Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Uchiha Sasuke x Uzumaki Naruto
Status : On going
Length : Multichap
Author : Mr Haru feat Muthiamomogi
Warning(s) : BoysLove, AlternativeUniverse, A lilttle bit Out Of Character. Don't like? Don't read! So sorry for your waiting~
Happy reading!
"TIDAK! Jangan paksa aku untuk memakai benda berenda-renda itu!"
"Kau harus memakainya, Naruto-kun. Oh—ayolah, ini akan mudah kalau kau tidak berontak begini."
"Bagaimana aku tak berontak—ARGH! Lepaskan topi kecil ini! Rambut palsu ini juga! Aku laki-laki—HEI! Jangan membuka celanaku sembarangan! Sudah kubilang aku tak mau pakaian begini 'kan—AAAA! Kaasan, tolong aku! Ada yang mau buka-buka bajuku!"
"Hh—Naruto-kun…"
.
.
Sasuke berjalan menyusuri lorong sekolahnya, mencari keberadaan seorang remaja blonde yang hari ini tidak masuk kelas sejak jam istirahat kedua. Si pirang yang satu itu biasanya tidak begini.
Sejujurnya, Sasuke agak bingung dengan sikap Naruto akhir-akhir ini—terlebih sejak foto itu menyebar. Ia merasa jauh dari orang yang mengaku rival-nya itu. Sekarang ia menjadi jarang bertatap wajah dengan si blonde—oke, mungkin awalnya ia yang salah karena menolak bertatap wajah terlebih dahulu. Tetapi semakin ke sini dan gosip itu semakin mereda, ia justru menjadi semakin jauh dari Naruto.
Sasuke ingin memulai pertemanan mereka sekali lagi—salahkah seorang Uchiha Sasuke berpikir begitu? Terlalu—apa itu istilahnya… Out of character?
Mereka masih tetap berteman 'kan?
Ya, silahkan katakan ia ini bodoh karena terus saja berusaha mengembalikan hubungan pertemanan yang sempat retak karena hanya sebuah foto—
—dan gengsinya.
Setelah kemarinnya Naruto menolak untuk pulang bersamanya—walau ia telah memakai alibi kalau hal itu diperintah oleh ibunya— Sasuke memutuskan untuk kembali mengajak Naruto pulang bersama.
Ia terus berjalan hingga kilau mata kelamnya menangkap siluet yang ia yakini sebagai Naruto. Mungkin di bawah pohon taman sekolah. Tak membuang waktu, ia segera menghampiri pemuda blonde kawannya itu.
"Dobe." Ia memanggil Naruto yang tampak asyik dengan kegiatannya memandangi awan yang berarak tak tentu arah.
Terlihat kalau Naruto sedikit tersentak mendengar ada yang memanggilnya, ia menoleh ke sumber suara. "Apa-apa ada-ada, Teme?" –jelas sekali Naruto sedang meracau.
"Pulang bersamaku." Tanpa ada basa-basi Sasuke langsung berkata, ia menyandarkan bahunya ke pohon rindang terdekat. Cuaca sedang sangat menghangat—panas, maksudnya.
Naruto terkekeh pelan mendengarnya, "Tidak takut jika ada yang mengolokmu lagi, heh, Tuan Uchiha?" Ia duduk bersandar pada pohon Sakura rindang di belakangnya. Tadinya ia sedang mengingat kembali nasib mirisnya saat di café yang merupakan tempat ia bekerja kemarin. Bagaimana bajunya dibuka dan diganti dengan baju berenda banyak dan di atas paha itu.
Sasuke menarik napas dalam, "Tidak. Ayo pulang, Dobe."
Naruto bangkit dari duduknya dan membersihkan seragamnya, "Maaf, Teme. Aku ada urusan. Lain kali saja, ya." Ia memberikan cengiran ketika menjawabnya. Alasan sebenarnya adalah –kalian pasti tahu ini— karena ia harus kerja part time hari ini, makanya ia menolak ajakan Sasuke.
No. Ia tidak mau Sasuke tahu kalau mulai kemarin ia menjadi waiter—apalagi maid. Err.
Sasuke hanya menggeleng kaku. "Tidak. Kau sudah menolak ajakanku kemarin. Beraninya kau, Dobe." Aura hitam menguar dari tubuhnya.
Ia tak sadar, kalau niatnya yang ingin pulang dengan Naruto menjadi begitu kentara.
"Memang kau mau ke mana, hah?" Sasuke menatap Naruto tajam.
Naruto akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah, lalu ia agak sedikit mendongak menatap Sasuke yang lebih tinggi darinya. "Janji kau tak akan bawel, Teme?"
Sasuke mengangguk mendengarnya.
"Aku kerja part-time mulai kemarin. Sepertinya akan terus begitu untuk beberapa hari ke depan. Aku bekerja di café UNO. Sudah puas, Sasuke?" Naruto menyeret tasnya dan hendak pergi dari sana.
Sasuke mengernyit samar ketika mendengarnya, "Part time? Benarkah? Apa tidak akan jadi berantakan? Lagi pula, café UNO? Bukannya itu cukup terkenal? Kau itu cocoknya bekerja di kedai ramen, Idiot." Sasuke terus saja berkata—yang bagi Naruto tak jelas— tertawa meremehkan. Semua orang juga tahu bagaimana kinerja seorang Namikaze-Uzumaki Naruto 'kan?
Naruto menggeram rendah mendengarnya. Si Uchiha ini sudah niat mencari masalah saja dengannya. "Ya, sudah. Coba saja kau cari aku di kedai ramen!" lalu setelahnya ia berlari menjauhi Sasuke.
.
.
Kesal, kesal, kesal! Batin Naruto serasa berteriak. Ia berdiri di dekat pantry sambil menggerundel kesal. Apa bagusnya café ini? Lebih bagus kedai ramen Ichiraku! Grr—dasar baka, baka, baka! Hatinya terus saja menggerutu begini sejak beberapa lama ia kembali memakai baju hitam putih berenda ditambah love apron dengan dekorasi pita putih di mana-mana yang membuat gatal ini. Belum lagi dengan stocking hitam—tapi malah terkesan transparant— yang dipakainya hingga paha atas, lalu juga dengan sepatu boots kulit hitam ini. Belum lagi dengan topi hitam kecil dengan pita mungil yang dipasang miring di kepalanya. Grah. Pakaian dari belahan Jepang mana ini?
Ini mengingatkannya pada style para remaja wanita yang sedang mem-booming di sekitarnya. Apa itu namanya… gosurori? Ah, bahasa Inggrisnya ialah gothic lolita. Iya, ia pernah diberitahu oleh sepupunya.
Tapi apa pedulinya dengan style para wanita? Come on.
Naruto menghentakkan kakinya keras ke lantai marmer tempatnya berpijak, tak sadar kalo rok tutu-nya tersibak sedikit. Hal lain yang tak disadari si pemilik safir biru itu adalah kalau perbuatannya itu membuat beberapa costumer sedikit terkikik melihat kelakuan sang waiter. Dari ujung matanya Naruto dapat merasakan pandangan sang supervisor yang sepertinya puas. Entah salju dari mana, rasanya Naruto seperti di-bully.
Oh God, batin bagian maskulin Naruto meratapi nasib. Memakai baju renda-renda a la French Maid, rambut pirang keemasan tergerai panjang—entah milik siapa rambut yang sedang dipakainya kini— yang terpasang –Naruto benci mengakui ini— cocok di kepalanya. Mudah-mudahan saja tidak ada teman sekelasnya—atau pun sekolahnya— yang melihat dirinya dlam keadaan memalukan sekarang ini. Kalau ada, satu saja selain Haku, akan dipastikan Haku dan supervisor centil juga pecicilan itu akan membayar mahal.
"Naruto—psst!" suara Kakashi yang sengaja dipelan-pelankan hanya membuat alis Naruto berkedut panas .
"Apa…" Naruto mendesis pelan dengan stok kesabarannya yang makin menipis. Ia melirik sedikit pada atasannya dan—
Wink~
—sebelah mata Kakashi yang tidak dihalangi masker hitam itu mengedip kerling pada Naruto yang berjengit melihatnya.
"Senyum, Naru-chan," ucap Kakashi yang bisikannya bisa terdengar sampai seluruh café—demi ramen yang mangkuknya sebesar gunung Fuji, bisikan macam apa yang suaranya bisa membuat temannya di kasir depan sampai menoleh dan terkikik ke arahnya?
Ingat, Uzumaki Naruto, ramen. R-A-M-E-N. Surga ramen akan menunggumu setelah ini! Bersusah-susah dahulu, baru bersenang-senang kemudian! Ayo, coba ingat lagi kata-kata Haku ketika merayumu kemarin, tampan. Kata Haku, gaji di sini cukup membuat perut ini terisi penuh ramen selama beberapa minggu! Bukankah itu mengagumkan? Naruto coba menghibur dirinya sendiri dengan omongan-omongan yang membangun.
Haha. Itu memang mengagumkan—terlebih dengan pengorbanan yang sungguh menguras rasa malu ini, batinnya kembali miris ketika pemikiran ini terlintas. Andai rasa malu itu dibayar, ia sudah mandi ramen sekarang ini.
Beberapa pelayan yang melihat tingkah supervisor mereka hanya terkekeh geli, beberapa costumer tersenyum geli sambil berdecak, "Oww, so sweet." Lalu mereka terkekeh-kekeh dengan senang seperti gyaru kebanyakan.
Pada saat itu Naruto merasa seperti menaiki paus akrobatis, menuju rasi bintang paling manis, lalu dijatuhkan ke dasar sungai Venice. Miris.
.
.
"Oi! Oi, Shikamaruuh!"
Tidurnya terganggu, Shikamaru mendengus setelah indra pendengarannya diserang oleh suara pekik. Namun bukanlah Nara Shikamaru namanya jika makhluk ini mengindahkannya. Si pemuda rusa itu malah membalikkan arah badannya dan kembali tidur, membenarkan posisinya dengan nyaman, ia hendak kembali dipeluk sang dewi mimpi—setidaknya sampai Shikamaru mendesah keras karena merasakan guncangan di pundaknya.
"Oi! Shikamaruuh! Waa~ ayolah, bangun! Ini aku, temanmu yang paling tampan, lho! Namikaze-Uzumaki Naruutoo, anak Namikaze Minato ituu!" Untunglah mereka sedang ada di atap sekolah yang terbuka, membuat suara Naruto yang terlalu melengking itu tak ada yang mendengar di atas sini—kecuali awan yang berarak dan burung yang berterbangan.
Diam. Tak ada respon. Daun Sakura pun berjatuhan.
"Grr! Shikaa!" Naruto menjepit hidung Shikamaru dengan dua jarinya. Selang tak lama pemilik rambut nanas itu membuka tirai kelopak matanya dan menatap kilau safir Naruto dengan tajam. Hari macam begini masih ada manusia yang bisa sabar jika sudah dijepit hidungnya dan diteriaki begitu? Mungkin ada. Tapi Nara Shikamaru bukanlah orangnya.
"Hehe," cengir Naruto sambil mengaruk-garuk pelipisnya dengan mimik tidak bersalah.
"Mendokusai –haah," ucap Shikamaru yang akhirnya terbangun juga. Padahal cuacanya nyaman dan mendukung sekali untuk tidur. Tapi apa daya jika sudah ada makhluk pirang berisik ini.
"Hehehe, nee, nee, nee, Shikaa, aku dengar kita berpasangan untuk tugas dari Iruka-sensei ya? Hehe," Naruto berujar polos dan lugu dengan cengiran bodohnya. Ia duduk di depan Shikamaru yang sedang berbaring miring menghadapnya.
"Mendokusai. Bukankah kau sendiri yang menukarkan namaku dengan Uchiha, hm? Dan hari ini kau bertingkah seperti anak kecil yang minta permen saja—haaah. Matamu berbinar-binar begitu. Merepotkan," ucap Shikamaru malas sambil menggaruk lehernya.
"Hee? Tidak! Tidak mungkinlaah! Aku tidak akan berbuat seperti itu." Naruto berujar kaku. "Mana mungkin aku ke ruang Iruka-sensei hanya untuk mengganti namamu dengan nama Sasuke. Haha. Haha. Hahaha," Naruto tertawa berlebihan .
Shikamaru hanya menatap Naruto sebentar dengan datar dan sedikit curiga. Lalu setelahnya malah menghela napas. "Terserah kau sajalah," ucapnya enteng dan kembali menguap.
"Are…" gumam Naruto. "Kau tidak akan… bertanya? " ucapnya bodoh sambil menatap si darah Nara.
"Hh—" Shikamaru mendengus. Sungguh, ia benar-benar bingung dengan manusia yang menjadi lawan bicaranya kini. Naruto itu ½ bodoh dan ½ polos? Entahlah. Merepotkan sekali jika berpikir sampai begitu. "Jadi kau ingin aku bertanya?" Shikamaru membalikkan pertanyaan lagi, sambil berbaring kembali dengan kedua tangannya yang dilipat, ia menatap langit di depannya yang terlukis dengan berbagai bentukan awan putih.
"Eh? Etto…kau ingin bertanya apa? " ucap Naruto yang entah sungguh-sungguh bodoh atau memang otaknya perlu di-reset ulang, atau mungkin di-upgrade?
"Memangnya kau ingin aku bertanya apa?" tanya Shikamaru, menghiraukan pertanyaan bodoh dari Naruto. Ia kembali menoleh ke si Namikaze muda, menatapnya dari atas hingga ke ujung sepatu kets hitam dengan aksen biru tua di pinggiran. Ketika memperhatikan kontur wajah milik Naruto, ia baru sadar kalau ternyata bulu mata Naruto terlihat lebih panjang dari kelas 6 sewaktu sekolah dasar dulu—yaiyalah.
Iya juga, Shikamaru hampir lupa kalau saat baru masuk sekolah dasar ia pernah menanggap Naruto adalah perempuan… Naruto yang dulu manis sekali, sih, ya. Mata sapphire-nya berbinar penuh rasa ingin tahu, bibir merah mungilnya, rambut blonde yang dulu belum terlalu berantakan seperti sekarang ini.
Nostalgia. Shikamaru terpana pada Naruto yang saat itu.
—Stop. Apa yang ada di pikirannya sekarang ini, ha?
"Etto…" Naruto meletakkan ujung jari telunjuknya di bibirnya dan mengigitnya kecil tanpa sadar. Hal itu lantas membuat Shikamaru yang perhatiannya sedang terfokus pada wajah si blonde secara mau tidak mau melirik bibir pouty milik Naruto.
Merah jambu. Dan nampaknya agak kenyal. Waw.
"Kau tidak bertanya tentang aku dan Sasuke?" tanya si pirang sambil melirik mata Shikamaru, tetapi sepertinya Shikamaru malah menatap yang lain. Naruto memasang wajah bingungnya, dahinya berkerut dengan bibir yang agak dimajukan. Ketika belahan bibirnya hendak terbuka untuk bertanya, ada sebuah suara rancu yang menginterupsi.
Buzzzgraaaaohgraohhgaaa.
Bunyi macam apa itu…? Batin Shikamaru agak speechless.
Dan ternyata telepon genggam Naruto yang berbunyi keras itulah yang menganggu telinganya, suara Hard-Rock yang keluar dari telepon genggam si safir biru. Ringtone yang khusus jika Sasuke yang menelpon. Shikamaru sweatdrop, ada sebulir air keringat imajiner di samping kepalanya.
"Temee! Maaf, ya, Shikamaru. Ini pasti telepon dari Te—eh, Sasuke, maksudnya—grr. Nanti aku hubungi kau lagi, ya, Shikamaru! Jaa~" ucap Naruto yang sudah gatal ingin menekan tombol merah di ponsel berbasis windows phone miliknya itu, ia berlari menuju pintu dan meninggalkan atap—meninggalkan Shikamaru dengan wajah aneh dan tak terdefinisi melihat tingkah kawan pirangnya itu.
"Hn." Shikamaru tersenyum sedikit nan tipis saat melihat Naruto terpeleset sedikit sebelum sampai pintu tadi, lalu menuruni tangga sampai tidak terlihat lagi di pupil mungilnya.
"Namikaze-Uzumaki Naruto, huh?" Pemuda nanas itu bergumam pelan sebelum melanjutkan tidurnya yang lebih nyaman dan tenang.
.
.
Di belahan sekolah yang lain, di waktu bersamaan.
Sasuke berusaha keras agar tidak mendengus kesal. Ini aneh, mengapa orang yang begitu mencolok dan sering minta dicolok di sekolah ini sukar sekali untuk ditemukan?
Andai harga diri Uchiha-nya sudah tak berlaku, rasanya ingin sekali meminjam speaker yang ada di ruang siaran radio sekolah untuk mengumumkan berita pencarian. Semisal;
"Perhatian, maaf bagi siswa-siswi dan guru yang sedang mengajar. Telah hilang sebungkus makhluk bernama Namikaze-Uzumaki Naruto, laki-laki, masih segel. Ciri-ciri: Tidak bisa diam, berisik, rambut blonde, suka menyengir, tampang bodoh yang kentara, kulit kecokelatan. Bagi yang menemukan, silahkan hubungi Uchiha Sasuke yang ingin mengajaknya pulang."
….Pemikiran yang konyol. Tidak akan pernah ia melakukan hal itu.
Sasuke saling mengusapkan kedua tangannya yang sedikit berkeringat. Entah kenapa saat mendekati kelas, tangannya tambah berkeringat. Bak sebuah pertanda buruk akan musibah yang sebentar lagi hendak menimpanya.
Saat tangan kirinya menggeser pintu, sesuatu berwarna merah jambu langsung menyerang mata Sasuke dengan tajam. Sasuke sendiri pusing melihat warna itu.
"Sasuke-kun! Ih, makin tampan saja!" Setelah mendengar suara itu Sasuke malas mengingat apa yang terjadi karena badannya seperti dihantam sesuatu yang berat dan sekarang dirinya berbaring bagai habis dibanting di lantai kelasnya.
Sadar akan apa yang sudah dilakukannya pada Prince of Ice, Sakura segera bangkit dari atas Sasuke dan tersenyum semanis-manisnya senyum yang pernah ia tampilkan. "Omegosh, Sasuke-kun. Gomen, gomen~ aku terlalu senang—kyaaa!" Ia memegangi pipinya yang bersemu merah.
Sasuke memegangi belakang punggungnya yang terasa nyeri dan sakit, "adaw." Ia meringis pelan. Kemudian dengan mendengar suara-suara bisikan di sekitarnya saja ia sudah tahu apa yang baru saja terjadi—dan juga bagaimana ia harus menyikapinya.
"Hn. Minggir, Haruno."
"Kyaa—!" Sakura Haruno tak mengindahkan death glare yang diberikan oleh si pemuda berdarah Uchiha—halah, ia sudah biasa dan bagai tahan banting dengan itu. "Sasuke-kun~ kita akan berpasangan untuk tugas dari Iruka-sensei, lho!"
…. Sasuke yang sudah mencoba bangun kembali terjatuh mendengar kabar mengerikan itu—kali ini bokongnya yang mencumbu lantai.
"Lalu, aku harus bilang, 'waw', begitu?" ujarnya dingin. Padahal—
What the heck?
—batinnya bersuara desperate.
.
.
Limit. Kesabaran Sasuke serasa sudah di ujung.
"Dobe!" Sasuke membentak Naruto. Akhirnya bocah pirang ini ketemu juga, tapi kali ini Sasuke benar-benar marah. Ia berjalan ke Naruto yang ada di bangku belakang, nampaknya sedang memainkan game di ponselnya.
"Diam kau, Teme! Jangan panggil aku Dobe! Grr." Naruto mendelik tajam pada Sasuke yang entah dari mana langsung membentaknya begitu. Sangat tidak Uchiha.
"Kau—!" Sasuke menggeram pelan sambil menatap si manik safir dengan tajam, ditambah dengan aura dingin nan hitam menguar indah dari tubuhnya. "Kau… Apa yang kau lakukan, idiot? Apa maksudmu bertukar partner dengan Sakura? Dan mengapa pula… kau lebih memilih si pemalas jenius itu daripada aku?" Sasuke menunjuk Shikamaru yang sedang menguap lebar—ingin sekali rasanya merobek mulut itu supaya lebih lebar. Ada perasaan yang tak mengenakkan dalam dirinya—ini sudah pernah terjadi ketika ia melihat Naruto dan Haku di UKS— yang kembali dirasakannya.
Dan ia benci perasaan ini. Perasaan yang membuatnya terkesan lemah.
Sasuke berjalan maju dan pelan mendekati Naruto—tak merubah pandangan dan aura hitamnya.
"Grr—bukankah itu lebih baik? Lagi pula, bukankah kau sendiri yang bilang kalau kerjaku berantakan—ingat pernah berapa kali kau mengatakan itu, hah, jelek? Karena itu, supaya nilaimu juga tidak ikut berantakan, aku bertukar dengan Sakura. Bukankan itu bagus untuk mu, Tuan Uchiha? Si perfeksionis di depanku ini nilainya akan menjadi makin sempurna 'kan?"
"Dobe…" Sasuke mendesah pelan dalam hati, ternyata Naruto masih kesal soal yang kemarin-kemarin-kemarin.
"Lagi pula bukankah kau juga malu—"
"Dobe!" Sasuke menutup mulut Naruto dengan telapak tangan porselennya, dan menatap Naruto marah. "Aku tidak—" Secara tiba-tiba mulutnya terasa kaku, ekspresinya berubah, menjadi seperti orang bingung tak tentu arah, layaknya seseorang yang pikirannya seang melayang-layang.
Tidak…apa? Tidak malu? Memangnya malu kenapa? Sasuke jadi bingung ingin berkata apa. Pemikiran macam apa yang sekarang sedang ada di otaknya kini. Tak sadar kalau tekanan telapak tangannya di mulut Naruto merenggang.
Naruto yang melihat wajah tablo Sasuke menjadi geram.
Benarkan? Sasuke itu sudah malu berteman dengannya—dan itu hanya karena foto biadab itu.
Dengan kesal dan emosi Naruto menarik tangan si brengsek itu dari mulutnya dan menyentakkannya.
"Sudahlah. Berisik kau, Teme! Ha. Lihat saja tadi, kau tidak tahu harus berkata apa 'kan?" Naruto berdiri dan meninju bahu Sasuke dengan kuat—ini lebih baik daripada ia meninju perut atau ulu hati Sasuke 'kan?
Bukan begitu, bodoh, batin si manik onyx, Sasuke mendengus frustasi. "Dobe, bukan begit—"
"Berisik!" potong Naruto dengan cepat dan kesal. "Sudahlah, Teme, kalau kau memang sudah malas berteman denganku, kita bukan rival lagi. Kalau begitu kita juga bukan te—" Lagi-lagi tangan pucat itu menutup mulut Naruto rapat-rapat. Naruto sempat meronta hebat sebentar sebelum akhinya sadar akan aura gelap Sasuke yang tiba-tiba terasa semakin menusuk. Saat melihat ke atas wajah Sasuke yang entah mengapa menjadi gelap dan tidak terlihat.
Kilau kelereng safir Naruto agak sedikit gentar, ia mencoba untuk menarik tangan Sasuke, tapi tangan putih bak porselen itu malah membekap mulutnya lebih kuat, ia jadi agak sulit bernapas.
"Jangan pernah berkata itu lagi."
Narto membatu mendengar kalimat singkat itu melantun dari bibir tipis Sasuke.
Uwaa… Teme beneran marah, padahal aku kan hanya memanasi saja—tapi kok malah panas sungguhan? Oh, Kami-sama, batin Naruto sambil ia menutup matanya ketika melihat mata Sasuke berkilat merah—hanya itu yang terlihat dari sisi pandangnya.
Cklik-cklik~
Suara itu lantas membuat dua pemeran drama suami-istri ini tertegun dan menengok ke arah sumber.
Terlihat Sai, dengan senyum luar biasa menyebalkan sedang memegang canon DSLR miliknya sambil memandang ke arah hasil bidikannya tadi. "Well, well, well… bukankah foto dengan resolusi tertinggi ini adalah foto yang bagus?" Senyum—lagi dan terus.
Naruto diam sambil berwajah bingung. Sedang Sasuke—
…Kami-sama, jangan biarkan hal kemarin terulang lagi.
—batinnya sibuk berdoa.
To be Continue
YO, MINNA-CHWAN SEMUAAAA!
Kami, author 1 dan author 2 minta maaf yang sebesar gunung Fuji ya.. kesannya kami malah menelantarkan fict ini. Sebenernya enggak koooook! Ini udah ditulis sejak lama. Tapi sayanyah(Muth) WEBEH! Udah lama gak nulis SN. Jadi agak kaku gitu loh. Eri-nee juga sering gak ada kabar. *mati dibantai Eri-neechwan*
Ini… sebenernya akunya mau panjangin lagi. Tapi gegara memang adegannya dipotong sampai situ, saya udah gak tau mau gimana lagi nambahinnya lagi. (Pst. Kayanya Eri-nee mau buat Minna-chwan penasaran dengan adegan terakhir itu.)
*baca lagi fict ini* Baru sadar kalau fict ini alurnya jalan pelan banget. :|
Langsung ke balasan review aja ya, yang log in mungkin bisa cek PM-nya. :)
nanao yumi, nasib Naru gimana yaaaa? Udah keliatan belum gimana merananya Naru pakai baju berenda itu? XD LOL. Masa? Ah, Kakashi kan punya Sharingan yang bisa tau penampilan apa yang cocok buat Naru. #eh? Sasuke tau gak ya kalau Naru jadi maid? Aduh belum terbongkar di chapter ini ternyata ya. u.u Ini sudah ada lanjutannya. Maaf sudah membuat menunggu terlalu lama. Terima kasih review-nya. X3
fujiwara eimi, eh? Pakai astajim segala. Kaget banget ya? U.u Kalau Naru gimana yaaa? Sudah terlihat belum di chapter ini, nyaan? E—eh? Mimisan? *bawa fujiwara eimi ke UKS sekolah Naruto* Nyo? Tertawa terpingkal-pingkal? Kenapa? OuO Gak apa, gak apa. Isi PM dari saya palingan gak penting. X| Di sini Cuma ada hint ShikaNaru aja ya.. mungkin bakal lebih detail di chapter berikutnya(yang gak tahu kapan update cerita ini). (_-_) E-eeh kamu gak bua salah kok! Kenapa harus minta maaf? DX Tapi terima kasih untuk review-nya. Maaf sudah membuat menunggu. :3
aku cinta kamu sayong 3, gomenasaaaai, Desyyy! Ane beneran sempet kehilangan feel! Author yang satunya juga kayanya begicuh. Maacih atas koreksi missing typo-nya ya, cintakuh. :* *lari ke FB*
sasunaru4ever, panjangin? A—apa yang dipanjangin? OAO Ah, words-nya ya.. maaf ya, kemarin itu nulisnya terseok-seok banget. Jadi dapetnya cuma sedikit doang. Niatnya mau dipanjangin tapi malah nanti penutup chapter 3 malah gak bikin penasaran. LOL.
….pada suka Sasuke-sayang tertindas ya? WOAOW
Ini sudah update. Terima kasih buat review-nya dan mohon maaf untuk lamanya waktu update. :D
(no name) 8/27/11, aduh namamu mana ini? Maaf ya, aku tulis tanggalnya aja.
Iyalaaaah, bagaimana pun juga Naru itu adalah sosok yang dibutuhkan oleh Sasu walau Sasu-nya sendiri gak sadar sama hal itu.
KakaNaru? We.. mungkin cuma yang ada adegan Kaka dan Naru aja yang bisa kubuat. Maaf ya. (_-_)
Ini udah update. Maaf membuatmu menunggu lama ya. Terima kasih atas review-nya. :3
devil eye's, Iya, jadi French Maid. :3Penasaran reaksi Sasu lihat Naru crossdressing? Mungkin belum ada di chapter ini ya. D: Liat aja chapter berikutnya ya. :3
Inilah lanjutannya. Semoga berkenan dan terima kasih telah menyempatkan waktunya unutk baca dan review. :D
(no name) 11/3/11, ehehehe maaf ya, nunggu lama. Ini udah update ya. :3 Arigacuh buat review-nya ya. (:
Nysa, ini sudah lanjut lanjut! XD Makasih review-nya ya. (:
Anggora Sichi, ihihi gak apa baru review juga. :D Ceritanya seru? Terima kasih banget. Suka? *pingsan* Lol. Apa lagi pas Naru jadi maid ya? Hehe. Huapah? Menjerit keras? Ada ada apa apa? OuO Eeh? Sepuluh jempol? Arigatcuuh! Ini dia lanjutannya. Maaf udah terlalu lama ya. Semoga berkenan dan terima kasih atas review-nya. :3
Od3rsChWank mi4w-mi4w, ini update-nya. Maaf udah buat nunggu banget-banget ya. DX Dan terima kasih atas review-nya. :3
At last, terima kasih buat kalian yang setia me-review, memberikan koreksi, semangat. Terus begitu ya, karena kalian(para readers) adalah sumber seangat terbesar untuk para author mana pun. :D
