PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa, berisi adegan seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.


NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?

There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.


Cast :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Ahn Hani

others

..

.

Baekhyun membuka matanya perlahan ketika sinar matahari langsung menerpa wajahnya. Ia mengernyit sambil memegang kepalanya yang terasa begitu sakit, denyutan-denyutan kecil bagai tertusuk jarum. Ia menggeram sejenak dan melihat sekitar, mata sayunya menatap kearah jam dinding dan ia mendesah pelan ketika melihat jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi.

Ketika pintu kamar mandi terbuka dan sosok Chanyeol muncul dari sana, bola mata Baekhyun terbuka lebih lebar. Ia memang mabuk semalam namun ia tak melupakan pertengkarannya dengan Chanyeol akibat ulah lelaki jangkung itu. Sikap Baekhyun yang segera membuang wajahnya ketika mata mereka bertemu membuat Chanyeol tahu bahwa lelakinya masihlah merajuk.

"Hari ini tidak usah datang ke kantor, kau butuh istirahat!" ucap Chanyeol sambil berjalan menuju meja di samping ranjang dan meletakkan sebuah baskom berisi air dan handuk. Baekhyun masih membuang wajahnya ketika tangannya ditarik pelan oleh Chanyeol dan sensasi dingin dikulitnya membuatnya menoleh.

"Ayo bersihkan dirimu!"

"Tidak perlu! Aku bisa mandi sendiri." Sahut Baekhyun ketus. Chanyeol menghela nafas pelan lalu menarik tangan Baekhyun yang lain, mengecup punggung tangan putih itu dengan lembut membuat Baekhyun terdiam sejenak sebelum akhirnya menarik kembali tangannya.

"Jangan seperti ini, sayang!" bisik Chanyeol pelan menatap lekat pada wajah Baekhyun yang setia memandang pada sprei di bawahnya. Baekhyun akhirnya kembali berbaring memunggungi Chanyeol, meski sedikit tersentuh namun ia masih ingin marah lebih lama lagi untuk memberi Chanyeol pelajaran.

"Kau sebaiknya bekerja, ini sudah siang kau akan terlambat." Ucap Baekhyun sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Chanyeol menghela nafas sejenak sebelum akhirnya berbaring dan memeluk tubuh Baekhyun, tak lupa memberikan kecupan-kecupan lembut pada pipi Baekhyun.

"Aku sudah meminta izin pada tuan Shin." Baekhyun mendelik dan menoleh kearah Chanyeol membuat wajah mereka nyaris bersentuhan.

"Kau pikir itu perusahaan milik ayahmu? Chanyeol jika kau seperti ini terus kau akan kehilangan pekerjaanmu_"

"Aku memilih kehilangan pekerjaan daripada kehilanganmu." Bibir Baekhyun terkatup kembali mendengar ucapan Chanyeol. Keduanya saling menatap lekat sebelum akhirnya Chanyeol tersenyum dan mencuri sebuah kecupan di bibir Baekhyun, ia tahu bahwa kemarahan Baekhyun telah surut.

"Ayo bangun, aku akan membuatkanmu sarapan!" Baekhyun menggeleng masih mencoba mempertahankan sisi egoisnya namun tarikan pelan dari Chanyeol membuatnya terduduk.

"Hani sudah berangkat?" Tanya Baekhyun sambil membiarkan Chanyeol menyingkirkan selimut tebal ditubuhnya.

"Aku rasa sudah, aku tak sempat memeriksa ke kamar tadi, aku baru saja bangun ketika kau melihatku keluar dari dalam kamar mandi tadi." Baekhyun menghela nafas dan memasukan kakinya ke dalam sendal rumah yang Chanyeol pakaikan untuknya.

Dengan kepala yang sedikit pusing Baekhyun berpegangan pada sisi lengan Chanyeol sementara lengan Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun erat. Mereka berjalan menuju dapur sambil sesekali Baekhyun mencubit tangan Chanyeol yang bermain disekitar pinggulnya.

Tak!

Suara dentingan di dapur membuat keduanya menoleh dan betapa mereka terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapan mereka sekarang dengan sebuah spatula ditangannya.

"Ibu?" wanita itu terdiam di tempat tanpa bicara sepatah kata pun dan matanya jatuh pada jemari Chanyeol yang melingkar di pinggul Baekhyun.

..

.

Hani menutup mata lelahnya sambil bersandar pada kursi bus, membiarkan rasa kantuk menyerangnya sebelum akhirnya suara dua orang wanita mengganggu acara beristirahatnya.

"Ya, itu sangat manjur. Suamiku tak pernah pulang malam lagi sejak aku mengikuti kelas itu." Telinga Hani secara otomatis mempertajam pendengarannya.

"Benarkah? Apa kau tidak lelah? Bukankah kau harus mengurus ketiga anakmu bagaimana bisa kau mengikuti kelas itu?" suara wanita lainnya menimpali.

"Hah, kau ini. Tentu saja ketika semua anakku sudah aku antar ke sekolah baru aku mengikuti kelas itu. Kalau kau mau kau bisa ikut, jika kau ikut akan menguntungkan bagiku karena aku akan mendapatkan potongan 10 %." Hani menoleh kesamping dan mendapati dua orang wanita sedang mengobrol.

"Apa itu sungguh-sungguh berhasil?" pertanyaan Hani membuat kedua wanita itu menoleh terkejut dan setelahnya salah satu dari mereka mengangguk cepat. Hani tersenyum dan kedua wanita itu ikut tersenyum canggung.

..

.

Nyonya Park menyantap makanan dipiringnya tanpa melepaskan tatapannya dari kedua sosok yang kini duduk dihadapannya.

"Kau belum menjawab ibu, kenapa kau bisa sakit seperti ini?" Baekhyun mengangkat wajahnya dengan mata berkedip lalu tersenyum lebar.

"Aku terlalu lelah bekerja ibu." Sahut Baekhyun dengan wajah tersenyumnya tanpa menimbulkan kecurigaan. Nyonya Park menghela nafas sejenak sebelum akhirnya melirik Chanyeol.

"Dan kau kenapa tidak bekerja?" kali ini Chanyeol yang mengedipkan matanya sambil memperlihatkan deretan giginya.

"Aku menemani Baekhyun ibu, ibu tahu sendiri kan bagaimana anak ibu yang satu ini saat sedang sakit?" Baekhyun melirik Chanyeol dengan dengusan kesal sambil menyepak pelan kaki Chanyeol dibawah meja dan Chanyeol membalasnya pelan. Interaksi itu membuat Nyonya Park menghentikan acara makannya.

"Oh ya, ibu kapan datang? Kenapa tidak mengabariku? " Tanya Chanyeol tanpa memasang wajah bersalahnya. Nyonya Park menatap putranya sejenak lalu beralih pada Baekhyun.

"Chanyeol…." Wanita itu menjeda ucapannya.

"Apa kau sering tidur dikamar Baekhyun setelah kau menikah?" keduanya tercekat, Baekhyun meremas tangannya kuat-kuat sementara Chanyeol hanya berusaha menelan ludahnya yang terasa panas.

"Ibu_"

"Aku pulang." Suara nyaring itu mengalihkan ketiganya. Di depan pintu berdiri Hani dengan beberapa barang belanjaan.

"Oh menantuku kenapa sudah pulang?" Tanya Nyonya Park sambil membantu gadis itu membawa belanjaannya.

"Karena aku tak ingin ibu kesepian disini." Sahut Hani sambil berjalan memasuki rumah. Ketika memasuki ruang tengah ia berhenti sejenak mendapati dua orang yang ia kenal sedang duduk dengan wajah pucat. Wajah datarnya yang sempat terlihat dalam hitungan detik kembali menjadi ceria.

"Oppa, apa Baekhyun oppa baik-baik saja?" Tanya Hani sambil berjalan menuju Baekhyun dan meletakkan punggung tangannya di dahi yang lebih tua.

"Hm, aku baik-baik saja." Jawab Baekhyun.

"Kenapa sudah pulang?" kini giliran Chanyeol yang bertanya dan gadis itu melirik suaminya sejenak sebelum akhirnya mengangguk cepat.

"Aku meminta izin pada atasanku, bersyukur karena dia akan segera menikah jadi dia berubah menjadi malaikat akhir-akhir ini." Sahut Hani lalu mengecup pipi Chanyeol dan berjalan menuju kursi di samping kursi ibu mertuanya.

Nyonya Park datang sambil meletakkan sebuah piring disamping Hani membuat gadis itu tersenyum lebar.

"Aku lupa memberi tahu kalian jika ibu memang berencana berkunjung kemari, aku terburu-buru saat berangkat bekerja tadi." Lagi Hani hanya memperlihatkan deretan giginya.

"Ibu akan menginap?" Tanya Chanyeol wasdapa dan ibunya hanya berdecih pelan.

"Kenapa? Apa kau tidak suka ibu menginap dan mengacaukan malammu bersama Hani?" Tanya Nyonya Park dan Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Bukan begitu_"

"Ibu akan menginap, dan ibu akan tidur bersama Baekhyunie, jadi kau masih bisa bermesraan bersama istrimu." Hani tersenyum malu sambil menyiku ibu mertuanya sementara Chanyeol membeku ditempat dan Baekhyun masih merasakan sakit pada kepalanya.

"Kalau begitu aku permisi dulu, kepalaku masih sakit jadi aku akan tidur lagi." Ucap Baekhyun sambil mencoba bangkit.

"Ibu sudah membuatkanmu sup untuk menghilangkan sakit kepalamu, jadi minumlah dulu sebelum kau kembali tidur." Baekhyun mengangguk sambil menyeret langkahnya menuju kamar. Selama perjalanan ia terus mengerutkan keningnya, kehadiran ibunya secara tiba-tiba terasa janggal baginya dan entah mengapa ia merasa sikap wanita itu sedikit dingin terhadapnya.

Tidak mau memikirkan hal yang membuat kepalanya semakin sakit, Baekhyun memilih untuk membaringkan kepalanya sebelum akhirnya ponselnya berdering dan nama sang sekretaris terpampang di layar ponselnya.

"Maafkan aku, aku tidak enak badan hari ini, jadi bisakah kau mengurus semuanya untukku? Baiklah.. terima kasih banyak." Ucap Baekhyun sebelum akhirnya meletakkan kembali ponselnya dan menutup matanya.

Jantungnya kembali berdetak, sebuah rasa takut kembali menghantuinya, ia benar-benar merasakan sikap ibu Chanyeol sedikit dingin padanya dan ia takut kehilangan kasih sayang wanita itu.

….

Ting Tong

Ting Tong

Ting Tong

Suara bel pintu yang dibunyikan oleh sosok mungil berseragam SMA yang terlihat berantakan membuat pintu itu terbuka tak lama kemudian. Seorang wanita cantik muncul membuat senyum merekah si lelaki mungil tercetak.

"Halo Nyonya, aku Byun Baekhyun. Teman satu kelompok putra anda. Ini rumah Park Chanyeol benar?" wanita itu menatap penampilan Baekhyun yang berantakan lalu mengangguk pelan.

"Iya benar."

"Ah, akhirnya aku menemukan rumahnya. Anda tahu? Dia hanya memberikan nama gang rumahnya tanpa mau memberikan nomer rumah kalian, jadi aku harus berkeliling dan bertanya pada setiap orang yang kutemui dan itu melelahkan." Ucap Baekhyun tanpa memperhatikan tata kramanya. Melihat tatapan bingung wanita di depannya Baekhyun kembali tersenyum lebar.

"Hehehe… anda pasti merasa asing denganku bukan? Aku ini sebenarnya terpaksa menjadi teman sekelompok putra anda dan juga ia yang memaksaku untuk datang kerumahnya dan mengerjakan tugas ini bersama, jadi Nyonya yang cantik apakah aku boleh menemui Park Chanyeol." Nyonya Park mengangguk pelan dan mempersilahkan Baekhyun masuk. Ketika ia menoleh dan melihat Baekhyun berusaha membuka sepatunya wanita itu terkejut.

"Pakailah! Aku kebetulan baru saja mencuci seluruh sendal dirumah ini." Baekhyun menggeleng pelan lalu kembali membuka sepatunya dan berjalan dengan kaki yang telanjang.

"Lantai rumah anda begitu bersih aku tak mungkin membiarkan sepatu jelekku mengotorinya." Nyonya Park tersenyum entah mengapa ia merasa sosok di depannya sungguh lucu.

"Duduklah! Aku akan memanggilkan Chanyeol, sejak pulang tadi ia hanya mengurung diri di dalam kamar, ia pasti sedang bermesraan dengan Monalisa." Alis Baekhyun terangkat mendengar ucapan wanita di depannya.

"Kekasihnya?" Nyonya Park tersenyum sambil menggeleng pelan.

"Gitar kesayangannya."

"Oh, aku baru tahu itu."

"Tunggu sebentar ya, Baekhyunie!" Baekhyun tersentak mendengar namanya dipanggil dengan cara seperti itu, ia mengangguk lalu memilih duduk dengan pelan tak ingin merusak sofa indah dan empuk milik keluarga Park.

Mata kecilnya melihat sekeliling, rumah Chanyeol begitu nyaman untuknya tidak seperti rumah pamannya yang sempit, pengap dan berbau alcohol dan asap rokok. Ia melompat-lompat pelan diatas sofa itu sebelum akhirnya sebuah dehaman membuat ia menoleh.

Si wajah angkuh berdiri dianak tangga teratas sambil menyilangkan kedua tangannya membuat wajah berbinar Baekhyun berubah menjadi datar.

"Ikut aku!" ucap Chanyeol layaknya seorang bos dan Baekhyun yang sebenarnya kesal hanya bisa bangkit dan mengikuti langkah lelaki tinggi. Jika bukan karena nilai ia enggan untuk melakukannya.

Ketika memasuki kamar Chanyeol, Baekhyun merasakan sensasi lain yang membuat hatinya merasa nyaman. Aroma yang menyeruak ketika pintu dibuka begitu maskulin dan desain kamar Chanyeol merupakan desain kamar impiannya dengan berbagai poster band luar negeri yang tidak ia kenal.

"Ibu, keluarlah!" ucap Chanyeol ketika ibunya merapikan ranjangnya. Baekhyun berdecak sambil melempar tasnya diatas meja belajar Chanyeol.

"Biar aku bantu, nyonya!" ucap Baekhyun sambil membantu wanita itu dan hal itu membuat Chanyeol memutar bola matanya malas.

"Tidak usah! Bibi hanya senang akhirnya Chanyeol membawa temannya pulang." Baekhyun menoleh kearah Chanyeol dengan wajah terkejut dan si lelaki jangkung hanya membuat wajahnya dan berjalan kearah meja belajarnya.

"Benarkah? Tapi setauku Chanyeol itu populer disekolah." Nyonya Park lagi-lagi tersenyum.

"Tapi ia tak pernah membiarkan temannya pulang."

"Mungkin ia takut jika temannya bertemu dengan anda." Nyonya Park membulatkan matanya mendengar ucapan Baekhyun.

"Kenapa? Apa aku terlihat galak?" Baekhyun menggeleng pelan sambil tersenyum.

"Karena anda begitu cantik, jadi Chanyeol takut jika mereka berpikir jika Chanyeol bukan anak anda!"

"Hahaha… kau ini lucu sekali." Baekhyun kembali tersentak ketika elusan ia dapatkan di pipinya. Sebenarnya wajah Chanyeol dan ibunya begitu mirip hanya saja Baekhyun enggan untuk mengatakan jika Chanyeol itu tampan.

"Ibu keluarlah!" ucap Chanyeol lagi diselingi rengekan samar. Nyonya Park mengangguk lalu membawa pakaian kotor Chanyeol keluar.

"Kau ingin dibuatkan apa Baekhyunie?" Baekhyun menggoyangkan tangannya cepat di depan dada.

"Tidak usah repot-repot Nyonya!"

"Tidak masalah, dan panggil aku bibi! Itu akan terasa lebih baik." Baekhyun mengangguk dan tersenyum lebar. Ketika pintu di tutup Chanyeol membalik tubuhnya dan menatap Baekhyun.

"Bagus, selain pembuat masalah ternyata kau penjilat yang handal." Baekhyun menoleh kearah Chanyeol tajam atas hinaan laki-laki itu, sejak bertemu dengan sosok itu mereka bagaikan kucing dan tikus yang tidak pernah akur.

"Ya, aku memang handal dalam menjilat. Kau ingin melihatku menjilat?" Chanyeol mengerutkan keningnya mendengar ucapan Baekhyun dan sebelum otaknya mencerna ucapan Baekhyun, lelaki mungil di depannya telah menjilat jempolnya dengan gerakan seduktif yang membuat Chanyeol bergidik ngeri.

"Aku menjilat seperti ini, dan menghisap seperti ini." Ucap Baekhyun kemudian memasukan jempolnya ke dalam mulutnya. Chanyeol yang sempat terdiam akhirnya tersadar dan berdeham sejenak sebelum akhirnya mengambil buku pelajaran yang mereka perlukan dan membantingnya di depan Baekhyun.

"Ayo kerjakan agar waktuku tak terbuang banyak!" Baekhyun segera mengikuti Chanyeol duduk diatas karpet di kamarnya namun bukannya mengambil buku matanya malah sibuk menjelajah kamar milik Chanyeol.

"Apa itu Monalisa?" Tanya Baekhyun sambil menahan tawa dan menunjuk sebuah gitar berwarna coklat yang terpajang disudut ruangan. Chanyeol menggertakan giginya sambil menutup matanya, ia tahu bahwa ibunya telah membuka rahasianya.

"Diam dan kerjakan!" Baekhyun mengedikkan bahu lalu mencoba membaca soal di depanya, lima menit membaca ia akhirnya menguap lebar.

"Ini membosankan, ah bolehkah aku memainkan Monalisa?" Belum sempat Chanyeol mencegah Baekhyun telah bangkit dan berlari kesudut ruangan.

"Jangan!" Baekhyun yang telah memegang gitar Chanyeol menoleh terkejut.

"Letakkan!" Baekhyun tersenyum jahil dan malah memeluk gitar Chanyeol.

"Aku bilang letakkan!" ucap Chanyeol pelan sambil menatap waspada.

"Jika aku tidak mau?"

"Aku mohon!"

"Tapi aku ingin mencobanya."

Jreng!

Baekhyun terkikik ketika mendengar suara sumbang dari petikan gitarnya, Chanyeol bangkit dan hendak mencegah namun lagi-lagi Baekhyun memetik senar gitarnya dengan sembarangan.

"Aku memperingatimu, letakkan_"

Tak!

Keduanya membulatkan mata ketika salah satu senar putus. Baekhyun menatap Chanyeol takut dan segera meletakkan gitarnya pelan. Chanyeol yang merasa begitu marah melangkah tergesa dan langsung menarik kerah baju Baekhyun. Mata melotot Chanyeol membuat Baekhyun merasa takut dan bersalah.

"Ma-maafkan aku….a-aku tidak bermaksud." Suara bergetar Baekhyun entah mengapa membuat Chanyeol meregangkan tarikannya, ia tak pernah melihat wajah menyesal Baekhyun selama ia mengenal sosok itu dan sorot tatapan lembut yang baru saja ia lihat membuat Chanyeol tersentak sejenak.

PRANG!

"Ibu?" Chanyeol melepaskan cengkramannya dan berlari keluar kamar, disusul oleh Baekhyun yang berlari dibelakang. Ketika menuju dapur keduanya dikejutkan dengan api yang membara diatas kompor.

"Ibu?" Chanyeol yang panik terlihat semakin panik saat apinya membesar dan ibunya yang berusaha mematikan. Baekhyun menoleh sekitar dan segera mengambil sebuah lap dan membasahinya dengan air. Ia mendekati kompor dan menutup hidungnya yang terkena kepulan asap. Kedua sosok lainnya nampak cemas dan terkejut melihat Baekhyun, dan tak lama asap itu mulai menghilang menyisakan Baekhyun yang terbatuk di depan kompor yang apinya telah padam.

"Kau tak apa-apa?" Nyonya Park menggetarkan tubuh Baekhyun dan menyeretnya menjauhi kompor, Baekhyun mengangguk dan setelahnya tersenyum memperlihatkan wajahnya yang berisi noda kehitaman akibat elusan dari tangannya yang terkena noda hitam dari wajan yang ia singkirkan.

"Aku baik-baik saja, aku sudah terbiasa melakukan hal ini karena pamanku yang pemabuk selalu lupa mematikan kompor." Ucapnya tanpa beban, namun pengakuan itu malah membuat kedua orang di depannya merasa iba terutama Chanyeol.

"Ibu akan membereskan ini, Chanyeol kau pinjamkan baju untuk Baekhyun!" Chanyeol mengangguk dan menarik paksa tangan Baekhyun menuju ke kamarnya.

"Lepaskan! Kau ini tidak tahu apa jika tanganmu itu sangat besar." Chanyeol yang merasa kesal karena tangannya dihempaskan menoleh kearah Baekhyun dan terkejut saat melihat Baekhyun memegang pergelangan tangannya yang memerah dan Chanyeol tidak menyangka jika lelaki berandalan seperti Baekhyun memiliki kulit yang begitu sensitif.

Tanpa bicara Chanyeol berjalan menuju lemarinya dan mengambil sepasang pakaian yang menurutnya kecil.

"Pakailah!" Baekhyun mendengus kesal namun mengambil pakaian yang Chanyeol lempar keatas ranjangnya. Chanyeol mengernyit ketika Baekhyun membuka kancing seragamnya tepat di depannya dan matanya tak bisa berkedip saat melihat tubuh putih mulus Baekhyun terpampang di depannya namun sebuah noda kebiruan cukup luas berada di perutnya.

"Yak! Apa yang kau lakukan?" kesadaran Chanyeol kembali ketika Baekhyun akan membuka celananya.

"Kau pikir apa yang akan aku lakukan? Tentu saja mengganti celanaku."

"Lakukan di dalam kamar mandi, kenapa kau mempertontonkan tubuh kekurangan gizimu itu?" Baekhyun menggeram lalu berjalan dengan kesal kearah kamar mandi. Ketika bantingan pintu terdengar Chanyeol memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan entah kenapa rasa penasarannya semakin besar pada noda kebiruan di perut Baekhyun.

Pintu terbuka dan mata Chanyeol beralih kesana, dimana Baekhyun berdiri dengan kaos kebesarannya dan juga celana yang lelaki pendek itu coba tahan.

"Pakaianmu ukuran raksasa, ini menelan tubuhku."

"Itu karena tubuhmu yang terlalu kecil." Baekhyun menggeram dan berjalan dengan susah payah, melihat itu Chanyeol bangkit lalu mendekat kearah Baekhyun. Ia berjongkok di depan lelaki itu dan menarik tali celana yang Baekhyun kenakan dan mengikatnya, meski tetap terlihat kebesaran setidaknya celana itu masih mampu menggantung di pinggul yang lebih pendek tanpa perlu dipegang. Lalu setelahnya Chanyeol bangkit dan berdiri dibelakang Baekhyun, ia menarik sisa kaosnya dan mengikatnya kebelakang membuat kaos itu terlihat lebih menyatu dengan tubuh ramping Baekhyun.

"Aku terlihat aneh."

"Jangan banyak bicara! Ayo kembali kerjakan!" Baekhyun berjalan dengan wajah malas dan duduk kembali ditempatnya yang semula. Sesekali Chanyeol melirik Baekhyun dan lagi matanya membulat saat paha Baekhyun terlihat karena celana kebesaran Chanyeol merosot dari kakinya.

"Duduk dengan benar! Kau bukan preman!" Baekhyun berdecih dan memperbaiki duduknya.

"Ini untuk anak-anak yang baik." Keduanya menoleh dan mendapati Nyonya Park berjalan dengan nampan ditangannya. Baekhyun tersenyum lebar merasakan sikap hangat dari Nyonya Park.

"Woah, terima kasih bibi."

"Sama-sama, dan oh, tunggu sebentar." Nyonya Park yang telah meletakkan nampannya berjalan menghampiri Baekhyun dan membersihkan noda kehitaman di pipi lelaki itu dengan tangannya. Baekhyun seketika membeku ditempat, perlakuan wanita itu membuat air matanya nyaris keluar.

"Nah, sudah bersih." Baekhyun membalas senyuman wanita di depannya dengan wajah menahan seluruh emosi di hatinya, dan hal itu berhasil ditangkap Chanyeol.

"Untung ada kau, jika tidak maka rumah ini akan terbakar."

"Memangnya bibi ingin membuat apa?"

"Bibi ingin membuat kue yang bibi lihat di majalah, tapi karena lalai semuanya jadi sia-sia." Melihat wajah bersedih Nyonya Park membuat Baekhyun merasa iba.

"Benarkah? Jadi bibi suka membuat kue? Aku ingin sekali melihat cara membuat kue." Mata Nyonya Park kembali berbinar.

"Kau mau? Ah sejak dulu aku selalu mengharapkan seseorang yang mau menemaniku memasak, karena itu aku selalu meminta Chanyeol mencari kekasih dan menemaniku memasak."

"Mulai sekarang bibi tak usah repot-repot meminta Chanyeol mencari kekasih, karena aku yang akan melakukannya." Baekhyun tersenyum dan ketika melirik Chanyeol lelaki jangkung itu hanya mengernyitkan dahinya dalam.

"Benarkah? Kau mau melakukannya?"

"Tentu, mari kita memasak bersama bi. Aku akan datang setiap akhir pekan kemari."

"Jika kau tidak keberatan kau bisa datang setiap hari, nanti biar Chanyeol yang akan mengantarkanmu pulang." Chanyeol mengernyit semakin dalam namun tak ingin merusak kesenangan ibunya.

"Apa aku boleh?"

"Tentu saja, datanglah kemari sebanyak yang kau inginkan Baekhyunie. Aku akan menerimanya dengan tangan lebar." Nyonya Park berucap sambil melebarkan kedua tangannya.

"Sekarang berikan aku sebuah pelukan selamat datang!" Baekhyun tersenyum dan membalas pelukan Nyonya Park.

"Selamat datang di keluarga Park, Baekhyunie." Baekhyun terkikik sambil mengeratkan pelukannya, dan entah momen itu berhasil ditangkap oleh kedua mata Chanyeol dan tanpa ia mengerti amarahnya reda begitu saja.

"Terima kasih bi."

Sejak saat itu setiap harinya Baekhyun akan pulang bersama Chanyeol dan selalu menemani Nyonya Park untuk memasak bahkan setiap akhir pekan ia akan menemani wanita itu untuk berbelanja keperluan sehari-hari mereka.

….

Baekhyun mengusap air matanya yang terjatuh tanpa ia sadari, kenangan ketika pertama kali bertemu dengan Nyonya Park tiba-tiba terlintas di ingatannya dan rasa takut kehilangan kasih sayang itu menghantuinya.

"Baekhyunie?" Baekhyun mengusap cepat air matanya dan segera menoleh kearah pintu dimana Nyonya Park berjalan masuk dengan nampan ditangannya.

"Ini minumlah!" Baekhyun segera mengambil duduk dengan perlahan dan menatap wanita yang kini duduk di depannya sambil meraih sebuah mangkuk kecil di atas nakas.

"Terima kasih bu." Baekhyun meminumnya dengan sebuah kernyitan di dahi karena rasanya yang pahit dan sebelum dirinya muntah, ibunya telah memasukan sebuah permen manis ke dalam mulutnya. Baekhyun tersenyum, merasa tersentuh dengan kasih sayang wanita di depannya.

"Bu." Baekhyun memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat.

"Terima kasih karena telah menyayangiku seperti anakmu." Nyonya Park mengelus punggung sempit Baekhyun dan mengangguk pelan.

"Sekarang tidurlah! Kau harus kembali sehat agar perusahaanmu tidak terbengkalai." Baekhyun mengangguk dan membaringkan tubuhnya ketika Nyonya Park menyelimuti tubuh kurusnya.

"Bisakah ibu tinggal?" Nyonya Park mengangguk sambil tersenyum lembut dan memutuskan berbaring disamping Baekhyun yang dibalas pelukan oleh yang lebih kecil.

"Tidurlah bayi besar!" Baekhyun menutup matanya sambil menikmati elusan lembut pada pucuk kepalanya.

"Bu, jangan pernah membuangku seperti kedua orangtuaku lakukan ya?" Elusan Nyonya Park terhenti dan ia mengecup kepala Baekhyun lembut.

"Jangan berkata seperti itu! Tak akan ada yang sanggup membuang anak manis sepertimu." Tarikan lembut dipipinya membuat Baekhyun tertawa, dan tawa lembut itu membuat sosok Chanyeol yang hendak masuk untuk memeriksa keadaan Baekhyun hanya mampu mematung di tempatnya. Ia sangat tahu betapa Baekhyun menyayangi kedua orangtuanya.

Ketika Chanyeol memasuki kamar miliknya ia mendapati Hani sedang berdiri di depan cermin sambil menatap postur tubuhnya dan hal itu membuat Chanyeol tersenyum kecil.

"Apa yang kau lakukan?" Hani menoleh sambil menghela nafas.

"Sepertinya aku ingin membentuk postur tubuhku." Chanyeol mengambil duduk disisi ranjang sambil memperhatikan istrinya.

"Bagian mana?" Tanya Chanyeol. Hani membalik tubuhnya menghadap Chanyeol lalu meletakkan kedua tangannya di depan dada.

"Disini dan disini." Kemudian beralih pada bagian bokongnya. Chanyeol tertawa geli sambil menggeleng pelan. Ia bangkit dan mengusak rambut wanita di depannya.

"Untuk apa melakukan hal seperti itu? Kau hanya akan membuat tubuhmu lelah." Ucap Chanyeol sambil berjalan menuju kamar mandi. Hani terdiam sejenak dan tanpa ia sadari sebuah kekecewaan menghampiri dirinya.

"Agar oppa tidak melihat kearah wanita lain, selain diriku." Seketika langkah Chanyeol terhenti dan ia menoleh sambil dengan cepat memasang wajah tersenyum.

"Aku tak mungkin melakukannya." Hani memasang wajah penasaran lalu mengacungkan jari kelingkingnya.

"Oppa janji?" Chanyeol menatap jemari Hani lalu mengaitkannya.

"Ya, aku berjanji tak akan melihat kearah wanita lain." Ucap Chanyeol sambil tersenyum

"Karena mataku hanya tertuju pada satu lelaki saja." Sambungnya dalam hati.

"Ya, oppa tak akan melihat kearah wanita lain, tapi mungkin lelaki lain." Ucap Hani sambil berjalan mengambil pakaian kotornya, sementara Chanyeol hanya menanggapinya sebagai sebuah lelucon.

..

.

Baekhyun duduk di depan meja makan sambil memeriksa pesan dari anak buah ataupun kliennya sementara tiga orang lainnya sedang sibuk di dapur dengan kegiatan baru mereka membuat kue sekaligus menyiapkan untuk makan malam nanti.

Chanyeol berdiri disana membaur dengan para wanita untuk membuat adonan sementara dua wanita lainnya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sesekali mata Chanyeol melirik kearah Baekhyun yang nampak serius dengan ponselnya, terkadang ia pun tersenyum kecil ketika memperhatikan ekspresi terkejut Baekhyun ataupun ketika lelaki itu salah mengetik huruf.

Sejujurnya Chanyeol ingin duduk disamping Baekhyun dan memeluk sosok itu dalam dekapannya, namun keberadaan istri dan ibunya membuat harapannya kandas begitu saja. Barulah ketika Baekhyun bangkit dengan langkah malasnya menuju ruang tengah, Chanyeol pun menghentikan kegiatannya dan melirik dua orang yang sedang memunggunginya.

Chanyeol menyeringai ketika mendapati Baekhyun berbaring tengkurap diatas sofa dengan tangan yang sibuk mengetik di layar ponselnya. Mata Chanyeol bergerak naik turun seperti sebuah mesin scan dan berhenti tepat di bantalan pantat milik Baekhyun yang nampak begitu penuh dan bulat dibalik celana pendeknya.

Chanyeol mendekat dan menindih tubuh Baekhyun membuat yang lebih kecil memekik tertahan.

"Chanyeol, kau gila!" Baekhyun berbisik namun nada suaranya terdengar kesal.

"Ssst… Jangan berisik!" Baekhyun meronta agar Chanyeol segera turun dari tubuhnya, namun lelaki jangkung itu malah mengecup perpotongan lehernya.

"Chanyeol, hentikan! Kau menggali lubangmu sendiri! Kau tahu secepat apa dirimu terangsang kan?" Chanyeol tersenyum kecil dan lagi mengecup leher Baekhyun.

"Ralat! Hanya olehmu."

"Diam! Sekarang turun dari tubuhku bodoh!"

"Tidak mau!"

"Chanyeol, jangan bodoh!" Chanyeol tak menjawab malah menggerakan tangannya masuk ke dalam baju kaos yang Baekhyun kenakan. Baekhyun ingin melawan namun gerakannya terbatas, dan ketika ia merasakan sesuatu yang keras menghantam belahan pantatnya barulah ia bergerak panik karena mimpi buruk baru saja dimulai.

"Chanyeol… jangan seperti ini!" Chanyeol masih tak menjawab, dan kebisuan Chanyeol membuat Baekhyun semakin panik. Baekhyun benar-benar mengenal watak keras kepala Chanyeol, namun tidak dalam situasi seperti saat ini.

Ibu dan istrinya sedang ada di rumah beberapa meter dari mereka dan Chanyeol dengan beraninya melakukan hal yang tidak-tidak. Baekhyun hanya takut jika mereka ketahuan, tapi sepertinya Chanyeol tidak.

Bahkan kini lelaki itu dengan mudahnya menurunkan celana Baekhyun. Baekhyun menggeleng, hal yang Chanyeol lakukan sungguh keterlaluan. Baekhyun bukannya tidak ingin disentuh oleh kekasihnya, namun waktunya benar-benar tidak tepat. Baekhyun merengek ketika Chanyeol mencoba memasukan miliknya.

"Chanyeol aku mohon!" rengeknya namun Chanyeol seolah tuli. Ia menghisap telinga bagian belakang Baekhyun lalu beralih pada tengkuk lelaki cantik itu.

"Chan…ugh!" Baekhyun tak bisa lagi bicara selain menenggelamkan suaranya pada bantalan sofa. Chanyeol telah mendapatkan keinginannya, ia telah berhasil memasukkan miliknya pada lubang milik Baekhyun.

Hani menoleh dan tidak menemukan Chanyeol di tempatnya, tak lama Nyonya Park ikut menoleh dan keningnya berkerut dalam.

"Kemana perginya?" Tanya Nyonya Park dan Hani menggeleng pelan. Nyonya Park melepaskan slop tangannya dan menyeka keringat di dahinya. Ia berjalan meninggalkan dapur untuk mencari sosok putranya yang menghilang tiba-tiba.

"Chanyeol?"

Bola mata Baekhyun membulat dan tubuhnya menegang ketika mendengar suara panggilan ibu mereka yang seolah mendekat. Ia merengek sekali pada Chanyeol namun lelaki itu masih bergerak diatas tubuhnya mengejar kenikmatan.

"Chanyeol~" Lagi rengekan Baekhyun layangkan sambil sesekali menggigit bibir bawahnya akibat hentakan keras Chanyeol yang menumbuk tepat pada titik ternikmatnya.

"Chanyeol? Baekhyun?" Nyonya Park masih berjalan menyusuri koridor yang menghubungkan antara dapur dan ruang tengah dan nalurinya membawanya melangkah pada ruang tengah.

"Chanyeol?"

Tak ada sahutan disana, dimana ruang tengah nampak begitu sepi bahkan tak ada siapapun yang menempati sofa. Nyonya Park mengernyit sejenak karena ia yakin mendengar suara dari dalam sana. Setelahnya ia berjalan keluar dan menuju ke kamar Chanyeol dan Baekhyun.

Baekhyun menerima pangutan dari bibir Chanyeol lalu setelahnya bersandar pad arak besar yang mampu menyembunyikan tubuh keduanya. Baekhyun mengernyit dalam ketika tautan mereka masilah erat dibawah sana, Chanyeol seolah enggan untuk menurunkan tubuh Baekhyun.

Baekhyun membuka mata basahnya dan menatap pada langit-langit ruangan sementara Chanyeol menatap sosok itu dalam diam. Sebersit rasa bersalah tersirat diwajahnya, namun jika ia mengingat tujuan awalnya untuk membuat keduanya tertangkap basah ia menghapus rasa itu. Merasakan pergerakan dari pinggul Chanyeol membuat Baekhyun segera tersadar dan menatap wajah kekasihnya dalam.

Berharap Chanyeol masih memiliki akal sehat untuk tidak mengajak mereka bercinta di saat ada ibu dan juga Hani yang masih tersadar. Baekhyun menatap Chanyeol sendu lalu mengelus pipi kekasihnya, namun ia kembali mengernyit ketika Chanyeol memperbaiki posisi mereka dengan melompatkan pelan tubuh yang lebih kecil, bersamaan dengan itu air mata Baekhyun terjatuh.

"Baekhyunie?" panggil Chanyeol pelan ketika Baekhyun masih memejamkan matanya.

"Lanjutkan Chanyeol!" perintah Baekhyun tanpa membuka matanya. Chanyeol mengernyit sejenak namun kemudian kembali menggerakan tubuhnya karena hasratnya sudah begitu besar.

"Ugh!" Baekhyun menggigit bibirnya dalam sementara Chanyeol masih bergerak sambil menopang tubuh Baekhyun dengan kedua tangannya.

"Ooh…Baek_hmmpptt." Baekhyun menutup bibir Chanyeol dengan kedua tangannya sementara ia menggigit bibirnya erat. Keduanya kembali melakukan hal yang begitu berbahaya dimana sewaktu-waktu mereka bisa saja ketahuan.

Baekhyun menarik wajah Chanyeol dan membawa keduanya dalam ciuman. Baekhyun merasakan ciuman lembut itu, sebesar apapun nafsu Chanyeol bahkan ketika ia marah ciuman mereka tetaplah terasa lembut. Baekhyun ingin marah dan menangis sebenarnya atas tindakan konyol Chanyeol, namun sekali lagi ia tahu betapa lelaki itu mencintai dirinya.

Gerakan Chanyeol semakin cepat, berpacu dengan degup jantungnya yang takut ketahuan. Baekhyun meremas rambut Chanyeol dan mulai merasakan dirinya akan menyemburkan cairannya sebentar lagi dan tak lama hal itu terjadi. Baekhyun melingkupi miliknya dengan jemari sehingga spermanya tak akan mengotori pakaian Chanyeol maupun lantai mereka. Ketika Chanyeol mengetahui Baekhyun telat mendapatkan orgasmenya, ia pun menghajar lubang Baekhyun dengan semakin cepat.

"Uuh..hhmm…" Chanyeol menyemburkan spermanya tepat di titik ter dalam milik Baekhyun membuat keduanya menggelinjang. Nafas mereka beradu, namun berusaha mereka tahan. Chanyeol tersenyum dan mengecup bibir Baekhyun singkat.

"Idiot." Kesal Baekhyun namun hal itu malah membuat Chanyeol tersenyum semakin lebar.

"Ayo kembali!" ucap Baekhyun sambil meronta ingin diturunkan. Ketika kakinya telah menyentuh lantai, ia segera melihat ke dalam pangkal pahanya dan cairan Chanyeol mengalir disana. Chanyeol segera mengambil tisu diatas meja dan membantu Baekhyun untuk membersihkannya.

Baekhyun menatap Chanyeol yang sedang berjongkok di depannya sambil membersihkan pahanya dengan begitu telaten membuat lagi-lagi ia tersentuh akan perhatian kekasihnya. Baekhyun tersenyum kecil lalu mengusak rambut Chanyeol dengan satu tangannya yang masih bersih membuat Chanyeol mendongak.

"Kau tahu hal sekecil ini yang membuatku makin jatuh ke dalam pesonamu Park." Chanyeol tersenyum lalu mengecup paha dalam Baekhyun yang baru ia bersihkan.

"Maka jatuhlah semakin dalam hingga kau tak akan bisa keluar."

"Mereka tidak ada bu." Suara itu mengalihkan keduanya. Dengan cepat Chanyeol membantu Baekhyun memakai celananya, lalu menarik tubuh yang lebih kecil untuk berdiri di depan pintu pembatas balkon dan berpura-pura membuka dan menutup pintu itu.

"Oh kalian?" bersamaan dengan itu Nyonya Park muncul di depan pintu ruang tengah.

"Darimana saja?" Chanyeol tersenyum lebar begitu pula Baekhyun.

"Balkon." Sahut Chanyeol tanpa perasaan ragu namun membuat Nyonya Park terdiam sejenak.

"Oh oppa? Kalian kemana saja?" Hani muncul membuat keduanya tersenyum semakin lebar.

"Kami mencari udara segar sekaligus membahas tentang urusan kerja Baekhyun, dia meminta saran dariku." Baekhyun mengernyit sejenak lalu kemudian mengangguk pelan, ia benar-benar ketakutan melihat dua wanita di depannya tidak memberikan reaksi apapun.

"Oh begitu, ayo lanjutkan memasak lagi! Aku sudah mulai lapar." Ucap Hani sambil meninggalkan ruang tengah yang pertama kali lalu disusul Chanyeol. Baekhyun tersenyum kearah Nyonya Park yang menggeleng pelan kearahnya.

"Kalian ini membuatku khawatir saja." Ucap Nyonya Park sambil merangkul pundak Baekhyun, Baekhyun berjalan disamping wanita itu dengan satu tangan ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Itu adalah tisu kotor berisi sisa sperma Chanyeol.

..

.

Usai makan malam mereka berempat memutuskan untuk menghabiskan waktu di ruang tengah sambil menonton acara tv secara acak. Suara tawa terdengar beberapa kali ketika salah satu karakter di dalam cerita yang mereka tonton melakukan kekonyolan.

Chanyeol sesekali melirik Baekhyun yang duduk disamping ibunya yang nampak begitu serius bermain dengan ponselnya. Kening Chanyeol berkerut dan ia memutuskan bangkit, membuat Hani yang sedang bersandar pada pundaknya terkejut, sama halnya Nyonya Park.

"Yak!" Baekhyun berteriak spontan ketika ponselnya dirampas oleh Chanyeol dan lelaki itu duduk disampingnya.

"Ini family time, kenapa kau tidak bisa lepas dari ponselmu hah?" ucap Chanyeol sambil menjauhkan ponsel Baekhyun dari sang pemilik yang berusaha menjangkau miliknya. Chanyeol masih menjauhkan ponsel itu sambil membaca ruang percakapan yang masih terbuka di layar. Itu Luhan, sepupunya yang sangat merepotkan. Namun kening Chanyeol kembali berkerut ketika pesan yang tertera disana adalah curhatan Baekhyun mengenai hubungannya dengan Chanyeol dan juga ajakan pergi ke club malam.

"Chanyeol kembalikan!" bentak Baekhyun sambil menaikki sofa membuat Nyonya Park dan Hani melotot terkejut.

"Sudah berapa kali aku katakan untuk tidak keluar malam." Baekhyun berdecih dan meletakkan kedua tangannya di pinggang.

"Memangnya kenapa? Aku sudah dewasa, aku bukan anak remaja lagi." Chanyeol menggeram kesal sambil menatap wajah tak acuh Baekhyun.

"Kau tidak tahu seberapa bahayanya dunia malam_"

"Seperti kau tahu saja!" Chanyeol bungkam masih menatap Baekhyun penuh amarah. Nyonya Park kemudian berdecak dan menarik-narik tangan Baekhyun agar turun dari sofa.

"Sudahlah, kalian ini seperti anak kecil saja. Biarkan saja Baekhyun pergi, dia sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah." Baekhyun mengangguk membenarkan ucapan sang ibu.

"Lihat! Ibu bahkan mengerti, jangan kolot Chanyeol!" Chanyeol masih bungkam dan menatap Baekhyun yang terlihat tidak terganggu oleh tatapan Chanyeol.

"Kau akan pergi malam ini?" Tanya Nyonya Park dan Baekhyun mengangguk.

"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak!" Kini giliran Chanyeol yang membentak. Baekhyun menggeram kesal dan hendak mengambil ponselnya namun Chanyeol kembali menjauhkannya.

"Kau tidak tahu seperti apa dunia malam itu, bagaimana bila ada yang berniat jahat padamu? Tubuhmu saja seperti wanita, kau juga lemah, kau bahkan tidak bisa menjangkau lemari gelas, kau bahkan baru saja sembuh dari sakit." Bentakan Chanyeol lagi-lagi membuat ketiganya bungkam.

"Chanyeol, hentikan!" Nyonya Park mencoba menengahi.

"Terserahku, kau tak berhak melarangku." Ucap Baekhyun mencoba meraih ponselnya lagi. Namun diluar dugaan Chanyeol malah mengangkat tubuh Baekhyun diatas pundaknya.

"Yak! Idiot, turunkan aku! Ibu~ Ibu tolong aku~"

"Chanyeol!"

"Aku akan mengurung makhluk nakal ini di dalam kamar."

"Apa? Yak! Park Chanyeol idiot, lepaskan aku! Yak!" Sebelum Nyonya Park sempat protes lagi Chanyeol telah berlalu menuju kamar Baekhyun. Nyonya Park menggeleng pelan lalu matanya jatuh pada sang menantu yang mematung.

"Maafkan sikap anak-anakku!" Hani tersenyum lebar lalu mengangguk pelan.

"Aku sudah terbiasa dengan tingkah konyol mereka bu. Oh, apa ibu ingin buah? Pasti acara menonton kita jadi lebih seru." Gadis itu bangkit dan segera berjalan menuju dapur. Nyonya Park tersenyum dan perlahan senyumannya menghilang sementara matanya jatuh pada lantai di bawahnya.

BRUK

"Yak!" Baekhyun membentak ketika Chanyeol menjatuhkan tubuh Baekhyun diatas ranjang. Chanyeol menyilangkan kedua tangannya di depan dada masih tetap menatap Baekhyun yang juga menatap marah padanya.

"Tinggal atau aku akan menghukummu!" Baekhyun memutar bola matanya malas, ketika ia hendak bangkit kakinya telah ditarik oleh Chanyeol.

"Yak! Park Chanyeol!" Baekhyun mencoba meronta namun Chanyeol telah menindih tubuhnya. Baekhyun menatap Chanyeol nyalang dan pria diatasnya hanya menyeringai sambil menggerakan tangannya masuk ke dalam pakaian Baekhyun.

"Aku tidak main-main." Baekhyun menahan tangan Chanyeol, lalu mengecup bibir pria dihadapannya.

"Jangan seperti ini! Aku benar-benar harus pergi, aku sudah menyetujui ajakan Luhan." Chanyeol seolah tuli ia tetap menyerang leher Baekhyun dan menggerakan tangannya semakin masuk ke dalam.

"Chanyeol~" Baekhyun lagi merengek membuat Chanyeol memiliki pemikiran lain.

"Baiklah kau boleh pergi." Baekhyun terkejut di tempat dengan wajah tersenyum lebar.

"Benarkah?" Chanyeol mengangguk dan Baekhyun mengecup berulang bibir kekasihnya dengan perasaan senang.

"Tapi dengan syarat."

"Apa?"

"Aku akan menemanimu."

"Huh?"

..

.

Luhan duduk di depan meja bar sambil memainkan ponselnya, hingga sebuah tepukan dipucuk kepalanya membuat ia menoleh jengkel pada sosok yang dengan berani menyentuh kepalanya dan merusak tatanan rambutnya.

"Merindukanku, sepupuku tersayang." Luhan membulatkan matanya melihat Chanyeol berdiri disampingnya, ketika akan bertanya pada Baekhyun yang berdiri dengan wajah malas tiba-tiba Baekhyun sudah mengambil duduk dan memesan minuman favoritnya.

"Apa-apaan ini? Kenapa menganggu acara berkualitas kami?" Chanyeol berdecak sambil menatap Luhan geram, sosok cantik di depannya adalah yang paling ia waspadai di dunia. Wajahnya seperti malaikat namun hati dan mulutnya layaknya iblis.

"Aku hanya ingin tahu setidakpenting apa acara kalian,ugh!" Chanyeol memekik ketika perutnya disiku oleh Baekhyun. Luhan memutar bola matanya malas.

"Penggangu."

"Kau yang pengganggu." Tunjuk Chanyeol tepat di depan wajah Luhan yang terlihat tak acuh pada ucapan Chanyeol.

"Baekhyun, aku akan mengenalkan seorang teman padamu, dia_"

"Siapa?" Selaan Chanyeol membuat Luhan dan Baekhyun berdecih. Ketika akan melanjutkan ucapannya, Chanyeol telah memeluk tubuh Baekhyun dari belakang dan menunjuk lagi kearah Luhan.

"Jika kau mengenalkan pria lagi pada kekasihku, aku benar-benar akan membunuhmu." Luhan menepis jari telunjuk Chanyeol sambil berdecih. Baekhyun menghela nafas dan membiarkan tubuhnya dipeluk erat oleh Chanyeol.

"Jangan kekanakan Chanyeol!"

"Siapa yang kekanakan sayang? Bukankah aku wajar cemburu?" Baekhyun memutar bola matanya lagi dan memutuskan melompat turun dari tempat duduk lalu berjalan menuju lantai dansa, menghiraukan Chanyeol yang mencoba menahannya.

"Sampai kapan kau akan seperti ini Chanyeol?" Tanya Luhan ketika Chanyeol telah mengambil duduk di tempat Baekhyun sebelumnya.

"Seperti apa yang kau maksud?" Tanya Chanyeol tak terima. Luhan berdecih, merasa kesal dengan respon Chanyeol.

"Seperti idiot yang egois." Chanyeol menoleh lagi dengan kening ia kerutkan dalam.

"Kau tak tahu apapun tentang kami, jadi jangan ikut campur!"

"Ya, aku memang tak tahu seperti apa rumitnya hubungan kalian, tapi yang aku tahu kau adalah si egois yang ingin mendapatkan semuanya tanpa memikirkan kebahagiaan orang sekitarmu." Chanyeol terdiam sejenak sambil menggoyangkan gelas di depannya.

"Aku hanya menuruti Baekhyun, dia yang menginginkan kehidupan yang seperti ini."

"Kehidupan seperti ini? Maksudmu hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran? Lihat dia!" Paksa Luhan dengan menarik wajah Chanyeol untuk menatap Baekhyun yang sedang meliuk-liukan tubuhnya di tengah keramaian.

"Dia begitu rapuh Chanyeol, dia hanya berkedok sok kuat dalam hubungan kalian."

"Aku tahu, karena itu aku ingin selalu melindunginya."

"Dengan bertindak seperti ini? Kau bukan melindunginya tapi menjadikannya seperti bonekamu. Kau datang ketika kau membutuhkan lubang untuk kau masuki." Chanyeol menoleh kesal kearah Luhan.

"Apa maksud perkataanmu?"

"Itu yang Baekhyun pikirkan tentang kalian." Chanyeol terdiam lama sebelum akhirnya menatap Baekhyun kembali.

"Aku melakukannya karena aku mencintainya dan dia candu untukku. Aku sudah menawarkan sebuah pernikahan tapi dia menolakku, lalu apa yang bisa aku lakukan lagi? Aku tak bisa memaksanya Luhan." Luhan menghela nafas.

"Aku tahu dia memang keras kepala, dia terlalu memikirkan tentang orangtuamu. Tapi aku tak tahu berapa lama dia akan bertahan."

"Dia akan bertahan selama aku masih berada disampingnya." Luhan lalu menoleh menatap Chanyeol lembut yang juga dibalas oleh tatapan bingung oleh yang lebih tinggi.

"Itulah yang menjadi ketakutannya, dia meragukan apakah kau akan selamanya berada disisinya?"

"Bodoh, tentu aku akan_"

"Kau telah berkeluarga, memiliki Hani sebagai istrimu sementara Baekhyun tidak layaknya seperti seorang simpanan. Dia selalu bertanya apakah dirinya sosok antagonis yang merebut suami orang lain, dia selalu bertanya apakah dirinya egois dengan masih mencintaimu." Chanyeol terdiam, mengalihkan matanya pada sosok Baekhyun yang terlihat menari sambil memejamkan matanya dalam seolah menikmati musik yang berdegum kencang.

"Aku pernah merasakan berada diposisinya Chanyeol, kau tahu sendiri Sehun pernah menikah dan ketika aku bersama dengannya dia belum sepenuhnya bercerai dengan istrinya. Meski aku orang ketiga, tapi tetap saja aku merasa bahwa Sehun adalah milikku seutuhnya."

"Jadi apa yang coba kau sampaikan?" Luhan menghela nafas.

"Jika kau memikirkan kebahagiaan ibumu, maka lepaskan Baekhyun. Tapi jika kau memikirkan Baekhyun, maka ceraikan istrimu!" Chanyeol terdiam lagi, kali ini berjuta pemikiran memenuhi kepalanya, pilihan Luhan adalah pilihan tersulit yang ia hadapi. Antara ibu dan Baekhyun adalah dua hal terpenting dalam hidupnya.

Chanyeol meneguk sisa minuman Baekhyun, dan memutuskan berjalan menuju lelaki cantik itu. Baekhyun membuka matanya ketika merasakan seseorang menyentuh pinggangnya. Ia tersenyum menyambut kedatangan Chanyeol yang juga meliukkan tubuh tingginya. Chanyeol menarik pinggang Baekhyun membuat Baekhyun tersentak namun setelahnya mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol.

"Kau harus tahu Baekhyun, bahwa aku amat sangat mencintaimu." Baekhyun bergidik ketika suara Chanyeol memenuhi pendengarannya apalagi ketika daun telinganya di gigit oleh yang lebih tinggi. Setelahnya Chanyeol mencari bibir Baekhyun dan menyatukkan bibir keduanya dalam sebuah ciuman panas. Luhan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya pelan dan kembali membalik tubuhnya.

"Hei cantik?" suara itu membuat Luhan menoleh, sosok pria tinggi berdiri disana, wajahnya tampan dan Luhan menyukai aroma parfum mahal pria itu.

"Sendiri?" Luhan mengangguk.

"Mau menemaniku? Aku juga kesepian." Luhan menyeringai pelan, ia mengeluarkan beberapa lembar uang diatas meja dan turun dari kursinya.

"Tentu tampan." Dan keduanya berlalu meninggalkan bar dengan tangan pria asing itu yang memeluk pinggang rampingnya. Luhan tahu dia telah terikat dengan Sehun, namun dirinya sadar bahwa ia hanya manusia biasa yang juga membutuhkan kasih sayang dan sosok yang bisa memuaskan hasratnya. Sudah Chanyeol katakan bukan, Luhan itu… nakal.

..

.

"Uhmm…Chan…aagghh.." Baekhyun mendongak ketika Chanyeol menyesap dadanya. Posisi keduanya yang berada di dalam mobil membuat gerakan mereka terbatas. Baekhyun yang kini duduk diatas tubuh Chanyeol dengan setengah pakaiannya telah terbuka hanya bisa pasrah ketika lidah Chanyeol bermain disekitar dadanya.

Chanyeol memang manusia paling tidak sabar yang ia kenal. Seharunya pria itu mencari hotel terlebih dulu ketika hasrat keduanya sudah dipuncak, namun Chanyeol memilih mencari gang sepi dan memarkirkan mobil keduanya disana.

"Aaah…Chanyeol…" Baekhyun memegang selangkangannya yang masih terbalut celana ketat yang sudah basah karena orgasmenya. Chanyeol terkekeh sambil mengecup bibir Baekhyun.

"Kau sudah keluar dua kali bahkan sebelum aku menyentuh milikmu. " Baekhyun menghiraukan ucapan Chanyeol dan segera menarik rambut pria itu untuk kembali berbagi ciuman.

Chanyeol seperti kerasukan, gerakannya dengan cepat menanggalkan celana Baekhyun lalu membalik tubuh itu untuk menungging tepat di depannya. Baekhyun bertumpu pada stir mobil sementara Chanyeol telah membuka belahan pantatnya dengan jemari panjangnya.

"Uhh… Chanyeol…" Baekhyun mengigit bibir bawahnya merasakan lidah hangat Chanyeol bermain disekitar lubang anusnya. Baekhyun mencengkram lebih erat stir di depannya dan nafas nya terdengar memburu. Chanyeol melakukan tugasnya seperti seorang professional. Lenguhan Baekhyun membuat hasratnya semakin tersulut, bahkan jemarinya ikut bergabung untuk memanjakan Baekhyun.

Ketika Baekhyun mencapai puncaknya lagi, Chanyeol tersenyum kecil sambil menjilat cairan Baekhyun yang mengotori tangannya.

"Chanyeol~" rengekan Baekhyun adalah hal yang paling Chanyeol suka, untuk itu ia kembali mempermainkan Baekhyun namun sayang Baekhyun menahan wajah yang lebih tinggi.

"Ini sudah larut, ayo selesaikan!" Chanyeol mengangguk dan membiarkan Baekhyun mendudukan tubuhnya diatas pahanya.

"Ekhm." Baekhyun menggeram membiarkan milik Chanyeol menerobos ke dalam tubuhnya. Setelah memastikan seluruh batang kemaluannya masuk, Chanyeol mulai menaik turunkan tubuh Baekhyun dengan perlahan.

Baekhyun bukanlah amatir, untuk itu ia bergerak atas inisiatif sendiri dengan gerakan lebih pasti agar milik Chanyeol menusuk semakin dalam. Chanyeol mendongak, membiarkan kepalanya terkulai lemas pada sandaran kursi sementara tangannya meremas pinggang ramping Baekhyun.

"Oooh.. babe! Ride me harder!" goda Chanyeol suara beratnya. Baekhyun tak bisa memungkiri jika suara Chanyeol saat bercinta sangatlah seksi dan membuat seluruh rambut ditubuhnya berdiri begitu saja.

Baekhyun melompat-lompatkan tubuhnya diatas paha Chanyeol, menciptakan suara tubrukan yang begitu khas. Chanyeol menarik punggung Baekhyun dan membuat tubuh yang lebih kecil bersandar pada dadanya, mereka berciuman panas dan sebagai gantinya Chanyeol yang bekerja dengan menabrak dari arah bawah membuat tusukannya semakin dalam.

"Ugh." Baekhyun melenguh lagi dengan kerutan merasakan tusukan Chanyeol seolah mengenai ususnya, membelah tubuhnya menjadi dua bagian.

Gerakan keduanya membuat goncangan tak terelakan pada mobil Chanyeol. Untungnya tempat yang mereka pilih adalah lokasi paling memungkinkan untuk keduanya melepaskan hasrat mereka.

Mereka kembali ke apartemen tepat pukul 2 dini hari. Keduanya bergandengan tangan selama memasuki elevator dan sempat berciuman di dalamnya hingga ketika sampai di depan pintu mereka memutuskan untuk memisahkan diri.

Keduanya masuk dengan mengendap tak ingin membangunkan penghuni yang lain. Setelah kecupan terakhir sebagi perpisahan mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.

Ketika Chanyeol memasuki kamarnya yang ia dapati adalah Hani yang duduk disisi ranjang sambil mengusap wajahnya dimana hal itu membuat tanda tanya besar menghampiri Chanyeol.

"Hani?"

"Oh, oppa baru pulang?" tanyanya dengan suara yang terdengar parau.

"Ya, kau belum tidur?" Hani tersenyum sambil berjalan mendekati Chanyeol dan membantu melepaskan jaket suaminya.

"Aku terbangun karena haus tadi dan tak bisa tidur kembali. Oppa ingin mandi?" Chanyeol menggeleng pelan sambil berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya.

"Tidurlah, besok kau harus bekerja kan?" Hani mengangguk dan berjalan menuju ranjang, merebahkan tubuhnya namun memilih untuk memunggungi suaminya.

"Selamat malam." Ucap Chanyeol. Hani tersenyum kecil "Selamat malam, oppa." Ucap Hani. Chanyeol menatap punggung sempit istrinya dan mengerutkan kening sejenak. Ia kemudian mengelus rambut Hani sebelum akhirnya memejamkan matanya.

Hani yang telah memejamkan matanya tiba-tiba membukanya lagi, lalu satu air mata kembali menetes dan ia segera menghapusnya.

Baekhyun masuk ke dalam kamar dan disana ibunya sudah terbaring pulas, ia segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan wajah dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.

Ketika akan siap untuk tidur dan berbaring diatas ranjangnya, ibunya terbangun dan sontak Baekhyun merasa bersalah karena telah membangunkan ibunya.

"Maaf bu, aku membangunkan ibu." Nyonya Park tersenyum dan mengelus pipi Baekhyun.

"Kau baru pulang?" Baekhyun mengangguk pelan dan berbaring disamping sang ibu, tidak lupa memeluk tubuh hangat itu dengan wajah senang.

"Apa kau tidak lelah pulang dini hari seperti ini sementara besok kau bekerja?"

"Hm… tapi aku harus memenuhi keinginan rohaniku bu, bekerja terus membuatku tertekan." Nyonya Park tertawa dan menarik hidung mungil Baekhyun gemas.

"Ya, ibu mengerti. Hanya jangan terlalu sering kau itu mudah sakit, kau tahu sendiri kan. Jika kau sakit tidak hanya ibu kerepotan untuk mengurusmu tapi juga mengurus Chanyeol yang tidak bisa berhenti mengomel sepanjang hari." Baekhyun terkekeh ketika mengingat bagaimana sikap Chanyeol jika dirinya terserang sakit.

"Dia memang berlebihan bu, aku jadi penasaran bagaimana bisa anak seperti dia lahir dari seorang ibu yang berhati malaikat." Nyonya Park lagi-lagi terkekeh, Baekhyun memang selalu bisa menghibur hatinya.

Diam sejenak dan keduanya tidak memutuskan untuk segera memejamkan mata. Nyonya Park kemudian menoleh dan mengelus rambut Baekhyun dengan lembut, menatap wajah sosok yang ia telah anggap sebagai anak dengan raut wajah yang sulit Baekhyun artikan.

"Baekhyun?"

"Iya bu?"

"Terima kasih karena kau telah hadir diantara kami. Terima kasih karena telah menjadi anak ibu dan ayah, dan juga menjadi saudara untuk Chanyeol." Baekhyun terdiam namun tetap membiarkan Nyonya Park mengelus rambutnya.

"Aku yang harus berterima kasih pada kalian, bu."

"Baekhyun?"

"Ya ibu?"

"Apa kau bisa berjanji pada ibu bahwa kau akan hidup bahagia kelak?" Baekhyun terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

"Tentu bu, aku berjanji pada ibu. Kenapa ibu tiba-tiba seperti ini? Apa_"

"Dan apa kau bisa untuk melepaskan Chanyeol?" seketika tubuh Baekhyun menegang, bibirnya kaku dan lidahnya seolah kelu. Senyuman Nyonya Park tak juga mampu mengembalikan dirinya dari keterkejutan.

"Bu?" ucapnya sambil mencoba mengatur debaran jantungnya.

"Memangnya aku siapa yang berhak atas Chanyeol?" Baekhyun mencoba tersenyum meskipun hatinya merasakan sakit.

"Hahaha… ibu mengerti kalian begitu dekat, tapi ibu rasa sudah saatnya kalian hidup terpisah. Jangan katakan pada Hani, tapi dia sepertinya memiliki kekhawatiran akan kalian." Baekhyun lagi-lagi dibuat terkejut.

"Kekhawatiran seperti apa bu?"

"Dia berkata…." Nyonya Park terdiam sejenak, seolah tersadar akan apa yang akan ia ucapkan.

"….kalian selalu bertengkar jika bersama." Baekhyun mencoba tersenyum meski ia tahu ibunya telah menyimpan sebuah kebohongan.

"Aku mengerti." Ucap Baekhyun sambil mengelus pipi ibunya. Bibirnya ia coba tarik semakin lebar menciptakan sebuah senyuman kebohongan yang lain.

"Aku rasa sudah saatnya kami tumbuh dewasa." Baekhyun terkekeh pelan, bukan menertawakan ucapannya, namun menertawakan hatinya yang seolah hancur berkeping-keping.

"Hah, sudah sudah… ini sudah larut. Ayo kembali tidur! Maaf ibu membuatmu memikirkan hal yang tidak-tidak." Baekhyun membaringkan tubuhnya, ia ingin memeluk ibunya namun ia urungkan karena sebuah perasaan bersalah kembali menghantuinya. Ia berbalik, memunggungi sang ibu. Nyonya Park begitu mengenal putra kecilnya dan tatapannya kini menunjukan betapa ia sangat menyayangi putranya itu, walau mereka tak terikat oleh ikatan darah. Wanita cantik itu mendekat dan memeluk tubuh Baekhyun dari belakang, menganggap Baekhyun adalah bayi besarnya.

"Selamat tidur Baekhyunie." Baekhyun tersenyum namun enggan untuk membalas.

..

.

Esok harinya semua kembali normal, Hani sudah berangkat ke kantor pagi sekali dan setelahnya disusul oleh Baekhyun yang terlihat begitu terburu-buru bahkan sekedar untuk sarapan. Chanyeol yang berangkat paling akhir sekaligus mengantarkan sang ibu ke stasiun kereta.

Baekhyun duduk di depan meja kerjanya sambil melihat beberapa dokumen yang diberikan oleh sekretarisnya. Kaca mata yang ia letakkan di pangkal hidungnya membuat dirinya terlihat semakin menggemaskan.

Ketika disibukkan dengan semua pekerjaan yang sempat ia tinggalkan, ponselnya berdering dan disana ada nama Luhan sebagai sang penelpon.

"Bagaimana hyung?" tanya Baekhyun.

"Aku sudah mendapatkan seperti yang kau inginkan kau pasti akan menyukainya." Baekhyun terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum.

"Baiklah, nanti siang aku akan kesana, kau mau menemaniku?"

"Tentu."

"Baiklah, terima kasih hyung."

"Sama-sama Baekhyunie." Dan setelahnya Baekhyun mematikan sambungannya. Ia menggenggam ponselnya sambil menatap kosong pada meja kerjanya. Ia yakin bahwa apa yang ia lakukan sudah tepat. Pintu diketuk dan Baekhyun tersadar dari lamunannya.

"Masuk!"

"Tuan, Mr. Smith dan Mr. Clarke sudah datang." Baekhyun segera bangkit dan memperbaiki mejanya yang berantakan dengan cepat.

"Baiklah, kau persilahkan mereka masuk."

"Baik." Dengan gerakan cepat Baekhyun merapikan penampilannya juga. Tak lama pintu terbuka dan menampakan dua orang kliennya yang berjalan dengan wajah bahagia.

"Oh welcome Mr. Smith and Mr. Clarke,please!" ucap Baekhyun sambil mempersilahkan kedua kliennya duduk. Sepasang kekasih yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan itu tersenyum lebar dan menjabat tangan Baekhyun.

"Mr. Byun. This is so beautiful." Baekhyun menerima sebuah undangan yang diletakkan pria berkebangsaan eropa itu diatas meja. Sebuah undangan yang begitu cantik, yang didesain oleh dirinya sendiri. Baekhyun tersenyum kecil, sebuah desain yang ia buat bersama Chanyeol dulu, yang mereka rencanakan sebagai undangan pernikahan mereka kelak.

..

.

Luhan melipat kedua tangannya di depan dada sambil memainkan kerikil di sekitar sepatu mahalnya.

Tin!

Bunyi klakson sebuah mobil merah membuat ia menoleh. Baekhyun si pengendara segera berhenti tepat di depannya. Beberapa penjaga memberikan hormat ketika Luhan memasuki mobil.

"Apa yang kau lakukan di perusahaan Sehun?" tanya Baekhyun sambil menjalankan mobilnya.

"Kau pikir apa yang bisa aku lakukan selain memuaskan?" Baekhyun memutar bola matanya malas.

"Kau sungguh kurang kerjaan."

"Aku bukan kurang kerjaan tapi Sehun yang melarangku bekerja, ia tak ingin memiliki pasangan hidup yang bekerja karena ia merasa dirinya sudah mampu untuk memenuhi kebutuhan kami. Mungkin ia hanya trauma dengan pernikahan pertamanya." Baekhyun mengedikkan pundaknya sambil mencoba berkonsentrasi pada kemudi.

"Tapi aku rasa kau menyukai kehidupan seperti ini kan? Kau terlahir dan besar dalam kemewahan, aku rasa ini tak jauh berbeda dengan kehidupan lamamu." Luhan terkekeh pelan sambil menyisir rambutnya kebelakang.

"Ini takdirku, bagaimana mungkin aku tak menyukainya. Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk tinggal sendiri?" Baekhyun menghela nafas sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan, lagi-lagi menertawai dirinya sendiri.

"Apa Chanyeol mencampakkanmu?" Senyuman Baekhyun semakin lebar tercetak diwajahnya.

"Aku yang mencampakkannya." Luhan seketika menegang. Padahal niat awalnya hanya ingin bergurau namun wajah Baekhyun menunjukan keseriusan.

"Baekhyun, kau serius? Apa kalian putus? Tidak, kalian tidak bisa, kalian pasangan paling fenomenal se-Korea dan kalian memutuskan untuk mengakhiri hubungan rumit kalian?" Baekhyun tertawa lebih keras.

"Kau kenapa? Bukankah kau yang mendukung paling keras jika aku dan Chanyeol putus?" Luhan tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Kau tahu bahwa aku hanya bergurau, tapi Baekhyun apa kau serius?"

"Tidak. Kami tidak putus. Tepatnya belum." Luhan lagi-lagi dibuat bungkam. Ia tahu bahwa Baekhyun adalah sosok yang lemah dan rapuh yang bersembunyi dibalik kedok periang dan kuatnya, namun melihat Baekhyun yang bertingkah seperti sekarang membuat Luhan cemas, karena ia tahu semakin Baekhyun bertingkah kuat maka akan semakin dalam sakit yang ia rasakan.

Mereka sampai disebuah gedung apartemen tinggi. Baekhyun mengenal gedung itu karena begitu dekat dengan kantornya, sebenarnya ia bisa saja langsung kesana namun ia telah berjanji untuk menjemput Luhan terlebih dulu.

"Ayo turun!" Luhan mengangguk pelan sambil menatap prihatin pada Baekhyun.

"Ngomong-ngomong kapan kau akan pindah?" tanya Luhan sedikit takut pada Baekhyun yang berjalan di depannya.

"Besok?"

….

"TIDAK!" Chanyeol membentak keras ketika Baekhyun mengatakan tentang keinginannya untuk tinggal sendiri. Baekhyun terdiam di depan kemudinya sementara Chanyeol membuang wajah kesalnya menghadap ke jendela mobil.

Chanyeol awalnya merasa senang ketika Baekhyun berkata akan menjemputnya, meskipun itu berarti ia harus membiarkan mobilnya menginap di kantor namun Chanyeol tak mempermasalahkan hal itu, terutama ketika Baekhyun berkata mereka akan mengunjungi sebuah tempat.

"Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol lagi setelah berhasil mengatur nafasnya.

"Tidak ada. Aku hanya merasa jarak apartemenmu dan tempatku bekerja cukup jauh." Chanyeol menoleh tak percaya pada Baekhyun, ia mengingat dengan jelas bahwa Baekhyunlah yang memilih tempat itu dulu karena menurutnya tempat itu dekat dengan kantor keduanya.

"Tapi dulu kau tidak mempermasalahkannya, kenapa baru sekarang?"

"Karena aku baru menyadarinya sekarang." Chanyeol mendelik tidak terima dengan jawaban Baekhyun. Chanyeol menarik pundak Baekhyun agar menatap kearahnya dan Baekhyun membalas tatapan Chanyeol.

"Kau ingin kita pindah kesana?" Baekhyun mendelik dan segera membentak " TIDAK! Jangan lakukan itu!" Chanyeol merapatkan bibirnya dalam tidak mengerti dengan pemikiran Baekhyun.

"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan? Apa kau sedang merajuk saat ini?" Baekhyun menggeleng pelan sambil menatap jalanan di depan mereka.

"Tidak Chanyeol, aku hanya…" Baekhyun tercekat, ia merasakan bahwa air matanya akan keluar, bahwa isakannya akan terdengar namun ia mencoba menahan seluruh emosinya.

"…aku rasa…aku…" Baekhyun kehilangan kata-katanya. Chanyeol menatap Baekhyun lembut.

"Baekhyunie? Apa terjadi sesuatu? Apa ada hal yang menganggu pikiranmu?" tanya Chanyeol pelan sambil mengelus pipi Baekhyun. Baekhyun menutup matanya, menarik nafas cepat lalu menoleh menatap Chanyeol.

"Ya, hubungan kita mengangguku. Chanyeol, aku ingin mengakhirinya." Chanyeol membeku ditempat, ia menatap wajah kekasihnya dengan sejuta ketidak percayaan. Baekhyun menundukan wajahnya dan melepaskan cincin pemberian Chanyeol, meraih tangan Chanyeol dan memberikannya namun Chanyeol menghempaskan tangannya membuat cincin itu terjatuh.

"Baiklah jika itu maumu." Baekhyun terkejut dengan ucapan Chanyeol, sebelum ia sempat bertanya Chanyeol telah membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Baekhyun menatap sosok Chanyeol yang berjalan di depan mobilnya lalu menuju ke pinggir trotoar. Baekhyun pikir Chanyeol akan berjalan dan meninggalkannya, namun diluar dugaan lelaki itu malah memanjat pembatas jembatan.

Baekhyun panik dan segera turun dari mobilnya, sebelum Chanyeol naik lebih tinggi Baekhyun telah memeluk tubuh sosok itu dari belakang.

"Chanyeol, jangan bodoh!"

"Ini yang kau inginkan bukan?"

"Tidak Chanyeol, tidak." Chanyeol mencoba memanjat lagi namun Baekhyun menahan tubuh itu lebih erat, dan tangisannya tak terelakan.

"Jangan lakukan ini…hikss…aku mohon." Isakan Baekhyun membuat hati Chanyeol semakin terluka, tapi ia benar-benar tidak memiliki jalan keluar. Satu-satunya yang terpikirkan adalah mengakhiri hidupnya.

"Jika kau mati lalu bagaimana denganku? Kau hanya akan membunuhku secara perlahan."

"Lalu aku harus bagaimana Baek?" Chanyeol akhirnya turun, ia mendudukan dirinya disisi trotoar sambil menjambak rambutnya frustasi.

"Baiklah, baiklah kita tak akan putus. Tapi, aku ingin tetap tinggal terpisah dari kalian." Ucap Baekhyun sambil memeluk kepala Chanyeol, mendekapnya dalam dada. Chanyeol mendongak menatap Baekhyun, meskipun ia tidak rela jika harus tinggal terpisah dari kekasihnya, namun itu jauh lebih baik daripada keduanya harus berpisah.

"Baekhyun, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Chanyeol dengan mata memerahnya. Baekhyun menghentikan isakannya sejenak lalu mengangguk pelan.

"Apa kau masih mencintaiku? Apa cintamu kepadaku masih sama seperti dulu?" Baekhyun menangis lagi dan tanpa menjawab ia segera menarik wajah keduanya untuk mempertemukan kedua bibir mereka. Baekhyun memangut bibir Chanyeol dalam isakan. Keduanya terhanyut dalam dunia mereka tidak memperdulikan jika kemungkinan ada orang yang akan melintas disana.

"Sampai kapanpun….sampai kapanpun disini hanya ada dirimu seorang Chanyeol, yang menjadi pertanyaanku apakah disini…" Baekhyun menyentuh dada Chanyeol dengan tangan bergetarnya.

"….akan selalu ada diriku seorang? tanpa berbagi dengan orang lain?" Chanyeol menarik Baekhyun cepat ke dalam pelukannya.

"Jika kau ingin membelahnya, aku tak masalah, setidaknya kau percaya bahwa dihatiku hanya ada namamu Baekhyun-ah." Keduanya terisak dalam kesakitan mereka. Mungkin jika mereka bisa memilih, mereka tak akan pernah ingin dipertemukan dalam takdir yang rumit. Mungkin jika Baekhyun bisa memilih, ia akan memilih untuk terlahir sebagai perempuan, setidaknya di dunia yang kejam ini serumit apapun kisah cinta, cinta pria dan wanita masih bisa diterima ketimbang dua orang pria yang saling mencintai dalam kesederhanaan.

Ponsel Baekhyun berdering dan ia segera mengangkatnya setelah menghapus air matanya dan menahan isakannya.

"Oh syukur aku bisa menghubungimu salah satu dari kalian.."

"Ada apa Hani?"

"Oppa...oppa... Ibu...Ibu masuk rumah sakit."

Dan Baekhyun merasa takdir mengujinya sekali lagi.

...

..

.

TBC

..

.

Huh…akhirnya bisa diselesaiin juga. Sempet ragu dan juga bingung karena sama sekali kehilangan inspirasi, mungkin yang follow aku di instagram tahu gimana galaunya aku karena sama sekali kehabisan ide.

Nah balik kecerita, kali ini bersambungnya bukan di adegan yang bikin deg-degan ya wkwkkw… Cuma yang mungkin kalian penasaran sama gimana kelanjutan hubungan mereka wkwkwkw…

Untuk siapa sosok yang mergokin mereka sengaja gak aku jabarin secara gamblang, biarlah kalian sedikit berpikir jadi bacanya lebih menghayati hehehehe….

Semoga chapter ini memuaskan ya, kalaupun enggak aku ya bisa terima kok kritik kalian karena emang mengembalikan inspirasi yang sempat ilang itu sulitnya setengah mampus dan nyambungin setiap adegan yang idenya udah keganti itu juga mayan sulit wkwkwkw…

Oke see you in the next chap… Makasi untuk partisipasi kalian ya, makasi yang udah baca, yang udah follow dan yang udah review…

Selalu jaga kesahatan dan salam Chanbaek is real