusaha bangun dari futonnya. Setelah beberapa kali mencoba, ia menyerah. Ia memutuskan untuk tetap berbaring.
Sambil berbaring, Aki melirik jam yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya. 05.46. Aki mengerutkan keningnya, sejak kapan ia tidur?
Ia kembali menutup matanya dan berusaha menggali memorinya tentang kejadian semalam. Perlahan-lahan, ia ingat kapan dan mengapa ia tidur. Dan jawaban atas badannya yang terasa sangat sakit.
Malam sebelumnya, 08.23 PM
"Itadakimasu!" Mitsuo mengucap salam dan memulai makan malamnya dengan cepat.
Aki tersenyum melihat kelakuan teman disebelahnya ini. Melihat kelahapan makan Mitsuo, Aki menjadi lapar seketika. Wajar saja, dari pagi ia sudah kerja rodi, mulai dari belajar baca tulis, membersihkan kuil dan membantu Mitsuo melayani pengunjung yang ingin berdoa disini.
Aki mengambil sumpitnya dan menempatkannya dengan sempurna di tangan kanannya. Sekarang, ia sudah mahir menggunakan sumpit berkat ajaran Masashi. Aki menatap sejenak menu makan malam hari ini. Ikan gembung dan sup miso! Sudah beberapa kali Aki memakan sup miso, tetapi baru kali ini ia makan ikan gembung. Menurut rekomendasi Mitsuo, ikan gembung buatan Haru terkenal enaknya.
Aki mulai mencuil ikannya dan melahapnya. Memang benar rekomendasi Mitsuo, sangat enak! Aki segera melahapnya dengan sesuap nasi. Sangat sedap!
Baru saja ia menghabiskan setengah nasinya, tiba-tiba Aki merasakan perutnya bergejolak. Ia segera menghentikan aktifitas kunyahannya dan meneguk air. Tetapi, rasa sakitnya tidak kunjung hilang. Aki melepaskan sumpitnya untuk memegang perutnya.
"Ada apa, Aki?" Biksu Nobu terlihat khawatir dari ujung, mengundang perhatian seluruh penghuni ruangan. Aki menoleh dengan keringat deras mengucur dari dahinya. Ia berusaha menjawab tetapi suaranya hilang. Aki tidak tahu apakah suaranya memang hilang atau ia terlalu tidak bertenaga untuk bersuara.
Aki mencoba untuk berdiri. Dengan bertumpu pada pundak Mitsuo yang memandangnya dengan khawatir, ia tertatih-tatih berdiri. Aki menarik nafas dalam, lalu mencoba untuk berbicara. "M-maaf..t-toilet."
Biksu Nobu dan yang lain masih menatapnya dengan khawatir. Aki berusaha keras berjalan, baru 2 langkah ia jalan, ia ambruk. Setelah itu, ia hanya dapat mengingat dengan samar-samar.
Ia ingat ruangan seketika menjadi ribut. Ia ingat Mitsuo yang duduk tak jauh dari temptanya ambruk segera berdiri dan membopongnya keluar dari ruang makan. Ia ingat ia dibaringkan di kamarnya. Ia ingat Haru menelfon seseorang, yang kalau tidak salah adalah dokter. Ia ingat sakit perutnya makin menjadi-jadi. Ia ingat seseorang datang tepat pada saat rasa sakitnya mencapai klimaks. Setelah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi. Mungkin dokter kemarin memberikannya obat bius.
21 Maret. 05.46
Aki membuka matanya dan menghela nafas panjang. Jadi, ia baru saja terbangun dar pingsan yang panjang. Aki memegang perutnya. Tidak ada rasa sakit. Ia bersyukur, perutnya sudah normal kembali.
Merasa sudah agak sedikit membaik, Aki mencoba bangkit kembali. Kali ini dengan pelan-pelan. Dan ia berhasil.
Aki berjalan menuju pintu kamarnya dan menggesernya. Di depan, tampak Mitsuo tertidur dengan posisi duduk bersandar di pintu kamar Aki. Karena Aki menggeser pintu tersebut, Mitsuo kehilangan tempat bersandar dan terjatuh kebelakang, yang membuat kaki Aki hampir tertimpa badannya.
Seketika, Mitsuo langsung bangun dan meloncat. Ia mendarat dengan kuda-kuda kung fu. Mitsuo pernah bercerita bahwa ia bisa sedikit kung fu. "HA?!" Mitsuo berteriak kepada Aki dengan masih setengah sadar. Perlu beberapa detik untuk Mitsuo untuk menyadari bahwa orang yang di depannya adalah Aki.
"Hei! Akhirnya kau sadar juga. Sudah membaik?" Aki masih belum sadar dari kekagetannya melihat tindakan Mitsuo. Melihat ekspresi Aki, Mitsuo langsung menepuk pundaknya sambil terkekeh-kekeh. "Hei, jangan bengong begitu. Tadi itu gerakan reflekku. Maaf maaf."
Akhirnya, Aki tersadar dari kebengongannya. Ia tersenyum lebar dan menepuk balik pundak Mitsuo. "Sudah. Kau menungguiku semalaman disini?"
"Yap. Aku meminta ijin pada Biksu Nobu untuk menjagamu. Tetapi kalau aku tidur dikamarmu tanpa seijinmu, aku pikir itu tidak sopan, jadi, aku tidur di depan kamarmu. Hahahaha."
Aki terharu dengan sikap Mitsuo. Ia baru mengenal laki-laki ini kurang dari seminggu, tetapi laki-laki ini sudah bersikap sangat baik kepadanya. Kalau saja ia tidak gengsi, ia pasti akan memeluk Mitsuo, tetapi karena gengsinya cukup tinggi, ia merangkul pundak Mitsuo. "Wih, terima kasih ya. Kau baik sekali. Tapi, aku jadi merasa tidak enak. Pasti tidak enak tidur dilantai."
"Sama-sama. Di sini, kami memperlakukan orang lain seperti saudara sendiri. Dan, santai saja Aki. Aku punya prinsip, aku bisa tidur dimana saja asalkan aku masih menjejak di tanah, tidak melayang." Lalu mereka tertawa bersama.
Aki dan Mitsuo mulai melangkah menuju dapur, membantu siapapun yang sedang ditugaskan memasak hari ini. "Omong-omong, kemarin itu kenapa aku pingsan ya?"
"Kata dokter, kau ada alergi terhadap ikan. Apalagi, kemarin kau makan ikan dalam porsi banyak. Untungnya, kemarin dokter cepat menanganimu. Kalau tidak mungkin bisa berbahaya." Aki bergidik ngeri mendengar perkataan Mitsuo.
Mereka berjalan dalam diam lagi. Mereka sudah sampai di lorong kayu. "Aku baru tahu kalau aku alergi ikan."
Mitsuo tertawa mengejek disebelah. "Kau kan memang lupa ingatan."
"Oh iya ya, aku lupa" kali ini Aki ikut tertawa.
Mereka sudah mencapai dapur, tetapi tidak ada seorangpun disana. Mitsuo melirik jam yang berada di atas kulkas, lalu menepuk dahinya sendiri. "Astaga, ini kan belum jam 6."
Mitsuo dan Aki memutuskan untuk menunggu di ruang makan. Mereka berdua duduk sambil menghadap satu sama lain. "Hei, maaf kalau ini lancang, tetapi, bagaimana rasanya lupa ingatan?"
Aki mengerutkan dahinya sejenak, memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan Mitsuo. "Entahlah. Awalnya aku merasa aneh. Aku merasa seperti bayi yang baru lahir tetapi dalam wujud orang dewasa. Aku harus beradaptasi dan belajar lagi. Tetapi dibalik kondisi terburukpun tentu masih ada hal baiknnya. Aku beruntung berada disini, dikelilingi oleh kalian. Kalian mau membantuku belajar lagi tanpa merasa terganggu. Aku sangat berhutang budi dengan kalian." Aki menatap mata Mitsuo dengan sungguh-sungguh.
Mitsuo mengangguk-angguk mengerti. Aki melanjutkan, "Hei, kalau kau, mendukungku mendapatkan ingatanku kembali lagi atau tidak?" Aki bertanya dengan santai.
Mitsuo bingung mendengar pertanyaan Aki. "Tentu saja, apa maksudmu?"
"Aku merasa ada orang yang tidak ingin aku mengingat diriku. Kau pasti tahu maksudku."
Mitsuo terdiam. "Aku tentu saja mau. Pasti tidak enak hidup dengan memori yang terhapus. Untuk Haru, aku tidak bisa banyak bicara."
"Aku mengerti. Ayuk, sebentar lagi jam 6, kita bersih-bersih halaman dulu yuk." Aki berdiri duluan disusul Mitsuo. Tetapi karena langkah Mitsuo lebih panjang, Mitsuo mendahului Aki keluar dari pintu. Saat mencapai pintu, Aki tersentak kaget. Ia mengingat potongan percakapan tadi malam. Ia memejamkan matanya sejenak untuk mengingat lebih banyak.
Ruangan itu sepi, hanya ada Haru dan seseorang tak dikenal, yang sepertinya adalah dokter.
"Apakah ingatannya akan kembali, dok?"
"Tergantung. Tetapi karena alergi lamanya kambuh, sepertinya tidak. Sudah malam, saya pergi dulu ya." Haru membungkuk pada dokter dan mengantarnya keluar kamar. Tak lama kemudian, Haru sudah berada di sisi Aki.
"Semoga kau tak akan pernah mendapatkan ingatanmu kembali."
Aki tersentak kaget. Ia membuka matanya dan melihat Mitsuo sedang mentapnya dengan bingung. "Ada apa sih? Kau membuatku takut."
Aki menelan liurnya dengan susah payah. "Tidak apa-apa. Ayuk."
Aki berjalan mendahului Mitsuo. Ia diserang rasa panik karena mengingat hal itu. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang disembunyikan Haru.
Tokyo
SMU Ekoda
2.35 PM
"Hei, mau kemana?"
Aoko tidak mengalihkan pandangannya, ia tetap sibuk mengemasi barangnya. Setelah memasukkan catatan bahasa Jepangnya, ia menoleh pada Akako. "Aku tidak ikut pelajaran sehabis ini. Sudah ijin kok dengan sensei. Duluan ya!"
"Hah? Mau kemana?!" Akako sedikit berteriak.
"Mencari Shinichi Kudo."
Aoko segera berlari meninggalkan kelasnya, ia tidak boleh terlambat. Dari luar, ia dapat mendengar teriakan Akako.
SMU Beika
Aoko menunggu dengan sabar didepan pintu gerbang SMU Shinichi Kudo ini. Kemarin, ia memutuskan jika Kuroba belum datang juga, ia akan mencarinya. Dan disinilah ia berada sekarang. Kabarnya, dulu Shinichi Kudo pernah menghilang.
Tak lama kemudian, yang di tunggu-tunggu datang juga. Shinichi Kudo keluar gerbang dengan santai bersama seorang gadis. Tak mau membuang-buang waktu, ia segera menghampiri Kudo.
"Selamat siang." Sapa Aoko.
Shinichi dan Ran segera menghentikan langakah mereka. "Ya, ada apa?" Shinichi bertanya dengan bingung.
"Ada yang ingin kutanyakan, bisa bicara sebentar?" Shinichi saling tatap dengan Ran dalam diam, sepertinya mereka bertelepati. Setelah beberapa saat, akhirnya Shinichi menjawab. "Bisa, tetapi tidak bisa disini. Bagaimana kalau di kafe dekat sini. Dan gadis ini harus ikut dengan kita." Shinichi menunjuk Ran.
"Oh tentu saja. Ayo."
Kafe Poirot.
Kak Azusa berlalu setelah mencatat pesanan ketiga remaja ini.
"Apa yang ingin anda tanyakan?"
"Perkenalkan, nama saya Aoko Nakamori. Saya dengan, Kudo-san pernah hilang beberapa waktu lalu." Shinichi dan Ran saling pandang dengan heran.
"Iya, mengapa ya?" Shinichi terlihat was-was.
"Belum lama ini, teman sekelas saya hilang. Saya berasumsi mungkin saja ia hilang karena alasan yang sama dengan anda." Aoko meminum cocoa yang baru saja di antarkan oleh Kak Azusa.
Shinichi terlihat lega sesaat. "Oh,begitu. Tetapi Nakamori-san, saya yakin teman anda hilang dengan alasan yang berbeda dengan saya. Alasan saya hilang, maaf tetapi saya tidak bisa memberitahunya."
Aoko mengangguk lemah. Hilang sudah harapannya menemukan Kuroba.
"Ada fotonya? Mungkin saya bisa membantu. Dan sejak kapan dia hilang?"
Aoko merogoh sakunya dan mengambil ponselnya dengan cepat. "Terakhir saya bertemu dengannya Senin pagi, esoknya dia sudah tidak masuk sekolah. Nah, ini fotonya."
Shinichi mengambil ponsel yang disodorkan Aoko. Seketika, matanya terbelalak. Shinichi mengetahui orang ini. Walaupun tidak mengenakan kostumnya, tetapi ia yakin mengenali orang ini. Ia adalah Kaito Kid.
Shinichi memutar otaknya, hari Senin adalah hari dimana ia bertemu dengan Kid. Dan malamnya ia hampir tertangkap. Tetapi, Sonoko mengatakan bahwa jejak Kid hilang di Higashiyama.
"Maaf, siapa nama orang ini?" Shinichi masih sedikit panik.
"Namanya Kaito Kuroba."
To Be Continued~
Hai!
gak tau mau nulis apa sih, tapi terimakasih ya buat yang udah baca cerita aku!
apalagi yang nulis review~ Arigatou gozaimasu! *bow*
cerita dikit nih, tiap ngecek e-mail, trus ada review dari cerita aku, rasanya tuh kayak terbang ke langittt~~
apalagi kalau mereka suka sama cerita kitaaa... aku yakin semua penulis cerita ngerasain hal yang sama kayak aku ^^
sip, see u later! kritik dan saran di terima kokkk
Jaa~
[jangan lupa tulis review ya] :3
-nisnis-
