Oh yeah, entahlah aku ini memang si pelanggar janji :D aku memang mau serius belajar untuk UN tapi yaahh aku kangen ngelanjutin fic ini. Mungkin fic yang bertema Highschool dan perjodohan sudah menjamur di FNI, tapi aku akan berusaha membuat fic ini dengan ciri khas aku sendiri (ngelirik kak Angga XD) sekali lagi, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya pada kalian semua yang bersedia membaca dan mereview atau hanya sekedar membaca, terima kasih! ^^ oke, enjoy this fic ….
.
NARUTO dkk punya Masashi Kishimoto
WARNING! OOC, GAJE, ABAL, AU, dll -,-
Genre : Romance/Hurt-Comfort/Friendship/Crime
Diharap jangan membaca bila anda tidak menyukainya!
THE REAL LOVE
By
N u – H i k a r i U c h i h a
.
"Caranya dengan menikahkan kalian berdua,"
"APAAA?" sontak Sasuke dan Sakura tercengang dan kaget mendengarnya. Dengan tidak berdosanya kalimat itu terlontar dari mulut orang tua mereka. Tak tahu bagaimana hubungan mereka, eh?
Sakura berdiri protes, "Ibu dan Ayah ini apa-apaan sih? aku dan Sasuke itu masih SMA, kami masih sekolah, mana mungkin kami menikah? lagipula, lagipula, argghh!" Sakura menjatuhkan dirinya lagi ke sofa. Shizune mendekati dan mengelus-ngelus kepala Sakura, menenangkannya.
Dengan segera Sasuke mendatarkan kembali ekspresinya, "mengapa kalian ingin sekali kami menikah?"
Mikoto angkat bicara, dia mendekati Sasuke dan mengelus rambut Sasuke. Membuat si empunya rambut tidak segan-segan memelototi sang ibu. "Sasuke, dengarkan ibu. Kau ini anak kebanggaan kami setelah kakakmu memutuskan menentang ayah dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Otomatis, kau lah yang akan meneruskan perusahaan kita Sasuke. Menikahkanmu dengan Sakura, akan mempererat hubungan kedua perusahaan yang dibangun atas rasa persahabatan ini. Dan dengan begitu, perusahan saingan kita, Akasuna si licik itu tidak akan punya celah untuk meruntuhkannya," jelas Mikoto.
"Jadi, kalian menjodohkanku dengan Sasuke, hanya untuk memuaskan ego kalian agar perusahaan hasil kerja sama kalian itu tidak hancur? begitu? kalian egois!" bulir-bulir air mata yang tertahan itu pun tertumpahkan dengan sekali hentakkan.
Semuanya memandang keaarah Sakura, kaget atas apa yang dibicarakan sang anak. Yah, kalau sudah menyangkut hati seperti ini, memang para ibu yang paling jago mengatasinya. Sang ayah hanya pasrah menyerahkan masalah ini pada sang ibu.
"Sakura …" Rin menghampiri anak semata wayangnya yang tengah merajuk. "Dengarkan ibu, nak. Ibu mengerti perasaanmu saat ini, memang tidak mudah menerima perjodohan yang tiba-tiba seperti ini. Apalagi dengan tujuan yang membuatmu salah paham begini. Dan sepertinya, kau dan Sasuke memang harus mengetahui semuanya. Biar ibu ceritakan,-"
Flashback on
"Yo Fugaku! Kau tahu? Aku sangat bahagia atas pernikahanmu dengan Mikoto. Ternyata Uchiha sepertimu juga bisa melamar wanita ya, hahaha" Suzuki meledek sahabatnya yang kini tengah berdiri bak raja dalam panggungnya sendiri. Ya, sahabatnya itu tengah melangsungkan pernikahannya.
"Cih, kau ini. Lihat saja, kau memang menikah lebih dulu daripada aku, tapi aku yakin, akulah yang akan lebih dulu mempunyai anak," bisik Fugaku dengan seringai khasnya. Membuat Suzuki hanya tertawa renyah.
"Huh! kalian ini, main bisik-bisikan segala," rajut Rin dengan muka masam. Mikoto hanya tersenyum simpul melihat tingkah kedua sahabat dan suaminya.
"Begini loh sayang, Fugaku tadi bilang padaku, kalau kita memiliki anak perempuan, dan mereka memiliki anak laki-laki, ataupun sebaliknya, setelah mereka dewasa nanti, kita akan menjodohkannya. Bagaimana? kau setuju?" ujar Suzuki yang merangku listrinya sambil mendelik ke arah Fugaku yang tersenyum.
"Wah, aku setuju sekali. Itu pasti membuat persahabatan kita kekal abadi walaupun kita tidak ada lagi di dunia ini. Bagaimana, Miko-chan? kau setuju juga kan?" Rin pun melirik antusias pada Mikoto.
"Pasti Rin-chan,kau dan aku nanti akan tetap bersahabat sekaligus menjadi besan, iya kan Fugaku-kun?" ujar Mikoto sambil tertawa bersama Rin.
"Hn, tentu," jawab sang suami khas Uchiha.
Flashback off
"-dan saat itubibi Mikoto melahirkan Itachi, kakaknya Sasuke. Dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang sehat dan cerdas. Namun ibu belum juga mengandung. Ayah dan ibu resah dan selalu membandingkannya dengan bibi Mikoto. Mengapa dia sudah memiliki anak tapi Tuhan tak kunjung memberikan anak pada ibumu ini?" Rin menyeka air matanya disela-sela ceritanya, "-sampai suatu hari, bibi Mikoto mengandung Sasuke. Dan kurang lebih selang delapan bulan, ibu mengandung dirimu. Ibu tak henti-hentinya bersyukur, nak. Sampai tiba waktunya kau lahir, ibu ditemani ayah, paman Fugaku, bibi Mikoto, Itachi, dan Sasuke yang saat itu masih bayi. Kau lahir dengan cantik dan sehat, dan ibu pun bisa memenuhi janji untuk menjodohkanmu dengan anak bibi Mikoto,"
Sakura pun terharu mendengar cerita sang ibu. Ternyata butuh banyak proses yang dilalui ibunya untuk melahirkannya.
"Tapi saat itu kami bingung Sakura," kali ini Mikoto yang angkat bicara. "bibi memiliki dua anak, Itachi dan Sasuke. Itachi begitu menyayangimu dan Sasuke. Dia sangat senang bisa memiliki dua adik sekaligus. Dan akhirnya bibi berpikir, untuk menjodohkanmu dengan Itachi," Sasuke sedikit kaget mendengar cerita ibunya itu. Dia pun angkat bicara.
"Jadi, kalau Itachi tidak pergi, dia yang akan dijodohkan disini, begitu?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Ibu masih berbicara, Sasuke. Jangan kau potong!" omel Mikoto. "Tapi, setelah kami merundingkan bersama. Entah kenapa ibumu memilih menjodohkanmu dengan Sasuke, alasannya berpaut pada umurmu yang tidak terlalu jauh dengan Sasuke. Alhasil, itulah keputusan yang telah disetujui, kami akan menjodohkanmu dengan Sasuke. Dan keputusan itu menjadi sangat bulat ketika Itachi memilih untuk pergi meninggalkan rumah," lanjut Mikoto.
Ada sedikit rasa puas di wajah Sasuke. Entahlah, hanya dia yang merasakannya.
"Kesimpulannya, Sakura. Kami tidak menjodohkanmu semata-mata hanya untuk memuaskan ego kami agar perusahaan hasil kerja sama itu tidak hancur, tidak! kami memang telah merencanakan perjodohan ini sejak kalian kecil, bahkan ketika kalian belum dilahirkan. Dan kau tahu, Sakura? ibu sangat menginginkan perjodohan ini, karena ibu sangat memercayakan dirimu pada Sasuke, demi kebaikanmu, Sakura," jelas Rin.
"Begitulah nak, kami harap kalian mengerti," tambah Suzuki. Dan Fugaku yang mengangguk setuju.
"Tapi tunggu, mengapa dari dulu hubungan Uchiha dan Haruno dengan Akasuna sangat tidak akur?" Sasuke menaikan sebelah alisnya.
Para orang tua saling berpandangan melihat kedua anak mereka menuntut jawaban, sampai-sampai Shizune pun menatap lekat sampai tak berkedip. Penasaran.
Sekarang, giliran sang ayah yang angkat bicara. "jadi, pertentangan antara kami dan Akasuna itu sudah terjalin saat kami masih kecil," Fugaku menarik nafas dalam-dalam, "dahulu aku, Suzuki, dan Shin-ayah Sasori, berteman. Tapi ternyata persahabatan itu tidak berlangsung lama. Ayah Shin menyuruhnya untuk tidak berteman lagi dengan kami, begitu juga sebaliknya. Dan saat kami remaja, kami baru mengetahui bahwa keluarga Uchiha dan Haruno memiliki pertentangan dengan Akasuna sedari dulu. Dan keturunannya hanya melanjutkan tanpa tahu akar permasalahan itu. Membuat kami seolah-olah harus terikat dengan dendam dan pertikaian," raut muka Fugaku berubah. Sedih.
Suzuki melanjutkan, "tapi perlu kalian ketahui, kami tidak pernah menyimpan dendam pada Shin. Kami yang tidak tahu apa-apa selalu membujuknya berteman lagi dengan kami dan mencari duduk permasalahan yang menimpa keluarga kami," raut muka para orang tua mendadak sedih, "haahh, sampai pada akhirnya dia terang-terangan menyatakan bahwa dia membenci kami dan bersumpah akan membuat kami menderita," lanjutnya.
"Kenapa?" tanya Sakura dan Shizune penasaran. Sasuke hanya terdiam tapi pandangan matanya tetap tertuju pada Suzuki.
"Yaah, pada saat itu datanglah ibumu, Sasuke. Shin sangat menyayangi dan mencintai ibumu, tapi ibumu tak pernah mencintainya. Ibumu hanya mencintai ayahmu. Walau dulu ayahmu mengalah demi Shin, tapi kau tahu kan? cinta tak bisa dipaksakan," suasana menjadi tidak enak. "Begitulah, maafkan kami di masa lalu yang seenaknya menjodohkan kalian," ujar Suzuki sekaligus mengakhiri ceritanya.
Semuanya terdiam. Sepi.
"Tidak ayah, ayah tidak salah. Sekarang ini, aku hanya butuh waktu berpikir dan sendiri, aku permisi," pamit Sakura lalu meninggalkan kedua keluarga.
"Sakura …" panggil Shizune dan berniat mengejarnya, namun dicegah oleh Rin.
"Biarkanlah Shizune, tak usah kau kejar. Sebagai gantinya, Sasuke, temanilah dia," perintah Rin.
"Hn,"
-THE REAL LOVE-
Sakura POV
Kami-sama aku bingung. Mendengar cerita masa lalu keluargaku, aku sangat terharu. Bagaimana ibu mengharapkanku lahir di dunia ini, itu sungguh mengharukan. Dan, jika aku menolak perjodohan itu, aku yakin ibu dan ayah pasti sangat kecewa. Tapi, kenapa harus Sasuke? Dia itu kan berstatus sainganku. Lagi pula, masa laluku? Aku tak yakin dia mau menerima ini semua. Argghhh!
"Sasuke tidak akan menyukaiku," ujarku lirih.
Entah mimpi atau apa, atau saking asyiknya aku melamun, tak sadar di samping sudah berdiri tegak siluet yang sangat aku kenal bentuknya. Dia duduk disampingku.
"Aku? tidak akan menyukaimu? Hm?" huh! seringainya membuatku muak. Tapi, kenapa dia menunjuk bahunya begitu? "menangislah,"
"A-apa? menangis? Kau pikir aku anak kecil, ya? Lagi pula siapa yang sudi menangis di bahumu, huh!" tapi-tapi-heeiii!
Dia menarik kepalaku ke bahunya, tidak mempedulikan pemberontakanku. Aneh, ini nyaman sekali. "tak usah kau berpura-pura lagi. Aku sangat tahu sifatmu, Sakura,"
Entahlah, aku menangis sejadi-jadinya di bahunya. Dia mengelus-ngelus pelan kepalaku. Tak kusangka, dia bisa sehangat ini. ugh! Pipiku panas.
"Um, hiks! K-kau, ti-hiks-dak akan ta-tahu si-sifatku, ja-jangan hiks sok ta-tahu deh," ucapku yang terdengar aneh karena sambil menangis.
"Bodoh! Menangislah dulu, jangan bicara sambil menangis," eh? Dia tersenyum? Apa aku tak salah lihat? "lucu"
Oh kami-sama, pipiku semakin panas. Aku yakin ini bukan karenanya. Pasti!
Saat aku ingin bicara, Sasuke malah menaruh jarinya di bibirku, tak boleh bicara sambil menangis lagi. Hihi … perbuatannya membuatku beehenti menangis.
"Hei, kau tadi tersenyum ya? Tak kusangka setan sepertimu bisa tersenyum," ujarku jahil, dia menyentil hidungku.
"Kau manja," ujarnya singkat.
"Memang,"
"Lantas kenapa kau bermetamorfosis jadi wanita anggun, pervect, dan tak bercela seperti di sekolah?" sindirnya. Um, sepertinya aku tak ingin menunjukan sifat asliku, aku takut, takut dia menjauhiku. Takut, takut sekali.
"Euummm…" gumamku.
"Sudalah, tak perlu kau ceritakan. Aku sudah tahu alasannya," ujanya dan sukses membuatku kaget.
"Ma-ma-maksudmu?" tanyaku terbata-bata.
"Aku tahu dirimu di masa SMP. Cewek berantakan, tomboy, penentang, manja, maniac komik, langganan masuk ruang BP dan semacamnya lah. Berbanding terbalik dari sifatmu sekarang, ya kan?" ujarnya. Aku terdiam. Entah, saking terkejutnya aku tidak bisa bicara apapun. Tau dari mana dia? "tak perlu kau jelaskan aku juga sudah tahu sih. Kau berubah karena trauma ditolak oleh seorang lelaki kan? cih! Tak selamanya laki-laki mengidamkan wanita perfect. Asal jadi dirinya sendiri saja itu sudah bagus!" ujarnya dengan nada yang rr… terkesan menggerutu.
Aku tak bergeming. Bangkit dari bahunya. Entahlah, maksud perkataannya apa? dia ingin aku menjadi diriku? Walaupun aku tak sempurna pun tak apa? eh, aku ini mikir apa sih. Huh!
"Hn, kau tahu kan masa lalu ku dan sifat asliku. Aku yakin kau juga akan dengan senang hati menolak perjodohan itu kan? kau senang kan mempunyai rahasia terbesar sainganmu? Hah?" aku menangis. Untuk apa? aku pun tak tahu. Aku takut, takut membayangkan kemungkinkan terburuk dari semua ini. Apakah Sasuke akan membenciku? Menjauhiku?
Bukannya menjawab, dia malah menarikku ke dalam pelukannya.
"Bodoh"
Aku bingung. Tapi aku sangat menikmati kehangatan ini. Apa? apa aku menyukai Sasuke?
"Aku akan menerima perjodohan itu. Kau mau menerima atau tidak masa bodo, yang penting aku dan kau akan menikah,"
"Eh?" aku hanya bisa tercengang di dalam pelukannya. Dasar Sasukeeeeyyy!
THE REAL LOVE
PLAAKK!
"Dasar anak tidak tahu diuntung! bodoh sekali sih dirimu! Diperintahkan hal mudah seperti itu saja kau tidak becus? Dasar anak sialan! Tidak tahu balas budi! Apa gunanya kau dilahirkan di dunia ini, hah? Lebih baik kau mati saja, bocah tengik!"
Tendangan, pukulan, tamparan, bertubi-tubi menghiasi wajah dan seluruh badannya. Sungguh miris, tak berdaya, tak bisa melawan, pasrah ….. menerima segala perlakuannya.
"Shin berhenti aku mohon! Tolong jangan siksa Sasori lagi, aku mohon suamiku!" Megumi, ibu Sasori, tetap bersikukuh menghalangi Shin yang hendak memukul Sasori dengan kayu.
"Diam kau perempuan jalang! Menyingkirlah dari sana kalau kau tidak mau ikut aku siksa bersamanya! MINGGIR!" bak singa mengamuk, Shin menghantamkan kayunya ke tubuh Megumi, membuat tubuhnya tersungkur ke lantai, berlumuran darah.
"IBUUU!"
Sasori mendekap erat tubuh ibunya, memeluknya, menangis di pelukan ibunya yang tidak sadarkan diri. Lalu menatap tajam sang ayah.
"Kau bebas berbuat apapun sesukamu padaku, tapi tidak pada ibuku!" Sasori menahan amarahnya. Tangannya tak mampu menghantam wajah ayahnya, terhenti.
"Kenapa bocah? Kau tak bisa melukaiku ya? Cih! Bocah tengik yang dipengaruhi aura kebaikan, hahaha sungguh mengharukan! Sekarang cepat lakukan yang aku perintahkan, tanpa gagal sedikit pun, lakukan lah yang terbaik, kalau tidak-" ayahnya menggantung kalimatnya, "ibumu akan mati ditanganku"
"Cih, apa maumu?"
"Kau, habisi seluruh keluarga Uchiha dan Haruno, tapi sisakan dua keturunan terakhir mereka!"
To be continued
Hiaaahhh … gajenya ceritaku . maafin aku! aku ini memang gak pandai bikin cerita. Haahhh~ aku ngerjain ini pas UAS loh teman-teman, bandel yah? hahaha, sudahlah, dari pada aku banyak bacot. Aku mau ngucapin Otanjoubi Omedetou HARUNO SAKURA :* maaf telat, hehehe tadinya mau bikin fic buat ngerayainnya. Tapi FFn lagi error, arrrggghhh! Yasudah, akhir kata, Mind to review? :3
