Love At First Sight

Pairing : Soonyoung X Jihoon / Mingyu X Wonwoo

Length : Multi-Chapter

Rating : M (16+)

Warnings : Typo(s), pemborosan kata, alur tidak jelas (Maklum yang buat
masih belajar hehehe)

ada spesial Meanie scene nya


HAPPY READING GAYS


.

.

.

Sebentar lagi Soonyoung sampai di taman gangnam.

Sebenarnya ia sudah sedikit telat—karena diperjalanan tadi ia sempat berhenti disebuah toko untuk membeli cake yang katanya menjadi makanan dessert favorite Jihoon

Dan sekarang soonyoung jadi sedikit kelabakan.

"baru kencan kedua, sudah mengacau,"

"bagus sekali, Soonyoung." Soonyoung mengumpati diri nya sendiri

Si Pria kapten basket akhirnya sampai digerbang taman gangnam—dengan banyak buliran keringat yang mengalir di tenguk leher dan keningnya.

Si pria tinggi langsung saja masuk ke taman dan mencari – cari keberadaan si pria pendek.

Aha itu dia disana

Berdiri disamping lampu taman yang masih belum menyala—oh tidak sekarang sudah menyala—Menandakan kalau hari gelap sudah tiba.

"Lee Jihoon!" Soonyoung berteriak dan melambaikan tangan

Yang dipanggil menoleh

Soonyoung mendekat kearah Jihoon "Jihoon-ah, maafkan aku." Pria tinggi langsung bersuara

"Sekali lagi maafkan aku, Jihoon-ah.." Soonyoung bersuara lagi dengan nafas sedikit sesak karena kehabisan nafas

Jihoon menatap bingung pria dihadapan nya

"Maaf untuk apa, Kwon?" Si Pria pendek membalas santai

"Maaf hah .. maaf karena aku telat. Maaf karena sudah membuat mu menunggu" Soonyoung mendekat kearah Jihoon, memasang ekspresi wajah super sedih

Namun yang didekati hanya tertawa setelah mendengar permohonan maaf Soonyoung

Sekarang Soonyoung yang bingung

"Uh.. Kenapa kau tertawa?" Soonyoung melempar tanya

Tidak dijawab karena masih sibuk tertawa

"Hei Jihoon-ah, kenapa kau tertawa?"

Yang sedari tadi sibuk tertawa mulai mengambil nafas dan diam

"Kau sangat lucu, Kwon." Akhirnya Jihoon menjawab

Soonyoung masih tidak mengerti, "maksudmu apa yang lucu, hm?" Soonyoung lebih mendekat kearah Jihoon bahkan sekarang pundak mereka menyatu

"kau sangat lucu karena kau terlalu panik, Kwon."

Tertawa sebentar lagi

"Aku baru saja sampai beberapa menit sebelum akhirnya kau kkk berteriak memanggil namaku kkk dengan ekspresi wajah kkk yang sangat menyedihkan." Jihoon menjelaskan, masih disela dengan bunyi kikikan (read :ketawa)

Soonyoung akhirnya mengerti

Dan dia hanya merespon Jihoon dengan tawaan konyol khas miliknya

"kau berhasil membuatnya tertawa, Soon. Kerja bagus." Sekarang dia memuji diri sendiri

Kedua insan ini masih terus tertawa

sampai akhirnya Soonyoung mengingat ada barang bawaan yang sedari tadi ia genggam—Sekotak Marsh Chocolate Cake untuk Jihoon dan sebungkus Apple Mint Pie untuk nya.

"hei, Jihoon. Apa kau lapar?" Soonyoung mengganti topic

"mungkin saja," Jihoon menjawab, kali ini tidak sedingin biasanya.

"kalau begitu, ayo ikut aku." Pria tinggi tersenyum

Soonyoung mengambil kesempatan— ia mengulurkan tangan kanan nya kearah Jihoon, tanda meminta izin untuk mengenggam tangan si pria imut

Soonyoung akan mencoba lagi

Hening Sejenak, Jihoon menatap diam.

"kita berjalan biasa saja, Kwon." Jihoon mengadah

Oh kasihan, Soonyoung masih ditolak.

Pria Kwon berusaha memaklumi, "oke tidak masalah, hehehe." Si tinggi kembali menurunkan tangan kanan nya yang baru saja ditolak secara sopan

Kemudian berjalan bersama menuju tempat yang masih dirahasiakan Soonyoung.

.

.

.

"kemana pria ini membawa ku?"

Soonyoung membawa Jihoon cukup jauh hingga kedua kaki kecil nya terasa mau copot.

Sejauh mata memandang, yang Jihoon lihat hanyalah sekumpulan rumah – rumah semi mewah yang terpakir rapih disebuah lahan yang lumayan besar—jika dilihat dari mata Jihoon. Pohon – pohon cemara dewasa tumbuh subur disepanjang tembok pembatas besar yang diatasnya ditanami kawat – kawat tajam guna menyangkal pencuri.

Soonyoung hanya diam sembari terus menuntun Jihoon agar tetap membututi nya. tak jarang pria kwon sengaja menoleh kearah Jihoon, antisipasi jika saja pria kecil itu kabur dari nya.

"Kau tidak penasaran?" Soonyoung memecah keheningan

Merasa ada yang mengajak bicara, secara refleks Jihoon menoleh kearah datang nya suara. Itu suara dari pria yang sedari tadi ia buntuti, Kwon Soonyoung.

"eh, apa maksudmu penasaran?" Jihoon menjawab

"Penasaran dimana ini sekarang, Lee." Soonyoung meluruskan

Pria yang ditanya hening, ia hanya menggeleng lucu setelah itu menegak air minum botol yang tadi dibelikan Soonyoung

Soonyoung menatap Jihoon sebentar. Meneliti tubuh kecil Jihoon dengan seksama. melihat wajah imut Jihoon yang sedikit memerah karena kedinginan. Kemudian setelah puas 'memandang' ia kembali meluruskan pandangan nya—dengan sebuah senyum manis yang terukir di bibir. "Kau sangat berbeda tetapi aku suka, Lee Jihoon"

"kita menuju ke tempat rahasia." Ucap Soonyoung

Dibalas dengan tatapan bingung dari Jihoon

"apa maksudmu rahasia?" Jihoon kemudian bertanya

Soonyoung hanya tersenyum gemas

Kemudian ia bersuara, "kau lihat saja nanti, Lee. Ini akan sangat menyenangkan, percaya padaku." Soonyoung memastikan Jihoon

Dan Jihoon hanya mengangguk mencoba terlihat paham—padahal tidak sama sekali.

"Baiklah, Kwon Soonyoung.." Ucap Jihoon sangat pelan; bahkan Soonyoung tidak bisa mendengar nya.

Bohong jika Jihoon tidak merasa takut.

Sedari tadi Jihoon terus menatap sekeliling dengan tatapan waswas, antisipasi jika seseorang tiba – tiba saja menyerang.

Seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan, Jihoon tidak tau dimana ini sekarang.

Karena kebutaan nya dengan tempat yang sedikit mengerikan ini membuat Jihoon sedikit khawatir. Jujur saja sedari tadi Jihoon terus memikirkan hal – hal buruk yang mungkin saja akan menimpa nya

"Kemana Soonyoung akan membawaku? Sebenarnya tempat apa ini?"

"Oh tidak, apa jangan – jangan dia ingin menculikku? Dia ingin menjual organ tubuh ku?!" Batin Jihoon, takut dengan imajinasi nya sendiri.

Ayolah Lee Jihoon, itu terlalu menyeramkan!

Oke tetapi tetap saja Jihoon masih takut. Kedua tangan nya sibuk diadu oleh sang empu. Keringat dingin mulai muncul di pelipis kening kecil nya. Jihoon semakin saja khawatir. Ia mulai merasa ragu untuk terus membuntuti sosok tinggi didepan yang sedari tadi jadi pemandu nya.

"here we go, Jihoon-ah."Tiba – tiba si pemandu bersuara

Jihoon yang sedari tadi menunduk takut refleks saja mengangkat kepalanya kearah sumber suara. Ah ternyata dia sudah sampai? Dia sudah ada diujung jalan gang kecil yang gelap karena kurang penerangan. Daun – daunan kering berserakan bebas dijalan berbatu kerikil. Dan tampak sebuah tangga bawah tanah tak terurus yang mungkin menjadi tempat 'rahasia' yang dimaksud Soonyoung.

"tem.. tempat apa ini, Kwon?" Jihoon bertanya dengan suara bergetar kecil

"Ayo kita masuk saja dulu." Soonyoung tidak menjawab pertanyaan Jihoon. pria tinggi itu kemudian berjalan menuju tangga bawah tanah yang semakin lama semakin terlihat mencengkam saja.

Tentu saja Jihoon tidak punya nyali untuk membuntuti Soonyoung lagi. Pikiran buruk semakin menjadi di kepala kecil nya. oke itu memang berlebihan tetapi sudah dibilang kalau Jihoon memang seperti itu.

"Hei ada apa? Ayolah," Soonyoung menoleh kebelakang. Ia bisa melihat wajah ketakutan Jihoon dari kedua mata sipit nya

itu wajar menurut Soonyoung.

"Aku tau kau ketakutan tapi percayalah, semua akan baik – baik saja." Pria tinggi mendekati Jihoon, mengelus kecil rambut si manis. tidak lupa sebuah senyum lebar ia lemparkan agar meyakinkan sosok disebrang yang nampak ketakutan.

Wajah Jihoon jadi merah padam

"Huh.. baik kwon baik, kau jangan banyak bicara." Jihoon mendengus kecil. Ketakutan di wajah nya mulai sirna setelah melihat senyum pria Kwon yang menyejukan hati.

Jihoon yang tidak ingin terlihat lemah dihadapan si tinggi memutuskan untuk berjalan lebih dahulu menuju tangga bawah tanah. Ia membiarkan Soonyoung— yang kemudian juga ikut menyusul nya.

Soonyoung dan Jihoon sudah sampai diujung tangga yang paling dasar. Kemudian Soonyoung berjalan maju satu langkah, dan mengeluarkan sebuah kunci kecil dari saku belakang celana nya. kunci itu kemudian dipakai untuk membuka pintu besar usang yang ada dihadapan mereka.

Setelah pintu dibuka paksa—Jihoon kagum luar biasa

"Selamat datang di basecamp tim basket ku." Soonyoung dengan bangga memperkenalkan tempat rahasia yang sebelum nya terus ia rahasiakan dari Jihoon.

Jihoon terpana.

Tidak percaya ada tempat seperti ini dibawah permukaan tanah.

Sebuah ruangan yang lumayan besar dengan warna dinding biru navy terlihat sangat mencolok.

Kalau dilihat – lihat, basement ini terlihat sama seperti taman arcade mini. Selain lemari besar berisi penghargaan, terdapat pula empat buah mesin permainan basket yang apalah itu nama nya terpakir megah di sudut ruangan. Selain itu terdapat pula sofa panjang warna merah dengan proyektor besar yang terlihat nyaru dengan warna dinding.

Tidak menyesal Jihoon ditarik paksa Soonyoung ketempat ini

.

.

.

Mingyu sedang malas.

Ia menatap tidak suka tv yang sedari tadi menyala. Kedua kakinya dibiarkan kaku diatas ranjang besar bewarna putih sementara punggung badan nya disenderkan pada board bewarna coklat yang terlihat mewah dengan ukiran – ukiran khas korea.

Banyak bungkus makanan kosong yang berhamburan diatas ranjang menemani Mingyu. Bungkus makanan itu sudah ada disana sejak tadi pagi. Namun sang empu enggan untuk membersihkan—ah tidak ia bahkan enggan untuk sekedar memindahkan bungkus makanan itu kelantai.

Semua terlihat kacau. Handuk dan pakaian kotor menumpuk dilantai meminta untuk segera dibersihkan. Namun mingyu benar – benar tidak peduli. Ia hanya melirik tumpukan pakaian itu tanpa minat.

Astaga ini semua sangat kacau.

"Oh, Sudah malam ya?" Mingyu yang sedari tadi termenung baru menyadari kalau waktu sudah menunjuk pukul 9 malam.

Mingyu menghela nafas. Sekarang ia benar – benar sedang malas untuk bergerak.

Tit.. Tit.. Klarkk!

Pintu apartemen Mingyu tiba – tiba saja dibuka. Mingyu yang baru saja berniat untuk tidur sontak terkejut. Rasa kantuk nya langsung sirna begitu saja.

Kedua mata nya terbuka lebar, langsung saja bersiaga untuk menyerang orang yang kemungkinan besar adalah 'penguntit' , yang akhir – akhir ini terus mengusik hidup nya.

Hening saat itu. Mingyu tidak bersuara agar tidak mengalihkan perhatian.

"Astaga, Kim Mingyu!" Suara berat seorang pria tedengar lantang ditelinga nya

Mingyu hening. ia masih mencerna suara orang yang tadi meneriaki nama nya. suara itu tidak terdengar asing di telinga.

"Jeon Wonwoo?"

Mingyu makin menjadi. Tubuh besar nya langsung saja melompati kasur dan keluar kamar—menemukan sosok pria emo berdiri kaku dengan ekspresi wajah yang sulit diterjemah. Dipunggung pria emo itu menggantung sebuah tas gunung besar yang nampak nya sangat berat jika dilihat.

Itu bukan penguntit. Bukan penguntit yang akhir – akhir ini selalu menggangu Mingyu dengan cara menekan bel apartemen kemudian kabur begitu saja.

Itu Jeon Wonwoo.

Jeon Wonwoo, Pria berambut hitam yang sejak kemarin selalu dirindukan Kim Mingyu.

Sangat dirindukan—hingga lelaki tinggi itu lepas kendali dan berubah menjadi mahluk tuhan yang sangat jorok serta malas.

"Wonwoo mengapa kau disini?" Mingyu yang masih shock melihat kedatangan Wonwoo menyempatkan diri untuk bertanya

Wonwoo hanya menghela nafas. Ia mendengus tidak suka; kemudian beralih menatap Mingyu dengan tatapan kecewa dan marah

"Kau, Kim Mingyu mengapa kau—"

Belum selesai Wonwoo bicara, Mingyu menyela lebih dulu dengan berlari kecil kearah Wonwoo kemudian Chu-ia mencium lembut bibir kekasih nya.

"hngg—Kim Mingyu kau—hngg" Wonwoo meronta, mencoba melepas ciuman super mendadak dari Mingyu

Namun apalah daya. Tubuh kecil nya akan selalu kalah jika harus melawan tubuh besar serta sempurna milik kekasih nya.

akhirnya Jeon Wonwoo mengalah. Ia tidak melawan lagi. Justru pria emo ini menutup kedua mata nya dan mulai menikmati ciuman manis dari Mingyu. Kedua tangan nya dilingkarkan di leher putih milik tuan Kim. Keduaa bibir kecil nya dibuka cukup lebar—membiarkan lidah ganas Mingyu memasuki mulut nya.

"Gyu—hngg berat.." Wonwoo melepas tautan karena tas gunung berat menganggu kegiatan panas nya bersama Mingyu

Mingyu terpaksa melepas tautan bibir dan menatap tidak suka tas punggung Wonwoo. Tidak ingin kekasih nya tersiksa, si pria tinggi langsung membantu Wonwoo melepaskan tas menjengkelkan itu kemudian meletakan nya sembarang.

"Jeon, Kau berbohong padaku?" Mingyu kembali mendekati kekasih kurus nya— ia mendorong tubuh Wonwoo kearah tembok kemudian mengunci mahluk tidak bersalah itu menggunakan tangan besar nya.

Wonwoo hening. tidak berani menatap mata Mingyu yang terlihat mengintimidasi.

Sekarang Mingyu yang menatap penuh Wonwoo penuh kecewa dan marah.

"Siapa yang bilang aku berbohong? Aku tidak bohong, Gyu" Lelaki kurus berani berbicara, namun masih enggan untuk menatap pria didepan nya

Mingyu berdecak tidak suka

"Lantas apa nama nya kalau bukan berbohong?" dengan suara berat Mingyu menjawab

Bola mata si pria emo berputar "Aku jujur Gyu, Aku benar – benar pergi ikut studi tur."

"Oh benarkah?" lelaki tinggi menjawab lagi

"hanya saja itu— itu gyu—"

"itu apa, sayang?"

"Ah itu .."

Wonwoo menghela nafas kemudian menatap dalam kekasih nya

"oke gyu oke, Aku memang berbohong padamu."

Akhirnya pria ini mengaku juga. Sebuah senyum licik Mingyu tampilkan. Kedua mata nya menatap Wonwoo yang terlihat sangat ketakutan. Bahkan Mingyu menyadari jika sedari tadi tubuh kekasih nya terus bergetar karena gugup.

"Aku izin dengan mu untuk pergi studi tur selama seminggu …"

"Tapi—tidak Mingyu. Aku hanya pergi studi tur selama 4 hari," Wonwoo menjelaskan kebohongan apa saja yang sudah ia lakukan. Mingyu hanya membalas dengan tatapan mencoba untuk memaklumi

"Hanya empat hari? Lalu, sisa tiga hari itu kau apakan, Jeon?" Mingyu bertanya dengan suara yang semakin berat

"Uh.. sisa tiga hari itu—aku gunakan untuk pergi ke , Gyu. Maafkan aku" Wonwoo berbicara dengan sura sedikit bergetar—menandakan bahwa ia sedang gugup setengah mati

Untuk lebih rinci, Wonwoo memang sudah membohongi Mingyu.

Pekan lalu, Wonwoo sibuk merengek pada kekasih tinggi nya—berharap agar diberikan izin untuk mengikuti studi tour di pinggiran kota Seoul. Awal nya Mingyu tetap kukuh untuk menolak, karena alasan Wonwo baru saja selesai mengikuti ujian tengah semester. Ia tidak bisa membiarkan kekasih nya terus – terusan belajar.

Namun apalah daya. Rengekan Wonwoo berhasil mengoyahkan keputusan Mingyu. Akhirnya dengan berat hati Mingyu terpaksa memberikan kekasih nya izin untuk pergi studi tur. Wonwoo berjanji hanya akan pergi selama satu minggu setelah itu kembali lagi.

Tetapi si cerdas Wonwoo punya rencana lain. Ia memang berencana untuk pergi studi—namun hanya empat hari. Sisa nya, Wonwoo sudah berencana untuk 'kabur sementara' menuju pegunungan Oksunbong di Joseon.

Alasan mengapa Wonwoo nekat melakukan hal gila ini adalah karena (1) ia butuh waktu luang. Banyak nya tugas kuliah serta kebisingan kota Seoul yang memekakan telinga—itu sangat menggangu Wonwoo. Dan (2) ia ingin sendiri. bukan dalam artian selama nya, namun hanya untuk beberapa saat. Sendiri tanpa hiruk pikuk kota Seoul, Sendiri tanpa tumpukan tugas kuliah yang menggerang untuk dikerjakan, dan Sendiri tanpa sosok pria tinggi yang sangat ia cintai—Kim Mingyu.

Sehingga dengan berat hati, Wonwoo terpaksa membohongi kekasih nya sendiri.

Wonwoo terpaksa membohongi kekasih nya karena ia cukup sadar diri; Mingyu tidak akan memberikan nya izin untuk pergi berlibur sendirian. Mingyu pasti akan menolak dengan alasan keselamatan Wonwoo yang mungkin bisa terancam.

"Kim Mingyu, Maafkan aku. Aku menyesal, Sungguh." Wonwoo bersuara lagi, kali ini ditemani dengan banyak nya tetesan air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi pipi tirus nya.

Mingyu yang melihat adegan Wonwoo menangis langsung mati ekspresi. Ia tidak menyangka perlakuan nya pada Wonwoo tadi bisa menyebabkan kekasih nya itu menangis penuh sesal. Padahal niat Mingyu hanya ingin memberikan sedikit pelajaran untuk Wonwoo supaya tidak keras kepala dalam bertindak.

Mingyu menyesal sudah bertindak terlalu berlebihan. Tidak seharusnya ia menakuti Wonwoo disaat genting seperti ini. "Ah Sial,".

Wonwoo masih terus menangis dengan tubuh yang juga masih bersender di tembok. Mingyu yang merasa tak tega langsung menyingkirkan kedua tangan nya dari tempok—beralih membawa tubuh kurus Wonwoo kedekapan nya. Kalian semua harus tau kalau Mingyu benar – benar menyesal telah menakuti kekasih nya.

"Wonu-ya, tidak – apa apa." Mingyu mencoba menenangkan

"Maafkan aku sudah menakuti mu tadi—aku tidak ada niat sama sekali untuk menakuti mu,"

"Jangan menangis, Sayang." Mingyu menepuk pelan punggung Wonwoo

"hiks maafkan aku Gyu … Maafkan aku sudah keras kepala dan hiks membohongimu .." Wonwoo menjawab, masih terisak dalam tangisan nya.

"Tidak apa – apa sungguh. Jangan bertindak seperti itu lagi, oke?. Aku hanya tidak ingin kau terkena bahaya, Wonu-ya. Jika kau ingin berlibur sendiri, kau harus tetap memberitahu ku. Aku mungkin tidak akan mengizinkan mu tapi aku pasti akan mencari alternative lain untukmu supaya kau tetap nyaman,"

"Aku melakukan ini semua karena aku mencintai mu, Jeon Wonwoo. Pria tinggi besar yang bodoh ini sangat takut kehilangan mu." Mingyu menenangkan Wonwoo dengan kalimat bijak yang entah ada keajaiban apa Mingyu bisa merangkai nya dalam satu tarikan nafas.

Kemudian Mingyu melepaskan pelukan nya. diusapnya air mata Wonwoo yang masih menempel di pipi kekasih nya. "Kau jelek jika menangis, Jeon. Jelek sekali." Tiba – tiba saja Mingyu menghina kekasihnya

Wonwoo hanya membalas dengan pukulan kecil di dada bidang Mingyu. Kemudian sebuah senyuman manis tuan Jeon lontarkan begitu saja. Air mata yang sangat dibenci Mingyu itu juga sudah berhenti mengalir.

Wonwoo kemudian menarik tangan kekasih nya—membawa nya menuju ruang tamu yang terlihat sama berantakan nya dengan kamar tidur Mingyu. Wonwoo sudah tidak ingin mengajukan protes karena ia sudah paham atas dasar apa Mingyu melakukan semua kekacauan ini.

"Sekarang ayo kita bersihkan semua kekacauan ini, Setelah itu mandi dan kita bercinta." Ucap Wonwoo tanpa dosa

Mingyu yang mendengarnya terkejut bukan main

"Apa?—ulangi sekali lagi, sayang?" Mingyu memastikan bahwa ia tidak salah dengar

Wonwoo menghela nafas. mendekat ke tenguk Mingyu dan mengigit sedikit kulit leher nya, "ayo kita bersihkan semua kekacauan ini, setelah itu kita mandi, dan kita bercinta, Kim Mingyu." Bisik Wonwoo di daun telinga kekasih nya

Sekarang Mingyu merinding—tidak percaya dengan omongan Wonwoo yang bisa sefrontal ini.

Akhirnya dengan wajah kikuk Mingyu segera membersihkan semua kekacauan yang telah ia perbuat. Sementara Wonwoo pergi menuju kamar Mingyu untuk membersihkan tumpukan pakaian kotor serta bungkus makanan kosong yang sebelumnya sudah kita bahas.

Setelah itu mereka mandi bersama, dan diakhiri dengan nuansa malam penuh erotis, bercinta.

.

.

TBC / DONE?


Note ::

haihai akhirnya aku update lagi nih hihihi
Aku cuma mau bilang makasih udah ngeluangin waktu kalian buat baca fanfiction sampah iniT_T
Aku sampe tanggal 6 desember gabakalan update dulu gays karena senin besok aku bakalan uas seminggu lebih:') huhu wish me luck yaa~
Makasih juga ya udah mau ngasih review huhu itu bantu aku buat improve bangetT_T maaf beberapa review enggak aku bales
Maaf kalau alur ceritanya enggak sesuai sama ekspektasi kalian, maaf juga kalau alur cerita nya semakin ANEH dan ABSRUD:")
Ohiya buat Mature Scene udah aku kasih dikit - dikit ya(?) Sengaja aku kasih yang Meanie dulu supaya kalian gaperlu nunggu lama - lama(?)

REVIEWNYA YAA GAYS SUMPAH SATU REVIEW DARI KALIAN BERGUNA BANGET BUAT AKUU

ohiya btw buat para Carat, gimana reaksi kalian sama Teaser #Going_Seventeen ?! HUHU GAKUAD AKU NGELIAT SOONYOUNG SAMA JIHOON T_T
Support terus SEVENTEEN YA GAYSSS jangan lupa buat vote mereka Di MAMA