Dua orang itu hanya saling diam, tanpa ada niat untuk memulai pembicaraan. Si empunya ruangan hanya melirik tamunya sekilas lalu mengambil sebuah buku, ia lalu menuliskan entah apa, ke setiap lembar putih itu.
"Jadi" merasa bosan dengan suasana hening, si pemilik ruangan yang akhirnya memulai pembicaraan tanpa menghentikan aktivitas menulisnya "apa yang ingin kau bicarakan Iruka-san".
"Hmm..." si tamu menimang-nimang, apakah keputusannya untuk menceritakan sebuah rahasia pada orang yang ada dihadapannya itu merupakan keputusan yang benar atau tidak. "Mungkin ini agak terdengar gila, Jiraiya-sama".
"Aku suka hal-hal yang berbau ketidakwarasan " mendengar pernyataan dari sang lawan bicara, itu membuat Iruka semakin nemantapkan tekadnya.
"Ini mengenai seseorang yang aku temui beberapa hari yang lalu...".
.
.
Chapter 4
Para kesatria
.
.
.
3 hari yang lalu...
.
Iruka duduk didepan ruang tamu, sesekali ia menyeruput kopi buatan istrinya sambil matanya melirik si pria kuning yang terlihat seperti gelisah. Ia tau ada yang disembunyikan dari Naruto, namun Iruka tetap bersabar. Mungkin saja itu hal yang sangat penting sehingga Naruto merasa belum siap untuk bercerita. Tiga hari tepatnya si pirang tinggal dirumahnya, ia sebenarnya cukup senang saat tau si pirang akan tinggal untuk berapa hari, hanya saja ada beberapa hal yang membuatnya curiga. Setiap kali ditanya tempat tinggalnya, Naruto pasti hanya akan menjawab kalau dirinya tinggal ditempat yang sangat sangat jauh, yang makin membuatnya curiga adalah Naruto tidak mau memberitahukan nama aslinya.
Tapi kali ini berbeda, melihat si pria kuning sangat gelisah dan begitu tertekan membuatnya sangat khawatir.
"Apa ada masalah Naruto-san, atau mungkin ada yang ingin kau ceritakan padaku?"
"A-ha ha, t-tidak ada kok oji-san"
"Ayolah.., kau hanya perlu mengeluarkan semua masalah yang berputar-putar diotakmu itu, mungkin saja itu akan membuatmu lebih baik" Iruka sedikit mendorong Naruto agar bercerita, mungkin saja si kuning itu mau memberitahukan asal-usulnya.
"T-tapi..."
"Tenang saja Naruto-san, aku berjanji akan merahasiakannya dari siapapun, jika itu yang kau mau" dan sepertinya bujukan Iruka berhasil, terlihat Naruto mengambil napas panjang hendak bercerita.
"Mungkin selesai aku bercerita nanti, Oji-san pasti akan menganggapku gila atau tidak waras" Naruto yang ragu-ragu lalu melirik Iruka, dan dibalas senyuman oleh Iruka.
"Aku berjanji tidak akan menganggapmu seperti itu".
"Dan Oji-san harus berjanji, tidak akan memotong ceritaku sampai aku menyelesaikannya. Baru setelah itu 0ji-san boleh berkomentar" Naruto menambahkan, Iruka mengangguk.
"Baiklah.. aku mulai" Naruto mengambil napas sebanyak-banyaknya seoalah ini akan menjadi akhir hidupnya. Ia harus terlihat meyakinkan didepan Iruka "Sebenarnya aku bukan berasal dari sini, atau tepatnya bukan dari dunia ini".
Dan benar saja, baru beberapa kata terucap. Iruka sudah hampir terjatuh sambil mendekap mulutnya menahan tawa. Bukan dari dunia ini katanya, lantas ia dari dunia mana? dunia para monster, atau dunia para dewa?. Memikirkan itu semua membuat Iruka semakin menekan dekapan tangannya sambil menahan sakit perut dadakan. Naruto sendiri hanya menghela napas, sudah menduga apa yang akan terjadi. Lalu Naruto kembali bercerita tanpa menghiraukan orang tua didepannya.
"Aku berasal dari Negara yang bernama Jepang, sebuah Negara yang sangat maju dan modern, dimana mesin menguasai semuanya. sedangkan rumahku berada di pusat kota Konoha City, sebuah kota yang cukup besar...", dan bla bla bla bla bla bla...
Naruto bercerita panjang lebar pada Iruka. Ia menceritakan semua yang bisa ia ingat, mulai dari kegiatan sehari-hari seperti berangkat sekolah menggunakan motor, kegiatan selama disekolah, jalan-jalan di taman hiburan, bermain PS bersama sahabatnya, dan berbagai kegiatan lainnya. Lalu ia juga bercerita mengenai sejarah Jepang, mengenai Ninja dan para Samurai, serta berakhirnya era kerajaan diseluruh dunia. Sedangkan Iruka hanya bisa melongo, ia beberapa kali tertawa lepas saat mendengar sebuah cerita yang sangat aneh dan mustahil baginya. Mungkin orang-orang yang mendengar cerita si kuning pasti akan menganggapnya gila, Iruka pun sempat berpikiran seperti itu.
Ada jeda waktu sebelum Naruto melanjutkan ceritanya."Dunia ini dengan duniaku sangat berbeda. Aku tidak mengerti bagaimana bisa hingga aku terdampar disini. Yang ku ingat terakhir kali, waktu itu aku sedang berada dikamarku dan tidur diatas tempat tidurku. Tapi saat aku bangun dari tidur tiba-tiba aku sudah berada disini" Naruto kembali menghela napas, mungkin kali ini orang-orang akan menganggapnya gila bila mendengar ceritanya.
"Sekarang terserah Oji-san mau percaya dengan ceritaku atau tidak, yang jelas aku sudah mengatakan yang sejujurnya" Naruto akhirnya mengakhiri cerita panjangnya. Ia lalu melirik orang yang diajak bicara, terlihat Iruka sedang menahan perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa. mungkin Iruka sudah menghabiskan stok cadangan tertawanya. Akan tetapi seketika tawa Iruka memudar diganti wajah yang memucat saat mendengar kalimat yang diucapkan Naruto selanjutnya.
"...Dan namaku adalah..."
.
DEG...
.
DEG...
.
Jiraiya hampir saja menjatuhkan buku yang di genggamnya ketika mendengar kalimat terakhir yang Iruka ucapakan. Sebuah kalimat, bukan.. tapi sebuah nama yang sangat familiar, sebuah nama yang seharusnya tidak lagi terdengar di telinganya, nama yang menyebabkan tragedi tujuhbelas tahun silam. Ia membenarkan posisi duduknya sambil kembali melanjutkan kegiatan menulisnya. Suasana kembali hening, bahkan lebih hening dari sebelumnya. Mereka seperti tak berani bersuara seolah-olah kehabisan kata-kata.
Merasa suasana bisa saja makin mencekam, Iruka akhirnya buka suara.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan Jiraiya-sama...?" merasa tidak ada respon dari orang yang diajak bicara, Iruka lalu kembali melanjutkan kata-katanya "Aku sendiri awalnya tidak percaya. Tapi saat melihat sorot matanya, aku bisa merasakan kalau dia berkata sangat jujur tanpa ada kebohongan. dan aku juga sangat terkejut saat dia menyebutkan namanya, itu membuatku..."
"Kita akan menyelidikinya bersama-sama Iruka", potong Jiraiya " Kau awasi dia saat berada dirumahmu".
"Ha'i..., Jiraiya-sama" sambil membungkukkan badan, Iruka lalu keluar dari ruangan itu.
Kini tinggal Jiraiya diruangan pribadinya, ia telihat sedang merenung sambil memandang langit malam dari balik jendela. Kini pikirannya seakan sedang melanglang buana entah kemana.
'Sepertinya, aku harus meminta bantuan darinya' Jiraiya berucap dalam hati, ia lalu menggigit jari jempolnya sendiri hingga mengeluarkan darah. Sambil menggumamkan sesuatu, ia meneneteskan darahnya ke lantai.
PUFF...
Dan tiba-tiba saja 3 monster katak muncul dihadapannya.
"Ada keperluan apa anda memanggil kami, Jiraiya-sama" salah satu monster itu bertanya.
"aku ingin kalian melakukan sesuatu... Gamabunta..., Gamaken..., Gamashiro...".
setelah menerima titah dari tuannya, ketiga makhluk itu menghilang dalam kesunyian. Jiraiya kemudian melanjutkan kembali aktivitas menulisnya.
"Benar-benar menarik..."
.
.
Matahari sudah terbit satu jam yang lalu, namun si penghuni kamar tak menampakkan batang hidungnya. Ia masih Asyik berkumul didalam selimut yang hangat dan nyaman, mungkin baginya kembali tertidur dan terbang didalam mimpi lebih baik daripada ia harus terbangun dan mengetahui kenyataan bahwa dirinya sekarang bukan lagi berada di dunia asalnya. Mungkin kali ini Naruto benar-benar rindu dengan teriakan ibunya setiap pagi, rindu dengan ayahnya yang menceramahinya tentang arti hidup dan cara memanfaatkan waktu dengan baik, rindu dengan motor kesayangannya, rindu dengan suasana sekolah dan Sora sahabat karibnya, bahkan ia sangat rindu dengan hukuman yang selalu diberikan kepadanya tiap kali terlambat masuk, mengingat itu semua membuat Naruto hanya bisa tersenyum miris.
"Naruto-niichan, bolehkah aku masuk?" terdengar suara nyaring Inari menggema ditelinganya, dan sepertinya itu pertanda buruk.
"Silahkan masuk, pintunya tidak dikunci".
Naruto hanya bisa menghela napas saat melihat bocah berusia tujuh tahun itu masuk kekamarnya sambil memamerkan giginya yang terlihat ompong itu, yang sukses mengganggu kegiatan tidurnya. Inari terlihat sedang membawa secangkir teh hijau, mungkin ia disuruh bibi Shizune mengantarkannya langsung kepada Naruto. Sambil nyengir lebar Inari perlahan mendekati Naruto yang masih menidurkan tubuhnya dalam posisi terlentang. Entah hari ini atau memang dari dulu Naruto sering kena sial, tiba-tiba saja Inari tersandung kakinya sendiri sehingga membuatnya jatuh kedepan, mengakibatkan cangkir yang berisi teh hijau yang masih panas itu terlempar mengarah ke Naruto. dan akhirnya...
BYUUURRR...
"HHUUUWAAAA...!"
"PANAAAASS...!"
Dan air panas bersuhu 100 % Celcius itu telah dengan suksesnya mengguyur bagian vital dan terpenting dalam masa depan Naruto, membuatnya hanya bisa guling-guling seperti cacing kepanasan (Naruto memang sedang kepanasan) sambil mengumpat dan menyumpah serapah entah kepada siapa itu. Benar-benar pagi yang buruk.
Sementara itu, pemandangan berbeda terlihat di sebuah mension yang sangat luas namun terlihat sangat sederhana dan alami itu. Si Puteri sulung Hyuuga terlihat sangat bahagia sambil sambil terus mengelus bibirnya, wajahnya sudah benar-benar merah layaknya kepiting rebus. Sudah hampir satu jam ia tak beranjak sesentipun dari depan cermin, seolah-olah pantulan cermin itu adalah perwujudan seorang pemuda tampan yang telah mencuri hati dan cintanya. Jantungnya sudah loncat-loncat meminta keluar dari tempatnya, tiap kali mengingat kejadian yang mungkin akan dikenang dalam monumen sejarah dalam kelangsungan hidupnya.
"aku berciuman dengannya, aku berciuman denganya, aku bercium... KYAAAAAAAA...!"
Mungkin orang lain yang melihat tingkah laku Hyuuga Hinata itu, pasti mengaggapnya gila atau sedang kerasukan hantu penghuni hutan Death Forest. Namun bisa dimaklumi, mengingat untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya ia 'berciuman' dengan seorang pemuda.
"EHEEMM..."
Tapi, sepertinya kesenangannya harus berakhir ketika seseorang pria dengan wajah angkuhnya berdiri tepat diambang pintu mengeluarkan deheman keras. Membuat si puteri cantik menoleh kearah suara, Hinata terlihat pucat saat menyadari suara siapa itu.
"N-ne-neji-niisama, sedang apa k-kau..."
"siapa yang telah melakukan itu padamu Hinata" si pria menginterupsi kalimat Hinata, tanpa menoleh sedikitpun. Membuat Si Hyuuga sulung makin memucat wajahnya dan hanya menundukkan kepalanya sambil bergumam dalam hati.
'N-Naruto-san, maafkan aku...'
.
.
Udara yang sangat sejuk mengawali harinya yang sangat buruk itu, Matahari sudah berada di sudut seperempat derajat ketika Naruto berjalan disekitar dinding yang membatasi antara antara pemukiman dengan bangunan utama Kerajaan Hidden Leaf, dengan langkah yang terseok-seok akibat kejadian buruk beberapa jam yang lalu. Matanya terlihat berbinar-binar saat melihat berbagai pernak-pernik dan berbagai jenis makanan yang terpampang disekitar jalan utama, sayangnya uang yang diberikan Iruka kepadanya hanya cukup untuk membeli pakaian dan beberapa perlengkapan lainnya agar bisa membaur dengan rakyat sekitar, sepertinya Naruto harus mulai mencari pekerjaan agar bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dan tak harus lagi menyusahkan Iruka dan Shizune. Iruka sempat berpesan padanya agar tidak memberitahukan identitas aslinya kepada siapaun, entah apa maksud Iruka mengatakan itu, tapi Naruto tak ambil pusing.
Ketenangan Naruto kembali terusik ketika telinganya menangkap sebuah suara keributan dari arah sisi kanan tempatnya berdiri, matanya teralih pada sumber suara. Sekitar tujuh orang berbadan super besar dan super kekar sedang memancing keributan, mereka terlihat sedang mengobrak-abrik beberapa ruko pedagang. Dan itu membuat jiwa kepahlawanan Naruto berkobar-kobar, ia lalu mendekati mereka tanpa ada rasa takut sedikitpun, mungkin itu akibat naiknya adrenalin serta semangat juang saat melihat orang lain teraniaya.
Tapi, sepertinya Naruto terlambat beberapa langkah saat melihat seseorang yang ia kenal berdiri gagah sambil mengeluarkan kata-kata yang entah tidak bisa diterima oleh telinga Naruto.
'Bukankah itu salah satu temannya Sasame, kalau tidak salah namanya... ehmm... Lee'. Naruto bergumam dalam hati, ia lalu hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Samar-samar Naruto bisa mendegar Lee sedang berbicara pada mereka tapi entah apa, karena jarak Naruto dengan mereka cukup jauh.
Wajah Naruto seketika memucat saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sebuah tongkat besi berukuran besar menghantam tubuh Lee yang ramping itu secara telak dan membuat si rambut mangkok terlempar beberapa meter dan menabrak dinding sebuah ruko, bahkan dinding itu sampai hancur. Naruto hampir saja menangis melihat tubuh orang yang baru dikenalnya itu tak bergerak sedikitpun, bayangan akan hal yang paling terburuk langsung melintas dipikirannya.
Beberapa detik kemudian ia kembali terkejut, kali ini 2 kali lipat dari sebelumnya. Naruto melihat Lee berdiri kembali dan berjalan dengan santainya ke arah berandalan itu, seolah tidak terjadi apa-apa. dan detik-detik berikutnya ia harus membuka matanya selebar mungkin saat melihat Lee dengan mudahnya menghajar ketujuh berandalan itu.
Sementara dari sudut pandang lain, Lee yang saat itu sedang melakukan latihan rutinnya. Yaitu dengan SEMANGAT MASA MUDA berlari mengelilingi bangunan kerajaan sebanyak seratus kali, ia melihat tujuh berandalan sedang mengancam beberapa pedagang. Semangat mudanya langsung berkobar, dan dengan sigap ia menghadang langkah mereka.
"Hei.. kalian, kembalikan barang-barang itu kepada pemiliknya sekarang juga..!" Lee berteriak dengan semangat masa mudanya, ketujuh berandalan itu terlihat tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya.
"Memangnya kau bisa apa bocah ingusan. Apa kau akan mengadukan kami kepada ibumu, atau melaporkan kami pada prajurit kerajaan, hah" mereka kembali tertawa.
"Aku akan menghajar kalian semua hanya dengan satu tanganku ini" Lee berucap dengan lantang sehingga membuat mereka marah. Tanpa Lee sadari, salah satu dari mereka memukulnya dari belakang menggunakan tongkat besi yang cukup besar. Membuatnya terlempar lalu menghantam dinding dengan sangat kerasnya, ia sedikit sebal dengan serangan mendadak itu.
'Sial, aku sedikit lengah tadi' rutuknya dalam hati, Lee lalu berdiri sambil membersihkan baju kesayangannya yang kotor itu 'sepertinya, aku harus mengurus mereka secepat mungkin'.
Para berandalan itu hanya bisa melongo dan semakin emosi karena serangan dadakan itu tidak melukai orang itu. Dengan posisi siaga, mereka lalu menyerang Lee membabi buta. Namun bisa dengan mudahnya dihindari Lee.
'Baiklah, akan ku selesaikan dengan ini' pikir Lee, ia lalu mengambil pose menyerang dengan satu tangan berada di depan.
"ONE HAND ATTACK...!"
Setelah menggumamkan itu, gerakan tubuh Lee menjadi sangat cepat. Ia lalu melancarkan tujuh pukulan secara hampir bersamaan dan sukses mengenai perut ketujuh berandalan itu, membuat mereka jatuh tersungkur dan pingsan seketika.
"Itu akibatnya jika menganiaya orang yang tidak bersalah..!" setelah mengatakan itu, Lee meninggalkan mereka sambil mendengarkan beberapa ucapan terima kasih dari para pedagang. Ia hanya bisa garuk-garuk kepala dan melemparkan senyuman penuh semangat masa mudanya.
Kembali ke sudut pandang utama, Naruto hanya bisa tercengang sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Beberapa ekspresi tertangkap diwajahnya, namun yang lebih mendominansi adalah ekspresi kagum yang luar biasa. Ia baru saja menyaksikan adegan action secara live dan tanpa sensor yang mungkin hanya bisa ia lihat di TV atau di Game. Naruto bahkan membayangkan andai saja dirinya yang menjadi Lee, mungkin ia bisa meraih juara pertama atau medali emas diajang bela diri tingkat dunia.
"Yo... Naruto-san, kita bertemu lagi". Imajinasi Naruto buyar begitu mendengar Lee memanggilnya, Naruto sendiri terkejut saat melihat Lee sudah ada di depannya.
"A-ah... Lee... LEE..! apa kau baik-baik saja? apa kau terluka, apa perlu kuantar kau kerumah sakit?" Naruto secara spontan melempar sejumlah pertanyaan pada Lee. membuat Lee menaikkan sedikit alis tebalnya.
"E-eh, Naruto-san tadi melihatnya ya. Tenang saja, aku tidak apa-apa" kata Lee, ia lalu terenyum penuh semangat masa muda.
"apa maksudmu tidak apa-apa? jelas-jelas aku melihatmu dipukul dengan sebuah besi dan... terlempar dan... tembok itu hancur dan... KAU BILANG BAIK-BAIK SAJA...?! " Naruto tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya. Sedangkan yang diajak bicara malah terkekeh, dan itu membuat Naruto semakin bingung.
"Tenang saja Naruto-san, seorang Knight sepertiku tidak akan mati hanya dengan serangan lemah seperti itu" Lee lalu berpose andalannya, yaitu mengarahkan jempol ke depan sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
"Knight..., apa itu?" Naruto memasang bodohnya. Ia merasa baru pertama kali mendengar kata itu"
"Eeeh..., apa kau tidak pernah mendengar atau melihat seorang Knight?" tanya Lee bingung dan dijawab gelengan polos Naruto . Lee sedikit menerka-nerka, tidak mungkin kalau Naruto tidak pernah melihat seorang Knight. Ia lalu mencoba mengingat perdebatan dengan teman-temannya tempo hari.
'Tidak mungkin orang yang sangat hebat seperti Naruto-san tidak pernah melihat seorang Knight, apa dia sedang berpura-pura untuk menutupi identitas aslinya' pikir Lee dalam hati.
Sedangkan Naruto sendiri sedang berkutat dalam pikirannya.
'Knight ya, kalau tidak salah itu kan kata dalam bahasa inggris, yang artinya...' Naruto sedang berpikir keras, hal yang sangat jarang ia lakukan selama ini 'aah, aku tau artinya. Kalau tidak salah artinya Kesatria'.
"Apa knight itu sama seperti seorang prajurit?" tanya Naruto, sepertinya ia mulai penasaran.
"Yah, bisa dibilang begitu, hanya saja kemampuan knight lebih kuat dan lebih hebat dari pada seorang prajurit" Lee menjelaskan pada Naruto "selain itu, biasanya seorang Knight memiliki kemampuan istimewa, kemampuan istimewa itu bisa didapat sejak lahir atau faktor keturunan. Bisa juga dengan cara berlatih keras".
"Apa Knight itu seperti Superhero, maksudku.. manusia super?" tanya Naruto, masih dengan tampang bodohnya.
"Bisa dibilang seperti itu", terang Lee sedikit bingung dengan orang yang dihadapanya," apa Naruto-san benar-benar tidak tahu mengenai Knight, dan bukankah kau juga seorang Knight?"
"Aku... seorang Knight? " Naruto sedikit terkekeh mendengar ucapan lee, "aah, bukan... Aku hanya orang biasa, dan aku tidak tahu apa itu Knight, bahkan aku baru mendengarnya darimu".
Naruto berkata sangat jujur. Memang didunianya tidak ada yang namanya superhero atau semacamnya. mereka hanyalah karang fiksi dan hasil imajinasi manusia. "Setahuku, bukankah para Knight bertugas untuk mengalahkan musuh dalam perang?"
"Memang benar, tugas awal seorang Knight mengalahkan lawan dalam perang. Tapi itu dulu, setelah terjadinya perang puluhan tahun yang lalu dan diadakan perundingan perdamaian, para Knight beralih fungsi sebagai keamanan kerajaan" terang Lee.
Mereka berdua kemudian saling diam, saling berkumul dalam pikiran masing-masing. Naruto masih sangat bingung dengan penjelasan singkat Lee, Suara keramaian orang akhirnya menyadarkan mereka.
"Naruto-san, ikutlah denganku?" ajak Lee.
"Memangnya kau mau kemana Lee?"
"Sudah, ikut saja.. nanti kau juga akan tahu" setelah berkata seperti itu, Lee lalu merangkul (memaksa) Naruto agar mengikutinya dan kemudian beranjak pergi. Sementara itu dari kejauhan, terlihat seseorang yang sedari tadi mengamati mereka.
.
.
Padang rumput yang cukup luas yang letaknya di sebelah selatan kerajaan Hidden Leaf , terlihat Naruto berjalan sedikit tergesa-gesa untuk mengimbangi si alis tebal yang memaksa ia agar mengikutinya entah ada maksud atau tujuan apa.
"Lee.., sebenarnya kita mau kemana?" tanya naruto.
"Kita akan menemui mereka" Lee lalu mengarahkan telunjuknya kedepan. Dari kejauhan, Naruto bisa melihat ada lima orang yang sedang berkumpul ditengah padang rumput itu. Ia juga bisa melihat salah satu dari mereka adalah Sasame.
"Yo... minna... Maaf terlambat datang, tadi ada sedikit gangguan" Ucap Lee, ia lalu mengarahkan pandangannya pada sosok disampingnya, "Dan aku telah membawanya kemari".
"tidak apa-apa Lee-kun, kami juga baru sampai..." Sasame tersenyum singkat, ketika ia melirik orang disamping Lee, Sasame kembali tersenyum namun terlihat sangat dipaksakan "O-ohaiyou Naruto-nii".
"Selamat pagi Sasame" balas Naruto sambil mengeluarkan senyum khasnya.
"Apa kabar Naruto-san, kita bertemu lagi" perempuan berambut pink bersuara "Ah, aku lupa. Naruto-san belum kenal kami kan" Naruto hanya mengangguk mendengar perkataan pria disamping Sasame.
"Namaku Morino Idate, dan perempuan pink itu namanya Sakura" kata Idate sambil menunjuk perempuan yang dimaksud dan langsung saja ia dihadiahi bogem mentah "I-tttai... Sakura-chan, bisakah kau tidak main tangan sehari saja..?"
"Tidak sebelum kau menghilangkan sifat bodohmu, Salam kenal Naruto-san" kata Sakura. Sedangkan Naruto bergidik ngeri melihat tingkah mereka yang terkesan 'anarki' itu.
"Namaku Tenten, salam kenal..." kata perempuan berambut kepang dua lalu sedikit membungkukan badan.
"Yakumo Kurama", giliran perempuan berkulit pucat memperkenalkan diri,
"Dan aku Rock Lee, kau sudah mengenalku Naruto-san " kata si alis tebal, ia lalu bergabung dengan teman-temanya "kami semua adalah Knight".
Naruto sedikit terkejut mendengar ucapan Lee, " kalian semua Knight, dan..." ia sedikit melirik seseorang " kau juga Sasame?"
perempuan yang dipanggil Sasame itu hanya tersenyum. Tiba-tiba perasaan tidak enak menghinggapi Naruto, terlihat ada yang aneh situasi ini. Melihat kelima orang itu berpakaian seperti akan menghadapi musuh serta membawa beberapa senjata. Dugaannya semakin kuat kala ia melihat senyuman Sasame yang sangat dipaksakan, seakan-akan ia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Naruto-san, bergabunglah bersama kami..." Naruto sedikit tersentak mendengar ucapan si rambut pink" bergabunglah kedalam kelompok kami, Rookie 12".
"H-hei, apa maksudmu Sakura-san. aku tidak mengerti" kata Naruto bingung.
"Bukankah kau seorang Knight, dan sepertinya... kau seorang Knight yang cukup hebat" Yakumo, si kulit pucat berbicara. Namun tatapannya terhadap Naruto sangat tajam, seolah-olah ia sedang memandangi seorang musuh, dan itu sedikit membuat Naruto takut.
"K-kalian salah sangka, aku bukan seorang Knight atau apalah itu. Aku hanya manusia biasa", kali ini Naruto sedikit bergetar saat melihat Idate mengangkat pedangnya. Firasatnya kali ini sangat buruk, benar-benar sangat buruk.
"berarti kau tidak mau ya?" kali ini tenten yang berbicara, ia sedikit mengambil pose siaga. Seperti bersiap menyerang musuh.
"B-bukan itu maksudku..." Naruto benar benar bergidik ngeri melihat tatapan mereka berempat, kecuali Sasame yang hanya menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu maaf... dengan sangat terpaksa kami harus..." dan sepertinya firasat buruk Naruto akan menjadi kenyataan.
"Membunuhmu..."
DEG...
To Be Continue
ARIGATOU BUAT PARA READERS AND REVIEWERS yang masih mau menyempatkan waktunya untuk mengunjungi fic saya yang makin tambah TIDAK JELAS DAN NGAWUR SERTA ANCUR LEBUR, HAHAHAAAAA,
Maklum, saya hanyalah seorang manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, hehe
Dan saya benar-benar tidak berpengalaman alias masih bau kencur, dalam membuat sebuah cerita...
ARIGATOU MINNA,
KRITIK DAN SARAN DITUNGGU...
SEE YOU NEXT CHAPTER...
MIND TO READ AN REVIEW
