"I want to be loved, but you don't seem to love me. I'm wandering aimlessly within this repetition and the answer I found is only one; that even if I'm scared, even if I'm hurt I'll say "I love you" to the person I love." ―Sen no Yoru wo Koete (Aqua Times)


MELEPASMU

Naruto is not mine, you know well laaah #plak

Kishimoto Masashi™

Melepasmu is purely mine!

Kurousa Hime™

Warnings: AU, OOC, gaje, aneh, typo(s)

Disarankan mendengar fanfic ini dengan Lagu Alexa yang mana aja :)

Silahkan membaca!

DLDR


"Akhirnya tiba juga hari ini." Bisik seorang gadis yang masih berpakaian piyama putih polos menatap langit pagi hari yang masih berwarna putih keemas-emasan.

Ekspresi wajahnya sangat sulit diartikan. Ada banyak rasa yang ingin dibuncahkan, namun pada akhirnya hanyalah wajah sedikit tanpa ekspresilah yang terlihat pagi itu.

Dengan malas-malasan dia turun dari ranjangnya yang empuk. Melihat sekeliling kamarnya yang sudah polos hanya ada perabotan besar―seperti lemari, meja hias, dan meja belajar juga ranjangnya. Dengan langkah gontai, diayunkan kaki mungilnya menuju kamar mandi.

"Perpisahan…."

.

.

.

Dentuman dari seorang pemuda blonde durian meniti nada-nada indah di setiap tutsnya. Sedikit berdenting ketika Naruto―si pemuda blonde durian―menyentuhkan jari kelingkingnya pada nada tinggi. Kelihaian tangan Naruto menari di atas hitam putih tuts yang mengeluarkan irama yang sejuk didengar telinga memang tak bisa dianggap remeh lagi. Ia kini sedang memainkan Fur Elise. Lagu gubahan yang lumayan lama ini sangat disukai Naruto.

Sakura yang terkejut dengan kedatangan Naruto―tepatnya melihat Naruto sedang memainkan piano itu sangat mustahil―terutama di hari minggu pagi seperti ini. Hei, bukankah Naruto tidak bisa bangun pagi?

Naruto melongokan kepalanya ketika mendapati sahabat merah mudanya tengah mengerucutkan bibirnya imut.

"Pagi, Sakura-chan!" sapa Naruto riang sembari menutup kembali tuts piano milik Sakura. "Sesuai janjiku." Dia nyengir dengan lebarnya membuat Sakura tampak sebal.

"Huh, ini mustahil!" Sakura menyilangkan tangannya di depan dada. "Pasti ini makhluk jejadian!" kemudian dia mencubit kedua pipi Naruto gemas.

"Aduh!" erang Naruto kesakitan. "Teganya kau. Kalau aku sudah janji, aku pasti akan menepatinya Sakura!"

"Ya, ya, ya aku tahu baka." Sakura mengelus-elus kedua pipi Naruto yang dicubitnya hingga memerah. "Kita sarapan dulu, yuk!"

.

.

.

Pertama suara yang didengar pemuda raven tersebut adalah suara sayup-sayup burung gereja yang berjajar di jendela kusennya―yang entah kapan sudah terbuka―ketika ia baru saja membuka kedua matanya dan menyingkap selimut biru langitnya, ia menggeliat sebentar dan menggaruk belakang lehernya, ketika tak didengarnya lagi suara burung yang biasa mencicit di taman bunga mini di bawah jendelanya, ia malas-malasan melirik jam wekernya, kedua matanya melihat jam berbentuk bola itu menunjuk pukul 7 pagi.

Dengan malas pemuda tersebut turun menuju lantai bawah. Dimana saat Ia menjejakan kakinya pada tengah anak tangga sudah tercium aroma sedap masakan yang berasal dari arah dapur.

Dengan sebuah senyum riang, pemuda tersebut berdiri di depan meja makan yang sudah tersaji makanan sekiranya seperempat dari ukuran meja tersebut. Menyadari ada seseorang selain dirinya yang berada di sana, dia mendekati wanita yang masih sibuk berkutat memotong-motong sayuran.

"Selamat pagi, Ibu." Sapanya dengan wajah datar namun sarat akan kesenangan dalam ucapannya.

Wanita yang dipanggil 'Ibu' oleh pemuda tersebut menoleh. "Pagi, Suke." Balasnya sembari mengelus kepala anaknya yang sudah jauh lebih tinggi darinya. "Kau bangun pagi sekali."

"Hn." Pemuda itu mengangguk. Sasuke membuka pintu kulkan, mengambil sesuatu di sana yaitu sebotol susu putih lalu menegaknya hingga tandas.

"Ayahmu dan kakakmu sedang berada di dojo." Walau Sasuke tidak bertanya, seorang Ibu pastilah mengerti apa keinginan anaknya. Sasuke langsung mengangguk mengerti sebelum menghilang di balik pintu, Mikoto―nama Ibu Sasuke―berseru, "Setengah jam lagi kalian datang ke ruang makan, ya!"

.

.

.

Tak terasa sudah hampir menuju angka 8 lewat 10 menit ketika Sasuke bersama kakaknya selesai mencuci piring bekas mereka sarapan pagi. Dengan sedikit perkelahian kecil antar kakak-beradik itu, rambut Sasuke tampak masih tersisa buih sabun―kakaknya iseng melakukan hal tersebut karena adiknya itu senyum-senyum sendiri dengan wajah yang bersemu.

"Menyebalkan!" kesalnya sembari menendang kaki kakaknya yang masih saja asik menertawai adiknya. "Kubalas kau nanti!"

"Salah sendiri saat mencuci piring kau bengong dengan mulut melongo begitu." Itachi memegangi perutnya yang serasa sakit akibat tertawa terbahak-bahak.

"A-apa?!" wajah Sasuke langsung memerah dan berusaha menutupi wajahnya dengan lengannya.

Itachi bukannya berhenti tertawa dia malah melanjutkan tawanya lagi dan kini semakin besar. "Kau lucu sekali otouto!" Itachi menepuk-nepuk kepala adiknya. "Ciyee, yang sudah jadian sama Hinata."

Sasuke mengernyit heran. "Tahu dari mana kau tentang Hinata?"

Itachi menutup mulutnya. Ck, kelepasan berbicara ternyata dia. "Upsie. Itu bukan apa-apa." Baru saja Sasuke akan menanyakan kembali, Itachi sudah berlalu meninggalkan rumah dengan langkah tergesa-gesa.

"Kenapa dia bisa tahu?"

.

.

.

"Kau mau pergi Sasuke?" tanya Ibunya ketika dilihatnya Sasuke tengah berdandan rapi di hari minggu pagi itu.

Sasuke mengenakan jins hitam dipadu kemeja hitam kotak-kotak garis putih tebal yang tak dikancingi dengan dalam kaus berwarna putih dengan tulisan 'Handsome Enough'. Ck, narsis juga ya ternyata Sasuke ini. Alas kakinya cukup dengan sepatu kets kesayangannya yang berwarna putih bergrafiti garis putih dan kuning menyala.

"Hn." Jawabnya biasa.

"Cepatlah. Kau pasti akan mengantar Sakura-chan, bukan? Pesawatnya akan landas jam 9 ini." Mikoto tidak memerhatikan raut wajah anaknya yang kebingungan dengan maksud dari perkataannya.

"Maksud Ibu apa?" tiba-tiba saja dada Sasuke merasakan ngilu mendadak.

"Lho? Bukankah Sakura-chan akan pergi ke Suna jam 9 ini? Kau tidak tahu Sasuke?" Mikoto ikut mengernyit keheranan.

"Kenapa Ibu tidak bilang?"

"Kupikir Sakura-chan sudah memberitahumu." Mikoto baru saja akan mengambil telepon wirelesnya ketika dengan cepat Sasuke sudah pergi keluar rumah mengikuti jejak kakaknya yang tadi pagi terburu-buru juga.

Mikoto mendesah pelan. "Apa tidak bisa berpamitan dengan Ibu dulu?"

.

.

.

Dengan kesal Sasuke melajukan motor sport berwarna dark blue tersebut dengan keecepatan penuh. Sesaat sebelum Ia kemudikan motornya dia mencoba menghubungi Naruto. Sayang sekali panggilan darinya tidak disahuti bahkan sudah beberapa kali Sasuke menghubungi sahabatnya itu tetap saja tidak diangkat panggilannya.

Karena tidak mau membuang waktu Sasuke segera pergi menuju bandara langsung. Otaknya masih berjalan dengan cepat, kemungkinannya Sakura dan Naruto sudah berada di bandara. Dan dia butuh penjelasan Sakura kenapa dia akan berangkat ke Suna hari ini.

.

.

.

Itachi menyeruput ice vanilla latte pesanannya dengan santai sesekali melihat kelompok temannya yang berada di kanan-kirinya tengah asik dengan kegiatan masing-masing. Hari minggu ini Itachi sedang berkumpul dengan teman-teman yang sudah 4 tahun ini menjadi teman perkumpulannya, yang mereka sebut sebagai 'Akatsuki'.

Anak-anak yang berasal dari daerah yang berbeda-beda itu bertemu dalam suatu sebuah SMA di Konoha yang cukup terkenal. Bahkan setelah mereka kuliah di salah satu universitas yang lagi-lagi ternama di Konoha dengan jurusan yang berbeda-beda pula mereka tetap dapat berkumpul setiap minggu atau jika ada waktu luang yang bersamaan. Seperti pada minggu pagi ini. Mereka hanya rutin bertemu tanpa memiliki rencana akan melakukan aktifitas apapun.

Akatsuki ini beranggotakan sepuluh orang. Tak perlu berkenalanpun nanti satu persatu dari mereka pasti akan menyapa Itachi. Namun sepertinya kelompok yang berjumlah sepuluh orang termasuk dia mengapa jadi terasa ada yang kurang?

Oh, tentu saja si baby face tidak menampakan batang hidungnya. Si pemuda dengan panggilan baby face itu merupakan salah satu teman yang cukup akrab dengan Itachi selain Kisame―si manusia mirip ikan yang duduk di sebelah kiri Itachi yang tengah asik memainkan permainan Angry Bird.

"Kemana baby face itu?" tanya Itachi yang memecah keheningan.

Delapan pasang mata langsung menatapnya sebentar dan kemudian berfokus kembali pada keasikan mereka masing-masing.

"Sasori―baby face itu pulang ke Suna minggu ini. Katanya dia akan mendapatkan adik baru." Jawab salah satu―ah, tepatnya wanita satu-satunya yang hanya berada di kelompok tersebut. Wanita berambut ungu dengan jepitan bunga mawar disemat di pinggir rambutnya itu bernama Konan.

Itachi mengernyit heran. "Ah, memang sejak kapan mamanya Sasori hamil?"

"Mamanya tidak hamil. Orangtua Sasori akan mengadopsi seorang anak perempuan." Jelas Zetsu―pemuda dengan warna tubuh yang sedikit mencolok.

"Katanya, anak perempuan itu sepupunya Sasori yang kehilangan orangtuanya sejak kecil." Imbuh Pein―pemuda dengan banyak piercing di mana-mana pada tiap anggota tubuhnya. Sesekali mata Pain jelalatan melihat kelompok gadis-gadis yang melewati meja mereka sembari mencuri-curi pandang.

"Mengapa kalian tahu sedangkan aku tidak?" tunjuk Itachi pada dirinya sendiri. Dia mengaduk-aduk ice vanilla latte miliknya dengan sebal.

"Karena kau dan dia―si anak autis," si pemuda berambut pirang panjang bernama Deidara―yang dikuncir berkuda―menunjuk salah satu anak yang memakai topeng disampirkan di atas kepalanya―Obito. "saat Sasori menceritakan masalah ini, kalian sedang ada acara keluarga Uchiha itu bukan?"

Itachi mengingat-ingat kapan kejadian yang dituturkan Deidara. "Kau benar. Sekitar seminggu lalu aku memang tidak ikut berkumpul bersama Tobi."

"Nah, disitulah dia cerita kepada kami." Ucap si pemuda yang sesekali mebacakan tasbih 'Dewa Jashin-nya' yang bernama Hidan tersebut.

"Sepertinya dia sangat senang sekali medapatkan adik baru." Ucap Kakuzu sembari menyeringai senang. Tangannya masih saja menghitung-hitung segepok uang yang berada di tangannya.

"Aku jadi penasaran dengan adik baru Sasori!" girang Obito atau yang kerap kali disapa Tobi itu. Obito adalah sepupu dari Itachi.

"Aku juga jadi penasaran." Ucap Itachi tulus sembari melihat pesawat terbang yang saat itu membelah langit biru yang cerah tanpa setitik awan pun.

.

.

.

Pemuda raven itu tiba di bandara utama Konoha tepat ketika penerbangan dari Konoha menuju Suna baru berangkat. Dengan geram dia mengepalkan kedua tangannya. Ingin berteriak namun rasanya malu.

Ini tempat umum tahu, dan dia cukup waras. Lagipula mengapa Ia terlihat kesal dan kecewa begitu?

Tiba-tiba saja ponsel Sasuke berdering. Dilihatnya siapa yang meneleponnya. Hyuuga Hinata. Oh, bagus dia melupakan tujuan awalnya keluar rumah untuk berkencan dengan Hinata. Dengan perasaan was-was takut dimarahi, mau tidak mau Sasuke menjawab teleponnya.

Di sisi lain, seorang gadis bersama dengan dua orang pemuda tengah menatap pesawat yang baru saja lepas landas. Gadis berambut Barbie-like ini menitikan air mata haru, sedang pemuda lainnya menguap bosan dan satunya lagi berwajah datar.

"Ino kita pulang." Pemuda yang menguap itu menggenggam tangan kekasihnya. Ingin merasakan kesedihan gadisnya yang baru saja ditinggal pergi sahabatnya. "Jarak Suna dari Konoha dengan pesawat terbang hanya 15 menit. dengan mobil hanya memerlukan waktu 6 jam dan dengan kereta cukup 4 jam." Terang si pemuda Nara tersebut.

Ino yang masih sesegukan mengangguk mengiyakan sebagai reaksi mengerti.

"Lagipula dua minggu lagi kau akan ke Suna untuk bertanding senam aerobic bukan?" Naruto yang awalnya datar tanpa ekspresi kini menampilkan senyuman rubahnya kembali. "Aku juga akan ke Suna untuk bertanding sepak bola."

"Benarkah?" tanya Ino terperangah.

"Yap, ini kejutan untuk Sakura." Naruto mengacungkan jempolnya penuh keyakinan.

"Senangnya!" Ino dengan gemas akan kabar ini memeluk Shikamaru dengan spontan hingga membuat Shikamaru menggulirkan matanya bosan.

"Ayo pulang." Shikamaru melepaskan pelukan Ino yang kencang, cukup risih karena mereka diperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.

Baru beberapa mereka bertiga melangkah, satu langkah terhenti. Menatap sosok seseorang yang Ia yakini memang orang yang dikenalnya. Namun, beberapa pertanyaan bermunculan dalam benaknya. Mengapa pemuda yang posisinya saat ini sedang memunggungi dirinya sambil mengapitkan sebuah ponsel berada dalam tempat ini?

"Itu Sasuke?"

.

.

.

Titik-titik air hujan membasahi tanah Konoha untuk kesekian kalinya. Dan perlahan menyapu jejak-jejak kaki yang tersisa pada senja hari kota kecil nan berkembang tersebut. Semburat kebiruan tanpa celah mulai menghilang digantikan awan kelam yang menggantung di langit. Gelegar guntur menggelegar menyapa telinga. Ditambah pula kilauan kilat menyambar-nyambar seolah ingin menelan segalanya dari bumi.

Dan di teras ini, seorang gadis muda itu berdiri. Menatap setiap titik air yang jatuh menyapu jalanan dari awan-awan gelap yang menggantung di cakrawala itu. Baru satu jam berlalu sejak dia menunggu seseorang pada jam janjiannya, namun tidak ada lagi orang yang tampak batang hidungnya yang sedang ia cari atau tunggui. Bahkan gadis berambut indigo kelam yang selalu tampak anggun dan tenang kini mulai gelisah.

Gadis muda itu perlahan meluncurkan serentetan kata-kata khawatir, merutuki kebodohannya yang tidak segera kembali ke kediamannya untuk beristirahat atau datang kelewat cepat hanya mengingat ini adalah kencan pertamanya.

Namun hari itu dewi fortuna tidaklah berpihak pada sang gadis muda. Tak lama setelah ia mengucapkan kata-kata yang menimbulkan reaksi kekhawatiran yang berlebihan itu, hujan bertambah deras. Bulir-bulir air nampaknya bagai jarum raksasa berwarna bening yang menghujam bumi. "Sasuke-kun," Hyuuga Hinata bergumam cemas.

Kini gadis muda itu terduduk lesu, merasa kesal juga cemas. Dan mungkin INI adalah salah satu hari terburuknya selama ia pernah berada di dunia. Padahal dikiranya ini akan menjadi kencan pertamanya yang sangat romantis. Boleh kan berharap seperti itu? Namun nyatanya langit yang sangat cerah mendadak menjadi petir.

Tiba-tiba saja suara motor yang berdecit kencang berhenti tepat di depan halte yang Ia teduhi. Si pengendara motor dengan segera melepas helm miliknya dan bergegas menuju gadis muda tersebut. Segala pakaian yang pemuda itu kenakan telah basah kuyup.

"Maaf." Ucap pemuda yang diketahui bernama Uchiha Sasuke tersebut ketika ia sudah berada di samping gadis muda tersbut.

Cepat-cepat gadis itu mengaduk-aduk sisi tasnya. Mencari benda putih berbentuk segi empat dengan pinggiran yang berenda-renda. Setelah ditemukannya dia mengelap wajah Sasuke yang basah.

"Tidak apa-apa." Dengan senyuman dia memberikan rasa nyaman pada Sasuke.

Benar adanya, senyuman gadis di depannya yang tak lain adalah kekasihnya Hyuuga Hinata telah membuat perasaannya nyamman dan lega bukan main setelah sebelumnya Ia uring-uringan. Digenggamnya tangan putih Hinata yang masih melap wajahnya.

"Kurasa kencan kita akan tertunda." Seringai Sasuke keluar membuat Hinata bersemu.

.

.

.

Deru motor berlomba dengan hujan yang mulai mereda. Sasuke memacu motornya dengan kecepatan tinggi yang menyebabkan Hinata di belakangnya mengucapkan kata-kata yang―lebih tepatnya mirip rintihan―sebelumnya tak terpikirkan oleh Sasuke. Sang pengemudi pun hanya tersenyum tipis, dan itu karena kedua tangan sang penumpang—kekasihnya tengah memelukanya dari belakang. Dan jangan pernah salahkan kalau sifat iseng Uchiha bungsu tersebut kemudian muncul. Ia memacu motornya dengan kecepatan yang lebih tinggi, dan detik berikutnya pegangan pada pinggangnya mengerat pelan. Hinata tidak lagi merintih ketakutan, melainkan tengah memejamkan mata sambil mengeratkan pegangannya pada tubuh Sasuke. Dan detik itu, Hinata begitu menginginkan waktu untuk berhenti karena istana tempatnya dibesarkan telah di depan mata.

Pintu gerbang berderit membuka, Sasuke memasukkan motornya hingga tiba di depan pintu dalam bagian samping yang tidak dijaga.

"Sudah sampai, Hina." Sasuke menepuk lengan Hinata yang masih kencang memeluknya. Sontak Hinata kaget melepaskannya dengan segera dan turun dari motor sport Sasuke dengan gugup.

"Ja-jangan ngebut-ngebut la-lagi!" wajah Hinata yang memerah entah karena kesal atau malu sangat kucu saat dilihat oleh Sasuke. "Ba-bagaimana ka-kalau kecelakaan?!"

Dan Sasuke hanya menyeringai senang. "Maaf. Lain kali tidak akan seperti itu lagi."

Hinata gugup sekali. Baru kali ini dia diantar pulang ke rumahnya dengan seorang pemuda selain kakak sepupunya. Matanya menoleh ke sana kemari takut dipergoki oleh orang rumahnya karena dia diantar kekasihnya.

"Baiklah, oyasuminasai Hime."

Cup!

Dan sedetik kemudian ciuman singkat mendarat di bibir Hinata di bawah hujan.

"A-aaah?!" Hinata kaget bukan main sambil memalingkan mukanya yang kini berwarna semerah tomat.

"Kau manis, Hime…" kata Sasuke sambil menunjukkan seringaian khasnya—lagi, lalu menaikki motornya dan pergi.

"Di-dia memanggilku Hime…" Hinata bergumam terbata, namun ekspresi semunya berubah jadi senyuman. "Arigatou, Suke-kun…" serunya setelah motor Sasuke menjauh.

"Ternyata, hujan tidak buruk ya?" lanjutnya sambil menutup rapat pintu yang kini berada dibelakangnya sambil terus tersenyum-senyum.

.

.

.

Naruto menatap rintikan hujan yang mulai mereda dengan tatapan kosong. Pikirannya teralih sesaat sebelum Sakura pergi meninggalkan Konoha.

Jam 8 pagi saat itu café di bandara masih cukup sepi pengunjung, Naruto dan Sakura baru saja menyantap hidangan di depannya dengan lahap. Dengan wajah yang blepotan akibat saus dari omelet Naruto menimbulkan kesan lucu di wajah imutnya dan Sakura terkikik pelan.

"Ada yang salah?" Naruto tampak heran dengan tingkah Sakura yang tertawa cekikikan bak mak lampir.

"Tidak," Sakura menggeleng kemudian mengambil selembar tisu dan membersihkan bagian sudut bibirku. "Ada banyak kotoran. Hihi…."

"Thanks." Naruto mengelus puncak kepala Sakura sayang.

"Hari terakhir ini aku senang menghabiskan bersamamu. Mungkin jika bersama dengan Sasuke hanya akan terasa sakit saja." Sekejap ekspresi Sakura mendadak menjadi muram. Garpunya masih didiamkan di mulutnya.

"Sakura." Sakura menengok pada Naruto. "Bisakah kuralat ucapanku tempo hari?"

Sakura mengernyit berusaha mengingat. "Yang mana?"

"Perjuangan."

Sakura membulatkan mulutnya. "Memang apa yang mau kau ralat?"

"Perjuanganku belum habis." Naruto tersenyum percaya diri sekali membuat Sakura mau tau mau ketularan akan senyuman itu. "Kau tahu cinta itu ibarat bunga."

"Bunga? Bunga apa?"

"Entahlah. Kau inginnya bunga apa?" Naruto terkikik geli.

Sakura menepuk kepala Naruto sebal. "Aku serius baka!"

"Aduh! Iya, iya, monster." Naruto mengelus-elus kepalanya, sekilas saat ia mengucapkan kata 'monster' Sakura mendelik padanya. "Kau bisa mengibaratkannya dalam bunga apapun Sakura."

"Jadi?"

"Jika benih cinta telah datang di hatimu, maka pilihan itu ada di tanganmu. Apakah kau akan membuangnya, atau menyemainya. Bunga itu bisa saja mati kalau kau biarkan begitu saja. Tapi bisa jadi begitu kuat dan mengakar dalam kalau kau memberinya pupuk dan disirami dengan baik―dengan kata lain adalah ruang. Lalu ia akan berbunga dan merekah sedikit demi sedikit hingga penuh jikalau kau menyemainya―menjaganya dengan baik."

Naruto mengaduk-aduk ice lemon tea miliknya yang kini telah mencair es batunya.

"Tapi, pada kasusku dan kasusmu ini. Bunga itu akhirnya dicabut dengan paksa." Naruto menyeruput minumannya sebentar. "Kau pernah mencabut bunga dengan paksa Sakura?"

"Ya." Angguk Sakura yang mendadak serius.

"Kalau bunga dicabut sedang si bunga telah mengakar dengan kuat apa yang tersisa di tanah itu? Akar bukan? Seperti itulah cinta. Sekalipun Ia telah tercabut tetapi masih ada akar pastilah suatu saat bunga itu akan tumbuh kembali."

Sakura menyeringai, mengerti akan maksud perkataan Naruto. "Jadi? Kau tidak akan menyerah, heh?"

Naruto mengangguk. "Tentu! Menyerah bukan nama tengahku!"

Sakura tertawa nyaring. "Baguslah!" kemudian dia melanjutkan sarapannya yang tertunda. "Semangat untukmu Naruto!"

"Terima kasih, terima kasih!" Naruto bersorak sorai. "Lalu bagaimana denganmu?"

"Tetap akan melepaskannya."

"Kenapa?"

"Kau tahu Naruto. Melepaskan seseorang bukan berarti menyerah, melainkan tahu bahwa yang kamu perjuangkan itu tidak layak diperjuangkan."

Sebuah kalimat sederhana yang mudah sekali diucapkan tanpa perlu berpikir lama, namun sarat akan makna. Kenapa hanya kalimat sederhana seperti itu saja mulutmnya tak mampu menyuarakannya?

Dalam hati Sakura selalu takut. Dia takut jika dia mengatakannya, dia tak mampu mengekspresikannya dengan tepat. Dia tak ingin jika kalimat itu hanya keluar begitu saja kemudian kehilangan makna yang terkandung di dalamnya. Terlebih lagi suaranya membuat segala yang diucapkan tak pernah terdengar jelas. Jika dipaksa, rasanya nada bicaranya jadi terkesan tak peduli. Tentu saja dia tidak ingin membuat kata melepas yang diucapkan menjadi salah makna sedemikian rupa.

Naruto hanya mengelus kembali puncak kepala merah muda Sakura. Terkadang tidak selalu perkataan untuk menjawab sebuah kata.


Tsudzuku


Arena Bacotan Ceria

Kau tahu membuat chapter ini sangat membingungkan! Dan aku ga tau harus berhentiin dimana! Akhirnya jadilah menggantung seperti ini. Maaf yaaaaaaaaaaa!

Aku lagi-lagi pusing dikarenakan mengikuti ujian perbaikan di semester satu lalu sedang ujianku sebentar lagi sungguh membingungkan dan pusing. Beginilah ga enaknya jadi mahasiswi kedokteran di universitas yang pelit akan nilai. Nyebeeeliiiiiiiiiiin! Ah, jadi curcol kan :(

Aku bener-bener butuh konkrit dan kelancaran chapter 5 yang kemungkinan akan aku update hari kamis dikarenakan untuk 3 minggu ke depan aku ga bisa buat fanfic dulu :(

Terima kasih buat Sakura dancer karena fanfic-nya itulah aku menemukan kata cinta! Dan aku mengutipnyaaaa. Aaaa maluuuuuu! Makasih ya udah boleh ngambil :)

Sekarang waktunya menjawab pertanyaan yang sempat singgah di reviewku!

Bikin Sasuke merana dong; yeah, itu keinginanku tapi sepertinya akan lama nunggu chapter 6 baru akan dimulai kemeranaannya. Hohoho

Endingnya SasuSaku aja ya; itu tentu sajaaaaaaaa! Aku kan sukanya pair SasuSaku, NaruHina, dan ShikaIno jadi pair yang muncul di ceritaku haruslah mereka!

SasuHina jadian? Sebeeeel; iyaaa aku juga sebeeeeeeeel tapi mau bagaimana lagi? Cuma pair ini yang selalu bikin semangat buat fanfic ini. Mereka cocok untuk dijadikan pasangan yang tidak jadi. Hehe

NaruSaku kok baik banget ya?; mereka memang sengaja aku buat sifatnya seperti itu seperti ciptaannya Kishimoto-sensei jadinya bisa jadi sahabat yang romantis yaaaa.

Sebelumnya aku ga ngerti sama cerita Naruto yang dulunya suka sama Sakura kenapa sekarang bisa sama Hinata;okelah nanti akan kubuat cerita tentang alasan mengapa Naruto berpaling hatinya dari Sakura ke Hinata.

Pertemuan SasuHina seperti apa sih?;yah, nanti akan aku buat side story-nya. Entah akan muncul di chapter berapa. Dan itu kemungkinan akan panjang dan aku bukan orang yang bisa bikin fanfik melebihi 10 halaman atau 2000 words :)

Tokoh Hinata di sini kesannya bagaimana begituuuu; memang penggambaran karakter Hinata di sini OoC banget, aku pingin Hinata jadi gadis manja, manis, tapi sabaran, dan dia bahagia tapi ternyata kebahagiannya salah diartikan kepada seseorang.

Apa sih keistimewaan Hinata sampai-sampai 2 cowok suka sama dia?; sama seperti jawaban di atas. Nanti keistimewaan Hinata mungkin aka nada di chapter side story.

Okey thanks to:

Yakuza, prada S, usagi-rabbit, arisu sashura, fiyui-chan, DEVIL'D, twisted Lemonade, tazmania angel, Fire Knight17, cherry's emerald, Doyansasusaku, Kamikaze Ayy, Kikyo Fujikazu, Kristal, naomi-azurania , iraira, Riidinaffa , Sindi 'Kucing Pink , Titish, me, Valkyria Sapphire,, Aku anak baik, Ren Ichinomiya, RedBunny Hime, Ratu Hitam, ninabobbo, darkflash, Mrs. Aap

Aku tunggu kritik dan saran kalian! Kalau bisa pakai akun ya jadi aku bisa bahas lewat PM. Oh, iya kemungkinan review yang non login nanti ga akan bisa mereview di fanfic-ku. Maaf :(