~ Blue Eyes ~

-CHANBAEK VERSION -

.

.

.

.

Langkah keduanya tergerak cepat memasuki Ruang Operasi di Klinik Hewan milik Chanyeol. Kucing berbulu coklat keorange'nan itu Chanyeol baringkan di meja operasi, tangannya bergerak dengan cepat menghidupkan lampu operasi kemudian meraih alat pencukur bulu. Chanyeol mencukur bulu di sekitar tubuh kucing yang terluka tersebut.

Ringisan Baekhyun terdengar, membuatnya melirik sebentar pada sosok cantik tersebut. Baekhyun ampak khawatir pada kondisi Kucing yang saat ini sedang Chanyeol tangani. Setelah selesai mencukur, Chanyeol bergegas membersihkan tangannya, memakai jubah operasi dan juga sarung tangan khusus. Dengan di dampingi Baekhyun dia membedah Kucing tersebut

Tiit…. Tiitt

Drrttt…. Drrttt…

Suara detak jantung kucing yang lemah, bertepatan dengan suara deringan Ponsel yang menampilkan nama Xiao Luhan. Tapi Chanyeol terlalu fokus pada keaadaan kucing di meja operasinya, hingga mengabaikan pangggilan telpon dari Luhan

Detak jantung Kucing tersebut yang mengkhawatirkan, membuatnya memilih untuk segera melakukan penanganan CPR. Menekan beberapa kali pada dada kucing tersebut, demi bisa mengembalikan detak jantungnya yang melemah.

"Tolong selamatkan nyawanya. Aku akan membantu sebisaku." mohon Baekhyun saat melihat pada monitor, yang menghubungkan dengan jantung Kucing tersebut. Jantung kucing itu tampak begitu lemah

"Pakai itu!" perintah Chanyeol, menyerahkan sarung tangan khusus pada Baekhyun yang langsung di raih wanita itu guna dia pakai.

"Sudah." dengan nafas terengah karena terburu, Baekhyun bersuara.

Sentakan dari Chanyeol yang menarik tangannya untuk mendekat padanya, membuat Baekhyun sedikit terkejut. Kemudian lelaki itu mengarahkannya untuk melakukan penanangan CPR seperti yang Chanyeol lakukan sebelumnya.

"Bagaimana cara aku melakukannya?" tanyanya bingung dan panik.

"Perlahan… Tekan secara perlahan…" jelas Chanyeol, membantu menggerakan tangan Baekhyun untuk memberikan penanganan CPR pada Kucing tersebut.

Chanyeol kemudian menyiapkan suntikan untuk penanganan pada Kucing tersebut, menyuntikkannya melalui infus yang sudah terhubung pada Kucing itu, selagi Baekhyun tetap melakukan CPR dengan wajah penuh ke-khawatiran. Chanyeol kembali mengambil alih penanganan CPR dengan nafas terengah, matanya berpindah dari si kucing pada monitor, hingga akhirnya monitor menunjukkan detak jantung si Kucing stabil. Membuatnya menghela nafas leg telah berhasil menyelamatkan nyawa Kucing itu.

"Terimakasih… Terimakasih Tuhan…." Ucap Baekhyun begitu bersyukur, menatap Chanyeol penuh rasa terimakasih karena telah menyelamatkan Kucing tersebut. Kedua matanya berbinar, tak henti-hentinya tersenyum kea rah Chanyeol.

Chanyeol nyaris terlena akan senyuman manis Baekhyun. Ia merasa ingin ikut merasakan senyum bahagia itu. Namun, ia lebih memilih memasang wajah datarnya ketimbang ikut tersenyum dengan Baekhyun.

Setelah membalut perban pada perut kucing tersebut, Chanyeol memindahkan Kucing itu pada kandang khusus dengan dinding kaca tebal yang sudah dilubangi. Baekhyun berada di sampingnya. Mata wanita itu terlihat penuh binar kelegaan melihat kondisi Kucing tersebut sudah lebih baik. Rasa bersalahnya pada si Kucing, tidak sedalam sebelumnya.

"Terimakasih telah menyelamatkan kucingnya…" ucap Baekhyun, mengikuti langkah Chanyeol menuju Meja kerjanya "Aku melihat papan nama di depan, dan aku sudah menduga kamu Dokternya!" lanjutnya dengan tersenyum kecil seraya masih memperhatikan Chanyeol.

"Eoh?" matanya teralih pada syal yang tergantung di samping meja kerja Chanyeol, tampak begitu tak asing untuknya. Baekhyun berjalan kearah dimana syal tersebut dengan senyuman "Ini milik ku. Aku akan membawanya kembali" ucapnya pada Chanyeol.

"Ahh itu…" ujar Chanyeol tak enak saat darah dari Rusa di hari lalu masih tertinggal karena dia belum mencucinya.

Baekhyun menatap noda darah itu dengan senyuman "Tidak apa!" ucapnya "Eoh iyaa! Berapa biaya pengobatannya?" tanyanya kemudian saat mengingat bahwa Kucing tersebut telah selesai di tangani oleh Chanyeol.

"Ahh tidak usah. Anggap saja itu pengganti biaya syal!" jawab Chanyeol.

Baekhyun mengangguk dengan senyuman kecil "Baiklah." setujunya, matanya kembali teralih pada kandang kaca yang disusun berderet dengan Kucing tadi "Apa semua anjing itu terlantar?" tanyanya merasa penasaran.

Chanyeol menoleh menatap Anjing-anjing tersebut "Ada yang memiliki pemilik, tapi juga ada yang tidak." Jawabnya jujur.

Baekhyun menghela nafas sedih "Kira-kira apakah mereka ingat sudah di buang?"

"Anjing memiliki ingatan Asosiatif. Mereka mempelajari peristiwa." Chanyeol berbalik kembali menatap Baekhyun "Setelah mempelajari sesuatu mereka tidak akan lupa. Manusia mungkin bisa melupakan sesuatu, tapi anjing tidak bisa melupakan… manusia yang membuang mereka." lanjutnya.

Baekhyun merengut kecil "Terdengar begitu tidak adil, mereka ingat telah di buang." helaan nafas terkuar darinya "Ahh yaaa… Apa anda tau Cadocolin itu obat apa?" tanyanya lagi.

Chanyeol terdiam sejenak, menatap kotak stainless yang berisi Suntikan dan cairan Cadocolin, kemudian menatap Baekhyun yang menunggu jawabannya.

"Itu di gunakan untuk Eutanisia."

"Apakah itu menyakitkan?" tanya Baekhyun lagi

"Jika di berikan belebihan seperti Anestesi, yang di suntik akan sadar. Tapi semua tubuh mereka serasa lumpuh dan mereka akan merasakan sesak napas. Mereka akan sekarat dan mati." jelas Chanyeol dengan begitu tenang tanpa ada rasa takut atau keraguan dalam dirinya.

Baaekhyun mengangguk kecil, mengalihkan pandangannya dengan wajah berfikir akan jawaban yang Chanyeol berikan. Teringat tentang kasus pembunuhan yang tengah ia tangani.

CEKLEK

"Maaf menyela percapakan kalian…" suara Luhan dengan pintu Klinik yang terbuka mengalihkan perhatian Chanyeol dan Baekhyun.

Luhan berdiri di pintu dengan bersidekap dan menatap kesal pada Chanyeol "Tapi sulitkah memikirkan gadis muda ini yang telah kehilangan Kakeknya, Dokter Park?" sarkasnya.

Suasana sedikit kaku karena perkataan Luhan yang blak-blakan. Meski perhatian Luhan teralih pada syal yang berada di genggaman Baekhyun. Dia menatap sosok Baekhyun begitu lekat "Seorang wanita?" gumamnya saat mengingat jawaban Chanyeol tempo hari. Saat ia menanyakan kepemilikan Syal tersebut.

Baekhyun bingung tentang gumaman yang Gadis tersebut katakan, kemudian melempar tatapan pada Chanyeol yang tampak terdiam di tempatnya. Sadar bahwa sepertinya dirinya telah ketahuan oleh Luhan dekat dengan seorang wanita. Bukan apa-apa, Luhan seperti seorang adik yang mengetahui semua kebiasaannya, lebih tepatnya Luhan yang selalu mencampuri urusannya. Dan mengenai Baekhyun, Chanyeol memang tak memberitahunya.

~ Blue Eyes ~

Matahari masih menguarkan sinar pagi, membiaskan Cahaya-nya tidak begitu terik. Suara cicitan burung terdengar di Hutan dimana pengusaha Hangeng meninggal. Dan di dinding tebing dimana Hangeng tejatuh, Baekhyun tampak berpegangan pada tali panjat yang telah dia pasang di atas tebing, menyusuri dinding tebing menggunakan tali tersebut.

Dengan nafas terengah dan mata yang meneliti tebing tersebut, perhatian Baekhyun teralih pada salah satu sudut tebing. Dia menatap sekitaran tebing, mulai dari atas tebing samping hingga tempat dia berada. Ia meraba permukaan tanah yang terlihat ada bekas seseorang disana. Mulai mempokuskan pikiran dan mencoba menggambarkan semua kejadian disana dalam pikirannya. Merasakan ada sebuah gambaran di fikirannya, Baekhyun akhirnya turun ke bawah dimana Jongdae telah menunggunya di sana.

"Ahh Sunbae~ Kenapa kita harus susah payah melakukan ini semua?" rengek Jongdae pada Baekhyun, sesaat setelah wanita itu sampai di bawah.

"Ini demi mendapatkan sebuah jawaban Jongdae-ah…" jawab Baekhyun dengan tangan yang masih sibuk melepaskan tali panjat yang melilit pinggangnya "Dengan begini, kita bisa mengetahui isi pikiran pembunuh Hangeng-ssi." Lanjutnya.

"Sudah tau sekarang isi pikiran pembunuh tersebut?" tanya Jongdae setengah acuh tak acuh.

Ia cukup tak percaya dengan ide yang dicetuskan Baekhyun. Baekhyun bergerak seolah ialah pembunuhnya dan tak takut untuk bergerak seperti pembunuhnya. Nyaris membahayakan nyawa sendiri lebih tepatnya. Karena tindakan Baekhyun memeriksa lokasi kejadian, jauh dari kata aman.

"Dia begitu nekat dan memiliki niat kuat membunuh Hangeng-ssi…" jawab Baaekhyun dengan pandangan menatap tebing curang dan tinggi tersebut.

"Tapi Sunbae…" sela Jongdae "Misalkan saja jurang ini adalah arena berburu Hangeng-ssi. Pembunuhnya pasti menunggu di bawah jurang bukan di atas. Dan bagaimana dia bisa tau Hangeng-ssi akan pergi menuju tepi jurang?" tanyanya kemudian membuka spekulasi yang dia pikirkan.

"Tebingnya tidak terlihat jika kita tepat di bawahnya bukan?" tanyanya "Tapi bagaimana jika pelaku memulainya dari sana?" tanya Baekhyun memberi pendapat dengan menunjukan pada sisi kanan Tebing "Dari sana Hangeng-ssi bisa terlihat dan pelaku bisa melompat sekaligus menangkapnya dengan tali lalu menjatuhkannya ke jurang" terang Baekhyun dengan memberikan beberapa arahan spekulasinya

Jongdae tampak terkejut akan spekulasi yang Baekhyun jelaskan terdengar begitu masuk akal "Pelakunya benar-benar sudah gila" gerutunya "Dia bertaruh nyawanya sendiri untuk membunuh orang lain!" gumamnya kemudian.

Baekhyun mengangguk membenarkan "Sekarang ayoo kita cari pendaki gunung ahli atau atlet yang ada di pangkalan data kriminal, lalu cari tahu yang berkaitan dengan narkoba. Dan, periksa kembali hubungan mereka dengan Hangeng-ssi" perintahnya, berjalan meninggalkan lokasi dengan di ikuti Jongdae di belakangnya/

"Ahh.. tapi Kim Jong Sik dulu adalah seorang atlet saat kuliah." Ujar Jongdae berdasarkan info yang ia dapatkan

"Dia dari jurusan Judo" sahut Baekhyun "Dia berhenti dari Judo setelah lulus karena kecelakaan dan sejak itulah dia mulai menggunakan narkoba" jelasnya.

"Sunbae! Saat aku di ajak ke kedai masakan ibu itu, kau sedang menguji diriku bukan? Kamu juga pindah ke daerah ini karena pembunuh ini juga bukan?" tanya Jongdae penasaran.

Baekhyun menghela nafas dengan senyuma tipis misterius terulas disudut bibirnya.

"Apa Sunbae benar-benar percaya bahwa buku itu memprediksi pembunuhan berantai ini?" tanya Jongdae lagi, masih belum percaya dengan apa yang terjadi.

Baekhyun menatap Jongdae "Menurutmu?" tanyanya.

Jongdae meringis kecil "Aku tidak begitu yakin. Tapi bagaimana bisa Reporter Wu Yifan tahu soal kasus 9 tahun mendatang?" gumamnya bertanya-tanya.

Baekhyun tersenyum kecil dengan helaan nafas panjang "Dia pasti juga tidak menyangka pembunuhan berantai ini akan benar-benar terjadi."

~ Blue Eyes ~

Klinik Hewan

Chanyeol berjalan menyusuri lorong kandang-kandang hewan di Klinik Hewan miliknya, langkah kakinya terurai hingga di ujung ruangan. Disana terdapat sebuah kandang hewan besar hampir seukuran manusia. Dia memasuki kandang tersebut kemudian membuka pintu yang tersembunyi di dalam kandang itu. Itu adalah pintu tersembunyi untuk masuk ke dalam ruangan Rahasianya.

Suara mesin penghancur kertas terdengar saat dia memasukan foto kematian Hangeng yang dia ambil saat selesai membunuh Hangeng. Dia memasukan semua foto yang berhubungan dengan Hangeng selama dia melakukan pengintaian. Namun, tangannya terhenti pada salah satu foto pengintaian dimana sosok Baekhyun terpotret di sana. Meski kemudian dia memasukan foto tersebut juga pada mesin penghancur kertas. Menghancurkan semua barang bukti yang ia punya agar tak meninggalkan jejak.

Perhatiannya kembali teralih pada potret Baekhyun dengan sebuah paying terlihat senyuman manis Baekhyun. Ia menatapnya begitu lekat, senyum yang kini mulai ia lihat jika bertemu dengan wanita itu. Chanyeol meletakkan foto itu begitu saja di meja, kemudian meraih sebuah foto dengan tulisan 'Panti Asuhan Hansol'.

Chanyeol meletakkan foto tersebut pada kaca, yang juga berisi foto-foto lainnya yang ia dapatkan setelah menyelesaikan satu persatu misi dari klien nya. Misi membunuh target dari klien-nya.

"Foto lain akan di berikan setiap kau melenyapkan satu target. Kata Klien, itu bisa membantu menguak masa lalumu."

Perkataan Jongin terngiang di telinganya. Tatapan matanya tertuju begitu tajam pada deretan foto tersebut.

Disisi lain…

Luhan mendengus kesal dengan jari begitu cepat mengetikkan sebuah pesan yang kemudian ia kirim pada Chanyeol.

Dokter Park! Ini keadaan darurat! Datanglah ke kamar 401! Cepat!

Langkah lain terdengar di dalam kamar 401 itu, Luhan merengut menatap sosok wanita tersebut. Wanita yang tak lain adalah Baekhyun!

Baekhyun tengah mencari tempat baru, pindah dari apartemen lamanya. Dan memilih gedung milik Luhan yang kemudian akan ia tinggali.

"Ada masalah kelembapan di sini." ujar Baekhyun di satu sudut rumah di bagian dapur.

Luhan menghampiri Baekhyun dengan kesal "Tiba-tiba?" tanyanya, mendekat melihat yang Baekhyun katakan kemudian mendecih "Apa maksudmu? Semuanya terlihat baik-baik saja." protesnya "Kenapa kamu menjelek-jelekkan Gedungku?" kesalnya, mengulum mulutnya saat Baekhyun menatapnya.

Baekhyun menghiraukan perilaku Luhan, lalu menuju Westafel dan menghidupkan airnya "Ternyata tekanan airnya begitu lemah." ujarnya.

"Itu tidak benar!" protes Luhan, menaikan putaran kran air hingga air keluar dengan deras "Konon katanya, tekanan air yang tinggi bisa menyebabkan keriput Ahjumma!" kesalnya "Lihat bukan? Apakah itu cukup kuat untuk mu?" tanyanya dengan kesal.

Baekhyun tersenyum dengan anggukan. Sedikit menguji kesabaran anak itu memang mengasyikan bagi Baekhyun. sementara Luhan yang sudah kepalang kesal, dengan sengaja memercikkan air kearah Baekhyun saat ia akan mematikan kran air tersebut

"Omo! Kenapa air-nya bisa memercik ke situ?" ujarnya berpura-pura merasa bersalah, kemudian tersenyum miring pada Baekhyun yang menatapnya tak percaya "Sampai jumpa di lantai satu Ahjumma!" ucapnya sebelum berlalu keluar dari kamar tersebut.

Meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa terperangah tak percaya akan apa yang terjadi.

"Dia tidak sopan, begitu sombong dan tampak begitu manis." gumamnya, menatap pintu keluar dengan geram "Tapi aku hanya bisa mengabaikannya." Akhirnya Baekhyun menyusul Luhan menuju lantai satu. Klinik Hewan milik Chanyeol.

"Kertas dindingnya akan di ganti bukan?" tanya Baekhyun dengan senyuman.

Chanyeol duduk di kursi kerjanya dengan terfokus pada layar laptopnya saat Baekhyun dan Luhan duduk saling berhadapan di meja di kliniknya.

"Aku tidak tau bagaimana selera Ahjumma." jawab Luhan acuh, bersedekap dengan tersenyum pada Baekhyun "Itu tugas penyewa!" ujarnya yang membuat perhatian Chanyeol teralih pada sosok Luhan.

"Ahh kulit catnya mengelupas dan lapuk karena air. Itu karena kebocoran air bukan?" tanya Baekhyun kemudian.

"Tidak." jawab Luhan kesal.

"Eoh? Jika selembab itu saat cuaca kering pasti karena ada yang bocor." ujar Baekhyun.

"Sudah kubilang tidak ada yang bocor! Kenapa kau terus berkata begitu? Aku benar-benar tidak mengerti!" kesal Luhan dengan menaikkan nada suaranya.

Chanyeol yang sedari tadi mendengar perdebatan kedua wanita itu akhirnya turut bicara "Jika kondisinya tidak nyaman, anda tidak perlu pindah kemari!" ujarnya.

Baekhyun tersenyum tipis menatap Chanyeol, mempertimbangkan perkataan Chanyeol tersebut dengan helaan nafas.

"Hemmmm...Aku sudah tanda tangan kontrak. Uang jaminan juga sudah ku transfer. Jika pemilik gedung sewenang-wenang dan membatalkan kontrak, uang jaminanku harus di kembalikan dua kali lipat." Luhan tampak terkejut dengan perkataan Baekhyun, ia menatap Chanyeol kemudian kembali menatap Baekhyun "…Aku juga akan menuntut ganti rugi karena waktu dan mental ku terganggu. Jika itu mau mu, kita bisa bawa masalah ini ke meja hijau." terangnya begitu santai, bahkan tersenyum kepada Luhan yang sudah tampak terdiam kaku.

Chanyeol hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Baekhyun, lalu melihat reaksi Luhan. Baekhyun beranjak dari sana setelah mengeluarkan perlawanan yang membuat kesadaran Luhan kembali,

"Waah… Dia benar-benar begitu kurang ajar" kesalnya pada Baekhyun, memutar badan menghadap Chanyeol yang menatap kepergian Baekhyun "Dokter Park! Ini juga melibatkanmu! Kau bisa bantu aku bukan?" tanyanya meminta dukungan.

"Dia akan menjadi tetanggamu. Bekerja samalah!" sahut Chanyeol.

Luhan menghela nafas kesal "Apa kau lupa bagaimana hubungan ku dengan para tetanggaku sebelumnya? Ahh aku kesal!" keluhnya.

Chanyeol berdiri dari posisi duduknya menuju pintu depan "Aku akan membuka klinik. Naiklah ke atas!" ujarnya pada Luhan.

Luhan hanya bisa menghela nafas kesal pada sosok Chanyeol yang tidak mendukung dirinya.

~ Blue Eyes ~

Pagi itu, Baekhyun sudah membawa beberapa kotak berisi barangnya ke kamar 401 di gedung Apartmant milik Luhan. Duduk di kursi makan dengan tangan menyeduh kopi, perhatian Baekhyun terpusat pada papan tulis kaca miliknya. Disana, berisi struktur terperinci kasus pembunuhan yang sedang dia selidiki saat ini. Bahkan barang-barangnya yang belum tersusun dan masih tergelatak di setiap sudut rumah, tak bisa membuatnya teralih sejenak pada papan tulis kaca tersebut

Lee Sang Pil – 50thn (Kepala Damkar)

Kim Jong Gu – 40thn (Boss Geng)

Meninggal 1 januari 2018 – berkelahi dengan Geng Rival

Hangeng – 50thn (CEO)

'Pak A dan Ketua Geng berkelahi…."

'Ketua Geng tewas akibat luka pada perutnya…."

'Kepala Damkar Lee Sang Pil tewas dalam ledakan mobil…"

'Tanggal 21, Lee Sang Pil bekendara ke Kota Gyeonggi… Asap keluar dari mesin mobilnya…"

"Hangeng dari MyeongsungGlobal Logitics tewas"

'Hangeng jatuh dari jurang Gunung Bukin…'

"Lee Sang Pil, Kim Jong Gu, Hangeng, ….?"

Baekhyun mengamati seluruh artikel yang terpampang di papan tulis kaca itu dengan seksama. Dia meraih Spidol berwarna putih, dan menuliskan sesuatu di sudut kanan papan tulis kaca tersebut.

TERSANGKA

Kim Jong Sik

Baekhyun terpaku sejenak pada tulisan yang dia buat, mendesah kecil dengan tangan meraih tisu. Menghapus kata Tersangka dan nama Kim Jong Sik. Sesuatu yang sangat tidak bisa percayai hingga sekarang, bahwa Kim Jong Sik adalah tersangka pembunuhan Hangeng.

Drrttt…. Drrttt…

Getaran ponselnya membuat perhatiannya teralih, layar depan yang menampilkan nama 'Ibu' hanya dia abaikan dengan helaan nafas. Perhatiannya kembali berpusat pada papan tulis kaca dengan bersedekap. Berharap dapat memahami dengan benar struktur yang dia buat, akan membuatnya bisa mendapatkan informasi tentang tersangka pembunuhan yang ia cari-cari.

Pandangannya teralihkan kala ia menatap jam di dinding. Jam sudah menunjukkan waktunya ia harus bekerja. Baekhyun pun akhirnya bergegas pergi menuju Kantor Polisi dimana saat ini dia bekerja.

Di Lantai bawah Gedung Apartmant milik Luhan, lebih tepatnya Klinik hewan Chanyeol

Lelaki itu tampak berdiri di depan kandang kaca Kucing bebulu coklat orange, kucing yang di bawa Baekhyun malam kemarin. Tangannya terjulur membuka pintu kandang tersebut yang membuat Kucing itu datang mendekat, Chanyeol pun mengelus kepala Kucing itu bahkan memberikan sebuah kecupan di pucuk kepalanya dengan sebuah senyuman sangat sangat jarang terlihat, senyuman ketulusan dengan binaran mata senang

"DOKTER PARK!" teriakan dari seorang anak laki-laki di depan pintu kliniknya mengalihkan perhatiannya "Peliharaanku akan melahirkan. Sepertinya dia sekarat!" ujar anak laki-laki itu dengan sebuah rengekan sedih.

Chanyeol segera beregegas, kembali menutup pintu kandang kucing tersebut lalu meraih peralatannya dan mengikuti si bocah laki-laki tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Luhan keluar dari kamarnya. Melangkah dengan perlahan karena takut sepatu yang ia kenakan akan lecet jika bersentuhan terlalu keras dengan lantai.

Cekrek

Ia memotret Sepatu yang baru saja dia beli. Dengan langkah ringan dia memasuki lift dengan tangan yang berkutik di atas layar Ponsel guna mengupload foto yang tadi dia ambil. Well, Luhan baru saja membeli sepatu baru limited edition. Anak itu akan menyombongkan sepatu barunya pada Chanyeol.

Tak lama kemudian, Baekhyun keluar dari kamarnya dengan embawa banyak berkas yang membuatnya sedikit kewalahan. Beruntungnya Gedung Apartemen yang di sewanya memliki lift. Meski itu bukan hal yang patut dia katakana beruntung saat dia menyadari bahwa lift melewati lantainya begitu saja dari Lantai 5.

Dengan kesal dan helaan nafas kasar, Baekhyun hanya memiliki tangga sebagai jalur dirinya untuk bisa keluar dari Gedung tersebut.

Sesampai di Luhan lantai dasar, langkahnya dengan pasti menuju Klinik Hewan milik Chanyeol

"Dokter Park…" sapanya ceria saat membuka pintu "Aku mendapatkan sepatu Limited Edition…" katanya terhenti saat menyadari bahwa sosok Chanyeol tidak ada di dalam Klinik Hewan tersebut "Apa ini? Lagi-lagi dia pergi? Sepagi ini?" keluhnya "Aishh kenapa dia selalu berpergian.." dumelnya kesal, tersenyum pada Anjing besar berwarna abu-abu dengan mata biru, mengusak pucuk kepala anjing itu "Hallo Toben-ie.." sapanya sebelum berlalu keluar dari klinik dengan kembali melangkah dengan hati-hati memperhatikan sepatu barunya.

"Kenapa lift-nya tidak bisa berhenti dilantai 4?" suara Baekhyun yang berada di parkiran membuat perhatian Luhan teralih.

"Lift-nya khusus untuk pemilik." jawabnya santai.

Baekhyun mengangguk dengan helaan nafas kesal, dia akan masuk ke dalam mobil saat kemudian dia menyadari bahwa Luhan memakai seragam sekolah "Mau ku antar ke sekolah mu?" tawarnya.

Luhan menatap Baekhyun acuh "Tidak perlu." tolaknya "Tapi… Kenapa bicaramu santai padaku?" protesnya.

"Anggap ini peringatan untuk seorang gadis yang bersikap tidak sopan." jawab Baekhyun lugas "Kau yakin tidak ikut denganku?" tawarnya lagi.

"Aku tidak mau bersama orang asing." balas Luhan

"Baiklah! Terserah kamu saja!' jawab Baekhyun cepat, masuk ke dalam mobilnya dan berlalu begitu saja meninggalkan Luhan yang hanya bisa melongo tak percaya.

"Aishh yang benar saja! Orang korea itu setidaknya menawarkan 3 kali!" gerutunya, menatap ponselnya kemudian dengan kesal "Ahh angkat telponnya Dokter Park!" dumelnya dengan menghentakan kakinya meski kemudian dia tersadar akan sepatu barunya "Ahh sepatu baruku! Hati-hati!" serunya, berlalu dari sana tanpa menyadari bahwa ada dua sosok lelaki asing yang mengikutinya.

Ia terlalu sayang dengan sepatu barunya, sehingga sepanjang jalan terus bergumam tentang sepatu baru, dan hati-hati.

~ Blue Eyes ~

Baekhyun baru keluar dari tempat makan 'Masakan Ibu', perhatiannya teralih pada sebuah Mobil Mini Van yang terparkir di bagian samping tempat makan 'Masakan Ibu'. Mobil itu tampak terbengkalai meski Baekhyun begitu tertarik hingga mendekatinya dan ternyata mobil itu milik 'Masakan Ibu'.

Perhatian Baekhyun berpusat pada kamera Black Box yang terpasang di depan mobil, tangannya langsung tergerak menelpon Jongdae.

"Yee Sunbaenim?" jawab Jongdae dengan suara parau seperti baru bangun tidur.

"Periksakan nomor plat mobil untukku dengan nomor polisi, 40R 6532." ujarnya menyebut nomor plat mobil mini van tersebut

"Mobil apa itu Sunbae?" tanya Jongdae.

"Mobil pengantar pesanan milik 'Masakan Ibu'!" jawab Baekhyun "Apa aku bisa dapat surat penyitaan rekaman Black Box-nya?" tanyanya lagi.

"Hoaamm.. Jelas tidak Sunbae. Kasusnya telah di tutup. Mereka semua tidak akan senang dengan hal seperti ini." terang Jongdae

Baekhyun hanya bisa menghela nafas panjang mendengar jawaban dari Jongdae. Perhatiannya kembali teralih pada Ibu pemilik 'Masakan Ibu' yang berdiri menatapnya, meski kemudian mengalihkan pandangan saat Baekhyun juga menatapnya.

"Sepertinya aku harus turun tangan sendiri" ujarnya "Apakah ada hasil yang sesuai dengan basis data?" tanyanya lagi tentang tugas yang sebelumnya dia berikan pada Jongdae.

"Tidak. Tidak ada yang persis sesuai dengan profil, tapi ada satu yang mendekati."

"Siapa?" tanya Baekhyun langsung.

"Aku menelusuri dengan kata kunci 'Atlet' dan 'Narkoba'. Hasil yang keluar adalah Kim Jong Sik." jelas Jongdae.

Baekhyun menghela nafas kecewa karena dia berharap ada nama lain yang bisa menjadi titik kunci "Baiklah!" jawabnya, mematikan sambungan telpon kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya.

Menatap sosok Luhan yang berjalan begitu berhati-hati dari kaca spionnya.

Chanyeol berjalan dengan langkah santai. Ditangannya, ia membawa tas darurat yang memang selalu dia bawa saat melakukan pertolongan pada hewan di luar klinik. Dia telah membantu Anjing dari bocah laki-laki yang mendatangi kliniknya tadi, anjing itu melahirkan dengan lancer.

"DOKTER PARK" teriakan dari sosok bocah laki-laki tadi membuatnya berbalik, menatap sosok bocah tersebut yang kemudian memberikannya sebuah plastic hitam "Ini adalah makanan favoritku! Hanya Dokter yang boleh memakannya. Oke!" ucapnya, berlalu begitu saja saat Chanyeol telah menerima plastik hitam tersebut.

Dia mengangguk kecil sebelum berbalik tanpa kata, melanjutkan langkahnya menuju Klinik Hewan miliknya.

Dia persimpangan jalan, dia melihat sosok Luhan berjalan dengan langkah penuh hati-hati. Alisnya bertaut saat melihat sebuah mobil berjalan dengan laju pelan di belakang Luhan. Hingga kemudian ban mobil tersebut mencipratkan air yang menggenang di jalan, hingga mengenai sepatu Luhan

"Aishh!" kesal Luhan "Ahjushi!" pekiknya kesal pada pemilik mobil yang berhenti di dekatnya, dari kejauhan Chanyeol menghentikan langkahnya dan menatap kejadian tersebut dalam diam. Masih memperhatikan Luhan dan mencoba memahami keadaan.

Luhan terpaku saat melihat siapa sosok di balik kursi pengemudi, langkahnya terulai mundur dengan wajah yang sudah sedikit pucat dan ketakutan.

"Luhan-ah" sapa sosok tersebut. Yang membuat Luhan langsung memutar langkah berbalik, meski itu adalah hal yang sia-sia saat dia mendapati dua orang lain menghalangi jalannya.

Chanyeol yang melihat semua itu langsung menaruh tas daruratnya di pinggir jalan, menatap Luhan yang sudah di pegangi oleh kedua lelaki yang mengikuti Luhan dari belakang. Sosok di kursi pengemudi itu keluar dari mobil dan menghampiri Luhan dengan senyuman miring meremehkan.

"Bagaimana kau tau kakekmu akan mati haa?" tanyanya "Kamu mengganti kartu keluarga dan merepotkan kami semua." keluh sosok lelaki tua tersebut "Mengubah kartu keluargamu tidak mengubah garis keturunanmu Luhan-ah."

Chanyeol melangkah mendekati Luhan dan ketiga lelaki tersebut dengan langkah pelan. Luhan memberontak dalam sekapan kedua anak buah lelaki tua tersebut. Lelaki tua itu terlihat sangat marah, tangannya bahkan nyari menampar pipi Luhan.

"Yaak Luhan-ah! Bantulah pamanmu ini mengelola bisnisnya!" marahnya.

Chanyeol yang melihat itu dengan wajah datarnya mempercepat langkahnya mendekati Luhan dan ketiga lelaki tersebut. Hingga sosok yang mengatakan bahwa dirinya adalah Paman Luhan, menyadari kehadirannya dan mendecih.

"Lihatlah! Dia pria gila yang kita jumpai tempo hari." ujarnya yang mengalihkan perhatian kedua anak buahnya dan Luhan kearah Chanyeol

Luhan langsung memberontak, berharap bisa meraih Chanyeol dan melarikan diri dari kungkungan anak buah pamannya.

"Kau pergilah sebelum aku melaporkanmu ke polisi karena telah menyulik seorang anak." seru sosok Lelaki berlabel 'Paman' Luhan itu pada Chanyeol "Kembalilah ke tempatmu!" serunya lagi saat langkah Chanyeol malah semakin mendekat/

"Xiao Luhan!" Dan langkahnya harus terhenti saat suara yang dia kenali memanggil nama Luhan dari belakang tubuhnya.

Baekhyun, sosok cantik dan anggun itu mendekati Chanyeol dengan langkah tenang dan santai.

"Apa isi dari plastik ini?" tanyanya saat melihat Chanyeol membawa sebuah plastik di tangannya.

Tanpa menunggu jawaban Chanyeol yang hanya menatap dirinya, Baekhyun mengambil isi plastik tersebut. Yang ternyata isianya adalah sebuah minuman kaleng.

"Aku akan pinjam dulu ini." ujarnya pada Chanyeol dengan mengenggam kedua kaleng minuman tersebut di kedua tangannya "Ini adalah hal yang berbahaya. Karena itu, berdirilah di belakangku dan jangan bertindak gegabah!" ujarnya, berbalik menatap Chanyeol yang masih bermuka datar "Jika kau tidak keberatan bisakah hubungi pihak kepolisian?" sarannya kemudian.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tukikan alis, merasa bahwa keadaan saat ini sangat begitu lucu meski tidak ada senyum ataupun tawa yang dia perlihatkan. Berlindung dibelakang wanita itu? Oh yang benar saja! Chanyeol bahkan bisa membunuh mereka tanpa harus susah membuang banyak tenaga berlebih.

"Jika kamu mengembalikan gadis itu, aku akan berbicara baik tentangmu pada polisi." ujar Baekhyun pada ketiga lelaki tersebut. Berusaha membujuk, meski ia yakin mereka tidak akan mau mendengarkan ucapannya.

Sosok yang terlihat seperti Bos melangkah mendekat dengan decihan bosan.

"Ini sepertinya sebuah salah paham. Bagaimana aku harus menjelaskannya?" kekehnya "Silahkan anda lewat saja dan jangan ikut campur." geramnya "Akan aku jelaskan sekali, jadi dengarkan baik-baik!" ujarnya kemudian "Gadis ini adalah keponakanku yang nakal." terangnya menunjuk Luhan yang sudah di kurung di dalam mobil "Dia melarikan diri bersama Pria itu!" lanjutnya dengan menunjuk Chanyeol yang berdiri di belakang Baekhyun "Dan aku adalah Pamannya! Jadi bagaimana? Aku tidak bisa diam saja bukan? Aku harus membantunya kembali ke keluarganya." tukasnya dengan senyuman memuakkan bagi Baekhyun.

"Polisi akan tiba dalam 3 menit." sahut Baekhyun "Bolehkah ku beri saran?" serunya "Jika kalian ingin tetap diam, silahkan! Dan sewa-lah pengacara terbaik yang kalian punya! Apa pun usahamu, kita akan bertemu di pengadilan!"

"Kau terlihat cantik, tapi tampaknya kau kurang paham dengan situasi saat ini." balas Paman Luhan dingin, menepuk punggung salah satu anak buahnya untuk bertindak. Mereka langsung mengeluarkan pisau carter dari balik saku jaketnya.

Baekhyun tersenyum miring dengan decihan, lalu tanpa menunggu lama ia mengambil kuda-kuda dan tangannya bergerak melemparkan minuman kaleng yang semula ia pegang. Minuman kaleng itu melayang kemudian membentur kaca spion mobil dengan keras hingga merusaknya.

"Kalian lihat bukan? Itu adalah sebuah tindakan kesengajaan." Tantangnya dengan wajah sombong.

"Gadis gila!" umpat salah anak buah Paman Luhan "Hei! Cobalah lempar ke arahku!" tantang kedua lelaki itu.

Baekhyun kembali tersenyum miring. Ia kembali mengambil langkah kuda-kudanya lagi, lalu melempar minuman kaleng yang kedua hingga tepat mengenai hidung Paman Luhan yang langsung terkejut dan mengerang kesakitan.

Kedua anak buah itu menggerutu kesal saat melihat bos mereka terjatuh dan terluka. Mereka lalu maju melangkah ke rah Baekhyun dengan memberikan sebuah tinjuan. Meski Baekhyun dapat menghindar dengan mulus lalu memberikan tendangan pada lutut belakangnya,tapi perhatian Baekhyun teralih pada anak buah paman luhan yang lain yang akan meninjunya. Baekhyun langsung menangkisnya dan terjadi sedikit pergulatan saat pisau carter tersebut di arahkan kepadanya.

Chanyeol masih diam memperhatikan bagaimana Baekhyun melawan kedua lelaki itu dengan lihai, meskipun sempat tersudut karena kalah jumlah.

Anak buah paman Luhan yang satu lagi akan memukul Baekhyun dari belakang, dan saat itulah Chanyeol menahannya. Memberikan pukulan telak pada bagian leher lelaki tersebut, hingga lelaki itu terjatuh dan tak berkutik lagi. Baekhyun yang kalah tenaga dengan lelaki satu lagi harus tersungkur jatuh menabrak tembok, lelaki itu akan menancapkan pisau carternya padanya. Namun kembali gagal karena Chanyeol melemparkan kaleng minuman ke arahnya, hingga pisau itu terjatuh dan kemudian dengan cepat Baekhyun mengarahkan kakinyaa menendang kaki lelaki tersebut hingga tersungkur di jalanan .

"Kalian tidak bisa pergi ke rumah sakit. Hadapilah polisi lebih dulu!" ujar Baekhyun dengan nafas terengah, Chanyeol menatapnya sejenak hingga mereka saling bertukar tatap meski Chanyeol langsung memutus tatapan itu saat melihat Paman Luhan lari begitu saja.

Dia mendekati Mobil dimana Luhan di kurung, membawa Luhan yang terisak kecil keluar dari mobil tersebut. Luhan menatap Chanyeol dengan raut takut hingga dia menurunkan kembali pandangannya lalu bertemu pandang dengan Baekhyun yang menghela nafas lega.

Chanyeol menatap Baekhyun lekat, meski perhaatiannya kemudian teralih pada tetesan darah yang terlihat di kanan kiri Baekhyun. Melahirkan sebuah tatapan khawatir dari Chanyeol meski wajahnya masih tetap sama. Begitu datar dan dingin, nyari tak terbaca.

~ Blue Eyes ~

Sebuah mobil hitam SUV memasuki perkarangan rumah megah yang terletak di pinggiran Kota Seoul, suasana tenang dan tidak ramai penduduk menjadi pusat perhatian pemilik rumah yang tak ingin menddapatkan sorotan penuh dari masyarakat maupun media massa.

Sosok Byun Yunho, melangkah masuk ke dalam Rumahnya dengan Asisten-nya berjalan mengikuti langkahnya di belakangnya.

"Bagaimana perkembangan kasus Hangeng?" tanyanya pada Asistennya tersebut.

"Kasusnya telah di tutup dengan Kim Jong Sik sebagai pembunuhnya, Tuan Byun. Sepertinya mereka telah paham apa yang harus di lakukan." Terangnya.

"Ada sesuatu yang lain?" tanya Yunho.

"Belum ada kabar lain Tuan Byun" jawabnya "Tapi Tuan Byun…." Ucapnya meragu "Istri anda…"

Yunho menghentikan langkahnya yang membuat perkataan Asistennya tersebut juga terhenti, Yunho menatap sejenak Asistennya tersebut sebelum akhirnya berlalu masuk ke dalam rumah. Menuju Kamar dimana suara pecahan kaca dan teriakan marah istrinya pada para pelayan terdengar nyaring.

PRANG

Sebuah pigura besar menampilkan seorang pebalet terkenal pecah begitu saja di lantai.

"Cepat buang!" titahnya tegas pada para pelayan di sana.

Kwon Bo Ah Sang Nyonya besar di rumah tersebut

"Putri ku tidak akan pulang karena hal seperti itu." ujarnya lagi, kembali membanting segala benda yang ada di dekatnya "AKU TIDAK MEMBUTUHKAN HAL YANG TIDAK DI SUKAI PUTRIKU!" pekiknya histeris, melempari semua barang yang ada kearah pelayan hingga tanpa sengaja salah satu barang yang di lempar mengenai Yunho yang berdiri di depan pintu bersama sosok Sekretaris Pribadi-nya Bae Irene, di belakangnya.

Bae Irene memerintahkan para pelayan keluar dari kamar tersebut, dengan isyarat mata yang langsung di patuhi para pelayan tersebut. Sedangkan Yunho mengambil alih keadaan.

"Sayang..." suara Yunho melembut.

"Ini semua adalah kesalahanmu" sela Bo Ah "Aku… Aku ingin menjadikan Baekhyun sebagai seorang Balerina terhebat di dunia." tekannya "TAPI KAMU TELAH MENGACAUKAN SEMUANYA!" pekik Bo Ah kembali histeris, memukul dada Yunho dengan penuh emosi "Bagaimana bisa kamu menyekolahkan Baekhyun di Akademi Kepolisian! Beraninya kamu menyekolahkan Putri ku di sana!" cercahnya dengan tangis yang mulai keluar dari matanya.

Yunho menarik tangan Bo Ah guna menarik tubuh wanita itu masuk dalam pelukannya "Maaf! Maafkan aku. Aku yang bersalah. Maafkan aku saying." ucapnya menenangkan Bo Ah yang sudah terisak di pelukannya, melepas sejenak pelukan tersebut agar bisa menatap Bo Ah "Baekhyun akan datang! Dia sedang dalam perjalanan menuju kemari sayang." tuturnya kemudian

"Ahh benarkah?" tanya Bo Ah antusias "Akhir-akhir ini telponku tidak di angkat olehnya. Apa kau tau alasannya sayang?" sedihnya.

"Jangan cemas sayang. Aku akan mencari tau." turut Yunho "Sekarang kamu beristirahatlah. Agar saat kamu bangun, Baekhyun sudah berada di sini." tuturnya dengan membawa tubuh Bo Ah duduk d sofa dengan menyandarkan diri pada dadanya.

Irene datang mendekat dengan sebuah suntikan ditangannya, Yunho memerintah melalui isyarat mata yang langsung di turuti Irene. Menyuntikkan obat penenang yang akan membuat Bo Ah tertidur kemudian.

Setelah menangkan Bo Ah, Yunho dan Irene duduk di Sofa tamu ruang kerja Yunho.

"Aku benar-benar lelah." keluh Yunho. Irene mendekat dengan anggun, mengulurkan tangannya pada dasi Yunho, guna dia longgarkan

"Perlukah aku berikan laporanku sekarang?" tanyanya.

Yunho menyeringai kecil menatap Irene "Akan aku dengarkan seperti ini." balasnya, tangannya akan menarik wajah Irene mendekat meski itu tidak terjadi saat pintu ruangannya di ketuk dan sosok Asistennya masuk ke dalam ruangan tersebut.

Dengan pelan Irene menjauhkan sedikit badannya dari Yunho, sedangkan Yunho menegakkan tubuhnya menatap sang Asisten.

"Akibat eksperiman Biokimia, perlawanan dari warga setempat semakin serius." tutur Irene memberikan laporannya.

"Apa Kim Junsu juga tau hal ini?" tanyanya.

"Untuk mencegah perlawanan warga dia menemui orang-orang berpengaruh di daerah sana." jelas Irene, menatap Sang Asisten Yunho lalu kembali pada Yunho "Apa laporannya saya tunda dulu Tuan Byun?" tanyanya

Yunho mengangguk "Yaa! Kita tunda saja dulu." Jawabnya.

Irene mengangguk mengerti "Laporannya sudah saya simpan di Tablet anda." tuturnya, membungkuk hormat sebelum berlalu dari sana.

Setelah Irene berlalu keluar, sosok Asistennya barulah membuka suara.

"Seperti yang anda perintahkan, saya telah mencari kesamaan kematian Lee Sang Pil, Ko Jong Ko dan Hangeng, Tuan Byun." tuturnya menjelaskan.

"Jadi benar ada kesamaan dari kematian mereka bertiga?" tanya Yunho.

"Yaa Tuan Byun! Selain itu mereka tidak pernah bertemu ataupun saling mengenal satu sama lain." Terangnya.

Yunho menghela nafas panjang "Shim Changmin.." gumamnya, menatap tajam sosok Asistennya, berdiri dari posisi duduknya dengan melangkah mendekat pada sosok Asistennya tersebut "Hantu Shim Changmin, yang meninggal 19 tahun lalu itu kembali?" tanyanya sarkas "Aku rasa di saat seperti ini, aku membutuhkan penjelasan darimu." Ucapnya dingin dan menusuk.

"Ma-maafkan saya!" ucap sosok Asistennya tersebut.

"Pergilah sekarang!" tuturnya "Dan bawakan aku setidaknya tulang dari tubuhnya yang telah mongering." perintahnya dingin "Aku ingin kali ini memastikannya dengan mata kepalaku sendiri!"

"Baik Tuan Byun!" turut sosok Asistennya tersebut dan berlalu dari Ruang kerja Yunho seseegera mungkin.

~ Blue Eyes ~

Suara dering telpon dan aktifitas sibuk lainnya terdengar di Kantor Kepolisian Seoul. Baekhyun juga berada di sana, duduk di ruangannya dengan memeriksa kembali berkas kematian CEO Hangeng.

"Sunbae!" seruan Jongdae yang masuk ke dalam ruangan mengalihkan perhatian Baekhyun "Ini memori dari kamea Black Box di Mobil yang anda ambil kemarin." tuturnya dengan menyerahkan Kartu SD tersebut pada Baekhyun.

"Kau sudah menontonnya?" tanya Baekhyun/

"Anda mengambilnya dari Mobil pesanan 'Masakan Ibu' bukan?" tanya Jongdae.

Baekhyun mengangguk membenarkan 'Ehmm… Kenapa?" tanyanya.

"Isinya kosong" jawab Jongdae tak enak.

"Apa maksudmu?" tanya Baekhyun meminta penjelasan lebih jelas lagi.

"Datanya telah di hapus sepekan lalu. Seseorang jelas sengaja menghapusnya." jelas Jongdae dengan helaan nafas panjang.

Baekhyun cukup kecewa dengan jawaban yang Jongdae berikan, meskipun akhirnya dia mengangguk mengerti, Meraih Coat-nya, Baekhyun berdiri dari posisi duduknya.

"Segera minta bantuan badan forensik!" perintahnya dengan nada dingin sebelum berlalu dari ruangan tersebut.

"Sunbae? Anda mau kemana?" teriak Jongdae saat Baekhyun berlalu dari hadapannya tanpa mengatakan apapun.

Tujuan Baekhyun tentu saja pemilik mobil dari Kartu Memori Black Box tersebut, dan kebetulan saat dia datang sosok ahjumma pemilik 'Masakan Ibu' tengah berada di kedai tersebut.

"Eoh Selamat Datang!" sapa Ibu tersebut pada Baekhyun dengan ramah dengan tangan yang masih sibuk menyiapkan kotak makan siang "Setelah kamu datang sepertinya kita sering bertemu." lanjut Ibu itu berbasa-basi "Ahh ini, aku baru selesai menyiapkan kotak makan siang untuk Luhan. Katanya dia sedang sakit, saya turut sedih mendengar hal tersebut." tuturnya dengan senyuman ramah.

Tapi hal itu bahkan tak bisa membuat Baekhyun balas tersenyum "Memori Black Box-nya telah di rusak." sarkasnya dingin "Apa anda tahu soal itu?" tanyanya kemudian tanpa basa-basi.

Ahjumma pemilik restauran tampak salah tingkah akan pertanyaan yang Baekhyun berikan "Ba-bagaimana mungkin aku tau hal seperti itu? Mungkin saja memang sudah rusak? Karena mobil itu juga sudah satu atau dua tahun tidak di pakai." tuturnya dengan gugup.

"Sudah 15 bulan." singkat Baekhyun "Untungnya, Badan Forensik bisa memulihkan rekamannya kembali karena kami meminta bantuan mereka." Bohongnya.

Ahjumma pemilik restauran itu tampak terkejut, ia ingin menghindar untuk masuk ke dalam dapur. Namun Baekhyun menahannnya.

"Dini hari, saat Hangeng-ssi dibunuh. Kim Jong Sik suami anda ada di rumah bukan?" tanyanya langsung "Dan kenapa anda bersaksi tidak tau tentang lah itu?" tanyanya lagi.

Ahjumma itu melepas genggaman tangan Baekhyun pada lengannya dengan lembut "Saat itu aku sudah tidur, jadi aku benar-benar tidak tau." jawabnya "Dia selalu pergi entah kemana setiap siang dan malam. Dan setiap bertemu dia hanya meminta uang atau memukuliku. Lebih baik kami tidak bertemu." terangnya, deringan telpon pada saku cardigan ahjumma tersebut mengalihkan perhatian keduanya.

"Hallo?" sapanya pada seseorang di sebrang yang tidak di ketahui "Hallo?" sapanya lagi saat tidak ada suara di sebrang "Kenapa tidak ada suaranya?" gumamnya "Hallo?" sapanya sekali lagi.

"E-eomma…" lirihan di sebrang sana membuat ahjumma tersebut tampak terkejut "E-eomma…Eo-eomma…"

"Hallo? Ha Young-ah? Kamukah itu?" tanya ahjumma itu khawatir "Dimana kamu sekarang?" tanyanya.

Baekhyun yang melihat itu hanya bisa menghela nafas, di tambah saat panggilan terputus yang membuat ahjumma itu panik dan pergi pulang ke rumahnya dengan menitipkan kotak makan siang milik Luhan padanya.

Baekhyun menghela nafas panjang menatap pintu depan toko makanan 'Masakan Ibu' tersebut dengan kotak makan siang Luhan di tangannya. Saat dia berbalik akan berlalu, Chanyeol berada di sana, datang menghampirinya atau lebih tepatnya toko makanan 'Masakan Ibu'/

"Tadi ada telepon mendadak dari putrinya, tapi teleponnya terputus." tutur Baekhyun saat melihat pandangan Chanyeol pada tulisan di depan toko 'Tutup karena urusan pribadi'.

"Semoga kali ini dia berhasil menemukan anaknya" harapnya, menatap Chanyeol yang masih bergeming di tempatnya, mendengarkan "Karena anaknya menelpon, mungkin karena dia ingin kembali pulang." tukasnya, teringat pada kotak makan siang Luhan "Ahh, Ibu itu menitipkan lotak makan siang Luhan padaku." ujarnya, memberikannya pada Chanyeol yang langsung di terima lelaki itu.

"Terima kasih" ucap Chanyeol dan langsung berlalu pergi di sana.

Baekhyun mendengus tak percaya, ikut melangkah mengikuti Chanyeol. Mengingat mereka tinggal di satu gedung apartemen yang sama. Tidak ada salahnya kan pulang bersama dengan lelaki itu?

Butiran salju tampak turun dari langit yang sudah berubah menjadi gelap, Baekhyun merapatkan coat-nya dengan langkah ringan menatap punggung Chanyeol yang berjalan di depannya. Dengan anggukan kecil Baekhyun mengambil langkah besar hingga bisa mensejajarkan langkahnya dengan sosok lelaki tersebut, Park Chanyeol.

"Tunggu aku. Saljunya sudah turun." ujar Baekhyun berbasa-basi, menatap Chanyeol dimana Chanyeol ikut menatapnya meski hanya sekilas "Itu hanya alasan!" lanjut Baekhyun dengan senyum yang terkulum "Aku tidak nyaman berjalan di belakangmu padahal kita searah." ungkapnya "Seolah-olah aku sedang membuntutimu." Gumamnya.

Bertepataan dengan Chanyeol yang menghentikan langkahnya, hingga Baekhyun berada di depan lelaki itu beberapa langkah. Baekhyun ikut menghentikan langkahnya, lalu menatap Chanyeol yang berdiri di belakangnya. Mereka saling tatap dalam diam. Tak ada yang bersuara sampai akhirnya Chanyeol memulai berbicara.

"Kalau begitu anda bisa berjalan lebih dulu!" ujar Chanyeol datar.

Baekhyun memutar bola matanya kesal dengan helaan nafas panjang "Dia seperti anak kecil saja." Gumamnya pelan. Meski kemudian dia mulai kembali melangkah dengan Chanyeol berada di belakangnya.

Mendengar langkah kaki Chanyeol yang juga berjalan di belakangnya, Baekhyun membalikkan badannya kearah Chanyeol yang membuat lelaki itu juga otomatis menghentikkan langkahnya dan menatap Baekhyun.

"Sekarang rasanya kau yang sedang membuntutiku." ujarnya yang membuat Chanyeol hanya bisa menghela nafas dan kemudian menyetujui untuk berjalan bersama.

"Tadi kamu pasti takut bukan?" tanya Baekhyun mengingat kejadian saat menolong Luhan "Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu!" sombongnya.

"Aku baik-baik saja" jawab Chanyeol tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.

"Ahh benar! Maaf sudah melempar semua kaleng minuman milik mu." ucap Baekhyun.

Chanyeol menelisik isi plastik dan mengelurkan sekaleng minuman yang sama persis seperti yang di berikan bocah laki-laki yang ia tolong anjingnya tadi pagi. Ia memberikannya pada Baekhyun "Minumlah!" titahnya.

Baekhyun menerima kaleng minuman itu dengan senyuman "Terima kasih." Ucapnya dengan riang "Bolehkah aku menjenguk kucingku?" tanyanya, yang hanya Chanyeol berikan jawaban sebuah anggukan kecil.

Sesampainya di Klinik, Baekhyun langsung bergegaas menuju Kucing bebulu Orange yang sebelumnya ia tabrak. Kucing itu masih di balut perban di sekitaran perutnya.

"Haii…" sapanya dengan mengetuk-ketuk kandang kaca tersebut "Lihat kesini!" ujarnya dengan suara imut demi mendapatkan perhatian dari Kucing tersebut.

Dan Chanyeol menatap itu semua. Bagaimana suara imut Baekhyun terdengar, tingkah hangatnya pada kucing tersebut. Senyum Baekhyun yang terus terukir dengan binar dari kedua sipitnya yang menunjukan binar kebahagiaan kala kucing itu merespon ucapan Baekhyun. Diam-diam, tanpa sadar sebuah senyum kecil terukir di bibir kissable Chanyeol. Mengantarkan perasaan hangat pada hatinya. Sekali lagi, ia menatap senyum dan wajah cantik Baekhyun tanpa berniat mengabaikannya.

"Makanannya tidak di antar ke Luhan?" tanya Baekhyun setelah menyapa Kucing-nya.

"Dia akan mengambilnya sendiri." jawab Chanyeol dengan cepat kembali menampilkan wajah datarnya.

"Sepertinya kucingku sudah sehat." ujar Baekhyun dengan mengambil posisi duduk di meja kecil di klinik tersebut.

"Dia sudah boleh keluar sekitar pekan depan." jawab Chanyeol dengan ikut mendudukan dirinya di sebrang Baekhyun.

"Syukurlah." sahut Baekhyun "Ahh, apa Luhan baik-baik saja?" tanyanya.

Chanyeol mengangguk menjawabnya, "Kenapa anda mau menolongnya?" tanyanya "Bahkan kau sampai terluka."

Baekhyun tertawa kering "Apa maksudmu? Aku seorang Polisi. Bahkan jika aku bukan polisi, apa kita akan mengabaikannya?" terangnya.

"Dia orang asing." jawab Chanyeol singkat. Baekhyun tampak tertegun, mengulum senyum. Memilih menatap para hewan di deretan kandang di belakang Chanyeol.

"Hewan-hewan di situ juga asing untukmu." ujarnya "Dari caramu merawat mereka, pasti kau adalah orang yang baik." puji Baekhyun.

Chanyeol tampak terdiam akan pujian yang Baekhyun berikan padanya. Dan entah kenapa, pujian itu malah menohok untuk dirinya. Karena kenyataannnya, tak ada sebuah kebaikan dalam dirinya seperti yang Baekhyun katakan untuknya. Ia adalah manusia kejam pembunuh bayaran. Buronan kepolisian seperti Baekhyun.

"Ehmm… Bolehkah aku menanyakan hal pribadi padamu?" tanya Baekhyun memecah keheningan yang ada "Apa hubunganmu dengan pemilik gedung ini?" tanyanya tanpa menunggu persetujuan dari Chanyeol "Saat aku memberi kesaksian, pihak polisi memberitahukan padaku tentangnya. Katanya gara-gara kekayaannya dia di aniaya oleh kerabatnya. Jika dugaanku benar, kau tau hal itu dan karena hal itu kamu menjaganya?"

"Apa saja yang telah anda ketahui?" tanya Chanyeol dingin merasa sedikit tidak suka dengan pertanyaan yang Baekhyun lontarkan.

"Semuanya. Aku membaca semua dokumen tentangnya di kantor. Aku tau dia berpindah-pindah demi menghindari para kerabatnya dan juga soal percobaan bunuh diri. Dia juga menulis kesaksian mengenai penganiayaan dan bekas luka yang mereka torehkan." Terangnya. Baekhyun berbicara tanpa menyadari jika Luhan mendengarkan dibalik tembok.

"Ahjumma siapa hingga beraninya menggali kehidupan pribadiku?!" Luhan datang menyalak dengan amarah saat mendengar semua yang telah di katakan Baekhyun tentangnya pada Chanyeol "APA HAKMU?!" pekik Luhan setengah terisak.

Baekhyun tampak terkejut melihat kedatangan Luhan yang begitu tiba-tiba dengan teriakan dan isakan, dia menatap Chanyeol yang hanya bisa menghela nafas panjang. Sebelum kemudian ia akhirnya berlalu menyusul langkah Luhan yang sudah naik ke gedung apartemen menggunakan lift. Beruntung dia masih bisa mengejarnya hingga bisa memasuki lift tersebut.

"Lift-nya tidak berhenti di lantai 4." ujar Luhan dingin.

"Aku tau itu hanya untuk pemilik gedung. Aku akan lewat tangga." sahut Baekhyun.

Luhan menjaga jarak dengan melangkah sedikit jauh dari sosok Baekhyun. Dan saat pintu lift tertutup, keheningan canggung terasa begitu jelas di dalam lift tersebut. Setelah sampai di lantai 5, Luhan menghela nafas panjang, berbalik menatap punggung Baekhyun.

"Ada apa? Apa setelah kau tau bahwa aku seorang yatim piatu kau menjadi kasihan padaku? Kau bersimpati padaku?" cercah Luhan.

Baekhyun membalik tubuhnya dengan menatap Luhan "Anak yatim piatu lainnya hanya hidup dengan uang 5500 won. Aku tidak akan kasihan pada anak yatim piatu pemilik Gedung sebuah apartemen 5 lantai." jawabnya "Jangan suka memberontak! Itu sebabnya orang tidak suka dengan anak yatim piatu dan mengasihani mereka." nasihatnya

"Memangnya apa yang Ahjumma tau?" marah Luhan "Apa kau tau rasanya menjadi yatim piatu? Tahukah kamu rasanya bersembunyi karena takut bertemu dengan kerabat yang haus akan harta?" pekik Luhan, terisak kecil saat merasakan sesak di dadanya "Kau tidak paham."

"Kau salah." lirih Baekhyun.

Luhan mendecih kecil "Dasar sombong." gumamnya "Kau benar-benar angkuh."

"Jaga ucapanmu!" peringat Baekhyun "Ucapan mu tidak hanya menyakiti orang lain, tapi itu juga menyakiti dirimu!"

"Tahu apa kau?" sahut Luhan dingin "Apa hak Ahjumma mencampuri hidupku!" pekik Luhan

"Sebagai orang yang menyelamatkanmu, dan orang dewasa yang memahami mu. Aku berhak melakukannya!" balas Baekhyun.

Luhan menghapus air matanya kasar "Aku bukan seorang anak kecil. Aku juga tidak butuh pengertian darimu, Ahjumma!" desisnya marah, sebelum akhirnya berlalu masuk ke dalam flatnya. Meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa terpaku di tempatnya dengan helaan nafas panjang.

Turun ke lantai empat dimana kamar apartemennya berada, ia bertemu dengan Chanyeol yang akan memasuki flatnya di samping Ruangan 401.

"Apa perlahan aku akan menyukai anak tidak sopan itu?" tanyanya yang menghentikan langkah Chanyeol akan memasuki flat-nya "Kenapa rasanya aku telah membuat suatu kesalahan?" keluh Baekhyun.

"Setiap orang memiliki sebuah rahasia" sahut Chanyeol menatap Baekhyun.

Baekhyun mengangguk membenarkan perkataan Chanyeol, "Sebagai seorang polisi yang berada di TKP, ku kira aku berhak tau tentang hal itu."

"Ucapanmu lebih seperti nasihat konyol." balas Chanyeol "Karena merasa terhibur atau penasaran. Alih-laih menenangkannya, kamu terkesan menyerangnya." terangnya yang membuat Baekhyun terpaku pada perkataan lelaki itu padanya.

"Sepertinya aku sudah salah bicara…" kesal Baekhyun .

"Jangan pedulikan Luhan lagi." sela Chanyeol "Jangan terlibat dengan bahaya. Abaikan saja semuanya."

Baekhyun mengangguk kaku "Yee… Tapi apa kau tau? Aku tidak merasa terhibur ataupun penasaran akan penderitaan orang lain." terangnya jelas merasa tersinggung "Sepertinya aku juga telah salah paham. Aku pikir niat kita sama, walaupun subjek kita berbeda. Sebagaimana kamu ingin merawat hewan terlantar, aku juga ingin membantu orang lain." lanjutnya "Maaf karena sudah menganggumu." ucapnya yang kemudian berlalu dari sana dan memasuki flat-nya.

Meninggalkan Chanyeol yang hanya bisa terdiam terpaku. Dan tanpa mereka berdua sadari, Luhan berada di tangga. Mendengarkan semua percakapan antara Chanyeol dan Baekhyun sejak awal. Luhan menghela nafas dan sedikit menunduk. Perasaannya merasa tidak enak akan sikapnya pada Baekhyun, namun ia juga merasa sedih dan kesal pada Baekhyun. Ia tidak suka ada orang lain yang terlalu mencampuri urusan pribadinya. Lebih tepatnya, Luhan berusaha menyembunyikan rahasia terbesar dalam dirinya yang selama ini ia sembunyikan dari banyak orang. Terutama dari kepolisian.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Jangan lupa tinggalkan jejak. Biar aku sama temen aku semangat lanjutin cerita ini!

Buat yang udah Review, Follow, Favorite makasih banyak ya.

Karya kami masih perlu banyak dukungan dan masukan lebih banyak. Thanks you.