Prok prok prok Jawaban reader semua bener :D itu calon tunangan Lulu Unnie, tapii heyy tebakkan reader juga salah semua. Kris mah mending dah masih mendekati. Ini mah ada yang jawab donghae, dan yang lebih wow lagi Yunho. Mau dipenggal jaejoong bawa-bawa Yunho? Wkwk.

Apa deskripsi 'si pria' terlalu bagus sampe reader gak bisa ngebayangin? Hihi, aku permudah deh hidungnya tumpul dan dengan kulit berwarna perunggu. Kai alias Jongin. Gampangkan tebakkannya kalau bawa-bawa idung ama kulit? Sengaja gak bawa dua ciri-ciri itu soalnya bisa ngerusak image Jongin yang keren.

Makasih reader yang udah review, bener-bener berterima-kasih. kebahagiaan author itu terletak di review lhoo. Jadi mohon kerjasamanya ya untuk reader setia tapi belum komen. Tapi jawaban review juga yang normal aja apa, jangan yang absurd2. \(3)/

OKAY, NEXT!

Lets write, lets read L(^0^)Y

NO PLAG

"sebenci apapun aku padamu, aku tidak akan mengabaikan kecacatanmu" Luhan menjawab pelan sambil tersenyum manis, gadis ini benar-benar menyindir pria di disampingnya yang kini menggenggam telapak tangannya.

Dengan berpegangan tangan mereka memasuki lobi hotel, dan hampir semua mata tertuju pada pasangan itu.

.

.

Chap. 4

Luhan's Past

.

.

"Kau benar-benar hanya minum itu?"

"aku tidak minum alkohol jika kau lupa, Jongin. Alkohol bisa mempengaruhi kulitku"

"panggil aku Kai! Awas saja jika ada yang tahu aku Kim Jongin"

Selepas acara makan malam yang formal, sesuai janjinya Jongin membawa Luhan ke pub. Dan sekarang baru jam 10 malam. Mereka adalah pengunjung pertama pub tersebut.

Tapi yang sedang duduk berhadapan dengan Luhan kini bukan Jongin di restoran tadi. Rambutnya sudah di cat pirang, bajunya masih sama seperti yang tadi hanya saja tanpa tuxedo. Dan yang mengherankan, tidak ada tongkat di sekitarnya.

"ini membosankan, dibanding disini lebih baik ke club malam saja sekalian" luhan melihat sekeliling dan tidak menemukan satu pun hal menarik. Ini adalah pub dengan tata ruang klasik yang tradisional. Hanya tempat duduk mengobrol dan minum di malam hari.

"musik yang terlalu keras membuat kepalaku pusing dan disini bisa minum dengan tenang dan nyaman"

"ck, kalau kau hanya ingin minum kau bisa menyewa bartender untuk bekerja di minibar rumahmu"

"kau tidak pernah mengerti apa itu menikmati hidup" Jongin berkata final dan Luhan terlalu bosan untuk menjawab.

Drrtt drrtt drrtt

Luhan meraih ponselnya yang terus bergetar dari dalam tas tangannya. Jongin langsung memusatkan perhatiannya pada gadis itu. Siapa yang meneleponnya malam-malam begini?

"yoboseyo…"

"aku sedang bersama Jongin di tempat minum langganan Jongin"

"Jongin bilang sampai subuh"

"ne, samchon akan kusampaikan pada Jongin"

Dengan gerakan gemulai yang dibuat-buat Luhan memasukkan kembali ponselnya di tempat semula.

Sedangkan Jongin sudah hampir diambang batas kesabarannya. Jongin tidak tahu bagaimana cara mengatur manusia keras kepala dan menyebalkan seperti Luhan.

Di saat dia memakai tongkat, tidak henti-hentinya gadis itu menghina kecacatannya.

Dan ketika Jongin menyamar menjadi Kai, gadis itu dengan sengaja memanggil nama aslinya.

"otak bebal tidak bergunamu itu tidak bisa menerima informasi yah?" desis Jongin tajam, rahangnya makin mengeras melihat Luhan yang hanya mengendikkan bahu acuh.

"Bisa, Jongin. Buktinya aku masih ingat pesan yang disampaikan pamanku untukmu Jongin, dia bilang aku sudah harus berada dirumah sebelum jam 12 malam. Tidak baik anak perempuan sepertiku berkeliaran, Jongin."

"yah, apa boleh buat jika seorang paman merindukan keponakan tersayangnya. Tapi aku juga tidak mau membatalkan rencanaku"

"haa, sejak kapan aku peduli rencanamu Jongin?"

"kau tahu arah pulang rumah pamanmu kan?" ucap lelaki itu sarkastik, arti lain yang mengatakan kalau dia mengijinkan Luhan untuk pulang duluan. Bisa juga yang artinya mengusir Luhan dari tempat ini.

"tentu saja aku tahu, Jongin. Selamat malam Jongin" Luhan melenggang pergi tanpa ragu setelah puas melihat betapa kesalnya Jongin.

...…...

Luhan menggigil kedinginan ketika ia keluar dari bangunan tersebut. Bayangkan saja ini jam 11 malam dan ia hanya memakai gaun dengan potongan minim.

Ia kembali mencari ponselnya untuk menghubungi sang paman, tapi sialnya baterai ponselnya habis.

Sejak tadi ia menggunakan ponselnya untuk melampiaskan kebenciannya pada Jongin. Mendengarkan musik, bermain games, browsing, atau juga streaming.

Luhan memejamkan matanya ketika semilir angin kembali membungkus kulit tipisnya. Saat ini ia benar-benar merindukan kardigan satu-satunya yang ia miliki, kardigan peach warisan ibu-nya. Ingin sekali ia buru-buru bertemu dengan pria asing agar secepatnya mendapatkan kardigan tersebut.

Luhan berjalan memasuki café yang letaknya persis di sebelah pub yang baru saja ia kunjungi. Dia akan meminjam telepon disana saja untuk memesan taxi.

Dan yang terpenting berlindung dari dingin yang menusuk tulang ini.

...…...

Dekorasi café yang didominasi merah dan emas memberikan kehangatan yang nyaman untuknya. Tapi sayang sekali sepertinya café ini sudah akan tutup. Hanya Luhan satu-satunya pengunjung disini.

"permisi, maaf nona last order sudah lewat" ucap sopan seorang waitress tanpa seragam begitu Luhan menginjakkan kakinya.

"ahh benarkah? Sayang sekali" ucap Luhan sok mendramatisir.

"silakan kembali lagi besok, café ini buka jam tujuh pagi" pelayan perempuan itu masih tersenyum ramah.

"tapi ini mendesak, bisa tolong pinjami aku telepon untuk memesan taxi?"

Si pelayan mengerutkan alis mendengar permintaan gadis cantik dihadapannya.

"baterai ponselku habis. Sejak tadi aku menunggu taxi, tapi tidak ada yang lewat" ucap Luhan setengah jujur setengah dusta, mana sudi menunggu taxi diluar dengan udara sedingin ini.

"baiklah, kau bisa pakai telepon yang ada di meja kasir itu" tunjuk si waiter ke arah meja kasir yang kosong.

"terima kasih" ucap Luhan lega, dan pelayan wanita itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya.

Setelah memesan taxi dari meja kasir, Luhan berjalan ke arah pelayan tersebut. Sebenarnya Luhan agak ragu, wanita itu pelayan atau pemilik? Karena dia itu cukup elegan dan berdandan rapi. Tapi bukan Luhan namanya jika peduli pada orang lain.

"terima kasih teleponnya, boleh aku menunggu taxi dari dalam café saja? Diluar dingin sekali" ucap Luhan setengah merajuk, mimpi apa Luhan semalam harus bersikap manis dan lembut pada seorang pekerja café?

"tidak masalah, maklum saja karena kau memakai baju seperti itu hehe" wanita itu tertawa geli ke arah tubuh Luhan.

Luhan mendongkol dalam hati, kesialan apalagi ini? Aku ditertawakan oleh wanita pekerja café. Padahal ia sudah berusaha ramah.

"aku dari pub sebelah, disana tidak terlalu nyaman jadi aku memutuskan pulang" jawab Luhan lembut dengan senyum manisnya.

"oh, pantas saja kau berdandan secantik ini" Luhan hanya menampilkan senyum terpaksanya yang tetap saja cantik untuk menghargai orang yang yang sudah memberinya pertolongan.

Luhan duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu keluar. Dia memperhatikan para pekerja yang sedang melakukan tugas masing-masing. Mengepel lantai, menghitung uang, membereskan gelas, dan menaikkan kursi keatas meja.

Pekerja disini memang tidak ada yang memakai seragam, hanya celemek saja. Penampilan mereka tidak terlalu buruk.

Di tengah kegiatannya memperhatikan para pekerja, Luhan melihat ada taxi yang berhenti tepat di depan café.

Luhan pamit hanya dengan melambaikan tangannya dan tersenyum pada pelayan wanita yang tadi membantunya.

Taxi yang ditumpangi Luhan berhenti di kediaman keluarga Cho. Ketika bersentuhan dengan udara malam, lagi-lagi Luhan menggigil seraya menampilkan ekspresi muka yang aneh.

"paman, aku pulang" gadis itu bersuara kecil yang memang samasekali tidak berniat untuk mengucapkan salam.

Buru-buru ia berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan ganti baju yang lebih hangat. Namun langkahnya terhenti ketika ia melewati ruang kerja sang paman.

"Luhan! Sini dulu, ada yang mau aku bicarakan"

Dengan malas Luhan masuk ke ruangan tersebut, dan duduk di kursi paling nyaman dan bersilang kaki dengan gaya khas angkuhnya.

"setelah tuntutan kita yang kemarin, ternyata wanita itu tidak mengajukan banding. Dia malah minta berdamai dan meminta komnas perlindungan anak dan perempuan menjadi mediator antara kau dan dia. Dan tentu saja hakim mengabulkan permohonannya yang begitu tulus, huh!. Semua orang yang melihat kasus ini dari luar pasti berpikir untuk menyelesaikan semua ini dengan cara damai. Karena ini hanya perseteruan antara nenek dan cucu satus-satunya. Dan dia mendapat simpati hakim dengan memilih jalan damai dan mengalah."

"hakim yang sangat bijaksana, tidakkah cukup tuntutan yang aku ajukan kemarin? Pemaksaan kehendak, dilarang bersekolah, disekap dalam rumah, kekerasan,"

"tidakkah kau mengerti Luhan, mereka hanya berpikir kau anak egois yang menginginkan kebebasan dan nenekmu adalah nenek super protektif yang mengaturmu karena terlalu menyayangimu sebagai satu-satunya pewaris.

Jika kau mengajukan tuntutan baru sedangkan nenekmu bersikap lembut terus seperti ini, bisa dipastikan kita kalah.

Kau akan kembali ke China dan tinggal bersama lagi dengan nenekmu, dan bisa kau bayangkan sendiri hidupmu akan lebih pahit dia akan semakin menjadi-jadi karena kemenangannya."

"ugh, ottokae samchon?"

"tenang saja, Lu. Aku sudah terbayang satu solusi, tapi aku tetap butuh persetujuanmu kan? Maka dari itu aku memanggilmu kesini"

"apa itu?"

"kita terima tawarannya berdamai dengan syarat-syarat yang menguntungkan pihak kita"

"tapi dia juga pasti akan meminta persyaratan yang menguntungkannya"

"memang! disinilah kemampuanku sebagai pembelamu sangat kau butuhkan"

Luhan menyipitkan mata rusanya mendengar ucapan pongah sang paman. Tubuh yang lelah membuatnya malas untuk menanggapi ocehan Kyu.

"lalu apa syarat yang kau ajukan?"

"pertama, kau diperbolehkan untuk bersekolah mengikuti pendidikan formal setinggi-tingginya.

Kedua, aku sebagai satu-satunya keluarga dari pihak ibumu boleh bertemu kapan saja tanpa harus ada jadwal atau meminta izinnya

Ketiga, kau bebas memilih jalan hidupmu ketika usiamu dewasa nanti

Yah, untuk syarat ketiga memang masih agak berantakan sih. Aku sedang menyusun kalimat yang pas dan sesuai tapi bermakna sama"

Tanpa Kyu sadari, mata dan hidung Luhan memerah menahan tangis.

Luhan langsung memeluk Kyu dan menyembunyikan wajahnya di dada sang paman. Membuat Kyu kelabakan sendiri.

"paman sungguh, tiga syarat itu memang menguntungkanku. Tapi tidak benar-benar kubutuhkan paman. Kau tahukan apa yang aku butuhkan? Aku ingin cepat-cepat lepas darinya, aku tidak bisa menunggu sampai aku dewasa.

Aku tidak mau berdamai kecuali dia berjanji akan mengubah sikapnya padaku. Buat dia berhenti menyalahkanku atas kematian orangtua dan saudaraku. Suruh dia berhenti menyakitiku, menamparku, membentakku, menyekapku.

Buat dia menyayangiku, paman.

Tidak bisakah kau menjadikan hal tersebut menjadi syarat perdamaian ini?

Bukan pilihanku jika aku terlahir sebagai perempuan dan tidak bisa meneruskan marga Xi. Bukan keinginanku jika pewaris laki-laki yang dia agung-agungkan meninggal.

Tidak bisakah ia menyayangiku paman? Aku cucu satu-satunya, aku satu-satunya keturunannya yang tersisa.

Jika dia membenciku dan tidak menginginkanku, tidak bisakah ia melepaskan aku?

Kenapa dia terobsesi sekali untuk menyakitiku?

Kenapa dia susah-susah mendapatkan hak asuhku jika hanya untuk mencampakkan aku.

Kenapa dia menyimpan dendam padaku atas sesuatu yang bukan salahku?"

Tangis Luhan pecah dalam pelukan Kyu, membuat Kyu juga meneteskan air mata pedih.

"maafkan aku Luhan, aku baru datang sekarang. Kau sangat menderita selama ini. Maafkan aku, maafkan aku. Andai aku bisa menjemputmua lebih cepat. Aku tidak berguna, aku tidak berguna"

Kyu memejamkan matanya dan merasakan airmata yang masih menetes dari kelopak matanya.

"aku merindukan ayah, ibu, dan Shi Xun. Andai mereka masih ada dan tidak meninggal dalam kecelakaan itu pasti hidupku berbeda kan paman?"

Kyu tidak menjawab, dia mengeratkan pelukannya pada Luhan seakan menyuruh Luhan untuk berhenti bicara.

"mungkin benar apa yang wanita itu katakan, harusnya aku ikut mati saja dalam kecelakaan itu."

"berhentilah bicara omong kosong"

"Aku membencinya paman, aku membencinya karena semua yang ia katakan benar. Aku memang anak manja tidak berguna yang menyebabkan kematian mereka"

"Luhan, hentikan. Itu adalah kecelakaan, bukan salahmu jika mereka meninggal dalam kecelakaan tersebut. Takdir Luhan, umur mereka memang hanya sampai disitu."

"tapi itu terjadi karena aku memaksa mereka menjemputku di cuaca buruk"

"semua yang hidup pasti mati, hanya masalah waktu dan cara yang membedakannya"

"tapi kenapa wanita itu tidak mengerti? Kenapa dia terus menyalahkanku? Kenapa dia dendam kepadaku?"

"karena dia wanita tua gila sinting yang tolol dan dungu? Orang stress yang tidak bisa menerima takdir mungkin?"

"dia jahat paman, dia jahat. Dia sangat menakutkan" jika tadi Luhan hanya menangis, kini tubuhnya mulai gemetaran.

"dia hanya wanita gila dan tolol, itu saja. Kenapa takut?"

"karena… karena…" suara Luhan makin menghilang dan nafasnya menjadi sesak.

Secara otomatis pertanyaan Kyu menyuruh otak Luhan memutar kejadian-kejadian lalu yang menjadi alasan kenapa ia merasa takut.

Usianya baru tujuh tahun, saat itu keluarganya masih lengkap. Ayah, ibu, dan saudara kembar laki-lakinya.

Luhan anak kecil yang manja dan tidak bisa berpisah lama dari ibunya terus merengek agar mereka cepat datang ke rumah neneknya. Wanita yang Kyuhyun sebut gila dan tolol.

Luhan tidak nyaman dan tidak suka berada berdua saja dengan neneknya. Karena neneknya sangat galak dan membencinya.

Luhan tahu, selain membenci dirinya, neneknya pun membenci ibunya.

Karena ibunya bukanlah wanita yang dipilihkan neneknya untuk ayahnya. Ayahnya sudah dijodohkan dengan wanita lain tapi dengan usaha keras akhirnya ia bisa mempertahankan kekasihnya tersebut hingga menjadi istrinya.

Ibu nya adalah wanita Korea yang bertemu ayahnya ketika sama-sama kuliah di Amerika. Tentu saja tidak masuk kriteria nyonya Xi yang yang kolot dan menjunjung tinggi tradisi.

Ketika itu cuaca memang buruk, orangtuanya sedang menjemput saudara kembarnya yang bersekolah asrama di luar kota untuk menghabiskan libur tahun baru di rumah sang nenek.

Orangtuanya tahu jika Luhan pasti tidak akan betah, maka dari itu mereka mengajak putrinya untuk ikut serta menjemput putranya.

Tapi Luhan menolak ikut karena ia ingin membereskan kejutan untuk saudara kembar tersayangnya. Saudaranya yang pemberani karena bisa tinggal sendiri dan mandiri di asrama.

Berbeda dengan dirinya yang bersekolah di dekat rumah dan masih diantar jemput oleh ibunya.

Bulan Desember memang selalu bercuaca buruk hampir tiap harinya. Hujan lebat disertai petir.

Siang itu pun langit sangat gelap. Luhan berdiam di sofa yang menghadap ke jendela. Kejutan untuk kembarannya sudah siap beberapa saat lalu. Ia hanya tinggal menunggu kedatangan tiga orang tersayang itu.

Tidak terhitung berapa kali neneknya memarahi dan membentaknya tanpa alasan yang jelas. Jujur Luhan takut dan benar-benar merasa tidak nyaman meski pun sudah tahu sikap kasar neneknya, dan waktu terasa berjalan lama sekali.

"kenapa harus liburan di rumah nenek yang di Tiongkok sih? Kenapa tidak liburan ke rumah nenek di Korea saja?" Luhan kecil bangkit dari duduknya dan menumpukan dagunya di jendela memperhatikan gumpalan awan gelap di langit.

Lalu berjalan menuju telepon dan menghubungi ponsel ayahnya.

"ayahhh!"

"cepatlah kembali… aku takut"

"ahhh~~ cepat~ cepat~"

"aku tidak peduli~"

Nenek Luhan muncul ketika mendengar suara Luhan yang menurutnya sangat mengganggu.

Luhan yang melihat kedatangan neneknya makin merajuk pada ayahnya untuk segera pulang.

"lancang sekali kau memakai barang-barang di rumahku! Benar-benar liar dan tidak tahu tata krama" ujar wanita itu galak.

"maafkan aku" ucap Luhan sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Luhan bukan lagi bayi, dia berumur tujuh tahun dan sudah kelas dua sekolah dasar. Jadi dia lebih memilih meminta maaf dengan sopan dan kembali duduk di sofa. Dia tidak ingin mencari masalah dengan neneknya yang galak dan jelas-jelas membencinya.

Tapi masalah lah yang mendatanginya.

Hari sudah malam dan hujan turun dengan derasnya belum lagi kilat dan petir yang saling berlomba.

Luhan sudah mengganti bajunya dengan piyama tidur. Perasaannya benar-benar tidak enak.

Sekolah Shi Xun hanya berjarak paling lama dua jam dari rumah neneknya. Orangtuanya sudah pergi pagi-pagi sekali dan ini sudah larut malam.

Luhan benar-benar khawatir, ingin sekali ia menelepon ayahnya lagi tapi takut jika nanti kena marah neneknya.

Belum lagi dengan perutnya yang belum diisi sejak siang, sarapan bersama orangtuanya adalah makanan terakhirnya. Neneknya tidak menawari makan, dan tentu saja Luhan tidak akan berani meminta makanan.

Tapi demi mengetahui kabar orangtuanya, Luhan memberanikan diri untuk menemui neneknya dan meminta izin untuk menggunakan telepon.

Luhan menemukan sang nenek yang berada di meja ruang kerjanya. Jantungnya berdegup cepat dan kakinya cukup bergetar. Ia berusaha agar suara yang dihasilkannya senormal mungkin tanpa gugup atau patah-patah.

Tok tok tok

Luhan mengetok pintu yang sudah terbuka itu.

Neneknya hanya memberikan tatapan tajam tanpa berkata apa pun.

"nenek, bolehkah aku meminjam teleponmu untuk menghubungi ayah?"

"kau anak manja penakut, haruskah kau menelepon ayahmu tiap detik?"

"hmm…" Luhan terlihat berfikir, haruskah ia bernegosiasi dengan neneknya.

"masuk saja ke kamarmu dan tidur!" bentak wanita itu kasar.

Luhan mundur dengan langkah lemas, negosiasi apa? Diberi kesempatan bicara saja tidak.

Dengan terpaksa Luhan berjalan ke kamarnya, bukan kamarnya. Hanya kamar sementara yang ia huni selama ia liburan di rumah ini.

Luhan masih ingin menunggu kedatangan mereka di ruang depan. Gadis kecil ini merasa sangat gelisah dan takut. Belum lagi rasa lapar yang memperburuknya.

Luhan mencoba memejamkan mata sesuai dengan perintah neneknya. Ia berharap ketika membuka mata nanti keluarganya sudah hadir dan menunggunya di meja makan.

Mata Luhan perlahan terbuka ketika mendengar bel berbunyi. Itu pasti mereka!

Luhan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua malam, dan langsung loncat dari kasur serta berlari menuju pintu depan.

"ayaahhh, ibuu, Shhii Xunn" teriak Luhan gembira.

Tapi yang ia lihat bukan tiga orang yang diteriakkan namanya. Melainkan para petugas berseragam dengan jaket kulit dan topi.

Neneknya berdiri membelakanginya dengan tangan terkepal erat, di tangan kanannya ia menggenggam sebuah kertas.

Dua petugas, neneknya, dan dua pelayan berdiri mengerubungi pintu masuk.

Luhan tahu ada yang tidak beres, ia memelankan larinya dan berjalan mendekati kerumunan orang tersebut.

"nenek…" suara Luhan kecil memanggil neneknya.

Wanita yang awalnya membeku itu langsung memalingkan wajahnya ke arah Luhan, matanya menatap nyalang anak kecil tersebut.

Luhan takut, benar-benar takut.

PLAK

Gadis kecil berusia tujuh tahun itu terpelanting ke belakang dengan ujung bibir yang berdarah karena tamparan neneknya.

Sayup-sayup Luhan mendengar suara teriakan kaget. Ia juga mendengar kata-kata cacian dan makian dari neneknya. Dan walau buram ia masih melihat orang-orang berusaha menarik wanita itu menjauh darinya. Lalu semua gelap ketika ia sudah tidak mampu menahan sakit.

Kyuhyun benar-benar frustasi ketika melihat Luhan yang berada dalam pelukannya gemetar hebat dan tidak merespon ucapannya.

Matanya tertutup tapi airmatanya terus mengalir dengan suara rintihan yang memilukan.

"Luu"

"Luhaann"

"Luhan sadarlah… paman disini"

"Lu.."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

reader sorri yaa, ada eomma ada ibu, ada ayah ada appa. emang gimana tangan author aja sih wkwkwkwk.