Iringan musik dansa menggema ke seluruh penjuru ruangan. Semua orang berdiri untuk menyambut kedua mempelai yang kini menuruni pelaminan untuk memulai dansa, yang tak lain adalah Viktor dan Maria.

Sebegitu indahnya hingga nyeri di dadaku kembali timbul.

Aku tersenyum. Sebagaimana orang lain tersenyum, saat Viktor dengan mesranya membawa Maria menari mengikuti lantunan nada romantis karya Patrick Doyle. Menghipnotis semuanya untuk bergabung dan menghias aula kapal ini dengan gaun-gaun mekar mahal dan parfum memabukkan dari banyak merek berbeda. Membuatku mual.

"Yuri, kau tak berdansa?" Tanya Hiroko. Aku menatapnya, lalu tersenyum dan menggeleng. "Kurasa aku akan melihat-lihat laut saja."

"Kau yakin?" Tanyanya lagi dan aku kembali mengangguk. Begitulah, kami berpisah usai seseorang menawarinya ajakan berdansa.

Hm. Sampanyenya lumayan.

.

.

.

.

Aku melirik jam tanganku. Pukul 22:17, ternyata sudah dua jam aku ketiduran. Sambil menggigil aku memeluk diriku sendiri dan beranjak dari balkon. "Auch," sengatan kecil di abdomenku. Kurasa aku terlalu banyak minum.

Baru berjalan beberapa langkah di lorong, aku melihat bayangan seseorang di ujung sana. Dari gelagatnya kurasa dia mabuk berat. Yah, harus kuakui kalau makanan dan minuman disini benar-benar lezat, jadi maklum kalau ada yang sampai seperti itu, batinku sambil menjauh. Tapi suara erangan dari toilet itu langsung membuatku kaku. Itu suara Viktor!

"Urggggghhhhhh..." erangnya malas. Bau muntahan langsung menyapaku ketika aku sampai di biliknya. "Argh, Viktor! Kau apakan badanmu!"

"Hehehe, Mascha~" kicaunya lucu. Kalau saja bukan karena muntahannya, mungkin aku akan mempotretnya langsung. "Hah, mengacau di pernikahanmu sendiri? Kau menyedihkan sekali, Tuan Nikiforov." Sindirku sambil membersihkannya dan lantai toilet. Tapi dia tetap meracau. Tak mungkin aku meninggalkannya disini sendirian.

"Maaa~" katanya lagi sambil bergelayut manja. "Sadarlah Viktor, aku bukan Maria. Kau akan malu sendiri kalau istrimu tahu." Tapi dia hanya tertawa. Aku tak punya pilihan lain selain menghela napas dan mengangkatnya ke kamar. Tiga lantai, bersebelahan dengan kamarku. Manis.

"Ah, sayangku, kau kuat sekali~"

"Oh, Viktor, baumu busuk." Serius, napasnya bau sekali. Sedikit emosi, aku meronggoh saku jas dan celananya tak sabaran. Dan dia tertawa! "Viktor, kau kemanakan kunci kamarmu?" Dia malah menjawab dengan muka konyol dan ciuman-ciuman di leherku. Baiklah. Aku nyaris melemparnya di lantai.

"Haaaaaahhhhhhh..." desahku geram. Dan dengan susah payah aku membawanya masuk ke kamarku.

Perlahan, aku ganti bajunya dan kulonggarkan sabuknya, mencoba membuatnya nyaman. Dia masih tak sadar. Kurasa dia sudah lumayan banyak minum saat perayaan. "Maa, cium aku." Katanya sambil memonyongkan bibir. Aku terkekeh. "Sadarlah, Vik, aku bukan Maria." Kataku sambil membasuh wajahnya hati-hati. Lembut, takut menyakitinya.

Usai itu aku mengamati wajahnya lekat. Mungkin ini pertama kalinya aku berada di jarak yang sangat dekat dengan Viktor, mungkin sejak setengah tahun lalu. Usai banquet.

Aku memiringkan kepalaku, mengamati garis rahang dan leher yang dari dulu aku kagumi hingga kini. Seulas senyum aku ukir saat sadar kalau Viktor mengamati serupa, dalam dan intens, penuh keingin tahuan. Tanganku terulur untuk menangkup pipi kanannya sebelum meninggalkan sebuah kecupan sayang di pipi kirinya.

Lama. Lembut. Dan hangat.

Kutarik kepalaku untuk menatapnya lagi dan menidurkannya perlahan. "Aku akan memanggil Maria untuk membawamu," bisikku lirih. Tapi baru selangkah, Viktor lalu menarikku. Kuat, hingga aku berada di kasur. "Viktor?" Panggilku sambil mengerjap. Dengan cepat, aku bergerak bangun untuk menjauh darinya, tapi Viktor lebih kuat. Dia mengkungkungku di bawahnya.

Kudorong badannya kuat hingga dia terduduk, tapi gerakannya yang lebih cepat kembali mengkungkungku. Tawanya membuatku makin sakit. "Kau nakal, Mascha." bisiknya sebelum turun ke bawah. Dengan cepat aku menarik kakiku untuk menendangnya, tapi lagi-lagi Viktor membaca gerakanku. Tatapan memelasnya bagai pisau yang menusuk jantungku dalam-dalam. "Kau benci padaku?" Tanyanya sendu.

Air mataku jatuh. Otakku terjepit antara kembali melawan atau pasrah mengikutinya hingga isakanku menguat. Aku tak bisa apa-apa. Pikiranku kini tidak jernih.

Viktor mengangkat tubuhnya dan menatapku lagi. Tatapannya berangsur menjadi lembut, seperti yang biasanya kulihat dulu. Menyelami pikiranku, merayuku untuk merubah keputusanku secara tak langsung. Napasku terhenti, otot-ototku melemas dan isakanku menjadi cicitan lirih, karena aku kembali tenggelam dalam pesona mata biru itu. Melihat responku dia hanya tersenyum. Tangan kanannya naik dan membelai rambutku, sebelum kepalanya turun dan bibir lembabnya mendarat di atas keningku. Aroma maskulin yang sudah lama tak kuendus, kini menyapa hidungku lagi dengan sensasi yang lebih nyata, yang membuatku semakin pasrah akan perlakuannya.

"Jangan takut." Katanya lembut dan kembali tersenyum. Bibirku membuka, hendak membalas perkataannya dan mengakhiri ini, sebelum dia membawaku dalam ciuman manis di bibirku.

Tak ada kuluman. Tak ada jilatan. Hanya kecupan.

Jantungku berdebar seperti ketika aku pertama melihatnya. Napasku mendadak kembali, membuatku bergerak untuk berpegangan pada bahunya, pasrah pada apa yang bakal dia lakukan. Satu kecupan lagi di bibir, lalu berpindah ke pipi, lalu menjalar ke dagu, turun ke leher, dan semakin turun, semakin turun, hingga ke titik asing yang membuatku bergejolak.

Aku menutup mataku. Tanganku meremat bantal kepalaku sekencang mungkin selagi dia mengerjaiku. Salah mengira bahwa aku adalah pengantin wanita yang sekarang resmi menjadi teman hidupnya hingga akhir karena minuman jahanam. Mengirimku jauh semakin dalam akan dosa kedagingan.

Aku tidak pernah mengira akan sampai ke titik ini, dimana kami bersatu, dengan dia yang memanggil nama orang lain dan aku hanya meringis menahan diri untuk bersuara. Aku pecundang. Aku manusia gagal.

Aku si pelenceng nista yang mencintai suami orang.

--

Yang kuingat selanjutnya, adalah Viktor yang tertidur pulas dan jam meja dengan angka 23:45. Suara pesta di bawah masih sekeras sebelumnya.

Aku menarik tubuhku untuk duduk. Namun baru menggeser kaki sedikit, sebuah sensasi menyakitkan dari pasak tubuh mengagetkanku. Reaksi kagetku itu membuat Viktor mengerang dalam tidurnya dan menahan tubuhku makin erat, menempelkanku makin jadi pada dada bidang pucatnya.

Jantungku kembali berdebar layaknya berlari. Aku ingin, ingin sekali tetap diam seperti ini, meresapi sisa tenagaku dengan aroma kami yang bercampur. Meresapi tiap dengkuran yang dia keluarkan dan kembali tidur dalam dekapannya.

Aku ingin. Ingin sekali. Membuat impianku nyata di kesempatan ini.

Tapi aku sadar diri, aku tak bisa. Aku harus pergi dan menganggap ini tidak terjadi. Aku harus puas. Ini diluar ekspektasiku.

Jadi aku berusaha menahan sakitku untuk duduk. Dari serpihan cahaya lampu luar, terlihat kilauan dari cairan bening yang mengalir turun dari pasakku, diikuti sensasi asing yang entah bagaimana menyurutkan nyeri yang timbul. Kubersihkan tubuhnya. Kupakaikan dia pakaian, dan kuelus pipi kanannya usai aku berpakaian. Kesedihan kembali memaksa air mataku untuk turun, meladeni insting diri pelencengku yang kemayu dan feminim untuk melepaskan emosi. Melampiaskan kekecewaan dan kesenangan yang entah bagaimana telah bercampur menjadi satu.

Dengan keberanian yang ada, aku menarik semua aroma dari rambutnya. Meresapinya dalam-dalam hingga kurasa merasuk ke jiwa dan terekam dalam kepala. Dia bergerak, tersenyum, mengira kalau aku adalah isteri romantisnya. Aku balas tersenyum, sebelum mengecup keningnya penuh sayang...

Dan pergi.

Kuremat dadaku kuat-kuat. Adonan perasaan ini menjatuhkan harga diriku. Beribu suara imajiner menghantam kepalaku dengan sebuah visual menakutkan. Tapi apa dayaku? Aku tidak bisa seenak jidat meminta pertanggung jawaban padanya.

Aku hanya bisa membawa kenangan ini seorang diri hingga nanti. Tanpa seorang pun yang tau. Ahh, dilema. Aku harap ini tidak berbuah.