Beyb kembali dengan ffn yg super duper UGLY ini gais,maaf yak klo dichap kmaren pendek bgt n cm sdikit yg dibhas, smoga kli ini sy gg bkin klian kcewa,

Lets for read… :D :D :D

.

.

.

.

LOVE TO LOVE YOU

Chapter 4

.

Genre : Romance/Hurt/Drama

Pair : ItaIno

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Love To Love You © Beyb Haraka

Cast : Uchiha Itachi (28), Yamanaka Ino (23), Uchiha Sasuke (23),Haruno Sakura (20)

Akasuna no Sasori (28)

And many other

.

.

.

3 Minggu Kemudian

.

.

"Hoek,hoek..ukh"

Sudah sering kali Ino muntah dan mual terus di pagi hari seperti pagi ini, tubuhnya sudah luar biasa lemas dan serasa ingin ambruk, tapi ia terus memaksakan diri untuk tetap bertahan demi tujuannya. Morning sickness yang tiap pagi ia alami sungguh mengganggu dan membuatnya tak berdaya, menghadapi hari-hari yang menyiksa sendirian tanpa ada seorangpun yang mendampinginya selama 3 minggu ini, Ino seperti sebatang kara dan tidak punya siapa-siapa. Kedatangannya ke Jepangpun seolah sia-sia saja, karena selama berada dihotel itu ia hanya mengurung diri dikamar dan terkadang sesekali keluar untuk mencari Sasori.

"engh… aku harus menemuinya malam ini juga, atau kalau tidak dia akan segera pergi" gumam Ino sambil menyeka bibirnya.

Kemarin malam Ino tak sengaja melihat Sasori tengah makan malam bersama seorang wanita di restoran D'Akatsuki, entah suatu takdir atau hanya kebetulan saja, ternyata Sasori tinggal disatu hotel yang sama dengannya, hatinya berteriak kegirangan karena telah berhasil menemukan Ayah dari janin yang sedang ia kandung, namun ia juga sedih karena Sasori ternyata sudah memiliki kekasih yaitu temannya sendiri, Kim Mira. Dan malam ini Ino ingin langsung datang kekamar Sasori untuk meminta pertanggung jawaban atas segala perbuatan yang pria brengsek itu lakukan padanya.

"Sayang… bertahanlah, Ibu pasti akan segera menemukan Ayahmu" ucap Ino berderai airmata sembari mengelus kandungannya yang sudah genap berusia satu bulan itu.

.

Uchiha Corp. Office

Mr. Fugaku's Room

Pagi yang melelahkan bagi Itachi, pukul Sembilan malam kemarin ia baru saja tiba di Jepang setelah dua hari berada di Jerman, lalu pagi hari ini ia harus sudah berada dikantor utama Uchiha Corp. untuk melaporkan hasil kerjasama antara perusahaannya dan salah satu perusahaan properti asal Jerman kepada Ayahnya.

"Kau tampak lesu Itachi" ujar Uchiha Fugaku yang sedang meneliti hasil kerja Itachi.

"Aku lelah sekali Ayah" jawab Itachi malas, ingin sekali ia segera hengkang dari ruangan Ayahnya ini untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan membosankan perihal wanita yang pasti akan Ayahnya tanyakan nanti.

"Kau memang terlihat lelah" Tuan Fugaku menjeda sebentar kegiatannya, lalu menatap Itachi.

"Itu Ayah mengerti, makanya sekarang izinkan aku untuk pergi" pinta Itachi.

"Hhh kenapa kau keras kepala sekali Itachi ?" Tuan Fugakupun mendengus kesal.

"Apa maksud Ayah? Aku yang selalu menurut dan mematuhi semua perintah Ayah, Ayah anggap keras kepala ?" Itachi mulai tak terima dengan statmen Ayahnya.

"Ayah tahu kau ingin segera pergi dari sini untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Ayah tentang pernikahan, benarkan ?"

"Ya Ayah benar, aku sudah bosan mendengarnya" Itachipun memalingkan wajahnya.

"Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Apa kau memang tidak mau untuk menikah?"

Akhirnya Tuan Fugaku menanyakan hal itu juga.

"Bukannya aku tidak mau, tapi belum waktunya Ayah.."

"Belum waktunya katamu? Lantas sampai kapan? Sampai Ayahmu ini meninggal baru kau akan menikah?"

Itachi langsung tertohok mendengar ucapan Ayahnya.

"Ayahhh kenapa bicara seperti itu?" Tanya Itachi dengan tatapan tajam pada Ayahnya.

"Ayah hanya ingin melihatmu segera menikah dan memberikan Ayah seorang cucu yang lucu, Ayah ini sudah tua Itachi… bagaimana jika sesuatu terjadi pada-"

"Wakatta yo Wakatta, sekarang apa yang Ayah inginkan?" Itachi menyerah, jika Ayahnya sudah bicara seperti itu ia tak sanggup lagi untuk menolak.

"Berjanjilah pada Ayah terlebih dahulu" Tuan Fugaku menahan senyum geli melihat wajah takut Itachi.

"Janji apa?" Tanya Itachi.

"Berjanji saja, nanti jika sudah waktunya Ayah akan memberi tahumu"

"Janji apa Ayahhh? Jangan membuatku bingung" Itachipun mulai kesal.

"Ayah bilang berjanji saja, kau ingin membantah Ayah?"

"Baiklah-baiklah aku berjanji pada Ayah, aku akan menuruti keinginan Ayah, Ayah puas sekarang?" ungkap Itachi yang mulai pasrah.

"Nah itu baru anakku, sekarang kau boleh pergi, dan ingat jika kau punya satu janji pada Ayah Itachi" Tuan Fugakupun tersenyum puas, senangnya bisa mengerjai si sulung.

"Terserah Ayah, aku pergi dulu, sampai jumpa" pamit Itachi, lalu segera pergi meninggalkan ruangan Ayahnya.

'Siap-siap saja Itachi, Ayah akan menjodohkanmu dengan anak dari sahabat Ayah nanti' gumam Tuan Fugaku dalam hati dengan senyuman puasnya.

LOVE TO LOVE YOU

Tokyo Univercity,

"Terimakasih sudah mengantarku Sasuke-kun" ucap Sakura setelah turun dari Outlander Sport putih milik Sasuke.

"Hei-hei kita sudah dua tahun pacaran, kenapa kau masih merasa sungkan padaku seperti itu?" ungkap Sasuke sambil mengacak-acak rambut panjang gadisnya.

"Ihhhh Sasuke-kuuunnn… apa yang kau lakukan pada rambut indahku? Kenapa kau suka sekali mengacak-acaknya?" protes Sakura tak terima, gadis bermarga Haruno itupun segera membenahi rambutnya agar tetap rapi seperti semula.

"Habis kau menggemaskan sekali, dan juga supaya kau terlihat jelek didepan pria-pria yang suka menggodamu dikampus" ujar Sasuke, lalu ia kembali bertindak jahil dengan mencubit pipi Sakura.

"Awww… Sasuke-kun sakit baka!" pekik Sakura kesakitan, lantas ia langsung memukul bahu Sasuke dengan kesal.

"Jangan nakal dikampus ya Pinky" Sasuke tak memperdulikan ucapan Sakura, kini pria tampan itu malah mengelus pipi merah Sakura yang ia cubit tadi.

"Tidaaak!"

"Hn baguslah, sekarang cepat masuk sana" suruh Sasuke.

"Um, nanti tidak usah menjemputku ya, karena Ibu yang akan menjemputku"

"Hn? Untuk apa bibi Shizune menjemputmu?" delik Sasuke heran.

" Jangan berfikir yang macam-macam dulu.. Ibu ingin agar aku menemaninya untuk belanja bulanan di Department Store megahmu itu, makanya dia menjemputku" ungkap Sakura memberi pengertian.

"Ohhh aku kira kau masih anak mama" ujar Sasuke sambil menahan senyum gelinya.

"Enak saja!" Sakura menggertakan giginya kesal.

"Baiklah, kalau begitu aku harus segera pergi kehotel"

"Iya!" angguk Sakura mengerti.

"Sebelum kita berpisah" Sasukepun memberikan isyarat dengan menekan-nekan pipi kanannya dengan jari telunjuk.

"Apa?" Sakura pura-pura tak mengerti.

"Jangan belaga bodoh Sakuuu"

"Aku malu Sasuke-kun" geleng Sakura.

"Cuma dipipi saja, tidak usah malu" bujuk Sasuke.

"Aku malu kalau disitu, tapi..." Sakura tak melanjutkan ucapannya.

"Tapi?" Sasuke makin tak mengerti.

"Kalau disini aku tidak malu" Ucap Sakura dengan cepat, sebelum ia mengecup bibir tipis Sasuke dengan cepat pula, gadis cantik yang memiliki tubuh seperti model itupun langsung berlari menuju gedung kampusnya meninggalkan Sasuke yang masih menganga tak percaya.

"Hahhh... gadis itu, suka sekali memberiku kejutan seperti ini" Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis fikir dengan senyuman tipis yang menawan, si sulung Haruno itu benar-benar suka sekali mengerjainya.

Beberapa detik kemudian iapun langsung masuk kembali kedalam mobil, menstarternya, dan melajukannya menuju D'Akatsuki Hotel untuk bertemu Itachi, selama perjalanan menuju hotel, Sasuke sudah tidak sabar untuk menanyai kakaknya perihal mengenai hubungannya dengan si gadis cantik dari Korea Selatan itu. Selama ini ternyata Itachi sering curhat kepada adiknya mengenai rasa ketertarikannya pada Ino, Sasuke juga sudah tahu bagaimana wajah Ino, iapun mengacungi jempol atas wanita pilihan sang kakak yang menurutnya sangat baik dan hampir sempurna, tak disangka-sangka bahwa kriteria Itachi oke juga.

Dan selang beberapa menit akhirnya Sasukepun tiba di D'Akatsuki Hotel.

.

D'Akatsuki Hotel

Hoshigaki's Bed Room

.

Saat ini Itachi tengah merebahkan tubuh lelahnya diatas ranjang King Size yang berwarna perpaduan antara krem dan coklat tua, pria bertubuh indah itu masih menghuni kamar Kisame sampai saat ini, sudah tiga minggu ia menempati ruangan yang tak kalah mewahnya itu sendirian, namun tak sepenuhnya, karena beberapa kali Itachi sempat pergi keluar negeri untuk mengurusi kerjasama di lima negara yaitu, Rusia, Uni Emirates Arab, Canada, Inggris dan juga Jerman, jadinya ia hanya enam hari menempati kamar Kisame, itupun tidak berurutan.

"Kenapa aku sangat merindukannya..." gumam Itachi, menghela nafas kesal dan membanting ponselnya kekasur dengan geram, fikirannya dipenuhi dengan bayang-bayang Ino saat ini, entah kenapa ia merasa sangat-sangat merindukan wanita Korea itu, bahkan ia sempat tak konsen bekerja selama berada di Jerman karna terbayang-bayang terus dengan wajah dan senyuman indah Ino.

Setelah pertemuan pertamanya dengan Ino saat itu, Itachi sudah jarang sekali bertemu lagi dengan wanita cantik itu, malah jika ia menyapa atau menegur Ino saat berpapasan, wanita itupun sama sekali tak mau menoleh kearahnya seperti orang yang tidak pernah mengenali Itachi sama sekali, Ino benar-benar sudah berubah sekarang, ia tak lagi seramah dulu ketika pertama kalinya bertemu dengan Itachi, Ino seperti terkesan menghindar dari Itachi, wanita itu selalu menjauh dan menutup diri, Itachi jadi semakin penasaran dengan sikap Ino, kenapa Ino seolah tak mau lagi bertemu dan mengenalnya, apakah Ino membenci Itachi? Tapi benci karena apa?

"Apa sebenarnya tujuan wanita itu datang kemari?" tanya Itachi pada dirinya, ia tak pernah merasa segila ini dalam memikirkan seorang wanita, tapi Ino, baru pertama bertemu saja sudah membuat jantung Itachi seakan ingin keluar dari tempatnya.

"Ino..." ucap Itachi lirih, ampun Kami, ia sungguh-sungguh merindukan Ino saat ini.

"Tenang saja.. Ino-chan belum pulang ke Korea kok" seru sebuah suara yang tiba-tiba datang dan sontak membuat Itachi menoleh kearahnya, ternyata itu adalah suara Sasuke.

"SASUKE NO BAKA" setelah mengetahui jika itu Sasuke, Itachi langsung melemparkan bantal kearah wajah sang adik yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya dengan keras.

"Eits" untung Sasuke berhasil menangkapnya.

"Kenapa kau tiba-tiba bisa masuk bodoh?" Itachi kesal sekali, sudah moodnya sedang jelek saat ini ditambah dengan kehadiran Sasuke yang menjahilinya, menjadikannya semakin ingin berteriak frustasi saja.

"Kakak lupa jika aku membawa duplikat Key Card ini?, tentu saja aku bisa masuk" Sasukepun duduk didepan Itachi.

"Tapi aku juga punya privasi, kau bisa mengetuk pintu dulu kan sebelum masuk kesini? Apa kau tidak pernah diajari so-"

"Iya-iya gomen, sudah jangan berpidato lagi, aku sedang malas mendengarkannya" sahut Sasuke sambil menutup kedua telinga.

"Ada perlu apa kau kemari?" tanya Itachi to the point.

"Semalam kau baru pulang dari Jerman kan? Sekarang mana oleh-oleh untukku?" tanya Sasuke.

"Sudah sebesar ini kau masih menginginkan oleh-oleh dariku?" Itachi berbalik tanya keheranan.

"Kau itu dari Jerman kak, setidaknya bawakan aku salah satu BMW, Mercedez Benz ataupun Audi misalnya?"

"Hn, jangan harap lagi penggila otomotif, sudah cukup aku membelikanmu Ferrari, Aston Martin, Bugatti dan juga Pagani, lalu mau kau apakan lagi mobil-mobil itu ha? Kau saja tidak pernah membelikanku mobil, hanya Jam tangan Swiss seharga 800.000 Yen yang aku dapatkan darimu" ujar Itachi yang sukses membuat Sasuke menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Untuk apa aku membelikanmu mobil? Kaukan lebih kaya dariku" Itachi tersenyum geli mendengar jawaban dari adiknya.

"Kau memang pelit Sasu" ungkap Itachi datar.

"Cih!" dan Sasuke hanya memalingkan wajahnya kesal, Itachi selalu saja mengatainya pelit, padahal sekarang Sasuke sudah berubah.

"Oke, jujur saja, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Itachi penuh selidik.

"Apa kau sudah berhasil menemuinya?" Sasukepun memulai tujuan pembicaraanya.

"Siapa?"

"Tentu saja dia, si wanita Barbiemu"

"Belum!" Itachi menggeleng pelan, ia kembali teringat Ino.

"Kenapa?" tanya Sasuke penasaran, kenapa kakaknya ini bergerak lamban sekali.

"Bagaimana bisa bertemu jika hanya kusapa saja dia langsung menunduk dan menghindar" jawab Itachi tersenyum miris.

"Kenapa dia jadi berubah seperti itu?"

"Mana kutahu, aku juga tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba bisa bersikap seperti itu padaku" Itachi kembali mendengus frustasi.

"Kakak merindukannya?" Sasuke benar-benar prihatin melihat kakaknya yang tengah frustasi itu.

"Sangat"

"Kau benar-benar sudah jatuh cinta padanya ternyata" ungkap Sasuke.

"Entahlah..."

"Teruslah berjuang, aku sangat mendukungmu" ujar Sasuke memberi semangat pada kakaknya.

"Hn, tentu saja!" Itachi hanya tersenyum tipis menanggapinya.

.

LOVE TO LOVE YOU

.

Malam hari telah tiba, memperlihatkan sosok wanita cantik berambut pirang yang tengah duduk disebuah kursi panjang dengan berderai airmata, wanita itu ternyata tengah berbicara melalui telefon dengan seseorang diseberang sana, Ino yang berada tak jauh dari kamar Sasori itu ternyata sedang merencanakan sesuatu yang sebentar lagi akan ia lakukan.

"Apa kau yakin jika aku bisa melakukannya?" Tanya Ino pada Ah Yun.

("Bisa tidak bisa kau tetap harus melakukannya Ino, ini sudah tiga minggu, apa lagi yang ingin kau tunggu?") jawab Ah Yun yang mulai kesal.

"Ta-tapi-"

("Tak ada tapi-tapian, kau harus menemuinya saat ini juga, jadilah wanita yang tegar dan kuat Ino, jangan terus-terusan menjadi lemah seperti ini")

"Hmmmhh, baiklah aku akan melakukannya" Ino menyeka airmatanya dan mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, Ah Yun benar, ia harus kuat dan tegar.

("Baguslah kalau begitu, sekarang aku tutup telefonnya ya")

"I-iya"

Tut-tut-tut…

Dan sambungan telefon antara Ino dan Ah Yunpun terputus.

Lantas Inopun berusaha menguatkan diri, meyakinkan hati dan membulatkan tekatnya, ia berdiri dengan wajah yang tegar, berjalan dengan pasti menuju kamar Sasori yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk tadi. Dan selang beberapa detik kemudian, iapun akhirnya telah sampai didepan kamar bernomor 299 yang terletak di lantai 30.

'kau bisa Ino, kau harus bisa' Seru Ino dalam hati dengan mata terpejam, dan setelah membuka mata, dengan mantap iapun langsung menekan bel kamar Sasori .

.

Sasori's Bed Room

"Kalau kau pergi ke Okinawa lantas aku bagaimana Saso-kuuuunn?" rengek Mira dengan manja, ia memukul-mukul dada Sasori dengan gemas diatas ranjang yang sedang mereka tempati berdua..

"Akukan sudah bilang bila ini urusan bisnis, aku tidak liburan Mira" Sasoripun mencengkram kedua tangan Mira yang tak henti-henti memukulinya.

"Tapi-"

"Dengar, aku hanya satu bulan disana untuk memantau pembangunan proyek kondominium mewah yang baru saja aku dirikan, aku harus mulai aktif lagi Chagi, lagi pula kau sudah menandatangani kontrak kerja selama dua bulan dengan salah satu agensi Majalah Fashion yang ada di Tokyo, jadi tidak mungkin aku mengajakmu" ucap Sasori sambil menangkup wajah kekasihnya.

"Hum, aku mengerti" Mira mengangguk dengan lesu.

"Jangan sedih seperti itu, aku janji akan menelfonmu setiap hari" Sasori mencoba mengembalikan keceriaan Mira dengan merengkuhnya erat.

"Ne," Mirapun hanya mengangguk dan menelusupkan wajahnya didada bidang Sasori.

Ting-tong

Bel yang sedari tadi tak digubris Sasori kini terdengar lagi.

'Jangan-jangan itu dia' gumam Sasori dalam hati.

"Sebentar Mira, aku akan melihat siapa yang datang malam-malam begini kekamar kita" Sasori mencoba untuk melepaskan pelukan Mira.

"Unghhh tapi…." Mira tak rela Sasori pergi.

"Jangan mulai lagi Mira!" Sasori sedikit membentak kekasihnya itu agar mengerti.

"Iya-iya" Mirapun menunduk takut,

Dan Sasori segera beranjak menuju pintu masuk kamarnya untuk mengecek siapa yang datang malam-malam begini. Setelah pria maskulin itu tiba didepan pintu, iapun segera membukanya. Dan alangkah terkejutnya Sasori ketika melihat siapa yang datang.

"Kau?" ucap Sasori dengan tatapan tajam kepada sosok wanita didepannya.

"Sasori-kun" gumam sang wanita yang ternyata adalah Ino.

"Hn, kau berani juga ya datang kesini"

"Kenapa kau meninggalkanku?" Tanya Ino to the point dengan tubuh yang tegang, mata yang berkaca-kaca, perasaan yang sakit dan sedikit lega karena ia sudah berhasil menemui Sasori setelah tiga minggu lamanya berada di Jepang.

"Kenapa ya.. aku hanya merasa bosan saja bersama wanita sepertimu" ungkap Sasori yang langsung membuat Ino terbelalak tak percaya, tega sekali Sasori mengatakan hal itu padanya.

"Ke-kenapa kau bicara seperti itu…padahal aku..aku kesini untuk me-"

"Untuk apa pelacur?" Tanya Sasori dengan menekankan nama 'pelacur', dan itu membuat Ino langsung mendelik serta menatap tajam kearah Sasori, seumur-umur baru kali ini Ino dikatai seperti itu, benar-benar menyakitkan.

"Pe-pelacur?" kedua kaki Ino serasa lemas, airmatanya sudah jatuh kemana-mana, ia sungguh tak terima Sasori mengatainya sebagai seorang pelacur.

"Lalu apa kalau bukan pelacur? Wanita jalang? Atau… wanita penggoda?" hina Sasori dengan seringaian remehnya, ia semakin senang melihat ekspresi kehancuran diwajah Ino.

"Sa-Sasori a-apa maksudmu?" Suara Ino bukan malah meninggi karena emosi, tapi malah semakin lirih karena tak kuat dengan semua beban yang menimpanya bertubi-tubi, ia tahan kuat-kuat isakannya meskipun ia sudah tidak tahan lagi ingin menangis sekencang-kencangnya.

"Aku sudah mengetahui tentang maksud tujuanmu datang kemari, kau ingin menemuiku untuk meminta pertanggung jawaban kan?" ucap Sasori tanpa keraguan sedikitpun.

"I-itu…" dan Ino hanya bisa menunduk mendengar ucapan Sasori yang tepat sasaran itu.

"Jangan pernah mencoba berharap ataupun bermimpi jika aku akan mau melakukannya, kau sebaiknya pergi saja, enyahlah dari hadapanku sekarang juga, kau hanya mengganggu ketenanganku saja disini" usir Sasori tanpa belas kasihan.

"Ta-tapi.. kau bilang kau mencintaiku?" ungkap Ino dengan suara bergetar.

"Apa? Cinta? Kau sudah gila ya? Kita baru kenal seminggu, lantas kau bisa percaya begitu saja pada orang yang baru saja kau kenal selama seminggu? Astaga… kini aku benar-benar percaya bahwa kau ini tak hanya seorang wanita yang lugu, tapi kau juga BODOH dan GAMPANGAN, kau tahu" Sasori semakin gencar menghina Ino.

"Sasori-kun" Ino hanya mampu mendengarnya tanpa bisa membalas perkataan-perkataan kejam Sasori kepadanya, wanita itu tampak terlihat begitu menyedihkan.

"Pergi sekarang atau aku panggilkan security untuk menyeretmu dari sini" ancam Sasori dengan nada tinggi.

"Tapi ini anakmu…" gumam Ino semakin lirih, namun masih bisa didengar oleh Sasori.

"Pergi" usir Sasori tak tahan lagi.

"Sasori-kun aku-"

"Baiklah jika itu maumu" dan Sasori segera mengambil ponselnya dari saku celana, menekan beberapa digit nomor untuk menghubungi Security D'Akatsuki Hotel.

"Dia adalah darah dagingmu Sasori-kun"

"Tolong datang kekamar nomor 299 dan ajak beberapa Security kesini, ada seorang pelacur yang tengah mengamuk disini" ujar Sasori pada salah satu customer service dibalik telefonnya.

"Kenapa kau sangat kejam padaku, apa salahku?" Tanya Ino dengan tatapan kosong.

"Sebentar lagi Security akan datang kemari untuk mengusirmu pergi dari sini, jadi bersiap-siaplah untuk menjadi seorang pelacur jalanan di Jepang, aku jamin setelah ini kau pasti akan banyak mendapatkan tawaran untuk menjadi model bagi majalah porno disini, jadi kau tak perlu lagi untuk memintaku agar bertanggung jawab dan ikut campur untuk mengurusi bayi bodohmu itu, karena kau pasti akan menjadi wanita pelacur yang sangat kaya dan tak membutuhkan aku lagi" Jelas Sasori tanpa memperdulikan pertanyaan Ino, kata-kata pedas yang terlontar dari pria bengsek itu begitu sangat kejam dan menyayat-nyayat hati Ino yang semakin hancur berkeping-keping.

"Cukup jangan diteruskan lagi" Ino menutup kedua telinganya dengan tangan bergetar, mencoba untuk tak mendengarkan ucapan-ucapan menyakitkan yang terlontar dari bibir Sasori.

"Nah..mereka sudah datang, bersiap-siaplah untuk segera menikmati kehidupan barumu yang pasti akan sangat kejam dan penuh dengan penderitaan, Ino-chan" Sasori tersenyum puas ketika melihat beberapa Security tengah berjalan kearahnya dengan seorang pria yang ternyata adalah…

"Ino-san…"

DEG

Suara itu…

.

.

To Be Continued…

Kira-kira itu suara siapa ya readers….

Uwaaaaa nantikan chap. Selanjutnya, \^o^/