Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Tales of Zestiria: Bandai Namco Studios
.
.
.
LEGEND OF THE MAGIC RING
By Hikasya
.
.
.
Chapter 4. Mengalah
.
.
.
Sore yang indah, menemani kesendirian Alisha saat berdiri di dekat pagar pembatas balkon kamarnya. Angin bertiup sepoi-sepoi, menerbangkan rambut dan pakaiannya hingga melambai-lambai. Matanya menerawang lepas ke langit yang perlahan-lahan memerah seperti api. Warna merah yang mengingatkannya pada cahaya merah yang melindungi dirinya dan kelompoknya, kemarin itu.
"Merah ... Warna yang sangat mencolok. Warna api, yang bertanda keberanian dan semangat. Sangat cocok dengan diri Naruto," Alisha tersenyum senang. "Naruto, dia sangat menarik. Aku suka sekali melihatnya."
Ya, ia sangat menyukai Naruto. Perasaan yang tiba-tiba muncul, menggelitik hatinya untuk senantiasa tersenyum sendiri. Ia seperti orang gila saja, yang berbicara dan tersenyum sendiri.
Kesendiriannya yang begitu manis, mendadak terusik oleh suara ketukan pintu yang keras. Mengagetkannya untuk tersadarkan dari dunia kasmaran sesaat.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu itu berlangsung beberapa kali. Alisha buru-buru menata hatinya agar bersikap seperti biasanya, ia berjalan cepat menuju ke pintu.
KLAK!
Pintu terbuka dengan cepat. Seorang gadis bergaun merah berdiri di depan matanya.
"Putri Alisha."
"Oh. Ternyata kau, Lailah."
"Aku ingin berbicara denganmu."
"Ayo, masuklah."
"Iya."
Lailah mengangguk dengan penuh bahagia. Alisha tersenyum.
Pintu ditutup kembali. Dua gadis itu kini duduk di pinggir ranjang. Mereka memulai percakapan dari hati ke hati.
"Ya. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Alisha.
"Uhm. Ini sangat sulit untuk kubicarakan sih," jawab Lailah yang tersenyum hambar.
"Kenapa sulit? Katakan saja langsung padaku."
"Baiklah."
Jeda sesaat, Lailah menghelakan napasnya yang terasa berat. Berusaha mengontrol jantungnya agar berdetak normal. Meskipun ia Seraphim, tapi ia tetap seperti manusia yang bisa merasakan detakan jantung yang berdebar-debar kencang ketika berada di dekat orang yang disukainya.
Alisha dengan sabar menunggu perkataan Lailah selanjutnya. Ia penasaran tingkat tinggi. Hingga waktu itu tiba, Lailah mengutarakan apa yang dirasakannya pada Alisha.
"Menurut Putri, apakah Seraphim seperti aku, bisa menjalin cinta dengan manusia? Karena aku merasa mulai menyukai seseorang akhir-akhir ini," ungkap Lailah tanpa malu-malu lagi.
"Menurutku, itu bisa saja sih. Tapi, itu melanggar kodrat alam. Belum ada sejarah kalau Seraphim dan manusia bersatu dalam cinta," ucap Alisha dengan tenang.
"Itulah yang membuatku berpikir ulang. Tapi, bagaimana lagi, hatiku sudah terpaut pada seseorang itu."
"Jika takdir memilihmu untuk berjodoh dengan seseorang itu, pasti ada jalan untuk mengatasi semua itu."
"Benarkah?"
"Iya. Aku pernah membaca buku tentang Sejarah Sihir Kerajaan Vermilion bahwa ada sihir Pengubah Wujud yang pernah digunakan penyihir tingkat tinggi. Sihir yang sangat langka, tapi sekarang sihir itu tidak ada lagi di zaman sekarang karena penyihir itu sudah menghilang. Tidak ada yang tahu mantra sihir Pengubah Wujud itu."
"Oh. Aku juga tahu itu. Memang sihir itu tidak ada lagi sekarang."
"Ya. Untuk mencari tahu tentang mantra sihir itu sangat sulit."
"Benar juga."
Rasanya sedih sekali apabila memikirkannya. Lailah merasakan itu. Namun, perasaan benih cinta yang mulai tertanam di hatinya, tidak bisa dicangkul lagi untuk dibuang ke tong sampah. Ia tidak bisa menyingkirkan nama Naruto dari sukmanya itu.
Alisha memegang bahu Laila. Ia turut berwajah mendung tatkala menyaksikan wajah Lailah yang mendung bagaikan awan Cumulonimbus yang hitam pekat, yang akan menurunkan hujan. Derai air bening tidak jadi turun ketika Alisha mengatakan sesuatu yang menenangkan Lailah.
"Jangan pesimis. Aku sudah bilang sebelumnya, kan? Kalau kalian berjodoh, pasti ada jalan kemudahan untuk menyelesaikan masalah itu. Yang penting, kau berusaha keras untuk mencari solusinya."
Lailah terpaku mendengarkan itu. Alisha tersenyum dan menambahkan, "Kau harus mencari tahu tentang mantra sihir Pengubah Wujud itu. Sihir yang bisa membuatmu menjadi manusia."
Laila mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. "Ya. Aku akan berusaha keras untuk itu. Terima kasih, Putri. Aku lega sekarang."
"Ya. Sama-sama."
Alisha memeluk Lailah. Ia tersenyum lagi. Lailah juga tersenyum tapi air mata telah mengalir di dua pipinya.
Kesunyian sesaat melanda kamar luas bernuansa putih itu. Kesunyian itu hilang ketika suara Alisha yang terdengar.
"Kalau boleh tahu, siapa orang yang kau sukai itu, Lailah?"
"Naruto."
DEG!
Jantung Alisha seakan berhenti berdetak karena mendengar nama itu. Betapa tidak, ia juga menyukai Naruto. Tapi, melihat situasi ini, ia terpaksa menerimanya dengan senyuman yang manis.
"Oh. Naruto. Dia memang menawan dan mengagumkan. Karena itu, ia berhasil membuatmu jatuh cinta hanya dalam waktu yang singkat."
"Ya. Dia itu juga baik. Aku menyukainya karena hatinya itu."
"Semoga kamu bisa mendapatkan cintanya, Lailah."
"Terima kasih, Putri."
Lailah menggenggam tangan Alisha usai Alisha melepaskan pelukan. Senyum kembar hadir di wajah mereka berdua.
.
.
.
"Hatsyiii!"
Naruto tiba-tiba bersin ketika sedang berlatih berpedang bersama Sorey dan Mikleo. Ia menghentikan gerakan pedangnya dan menggosok-gosok hidungnya yang terasa gatal.
"Ada apa, Naruto?" tanya Sorey yang juga berhenti melawan Naruto. Di tangan kanannya, tergenggam sebuah pedang.
"Sepertinya ada yang membicarakan aku," jawab Naruto yang mulai memasang kuda-kuda bertarung.
"Siapa?" tanya Mikleo juga. Ia berdiri tak jauh dari pusat pertempuran Naruto dan Sorey.
"Entahlah. Daripada membahas itu, kita lanjut saja latihan ini, Sorey."
"Dengan senang hati."
WHUUUSH!
Sorey melaju kencang seraya melayangkan pedang secara diagonal ke arah Naruto. Laki-laki berambut pirang itu dengan gesit, menghantam pedang Sorey dengan pedangnya.
TRANG! TRANG! TRANG! TRANG! TRANG! TRANG!
Di lapangan terbuka itu, dipenuhi suara dentingan pedang yang saling bertabrakan. Mikleo yang bersidekap dada, menonton dengan santai.
.
.
.
Di desa Vermilion sekarang. Para warga dihantui dengan pembunuh bayaran yang suka membunuh siapa saja yang berkeliaran di malam hari. Warga-warga yang keluar rumah hanya beberapa menit untuk melakukan sesuatu yang penting, tiba-tiba sudah tergeletak dengan tikaman benda tajam yang tercetak di dada kirinya. Darah merah segar berceceran di mana-mana.
Karena itu, semua warga desa takut untuk pergi keluar rumah pada malam hari. Jalanan yang biasanya ramai, mendadak sunyi. Pintu dan jendela semua bangunan tertutup rapat.
Pada malam hari, desa mendadak menjadi desa mati. Semua warga berdiam diri di rumah, berharap situasi yang membahayakan ini bisa terselesaikan dengan cepat.
Dan Guardian Knight diutus untuk menyelidiki siapa pembunuh bayaran yang meresahkan para warga. Mereka datang ke desa, dengan disambut suasana sepi dan sunyi.
"Jadi, kita mencarinya mulai darimana?" tanya Naruto yang menoleh ke kanan-kiri.
"Kita berpencar," usul Alisha. "Aku dan Sorey ke arah sana. Mikleo dan Edna ke sana. Kau, Naruto, pergi berdua dengan Lailah ke arah situ ya."
"Baik, Putri!" balas semuanya.
Keenam orang itu berpencar menuju ke tiga belokan jalan yang dipenuhi bangunan-bangunan berarsitektur rumah adat Belanda di dua sisi jalan. Mereka berencana akan memancing keluar sosok pembunuh bayaran yang akan ditangkap itu.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Sudah setahun lebih, saya menunda cerita ini. Karena itu, menggerakkan hati saya untuk melanjutkannya.
Terima kasih banyak.
Senin, 4 Maret 2019
