"Terima kasih untuk hari ini."

"Apa aku terlalu menikmati setiap detiknya?"


Title : 14 Dating To Love

Author : Imelda Yolanda (UIniichan)

Genre : Romance, Drama, Friendship

Rating : T

Length : Chaptered

Disclaimer : This fict is mine, but the casts are Masashi Kishimoto's

Warning : OOC, AU, Straight, Het, Typo(s), Crack Couple

Pairing : ItaIno

Don't Like Don't Read!

Enjoy!

Matahari pagi terbit dengan warna emas cerah dari arah timur. Bulan Agustus yang merupakan musim dimana semua orang akan mengeluarkan respirasi lebih banyak dari pori-pori kulit mereka memberikan cahaya lebih cerah dalam kehidupan setiap tahunnya. Semua orang akan bersuka cita dimana setelah kebekuan es selama berbulan-bulan akhirnya meleleh akibat sengatan matahari yang hangat.

"Selamat pagi." Ujar seorang pemuda tampan bersuara berat.

Yang disapa hanya membalas dengan erangan halus yang keluar dari bibir ranumnya. Matanya mengerjap beberapa kali mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Gadis bermata aquamarine itu mengusap mata dengan kedua tangannya. Matanya menyipit melihat sosok dihadapannya. Ia kembali mengusap matanya dengan agak kasar untuk meyakinkan diri bahwa sosok itu adalah seseorang yang selalu membuat jantungnya berdebar.

"I-Itachi-san?!" Ino terkejut dengan Itachi yang tiba-tiba saja ada di kamarnya.

"Hn." Jawab Itachi sekenanya seraya bangkit dari duduknya di pinggir ranjang itu.

Yamanaka Ino benar-benar bingung sekarang. Ribuan pertanyaan hinggap di otaknya. Bagaimana bisa Itachi ada di kamarnya? Siapa yang mengizinkan Itachi masuk ke kamarnya? Oh, untuk yang satu itu mungkin tidak perlu dipertanyakan karena pintu kamar Ino terbuka 24 jam untuk pemuda berambut panjang itu. What?!

Semalam ia berkencan dengan Itachi. Ia minum cazerac yang memang mengandung alkohol, tapi ia tidak mabuk. Ia memuntahkan semuanya. Ya, semuanya. Apakah karena perutnya yang kosong hingga membuat pikirannya melayang berkhayal tentang sesuatu yang terasa begitu nyata? Doesn't make sense. Ino masih mengingat semuanya. Memori otaknya masih sangat baik, lalu bagaimana cara menjelaskan situasi yang terjadi sekarang?

"A-Apa yang kau lakukan di kamarku?" Ah, Ino membenci pertanyaan itu. Ia merasa sangat senang karena Itachi ada di kamarnya. Tapi, penjelasan adalah yang diutamakan.

"Apa maksudmu?" Tanya Itachi dengan ekspresi bingungnya.

Uchiha Itachi berjalan mendekat ke arah Ino yang sekarang sudah berdiri di samping ranjang. Ia memegang bahu Ino dengan kedua tangannya. Itachi sedikit menunduk untuk menyesuaikan tinggi badannya dengan Ino, "Apa kau lelah?" Jarak wajahnya dengan Ino sangat dekat sekarang.

"A-Apa?" Ino terbata dengan ucapannya sendiri karena merasa gugup.

"Baiklah, mungkin kau bingung. Aku tahu ini adalah kamarmu. Dan tentu saja bagian dari rumahmu. Tapi, ingatlah bahwa sejak kemarin kamar ini menjadi kamarku juga." Jelas Itachi.

Kepala Ino berputar mencoba memproses setiap kata dari kalimat yang dilontarkan Itachi. Ino adalah gadis cerdas. Ia bisa masuk fakultas kedokteran di universitas negeri terkenal di Jepang dengan mudah. Namun, untuk yang satu ini ia benar-benar menyerah. Otaknya menyerah untuk menjelaskan apa yang terjadi. Yang mampu ia tangkap dari kalimat Itachi barusan hanyalah dua kata saja, 'kamarmu, kamarku'. Dua buah kata itu butuh penjelasan.

Gadis Yamanaka itu hanya mampu memasang tampang cengo tak mengerti apapun. Itachi yang melihat Ino dengan tampang bingung itu berusaha untuk mengubah ekspresi yang dibuat gadis itu.

"Hah… Apa kau lupa? Kita telah mengikrarkan janji kemarin." Ujar Itachi seraya menghela napas dan mengangkat kepalanya dari posisi sebelumnya yang sedikit menunduk.

Janji? Janji apa? Percakapan Ino dan Itachi saat kencan kemarin bahkan dapat dihitung dengan jari. Bagaimana bisa Itachi mengatakan jika mereka sudah mengikrarkan sebuah janji? Hanya ada dua pilihan. Itachi mabuk? Atau Ino kehilangan ingatannya? Oke, terlalu banyak tanda tanya disini.

"Jelaskan seluruhnya! Jangan memberi gambaran abu-abu! Aku tidak akan terpengaruh dengan ketampananmu!" Teriak Ino sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Itachi.

Itachi mengerutkan dahinya menatap bingung ke arah Ino. Gadis itu berteriak dan lebih parahnya ia mengacungkan jarinya pada Itachi. Ini pertama kalinya ia menerima perlakuan seperti itu dari banyaknya kaum hawa yang telah ia jumpai. Tidak terpengaruh dengan ketampanan? Rasanya ingin sekali Itachi mengucapkan kalimat 'apa maksudnya?' dengan gaya sahabatnya–Deidara yang sangat khas itu.

Ino sangat membenci mulutnya yang sering sekali mengeluarkan kalimat-kalimat yang bertentangan dengan otak dan hatinya. Berteriak dan menunjukkan sikap tidak sopan pada pemuda yang ia sukai, benar-benar gila. Mulutnya sangat berani melakukan hal yang malah akan memberi pandangan negatif dari Itachi ke Ino. Oh, tolonglah.

"Kau sangat aneh pagi ini, Ino." Ungkap Itachi.

Pemuda berambut panjang itu meraih tangan kanan Ino yang mengacung ke wajah tampannya. Itachi kemudian menurunkan tangan Ino dan menggenggamnya erat. Hangat. Satu kata itu yang mampu menerangkan apa yang dirasakan oleh tangan Ino.

"Lihatlah. Kita memakai cincin yang sama. Apa kau paham maksudnya?" Kata Itachi yang memperlihatkan cincin yang dikenakan di jari manisnya berusaha menyelaraskan dengan cincin yang juga dikenakan Ino.

Nani?! Sejak kapan Ino mengenakan perhiasan? Sejak lahir sampai sekarang ia tidak pernah merasa mempunyai perhiasan dan mengenakannya. Hanya satu. Ino mengenakan tindik di kedua daun telinganya yang merupakan sebuah hadiah dari gurunya saat di bangku Sekolah Dasar–Sarutobi Asuma karena berhasil menjadi juara kelas. Sejak saat itu ia tidak pernah merasa membeli perhiasan. Meskipun Ino merupakan gadis yang sangat peduli dengan penampilan fisik, tapi untuk pelengkap kecil seperti perhiasan ia tidak terlalu memikirkannya. Gadis blonde itu bungkam menatap bingung ke arah jarinya dan Itachi.

"Kita resmi menjadi suami–istri kemarin." Tutur Itachi menatap tersenyum ke Ino.

"Apa?!" Ino berteriak keras dan spontan kedua tangannya memegang kepala yang merupakan sebuah reaksi normal menanggapi sebuah keterkejutan.

Apa-apaan ini? Kejadian apa ini? Apa yang dikatakan oleh Itachi barusan? Suami–istri? Apakah yang dimaksudnya adalah menikah? Apa Ino sedang berada di Wonderland layaknya tokoh Alice yang menjadi favoritnya? Apakah ini sebuah efek akibat terlalu sering menonton film yang sama? Ino bersumpah tidak akan menonton film itu lagi yang membawanya ke dunia khayal seperti ini. Tunggu, apakah ini khayalan Ino? Menyedihkan. Kenapa hal indah seperti ini hanya ada di dunia khayal? Tapi ini terlalu dalam.

"Rambutku?" Tanya Ino begitu merasakan rambutnya yang tiba-tiba terpotong pendek. Semalam rambutnya masih tergerai panjang. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemana perginya rambut panjang yang amat ia sayangi itu? Yang tersisa sekarang hanyalah rambut pendek sebatas bahu.

"Kau memotongnya seminggu sebelum pernikahan kita." Jelas Itachi.

"Tidak mungkin." Mata Ino membulat. Ia benar-benar tidak mengerti dengan semua ini.

Begitu menyadari sesuatu yang benar-benar terlewat dalam pikirannya, Ino menutup dadanya menyilang dengan dua tangannya, "Apa yang telah kau lakukan padaku?" Ino memberikan tatapan tajam sekaligus takut melalui aquamarinenya.

"Semalam adalah malam pernikahan kita. Menurutmu apa yang telah aku lakukan padamu?" Itachi menyeringai.

Oh, apa Ino boleh pingsan sekarang? Ia tidak sanggup menahan beban tubuhnya. Kepalanya pusing tak tertahankan. Semuanya terasa berputar di pandangannya. Ino ambruk. Ino pingsan. Pingsan.

"Ino!" Tegur Itachi menyadarkan. Alhasil adegan pingsan Ino pun tertunda.

"Dari semua reaksi dan pertanyaanmu, kau terlihat tidak bahagia menjadi istriku." Pandangan Itachi melemah.

"Apa?! Tidak! Aku hanya merasa kalau semua ini tidak bisa dijelaskan oleh pemikiranku. Aku takut kalau semua ini hanyalah sebuah khayalan belaka." Ungkap Ino menundukkan kepalanya.

Ya, yang paling mengerikan dari situasi ini adalah ketika Ino sadar dari khayalannya yang terlalu indah. Semuanya berjalan mulus tanpa cela. Khayalan ini amatlah memabukkan. Ino merasa seperti terkena powerful Tsukuyomi yang dilakukan oleh tokoh anime favoritnya. Lagi-lagi, Ino terlalu banyak menonton hal-hal seperti itu. Kembalilah ke kehidupan nyata.

"Bagaimana caranya membuktikan padamu bahwa ini bukan khayalan?" Tanya Itachi sembari mengangkat dagu Ino dengan tangannya.

"Aku tidak tahu." Jawab Ino dengan mata yang berkaca-kaca.

Uchiha Itachi sedikit menghela napas pendek. Ia menarik wajah Ino mendekat melalui dagu yang ia pegang. Itachi memperhatikan bibir ranum Ino yang benar-benar dekat dengan pandangannya sekarang. Sontak wajah Ino memerah merasa malu dan gugup karena perlakuan pemuda tampan itu. Sulung Uchiha itu tersenyum tipis melihat Ino yang menurutnya sangat manis dengan wajah merona. Ia menutup onyxnya dan bersiap memberi Ino sebuah kecupan. Ini kesempatan bagus. Ino tak boleh menyiakannya. Itachi yang menciumnya. Kapan lagi? Tak ada kesempatan yang datang dua kali. Gadis Yamanaka itu kemudian menutup matanya. Bibir mereka hampir bertemu. Kemudian…

'Brug!'

"Aww!" Ino mengaduh tepat ketika tubuhnya 'mencium' lantai.

Sial! Hanya sebuah mimpi. Mengetahui kenyataan bahwa semuanya tadi hanyalah mimpi adalah hal pahit. Bahkan lebih pahit daripada khayalan. Setidaknya ketika mengkhayal Ino dalam keadaan sadar. Mimpi? Tentu saja ia dalam posisi tidur. Bad timing. Kenapa mimpinya harus berakhir di scene itu? Tidak adil. Menyebalkan. Adegan barusan sangatlah tidak elit. Terjatuh dari ranjang? Hah! Yang benar saja. Beruntunglah ia berada dalam tempat paling privasi sehingga tidak ada orang yang melihatnya.

Ino bergegas bangun dari posisinya yang tertidur di lantai dan segera memperhatikan sekeliling kamarnya. Aman. Tak ada apapun yang aneh dan mencurigakan. Bahkan tak ada Itachi. Ia menatap jemari tangannya intens. Tak ada cincin. Matanya beralih ke cermin yang terletak beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Ino berlari ke arah cermin besar tersebut dan memperhatikan pantulan dirinya disana. Syukurlah, semuanya hanya mimpi. Ia memperhatikan dan menyentuh rambutnya yang tergerai panjang.

"Syukurlah." Ujarnya pelan seraya menghela napas pendek.

Apakah tepat jika ia harus merasa bersyukur sekarang sementara hatinya tidak merelakan mimpi tadi? Padahal Ino sangat berharap bahwa semua itu bukan mimpi. Itachi merebut hatinya dengan cara yang amat sederhana dan cepat. Ia tidak pernah merasa tergila-gila dengan seorang pria sebelumnya. Itu benar-benar bukan gayanya. Bertindak layaknya penggemar berat Itachi, setiap melihat pemuda itu rasanya otaknya berhenti berfungsi dan seperti ia sedang berada di roller coaster tapi benda itu hanya membawanya naik ke atas. Benar-benar cinta gila yang bodoh.

'Tok! Tok! Tok!'

Sebuah ketukan di pintu menyadarkan Ino dari lamunannya. Lamunan tentang Itachi yang sepertinya tidak pernah habis dan akan menjadi kebiasaan barunya.

"Ino-sama, Inoichi-sama menunggumu untuk sarapan bersama." Ujar seorang assisten rumah tangga dari balik pintu kamar.

Apa ini? Tidak seperti biasanya Ayah Ino mengajaknya makan bersama. Sekarang, sarapan? Pria paruh baya itu bahkan jarang bertatap muka dengan Ino. Ia akan pergi sebelum Ino bangun dari tidurnya dan pulang ketika Ino sudah terlelap. Ia hanya sibuk dengan perusahaan. Mengumpulkan banyak uang dan memperluas cabang adalah makanannya sehari-hari. Ayahnya beralasan bahwa dengan menyibukkan diri, ia tidak akan teringat-ingat dengan Ibunya lagi. Ayah Ino memang protektif. Tapi Ino ingin kasih sayang. Bukan hal semacam itu.

"Aku akan segera turun." Sahut Ino dari bilik.

Tidak mendengar suara apapun dari balik pintu, Ino segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, Ino hanya mengenakan pakaian casual karena tidak berniat pergi kemanapun. Gadis blonde itu pergi ke ruang makan dan sudah mendapati sang Ayah duduk disana. Ino mengambil tempat duduk tepat di hadapan Ayahnya.

"Ino, Ayah ada urusan bisnis di Singapura dan mungkin akan kembali dalam tiga hari." Ujar Inoichi menghentikan kegiatan Ino yang tengah mengolesi roti dengan selai blueberry.

"Hn." Jawab Ino singkat.

"Hn? Tanggapan macam apa itu?" Inoichi mengerutkan dahinya.

"Ayah tidak seperti biasanya. Bukankah setengah dari hidup Ayah memang berada di luar Jepang?" Protes Ino.

Ya, pagi ini Ayah Ino memang agak aneh. Pria itu mengajak putrinya sarapan bersama dan memberitahu tentang jadwal pekerjaannya. Oh, itu agak kasar. Mungkin lebih tepat jika disebut dengan berpamitan. Sebelum ini Ayah Ino tidak pernah berpamitan jika ia akan pergi ke luar negeri atau kemanapun itu. Saat masih kecil Ino selalu menangis ketika mengetahui kepulangan Ayahnya dari luar negeri. Kepulangan? Bukankah seharusnya Ino bahagia? Karena tidak pernah berpamitan, Ino tidak pernah sempat memberitahu Ayahnya untuk membelikan barang yang mungkin tidak ada di Jepang. Yah, sebut saja buah tangan. Seperti anak-anak lain, Ino ingin tersenyum bahagia menyambut kepulangan sang Ayah yang membawa boneka atau semacamnya di tangan. Namun, hal itu tak pernah ia rasakan. Terlambat jika ia harus merengek sekarang. Ino hampir menginjak usia dewasa. Selama bertahun-tahun itu pula Ayahnya tidak pernah berubah. Ia tetap menjadi seorang workaholic.

"Ino, Ayah sudah tidak muda lagi. Bagaimana jika Ayah tiba-tiba meninggal?" Tanya Inoichi.

"Ayah! Kenapa bicara seperti itu?!" Timpal Ino sedikit membentak.

"Huh? Ternyata kau masih anak Ayah." Tambah Inoichi dengan ekspresi meledek.

"Tentu saja. Memangnya aku ini siapa?" Kata Ino dengan sedikit kesal.

"Hahaha maka dari itu jangan bersikap dingin pada Ayah." Inoichi mengacak rambut putrinya sayang.

Ino tidak menjawab perkataan Ayahnya yang terkesan membuat lelucon itu. Apa-apaan Ayahnya itu? Benar-benar tidak lucu. Bukankah setiap perkataan adalah doa? Apabila ada malaikat yang mencatat, itu akan sangat buruk. Yamanaka Ino melanjutkan acara sarapannya masih dengan guratan amarah di wajah cantiknya. Menyebalkan. Karena kejadian beberapa menit yang lalu itu membuat nafsu makannya turun hingga 60 persen.

.

.

.

.

.

"Selesai." Seorang pemuda tampan berambut panjang sedikit meregangkan lengannya.

Itachi baru saja menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya tertunda. Malah akan sangat tertunda ke depannya. Semalam ia melakukan kencan pertama yang merupakan sebuah syarat yang diajukan seorang 'pencuri' hatinya. Salah. Coret kalimat barusan. Yang dimaksud adalah 'pencuri' bukunya. Persyaratan yang menurut Itachi sangat bodoh itu terpaksa ia lakukan dan membuat dirinya terlihat bodoh. Ya, bodoh karena sepertinya ia ketagihan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan gadis itu. What?!

Mata abu-abu gelapnya menatap ke arah layar laptop dengan tatapan puas. Baginya, satu halaman dari buku itu amatlah membantu dalam menyelesaikan tugas akhir yang akan menjadi penentu masa depannya. Jangan sampai hanya karena penghalang kecil seperti ini akan merusak semua perjuangannya untuk mencapai titik ini. Itachi hanya perlu menganggapnya sebagai sebuah ujian. Banyak orang yang berkata bahwa, 'Semakin dekat kita dengan keberhasilan, semakin besar penghalang yang menghadang di depan.'. Itachi cukup percaya dengan filosofis.

"Benar-benar." Ujarnya pelan seraya tersenyum kecil ketika wajah Ino kembali masuk ke pikirannya.

Layaknya seseorang yang sedang kasmaran, Itachi melepas senyumnya begitu saja. Tidak seperti biasanya, wajah sempurnanya itu jarang sekali menunjukkan ekspresi bahagia. Datar adalah ekspresi mutlak dalam darah keturunannya. Oh, apa kali ini Itachi menghancurkan hal mutlak tersebut? Siapa yang peduli.

Itachi menutup dokumen yang baru saja ia kerjakan. Ia membuka laman instagram di web. Setelah terbuka, ia mengetik sebuah username 'yamanakaino' di kolom search. Nihil. Pencarian itu hanya menampilkan sebuah kalimat 'no result for this search'. Pemuda dengan bulu mata panjang itu mendesah napas panjang merutuki kegiatannya barusan. Belum pernah selama ini ia begitu penasaran dengan seorang gadis hingga seperti ini. Perasaan apa? Apakah ini yang disebut banyak orang dengan jatuh cinta? Itachi benci mengakui hal itu. Tidak, tidak mungkin. Ia bahkan masih ingat pertama kali jatuh cinta yang membawanya kepada rasa patah hati. Semuanya masih tersimpan dengan rapi di trek ingatannya.

Uchiha Itachi melepas kacamata minus yang sedari tadi ia kenakan lalu melirik ponsel yang tergeletak di samping laptop. Tak ada panggilan. Tak ada pesan. Ino belum menghubunginya lagi sejak semalam. Padahal Itachi mengharapkannya. Jangan berpikiran yang 'aneh' dulu. Itachi mengharapkannya karena ia ingin mengetahui kapan kencan selanjutnya akan dilakukan. Semakin cepat kencan dilakukan, semakin cepat pula ia mendapatkan rangkuman di bukunya secara lengkap.

.

.

.

.

.

"Are you sure? (Apa kau yakin?)" Tanya seorang wanita berambut pirang.

"Yeah. I think it's time I return to my native country. (Ya. Aku rasa sudah saatnya aku kembali ke tanah kelahiranku.)" Jawab seorang pemuda dengan senyuman di wajahnya.

"But, didn't you say you don't have any family there? (Tapi, bukankah kau bilang kau tidak mempunyai keluarga disana?)" Wanita berambut pirang itu memberikan ekspresi ragu pada pemuda di hadapannya.

"Hey, Jess! You don't have to worry. It's true that I don't have any family there. But, it's the land of my birth. Everyone there is my family. (Hei, Jess! Kau tidak perlu khawatir. Itu benar kalau aku memang tidak mempunyai keluarga disana. Tapi, itu adalah tanah kelahiranku. Semua orang disana adalah keluargaku.)" Pemuda itu kini menempatkan kedua tangannya di bahu wanita yang dipanggil Jess tersebut. Jessica tepatnya.

Dua orang berbeda gender itu tengah berada di bandara internasional Heathrow di kota London. Dengan hingar bingar banyak orang di bandara itu, kedua insan itu saling berdiam diri. Wanita pirang bernama Jessica itu menatap pemuda di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara iba, ragu atau cinta terlihat begitu samar di mata birunya yang merupakan warna khas dari mata kebanyakan orang Eropa.

"Call me anytime. (Hubungi aku kapanpun.)" Ungkap Jessica.

Pemuda berambut merah itu sedikit membulatkan matanya mendengar kalimat wanita yang sudah menjadi sahabatnya lebih dari satu dekade itu. Tak lama, ekspresi itu berubah menjadi senyuman manis. Bagaimanapun juga, ia harus kembali ke Jepang dan meninggalkan Inggris. Ini adalah pesan dari kedua orangtuanya yang harus ia jalankan. Tak dapat dipungkiri setelah tujuh belas tahun ia dan kedua orangtuanya meninggalkan negeri sakura tanpa kembali, membuatnya begitu merindukan negara di Asia Timur itu. Merindukan keindahan alamnya, merindukan keramah tamahan khas Asia yang jarang ia dapatkan di London, merindukan kulinernya yang sangat beragam dan merindukan seseorang.

"That's why I like you. (Itulah mengapa aku menyukaimu.)" Sahut pemuda itu.

"Huh?" Jessica terkejut dengan kalimat barusan.

"You're always very attentive to me and the most who understand me. Ah, you're making it very hard to leave my very best friend here. (Kau selalu begitu perhatian padaku dan yang paling memahamiku. Ah, kau membuatku merasa begitu berat meninggalkan sahabatku ini disini.)" Pemuda itu memberi ekspresi yang dibuat seolah bersedih.

Jessica sudah menduganya. Setiap kali pemuda itu mengatakan kalau ia menyukai Jessica, itu hanya rasa suka sebagai sahabat, tak lebih. Sejujurnya wanita itu mengharapkan hubungan yang lebih dari sekedar sahabat antara mereka berdua. Tidak, bukan berarti lebih itu adalah hubungan seperti keluarga. Ia sangat menginginkan pemuda berdarah Jepang itu memiliki perasaan yang sama seperti yang ia miliki. Perasaan ingin memiliki seutuhnya dan perasaan mencintai antara pria dan wanita.

"Are you going to meet her? (Apa kau akan menemuinya?)" Jessica menunduk.

"I don't know. But, this is a good opportunity. (Entahlah. Tapi, ini kesempatan yang bagus.)" Pemuda itu menghela napas.

Sebenarnya sejak pertama kali bertemu dengan pemuda Jepang itu sekitar dua belas tahun yang lalu, Jessica sudah menyadari bahwa perasaan yang ia miliki amatlah berbeda dengan bagaimana perasaannya terhadap orang lain. Ia pikir itu hanyalah perasaan sementara yang memang terjadi kepada setiap remaja yang baru saja menginjak masa pubertas. Dimana hormonnya untuk tertarik pada lawan jenis sedang naik. Namun, lewat bertahun-tahun sejak hari itu, perasaannya tak pernah berubah sedikitpun. Bahkan hingga kini di usianya yang menginjak 25 tahun tak ada seharipun terlewatkan tanpa jantungnya yang berdetak untuk pemuda itu. Saat itulah wanita Inggris itu menyadari bahwa perasaannya adalah cinta.

Begitu lama Jessica memendam perasaannya tanpa diketahui siapapun. Sampai pada suatu hari ketika pesta perpisahan di SMA. Jessica memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada pemuda dengan rambut merah itu. Patah hati menyelimutinya beberapa menit setelah pengakuan itu. Tanpa ragu pemuda itu menolak cintanya dengan dalih ia sudah jatuh cinta dengan gadis lain. Jessica dapat memahami itu. Ia merasa sangat terlambat mengungkapkan cintanya. Gadis itu pasti sangat beruntung, begitulah yang ada di pikiran Jessica.

Beberapa hari setelah hari itu semuanya berjalan normal. Keduanya disibukkan dengan persiapan tes masuk Oxford University. Mereka tetap bersahabat seperti biasa. Meskipun perasaan canggung masih ada dalam diri Jessica, namun ia tidak sanggup jika harus berpisah dari pemuda yang mencuri hatinya itu. Kembali menjalin persahabatan adalah jalan terbaik untuk tetap dekat.

Perasaan penasaran mulai menghantui Jessica mengenai siapa gadis beruntung itu. Karena mereka merupakan sahabat dekat, pemuda berambut merah itupun dengan senang hati menceritakannya. Betapa terkejutnya Jessica ketika mengetahui fakta bahwa gadis itu adalah seseorang yang tinggal jauh di Jepang. Pemuda itu berkata bahwa ia mulai jatuh cinta dengan gadis itu sejak sebelum ia tinggal di Inggris, yang mana itu sudah sangat lama. Ia sudah jatuh cinta sejak usianya yang masih 8 tahun. Bahkan ia sendiripun ragu apakah gadis itu masih mengingatnya sekarang. Impossible. Namun bagaimanapun caranya, pemuda itu akan membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Tak ada harapan bagi Jessica. Pemuda itu menunjukkan kesungguhan di dalam matanya yang tajam.

'Boeing-777 236ER with the aim of Tokyo will leaving soon. To all the passengers are requested to immediately to get in to the plane. (Pesawat Boeing-777 236ER dengan tujuan Tokyo akan segera berangkat. Para penumpang dimohon untuk segera masuk ke dalam pesawat.)'

Pemberitahuan itu menyadarkan dua insan yang sedari tadi berdiam berkutat dengan pikiran masing-masing.

'Chu!'

Jessica mencium pipi putih pemuda di hadapannya sebelum ia benar-benar pergi. Pemuda itu sedikit terkejut dengan perlakuan sahabatnya kemudian tersenyum. Ia mewajarinya. Mungkin salam perpisahan.

"I'll miss you. (Aku akan merindukanmu.)" Ucap Jessica dengan mata berkaca-kaca.

"See you later. (Sampai jumpa.)" Tutur pemuda itu sambil sedikit mengacak rambut pirang Jessica.

Pemuda itu kemudian berlalu meninggalkan Jessica dan melambaikan tangan sebelum benar-benar hilang dari balik pintu kaca itu dan banyaknya kerumunan orang.

.

.

.

.

.

"Tepat pukul 8." Ujar Yamanaka Ino dengan nada cerianya seperti biasa.

Beberapa hari setelah kencan pertama dilakukan, Ino kembali menghubungi Itachi untuk kencan kedua. Dan disinilah sekarang mereka berdua. Ebisu Garden Place menjadi pilihan. Itu sebenarnya pilihan Ino. Itachi tidak mau ikut campur dan memusingkan diri dengan memilih tempat kencan. Asalkan ia bisa mendapatkan tiap halaman dari bukunya, semua aturan permainan akan ia ikuti.

Ebisu Garden Place cukup terkenal di kalangan anak muda Jepang. Ebisu adalah lingkungan santai dan tenang, penuh dengan kafe dan restoran yang menyenangkan. Ebisu Garden Place seperti sebuah kota tersendiri dengan kawasan untuk berjalan-jalan yang menyenangkan, belanja, makan dan hiburan. Banyak orang datang ke kawasan ini untuk menghabiskan quality time bersama. Mulai dari keluarga sampai pasangan kekasih ada disini. Semua orang saling menautkan jari membuat Itachi sweatdrop. Lingkungan ini benar-benar tidak cocok untuk seseorang yang berstatus lajang.

"Oh, semua orang sudah berkumpul. Ayo!" Ino menarik tangan Itachi secara paksa.

"Hei! Tunggu! Apa-apaan ini?!" Protes Itachi.

Ketika mata aquamarinenya menangkap sekumpulan orang yang berada di taman tak jauh dari tempatnya berdiri, Ino langsung saja menggandeng tangan Itachi dan mengajaknya berlari ke arah taman itu. Meskipun mendapat sedikit protes dari Itachi, gadis blonde itu tidak sedikitpun peduli. Sikap percaya dirinya melakukan hal yang lumayan berani dengan menarik tangan pemuda Uchiha itu. Itachi yang melihat tangannya berada di genggaman Ino hanya mampu menatap dengan tatapan lembut. Halusnya tangan Ino membawa kehangatan yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Tanpa disadari, Itachi membalas genggaman tangan Ino.

Banyaknya orang yang berkumpul di taman itu bukanlah tanpa alasan. Fenomena alam yang terbilang langka akan terjadi malam ini. Galaksi Bima Sakti dengan ratusan miliar bintang akan terlihat jelas membentang dari utara ke selatan. Pemandangan seperti itu sangat jarang terjadi. Ino yang tidak ingin melewatkan kesempatan itupun tertarik mengajak pasangan kencannya kemari.

Begitu berhenti dari adegan berlari sambil bergandeng tangan, Ino melepaskan tautan tangannya dengan tangan Itachi. Raut wajah canggung dan malu terlihat jelas di wajah cantiknya. Tak hanya Ino, Itachi pun menunjukkan ekspresi yang sama. Itachi juga merasa canggung karena ia merasa jika ia tangannya juga menggenggam tangan Ino. Pemuda Uchiha itu sedikit berdehem dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Itachi benar-benar menghancurkan imagenya sebagai sosok pemuda cool.

'Tep!'

Tiba-tiba semua lampu mati dan menimbulkan suasana yang gelap. Beruntunglah karena berada di taman yang ada di lingkungan luar sehingga masih ada cahaya bulan yang menjadi penerang alami.

"Apa mereka lupa membayar tagihan listrik?" Tanya Itachi yang terkesan sedikit menggerutu.

"Apa kau tidak tahu? Malam ini akan dilaksanakan program pemadaman lampu selama satu jam." Sahut Ino sambil tersenyum senang.

Itachi memicingkan mata ke arah Ino. Program apa itu? Program penghematan listrik? Pemuda tampan itu tidak sama sekali mengerti tentang informasi tersebut. Akan lebih baik jika ia mengikuti kegiatan rutin sang Ayah yang membaca koran pagi sambil menyesap kopi hitam. Dengan begitu, ia tidak akan menjadi sosok pemuda kolot yang ketinggalan informasi. Oh, membayangkan dirinya sendiri yang membaca koran sambil menyesap kopi saja membuatnya mual. Ia malah bisa dikira sebagai seorang Ayah. Tidak peduli tentang ketinggalan informasi. Yang penting adalah dirinya memiliki wajah yang tampan. What?!

"Di jam seperti sekarang ini, cahaya senja sudah menghilang sehingga bila lampu dimatikan, langit dan bintang-bintangnya akan terlihat jelas. Karena sekarang bulan Agustus, Jepang sedang berada di musim panas sehingga kemungkinan malam cerah cukup tinggi. Bila dapat mengurangi polusi cahaya, Galaksi Bima Sakti dengan ratus–"

"Ah, sudahlah. Hentikan." Itachi memotong celotehan Ino yang menurutnya terdengar lumayan membosankan itu.

Yamanaka Ino hanya bisa merengut ketika pemuda disampingnya memotong kalimat yang bahkan sudah ia pelajari sejak tiga hari yang lalu. Usahanya sia-sia saja. Padahal gadis Yamanaka itu sedang berusaha menarik perhatian Itachi dengan bertingkah layaknya seperti gadis dengan intelejen tinggi. Dengan begitu, setidaknya ia tidak terlalu terlihat bodoh ketika berbicara dengan pemuda jenius peraih hasil Cum Laude di strata satu seperti Itachi.

Ekspresi merengut Ino segera berubah ketika melihat ratusan miliar bintang dari Galaksi Bima Sakti muncul di langit.

"Oh, lihatlah." Teriak Ino sambil menunjuk ke arah langit.

Itachi yang sontak membawa mata onyxnya menatap ke langit itu begitu terlihat terkagum dengan pemandangan indah yang tersedia secara cuma-cuma. Jajaran bintang terlihat begitu indah dan bersinar di langit malam yang cerah. Fenomena yang jarang terjadi di langit itu kemudian diabadikan oleh banyak orang disana melalui kamera ponsel hingga kamera professional. Jadi, ini maksud dan tujuan dari program memadamkan lampu itu.

"Aku bertanya-tanya, membentuk apa bintang-bintang itu?" Tanya Ino dengan kilatan di matanya yang mencerminkan rasa kagum.

Itachi melirik Ino dari ekor matanya, "Itu adalah rasi Angsa (Cygnus) di langit utara dengan Segitiga Musim Panas (Summer Triangle), tiga bintang terang di sekitar rasi Angsa: Vega, Deneb dan Altair. Di langit selatan terlihat rasi Layang-Layang atau Salib Selatan (Crux) yang sering digunakan sebagai penunjuk arah selatan. Hampir diatas kepala dapat terlihat rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares." Jelas Itachi lengkap seraya menunjuk-nunjuk langit.

Ino yang mendengarkan penjelasan Itachi itupun merasa takjub dengan kecerdasan yang dimiliki pemuda itu. Ino merasa beruntung bisa berkencan dengan seorang Itachi yang sangat tampan dan pintar. Sontak ia melingkarkan kedua tangannya di lengan Itachi karena merasa begitu kagum.

"Wah, apa kau seorang ahli astronomi atau astrofisika?" Ino menatap Itachi.

Itachi yang melihat lengannya dipeluk oleh Ino langsung saja menepisnya, "Orang bodoh pun dapat mengetahui hal itu dengan mudah." Timpal Itachi datar.

"Apa?!" Ino berteriak pada Itachi yang kini sudah beberapa langkah di depannya.

Kalimat Itachi tadi secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa Ino bodoh. Ya ampun, mulut pemuda itu benar-benar tajam tak perduli dengan siapa ia berbicara. Rasanya Itachi memang selalu dan akan membuat Ino kesal. Namun apa daya, Ino terlalu menyukai pemuda itu untuk membencinya hanya sekedar karena sebuah kalimat. Benar, cinta memang buta. Atau Ino dibutakan oleh cinta? Who knows?

Saat ini dua insan yang terpaut usia lima tahun itu tengah duduk berdua di kursi taman sambil tetap menatap langit yang dihiasi ratusan miliar bintang yang indah.

"Benar-benar indah. Aku harap aku bisa melihatnya bersama dengan Ibuku." Tutur Ino tiba-tiba membuka suara.

"Kau tinggal mengajaknya. Apa sulitnya?" Balas Itachi.

"Aku harap Ibuku bisa hidup sedikit lebih lama lagi. Tapi sayang…" Ucap Ino sambil tersenyum miris.

"Maaf…" Itachi tidak mengetahui apapun mengenai hal itu. Tatapannya ke Ino melembut.

"Saat masih kecil, aku datang ke Garden Party yang selalu diadakan sekolah setiap tahunnya. Semua teman-temanku membawa Ibu mereka masing-masing. Ibu mereka mengikat tali kimono mereka dengan sabar. Ketika tali kimonoku terlepas, aku hanya berdiri dan tidak mampu melakukan apapun. Kemudian seorang Ibu dari temanku datang dan mengikatkan tali kimonoku. Saat itu aku merasa, 'Ah, aku benar-benar tidak punya Ibu.' Aku merasa benar-benar berbeda." Tutur Ino dengan mata yang berkaca-kaca.

Itachi yang melihat gadis di sebelahnya terlihat begitu lemah, ingin rasanya ia merengkuh tubuh itu. Namun egonya yang tinggi lebih menguasai. Pemuda itu tidak menyangka jika gadis blonde itu akan begitu terbuka pada dirinya mengenai masa lalu dan kehidupan pribadinya.

"Aku bahkan tidak pernah datang ke pesta seperti itu." Kata Itachi seraya menatap langit.

"Eh?" Ino menoleh ke arah Itachi.

"Keramaian adalah hal gila bagiku. Aku benci menjadi pusat perhatian. Aku benci ditatap menjadi sekuntum bunga." Ungkap Itachi.

Uchiha Itachi adalah sosok yang tertutup. Logis dengan alasan yang ia ungkapkan mengapa ia tidak pernah datang ke sebuah pesta. Orang-orang dengan kepribadian tertutup sangat membenci keramaian, tidak banyak bicara, benci apabila mendengar ponsel yang berdering, tidak memiliki banyak teman dan masih banyak lagi yang mencirikan seorang introvert.

Kemudian malam itu mereka habiskan dengan saling bercerita mengenai pribadi masing-masing. Saat Ino bersama dengan Itachi, entah mengapa ia selalu menjadi dirinya sendiri dan sama sekali tidak memikirkan tentang embel-embel seorang 'primadona'. Begitupun sebaliknya. Itachi yang notabene seorang introvert, menceritakan segalanya dengan leluasa dan terbuka pada Ino. Ah, satu lagi mengenai seorang introvert adalah mereka hanya berbagi cerita dengan orang-orang yang mereka percayai dan membawa kenyamanan. Secara tidak langsung, Itachi merasa nyaman dengan keberadaan Ino.

.

.

.

.

.

"Aku pulang." Ino memberikan salam begitu masuk.

"Ino, kau sudah pulang." Inoichi yang tengah berada di ruang tamu sontak menyambut kedatangan sang putri.

Mata Ino membulat melihat satu sosok lagi yang ada di ruang tamu itu dan sepertinya sebelumnya ia tengah mengobrol dengan Inoichi.

Pemuda berambut merah itu berdiri dari posisi duduknya dan matanya bertemu dengan Ino, "Sudah begitu lama kita tidak bertemu." Ujarnya sambil tersenyum lembut.

"Kau…"

.

.

.

.

.

-To Be Continued-

A/N :

Yoshaa! Apa kabar genks? Chapter 4 updated! Maaf atas keterlambatan updatenya. Seharusnya kemarin malam aku update tapi ada kendala. Perangkatku tiba-tiba error dan terpaksa aku harus nulis tangan dulu dibuku hmm.. Jadi kerja dua kali. Lelah sangat T-T Tapi rasa lelahnya bakalan hilang dengan review kalian kok /gombal/ :p Gimana membosankan? Ada yang penasaran dengan cowok berambut merah itu? Egk ada yang penasaran? Tolonglah, penasaran aja yaa wkwkwkwkwk maksa gitu :v Oke genks, review kalian adalah semangat dan motivasiku. So, review please.. Thank you!

©Imelda Yolanda (UIniichan)