Tittle: Marriage not dating
Cast: Park Chanyeol (23yo), Byun Baekhyun (22yo) ,Etc.
Genre: Romance, Drama.
Rating: T-M
.
.
Chanyeol yang menjadi CEO di suatu perusahaan dan terkenal akan ke-brengsek-annya, namun apa jadinya bila dia bertemu dengan yeoja mungil yang membawa dampak baik baginya?
.
.
WARNING! GS FOR UKE. NO BASH. NO COPY-PASTE (?). GASUKA LEBIH BAIK GAUSAH BACA.
.
.
~~ HAPPY READING ~~
.
Baekhyun mengucek matanya dengan punggung tangan secara perlahan, dahinya mengkerut ketika mendapati dirinya yang sudah berada di kamar, terlebih lagi pakaian kantornya masih melekat pada tubuhnya. Dirinya mencoba memutar kembali memory nya, namun tidak bisa. Mungkin saja ini efek dirinya yang terlalu lelah, ia membuang nafasnya perlahan, tangannya seraya mengambil sebuah alarm di nakas meja, dan dirinya cukup tercengang mendapati waktu sudah menunjukan pukul 06.00 pagi. Dan dirinya segera bergegas menuju kamar mandi.
.
"Loh, Baekhyunie?", kaget Nyonya Byun dengan pandangan aneh ketika mendapati anaknya sudah rapih dengan pakaian kantor.
Gantian, kini Baekhyun yang memandang aneh eommanya, "Kenapa? Apa ada yang salah?", tanyanya dengan sangat polos.
"Aigoo, aku lupa memberitahumu, hari ini kau dan Chanyeol harus pergi ke butik. Kalian harus memilih baju mana yang akan dipakai besok. Tenang saja butik itu milik noona nya Chanyeol.", jelas Nyonya Byun seraya menyeret anaknya untuk duduk di sofa.
Baekhyun cukup tercengang mendengarnya, pasalnya ia sangat tahu jika Chanyeol mempunyai satu kakak perempuan. Tentu ini semua ia ketahui karena dirinya adalah 'penguntit setia' seorang Park Chanyeol sejak SHS dulu. Dan lagi-lagi jantungnya berdegup kencang, ia sedikit membayangkan bagaimana dirinya jika bertemu dengan 'kakak ipar' nya nanti.
"Yak! Eomma… aku harus bekerja, hari ini aku harus mengerjakan banyak sekali tugas", elaknya meski hatinya tidak ingin berkata seperti itu. Jujur saja, ia sangat merasa senang saat ini.
"Eomma sudah meminta izin pada Bosmu, dan ia mengijinkannya",
Baekhyun memandang kesal eommanya, eommanya memang selalu saja mempunyai seribu satu alasan dan itu sangat membuatnya jengkel, "Oh, ya eomma.. kenapa tiba-tiba aku bisa di kamar?" tanyanya tiba-tiba dengan ekspresi polosnya.
Nyonya Byun tertawa kecil melihat ekspresi anaknya, "Apa kau benar-benar tidak mengingatnya? Chanyeol mengantarmu pulang, Baek. Tetapi, kau malah tertidur dengan pulasnya di mobil, dan akhirnya ia membawamu masuk ke kamar." jelas Nyonya Byun seraya membalikan halaman majalah yang baru saja ia ambil.
"Ya Tuhan! Ini sangat memalukan. Pasti aku sangat berat," lirih Baekhyun meski wajahnya sudah memanas. Ia sebenarnya cukup senang karena Chanyeol bersikap cukup baik padanya.
"Sudah cepat ganti baju, ingat! Kau harus terlihat cantik di depan suamimu," goda Nyonya Byun yang seketika membuat wajah Baekhyun kembali memerah, Baekhyun bahkan tidak pernah membayangkan akan mempunyai suami seorang Park Chanyeol, ya meskipun pernikahan ini tidak Chanyeol inginkan.
"Yak!", kesal Baekhyun dan berlalu pergi memasuki kamarnya. Demi Tuhan! Ini hanya sebuah perjodohan . . .
.
.
.
Chanyeol memandang kesal eomma nya yang tengah memasak di dapur apartemennya. Tentu, ini semua karena acara tidurnya yang terganggu akibat teriakan eommanya yang tiba-tiba saja terdengar. Demi Tuhan! Ia bahkan baru tidur pukul 2 pagi, dan.. yeah dirinya semalaman menghabiskan waktunya dengan Irene dan sedikit meminum apa yang seharusnya tidak ia minum lalu berakhir di ranjang bersama Irene. Ia bahkan, tidak mengantar kekasihnya pulang, tentu karena dirinya yang sudah terlewat 'teler' dan Irene tidak pernah ingin dan mau menginap, mengingat Nyonya Park selalu datang setiap paginya.
Chanyeol juga merutuki nasibnya, yang lagi-lagi harus menuruti permintaan sang Eomma untuk menjemput Baekhyun. Astaga, bahkan hari ini akan ada meeting. Dan sang eomma mengacaukan segala catatannya untuk hari ini.
"Eomma.. kenapa aku harus menjemputnya!? Ia sudah besar dan bisa pergi sendiri," rengek Chanyeol seraya mengusak rambutnya frustasi. Terkuak sudah sifat Chanyeol ketika bersama sang eomma, merengek layaknya anak kecil dan sangat manja. Sangat berbeda dengan sifatnya di kantor.
"Kau akan pergi dengannya," jawab Nyonya Park dengan kedua tangannya yang masih sibuk di depan kompor.
Chanyeol mendengus kesal, "Apa-apaan! Aku tidak mau!" tolaknya mentah-mentah, meski hati kecilnya ingin sekali bertemu Baekhyun.
"Aish, anak ini! Nanti ajak dia ke butik noonamu, aku sudah bicara dengannya. Nanti kalian tinggal pilih saja baju mana yang kalian pakai esok", ujarnya menjelaskan. Chanyeol terdiam mendengarkan penuturan eommanya, ia sendiri lupa dengan 'pernikahan' bodoh yang akan di gelar esok hari.
"Cepat makan lalu bergegas mandi, kasihan Baekhyunie polosku harus menunggumu terlalu lama," ujar Nyonya Park seraya meninggalkan Chanyeol di ruang makan. Chanyeol memandang kesal sang eomma. Demi Tuhan! Eommanya tidak pernah bersikap seperti ini, bahkan dengan Irene sekalipun.
"Dasar orang tua," kesal Chanyeol dan melahap sarapan paginya cepat.
.
.
.
.
Chanyeol menarik nafas sedalam-dalamnya, dan membuangnya secara cepat. Ini sudah ia lakukan sejak mobilnya berhenti tepat di depan rumah Baekhyun beberapa menit yang lalu. Jantungnya bahkan berdetak dengan kecepatan yang maksimum, dan ia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Setelah ia rasa cukup untuk menormalkan-kembali-detak-jantungnya, akhirnya ia dengan perlahan menuruni mobil meski dirinya sedikit tidak yakin.
.
Baekhyun kini tengah terduduk di sofa bersama sang eomma. Baekhyun bahkan sangat terlihat cantik dengan rok bermotif bunga dan sweater polosnya untuk menutupi bagian atasnya, tidak lupa juga flatshoes yang ia gunakan serta rambut berwarna brown yang ia curly. Tidak salah memang, jika teman-teman kantornya memanggilnya dengan sebutan barbie hidup.
"Baekhyun, eomma dengar kau sudah saling mengenal dengan Chanyeolie ya?", tanya Nyonya Byun dengan sangat tiba-tiba.
"Ne", Baekhyun sendiri tidak tahu harus menjawab apa, ia sedikit takut jika sang eomma mengingat 'kejadian' itu. Kejadian yang sangat langka terjadi tepat di depan mata sang eomma, meski Baekhyun tahu ini semua kesalahannya karena mencium sunbaenim nya di koridor sekolah.
"Eomma seperti pernah melihatnya dulu", terang Nyonya Byun yang seketika membuat tubuh Baekhyun menegang, dugaannya memang tidak pernah salah. Dan untung saja, ini semua sudah ia wanti-wanti sejak kemarin.
Belum sempat Baekhyun menjawab, tiba-tiba saja bel rumahnya berbunyi. Dan ia sangat yakin jika itu adalah Chanyeol. "Ah itu pasti Chanyeolie, sudah cepat temui dia. Titipkan salam eomma untuknya", ujar Nyonya Byun cepat seraya mendorong pelan tubuh Baekhyun agar segera membuka pintu rumah.
"Hai." Baekhyun tidak berbohong bahwa Chanyeol terlihat sangat tampan saat ini. Dengan kaos hitam serta jaket yang menutupinya, serta celana jeans berwarna hitam dan sepatu nike berwarna hitam membuatnya terlihat sangat keren. Dan ini sangat berbeda dengan Chanyeol yang sering ia lihat di kantor.
Chanyeol yang sedaritadi tidak berkedip melihat barbie di depannya, kembali merutuki hatinya dan berharap agar perasaan itu tidak kembali datang kepadanya.
"Ehem", dehemnya berusaha mencairkan suasana, jujur saja ia cukup terpesona melihat penampilan Baekhyun saat ini. "Dimana eommamu?", tanyanya melanjutkan.
"Di dalam, eomma menitipkan salam untukmu", ujar Baekhyun dengan arah matanya yang tidak menatap Chanyeol, ia tidak berani untuk melakukan itu.
"Oh, baiklah, apa ada sesuatu yang ingin kau ambil lagi di dalam?", tanya Chanyeol dengan nada bicara yang sudah tidak lagi dingin seperti kemarin-kemarin.
Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya, tas jenjangnya memang sudah ia pakai sejak tadi. "Kajja".
.
.
.
Chanyeol dan Baekhyun berjalan meninggalkan parkiran, keduanya baru saja sampai setelah 15 menit harus menempuh perjalanan untuk sampai di butik ini. Keduanya masih saja diam dalam pikirannya masing-masing. Tidak ada yang memulai bicara, egois.
Baekhyun tidak henti-henti menggumamkan kata 'wow', butik Luhan memang sangat terlihat menakjubkan. Bahkan desain gaun dan dress yang terpampang disana terlihat begitu cantik dan indah di matanya.
"Annyeong, Baekhyunie?", sapa Luhan ketika mendapati Baekhyun yang sudah berada di depannya, dengan Chanyeol juga di sampingnya.
Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya, Luhan yang berdiri tepat di depannya ini, ternyata beribu-ribu kali lebih cantik dari yang ia bayangkan. Astaga, bahkan ia merasa sudah tidak pantas lagi di gadang-gadang dengan sebutan barbie hidup. "Annyeong, Luhan eonnie", balasnya membuat Chanyeol dan Luhan sedikit bingung.
"Huh? Kau sudah mengetahui namaku?", tanya Luhan tidak percaya.
Baekhyun melebarkan kedua bola matanya, lagi-lagi ia berbuat kesalahan. Dan kali ini cukup membuatnya tergagap dengan sempurna. "Ne, eomma sudah menceritakannya padaku", ujarnya dengan sedikit bumbu kebohongan dan senyuman yang ia buat polos di akhir.
"Aigoo, Baekhyunie imut sekali eoh?", gemas Luhan seraya mencubit pelan kedua pipi tirus Baekhyun. Chanyeol yang berada tepat di samping Baekhyun, ikut tersenyum meski sangat tipis dan tidak ketara.
"Baekhyunie, aku akan menunjukan beberapa gaun terbaiku, dan kau bisa memilihnya", ajak Luhan seraya menggandeng lengan Baekhyun agar mengikutinya.
Chanyeol memandang kedua gadis yang secara perlahan mulai meninggalkannya, ia sedikit tidak percaya, Baekhyun sangat gampang untuk berbaur dengan orang yang baru saja ia kenal. Bahkan saat ini ia sama sekali tidak memikirkan Irene. Entahlah, Baekhyun serasa sudah mengambil alih hatinya, mungkin.
"Ya Chanyeol! Kau sedang kerja sambilan menjadi patung di butiku?", sindir Luhan membuat Baekhyun terkekeh,
Chanyeol yang perlahan mulai tersadar, akhirnya mengikuti keduanya untuk memilih gaun. Meski raut kesal terlihat jelas di wajahnya.
.
Baekhyun, Luhan serta Chanyeol tengah terduduk di salah satu Restorant Korea yang berada tidak jauh dari butik Luhan. Tentu saja, ide gila ini tercetus oleh Luhan. Chanyeol dan Baekhyun sendiri, sudah memilih berbagai macam pasang jas-gaun yang akan dipakai esok. Baekhyun yang kini tengah berbincang dengan Luhan pun sesekali melirik ke arah Chanyeol yang sejak tadi terus memegang telfon genggamnya, bahkan sikap Chanyeol saat ini seolah-olah membuat dirinya terlelap dalam dunianya sendiri.
Chanyeol yang tengah memandang telfon genggamnya, perlahan tersenyum lebar. Layar handphone nya yang menampilkan foto seorang gadis dengan senyum manisnya, membuatnya bertambah tersenyum. Ia seperti terhipnotis ketika melihat foto di depan layar ini. Dan dengan cepat, ia menggeser layar itu. Karena itu panggilan dari Irene.
"Yeobseo?" sapa Chanyeol dengan semangat,
Luhan dan Baekhyun yang tengah sibuk 'mengobrol' dengan spontan terhenti secara bersamaan. Baekhyun menatap pria di depannya ini, lagi-lagi senyum kecut ia berikan seraya menundukan kepalanya. Karena ia sangat yakin, bahwa itu adalah kekasih Chanyeol.
"….."
"Tentu saja aku merindukanmu, kau sedang dimana?" tanyanya seolah tidak ada siapapun di sekitarnya.
Tangan Luhan seketika sangat gatal, ia ingin sekali mencubit dengan kencang kedua lengan Chanyeol, terlebih semburan panasnya serasa ingin keluar. Matanya melirik Baekhyun yang tengah tertunduk, dan saat itu juga ia dapat merasakan sakitnya hati Baekhyun.
"…."
"Aku sedang di restoran korea tepat di depan tempatmu sekarang, kemarilah. Kebetulan aku sedang bersama Luhan noona", ujarnya cepat yang lagi-lagi tidak menganggap keberadaan Baekhyun saat ini.
Baekhyun merasakan seluruh tubuhnya memanas, pelupuk matanya secara perlahan terasa begitu berat, tangannya perlahan bergetar. Dan kini ia, menangis dalam diam.
Setelah terputusnya panggilan itu, Luhan dengan kesal menggebrak meja. Ia tidak peduli tatapan para pengunjung yang memandangnya aneh. Ia juga tidak perduli tengah menjadi pusat perhatian saat ini. Karena ia sangat tahu, Baekhyun sudah mencintai Chanyeol sejak SHS dulu, ini semua tentu ia ketahui beberapa menit yang lalu. Saat Baekhyun bercerita banyak padanya. Dan kini, ia tengah membela 'adik iparnya'.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Park Chanyeol!" bentak Luhan dengan penekanan seraya menyeret Baekhyun untuk keluar dari restoran.
Dan Chanyeol hanya memandang kedua gadis yang keluar restorant dengan pandangan kosong. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
.
.
Luhan membawa Baekhyun kembali ke butiknya, tidak ada sepatah katapun yang ia lontarkan sejak meninggalkan restorant. Baekhyun sendiri sebenarnya cukup terkejut ketika melihat sikap Luhan tadi, dan lagi ia cukup menyesal menceritakan semuanya kepada Luhan. Tapi, bukankah ini sebuah berita yang bagus? Seluruh pihak berada pada dirinya?
"Luhan eonnie", lirihnya dengan takut-takut. Luhan yang berada di depannya saat ini, menarik nafasnya sekali lagi. Dia tidak mengerti dengan sikap adiknya, Chanyeol. Tidak pernah berhenti meninggalkan kebiasaan buruknya.
"Maafkan adiku, aku sebagai noonanya sangat malu dengan sikap dia yang seperti itu", ujarnya dengan sangat pasrah. Ia bahkan yakin jika Baekhyun tidak akan memaafkan sikap adiknya.
"Tidak apa, Luhan eonnie",
Tetapi, Baekhyun sangat-sangat berbeda. Disaat seperti ini dia masih mau memaafkan kesalahan namja kelewat brengsek ini.
Luhan menatap wajah Baekhyun, tidak ada raut kekecewaan di wajah itu. Dan ia sangat yakin, Baekhyun tengah memendamnya saat ini. "Kau . . . kau bilang kau tidak apa? Yak! Byun Baekhyun! Aku tahu kau tengah menahannya!", kesal Luhan.
Baekhyun hanya bisa tersenyum mendengar penuturan kakak iparnya, memang ada benarnya juga, ia tengah menahan sesuatu saat ini agar tidak keluar. "Aku-baik-baik-saja eonnie",
Luhan cukup merasa iba dengan Baekhyun. Gadis itu sangat mencintai adiknya, tetapi adiknya dengan gampangnya mencampakan gadis mungil ini tepat di depannya. Dan sekarang, Luhan sedikit tidak sabar untuk sampai ke rumahnya. Karena ia tahu, hari ini Chanyeol akan pulang kerumah utama. Dan ia siap untuk memakinya.
.
.
.
.
Baekhyun memandang satu-persatu para tamu yang perlahan meninggalkan ballroom dari atas panggung sana. Tangan kekar Chanyeol melingkar pada pinggangnya sejak tadi, dan ia sedikit tidak percaya hari ini bisa ia lewati dengan begitu lancar. Tidak ada gangguan sedikitpun, termasuk Irene. Baekhyun sendiri yang sangat terlihat cantik hari ini, tersenyum dengan tulusnya. Tidak seperti suaminya yang tengah berdiri disebelahnya.
Tunggu.. suami? Hell yeah, keduanya baru saja beberapa jam yang lalu melangsungkan pernikahan. Ini memang pernikahan, tetapi bukan pernikahan yang sebenarnya.
"Baekhyuniee, suami mu bisu? Sedari tadi aku hanya melihatnya terdiam",sindir Luhan dengan tatapan sinisnya.
Perlahan tangan Chanyeol yang berada di pinggang Baekhyun, mulai terlepas. Dan Chanyeol meninggalkan keduanya entah kemana tanpa memberi sepatah katapun.
Baekhyun membuang nafasnya kasar, ini memang berat. "Luhan eonnie, sepertinya para tamu sudah mulai kembali ke rumah masing-masing. Bolehkah aku berganti baju?", tanyanya
"Kajja," ajak Luhan yang lagi-lagi harus melihat wajah polos Baekhyun meskipun ia tahu gadis ini menyimpan beribu luka di dalamnya.
.
Baekhyun yang baru saja selesai berganti baju, dengan cepat mencari Chanyeol yang mungkin masih berada di ballroom sana. Meski ia sendiri tidak yakin dengan tindakannya ini. Mata puppynya yang cukup tajam, perlahan menangkap sosok jerapah itu. Chanyeol, di pojok sana tengah bebicara dengan seorang gadis yang menurutnya seumuran dengannya. Langkahnya sudah berhenti sejak tadi, tubuhnya seakan melemas kembali, dan dengan segenap kekuatannya ia memutar arah agar kembali menuju hotel. Ia tidak ingin secara terus-menerus merasakan sakit ini.
"Baekhyun!"
Lagi-lagi Baekhyun menghentikan langkahnya, ia tahu siapa yang memanggilnya. Dan ia tidak berniat sama sekali untuk membalikan badannya.
"Malam ini aku akan tidur di apartemen, kau tidur saja sendiri di hotel. Ingat, kau tidak boleh memberitahu siapapun. Jika mereka bertanya, katakan saja aku sudah terlelap. Dan besok, aku akan menjemputmu. Kita akan tinggal di apartemen", jelasnya yang hanya mendapat anggukan kecil dari Baekhyun.
Sudah jelas, ini semua memang terasa sulit bagi Baekhyun.
.
.
TBC
Maaf telat, aku baru dapet wifi untuk publish cerita ini hehehe :'D. gimana-gimana? Pusing ya sama ceritanya yang berlibet-libet gini? Aku emang sengaja sih kayak gini, jadi chapter depan baru semuanya akan dimulai *asik*.
Bhaytheway, thank youuuu again for follow, favorite, and review :* . Aku seneng banget serius, dan itu jadi bikin aku semangat untuk ngetik ini hehehe.
.
[Balasan review Chapter 3]
widurilusiana: Iya Chanyeol emang pernah suka sama Baekhyun dulu, dan soal kenapa sikap Chanyeol yang gimana gitu sama Baekhyun.. itu masih rahasia :p
chanmeeh: Ayo coba baca lagi Chapter kemarin hehehe, Chanyeol emang suka sama Baekhyun kok.. Nah kalo soal sikap dinginnya dia ke Baekhyun, itu masih jadi rahasia ya :p
Luhanssi: Chanyeol engga pernah pacaran ya sama Baekhyun pas SHS dulu hehe, kalo soal flashback lagi mungkin di Chapter depan ya. Karna kalo flashback mulu, nanti pada bosen hehe^^
.
Kalo masih ada yang bingung, bisa line aku untuk tanya-tanya *halah wkwk, id line aku: ssafinah . thank youuu sekali lagi^^^^
Review again gais?
