...ENVIER : maudire

"Ibu, kita mau pergi ke mana?"

Sang wanita tersenyum. Tangannya yang kurus meraih tubuh mungil sang anak lelaki, merengkuhnya dalam pelukan. "Yang pasti kita akan pergi jauh. Jauh sekali."

"Berdua saja?" Anak itu menatap ibunya dengan matanya yang bulat. "Bagaimana dengan Aniki? Bagaimana dengan Ayah?"

Ibunya berhenti berjalan, menurunkan anaknya, dan dengan segenap tenaganya mencoba untuk tersenyum—meskipun tubuhnya sudah sangat rapuh. Bukan karena penderitaan fisik, namun karena rasa sakit yang makin lama makin terasa menekan hati dan perasaannya. Sesak.

"Mari kita berdoa supaya Aniki juga bisa ikut," sang ibu berujar pelan pada anak lelakinya, masih dengan senyuman. "Sekarang dia tak bisa ikut, tapi mungkin nanti dia akan bertemu lagi dengan kita."

"Kalau ayah?"

Wanita itu menelan ludah, merasakan sesuatu yang serta-merta hendak keluar dari matanya. Ditekannya habis-habisan perasaan itu. Ia menundukkan kepalanya, lalu sebentar kemudian sudah menegakkan kepalanya lagi, menatap anaknya dengan senyum yang sama seperti tadi. "Ayah tak akan pernah ikut."

Anak lelakinya, masih menatapnya dengan matanya yang hitam jernih.

Membuat hatinya makin hancur.

"Mengapa, Ibu?"

Anakku... hanya tinggal kau anakku. Anakku.


S P I D E R W E B

Envier


-

I'm a punk and you're a princess

Loving me would be as wrong as Incest

-

"Apa? Oh, maaf, Hinata-chan. Malam ini aku tidak bisa. Maaf sekali... aku tahu aku yang menjanjikan ini padamu, tetapi untuk malam ini—aku sungguh tidak bisa. Hmmm. Hmmm..." Tangan lelaki itu mencari-cari sesuatu dengan tangan kirinya di meja, sementara tangan kanannya memegang telepon—agak sulit mencari-cari karena mejanya sedang—bukan, selalu—berantakan. Dia menemukan apa yang dicarinya, sebuah pena Mount Blanc yang langsung dipakainya untuk menandai beberapa tanggal di kalender meja.

"...Dengar, Hinata-chan... bukannya aku tak mau menemui orang tuamu. Tapi lebih baik kita bicarakan lagi nanti, oke? Kau tahu aku bukan orang yang suka melewatkan janji. Baru sekali ini saja, kan?" Pria itu terseyum lebar, sekalipun dia tahu lawan bicaranya tak mungkin bisa melihatnya langsung, namun paling tidak itu agak memberinya sedikit motivasi untuk meyakinkan gadisnya malam ini.

"Oke. Terima kasih banyak, aku sangat menghargai ini... ah, maksudku, kau memang yang terbaik. Makan malam di Madre's Sabtu depan, ya?" Pria itu masih memegang gagang telepon. Sekarang ia meraih jasnya yang tersampir di kursi dan memakainya dengan agak terburu-buru, lalu menyisir rambutnya dengan jari dan menyemprotkan sesuatu—Benetton Cold. Tampaknya negosiasinya berjalan baik hingga dia tersenyum lagi. "Ya. Oke, sampai nanti—oh ya, aku rindu padamu. Bye."

Klik.

Dia tersenyum penuh kemenangan. Kata-kata rayuannya selalu berhasil—bahkan di saat-saat terdesak. Dia menekan tuts keypad ponselnya dengan cepat, mengetikkan sebuah e-mail, tak lupa meninggalkan pesan kepada sekretarisnya dan mengambil kunci kontak Volvo abu-abunya. Sasuke yang saat itu baru saja hendak menemuinya, bahkan belum sempat memanggil karena dia sudah keburu pergi.

"Ke mana dia?" Sasuke menyipitkan mata melihat Naruto—yang tampak ceria—dengan pakaian rapi di waktu menjelang jam pulang kerja. Sasuke bukan khawatir tentang bahwa Naruto melanggar jam pulang atau apa, justru gelagatnya yang terlihat mengerikan. "Jangan-jangan... jangan bilang kalau dia mau berkenalan dengan Keluarga Hinata."

Sang sekretaris, satu-satunya yang tersisa di ruangan itu, angkat bahu. "Entahlah. Tapi kurasa... dia datang ke tempat ini." Wanita itu menyodorkan sebuah memo berisi permintaan reservasi di sebuah lounge, tertulis dengan tinta merah. Sasuke membacanya sekilas. Scarlet.

"Dan memangnya anda pernah membayangkan Naruto-sama menemui orang tua salah satu dari pacarnya?" tambah sang sekretaris dengan wajah sinis—mungkin agak antipati juga pada bosnya yang dewa mempermainkan wanita dengan perlakuan baik tapi di dalamnya seperti setan.

Sasuke tersenyum sinis. "Benar juga." Dia menggoyang-goyangkan memo yang ada di tangannya. Sudah jelas dalam pikirannya Naruto akan pergi ke mana, hendak apa, bertemu siapa—bahkan visualisasinya sudah tergambar di kepala. Ada wanita dengan senyum merekah yang menyambutnya dengan wine di tangan.

Dari kejauhan, di lantai bawah, ia dapat mendengar sayup-sayup suara Naruto yang kelihatannya sedang menerima telepon.

-

-

Apollo, Apollo yang cemburu pada Orion,

Merayu Artemis agar mau membunuh Orion, pria yang dicintainya.

Apollo, sejauh itukah yang akan kau lakukan demi bisa bersama dengan Adikmu?

-

-

"Yaaa, tunggu saja, Sakura-chan. Aku akan tiba di sana sebentar lagi!"

-

...

-

"Tahukah kau kisah tentang Oedipus?

Dia lahir sebagai anak dari keluarga kerajaan, namun kelahirannya juga membawa kutukan. Peramal kerajaan meramalkan bahwa suatu saat di masa depan Oedipus akan membunuh ayahnya untuk merebut tahta, dan menikahi ibunya sendiri."

Klong. Jemari lentik bercat ungu-kelabu mengangkat gelas berisi brandy, menggoyangkannya perlahan sehingga bongkahan es yang ada di dalamnya berguncang. Bibirnya malam ini berwarna burgundy, sesuai dengan gaun malamnya yang berwarna ungu dari satin.

Pasangannya malam itu menatapnya dengan tatapan serius, menyiratkan ketertarikan. Namun tak menjawab apa-apa, berkomentar pun tidak.

Alunan blues yang memainkan aransemen ulang dari Blue Danube menyiratkan kehangatan, sekali lagi, dengan nada-nadanya meruapkan aroma kehangatan ke udara menembus Tokyo yang dingin bersalju. Malam beranjak larut namun suasana ramai Tokyo tak akan pernah berhenti—malahan denyut kota itu selalu bertambah setiap malam. Mengurai gejolak nafsu dengan berdansa, ataupun berpesta dengan berbotol-botol wine sudah biasa.

Seakan-akan berusaha memecah bisu kota yang biarpun terdengar ramai namun menyimpan beku.

Dan dia, Sakura, melanjutkan dongengnya. "Laius, ayah Oedipus, merasa khawatir dengan hal itu. Maka begitu Oedipus lahir, dia mengikat kedua kaki anaknya yang masih berupa bayi merah itu dengan tali dan mengikatnya begitu kencang hingga menyatu, dan meminta seorang pemburu itu untuk membunuhnya."

"Tega sekali." Hanya itu komentar pria berambut pirang itu.

Sakura tersenyum. "Aku juga merasa begitu. Kadang aku masih tak percaya mengapa ada orang yang tega membunuh anaknya sendiri." Dia menarik napas dan meminum minumannya.

"Sang pemburu tak tega untuk membunuhnya, sehingga ia memberikannya kepada pemburu lain. Pemburu itu pun, tak tega untuk membunuhnya, dan ia memberikan bayi itu, Oedipus kecil, kepada Raja Corynth, Polybus, yang memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak. Oedipus tumbuh sebagai putera mahkota, pangeran kerajaan Corynth.

Bertahun-tahun kemudian, Polybus memberitahukan bahwa Oedipus bukanlah anaknya. Kemudian, Oedipus pergi menemui Oracle, meminta pertolongan siapakah orangtua kandungnya. Namun Oracle malah memberitahukan bahwa dia ditakdirkan untuk membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Oedipus yang tidak menerima hal itu, memutuskan untuk pergi sendirian ke Thebes yang berada di balik gunung.

Dan di sanalah, dalam perjalanan menuju Thebes, dia bertemu dengan kereta kuda yang pengendaranya adalah Laius. Alkisah terjadilah suatu kesalahpahaman, dan Oedipus pun membunuh Laius, tanpa mengetahui bahwa orang itu adalah Raja sekaligus ayahnya.

Dia melanjutkan perjalanan ke Thebes, bertemu dengan sphinx yang menanyakan sebuah teka-teki sebagai kunci untuk pintu masuk ke sana. Oedipus yang cerdas dapat menjawabnya dengan mudah. Dan sebagai bentuk penghargaan, rakyat mengangkatnya menjadi Raja Thebes yang waktu itu baru ditinggal wafat rajanya, dan sebagai hadiah dia berhak memperistri sang janda Permaisuri Jocasta. Tahun-tahun berlalu, mereka menikah dan memiliki empat orang anak."

Pria di sebelahnya lagi-lagi tak berminat menginterupsi.

"Namun datanglah kabar burung yang mengganggu seantero rakyat, bahwa Laius mati karena dibunuh. Maka Oedipus berjanji akan menyelesaikan masalah ini dan mencari pembunuhnya. Dia meminta adik Jocasta, Creon, untuk meminta tolong pada Oracle, dan Oracle mengatakan pembunuhnya harus dibunuh.

Dan untuk mencari pembunuh itu, Oedipus menyuruh seorang buta, Tiresias, yang melarangnya untuk mencari pembunuh itu. Dalam kemarahannya, Tiresias berteriak bahwa Oedipus-lah pembunuhnya dan dia hidup dalam kebusukan, dan dia tak tahu siapa orang tuanya sebenarnya.

Oedipus yang panik mencari siapa orang tua kandungnya. Saat itu datang utusan dari Corinth yang memberitahukan bahwa Polybus sudah mati. Saat itu Oedipus menganggap Polybus adalah ayah kandungnya, namun ia tetap khawatir dengan takdir bahwa ia akan menikahi ibunya. Dia kemudian bertemu dengan pemburu yang dulu menyerahkannya pada Polybus, dan dia menjelaskan semuanya.

Barulah Oedipus yang malang menyadari dia telah membunuh ayahnya saat di persimpangan jalan dulu, dan sebagai akibatnya, dia menikahi Jocasta yang merupakan ibunya sendiri. Dia berlari mencari Jocasta yang ternyata telah bunuh diri terlebih dahulu karena tahu dia menikahi anaknya sendiri..."

Lalu, apa yang dilakukan Oedipus?

"Dia menangis di hadapan mayat Jocasta. Dia mengambil sebuah bros dari gaun wanita itu dan membutakan diri dengan menusuk kedua matanya. Anaknya Antigone memapahnya berkeliling negerinya, hingga akhirnya dia meninggal di Colonus dan berhadapan dengan Athena."

Sepedih perasaan saat kau tahu orang yang kau cintai tak mungkin dimiliki.

-

...

-

Sakura menarik napas, tak melanjutkan kalimatnya. Sesaat pasangannya mengira bahwa wanita itu capai bercerita. Maka dia menyodorkan gelas brandy yang tadinya terlupakan, dan wanita itu tersenyum, lalu meminumnya.

"Bodoh. Tenggorokan malah jadi panas, tahu," Sakura tertawa geli. "Ah. Maaf, malam ini aku malah bicara panjang. Padahal kau datang untuk mencari hiburan, kan? Bukannya mendapatkan suguhan dongeng yang membuat mengantuk seperti ini... Naruto."

"Justru malam ini aku mendapatkan sesuatu yang tidak biasa." Naruto tergelak, mengambil cerutu yang baru saja dibelinya dan menghisapnya. "Meskipun agak tragis. Mengapa kau menceritakan dongeng itu?"

Sakura tersenyum.

"Entahlah. Ada banyak dongeng yang menarik dari mitologi Yunani—dan aku tertarik dengan mite semacam itu. Eksentrik, kupikir." Wanita itu menuangkan brandy lagi ke gelasnya. "Tak hanya Oedipus dan Jocasta, ada juga yang lain seperti Artemis dan Apollo."

"Apollo? Nama pesawat ruang angkasa?" Naruto tergelak mendengar lelucon kecilnya. Sakura hanya tersenyum tipis.

"Apollo yang cemburu karena adiknya, Artemis, mencintai Orion, akhirnya menghasut Artemis agar dia membunuh Orion." Sakura menjelaskan. "Hanya agar Apollo bisa terus bersama Artemis. Bagaimana menurutmu?"

Naruto cuma nyengir. "Kau tahu, aku awam soal itu. Bahkan tadi aku sedikit kaget mengapa orang dengan pekerjaan sepertimu bisa mengetahui hal-hal semacam itu. Yang kupikir, hanya aneh dan menyedihkan." Pria itu tertawa kecil, meneguk brandy yang tadi dituangkan Sakura. "Aku tak dapat membayangkan bagaimana rasanya mencintai orang tua atau saudara sendiri."

Sakura kembali tersenyum. Kali ini senyuman sinis. "Begitu?" Dia bangkit dari tempat duduknya dan menyunggingkan senyumnya sekali lagi. "Ah. Sudah waktunya untuk closing performance. Sudah cukup lama juga kita mengobrol. Sampai nanti."

Tanpa menunggu jawaban dari Naruto, wanita itu langsung pergi dari hadapannya. Meninggalkan aroma mawar yang bercampur dengan asap cerutu yang keras. Naruto hanya tersenyum. "Ah, tepatnya, enam puluh persen dihabiskan untuk mendongeng," sahutnya dari seberang ruangan. "Dari mana kau bisa mengetahui hal-hal semacam itu?"

Sakura menoleh dan tertawa kecil. "Dari seorang teman."

If I had one wish love would be like this

I know that you're no good for me

That's why I feel I must confess

What's wrong is why it feels so right

I want to feel your sweet caress

Dibiarkannya cerutu itu mengerut terbakar sedikit demi sedikit tanpa dihisap, seiring dengan suara bening wanita yang menyanyikan lagu itu. Lagu yang dinyanyikan dengan rasa pedih dan sakit yang menyayat. Bagaikan menyimpan seribu makna di baliknya.

Naruto menghela napas. Sudah satu bulan lebih dia mengenal wanita itu, namun tak pernah sekalipun ia menemukan celah. Seakan-akan hatinya telah tertutup selamanya.

-

If I only had one wish

Love woulds always feel like this

Wishin' on the stars above

Forbidden love

If I only had one dream

This would be more than it seems

Ada orang lain yang perlahan beringsut dari tempat itu dengan diam-diam, keluar tanpa sedikit pun menimbulkan pintu tua itu berderit, dan menghilang bersama Ford hitamnya yang langsung melaju begitu kencang di jalanan.

Nada-nada lagu itu masih terngiang, bagaikan terbawa angin, jauh, sekalipun dia berusaha memacu mobilnya sekuat-kuatnya.

Brengsek.

Brengsek.

Betapa sesuatu yang dia pendam itu kembali mengganggunya, begitu mengganggunya.

Sayangku, kau cemburu.

Ya kan?

-

...

-

Apartemen dengan bangunan yang begitu tinggi, mencapai lebih dari lima puluh lantai. Dari gerbangnya saja terlihat bahwa yang bisa masuk, apalagi tinggal di sana—bukanlah orang sembarangan. Mobil-mobil berwarna berkilap keluar-masuk dari tempat itu, dengan pemeriksaan cukup ketat yang wajib dilalui bila mereka hendak berkunjung. Lampu-lampu berwarna kekuningan bersinar berpendar, menghiasi lantai bawah tempat itu yang merupakan pusat perbelanjaan, kafe-kafe dan kolam renang.

Makin jauh memandang, ke lantai-lantai atas yang merupakan tempat tinggal, cahaya itu semakin meremang, menghilang, bagaikan diserap oleh dinding-dinding masif berwarna kelabu yang dingin. Orang bilang kompleks apartemen ini termasuk megah dan mewah; seharusnya orang-orang senang tinggal di sini, namun yang terjadi apartemen-apartemen itu lebih sering ditinggalkan pemiliknya karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

The moon is up high and here I go again

You gave me a sign

That your love is still mine

And I feel the burns inside me

Say it once more, say it for sure

...

How wish I could try to turn away

From the power of forbidden love?

Lampu menyala di salah satu apartemen itu, seiring dengan bunyi lagu yang mulai terdengar sayup-sayup. Sasuke, pemilik tempat itu, membuka pintu kaca, menuju balkon, sejenak memerhatikan tanaman di kebun-atapnya yang cukup lama tidak terurus. Terang saja, pikir Sasuke sebal, karena sudah beberapa hari kemarin dia terus-menerus Naruto mengajaknya datang ke lounge dan menemaninya bingung. Sepertinya sekarang Naruto sudah berani maju sebagai single fighter sehingga dia pergi sembunyi-sembunyi.

Sasuke membuka pintunya lebar-lebar dan duduk di kursi. Berkaleng-kaleng Heineken yang dingin berjajar di atas meja, siap untuk diminum sepanjang malam ini. Dia tersenyum sinis dalam hati. Meskipun tidak diajak minum, ternyata malam ini hasratnya untuk minum lebih besar. Meskipun hanya sekedar bir, sih—hanya saja, bir sekalipun bisa membuat hangover kalau diminum dalam porsi besar. Dan malam ini ada dua belas kaleng Heineken di sana.

Entah mengapa keinginannya untuk minum malahan makin menjadi-jadi. Sasuke memastikan itu bukanlah kecanduan; hanya saja kondisi pikirannya yang kacau malam ini membuat segalanya bercampur. Dia membuka satu kaleng dan meminumnya dengan penuh nafsu. Dia baru saja akan membuka satu kaleng lagi ketika didengarnya suara ketukan sepatu di belakangnya.

"Kukira kau akan bicara dulu denganku." Wanita itu tersenyum saat Sasuke menatapnya dengan pandangan aneh. "Jangan langsung pergi begitu—kau tampak seperti stalker, Sasuke." Dia melihat sekeliling ruangan apartemen itu. Sebenarnya bisa terlihat mewah, seandainya saja ruangan itu rapi. Dia menggeleng-gelengkan kepala. "Sepertinya sejak aku tidak pernah datang lagi ke sini, kau tidak pernah membereskan rumahmu." Komentarnya.

"Sakura." Sasuke mendengus dan kembali meminum birnya tanpa memedulikan kehadiran wanita itu. "Bagaimana caranya kau bisa masuk?"

Sakura duduk di kursi sebelahnya, mengambil sekaleng bir dan membukanya. "Kau ingat, kan? Aku punya kunci duplikat." Dia mengacungkan sebuah kartu plastik dengan hologram logo apartemen di sisinya. "Memangnya aku tidak boleh berkunjung?"

"Sepertinya kau ada pekerjaan. Aku tak mau mengganggu."

"Sungguh baik sekali," Sakura tertawa kecil. "Kau tak akan melakukannya kalau aku bersama dengan pria lain dan bukannya Naruto." Diminumnya birnya. Terasa panas di dalam tenggorokan. Namun malah baik untuk udara malam yang dingin.

Sasuke sama sekali tak menatap wanita itu, sedikit pun. "Mengapa kau ada di sini dan bukannya melakukan pekerjaanmu?"

"Kau khawatir?"

"Tidak."

Wanita itu tertawa. "Kami hanya mengobrol tentang pagelaran itu." Dia menjelaskan tanpa diminta. "Ah. Aku juga bercerita tentang apa yang dulu kau pernah ceritakan padaku."

"Apa?"

"Oedipus Rex—Apollo dan Artemis," Terang Sakura sembari meminum birnya. "Tenang saja. Tapi sepertinya beberapa kali lagi bertemu, dan dia mungkin akan menyewa jasaku. Kau bisa bantu aku menegosiasikan harga yang bagus? Kurasa aku bisa dapat keuntungan banyak dan hei—dia tampan," Dia terkikik geli membayangkan wajah orang itu.

Sasuke menoleh namun tak beranjak dari posisinya di kursi. "Dia mesin wanita."

"Lalu kenapa?" Sakura mendekati pria itu, mendekat sampai kening mereka nyaris bersentuhan. "Kau tidak suka? Aku juga mesin pria, kalau begitu."

Sasuke memalingkan wajah. "Anggap saja aku ingin melindungimu."

"Aku tahu, aku tahu." Sakura tersenyum dan memejamkan matanya, sesaat, dan kembali membukanya. "Sebagai kakakku?"

-

-

How wish I could try to turn away

From the power of forbidden love?

-

-

"Mungkin begitu." Susah payah Sasuke mengeluarkan kata-kata itu dan ia mendorong Sakura menjauh. "Sakura—sudahlah."

-

-

Seulas senyum pahit terukir di wajah Sakura. Menyiratkan luka gores yang Sasuke yang kembali meminum birnya, melihat ke arah langit yang berwarna hitam sempurna tanpa sedikit pun hiasan bintang. Mungkin menghilang karena ditelan cahaya lampu perkotaan. Dia membungkuk, dan sekali lagi, kening mereka bersentuhan, tatapan mereka saling mengunci.

"Sakura, apa yang—"

Sakura tersenyum lembut. Ia mengangkat kepalanya, dan mengecup kening pria itu, terus turun ke bagian lipatan matanya—membuat mata Sasuke berkejap sekilas.

"Kadang aku merindukan saat itu."

Wanita itu tersenyum, bangkit, dan berlalu.

--

-

"Selamanya, yang salah adalah Orang tua. Mereka yang bertindak sebagai Tuhan yang merasa berhak untuk membuat kita tidak saling mengenal... karena itu merekalah yang bersalah. Mereka."

"Seperti Apollo yang menipu Artemis agar membunuh Orion supaya Artemis tidak lagi bersama lelaki itu, meskipun Artemis adalah saudara kembar Apollo sendiri. Atau seperti Oedipus dan Jocasta; yang tidak pernah saling tahu apakah mereka memiliki hubungan darah sampai akhirnya pemburu Corinth memberitahunya dan dia mati dengan menusuk kedua matanya."

"Apa semuanya harus berakhir seperti itu?"

-

--

Empat kaleng kosong bir berdiri membisu.

-

Itu masa lalu, memang—

Tapi tidak bolehkah aku merasa rindu?

-


F O R T S E T Z U N G . F O L G T


Naruto©Masashi Kishimoto

Song: Forbidden Love by Babyface, Forbidden Love by Anggun

Approx. Words 2.670 kata

AUTHOR'S NOTES

Sepertinya yang ini agak beda dari dua bagian yang lalu. (Cukup) memusingkan untuk saya. Hanya saja deskripsi yang minim sempat membuat saya agak merasa "aneh". Maklum, biasa menulis dengan paragraf panjang-panjang. Dan yang ini saya potong-potong. Saya tidak menggunakan deskripsi yang mendetail pada penjabaran karakter agar pembaca bisa menginterpretasikan secara bebas bagaimana perasaan mereka. Tapi kalo malah bikin bingung, maaf, ya...

Soal Oedipus dan Apollo, itu memang mitologi Yunani. Soal Apollo saya kurang tahu dan sumbernya hanya sedikit, jadi saya mengambil Oedipus Rex yang sudah lebih umum. Dulu, Homer sempat mengangkat kisah ini dalam dramanya, Odyssey dan Illiad. Sempat pusing juga, secara yang di sini Ibu-anak, gimana mengimplementasikannya pada cerita ini? Fiuh, maaf kalau kurang memuaskan.

Sepertinya ceritanya tambah bikin saya depresi aja, nih. –nangis sambil meluk bantal-. Oke, let's go to the Review Reply...

Nara Kamizuki Ngga apa-apa ko, sayang. Yang penting kamu baca kaaan? hehe... :D Soal Naruto dan Sakura... uhmmm, saya juga menantikan mereka :)

Miyu201 Hehehe.. sesuai perkiraan, silakan dinikmati saja. Kesukaan Miyu-chan ada, kok. Hihihi.. Eniwei, thanks for the review yah cintaa :)

Dark Aphrodite Infonya... emm, sejak SMP saya memang tertarik pada minuman beralkohol semacam itu, semata-mata karena penampilannya lucu saja koq :) Cara menyembunyikan hubungannya Naruto dan Hinata... entahlah, pokoknya anggap aja bisa –dibanting- Nah, apakah benar Sakura anaknya Fugaku? Mari kita lihat saja...

Kakkoii-chan Iya, habisnya banyak yang menilai begitu, dan saya juga memikirkannya karena banyak sekali referensi "aneh=aneh", hehehe. Tapi sejauh ini belum berbahaya sih. Doakan semoga bisa update tiap minggu ya....

Rin Kajuji Hei, lama tak bersua! :) terima kasih banyak, ya. Saya memang menjaga supaya nggak terlalu vulgar, tapi entahlah ke depannya... makasih banget atas bantuan semangatnya. Hehehe :D memang yang ini agak berat. Saya sampai ngos-ngosan.. lho??

Aretzhartassadarius Yah, gitu deh, tuan... hehehe, fanservice?? Ohoho, sebelumnya saya mau belajar dulu dari MA+++ nya anda. Hohoho... :D Katanya mau jadi tukang peres jeruk lemon kan tuan? XDD

Panik-kok-di-disko Ehem-ehem. Iya, jangan ditiru yah Put! Hehe... wah, dibongkar lagi dari awal? Semoga yang ini lancar aja deh. Hmm... Teh Gii sih bilang dia baru bikin yang Lust tapi PWP... jadi saya ga berani baca, heheheh. Ga tau kalo yang lain, saya juga udah lanjut 3 chappie tapi belum berani post link, takut ga selese =3= SEMANGAT!

X-tee Hm, bukan Jiraiya sih. Tapi pokoknya kakek-kakek tua. Wa, memang memungkinkan ada novel yang mirip dengan ini. Habis untuk novel konvensional, ide ini memang pasaran. Tapi tenang, saya tidak menjiplak dari karya sastra manapun kok! Bisa dipertanggungjawabkan orisinalitasnya... kecuali tokoh-tokohnya, hahaha xD

P-Ravenclaw Hehehe... iya, kasihan ya Sakura sama kakek-kakek? Tapi itulah resiko pekerjaan bung. Yang penting bayarannya dapet iya ngga? –ditabok orang-orang KOMNAS HAM- tengs atas supportnya! =)

Chika The Deidara's Lover Yup, saya juga pengarang Jejak Bulan Di Atas Air yang sekarang sedang di-hiatuskan. Terima kasih sudah mau membaca, ya... mereview juga... emmm, "deep"? maksudnya 'nanjleb'? X) wah, makasih, yaaa :D

Dilia Shiraishi Untukmu sudah kuberikan review reply dan berbagai kejahilan lainnya, iya toh, jadi ga usah dijelasin lagi... pokoknya yang wrath entar menyusul. Dasar anak nakal kamuh, nungguinnya yang lust :D Betewe, monyet saya KENJEN sama kamu... kapan mau syuting KENJEN lagi, Yolanda? –dilempar Dilia- hehe, Thx for the kegilaannya, yah, Sis! =D

Baddaytoday nyaaaa~, makasih atas oleh-olehnya senpai, hehe... yah awalnya saya memang ngasih tema wrath terus pas diliat lagi enakan sloth, diganti deh... tar ada yang lebih wrath lagi hehehe. Yaaa, memang ada "apa-apa"nya sih dulu, tapi saya berencana akan mengangkatnya sekilas-sekilas saja. terima kasih atas semangatnyaaaaa :DD

Philip Wiliam-Wammy Iya, ngelayanin kakek-kakek... kayaknya banyak yang penasaran soal itu ya? –pede- rapih? Wa, makasih... padahal masih banyak typo... saya sampai kelabakan karena baru menyadari saat sudah di-publish, hiks... C:

Muggle 30 . 05 . 80 Hmmm... mudah-mudahan jarak update ini tidak terlalu lama buatmu, yaaa :) makasih udah mau baca... kip review ya XDD

Kosuke Seiichiro 1. Cinta terlarang? Tergantung bagaimana anda 'menangkap' ceritanya, hehehe. Yang pasti saya belum mau ngasih spoilerrr... dikit-dikit aja lewat cerita :D 2. Tentu saja NaruHina bewean, eh, pacaran di perpustakaan, bagian Litbang... bagian litbang arsip itu emang sepi, coba aja liat ke kantor ibu saya (lho?) wah iri yaaa? Hehehe... xD 3. Bukannya ku tak sudi, namun untuk sementara ku tak bisa memegang janji... InsyaAllah ya! Banyak utang review nih, saya... ampun deh :) bukannya saya males ato apa, tapi nyari waktu kosongnya susah... takutnya nanti malah saya review asal-asalan :D 4. nama anda disebut dua kali karena kesalahan teknis, itu sebetulnya untuk Cattleya Queen... Up Town Cherry Blossom juga fanficnya dia yang selalu saya tunggu apdetannya. Hehe, maaf atas ketidaknyamanan anda. Semoga saya bisa apdet lancar ya... =D 5. Wews, jawabannya juga panjang ya? –digampar-

Okay, that's all... review, kritik dan saran selalu saya tunggu dengan riang gembira (halah).

Terima kasih sudah membaca.

©Blackpapillon