Disclaimer: Vocaloid © Yamaha Corporation. Tidak ada keuntungan material apapun yang saya dapat dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: Indonesia!AU, bahasa tidak baku, typo(s).

Summary: Semua ini berawal dari obrolan grup.

Bukan Sekadar Wacana oleh reycchi


[iii – Bu Lola]

.

.

.

Yowane Haku: Besok jangan lupa kumpul di gedung stat jam setengah 8 ya, guys. Jangan ngaret.

"Haaah..." Aku mendongakkan kepalaku sembari menghela napas panjang nan lelah. Iya, lelah. Mendengar "kumpul di gedung" saja sudah membuat sekujur tubuhku lelah seperti orang yang baru saja berolahraga enam jam nonstop.

Ralat, khusus aku sih, berolahraga satu jam nonstop juga lelahnya sudah setengah mati—sebelas-dua belas dengan ikan yang mendadak nyasar ke daratan begitulah.

Kembali ke cerita, besok adalah hari pertama OSPEK jurusanku dimulai. Oke, ralat sedikit, sebenarnya besok hanya pematerian kampus secara umum yang akan disampaikan oleh calon-calon dosenku kelak. Ada pematerian tentang etika, cara presentasi yang baik dan benar, kedaerahan, dan sebagainya.

Mari kita lewatkan saja segala macam pematerian yang ada sebab aku sendiri tidak yakin dapat menceritakannya kembali dengan jelas. Intinya, para dosen memberikan materi seputar etika yang kurang-lebih harus kami terapkan tidak hanya kepada kakak tingkat dan dosen tetapi juga orang lain, lalu bagaimana cara membuat dan menyampaikan presentasi dengan baik, serta kosakata apa yang biasanya digunakan untuk bercengkerama dengan lingkungan sekitar kampus.

Sederhana dan terdengar tidak begitu penting, tetapi kini jadi salah satu muatan yang wajib diberikan kepada mahasiswa baru—bahkan ada desas-desus kalau tahun depan pengajaran etika seperti ini akan dijadikan salah satu mata kuliah wajib.

Lalu, sesi pematerian ditutup oleh rentetan kata dari dosen bidang kemahasiswaan yang—dari tutur katanya—sangat memihak mahasiswa baru.

Dia berjalan memasuki aula dengan santai dan wajah tanpa beban—hebat juga bisa begitu. Beliau menduduki salah satu kursi yang ada di depan, mengambil sebuah mikrofon yang berfungsi, lalu mulai berbicara.

"Selamat siang, semuanya. Saya ucapkan selamat datang di kampus," ujarnya dengan lantang, tetapi tetap bernada keibuan yang sukses menarik hati para mahasiswa baru—termasuk aku. "Besok kalian OSPEK Fakultas, ya?"

Oh. Iya. Nyaris saja aku lupa.

"Iyaaa..." koor kami serempak. Memang dasar mahasiswa baru, mudah sekali disetir pertanyaan-pertanyaan yang hanya dapat dijawab dengan satu kata.

"Jam berapa disuruh kumpul?" tanya beliau lagi, kali ini dengan nada agak sedikit menantang. Sepertinya dosen yang satu ini suka memberontak, boleh juga.

"Jam lima, Buu..." Lagi-lagi kami menjawab pertanyaan itu dengan kompak. Mungkin kekompakan kami akan membuat kalian semua ragu bahwa kami baru saja berkenalan kurang lebih dua minggu.

"Jam lima? Lima pagi?" Beliau mengerutkan dahinya, heran dengan jawaban yang kami lantunkan. "Emang acaranya mulai jam berapa?"

Jawaban simpang-siur mulai terdengar dari berbagai penjuru kursi, membuat aula jadi riuh. Yah, namanya mahasiswa baru, siapa yang benar-benar tahu jadwal susunan panitia? Mana kami tahu pula acaranya mulai jam berapa kalau panitia hanya meminta kami untuk datang pukul sekian? Memangnya kami ini apa? Cenayang?

Sang dosen yang tampak menyadari ketidaktahuan kami kemudian menoleh ke arah pintu masuk aula. Melihat sesosok kakak tingkat yang—mungkin—berkasak-kusuk sendiri dengan temannya di sebelah, beliau lalu memanggilnya. "Kamu! Sini."

Dan kakak itu tidak kuasa membantah kuasa dosen, bukan?

Kakak itu menghampiri dosen tersebut, duduk di sampingnya, lalu memasang senyum ya-gusti-ibu-saya-salah-apa.

"Iya, Bu?" bisik kakak itu—setidaknya itulah yang dapat kutangkap dari gerak-gerik mulutnya.

"Besok OSPEK mulai jam berapa?" tanya sang dosen, masih dengan nada menantang yang sama—dan jelas-jelas seram bagi mahasiswa, utamanya bagi panitia OSPEK itu sendiri.

"Jam tujuh, Bu." Kakak itu menjawab dengan suara lirih—dan takut. Aku jadi merasa kasihan terhadapnya. Siapa yang tahu kalau menjawab pertanyaan dosen mungkin berakibat fatal terhadap posisinya sebagai panitia?

"Oke." Dosen itu kembali menghadap kami, mahasiswa baru. "Jadi besok kalian datangnya setengah tujuh aja, oke? Terus, kalau misalnya ada yang nanya kenapa kalian telat, kalian jawab aja disuruh Bu Lola dari Statistika. Ngerti, ya?"

"Iya, Bu..." Hanya itu yang bisa kami jadikan sebagai respon paling meyakinkan. Mau bagaimana lagi? Titah dosen itu segalanya—setidaknya untuk sekarang ini itulah yang kupikirkan.

"Oh, satu lagi!" Dosen bernama Lola itu mengangkat tangannya. "Kalian kalau ada kakak tingkatnya yang nggak senyum, jutek gitu ke kalian, coba bales dengan bilang 'Kak, senyum, dong'. Oke?"

Nah, kata-kata ini hanya kami respon dengan tawa. Bukan tawa bahagia atau merasa lucu, melainkan tawa ngenes dan takut.

Ya kali, Bu, batinku miris.

"Nggak berani, ya? Harus berani, dong!" Ibu itu mengangkat tangan ala-ala pahlawan pejuang kemerdekaan dengan santainya. Yah, beliau sih, mungkin berani. "Atau gini deh, kalau besok ada yang bertingkah macam-macam sama kalian, laporin ke saya. Nih, catat nomor saya."

Beliau menyebutkan nomor ponselnya dengan lancar, diikuti kami yang mencatatnya di ponsel masing-masing—terlalu malas mengeluarkan alat tulis dan kertas.

"Jadi, kalau ada yang macam-macam sama kalian, langsung chat saya di Watsep, ya. Kalian boleh bawa HP, 'kan?"

Lagi, kami menjawab dengan kompak, "Nggaaak..."

"Loh?" Ibu itu mengerutkan dahinya. "Kenapa gak boleh bawa HP? 'Kan, kalian butuh buat komunikasi!"

Mana bisa kami menjawab?

"Udah, bawa aja HP-nya!" Kembali Bu Lola memerintah dengan santainya. "Asal jangan dipake selama kegiatan. Paham, ya? Kalau ada apa-apa, langsung kontak saya. Bilang aja izin ke toilet, nanti di sana chat saya langsung."

Kembali kami mengiyakan perkataan tersebut dengan kompak.

Walau pada kenyataannya, aku juga tidak berminat—pun berniat—melakukan perintah Bu Lola. Ini hanya OSPEK Fakultas, loooh. Memangnya akan seseram apa? Panitia yang jumlahnya hanya sekian persen dari jumlah mahasiswa baru juga tidak akan sanggup memarahi satu demi satu anak yang membuat kesalahan. Beda lagi ceritanya kalau kami sudah tiba di OSPEK Jurusan nanti.

Selesai dengan acara hari itu, kami segera kembali ke tempat tinggal masing-masing. Sebagian besar temanku yang tentunya anak kost, kembali ke kost masing-masing, sementara aku kembali ke rumah.

Rumah yang... cukup jauh.

Aku tiba di rumah saat langit telah berangsur-angsur gelap. Perjalanan dari kampus ke rumah dengan lalu lintas yang tidak lancar memang selalu melelahkan. Di saat aku bisa mencapai rumah dalam waktu empat puluh menit, macet mengubahnya menjadi dua hingga tiga kali lipat.

Terima kasih loh, Macet.

Setelah membereskan diri seperti manusia pada umumnya—mandi, makan, dan merapikan barang untuk keesokan hari—aku merebahkan diri di atas sofa dan memeriksa ponselku. Malam ini panitia OSPEK Fakultas akan membagi kelompok peserta. Kalau aku tidak salah, dari lima ratus mahasiswa baru, kami akan dibagi menjadi dua puluh dua kelompok kecil.

Sambil menunggu pengumuman kelompok, aku membuka obrolan grup angkatanku yang seperti biasa, membahas mengenai tugas OSPEK yang belum lengkap ataupun belum selesai―ada yang lebih parah bahkan, belum memulai.

HL: Soal nomor 8 jadi jawabannya apaan, dah?

K. Lenka: Cek notes aja, deh.

Kokone: 15, bukaaan? Takut salah...

Utatane Piko: 15.

HL: Sip, makasih, Pik.

Meito: Nomor 15 apaan jawabannya?

Rintooo: Ada yang belum kebagian biodata gue?

Rin: Ada yang belum kebagian biodata gue? (2)

S. Meiko: Ada yang belum kebagian biodata gue? (3)

Luka: Ada yang belum kebagian biodata gue? (999+)

Meito: Kacang mahal, yak.

Hatsune Miku: 18, Meito.

Meito: Cuma Miku yang ngertiin gua.

HL: Liat notes aja kan bisa lu, To.

K. Lenka: Kamu juga sama aja, Lui.

Miku (Zatsune): Nanya dong, ngelapisin karpet osjurnya gimana, ya?

Luka: Kalo aku dibungkus total dulu, terus pinggirannya dipotong nyesuaiin bentuk.

Rin: Aku juga.

HL: HL sent a photo.

HL: Bungkus aja semuanya, gak usah pake gunting-gunting lagi.

HL: Hahaha.

Hatsune Miku: Males banget si Lui. Wkwkwk.

HL: Yang penting dikerjain, dah.

Suzune Ring: Itu plastiknya Lui kenapa ada titik-titiknya?

HL: Aku pake plastik motif, Ring.

Suzune Ring: Emangnya boleh?

Utatane Piko: Gue juga gitu, kok.

Yowane Haku: Woy, kelompok osfak udah dibagiin. Cek Layn MB, deh.

For your information, Osfak adalah singkatan dari OSPEK Fakultas—padahal OSPEK juga sudah merupakan singkatan—sementara MB adalah singkatan dari MIPA Bersama, nama OSPEK Fakultas kami. Program Studi Statistika di Universitas Voca memang masih dibawahi Fakultas MIPA—doakan saja suatu saat program studi kami akan membentuk fakultas sendiri.

Menuruti perkataan Haku yang paling update tentang semua hal terkait OSPEK, akhirnya aku memeriksa akun resmi MIPA Bersama di Layn. Benar rupanya, kelompok kami untuk besok sudah dibagikan. Katanya sih, kelompok ini akan menjadi kelompok tetap sampai nanti OSPEK Fakultas yang kedua berakhir. Ada yang bilang juga bahwa OSPEK Fakultas yang kedua itu masih tiga bulan lagi.

Lama juga, ya...

Aku memainkan jemariku di atas layar ponsel, membuka tautan yang terdapat pada salah satu post milik akun MIPA Bersama, lalu mulai menggeser layar ponselku perlahan. Aku harus mencari namaku di dalam daftar yang memuat lima ratus nama mahasiswa. Sekalian mabuk, deh.

Untungnya, panitia MB ini baik sekali. Tidak hanya menuliskan nama kami pada daftar kelompok, mereka juga menuliskan Nomor Pokok Mahasiswa (NPM) kami, program studi yang kami tempati, juga nomor ponsel kami masing-masing—yang terakhir ini aku agak kurang setuju karena ini sama saja dengan menyebar privasi. Untungnya lagi, setiap program studi diberi warna yang berbeda. Statistika diberi warna biru muda, jadi aku hanya perlu mencari namaku pada kolom berwarna biru muda yang ada.

"Untung gak perlu nyari satu-satu," gumamku sambil terus menggeser layar. Aku sudah tiba di halaman kelima, yaitu daftar anggota kelompok lima, tetapi masih belum menemukan namaku.

Kalau sudah seperti ini, biasanya firasat buruk akan menghampiriku. Bukan, aku tidak berpikir bahwa namaku tidak terdaftar—asal tahu saja, aku sudah wawancara tahu. Aku berpikir bahwa... namaku mungkin berada di kelompok terakhir sehingga usahaku mencari dari nomor satu akan percuma.

Walau pemikiranku seperti itu, aku terus saja mencari secara urut. Kekhawatiran namaku terlewat lebih besar rupanya daripada rasa lelahku menggeser layar terus-menerus tanpa henti.

Akhirnya ketika mataku menangkap tulisan "Kelompok 21" (dari dua puluh dua kelompok)...

Statistika: Utatane Piko, Sakine Meiko, Kagamine Rin, Kasane Teto, Megurine Luka.

Seketika aku bersorak girang... dalam hati.

Cepat-cepat kubuka obrolan grup angkatan, lalu mengetikkan rasa senangku di sana.

Luka: Piko, Meiko, Rin, Teto, kita sekelompok buat besoook. Yeaaay~

Rin: Asyiiik~

S. Meiko: Oh iyaa? Aku mau liat juga, aah.

HL: Ada yang nemu nama aku, nggak?

Utatane Piko: Kelompok berapa, Luk?

Luka: 21, Pik.

Luka: Btw, aku gak merhatiin namamu, Lui. Selamat mencari aja, deh~

Merasa lega karena telah menemukan namaku terdaftar, aku menutup ponselku. Mungkin menyiapkan barang-barang untuk dibawa dan digunakan besok harus kulakukan sekarang juga. Masalah utamanya, aku ini rajin. Rajin bangun kesiangan maksudnya.

Maka aku bangkit, berusaha melawan rasa malas yang selalu melanda saat aku sudah merebahkan badan. Sepertinya kebiasaan burukku yang satu ini benar-benar harus diberikan perawatan khusus, deh. Ada tidak sih, terapi anti mager—malas gerak? Kalau ada, sepertinya pengusahanya akan kaya raya dalam sekejap.

Omong-omong soal menyiapkan barang, aku jadi ingat kalau aku belum membaca daftar barang yang wajib dibawa besok dari akun Layn MB.

Kembali kubuka ponselku. Akan tetapi, bukan lockscreen bergambar gitar coklat yang kulihat di sana.

Gelap, layar ponselku sepenuhnya gelap.

"Kenapa, nih?!" Panik, aku buru-buru menekan tombol on/off yang terletak di pinggir kanannya. Kalau ponsel ini benar-benar rusak pada saat genting menjelang OSPEK seperti ini, aku harap ibu tidak akan marah jika aku meminta ponsel baru mendadak.

"Jangan rusak, jangan rusak, jangan rusak," gumamku cepat sambil memegang ponsel dengan tangan kiri, lalu memaksa menekan tombol on/off-nya dengan telunjuk tangan kanan. Aku menggigit bibir bagian bawah, panik setengah mati.

Sebenarnya ini hanya masalah ponsel yang membuatku terlihat berlebihan, tetapi serius, aku ketakutan setengah mati sampai lupa bahwa niat awalku membuka ponsel adalah untuk melihat daftar barang bawaan MIPA Bersama.

Satu atau dua menit setelah usahaku itu, tiba-tiba layar ponselku kembali menyala.

Kuulangi, kembali menyala, Kawan!

Wajahku seketika berubah sumringah—senang tingkat maksimal. Untung saja ponselku tidak rusak di saat segenting ini! Untung!

Anehnya, sesaat setelah merek ponselku muncul di layar, kegelapan kembali menguasai. Layar ponselku gelap, lagi, tanpa alasan yang jelas dan terlalu tiba-tiba.

"Apa..." Bola mataku bergeser, memfokuskan pandangannya terhadap sebuah benda hitam panjang yang tergeletak di atas meja. Hanya ada satu benda itu, tidak ada yang lain lagi.

Charger ponsel.

"Lowbat?" gumamku heran sambil mengambil charger tersebut. Buru-buru kupasang pada steker terdekat sebelum ponselku mogok menyala lagi.

Begitu charger dan steker terhubung, layar ponselku langsung menyala terang.

Ternyata... dia kehabisan baterai.

HANYA KEHABISAN BATERAI.

Aku menghela napas keras. Akhirnya kutinggalkan ponselku itu untuk sementara sambil aku menyiapkan barang yang kira-kira harus dibawa besok.

Dan dengan ini, aku menyatakan aksi pundung (sementara) kepada ponselku tercinta!

Pundungnya hanya sampai aku selesai membereskan tasku dengan barang-barang wajib dibawa besok, kok. Lagipula, aku juga masih harus memeriksa daftar barang bawaan wajib dari ponsel, 'kan?

Tenang, Ponsel, aku padamu selalu.

Selamanya kalau perlu.

Sampai kamu rusak... dengan sendirinya.

Baiklah, aku mulai melantur. Aku harus menyiapkan barang-barang sekarang atau besok pagi aku akan terlambat berangkat.

.

.

.

TBC


A/N.

Yang bagian akhir HP abis batre itu lebay aja, kok. Seperti yang udah saya bilang sebelumnya, Luka bakal tetap lebay sampai fanfik ini statusnya berubah menjadi complete. Bahkan mungkin di spin-off yang bakal saya bikin entah kapan juga dia bakal muncul dengan narasi lebaynya yang biasa. :3

Dan ini sengaja dipotong di bagian beres-beres, ya. Rasanya penjabaran beres-beres gak perlu dijelaskan, yak? Chapter berikutnya langsung masuk ke masa OSPEK, masa-masa dimana maba itu tertindas dan humor dalam fanfik ini akan beralih menjadi tragedy. /JANGAN

Oke, mungkin sekian dulu cuap-cuapnya! Ditunggu komentarnya semuaa~ xD