Kyuhyun mengeram tertahan, mengepalkan kedua tangannya yang terasa kaku. Lehernya bergerak kekanan dan kekiri, menghilangkan rasa pegal karena menunduk menatap laptop sejak tadi.
"Hah." Kyuhyun menguap kecil, tangannya terulur dan memijit tengkuknya yang terasa sangat sulit untuk digerakkan, matanya mengerjap pelan. Menghalau rasa perih karena terlalu lama menatap benda elektronik dihadapannya.
Sebuah laptop yang menampilkan data pribadi tentang Siwon, seorang laki-laki yang dianggap saingan tanpa sadar oleh Kyuhyun.
"Siwon anak presiden Korea saat ini, Choi Kangin. Tapi bagaimana bisa hal itu tersembunyi dengan baik." Kyuhyun berujar lirih, matanya yang hitam menggelap perlahan dan menatap intens foto Siwon bersama dengan keluarganya, ada dua pemuda tampan dan dua sosok dewasa yang berdiri berpasangan. Memperlihatkan sebuah keluarga harmonis yang lengkap.
Kyuhyun masih menatap foto Siwon dengan intens, tanpa sadar lehernya yang kaku kembali menunduk untuk menatap sebuah gambar dilayar laptopnya dengan tatapan datar, namun ada keseriusan yang terpancar disana.
Keseriusan yang dibumbui dengan rasa heran.
"Siapa sebenarnya Siwon?"
Kyuhyun bertanya heran, matanya masih menatap serius kelayar laptop yang berisi data tentang keluarga Siwon yang baru saja dikirim oleh Changmin. Data keluarga yang jelas saja sangat tersembunyi, bahkan Kyuhyun sama sekali tidak menyadarinya sejak lama. Bahkan salah satu dari pemuda itu merupakan sahabatnya sendiri.
Choi Kibum.
Pemuda tampan yang berhasil mendirikan sebuah perusahaan otomotif sendiri, dan Kibum bekerja sama dengan Kyura. Saudara kembarnya.
"Ada apa sebenarnya ini?" Kyuhyun mendesah frustasi, matanya mengerjap lelah tanpa disadarinya dan menatap Sungmin didepan sana yang masih terlelap, mata hitam kelamnya tertuju pada Sungmin, dan berubah lembut secara perlahan. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu, sayang?"
Kyuhyun berujar frustasi, tangannya terangkat dan mengusap wajah tampannya dengan kasar. Tangannya bergetar, dan tubuhnya yang hanya terbalut sebuah kaos berlengan pendek menyandar disofa empuk yang didudukinya dengan perlahan, namun matanya yang menyorot datar masih tertuju pada Sungmin.
Seorang pemuda yang kini bergerak gelisah didalam selimut tebal yang membungkusnya.
Kyuhyun terdiam, tubuhnya tegak tanpa disadarinya dan menatap intens pergerakan pelan dari Sungmin didalam selimut. Tangannya terkepal erat disisi kursi. Menghujam Sungmin dengan tatapan tajam, namun ekspresinya tetap sedatar papan seluncuran.
Kyuhyun bisa melihatnya dengan jelas, bulu mata lentik yang disukainya bergerak perlahan dengan begitu lembut, seperti sebuah gerakan yang sengaja diperlambat untuk membuatnya terpesona.
Dan Sungmin berhasil melakukannya dengan baik.
Kyuhyun lupa caranya bernafas, Kyuhyun lupa caranya mengerjap, dan matanya hanya tertuju pada Sungmin, pada pemuda yang diharapkannya untuk bangun dari delapan hari yang lalu.
Dan Kyuhyun rasa, kesabarannya menemukan sebuah akhir yang manis.
Kini, Sungmin tengah mengerjap begitu polos, rapuh, dan dimata Kyuhyun, Sungminnya terlihat begitu menggoda, seolah gerakan sederhana yang dilakukannya merupakan sebuah gerakan yang berhasil membangunkannya.
Menghilangkan rasa kantuk dan lelah yang menderanya sejak tadi.
Oh, dan sepertinya tuan Cho begitu berlebihan.
Kyuhyun bisa melihatnya dengan jelas, tubuh Sungmin bergerak kaku untuk bangun. Dan Kyuhyun sama sekali tidak sadar bahwa tubuhnya sudah dalam posisi berdiri siap berlari untuk menangkap Sungmin jika seandainya Sungmin akan jatuh.
Tangannya menggenggam erat sisi kursi, namun tubuhnya perlahan duduk saat Sungmin terlihat begitu kebingungan. Matanya yang Kyuhyun suka, kini tengah mengerjap begitu menggemaskan untuk menatap sekeliling kamar mewahnya.
Dan Kyuhyun memahaminya dengan jelas, Sungmin kebingungan namun ekspresinya tetap setenang ombak dilautan.
Menggoda dan menghanyutkan.
Kyuhyun menelan salivanya kasar, wajahnya datar. Namun tangannya disisi kursi mengepal erat tanda bahwa emosi Kyuhyun tidak sedatar tampilannya, Sungmin didepan sana tengah menatap ruangan dengan kerjapan polos, namun selimut yang membungkus tubuhnya sejak tadi terjatuh dan hanya mampu menutupi pinggang hingga ujung kakinya.
Dan tubuh bagian atasnya, Kyuhyun diam. Dan tatapannya terkunci disana. Ditubuh putih Sungmin yang benar-benar mulus dan terpampang menggoda dihadapannya, bening, rapuh, dan jelas menunggu sentuhan dari Kyuhyun.
Kyuhyun merutuk didalam hati. Bibirnya terkatup rapat, matanya mengerjap perlahan menghilangkan fikiran nistanya yang ingin menyerang Sungmin didepan sana.
Oh, salah apa hingga Kyuhyun harus hard disaat Sungmin mengerjapkan matanya tanpa ada tujuan untuk menggoda Kyuhyun sama sekali.
Ini keberuntungan atau musibah, Tuhan?
Kyuhyun mendesah pelan, wajah tampannya yang datar kini menatap wajah cantik Sungmin dengan begitu intens, merekam dalam ingatannya tentang seberapa cantiknya laki-laki didepan sana ketika bangun tidur. Laki-laki bernama Sungmin yang kini tengah menatapnya.
Balas menatap tatapan tajam dari Kyuhyun.
Dan tanpa Kyuhyun sadari, dia menyeringai manis.
.
.
PATHOS
.
Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun.
Saya percaya itu.
.
YAOI, BxB, M!warning, M-Preg, Typo(s), Bahasa yang tidak sesuai ejaan yang disempurnakan, membingungkan, dan berantakan.
.
Disclaimer : Mereka semua milik Tuhan, orang tua mereka, dan tentu saja diri mereka sendiri. Namun saya percaya, cerita ini milik saya XD
.
.
Berani baca, Berani komentar bukan? XD
.
.
Chapter 4
.
.
Hening, sama sekali tidak ada percakapan yang tercipta diantara mereka. Namun kedua mata indah yang masih saling bertatapan itu belum menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah, tidak ada sama sekali diantara mereka berdua yang ingin mengalihkan tatapan mereka terlebih dahulu.
Seolah menunggu sambil menikmati keindahan berbeda yang mereka miliki.
Kyuhyun menatap Sungmin begitu intens.
Dan Sungmin, menatap Kyuhyun dengan tatapan datar miliknya.
Ada yang aneh disini.
Kyuhyun menggigit bibirnya, kaki jenjangnya yang terlipat tadi kini perlahan turun. Mendaratkan kedua kakinya kelantai marmer yang dingin, namun mata hitamnya yang kelam masih menatap Sungmin.
Tidak ada yang ingin menyerah disana.
Sungmin menarik nafas pelan, mata beningnya mengerjap lembut dan tangannya menggenggam selimut berwarna putih yang digunakannya secara perlahan, namun seperti Kyuhyun. Sungmin juga tidak mengalihkan tatapannya.
Seolah merekam wajah tampan Kyuhyun, Yah, Kyuhyun tampan dengan wajah datarnya dan rambutnya yang acak-acakan. Tapi Sungmin tidak akan pernah menyebutnya seksi. Sungmin menatap Kyuhyun dengan tatapan polosnya, namun didalam hatinya.
Sungmin menyerah, dia sama sekali tidak tahu siapa yang tengah menatapnya dengan tatapan menelanjangi, satu hal yang Sungmin lupa.
Bahwa dia memang telanjang sejak tadi, hanya selimut yang menutupi tubuhnya dari pinggang kebawah.
Namun Sungmin, sama sekali tidak mempersalahkannya. Hal sederhana, yang jika diteliti lebih lanjut mempengaruhi emosi Kyuhyun sejak tadi.
"Hai sayang."
Itu suara ter erotis yang mungkin pernah Sungmin dengar, matanya mengerjap kaget beberapa saat sebelum kembali terlihat polos. Bibir merahnya yang masih sedikit pucat bergerak pelan, namun sama sekali belum ada suara disana.
Kyuhyun sabar, tangannya yang terkepal erat kini tersembunyi dengan baik disisi tubuhnya. Tubuhnya tegak, dan jelas menatap Sungmin dengan tatapan dinginnya, aura Cho Kyuhyun menguar sejak tadi, namun Sungmin sama sekali tidak terganggu.
Dan Kyuhyun bingung akan itu, namun jangan harap Kyuhyun akan memperlihatkannya. Wajah tampannya masih terlihat datar, dan tatapannya masih mengunci Sungmin yang juga masih tetap menatapnya.
Dan Kyuhyun suka, seolah menatap Sungmin merupakan bayaran yang paling manis untuk kesabarannya selama ini.
Kesabaran yang bahkan membuatnya heran sendiri.
"Siapa kau?"
Dan untuk pertama kalinya, Kyuhyun mendengar suara Sungmin secara langsung dan suara itu tertuju untuknya.
Kyuhyun mengerjap lembut tanpa disadarinya, detak jantungnya yang tadinya berdetak keras karena pengaruh emosinya yang ingin menyentuh Sungmin kini bergerak perlahan, seolah berdetak lembut sesuai dengan suasana hatinya. Matanya yang sekelam malam kini semakin intens menatap Sungmin.
Seolah mengundang Sungmin melihat bagaimana rasa rindu Kyuhyun akan suara Sungmin. Hal sederhana yang membuatnya begitu bahagia.
"Aku kekasihmu, sayang."
Dan suaranya seolah terlatih begitu lihai untuk berbohong, tidak ada rasa canggung apalagi takut. Dan semua itu berjalan dengan baik, bahkan sangat baik. Kyuhyun masih diam, seolah menikmati wajah cantik Sungmin yang kini tengah mengerjap begitu polos menatapnya.
Ada kebingungan yang Kyuhyun tangkap disana, namun seperti Kyuhyun.
Sungmin menyembunyikannya dengan baik.
"Kau kekasihku?"
Ada nada tidak percaya yang sangat jelas disana, namun Kyuhyun tidak tersinggung.
Hey, Kyuhyun sudah memperkirakan semua dugaan atas apa yang akan dilakukan Sungmin jika Sungmin sadar nanti. Dia hanya perlu memikirkan jawaban pintar dari otak jenius miliknya.
"Tentu saja, hanya aku yang pantas menjadi kekasihmu."
Jawaban Kyuhyun datar, dengan suara bassnya yang seksi dan ada nada menuntut disana. Seolah menekankan, bahwa Sungmin harus menerima itu dengan baik.
"Kau Gay?"
Hell.
Kyuhyun mengerjap polos, menatap tak percaya saat mendengar lontaran pertanyaan sederhana yang Sungmin tujukan untuknya. Kyuhyun menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan raut kaget yang menyergapnya tadi dan menatap Sungmin dengan tatapan serius miliknya. "Aku tidak Gay, karena aku hanya ingin kau yang jadi kekasihku. Aku tidak ingin yang lain."
Kyuhyun menjawabnya yakin, dan Sungmin terlihat kebingungan didepan sana. Namun jelas ada rona merah diantara pipi pucatnya, hanya sebentar namun Kyuhyun bisa melihatnya dengan baik.
Dan Kyuhyun suka, itu artinya Sungmin tidak benar-benar menolaknya.
"Tapi aku fikir, aku bukan seorang Gay."
Kini Kyuhyun yang terdiam. Matanya tidak lagi menyorot dengan datar, namun kini Kyuhyun jelas-jelas menatap tertarik kearah Sungmin, bukan hanya tertarik. Ada raut khawatir disana.
"Kau bilang, kau bukan Gay?"
Sungmin mengangguk dengan yakin, dan Kyuhyun jelas-jelas melihat kesungguhan disana. Namun jelas ini mengganggunya.
Bukannya Sungmin menjadi kekasih Siwon yang notebane seorang laki-laki selama tujuh tahun.
Tapi kenapa Sungmin bilang dia bukan seorang Gay.
"Aku masih suka wanita bertubuh tinggi dengan dada yang montok, jangan lupakan body mereka yang menggemaskan." Sungmin menjawabnya dengan datar, namun Kyuhyun bisa melihat ada raut jenaka dimata beningnya, seolah Sungmin benar-benar membayangkan seorang wanita seperti itu.
Eh?
Ada apa ini?
Kyuhyun tidak tahu ekspresi apa yang dia layangkan kearah Sungmin. Namun jelas wajahnya tidak lagi datar. Dan Kyuhyun terkejut luar biasa.
"Aku akan keluar sebentar, dan kenakan pakaianmu selama aku keluar."
Sungmin hanya menatap Kyuhyun dengan keningnya yang tidak terperban tengah mengernyit. Mata beningnya yang cantik mengerjap beberapa kali dengan begitu polos.
"Dia benar-benar kekasihku?" Sungmin bertanya pada angin, matanya menatap kamar mewah yang ditempatinya dengan tatapan datar, mencari tempat yang mungkin digunakan oleh laki-laki yang tidak dia ketahui namanya itu untuk meletakkan baju miliknya. "Dia tampan, aku fikir wanita akan patah hati jika mereka tahu laki-laki seperti dia menyukaiku."
Sungmin mendesah, tidak ambil pusing dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, menahan selimut yang membungkus area pribadinya dan bergerak pelan untuk turun dari tempat tidur. Berusaha keras menuju lemari pakaian miliknya.
Atau mungkin milik laki-laki itu?
Sungmin tidak tahu, Sungmin tidak peduli dan dia hanya ingin membungkus tubuhnya dari rasa dingin.
Hell, Sungmin sama sekali tidak mengomentari tubuh polosnya. Bersyukurlah, Cho.
.
.
.
~...~
.
.
.
Donghae tersenyum kecil, menurunkan stetoskop yang digunakan untuk memeriksa Sungmin. "Kau sudah sehat, dan semua organ tubuhmu juga bekerja dengan baik. Tidak ada masalah lagi yang mungkin akan mengganggumu."
Sungmin menganggukkan kepalanya, mata beningnya menatap intens kearah Donghae. "Apa yang terjadi padaku?"
Donghae menggelengkan kepalanya, senyum profesionalnya masih menghias wajah tampannya. "Kau baik-baik saja, hanya ada sedikit masalah yang menyebabkan kau pingsan kemarin."
Sungmin menatap Donghae intens, jelas bukan itu jawaban yang ingin dia dengar. Namun ada yang aneh disini, ada yang mengganjal fikirannya.
Dan Sungmin tidak tahu apa yang mengganjal fikirannya.
"Terima Kasih." Sungmin berujar pelan, masih menatap Donghae dengan tatapan menilainya. "Kau kakak dari laki-laki tadi atau kau seorang dokter?"
Donghae tersenyum kecil, merapikan jas kerjanya dan menatap lembut kearah Sungmin. "Aku seorang dokter, dan aku calon kakak ipar dari laki-laki yang telah merawatmu itu."
Sungmin mengangguk kecil, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang kini telah mengenakan piyama dan mengangguk saat Donghae berpamitan untuk meninggalkannya, melangkah keluar dari kamar mewah yang Sungmin tempati.
Dan didepan kamar, Kyuhyun tengah menatap Donghae dengan intens.
"Dia baik-baik saja. Seluruh organ tubuhnya bekerja dengan baik dan fisiknya hanya membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan kekuatan miliknya."
Kyuhyun menatap Donghae, ada rasa lega yang terpancar diwajah tampannya meski minim ekspresi. Namun Donghae tahu, ada hal yang mengganjal fikiran Kyuhyun.
Donghae bisa melihatnya dengan jelas dari gerak tubuh Kyuhyun yang tidak sekaku biasanya.
"Aku tidak tahu kau akan bersyukur atau kau akan marah dengan berita ini, tapi aku fikir Sungmin terkena amnesia."
Kyuhyun terdiam, tubuhnya kaku dan matanya menatap Donghae dengan tajam. Tangannya terkepal erat disisi tubuhnya. "Jaga bicaramu, Hyung."
Suara Kyuhyun dingin, menusuk kulitnya seolah suara itu mampu menembusnya. "Sudah aku duga kau akan mengeluarkan ekspresi seperti itu." Donghae tersenyum kecil, mengabaikan raut tajam dari Kyuhyun dan menyentuh pundak Kyuhyun dengan begitu lembut. "Aku sudah menduganya sejak pertama kali aku memeriksanya, akan ada yang tidak beres dengan sistem kerja otak Sungmin jika dia sadar nanti."
Kyuhyun masih diam, dan tatapan Kyuhyun masih tajam menghujam Donghae.
"Aku fikir kau harus membawa Sungmin untuk memeriksanya lebih intens kerumah sakit yang dikelola Eommamu." Donghae menggeleng, tidak menerima tatapan tajam yang Kyuhyun layangkan. "Rumah sakit keluargamu adalah yang terbaik saat ini Kyu. Dan daripada aku salah, lebih baik kau membawanya kesana."
"Ada apa sebenarnya dengan Sungmin?" Suara Kyuhyun bergetar, nada dingin dan frustasi bercampur menjadi satu disana, membuat Donghae dapat mendengar ada getaran disana.
"Aku tidak mau membuatmu khawatir, Kyu." Ada senyum lembut dan menenangkan yang Donghae layangkan disana. "Namun dugaanku, Sungmin terkena amnesia secara permanen."
Wajah tampan Kyuhyun pias, tubuhnya berdiri kaku dengan mata yang kini menyorot tak percaya menatap Donghae. "Manusia tampa kenangan sama saja dengan mati, Hyung."
Donghae bisa melihatnya dengan jelas, Kyuhyun begitu tertekan dan khawatir. Hal yang semakin membuat Donghae yakin.
Bahwa Kyuhyun bukan terobsesi pada Sungmin.
Dia, benar-benar jatuh cinta pada Sungmin.
"Mungkin Sungmin lebih baik hidup tanpa kenangannya, Kyu."
Kyuhyun menggeleng, hal yang sedikit membuat Donghae kebingungan disana. "Mungkin ada orang-orang yang tidak ingin Sungmin lupakan." Kyuhyun mengeram, menghilangkan senyum tampan Siwon didalam foto yang dia lihat tadi. "Bagaimanapun hancurnya kehidupan seseorang, dia tetap membutuhkan kenangan Hyung. Sebuah memori, yang menunjukkan bahwa dia pernah hidup."
Donghae terdiam, dirinya serasa tertampar saat Kyuhyun menatapnya dengan tatapan terluka.
Hey, Kyuhyun terluka karena memikirkan kenangan Sungmin yang hilang, hal yang sebenarnya tidak pernah terlintas dibenak Donghae.
Apa dia akan berfikir seperti itu jika Eunhyuk yang tertimpa musibah seperti Sungmin? Apa yang ada dalam benaknya jika harus memikirkan bahwa bagaimana hancurnya hidup Eunhyuk jika dia sama sekali tidak memiliki memori? Seolah baru terlahir kembali dengan kemampuan layaknya manusia yang seharusnya memiliki banyak kenangan.
Dan tanpa sadar Donghae menghela nafas.
"Maafkan aku." Donghae menghela nafas, menepuk pundak Kyuhyun dengan lembut. "Aku berharap dugaanku salah Kyu. Tapi kau tetap harus menerima kenyataan itu."
Kyuhyun mengeram tertahan, tangannya memegang handle pintu kamar yang ditempati Sungmin dengan erat. "Baru kali ini aku benar-benar merasa bingung."
Donghae mencoba mengangguk, menepuk punggung Kyuhyun dengan begitu sabar. "Satu hal yang mungkin juga harus kau ingat Kyu, kehilangan memori bukan berarti Sungmin kehilangan kemampuannya, dia tetap sejenius sebelum dia terlelap. Aku yakin itu."
Itu berita baik, namun Kyuhyun sama sekali belum puas. Bukan ini yang dia inginkan, dia ingin membuat Sungmin jatuh cinta dengannya dan melupakan Siwon. Bukan dengan Sungmin yang lupa ingatan dan itu berarti melupakan Siwon.
Bukan, dan dia juga membutuhkan kenangan Sungmin untuk menyelamatkan Sungmin sendiri, untuk mengetahui siapa yang sebenarnya menganggu hidup Sungmin selama ini.
Dan Kyuhyun semakin frustasi tanpa disadarinya.
"Hey, kau bisa menciptakan kenangan baru untuk Sungmin."
Kyuhyun menatap Donghae, tatapannya sedatar biasanya. "Itu akan aku lakukan." Kyuhyun menghela nafas, membuka pintu kamar dan menatap Donghae sekali lagi. "Tapi terkadang kenangan yang hilang lebih penting dari kenangan yang baru."
Donghae terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa saat Kyuhyun meninggalkannya. Melangkah memasuki kamar mewahnya.
Dimana ada Sungmin disana.
.
.
.
~...~
.
.
.
"Hai."
Sungmin membuka matanya, menatap Kyuhyun yang kini tengah duduk disisi tempat tidurnya. "Kau masih menganggapku kekasihmu?"
Kyuhyun tersenyum kecil, menganggukkan wajah tampannya. "Kau memang kekasihku, sayang."
Sungmin memutar bola matanya bosan, bergerak bangun dengan bantuan Kyuhyun yang dengan sigap membantunya, dirinya menyandar disisi tempat tidur dan menyamankan dirinya disana, menatap Kyuhyun dengan intens.
"Apa yang calon kakak iparmu katakan dan tidak dia katakan padaku."
Wajah Kyuhyun datar, tampan namun ada aura berbeda disana. Dia menatap Sungmin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia bilang kau amnesia."
Kyuhyun tidak mengharapkan sebuah respon yang berlebihan, namun respon yang Sungmin berikan membuatnya merasa sedikit berbeda. Sungmin tidak berteriak, dia tidak panik, dan juga khawatir. Hanya wajahnya yang berubah datar dan juga menatap intens kearah Kyuhyun. "Sudah aku duga." Suaranya serak, dan sama seperti Kyuhyun tadi.
Kyuhyun yakin Sungmin juga terluka, dan itu yang Kyuhyun hindari. Dia tidak ingin Sungmin-nya terluka.
"Maafkan Aku."
Mungkin jika Sungmin mengenal Kyuhyun, dia akan tersentuh. Kyuhyun tidak pernah meminta maaf, meski itu adalah kesalahan yang dia lakukan. Kyuhyun tidak akan pernah meminta maaf dengan raut seterluka itu.
"Entah kenapa aku yakin, bahwa ini sama sekali bukan salahmu."
Kyuhyun terdiam, wajahnya datar dan matanya hanya tertuju pada Sungmin. Dirinya tersenyum lembut sebelum bergerak perlahan mendekati Sungmin, menarik tubuh mungil itu perlahan dan memeluknya dengan lembut.
Sungmin terisak tanpa disadarinya, tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan Kyuhyun. "Aku tahu ada yang tidak beres yang terjadi padaku saat aku bangun tadi." Suara Sungmin lirih, bahkan Kyuhyun seolah mendengar bisikan yang Sungmin tujukan untuknya, bisikan yang entah kenapa membuat perasaannya juga ikut terluka. "Aku tidak tahu apa itu, tapi aku tahu ada sesuatu yang terjadi padaku."
Sungmin terisak hebat, hal sederhana yang membuat Kyuhyun begitu terluka. Tangannya yang bebas mengusap rambut hitam Sungmin dengan begitu lembut, membisikkan kata penenang disana.
"Aku tidak tahu siapa diriku, aku tidak tahu kau siapa, aku bahkan melupakan keluargaku." Kyuhyun tersenyum lembut, menganggukkan kepalanya dengan sabar dan tangannya yang masih memeluk Sungmin dengan lembut, menjadi pendengar yang sangat sabar. "Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, aku-" Suara Sungmin terdengar begitu lirih, membuat Kyuhyun merasa begitu terpukul disana. "Aku merasa takut."
Kyuhyun mengangguk pelan, tubuhnya masih memeluk tubuh Sungmin yang bergetar dan memberikan kehangatan yang dibutuhkan Sungmin. "Kau tahu Ming, aku menyayangimu dan aku tidak akan pernah membiarkanmu sendiri. Kau tidak akan pernah sendiri sayang."
Sungmin tidak tahu, dia yakin dirinya normal dan dia masih suka wanita. Tapi dia juga yakin, bahwa dia nyaman dalam pelukan Kyuhyun, dan dia berharap Kyuhyun selalu memegang ucapannya.
Sungmin tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dirinya mengerjap lembut dan menjauhkan sedikit pelukan yang diberikan Kyuhyun, matanya yang bening masih terhiasi sedikit air mata disana, namun tatapan itu begitu intens menatap Kyuhyun.
"Kau mengenalku?"
Kyuhyun hanya menatap Sungmin dengan tatapan lembutnya, tangannya yang memeluk Sungmin terlepas perlahan dan memegang kedua pipi Sungmin dengan begitu lembut.
"Aku mengenalmu dengan baik."
Sungmin tidak perlu jawaban lain, Sungmin tidak tahu kenapa namun dia hanya mengangguk dan tersenyum kecil, senyum tulus pertamanya yang dia layangkan untuk Kyuhyun.
Pemuda tampan yang bisa kau bilang, orang yang Sungmin butuhkan saat ini.
"Siapa namaku?"
Kyuhyun mengerjap lembut, dan Sungmin tidak tahu wajahnya bisa merona saat Kyuhyun menarik kedua sudut bibirnya, wajah tampan Kyuhyun yang biasa datar kini tengah menatapnya dengan senyuman kecil yang sama tulusnya dengan yang Sungmin layangkan tadi.
"Sungmin, Lee Sungmin." Kyuhyun menjawabnya mantap, seolah nama Sungmin adalah nama terindah yang pernah dia ucapkan.
"Lee Sungmin?" Sungmin mengulangnya kemudian, matanya mengerjap lembut dan masih ada senyum kecil yang menghias wajah menggemaskan miliknya. "Aku fikir, aku tidak asing dengan nama itu." Kyuhyun mengangguk, sama sekali tidak menjauhkan wajah mereka yang masih terbilang dekat sejak tadi. "Dan siapa namamu?"
Kyuhyun mendekatkan wajahnya, menyisakan sedikit jarak untuk menyelami mata cantik Sungmin yang masih berani menatapnya, tengah menatapnya dengan lembut. "Kyuhyun, Cho Kyuhyun."
Sungmin mengangguk, memundurkan tubuh dan wajahnya dan menatap Kyuhyun kemudian. "Kau cocok dengan nama itu, seolah-olah kau memang terlahir dengan nama itu."
Kyuhyun mengangguk, bibirnya menyunggingkan senyuman kecil yang berbeda. "Dan aku fikir aku juga akan merubah namamu menjadi Cho Sungmin secepatnya."
Sungmin terkekeh, melemparkan senyuman lebarnya kearah Kyuhyun. "Aku fikir aku masih normal Kyuhyun-ah. Jadi aku tidak tahu kau bisa berhasil apa tidak merubahnya."
Kyuhyun mengangguk, tidak ada senyuman kekanakan lagi disana. Wajah tampannya kembali dingin seperti biasa, namun tatapannya masih selembut tadi saat menatap Sungmin.
"Membuatmu menyukaiku adalah tugas manis yang akan aku lakukan dengan senang hati sekaligus untuk membantumu menulis kenangan baru." Sungmin mengangguk-ngangguk, ada cengiran diwajah cantiknya.
"Dan percayalah Ming," Sungmin mengerjap pelan saat Kyuhyun mendekat, menyentuh kening Sungmin dengan keningnya. "Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuatmu berbelok, sayang."
Sungmin terdiam, refleks memejamkan matanya saat Kyuhyun berbisik begitu erotis tepat dihadapan wajahnya.
Apa Sungmin pernah bilang.
Bahwa Kyuhyun terlihat begitu tampan, dan itu tidak baik untuk orang yang mengaku normal seperti dirinya.
.
.
.
~...~
.
.
.
Changmin menguap bosan, matanya yang tidak sipit menatap layar laptop berbeda dihadapannya dengan tatapan frustasi. Tangannya bergerak lelah disampingnya.
"Cho sialan menyebalkan tapi sialnya kaya itu benar-benar ingin membunuhku." Changmin merutuk geram, melangkah bangun dari kursi yang entah sejak kapan didudukinya dan melangkah mendekati jendela, menikmati angin yang dihembuskan dari gedung tinggi dikantornya dengan ekspresi lelah. Matanya menatap langit yang mendekati senja dengan tatapan menerawang.
"Bagaimana bisa dia menyerahkan kasus Sungmin dan Perusahaan secara bersamaan. Dia ingin membunuhku." Bibirnya merutuk geram, tangannya mengepal gemas disisi tubuh jangkungnya. "Aku tahu dia mengkhawatirkan Sungmin dan itu membuatku tersentuh, tapi Hey." Changmin merutuk entah pada siapa. "Tiket berlibur ke Miami menungguku, aku ingin mengajak Kyura kesana dan melihatnya berbikini seksi dihadapanku."
Dan Oh, wajah lelah itu sontak berubah mesum dalam waktu sekejap.
Changmin terkekeh kecil, tangannya menyentuh jendela dan menatap langit. "Seandainya Kyura berbikini seksi, tengah bermain ombak dan tubuhnya basah, ada sinar matahari yang membuat tubuhnya seolah bercahaya, Oh Tuhan." Changmin mengeram, menundukkan wajahnya dan frustasi saat junior kecilnya menegang disana.
"Oh shit." Dia mengeram, melangkah mendekati meja kerjanya dan menatap dua laptop yang menampilkan dua hal berbeda, Changmin menggelengkan kepalanya menghilangkan fikiran mesumnya yang tidak bisa dia cegah.
Jangan salahkan Changmin, salahkan Kyuhyun yang mengambil waktu kemanusiaannya.
Laptop berwarna putih dihadapannya menghitung mundur, membuat Changmin sontak terfokus seketika. Matanya menatap serius sebuah file yang perlahan terbuka disana, hasil dari penyusupannya ke Link informasi pribadi keluarga Choi.
"Apalagi ini?" Changmin mengerjap pelan, tangannya bergerak lincah diatas keyboard dengan matanya yang terfokus pada layar, menatap laporan yang dilampirkan dilayar laptopnya.
Dan fokusnya tertuju disana, mengabaikan junior kecilnya yang tidur sendiri secara perlahan.
.
.
.
~...~
.
.
.
Ada sebuah tikar yang terbentang disana, ada beberapa makanan yang terhias diatasnya. Dan seorang pemuda manis dengan piyama yang membungkus tubuhnya tengah duduk ditepi dengan matanya yang tertuju pada langit malam.
Sulit menemukan bintang diperalihan antara musim panas dan musim gugur.
"Hey, kau bisa kedinginan."
Sungmin tersenyum kecil, mendongakkan wajah cantiknya saat Kyuhyun melangkah mendekat dengan sebuah selimut kecil berwarna biru langit ada ditangannya. Kyuhyun melangkah mendekat Dan menyelimutinya dengan lembut.
Membuat Sungmin tersentuh, dan membiarkan Kyuhyun mengambil posisi duduk disampingnya.
"Bagaimana keadaanmu?"
Sungmin menganggukkan kepalanya, memeluk selimut yang Kyuhyun sampirkan dengan erat. Ada rasa hangat yang menyelimutinya disana. "Aku baik-baik saja." Sungmin menatap Kyuhyun, dan tersenyum disana. "Terima kasih, Kyu."
Kyuhyun mengangguk, wajah tampannya sedatar yang biasanya dan matanya tertuju pada langit dihadapan mereka. Seolah menikmati kebersamaan sederhana yang membuat dadanya serasa berdebar.
Debaran bahagia yang membuatnya sulit untuk menahan senyuman.
"Kenapa kau ingin duduk disini, kau baru sehat dalam beberapa hari."
"Semalam ataupun hari ini." Sungmin menjawab cepat, mengabaikan dengusan Kyuhyun disampingnya. "Intinya aku sehat, dan aku baik-baik saja."
Kyuhyun tidak berkomentar, tangannya terulur mengambil sebuah kertas yang ada disaku celanannya. Menggenggam buntalan kertas itu dengan kedua tangannya.
"Kau masih merasa kosong, Ming?"
Sungmin menatap Kyuhyun, dan terdiam saat mendapati Kyuhyun tengah menatapnya begitu intens. "Kosong?"
Kyuhyun mengangguk, menghela nafas tanpa sadar. "Aku fikir, tanpa memori kita tidak benar-benar hidup."
Sungmin mengangguk, tersentuh saat mendapati Kyuhyun tengah menatapnya begitu lembut, wajah Kyuhyun yang datar justru membuatnya terlihat begitu tampan.
"Mungkin aku benar-benar merasakan kekosongan. Kyu." Sungmin memberikan senyum kecil disana. "Tapi aku fikir, ketika kau bisa menerimanya itu semua bukan lagi masalah."
"Kau menerimanya?"
Sungmin mengangguk lemah. "Mau tidak mau, aku harus menerimanya, Kyu." Dia mengerjap lembut, mengeratkan selimut Kyuhyun ditubuhnya saat angin malam berhembus dibalkon kamar yang mereka duduki. "Hanya coba fikirkan bahwa ini tidak seburuk itu, mungkin akan ada kenangan baru yang lebih manis menungguku."
"Apa kenangan manis itu ada aku disana?"
Kyuhyun bertanya lirih, namun suara lirih Kyuhyun justru terdengar begitu lembut ditelinga Sungmin, dan Sungmin tidak akan pernah berfikir jika jantungnya lantas berdetak lembut.
"Kau ada disampingku sekarang, kau mengaku bahwa kau kekasihku." Sungmin menatap Kyuhyun, entah kenapa dia terpaku disana. "Tapi jika kau benar-benar kekasihku, sejauh apapun aku menyangkal bahwa aku normal, aku fikir kau akan tetap ada dalam kenangan itu."
Kyuhyun tersenyum kecil, tangannya terulur dan mengusap pipi Sungmin dengan lembut. "Aku yakin akan membuatmu tidak normal lagi."
Sungmin terkekeh, mengalihkan tatapannya dari wajah tampan Kyuhyun dan menatap kota Seoul yang terbentang indah dihadapannya, matanya melembut disana.
"Sudah berapa lama kau mengenalku, Kyu?"
Kyuhyun tidak menjawab, tangannya terulur menyerahkan sebuah kertas.
.
.
.
~...~
.
.
.
Kyura mendesah jengah, menatap frustasi kakak laki-lakinya yang tengah merangkul kekasihnya dengan erat, ada senyum bahagia diwajahnya dan senyum teramat kecil diwajah ibunya saat Donghae, kekasih Eunhyuk mengatakan bahwa Sungmin sudah sadar.
Hey, Sungmin lagi.
"Dia baik-baik saja kan, Hae?"
Donghae menatap kekasihnya dengan senyuman lembut, sedikit membuat Kyura tersentuh disana.
Dia tidak ingin menerima fakta bahwa kakaknya yang tampan mendapatkan seorang kekasih yang lebih tampan, Hey. Bagaimana nasib wanita cantik sepertinya?
Kyura mendengus, menatap Ibunya yang kini bertingkah seperti biasanya, wajahnya dingin, dan kesan cantik nan angkuh tercetak jelas disana. Namun kabar mengenai Sungmin yang sudah sadar membuat ada senyum tipis diwajah cantik ibunya.
"Kondisi tubuh dan fisiknya baik-baik saja. Tapi ada sedikit masalah dengan otaknya."
"Otak? Kenapa dengan otak Sungmin?" Heechul bertanya dengan nada datar, tapi Donghae masih merinding saat tatapan Heechul tertuju padanya, jangan lupakan bahwa dia bekerja di Rumah sakit yang diketuai oleh Heechul.
"Menurut analisaku," Donghae menghela nafas. "Dia terkena amnesia permanen, Cho Sajangnim."
Kyura tidak tahu bahwa wajahnya bisa berubah pias, matanya mengerjap pelan saat mendapati Eunhyuk dan ibunya juga sama sepertinya. Mungkin, jika dimata Donghae wajah mereka biasa saja, namun Kyura tahu bahwa Ibunya jelas terkejut dengan berita ini.
"Permanen? Sungmin amnesia permanen?"
Donghae mengangguk, mengelus lembut lengan Eunhyuk saat ada pekikan tak percaya disana.
"Bukankah itu berita bagus?" Donghae terpana saat Eunhyuk tersenyum kecil, kekasihnya itu tengah menatap calon mertuanya dengan tatapan bahagia. "Kau bisa menjodohkan mereka dengan mudah jika Sungmin lupa ingatan Umma, aku benar bukan?"
Raut Heechul masih datar, dan tatapannya yang menurut Donghae tajam masih tertuju padanya. "Bagaimana respon Kyuhyun?"
Eunhyuk mendelik, mengabaikan cibiran dari Kyura dan menatap ibunya dengan tatapan tidak terima.
"Aku fikir Kyuhyun akan senang." Donghae tersenyum kecil, menatap berani kearah Heechul. "Tapi dia tidak melakukan itu, dimataku bahkan Kyuhyun terlihat marah atas apa yang menimpa Sungmin."
Dan Donghae terpana, untuk pertama kalinya dia melihat Heechul, calon mertuanya tengah tersenyum begitu manis. Dulu Donghae berfikir dari mana senyum cantik diwajah Eunhyuk dan Kyura, tapi sekarang Donghae tahu.
Karena Heechul, juga memiliki senyum yang begitu manis.
"Kau boleh mengaturnya, Hyukkie."
Eunhyuk dan Kyura mengerjap bersamaan. "Kau serius, Umma?"
"Bagaimana bisa begitu, Umma?" Ini jelas suara protesan dari Kyura.
"Aku fikir Kyuhyun benar-benar berubah. Aku ingin menemui Sungmin secepatnya."
Eunhyuk tersenyum lebar, memeluk Donghae dengan erat saat Heechul melangkah bangun, meninggalkan mereka bertiga diruang keluarga Mansion Cho.
Kyura mendelik, mengabaikan senyuman manis yang Donghae layangkan.
"Aku yang akan menemuinya terlebih dulu, Cho Eunhyuk."
"Yak."
Dan seperti Heechul, Kyura melangkah pergi tanpa memperdulikan jawaban Eunhyuk.
.
.
.
~...~
.
.
.
"Kau yakin ini tentangku dan juga tentangmu?"
Kyuhyun mengangguk, membiarkan Sungmin membaca gulungan kertas yang tadi dia berikan pada Sungmin.
"Aku lulus dari sebuah Universitas jurusan Akutansi dalam waktu Tiga tahun empat bulan? Aku pintar?"
Kyuhyun terkekeh kecil saat Sungmin bertanya dengan begitu menggemaskan, Kyuhyun mengangguk. Waja tampannya tidak terlalu datar disana.
"Aku suka hal-hal yang berbau Pink, apa itu sebabnya lemari pakaianku ada banyak yang berwarna Pink?"
Kyuhyun mengangguk, bersyukur Changmin membelikan pakaian untuk Sungmin dengan 70% nya berwarna merah muda.
Sahabatnya itu, Kyuhyun menggeleng pelan.
"Aku suka Anak-anak, aku suka yang manis-manis, Aku suka memasak, aku suka membaca, aku senang jalan-jalan ketaman bermain." Sungmin mengerjap pelan. "Hey, kenapa aku terdengar begitu cheesy disini?"
Kyuhyun tersenyum kecil, mengulurkan tangannya dan mengacak surai Sungmin dengan gemas. "Kau uke yang manis untukku Ming, aku yakin itu."
Sungmin mendengus, menepuk tangan Kyuhyun dengan bibirnya yang mencibir. "Aku masih normal Cho, Aku yakin itu."
Kyuhyun tidak peduli, matanya masih menatap lembut Sungmin yang tengah membaca.
"Hey, kau orang kaya?"
Kyuhyun mengerjap pelan.
"Kau seorang Direktur ICBC yang beromset 43.000 Triliun lebih. Tapi kenapa kau terlihat biasa saja dan tidak menunjukkan aura seorang direktru?"
Oh, Kyuhyun harus ingat jika Sungmin lupa ingatan. Dan Kyuhyun juga harus ingat bahwa namja menggemaskan dihadapannya hanya melihat gaya santai Kyuhyun akhir-akhir ini.
Dia belum melihat Kyuhyun yang sebenarnya, Belum.
Kyuhyun mendesah, mengibaskan tangannya asal. "Jangan bahas kekayaan keluargaku, baca selanjutnya."
Sungmin mendengus, membuka lembaran selanjutnya dan menatap serius kesana. "Kau tidak suka sayur?" Sungmin berteriak tertahan, menatap kulit Kyuhyun yang pucat dan tubuhnya yang jangkung dan sedikit kurus, walau ada beberapa otot yang perlahan terbentuk disana. "Pantas saja kau seperti vampire, kau kekurangan gizi."
Kyuhyun mendesah lagi, dia hanya mengangguk tanpa berniat menjawab. Wajah Sungmin yang menggemaskan cukup menghibur, mesti komentar Sungmin sama sekali tidak ada imut-imutnya.
"Kau lulus Master Manajemen Ekonomi dari sebuah universitas bergengsi diusia 23 tahun? Wow, kau jenius sayang."
Sungmin terkekeh sendiri mendengar cibiran yang dlontarkannya, hal sederhana yang entah kenapa membuat Kyuhyun tersenyum kecil tanpa disadarinya, tangannya terulur dan menarik kertas yang belum selesai dibaca Sungmin.
Tangannya menggenggam tangan Sungmin dengan lembut, dan matanya lagi-lagi menatap intens kearah Sungmin.
Sebuah tautan mata yang tidak akan pernah ada kata bosan dalam kehidupan Kyuhyun mulai saat ini.
"Apa kau mulai menyukaiku?"
Sungmin terdiam, cengirannya lantas menghilang begitu saja.
Tatapannya mengerjap lembut, matanya terkunci pada onix sekelam malam milik Kyuhyun.
Mata Kyuhyun gelap, seolah menyedot Sungmin untuk terus menatapnya, tapi tatapan itu juga meneduhkan diwaktu bersamaan. Seperti sungai yang berarus tenang tapi terkadang berarus kencang dan menghanyutkan. Mata Kyuhyun seperti itu, ada bayangan liar yang seolah mengundangnya, namun tersembunyi dengan apik dibalik bulu mata lentik miliknya.
Sungmin dapat melihatnya,
Tatapan Kyuhyun ibarat kelembutan yang diselimuti gairah.
Dan Sungmin terjebak disana,
Tanpa disadarinya.
.
.
.
TBC
.
.
.
POJOK FF :
Duh, gak tahu kenapa Dika bahagia ngetik chapter ini. Interaksi antara Sungmin dan Kyuhyun entah kenapa rasanya maniiis banget *eh. Tapi, Selamat Weekend joyers sayang XD, Dika lega bisa nepatin janji buat update setiap Weekend, pokoknya selamat menikmati hari libur deh. Hilangkan sedikit kejenuhan kita terhadap rutinitas yang sama tapi wajib kita hadapi.
Dika lahir tahun 95 tanggal 17 bulan 8. Umur Dika sudah mau 20 tahun, dan Njiiir Dika baru sadar bahwa Dika udah tua. *eh, jadi buat joyers semua, jangan manggil author yaa, bagi yang lebih tua bisa manggil saeng kok *masih muda, bagi yang lebih muda boleh manggil eonni *gua ketuaan, dan yang sama umurnya (?) manggil Dika aja. Oke *senyum cantikk
Jangan manggil auhtor, rasanya gimana yaaa ..
Buat Joyers yang sudah ngasih semangat dari awal sampai sekarang, buat Siders yang juga melum menunjukkan diri (?) dan buat reader baru yang terkadang mereview dari awal. Dika gak tahu mesti bilang apa, tapi terima kasih banyak :')
Itu sederhana, tapi membahagiakan buat Dika. Graciasssss~
Berminat tinggalkan jejak lagi, kan Joy? XD
