Minggu di pekan yang sama, kediaman Jeongin dan Hyunjin kedatangan satu tamu. Chan datang dengan mobil kesayangannya dan langsung masuk begitu lihat Hyunjin tengah menata kardus. Berniat membantu, Chan masuk dengan terburu.
"Mungkin ada yang perlu aku bantu kemas?"
Hyunjin menggeleng, "Sudah ku kemas semua semalam,"
Chan mengangguk. Meneliti satu per satu kotak kardus yang ada di hadapan keduanya.
"Mana barangmu?"
Hyunjin menunjuk satu kardus paling pojok.
"Hanya itu?"
Hyunjin mengangguk. Awal Chan ingin kembali lanjutkan obrolan, ingin tanyakan Hyunjin mengenai beberapa hal. Namun belum kalimatnya terucap, suara Jeongin mengambil atensi keduanya.
Di anak tangga teratas, Jeongin berdiri. Tampak siap dengan ransel di bahu serta topi hitam yang menutupi kepalanya. Satu senyum dia tampilkan. Seakan beri kepastian pada Chan bahwa Jeongin sedang baik-baik saja.
Chan hanya tak tahu saja, hal yang saat ini tengah mengganggu benak Jeongin. Berbagai kemungkinan terburuk tengah terlintas dalam benaknya. Dan jujur Jeongin takut.
Namun dia masih berusaha percaya. Berusaha kuat. Karena selagi masih ada Hyunjin, Jeongin yakin. Semua akan baik-baik saja.
"Sudah selesai?"
Hyunjin bertanya saat lihat Jeongin ragu-ragu menuruni tangga. Sedikit banyak Hyunjin tahu hal yang Jeongin khawatirkan. Karena saat ini, Hyunjin pun masih khawatir pilihan yang dia ambil bukanlah yang paling tepat.
"Sudah,"
"Tidak ada yang tertinggal kan?"
Jeongin menatap barangnya. Meneliti satu per satu kardus yang ada dihadapannya dan menggeleng saat memastikan semua kardus miliknya sudah dia kemas.
"Jangan sampai ada yang tertinggal yaa,"
Ucapan Hyunjin buat Jeongin mengernyit. Bertanya akan maksud di balik ucapan yang terlontar.
"Memang kenapa kalau tertinggal?"
Hyunjin hanya maju dan mengusap puncak kepala Jeongin. Gestur sayang yang sudah lama tak dia lakukan. Hyunjin sampai terheran karena sadar, adiknya sudah besar. Tingginya hampir setara dengannya. Tapi bukan berarti dia harus menanggung beban sebesar ini di usianya.
"Nanti repot,"
Hanya itu jawab yang Hyunjin beri. Satu jawab yang menurut Jeongin menyembunyikan banyak fakta di baliknya.
Tapi persetan. Yang jelas, Jeongin masih taruh satu harapan tentang esok yang berbeda. Tentang esok yang mungkin masih bisa dia harapkan. Karena setidaknya esok, dia tak harus sarapan berdua ditemani kesepian dan kehilangan yang mencekam.
"Ayo bawa barangnya ke mobil,"
Dengan komando dari Chan, Hyunjin dan Jeongin akhirnya mengangkut satu per satu kardus disana. Menatanya ke bagasi mobil yang Chan bawa dan kembali memastikan tak ada yang tertinggal.
Setelah semua kardus masuk ke bagasi, Chan menyuruh Jeongin untuk masuk ke mobil selagi Hyunjin mengunci rumah. Jeongin hanya menurut dan duduk diam di kursi samping kemudi.
Menatap ke halaman rumah yang entah mengapa saat ini terasa lebih gersang, Jeongin lagi-lagi khawatir akan suatu kemungkinan yang entah mengapa buat dia takut.
Jeongin hanya khwatir tentang bagaimana seharusnya dia berlaku nanti di rumah Chan. Dia hanya khawatir tentang harapan esok yang mungkin saja berbeda. Jeongin hanya takut. Takut segala hal menjadi buruk.
Chan masuk ke mobil dan langsung duduk ke kursi kemudi. Jeongin mengernyit saat mobil otomatis terkunci dan Hyunjin belum juga masuk.
"Hyunjin?"
Jeongin hanya bertanya untuk memastikan. Jeongin hanya takut kembali di tinggalkan.
"Jika dia ikut mobil, lalu siapa yang akan membawa motor kesayangannya?"
Jawaban Chan setidaknya buat dia lega. Jeongin memandang ke belakang ke arah Hyunjin yang tengah memanaskan motornya.
Sejak kematian sang mama, Jeongin jadi lebih sering menatap Hyunjin. Menatapnya lama seakan takut Hyunjin tiba-tiba menghilang dari pandang. Ketakutannya mungkin tak berdasar, tapi Jeongin benar-benar tak ingin satu-satunya keluarga yang dia punya itu pergi. Dia benar-benar tak siap jika itu sungguhan terjadi.
Saat mobil mulai bergerak dan musik dari radio mobil sayup-sayup terdengar, Jeongin alihkan pandang dari yang semula fokus ke Hyunjin ke jalanan perumahan yang tampak sepi.
Jeongin menghafal satu per satu sudut jalan yang dia lalui. Sesekali dalam benaknya berputar satu memori lama. Tentang dia yang berjalan pulang di trotoar sepulang sekolah. Tentang dia yang bersepeda kala langit menguning. Tentang ayah dan Hyunjin yang temani dia lari pada Minggu pagi. Juga tentang mama yang sering ajak satu keluarga pergi makan malam di luar.
Semua memori itu buat dia sesak. Buat dia merasa kesal akan kenyataan yang kini harus dia terima.
Tak ada lagi ayah yang akan mendukungnya untuk tetap berdiri kokoh. Tak ada lagi mama yang beri dia semangat.
Yang tersisa hanya dia dan Hyunjin. Hanya mereka berdua yang coba hadapi hari dengan ancaman akan esok yang terus-menerus menghantui.
Jeongin kembali tengok belakang untuk pastikan Hyunjin masih mengikutinya. Dan Hyunjin masih disana dengan motor kesayangannya. Berkendara seakan tanpa beban. Sesekali Hyunjin akan mengendalikan setir dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya dia biarkan terdiam di atas paha.
Kadang Jeongin berpikir. Hyunjin terlalu santai dengan keadaan yang tengah mereka berdua alami. Pemuda itu terlalu santai untuk ukuran seseorang yang baru ditinggal pergi ayahnya dan ditinggal mati mamanya.
Mungkin sekali dua kali, Jeongin tanpa sadar sering beri pandangan cemooh pada Hyunjin yang berlaku seakan-akan semua baik-baik saja.
Jeongin tak tahu apa yang ada di otak Hyunjin sampai-sampai bertingkah sedemikian rupa. Mungkin benar kakaknya itu khawatir tentang kehidupan keduanya hingga memilih pindah ke rumah Chan. Memilih untuk beri Jeongin sosok keluarga seperti sebelumnya.
Tapi tetap saja. Prasangka buruk tentang Hyunjin juga kadang hampiri Jeongin. Jeongin berpikir, mengapa tak jual rumah saja untuk membiayai kehidupan mereka berdua? Mengapa Hyunjin tak cari kontrakan saja untuk keduanya? Mengapa Hyunjin tidak coba cari pekerjaan sambilan?
Banyak tanya mengapa yang hampiri Jeongin. Tapi semua tanya itu berujung sama. Buntu. Tak temui jawaban.
Sekarang yang bisa Jeongin lakukan hanya percaya. Percaya pada Hyunjin yang mungkin saja sudah pikirkan segala kemungkinan. Percaya pada Hyunjin yang sudah berusaha mengusahakan yang terbaik untuk keduanya. Percaya pada Hyunjin, satu-satunya keluarga yang dia miliki.
.
.
TBC
.
.
Makasih buat Princess Phi25, Sqbaek, sama Gyurevil yang udah mau meluangkan waktu buat ngasih review.
Yuk yang lain kasih masukkan juga.
Terimakasih,
Phay-phay
