"Apa kau kedinginan?"

Aku menoleh, kedua tangan menyilang di depan dada dengan punggung bersandar pada jok empuk yang nyaman. Aku baru ingat telah meninggalkan mobilku di parkiran rumah sakit. Kami sudah keluar dari Swallowtail dan terjebak macet di tengah guyuran hujan deras. Sir Midorima bermurah hati meminjamkan jas cadangannya padaku, dan bahkan memasangkannya sendiri ke seputar bahuku hingga menyerupai jubah. Dia baik juga ternyata.

"Tidak terlalu,"Aku mengedikkan bahu, dan ia menatapku. Heather sudah dinyalakan atas permintaanku—dan dengan mudah ia menurutinya. Dan dia, dengan segala kemurah hatiannya, duduk di kursi pengemudi dengan sehelai kemeja putih yang sedikit basah, dasi merah, dan celana panjang yang juga sedikit basah. Keadaan itu membuat kemejanya tembus-pandang, dan aku bisa melihat lekukan otot-otot tubuhnya yang—cukup, aku memalingkan muka menghadap jalan dengan pipi merona.

Barisan mobil di sisi kiriku mulai bergerak perlahan. Alunan piano yang disetel pada tape membuatku sedikit mengantuk. Sir bahkan menawariku berhenti di salah satu minimarket untuk membeli dua gelas cokelat panas, tapi aku menolaknya. Selain karena hujan deras dan macet, aku juga menghindari kemungkinan Reo yang pulang lebih cepat akan marah padaku nantinya—meski aku tidak mengatakannya, sih. Untung saja dia setuju, meskipun dengan gumamam singkat dan pandangan lurus pada jalanan.

Aku melirik jam tangan, pukul setengah dua belas. Masih agak jauh sebelum sampai di apartemenku. Apakah aku bisa tidur sebentar? Tapi rasanya tidak enak, membiarkan presdir menyetir sendirian dan dengan tanpa rasa hormat aku tidur disebelahnya. Aku tak ingin kejadian kemarin kembali terulang.

"Kita sama sekali tak bisa bergerak,"Gumamnya, dan aku menoleh. "Em, temanku bilang didepan sedang ada kecelakaan,"Sambungku, mengutip deretan kalimat yang dikirimkan Ogiwara pada e-mailku beberapa waktu lalu. Ia baru saja pulang dari pertemuan dan terjebak macet, namun sudah sampai rumah dengan selamat.

"Jalanan licin, pantas saja,"Katanya, lalu menoleh guna menatapku. "Heathernya kurang? Atau terlalu panas?"

"Cukup,"Aku mengangguk dan tersenyum tipis, meskipun menatapnya, tapi aku mencoba untuk tak menembak langsung pada dua bola hijau yang menawan itu. Tapi sepertinya tubuhku berbohong, karena aku menggigil sedari tadi.

"Kubilang apa? Kau sama sekali tidak bisa berbohong,"Ia mendengus dan terlihat jengkel selama beberapa saat. Setelahnya, aku mengerutkan kening ketika ia melepas sabuk pengaman dan memiringkan tubuh. Apa yang mau dia lakukan? "—Jangan protes. Aku takkan menerimanya,"

Aku menahan napas ketika satu lengannya melingkari pinggangku, dan satunya lagi menarik daguku agar berhadapan dengannya. Hal itu cukup membuatku kehilangan kontrol untuk bernapas, dan kedua matanya yang tampak terlalu dekat itu sama sekali tidak membantu. Ia sedikit memiringkan kepala, menatap mataku dalam-dalam dan seolah menyuntikkan kehangatan yang nyaman dan meresap begitu cepat hingga jiwaku melayang.

Dia melakukan apa?

Ia bernapas begitu dekat hingga membuat tubuhku menghangat. Rasanya seperti hipnotis, dan aku kembali berpikiran jika dia benar-benar memiliki kemampuan itu. Kami menatap satu sama lain, begitu dalam dan sunyi. Tidak ada kecanggungan. Sorot matanya lebih tajam daripada biasanya, dan lebih gelap. Menghitam, bergairah…?

Aku menahan napas ketika ia memajukan tubuhnya sedikit demi sedikit. Deru napasnya semakin menerpa wajahku, dan aku bisa merasakan jantungku berdebar dua kali lebih cepat daripada biasanya.

"Kau begitu misterius,"Bisiknya, dan kedua mataku melebar. Aku sama sekali tak bisa berkutik, "Dan juga… sangat menarik,"

Jika saja jalanan sudah lengang dan tak ada klakson mobil dari belakang, aku yakin dia sudah membuatku pingsan saking terkejutnya.

.

.

.

.

.

.

Third Shades : Dope.

.

.

.

.

.

Reo baru pulang tepat setelah aku selesai mandi. Ia melongokkan kepalanya kedalam kamarku melalui celah pintu, dan tampak keheranan melihat rambutku yang lepek seperti habis disiram air.

"Hei!"Sapanya lebih dulu dengan senyum lebar. Aku menoleh, membalas senyumnya dan melingkarkan handukku pada seputar leher. "Boleh aku masuk?"-Sebenarnya aku tahu dia takkan menunggu jawaban karena aku pasti mengizinkannya masuk. Ia mendorong pintu lebih lebar dan mulai melangkahi wilayah kamarku.

"Kau pulang lebih telat,"Komentarku ketika mendapati dia masih berada dalam pakaian kerjanya yang tadi. Reo melirik pada jam dinding yang terletak di samping kanan tempat tidurku, dan meringis ketika menyadari waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. "Sangat telat,"

"Maafkan aku,"Reo menghampiri tempat tidurku, lalu duduk disana. Aku hanya mengedikkan bahu, "Bagaimana pertemuanmu?"-dan menyadari jika nadaku terdengar seperti menyindirnya.

"Meeeenyenangkan!"Percayalah, aku bisa melihat bunga-bunga bermekaran dan aura menyilaukan dari belakang tubuhnya. "Kau masih ingat Miyaji-chan? Yang datang kesini tiga minggu lalu. Dia menanyakanmu dan titip salam,"

"Sampaikan salamku juga padanya,"Aku mengulum senyum, lalu pergi ke kamar mandi dan menggantung handukku, kemudian mengejutkan diri ketika melihat Reo sudah berada dalam pose confidential di atas ranjangku. Lengkap dengan senyum menggoda dan aku tertawa melihatnya. "Sedang apa kau disitu? Rose?"

"Oh Jack. Gambar aku seperti apa yang kau lakukan dengan salah satu teman Prancismu,"-Dan kami berdua tergelak secara bersamaan. "Bercanda. Oh, Sei-chan! Kemari. Rasanya aku sangat merindukanmu,"

Aku mengangkat alis, tapi tetap melangkah menghampirinya dan duduk di sisi ranjang. Meski begitu, posisinya sama sekali tak berubah. "Ada apa?"

"Sebelum itu, aku mau bertanya. Darimana saja kau, baru pulang jam segini?"

Ya Tuhan.

Aku mengatupkan bibir, rapat. Mengapa ia justru menanyakan hal itu?

"Jam besuk berakhir paling lambat pukul setengah sembilan. Lantas, apa yang kau lakukan—"

"Hanya ada beberapa hal yang harus aku lakukan,"Kataku, agak cepat membalas dan bahkan memotong kalimatnya. "Apa kau tidak lelah? Mau kubuatkan teh?"

"Tidak usah, lagipula besok hari Sabtu dan kita libur, 'kan? Jadi tidak masalah untuk begadang semalaman. Mau menemaniku menonton film?"Tawarnya, dan aku menghela napas lega karena ia tak mengungkit lagi masalah itu.

"Menonton film?"Aku mengangkat satu alis, menimbang-nimbang untuk mengikuti ajakannya atau tidak. "Jika itu bukan Toy Story atau Finding Dory, kupikir tidak masalah,"

"Yah, apa maksudmu? Memangnya aku bocah?"Hardiknya, sementara aku tertawa kecil. "Aku ingin susu cokelat,"Gumamku, lalu bangkit berdiri. Reo menatap punggungku. "Mau?"

"Boleh saja,"Dia mengangguk, lalu menghentikan langkahku yang sudah akan membuka pintu kamar. "Ngomong-ngomong, Sei-chan. Malam minggu nanti kau kosong?"

"Malam minggu?"Aku mengangkat satu alis, lalu berbalik untuk memandangnya yang kini sudah berganti posisi menjadi tengkurap dengan satu tangan menyangga dagu. "Sepertinya begitu, ada apa?"

"Miyaji mengajakku party. Saudaranya ulang tahun. Kau bisa ajak Ogiwara juga,"

Aku diam sejenak, "Begitu?"

"Ya, dia memintaku untuk datang secara pribadi dan mengajakmu jika kau berkenan,"

"Aku membutuhkan waktu untuk berpikir,"Aku tersenyum, lalu melangkah keluar dari kamar. "Tunggu saja aku di ruang tengah,"

.

.

.

Reo benar-benar membiarkanku untuk bebas kali ini.

Katanya tadi, "Beruntunglah kau, Sei-chan. Bebaskan dirimu walaupun hanya untuk malam ini. Tapi ingat, jangan terlalu mabuk! Aku tahu kau tak pernah minum sebelumnya,"

Terimakasih banyak, Reo.

Setelah melalui hari Sabtu yang membosankan dengan menghabiskan keripik dan es krim persediaan kami, akhirnya, aku berakhir disini. Awalnya aku sudah curiga dengan maksud Reo untuk party, dan ternyata dugaanku benar. Dia membawaku ke sebuah bar super-mewah yang terletak di pelosok kota Tokyo.

Jika kalian bertanya, apakah aku menerima ajakannya?

Oh, ya. Oh, ya.

Aku mengucapkan selamat untuk Yuuya, adik kandung Miyaji-san yang ternyata satu tahun lebih muda dariku. Ia senang melihatku datang, dan mempersilahkanku untuk menikmati pestanya. Reo sudah sibuk berbincang dengan teman-temannya yang lain, meninggalkan aku, Ogiwara, Izuki, Imayoshi dan Yuuya yang baru saja bergabung bersama kami. Suara musik membuat kepalaku sedikit pening, apalagi Yuuya dan Imayoshi sempat menawariku dua gelas Smirnoff dengan baunya yang menurutku menyengat.

"Sudah lama kita tidak bertemu, Akashi,"Yuuya meninggikan suaranya, berusaha menyaingi dentuman musik yang bertalu-talu dan hal itu sama sekali tak berhasil. Aku hanya mengangguk dan menyunggingkan senyum lebar. Bar sudah disewa dan penuh sesak dengan tamu undangan, aroma alkohol yang menyengat, dan ewh, apa ini bau rokok? Apa aku sudah mabuk?

"Kau mabuk?"Ogiwara yang duduk disebelahku menoleh dan mengulurkan tangannya, menginginkan gelas wiski yang kupegang erat. "Sini. Wiski bisa menghilangkan kesadaran bagi pemula sepertimu,"

"Tidak,"Aku menepis tangannya, terkejut pada diriku sendiri ketika melakukan itu. "Tidak apa-apa,"Lalu kembali meminumnya dalam satu tenggakan panjang.

"Akashi, pipimu sudah merah,"Kata Imayoshi, mengingatkan. Izuki menegakkan tubuh, "Apa perlu aku mengambilkan air putih?"

"Tidak, tidak perlu,"Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, merasa sedang berada di puncak pacuan roller coaster dan jatuh dalam sekali dorongan. Perutku mual dan rasanya aku ingin sekali muntah. Reo bisa benar-benar memarahiku ketika tahu aku nyaris hangover—atau bahkan sudah. Ditengah-tengah dentuman musik yang semakin menggila dan riuh rendah dari lantai dansa, aku bisa mendengar mereka berempat tengah membahas sesuatu tentang basket dan pertandingan. Sesekali mereka menatapku dan menyuruhku untuk berhenti, bahkan Izuki berdiri dan merebut gelasku.

"Wajahmu sudah sangat merah,"Katanya. "Jangan sembrono. Sudah, berhenti,"

Aku mengerang kesal, merasa kehilangan dan bangkit berdiri ketika perutku semakin mual. "Aku harus ke toilet!"Seruku, sambil mencoba berdiri dan menjaga keseimbangan dengan bertumpu pada bahu Ogiwara. Ia menengadah, menatapku dan mencekal pergelangan tanganku. "Perlu kubantu?"

Aku menggeleng, "Tidak,"

"Oh ayolah,"Imayoshi menatapku, matanya yang segaris itu selalu terbuka lebih lebar ketika serius. "Kau terlalu keras kepala. Ogiwara, temani dia,"

"Aku bilang: aku bisa sendiri!"Aku meninggikan suara, kemudian mengangkat tangan. "Tidak akan ada masalah dengan pergi ke toilet sendiri,"-Lalu mengedikkan bahu dan berjalan terhuyung menjauh dari mereka. "Sampai nanti,"

Aku menerobos kerumunan manusia di lantai dansa, melewati beberapa meja yang ditempati tamu undangan, pelayan bar, dan sampai di toilet pria. Aku masuk dan bersandar ke dinding, menyadari pandanganku buram dan mual pada perutku semakin menjadi-jadi. Seharusnya aku mengikuti saran Imayoshi untuk mengajak Ogiwara tadi.

Stall toilet hanya ada dua, dan kedua pintunya tertutup. Jadi, aku harus menunggu. Aku merogoh saku celana ketika ponselku bergetar, dan mengerutkan kening ketika melihat panggilan masuk tanpa nama. Siapa ini?

Aku memaksa benakku untuk mengingat-ingat. Reo? Tentu tidak. Dia menyimpan nomornya sendiri pada ponselku. Ogiwara? Izuki? Yuuya? Imayoshi? Tidak semuanya. Lalu, siapa?

Mulai merasa pusing dengan pikiranku sendiri, aku mengangkatnya. "Halo?"

"Akashi, dimana kau?"

Aku tersentak kaget ketika orang itu menjawab sapaanku dengan nada tinggi yang terkesan tidak santai. Aku terdiam, melongo beberapa saat. Pintu salah satu stall terbuka, dan pria muda berambut hitam keluar dari sana. Ia tampak terkejut melihatku, namun segera mengubah raut mukanya dan keluar dari sana. Aku mengamatinya sebentar dengan sudut mata, sebelum suara itu kembali berteriak.

"Akashi, jawab aku!"

"Tunggu, siapa kau?"Aku mengerutkan kening, sadar telah membentak penelepon itu tanpa berpikir dua kali. Aku memejamkan mata rapat, kakiku mulai bergetar karena tak kuat menahan bobot tubuh. Setelahnya, hening total. Tapi aku yakin jika penelepon itu masih disana. "Maaf, orang iseng. Aku sama sekali tidak menyimpan nomormu,"

"Midorima,"-tunggu, sepertinya aku kenal suara ini. "Midorima Shintarou,"

Kali ini aku yang terdiam, cukup lama. Gelagapan dan keheranan karena bisa-bisanya aku membentak seorang presdir sekarang ini. Terlebih, aku telah menuduhnya sebagai orang iseng dan bagaimana caranya dia tahu nomorku? Aku baru akan membuka mulut ketika ia kembali menyela,

"Katakan padaku dimana kau sekarang."

"Apa pedulimu denganku?"Aku memijit pangkal hidungku yang terasa pening. "Mau dimanapun aku, bahkan tak ada urusannya denganmu, 'kan?"

"Akashi, kau mabuk,"

"Aku tidak mabuk!"Seruku, kesal. "Aku sama sekali tidak mabuk!"

"Kau mabuk, Akashi. Bersama siapa saja kau disana?"

"Si elang kitakore, Mibuchi, Miyaji bersaudara, dan psikiater segaris—"Aku bahkan tak sadar jika mulai meracau. Pandanganku sangat berkunang. "—Ahahaha, kenapa? Ada apa?"

"Akashi, sungguh. Kau mabuk. Dengan siapa nanti kau pulang?"

"Izuki akan pulang dengan elangnya,"Aku tertawa sangat keras. "Mungkin aku akan diantar Ogiwara,"

"Tidak dengan Ogiwara. Katakan padaku dimana kau sekarang,"

"Apa pedulimu denganku?"Kali ini, aku kembali membentaknya. "Mau mabuk atau tidak, mau aku dimana saja, itu sama sekali tak ada sangkut pautnya denganmu!"

"Akashi, katakan padaku dimana kau sekarang!"

"Aku?"Aku terkekeh. "Aku berada jauh…"-Tergelak, "Darimu,"

"Persetan, Akashi. Kau ada dimana!?"

"Sudah kubilang aku jauh darimu!"Aku kelepasan berteriak. Perutku semakin mual, "Memang kau siapa? Apa hubunganmu denganku?"

"Kau—"

"Akashi? Kenapa kau lama sekali?"

Pintu toilet terbuka dari luar, dan aku bisa lihat Ogiwara datang menghampiriku yang masih bersandar pada dinding. Aku memicingkan mata, menyadari dirinya berbayang menjadi tiga dan kembali memasukkan ponselku kedalam saku celana tanpa mematikan sambungannya. "Ogiwara?"Tanyaku. "Untuk apa kau disini?"

"Imayoshi-san menyuruhku,"Katanya, lalu menarik satu lenganku. "Ayo kita kembali. Ku antar kau pulang,"

"Tidak perlu,"Kerlapan mata memaksa kembali lewat dalam pandanganku, dan aku mengusirnya jauh-jauh dengan menutup mata. "Aku akan bilang pada Reo,"

"Tapi Mibuchi bahkan masih reuni dengan kawan-kawan lamanya,"

"Memang aku peduli?"Sergahku, menatap tajam matanya dan mengibaskan tangan, "Lepaskan aku,"

"Akashi, jangan begini,"Tiba-tiba tatapannya melembut. Ia berbisik, mengambil satu langkah maju dan memenjarakanku diantara tembok dan tubuhnya. Aku terkejut, refleks mengangkat satu tangan lagi untuk mendorongnya dan ia menangkap tanganku dengan begitu mudah. Sialan. Sialan.

"Ogiwara, apa yang kau lakukan?"

"Aku menyukaimu,"Aroma alkohol menyeruak dari belah bibirnya yang bersuara, dan aku menggelengkan kepala kuat-kuat menyangkal ucapannya.

"Tidak, Ogiwara. Kau mabuk!"Seruku, dan ia tertawa mendengarnya. "Berkacalah, Akashi. Kau bahkan lebih mabuk dariku,"Ia memiringkan kepala dan mendekatkan wajah. Apa dia akan menciumku? Ya Tuhan! Tidakkah ada tempat yang lebih baik untuk mencuri ciuman pertama seorang Akashi Seijuurou? Di toilet? Bibirku bahkan masih perjaka!

"Ogiwara, tidak!"Aku menggerakkan tanganku, tapi dia sangat kuat. Aku memalingkan muka, merasa pipiku menghangat karena alkohol dan wajahnya yang semakin dekat.

Tidak ketika pintu toilet terdobrak secara paksa dan Ogiwara yang tiba-tiba menjauh dariku. Aku tersedak 'hah' dan merasa pening ketika aroma citrus yang tajam menusuk hidungku. Apakah aku migrain? Pusing karena mabuk adalah hal yang paling tidak mengenakkan.

"Dia sudah bilang tidak,"Katanya, tegas dan tajam. Bukan suara Ogiwara. Aku mengerjap, menyipitkan mata ketika bayang-bayang punggung tegap seseorang yang dibalut jas cokelat tua berubah menjadi enam. Surai hijau yang disikat rapi, dan wajah seriusnya yang terkesan marah ketika berbalik mengahadapku. "Akashi, kita pulang,"

Jari-jari Midorima Shintarou yang mencengkeram kuat dan menarik lenganku menjadi hal terakhir yang ku ingat setelah keluar dari toilet.

.

.

.

Tidak ada dentuman musik, aroma alkohol, terlebih asap rokok yang begitu kubenci.

Tidak ada suara tawa Yuuya, lelucon Izuki, logat menyebalkan Imayoshi, dan Ogiwara yang terus-terusan memaksaku berhenti minum.

Hanya ada aroma jeruk segar yang mengelilingiku. Aku merasa sangat nyaman, seperti berbaring pada alas tidur bulu angsa dan tertutupi selimut dari awan. Aku memutuskan untuk membuka mata dan mengerang, menyadari objek-objek yang kulihat masih berbayang menjadi beberapa bagian. Perutku rasanya mual lagi, dan kepalaku menjadi bertambah pusing. Tempat ini luas dan lengang. Aku memegang kepalaku dan bangkit duduk. Ada dimana aku sekarang? Terakhir yang ku ingat adalah pintu toilet yang berdebam dan aku kehilangan kesadaran. Apa yang terjadi?

Pesta Miyaji bersaudara, ajakan Reo, Finding Dory, susu cokelat panas, Izuki, Imayoshi, Yuuya, dentuman musik, Smirnoff dan wiski, Ogiwara Shigehiro, dan Midorima Shintarou.

Holyshit. Midorima Shintarou, kau bilang?

Aku mengangkat selimut, mengerutkan kening ketika pikiranku berkabut dan menyadari kausku sudah tidak ada. Begitu pula dengan jaket dan celana panjangku, tapi aku masih menggunakan bokser dan kemeja besar yang jelas bukan milikku—urgh!

Aku membelalak, menendang begitu liar dan bergegas turun dari ranjang. Setelah berhasil melepaskan kakiku dari selimut yang membebat dan nyaris membuatku jatuh, aku berlari seperti orang kesetanan menuju sebuah pintu yang kuyakini sebagai toilet. Jika tidak, mungkin aku akan mengeluarkan isi perutku pada setumpuk pakaian atau orang yang kebetulan berdiri didepan pintu.

Beruntung itu memang kamar mandi, jadi aku tak ragu untuk membuka penutup toilet dan melepaskannya disana. Kepalaku pusing, mulutku pahit dan perutku terasa sangat panas. Sialan, mengapa aku harus minum banyak? Aku mencengkeram sisi toilet dengan putus asa, secara paksa mengeluarkan semua minuman yang kurengguk karena gegabah. Kedua kakiku lemas, dan aku bisa saja terjatuh jika tidak ada sesuatu yang melingkari pinggangku dengan begitu erat.

"Hati-hati,"Kata suara berat itu. Aku memicing, menatap tangan lain yang mem-flush toilet dan mendorongku agar bergeser ke depan wastafel. Keningku berkerut, menyadari cermin yang ada disana tidak hanya memantulkan refleksi diriku, melainkan bersama dengan seorang lelaki kelewat tinggi dengan surai hijau dan—apa?

"Kau hangover parah sekali,"Katanya, menyalakan kran air dan memijat tengkukku. "Bersihkan mulutmu,"-Siapa pula kau menyuruhku begitu? Meskipun aku tidak suka dengan caranya memerintahku, aku tetap melakukannya.

"Jam berapa sekarang?"Tanyaku ketika melangkah keluar dari kamar mandi. Mataku berkeliling mencari sosoknya, tapi dia sudah tidak ada. Apa itu hanya halusinasiku? Tidak mungkin. Aku mengusap mataku yang berair dengan tangan kanan. Udaranya dingin sekali.

"Masih pukul setengah satu dan pestanya sudah berakhir. Mibuchi juga sudah pulang,"Aku terkejut ketika tiba-tiba dia muncul dari balik lemari dengan satu nampan berisi mangkuk dan gelas. "Duduk disana dan jangan pergi kemana-mana,"

"Ada apa?"Keningku berkerut, tapi tetap mengikuti perintahnya dan duduk diatas kasur. Menaikkan kedua kakiku dan mengambil bantal untuk dipeluk. Ia melirikku dan melangkah mendekat, meletakkan nampan itu pada pangkuanku.

"Sup bagus untuk mengatasi hangover, makan saja,"Katanya, lalu mengusak surai hijaunya kebelakang. Aku hanya menatapnya, "Tapi aku mual,"

Tatapan matanya menajam, "Kubilang makan saja,"

"Sudah kubilang aku mual,"Tolakku tanpa segan-segan, "Tidak mau, nanti saja,"

Tak kusangka, dia membungkuk dan menarik daguku secara paksa. Kuku-kukunya yang tajam menekan kulitku. Bilah hijaunya menusuk mataku tajam dan kurasa aku tak bisa bernapas selama beberapa saat. "Bernapas, Akashi,"Katanya. "Dan makan supmu. Aku tidak mau seseorang muntah di pakaianku,"

Pipiku merona menyadari kaus abu-abu tanpa lengan yang dipakainya, ototnya kekar sekali. "Apa aku muntah?"

"Beruntung tidak,"Dia menggeleng, "Tapi kau membuatku kerepotan ketika mengganti pakaianmu,"

Aku tersentak kaget, "Apa? Kau tidak melakukan sesuatu, 'kan?"

"Jika kau berpikir yang bukan-bukan, maka kubilang tidak. Tidak mungkin aku menyetubuhi orang mabuk, Akashi,"Sir Midorima bersedekap. "Meskipun kau duduk dipangkuanku dan memaksaku untuk menciummu, aku tetap tidak melakukannya,"

"Hah?"Aku melongo, gagu. Memaksa otakku untuk berpikir namun rasanya benar-benar gelap dan berkabut. Bahkan kepalaku rasanya bertambah sakit saja. "Apa maksudmu?"-Jadi kemeja ini miliknya? Baik sekali.

"Lupakan,"Ia mengedikkan bahu, lalu duduk di sisi ranjangku. Aku menunduk, mengucapkan terima kasih pelan dan menyendoki supku. Masih sangat panas, dan aku merasa tenggorokanku terbakar.

"Aku bertemu dengan Mibuchi tadi,"-Aku mengangkat kepala mendengar nama Mibuchi disuarakan olehnya, "Dia tampak terkejut dan bertanya padaku, tentang mau kemana aku membawamu pergi,"

Aku bahkan tidak bisa mengingat apapun, bodoh. "Ia juga terkejut melihatmu yang pulas, tapi tak mengatakan apapun lagi ketika aku berkata akan membawamu ke kamar,"Tangannya terulur, dan aku berjengit kaget ketika ujung jarinya mengusap kuah sup yang tercecer sampai ke sudut bibirku.

"Dimana kita sekarang?"

"Masih di Fartatole,"Ia mengedikkan bahu, dimana pula itu Fartatole? "Jangan pikirkan apapun,"Tegurnya ketika melihat keningku berkerut, lalu melarikan tangannya ke dahiku dan mengangkat poniku kebelakang.

Mendadak aku merasa selera makanku hilang, lalu memundurkan kepala untuk menghindari sentuhannya yang membuatku serasa tersengat listrik. "Boleh aku bertanya?"-Aku bisa melihat dia keheranan, tapi aku tahu dia menungguku. "Tidak, lebih tepatnya mengatakan sesuatu. Terima kasih atas bantuannya dan… maaf merepotkanmu,"

Ia menegakkan badannya, dan matanya menggelap ketika menatapku. Meski begitu, aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan olehnya. "Seseorang memberitahuku ketika aku sedang lembur. Salah satu pegawaiku mabuk berat dan membuatku stress ketika ia berteriak padaku. Untung saja sebelum itu Momoi sempat memberiku nomor teleponmu,"-Dia menggeleng, alisnya bertaut melihat supku yang bahkan belum tersisa sampai setengah. Aku hanya makan lima sendok, "Habiskan supmu,"

"Bagaimana kau tahu aku ada disini?"Tanyaku, dan atas dasar apa kau sampai menjemputku?

"Apa itu urusanmu?"Ia malah bertanya balik, sialan. Lalu apa urusanmu sampai repot-repot datang? "Berikan supmu,"-Kali ini alisku bertaut, tapi tetap membiarkan ia mengambil alih mangkukku. "Kau orang pertama yang membuatku rela pergi kesini dan menyuapimu,"

"Terima kasih, tapi aku tidak bangga,"Ketusku, dan sadar telah mengambil langkah yang salah ketika tiba-tiba gerak tangannya terhenti dan ekspresinya mengeras.

"Aku tidak keberatan untuk membanting mangkuk ini, Akashi, dan kau tahu itu,"-sombong sekali dia! "Jika aku bisa menjadikanmu milikku, aku bahkan takkan membiarkanmu bebas bersenang-senang. Kau sama sekali tidak seperti dirimu, hal itu sangat beresiko dan gegabah. Aku benci orang yang seperti itu,"

Ya, ya, tuan. Kau bahkan baru mengenalku selama dua hari. Siapa pula yang mau menjadi milikmu?

Sir Midorima mengangkat sendok itu dan menempelkan ujungnya pada celah bibirku. "Buka mulutmu,"Perintahnya, dan aku hanya menurut walau sesungguhnya tidak rela.

"Aku baik-baik saja,"Kataku tiba-tiba. "Aku pergi bersama Reo, Izuki, Imayoshi dan—"

"Jangan sebut Ogiwara Shigehiro,"-Kau bahkan menyebutnya sendiri, sialan. Kedua alisku bertaut, mereka ini ada masalah apa sebenarnya?

"Dia hanya sedikit keluar jalur,"Gumamku, ragu-ragu. "Terlalu,"Dan tampaknya dia tak setuju dengan hal itu. Kenapa dia tampak sangat marah?

"Mibuchi mengizinkanku untuk mengantarmu pulang, dan kupikir kita bisa tetap disini sampai pagi,"

Tetap disini? Bersamanya? Hanya berdua?

"Aku tidak akan melakukan apapun, meskipun aku tak bisa berbohong jika aku sangat ingin menciummu,"Aku tersentak kaget ketika ia meletakkan mangkuk itu ke atas meja, lalu menyodorkan gelas air ke bibirku. "Tidak usah dihabiskan jika kau memang tidak rela. Minum sampai habis, aku punya obat pereda mual jika kau butuh,"

"Aku sudah mendingan, terima kasih,"Aku menggenggam gelas dengan dua tangan, lalu menurutinya dengan menandaskan isi gelas dengan dua kali tegukan. Ia menaruh gelas dan nampan itu di sofa, kemudian membiarkanku bersandar pada kepala ranjang ketika ia menyilangkan kaki sambil terus menatapku.

"Kau bahkan tidak tahu betapa ingin aku memilikimu, Akashi,"Aku benar-benar terkejut ketika ia memajukan tubuh, memojokkanku pada sandaran ranjang dan memegang daguku dengan satu telapak tangannya. Hembusan napasnya menerpa wajahku, dan aku sama sekali tak bisa bergerak karenanya. Kedua mata kami bertumbukan, dan aku tak pernah merasa seintim ini dengan seseorang.

Atau, pernah, dan aku melupakannya.

"Sir—!"Aku terkejut ketika ia menarik lenganku, hingga membuat tubuhku terhuyung kedepan dan tersandung selimut. Tubuhku mendarat pada sesuatu yang kokoh dan kuat, bumi tiba-tiba berotasi sangat cepat dan membuat kepalaku sedikit pusing akibat pergerakan tiba-tiba. Aku menunduk, dan ia mendongak. Aku duduk dipangkuannya.

Aku menelan ludah.

Aku duduk dipangkuannya. Aku duduk dipangkuan Midorima Shintarou.

"Tidakkah kau melihat itu?"Bisiknya, jari-jarinya menelusup ke balik helai rambutku dan mencengkeramnya agak kuat. "Aku sangat ingin memilikimu,"

Dengan bodohnya aku hanya dapat diam, mematung, tak bisa mengatakan apapun.

"Betapa aku ingin menciummu. Betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba kau mendorongku dan duduk di atas pangkuanku dan memintaku untuk menciummu. Aku ingin melakukannya, sangat ingin,"

"Apa yang kau katakan, sebenarnya?"Seruku kebingungan, dan nada suara yang kugunakan meninggi. Tapi ia berdesis dan melingkarkan lengannya pada pinggangku, dan aku tahu jika aku harus diam.

"Aku ingin menjadikanmu milikku,"

"Siapa yang mau jadi milikmu?"Aku menantang, mengangkat satu alis tinggi-tinggi dan merasakan cengkeramannya pada rambutku menguat. "Aku takkan bisa memilikimu jika kau belum menyetujui kontrak,"

"Kontrak?"Kali ini kedua alisku bertaut. "Kontrak apa?"

Ia tidak menjawab, melainkan memajukan wajah dan membuatku memalingkan muka ketika mengira dia benar-benar akan menciumku. Tapi aku salah. Ia mengecup telingaku dan membuat tubuhku gemetar melawan desakan aneh yang membuat jantungku berdegup kencang. Terlebih ketika lidah basahnya terjulur dan menjilati lekukan cuping telingaku. Eranganku tertahan, gigi-gigiku menggigit bibir dengan sangat kuat.

"Jangan lakukan itu,"Bisiknya lagi. Jari-jari panjangnya menyentuh bibirku dan membebaskannya. "Atau biarkan aku yang menggigitnya,"

"Kalau begitu gigit saja,"Kataku, menyadari suaraku bergetar dan terlalu ragu untuk kembali memandangnya. "Kau bilang… kau sangat ingin menciumku, bukan begitu?"

"Dan melihatmu menggunakan pakaianku…"-Aku memejamkan mata. Ini sungguhan kemejanya. "Kau berhasil membuatku memiliki fantasi yang bukan-bukan,"

"Aku tersanjung,"Balasku. Ia mendorong pipiku untuk memandangnya, tapi aku tetap bertahan dengan posisiku. "Akashi, jangan keras kepala seperti ini,"Katanya, kali ini terdengar sedikit putus asa.

Aku menggelengkan kepala, dan kudengar ia menggeram. Sepertinya aku berhasil menyulut sumbu kemarahannya. "Akashi!"

"Apa?"

"Tatap aku,"

"Tidak,"

"Akashi Seijuurou—"

"Untuk apa aku melakukannya?"Bantahku, menggelengkan kepala untuk melepaskan telapak tangannya yang mencengkeram kuat daguku. "Lepas, sir,"

"Tidak,"

"Sir!"

"Aku hanya melakukan apa yang juga kau lakukan,"Ia menarik daguku secara paksa, dan berhasil membuatku memalingkan muka untuk menghadapnya. Aku menyipit, menatap tajam matanya yang menusukku lebih tajam. "Apa maumu?"

"Menciummu?"Ia kembali berbisik. "Kau seperti menuntut jawaban. Apa itu?"

"Apa aku harus mengatakannya padamu?"

"Tentu,"

"Memang siapa kau?"

"Kau terlalu lancang,"Bisiknya lagi, kali ini terdengar berbahaya. "Jawab aku. Aku selalu memiliki apa yang aku inginkan,"-Sombong sekali dia!

"Aku tidak mengizinkanmu memilikiku,"

"Akashi!"Oke, kurasa dia benar-benar marah. "Dengarkan aku dulu!"

"Untuk apa?"Suaraku meninggi, dan aku berontak untuk terbebas darinya. Sayangnya, hal itu tak berhasil. Ia terlalu kuat untuk di lawan. "Tidakkah kau menyerah?"Tanyanya, dan aku membuang napas gusar ketika mengetahui hal itu ada benarnya. Mengapa aku tidak menyerah saja?

"Tidak,"-dan aku mengejutkan diriku sendiri ketika mengatakannya.

"Akashi…"

"Baik, baik, Tuan Presdir yang terhormat!"Aku mengerang, menutup dan membuka mataku lagi dengan kesal. "Untuk apa kau ada disini? Untuk apa kau menjemputku? Untuk apa kau bertingkah sok heroik dengan menarikku setelah bertemu dengan Ogiwara?"

"Untuk apa, kau bilang?"Ia kembali berbisik, jari-jarinya menari menyusuri tulang pipiku. "Untuk melindungi milikku?"

Kedua alisku bertaut tajam, "Siapa yang milikmu?"

"Dengar dulu,"Desaknya, dan tatapannya melembut. "Kupikir aku tak bisa menjawabnya sekarang,"

Kali ini kedua mataku melebar, "Kau memaksaku untuk mengatakan hal itu dan tidak bisa menjawabnya sekarang?"

"Aku butuh waktu, sama seperti ketika aku ingin menciummu,"Kepalaku terasa lebih pusing daripada sebelumnya, dan telapak tangannya menyusup di bawah poniku.

"Kenapa kau tidak melakukannya sekarang?"Tanyaku, memejamkan mata, menyerah untuk melawan lebih jauh dan memilih untuk mengikuti saja alur permainan yang ingin dilakukannya.

Hening. Bibirnya terkatup rapat. "Aku… tidak bisa,"

"Kenapa? Kenapa?"Aku merasa tubuhku kembali gemetar dan menyingkirkan tangannya yang menutupi pandanganku, tapi hal itu tidak berhasil. Ia malah menurunkan telapak tangannya dan menutup kedua mataku. "Kenapa, sir?"

"Kau tidak perlu tahu sekarang,"Ia kembali berbisik, tampak lebih serius. "Sudah pukul tiga. Aku akan memanggil pelayanan kamar agar kau bisa sarapan, karena membiarkan perut kosong saat hari libur adalah hal yang sangat buruk,"

.

.

.

Aku keluar dari kamar mandi dan mengumpat ketika kepalaku kembali terasa pusing. Sir Midorima telah membawa pakaianku ke laundry dan bermurah hati menyuruh salah satu bawahannya untuk membelikanku satu set sepatu converse baru, hoodie merah, dan jins panjang. Meski begitu, ia berkeras tak mau menerima kembalian berupa uang kecuali aku mau menyerahkan diri untuk menjadi miliknya.

Siapa yang mau?

"Sarapan sudah datang,"Kata Sir Midorima—dia bahkan sama sekali tidak menatapku. "Kau suka sandwich?"

"Tidak akan ada masalah dengan sandwich,"Kataku, masih terkesan dengan kamar mandi sebuah bar yang sangat-sangat mewah. Aku bahkan ragu jika bar ini sebenarnya adalah hotel bintang lima. "Terima kasih,"-Lalu memandangi punggungnya yang kini sudah dibalut jas gelap. "Kenapa kau sangat suka menggunakan jas?"

Ia berbalik dengan kening berkerut. "Apa?"

"Tidak, lupakan,"Aku mengedikkan bahu dan berjalan menghampiri meja nakas. Ia melirikku dari sudut mata ketika menyisir rambutnya dengan jari. "Apa ini kopi?"

"Susu cokelat,"Katanya, "Habiskan semua itu, atau aku yang akan menghabisimu,"

"Enak saja,"Tandasku cepat, lalu mengangkat cangkir bulat yang bentuknya aneh.

"Jangan minum ketika berdiri,"Ia mengingatkanku, berbalik dan membuat kesalahan dengan menyenggol cangkirku. Aku terkejut, hampir saja menjatuhkan cangkir itu ketika cairan panas didalamnya membasahi tanganku. Ia juga tampak terkejut, namun lebih cepat untuk mengambil alih cangkir dan menggenggam tanganku.

"Aw, sakit,"Aku mengerang, memperhatikannya yang mengamati permukaan kulitku lamat-lamat. Sudah mulai memerah dan apa yang sebenarnya dia lakukan?

Aku tidak sempat mengatakan apapun ketika ia menunduk, menjilat ujung jari telunjukku yang memerah. Kedua mataku membola lebar, Ya Ampun! Presdir menyebalkan ini menjilati jariku!

"Sir?"Seruku, kaget. Namun ia tidak mengatakan apapun, melainkan mendongak dan mengeluarkan seringai yang baru pertama kali ini aku lihat.

"Kudengar air liur bisa menyembuhkan luka, bukan begitu?"

Setelah aku memalingkan muka, aku berharap bumi mau berbaik hati untuk menenggelamkanku yang mulai merona.

.

.

.

.

.

.

Third Shades, tamat.