Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Waktu bagi Nami untuk menyudahi perkerjaan hari ini di Kuja Restaurant, berganti agar segera melanjutkan kegiatan di rumah Hancock si manajer.
Nami baru saja akan melangkah ke ruang ganti untuk mengganti seragam waitress'nya menjadi seragam seorang maid. Namun langkahnya terhenti saat dia mendapati Hancock di depan ruang ganti.
"Mau kemana kau?" tanya Hancock dengan angkuhnya.
"Hancock-San, bukankah sekarang saatnya menjadi seorang maid seperti biasanya?" Nami bertanya balik sesopan mungkin.
"Memangnya aku sudah menyuruhmu menyudahi pekerjaanmu hari ini?"
"A_"
"Kembali bekerja. Hari ini tidak ada yang namanya bekerja menjadi maid. Ini hukuman untukmu karena kau bertemu dengan gelandangan itu lagi kemarin malam. Dan jam kerjamu kutambah. Kau harus bekerja hingga restoran tutup hari ini," ucap Hancock dengan sedikit membentak.
"Sampai tutup? Tapi restoran tutup jam 12 malam. Besok_"
"Kau ingin protes? Atau kau menginginkan gajimu bulan ini kupotong? Hukumanmu bertambah lagi, setelah tutup nanti, kau yang harus membersihkan restoran. Coba saja mengeluh kalau kau ingin hukumanmu bertambah."
"A... Ya. Baik Hancock-San. Maaf karena sudah mengeluh."
Hancock segera berlalu tanpa kata. Bisa dibilang, hukuman yang diberikannya cukup berat. Besok, Nami harus masuk pagi seperti biasa. Namun, Hancock sepertinya tampak tidak peduli akan hal itu.
Nami menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. "Apa besok pagi aku sanggup bekerja? Sementara hari ini aku harus lembur," batinnya. Tapi apa mau dikata. Menolak adalah pilihan terburuk jika sampai dia melakukannya.
*
Malam ini, jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 9 menit. Restoran tutup satu jam lebih cepat dari biasanya, karena ada badai hujan yang datang tiba-tiba di kota itu. Orang-orang juga memilih untuk tetap berada di rumah. Terlalu berbahaya jika keluar pada saat cuaca ekstrem seperti ini.
Nami merasa sedikit lega. Setidaknya dia tidak sampai menunggu hingga tengah malam untuk kembali ke rumah. Hancock, para chef dan petugas restoran lainnya sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Kini tinggal dia sendiri yang berada di restoran yang cukup besar itu. Kenapa lagi kalau bukan menjalankan hukumannya.
Setelah cukup lama membersihkan seluruh ruangan restoran, Nami pindah ke ruang VIP. Ruangan itu tidak terlalu besar. Hanya ada 5 buah round table dengan 4 kursi di setiap mejanya. Lalu sofa panjang berwarna merah gelap di sisi ruangan.
Nami membersihkan meja-meja itu dengan cekatan, dan tidak lupa juga untuk merapikan kursinya. Dan saat ini, dia berada di meja terakhir. Tangannya yang sedang memegang lap itu berhenti sejenak untuk membersihkan meja. Tubuhnya tiba-tiba gemetar, dan perlahan, air matanya menetes.
"Bellmere-San, apa aku masih bisa bertahan?" gumamnya pelan. Dia segera menghapus sisa air matanya, lalu kembali melanjutkan kegiatannya mengelap meja. Setelah selesai semua, dia berjalan menuju sudut ruangan VIP itu, yang di sana ada keran air, guna membersihkan tangannya.
"Akhirnya aku bisa pulang," gumamnya lagi. Dia mematikan air keran dan kembali merenung. Tanpa diundang, air matanya kembali mengalir. "Bellmere-San..." lirihnya dengan tangisan pilu.
Sesuatu yang tidak terduga, tangisannya segera berhenti saat wanita berambut oranye panjang itu merasakan dua buah tangan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Siapa kau?" pekik Nami terkejut. Bisa dibilang dia takut kali ini. Seingatnya, di restoran ini tidak ada orang lain selain dirinya. Tapi kenapa ada yang memeluknya?
"Nami, kau tampak sangat cantik seperti biasa," ucap orang yang tengah memeluknya.
"Suara ini," batin Nami. Dia segera meraih kedua tangan itu dan dengan sekuat tenaga melepaskannya dari pinggangnya.
"Ternyata kau kuat juga sebagai seorang wanita," puji orang itu setelah Nami berhasil melepaskan diri.
"Apa yang kau lakukan di sini, Zappa?" bentak Nami pada lelaki yang dipanggilnya Zappa itu.
"Tadi aku mendengar pembicaraanmu dengan Hancock-Sama yang membahas dirimu harus lembur hari ini. Jadi aku berpikir bisa mengambil kesempatan agar bisa berdua denganmu."
"Aku mau pulang. Mereka berdua pasti sudah menungguku di rumah."
"Tunggu, tunggu. Jangan terburu-buru begitu. Coba pikirkan, sebaiknya kau menikah saja denganku dan lupakan kedua keluarga miskinmu itu. Kau pasti akan lebih bahagia, bukan?"
"Jangan coba-coba menghina keluargaku lagi," celutuk Nami.
"Lupakan itu. Bagaimana kalau kita bersenang-senang sedikit, hmm... Nami?" ucap Zappa dan mendorong tubuh Nami ke dinding, lalu menahan kedua tangannya.
"Apa yang yang kau lakukan? Lepaskan aku?"
Zappa semakin dekat dengan Nami. Dia mengendus pelan leher gadis itu. "Aroma jeruk yang menyegarkan," ucapnya.
Nami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Pria di depannya ini terlalu kuat untuk menahannya. Air matanya kembali mengalir lagi. Dia menutup matanya erat. Tidak ingin melihat apa yang akan dilakukan orang gila ini.
Namun kekhawatiran Nami perlahan pudar. Tangan Zappa yang sedang menahannya melemah seketika. Gadis itu membuka matanya. Dilihatnya pria yang hendak menodainya sudah ambruk ke lantai. Dan kini, ada 3 sosok pria berdiri di depannya. Dia mengenal 2 orang di antara mereka.
"Nami, kau baik-baik saja?" tanya seorang dari pria itu yang tidak lain adalah Luffy.
"Luffy, kenapa kau bisa ada di sini?" pekik Nami.
"Kita bicarakan itu nanti. Untuk sekarang, apa kau baik-baik saja?"
Nami mengangguk. "Ya, terima kasih."
"Usopp, Franky, bawa orang aneh ini pergi dari sini," suruh Luffy.
Pria dengan hidung panjang dan pria yang hanya memakai celana dalam itu segera membawa Zappa pergi.
Nami memperhatikan penampilan pria yang hanya memakai celana dalam tadi. Dalam pikirannya, hanya ada satu kata terlintas. Hentai.
"Franky bilang kau lembur hari ini. Jadi aku memutuskan untuk kemari," jelas Luffy.
"Franky?"
Luffy mengangguk. "Pria yang hanya memakai celana dalam dan baju pantai itu."
"Temanmu aneh. Tunggu sebentar, kenapa dia bisa tau kalau aku lembur? Apa kau memata-mataiku?"
"Bukan begitu. Tadi kebetulan dia makan di sini saat 'model sok cantik' itu memberikanmu hukuman."
"Dia mengikutiku ke ruang ganti? Sudah kuduga dia memang hentai."
"Hmm... Kurasa ruang ganti berdekatan dengan toilet tamu."
Nami baru teringat akan hal itu. "Oh ya. Benar juga. Kupikir kau memata-mataiku."
"Aku hanya menemuimu saat pulang kerja," dusta Luffy. Tidak mengakui bahwa dirinya memang sering menyuruh teman-temannya memata-matai Nami.
Nami menghela nafas pelan. "Aku harus pulang."
"Tunggu sebentar," ucap Luffy seraya menghentikan langkahnya.
"Luffy, aku berterima kasih padamu karena sudah menolongku. Tapi tolong, jangan menambah masalah untukku lagi."
"Aku tau kalau kau dihukum karenaku. Aku minta maaf."
"Ya. Aku memaafkanmu. Dan aku mohon, jangan menemuiku lagi."
Ucapan itu membuat Luffy sakit seketika. Namun dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia sudah memutuskan, dan dia akan mencapainya. Ditatapnya wanita di depannya dengan tatapan dalam. Lalu...
CUP
*
To Be Continued...
Kayaknya ceritaku udah mulai masuk rate M 'deh...
Buat kalian yang masih belum cukup umur sebaiknya jangan baca ya
Soalnya aku tak mau menghancurkan kepolosan kalian...hehe *plak
Buat @Edogawa Luffy, makasih banyak ya buat RnR nya...
Makasih udah ngikutin dan selalu nunggu fict anehku ini...
Salam dariku :)
