Maaf atas keterlambatan saya buat update. Sekedar ngasih tau, chapter ini sedikit lebih panjang dari dua chapter selanjutnya. Saya sarankan buat yang mau baca, bisa di save dulu untuk menghemat kuota. Sankyuu…

Warning: Very cliche, plotless, possibly typo(s), etc. Kesamaan ide harap dimaklumi.


Vocaloid (c) Yamaha, Crypton, etc.
I gain on commercial advantages.
Role (c) datlostpanda


Gadis pirang itu duduk sendirian. Diam, bergeming. Bibirnya terkatup seolah ingin mengatakan banyak hal pada dunia—tapi dunia telah sejak lama berhenti menatapnya dan kini malah menjauh. Meninggalkannya di bawah angin musim gugur yang menggigit. Cuma sepi yang sudi bersamanya saat ini. Sunyi memeluknya sepanjang masa. Kegelapan mengelilingi hatinya.

Mata sewarna laut menatap kotak hitam tipis berisi disc yang tak bergeming di pangkuannya. Megurine Luka, adalah nama yang tertulis di atas kotak tersebut.

Gadis itu masih terdiam. Hening. Sunyi. Bibirnya mengatup. Rapat. Mata birunya berkilat dan menatap penuh benci. Pada nama yang tertera di kotak itu. Pada nama yang ditulis dengan spidol bertinta biru. Pada kesempurnaannya. Pada Megurine Luka.

Benci.

Benci.

Benci.

Dia membenci sosok itu. Sangat.

Dia bahkan berharap Megurine Luka menghilang saja dari dunia ini. Mati. Lenyap. Ya, hidupnya pasti jadi lebih baik jika gadis itu lenyap. Pasti.

Dia membalik kotak itu, kini yang terpampang cuma hitam yang melapisi wadah disc tersebut. Hening masih merayap. Mata gadis itu masih memancarkan rasa benci.

Megurine Luka.

Bagaimana semua orang bisa memuji sosok gadis menjijikkan seperti dia?

Megurine Luka yang cantik.

Megurine Luka yang bersuara emas.

Megurine Luka yang berbakat.

Megurine Luka yang aktingnya selalu sempurna.

Megurine Luka yang tanpa cela.

Megurine Luka si artis kebanggaan Shion Management—

Gadis itu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya bergetar karena pengaruh emosi. Beberapa helai rambut pirangnya yang panjang dan keriting di bagian bawah jatuh ke pundak.

—Memuakkan!

Megurine Luka adalah orang yang memuakkan. Semua tentangnya begitu memuakkan. Menjijikkan. Orang-orang tidak tahu bagaimana Luka meraih segala ketenarannya saat ini. Orang-orang termakan topeng yang Luka pakai.

Dia mengangkat kotak hitam yang terasa ringan itu. Berhati-hati, seolah benda itu adalah salah satu kepingan asanya yang sudah lama hancur tertiup angin sore. Di dalam kotak itu berisi kunci dari sebuah kotak Pandora. Lampu yang akan menyorot betapa busuknya seorang Megurine Luka sesungguhnya. Ya, gadis itu baru saja melihatnya—meski tak menonton hingga akhir karena ia berpikir tak akan ada gunanya— dan ia mengeryit jijik. Luka sudah sejak awal terlihat menjijikkan di matanya tapi, setelah melihat semua gambar yang terekam di dalam disc itu, Luka jadi terlihat jauh lebih menjijikkan di matanya.

Murahan. Mungkin hanya kata itu yang pas mendeskripsikan sosok Luka sebenarnya. Cuma gadis murahan yang rela memerlihatkan tubuhnya pada sang manajer hanya demi imbalan ketenaran.

Jalang.

Dia ingin menghancurkan gadis bersurai merah jambu itu. Ingin. Dan dia amat tahu siapa yang cukup tangguh meruntuhkan reputasi serta kemilau seorang Megurine Luka.

Media. Ya, media. Media yang membuatnya bersinar pasti cukup kuat untuk membuatnya jatuh dan merasakan pilu. Media adalah pisau bermata dua.

Ekspresi dingin membekap paras cantik gadis pirang tersebut. Kebencian mengambang di antara bola mata samudera. Dalam sekali gerakan, gadis itu meraih ponsel dari dalam saku dan menekan nomor tujuan. Dia terdiam, menunggu hingga nada sambung terhenti.

"Halo," gadis itu tersenyum ketika seseorang dari seberang sana mengangkat telponnya, "disini redaksi—"

"Ada berita penting yang harus kalian tahu." Dia memotong ucapan orang di seberang sambungan. Tak peduli jika orang tersebut tidak senang dengan tindakannya.

"Maaf?" orang di seberang berujar, "tapi, bisakah saya tahu dengan siapa saya bicara?"

"Tidak perlu tahu siapa aku," jawabnya dingin. "Aku baru saja mengirim sesuatu ke alamat email kalian. Isinya sesuatu yang sangat penting. Berita tentang Megurine Luka."

"... Megurine Luka?"

"Cukup buka email dariku dan sebuah berita besar akan mengisi halaman utama majalah kalian. Terima kasih." Kemudian gadis itu memutuskan sambungan dengan sebuah seringai menghias bibir merah.


Take Three!—
/Introduction: Megurine Luka/


Gadis itu duduk di depan cermin rias. Yukata putih bersih membalut tubuh rampingnya. Rambut berpigmen merah jambunya yang di sanggul terlihat bersinar disepuh cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela ventilasi. Meski rambut bagian depannya masih menjuntai hingga jatuh lembut di pundak, namun helaian itu tetap saja cocok membingkai wajahnya yang aristokrat.

Dia terdiam. Bibirnya terkatup. Mata sebiru samudera menatap bayangan yang bergeming di depannya dengan sendu—memberi kesan seolah semua harapan yang ia genggam telah pergi, menghilang dihempas angin musim gugur dan ia tak lagi punya kekuatan untuk mengejar apalagi menggapainya kembali.

Sunyi menetap. Membungkus suasana dengan kehampaan yang memuakkan. Seekor kucing berbulu belang—hitam dan putih— berjalan mendekati gadis cantik itu. Dia mengeong sekali untuk mendapatkan perhatian si gadis.

Kepala merah jambu itu menoleh dan tersenyum melankolis kala kucing itu masuk dalam akomodasi pandangannya. Ia mencoba meraih mamalia itu dengan jemari panjang yang terjulur. Gerakkannya begitu anggun dan gemulai.

Bola mata kuning si kucing bersinar menatap jari-jari sang gadis. Didorong oleh rasa penasaran, makhluk berkaki empat itu mendekat kemudian mengendus jari seputih porselen tersebut. Mengira itu adalah sesuatu yang dapat ia makan.

Sang gadis tertawa. Suaranya terdengar seperti denting lonceng yang menghangatkan jiwa—begitu merdu dan syahdu. Indah. Terlalu indah sampai terkesan menyedihkan.

Tawa sang gadis menghilang saat angin berhembus pelan. Menebar hangat, menggerakkan anak rambut si gadis, dan membawa serta beberapa kelopak sakura bersamanya untuk jatuh di lantai kamar gadis tersebut. Dia menoleh dan terpaku menatap kelopak bunga yang selalu identik dengan musim semi tersebut.

Setelah sekian lama terpaku, gadis itu meraih kelopak itu. Sendu kembali menari di mata sebiru lautan. Sang kucing mendongak menatap gadis tersebut, seperti menyadari keberadaan awan depresi yang menggantung di kedua mata biru itu.

"Sakura," adalah kata pertama yang terucap dari bibir merah gadis pemilik helaian merah jambu. Dia terdiam beberapa saat, seolah berusaha meresapi setiap detik yang berlalu. Dengan sebuah hembusan napas panjang, gadis itu kembali berkata, "Sejak kecil, aku selalu iri ketika melihat dia mekar di musim semi."

Hening. Kucing itu menggerak-gerakkan ekornya.

"Sakura itu cantik. Warnanya indah dan selalu membawa kebahagiaan pada setiap mekar. Meski waktu mekar yang diberikan alam untuknya sangatlah singkat, tapi kebahagiaan yang dia berikan selalu dikenang setiap orang. Benar-benar membuatku iri."

Hening lagi. Si kucing kini merebahkan tubuhnya, menguap lebar. Dia mengantuk.

"Hei, kucing kecil…." Gadis itu menelengkan kepala, jutaan harap berpendar di kedua mata lautan. "Apakah ... kau juga iri padanya—pada Sakura?"

—CUT!—

Sutradara, yang ketika itu mengenakan kacamata hitam dengan topi baret putih, berteriak semangat. Tangan besarnya menggenggam print naskah. Wajahnya sumringah, puas dengan akting yang ditunjukkan sang aktris.

"Ya, bagus sekali, Luka! Kau memerankannya dengan sangat sempurna!" Sang sutradara menepuk tangannya, memberi apresiasi.

Para kru film yang juga berada di tempat itu ikut menganggukkan kepala, setuju dengan penilaian si sutradara. Beberapa dari mereka menatap gadis berwajah aristokrat itu dengan kagum, yang lainnya saling berbisik dan menggumamkan bermacam kalimat pujian. Mulai dari 'Akting Luka memang selalu sempurna!', 'Luka sangat cocok berperan sebagai Shizune[1], aku sampai terbawa suasana.', sampai 'Adegan ngomong sama kucing itu tidak ada di skenario, lho.'

Luka, yang kini telah beranjak dari posisi duduk, tersenyum simpul menanggapi semua pujian itu. Sebagai gadis yang lahir dengan bakat akting luar biasa, tentu Luka sudah terbiasa menerima begitu banyak pujian—entah yang dilontarkan dari para fans, rekan sesama artis, atau bahkan oleh para kritikus— hingga saat ini dia menganggap itu bukan lagi hal spesial.

"Masih ada tiga kali pengambilan gambar hari ini," teriakan sutradara mengalihkan perhatian para kru film. "Setelah ini, kita akan pindah ke ruang keluarga. Segera bereskan set yang akan kita pakai untuk adegan berikutnya! Ah, tolong bilang pada aktor yang memerankan Ayah Shizune untuk bersiap-siap!"

"Ya!" Para kru menjawab dengan kompak dan segera bubar.

Mereka bergerak dan kembali bekerja. Sebagian kru yang bertanggung jawab dalam pengaturan efek cahaya sibuk mengatur dan memindahkan lampu, beberapa kru lain membereskan set, segelintir lainnya memindahkan kabel. Mereka bekerja dengan cekatan. Tak ada yang mengeluh, semuanya terlihat profesional. Sutradara tersenyum senang. Tak ada yang lebih menyenangkan buatnya selain bekerja sama dengan para ahli.

Profesional tak lagi butuh instruksi. Mereka tahu apa pekerjaan yang harus dilakukan, bagaimana cara mengerjakannya, mengenal siapa saja rekan yang bisa membantunya, tahu kapan harus memulai pekerjaan, dan kapan harus berhenti. Semua dilaksanakan dengan begitu teratur hingga efisiensi waktu pun terjaga.

Pria paruh baya itu hampir saja hanyut dalam kesenangannya memperhatikan para kru film bersliweran sambil menenteng peralatan, kalau saja matanya tak segera menangkap sosok Luka yang masih berdiri seperti menunggu instruksi. Pria itu mendekat ke arah Luka.

"Aktingmu bagus—seperti biasa," adalah kalimat pertama yang diucapkan si sutradara. Meski pria itu sendiri yakin jika Luka tak ingin mendengar pujian darinya, namun dia tak bisa mengontrol lidahnya untuk tak mengucapkannya. Akting gadis itu terlalu memukau.

Luka menengadah menatap lawan bicaranya. Dia melihat sebuah senyum kebapakan menari di wajah dewasa sutradara. Gadis bermata biru itu kemudian tersenyum. Formalitas.

"Terima kasih." Dia menjawab singkat.

Mereka terdiam sesaat. Sutradara melirik Luka dan bisa dengan mudah melihat ada sesuatu yang ingin gadis itu ucapkan—kemungkinan besar mengenai drama yang tengah mereka garap. Namun dia pura-pura tak sadar dan hanya memberi sebuah kedikan bahu tak acuh.

"Pergilah ke ruang rias dan istirahatlah," sutarada kembali berucap, "sebagai seorang aktris profesional, tentu kautahu benar bahwa setiap detik sangatlah berarti. Jangan sia-siakan kesempatanmu untuk istirahat."

Instruksi barusan terdengar begitu retoris di telinga Luka. Gadis itu ingin menjawab jika ia sejak awal tahu kapan waktu untuk istirahat dan waktu untuk mengerjakan hal lain. Tapi dia mengurungkan niatnya.

"Aku mengerti." Akhirnya gadis itu membalas dan segera melangkah pergi setelah membungkukkan badan dan mengucapkan permisi pada sutradara.


Luka masuk ke dalam sebuah kamar berukuran sedang yang telah disulap menjadi ruang rias merangkap ruang ganti—yang letaknya sekitar tiga ruangan dari ruang makan yang akan dijadikan tempat pengambilan gambar selanjutnya— dan langsung membuka jendela lebar-lebar. Tempat itu sedang kosong. Para pemain sedang menghapal dialog mereka di teras, sedangkan para penata rias ... entah ke mana mereka pergi—mungkin mereka sedang kehabisan bedak dan pergi membeli yang baru atau ke mana, Luka tak mau peduli.

Dia memejamkan mata saat angin yang sejuk berhembus, menerbangkan beberapa anak rambut miliknya. Sunyi dan damai, betapa ia menyukai keadaan ini.

Tempat yang dipakai untuk syuting hari itu adalah sebuah penginapan dengan gaya Jepang kuno. Penginapan itu memiliki nuansa yang asri. Jalanan dari batu setapak memanjang dari pintu gerbang hingga ke depan kompleks penginapan. Pepohonan hijau mengapit di kanan dan kiri. Sebuah danau yang membentang luas juga membuat suasana di tempat itu nyaman dan damai.

Luka menyukainya.

"Ah, rupanya kau ada disini." Sebuah suara khas pria merambat di udara. Luka menoleh hanya untuk mendapati sosok Kaito, manajernya, bersandar sambil melipat tangan di dinding samping pintu. Pemuda itu memasang senyum terbaiknya—walaupun begitu, Luka yakin jika senyum itu bukanlah senyumnya yang paling tulus.

"Aku tadi mencarimu," kata Kaito, "untung sutradara bilang kau ada di sini."

Luka bergeming.

Senyum Kaito mulai berkedut, tapi ia terus berusaha mempertahankannya. Ia mengeluarkan tawa kecil untuk menghilangkan rasa gugup. Ditatap sedingin es oleh artis besutan sendiri rasanya sangat tidak enak. "Jadi…. Menurutmu, bagaimana syuting kali ini? Apa kau menikmatinya? Beri aku jawaban."

"Tergantung." Pandangan gadis berkulit porselen itu kembali pada hamparan pepohonan yang berdiri gagah mengapit penginapan, nada suaranya membersitkan rasa jengah. "Kau mau dengar jawaban yang seperti apa dariku? Jawaban jujur, atau jawaban yang akan membuatmu senang?"

"Ayolah, jangan sinis begitu." Pemuda biru itu melempar pandangan ke atas. "Kulihat tadi kerja para kru untuk drama ini lumayan bagus. Sutradaranya juga jauh lebih ramah ketimbang sutradara yang menangani drama-drama lain dan ... aktingmu sangat bagus. Tak ada alasan untuk tidak menikmati syuting kali ini, 'kan?"

Luka menggeleng pelan. Beberapa anak rambutnya ikut bergoyang ketika gadis itu menggerakkan kepalanya. "Sejak awal kautahu masalahnya bukan itu, Kaito."

Kaito tidak menjawab, tapi kesunyiannya sudah merupakan jawaban bagi sang aktris.

"Kautahu, Kaito," Luka kembali bicara, "aku tidak pernah menginginkan peran ini—kita bahkan sudah membicarakannya berulang kali. Aku tidak ingin bermain dalam drama yang ceritanya—"

"Terkesan kuno dan membosankan? Ya, ya, aku sudah pernah dengar. Sudah hapal di luar kepala malah." Kaito kehilangan semua senyumnya. Mata safir pemuda itu berubah menjadi lebih gelap dan dingin. Dia member jeda pada kalimatnya dan menatap tajam ke mata Luka. "Kautahu, Luka, kita juga sudah membahas masalah ini ribuan kali. Berhentilah menjadi artis yang terlalu pemilih. Kausudah membuatku repot dengan menolak setiap tawaran peran yang datang."

Yang sebenarnya terjadi adalah; Luka selalu membuat Kaito repot. Sifat pilih-pilihnya itu sudah sangat keterlaluan dan hampir membuat dirinya sendiri rugi. Semakin lama Luka memertahankan sikap pemilihnya, citra Luka akan memburuk dan berakibat pada semakin sedikit produser atau sutradara yang mau memberikan pekerjaan untuknya—dan Kaito jelas tak mau ini terjadi pada artisnya. Apalagi saat ini Luka sedang berada di puncak popularitas—posisi yang begitu berkilau sekaligus rapuh.

Luka berdecak sebal. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya masih berada di luar jendela. "Aku hanya memilih pekerjaan yang sesuai denganku—"

"Lantas pekerjaan sesuai yang kaumaksud itu seperti apa? Apa yang kaujadikan tolak ukur hingga kaubisa seenaknya berkata 'peran ini sesuai' dan 'peran ini tidak sesuai untukku'. Coba beritahu aku," tantang Kaito.

Luka mengepalkan tangannya namun tak menjawab.

Mereka terdiam sesaat dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasana berubah canggung. Namun itu tak lama, karena Kaito segera mengedikkan bahu tak acuh dan kembali memasang senyum—meski kali ini lebih terkesan canggung dan terpaksa.

"Kumohon," pemuda itu berucap dengan nada yang terdengar melankolis, "berhentilah mengajakku berdebat mengenai masalah ini." Dia menatap Luka dengan pandangan yang sulit diterjemahkan. "Kau tidak mengerti dengan apa yang telah kau lakukan, Luka." Berhenti menjadi terlalu pemilih. Kau menggali kuburanmu sendiri jika terus memertahankan sikap keras kepalamu.

"Lebih baik kau istirahat. Kalau tidak salah … masih ada beberapa adegan lagi yang harus kaulakukan, 'kan?" Kaito mengalihkan topik dan berbalik. Berniat meninggalkan tempat itu.

"Istirahat dan pahami naskahnya dengan baik. Aku pergi." Setelah mengatakan itu, Kaito melangkah pergi. Meninggalkan Luka yang masih berdiri bergeming di tempatnya.


Ada yang aneh. Luka merasakannya. Tatapan orang-orang saat ia masuk dalam jarak akomodasi pandangan mereka ia rasakan sangat aneh.

Tidak ada tatapan takjub ataupun kaget saat melihat seorang artis ternama berjalan di antara mereka. Tak ada decak kagum dan bisik puji kala ia melangkah melewati para pejalan kaki. Yang ada hanya sorot mata aneh—seperti jijik, muak dan simpati. Apa yang terjadi? Luka mendapati dirinya bertanya dalam hati.

Tigapuluh menit yang lalu, syuting telah selesai dan—setelah berganti baju— Luka buru-buru melompat ke dalam mobil pribadinya lalu pergi meninggalkan lokasi syuting. Hari ini Luka memang berangkat sendiri ke lokasi syuting, tanpa Kaito. Dan ketika pulang, Luka juga tidak berpikir untuk membawa manajer yang punya fetish tidak sehat terhadap eskrim tersebut ikut bersamanya. Buat apa? Kaito punya mobil sendiri—bahkan lebih bagus dari milik Luka. Biar saja dia pulang sendiri.

Sebenarnya, alasan lain gadis itu tidak ingin pulang bersama Kaito adalah karena pembicaraan mereka ketika break tadi. Sungguh, Luka amat benci ketika Kaito menggunakan tameng aku-adalah-manajermu-dan-aku-tahu-mana-yang-terbaik-buatmu untuk membuat Luka menuruti kemauannya. Oke, mungkin saran Kaito ada benarnya. Dia harus berhenti jadi orang yang terlalu pemilih masalah pekerjaan. Tapi, 'kan, Luka sudah bisa mandiri dan tahu mana pekerjaan yang baik untuknya dan mana yang tidak.

(—setidaknya, Luka berpikir seperti itu.)

Ketika itu, Luka terus merutuk di dalam mobil hingga akhirnya ia merasa harus menenangkan pikirannya di suatu tempat. Sungguh, menyetir dalam kondisi emosi yang tidak stabil sangat berbahaya bagi keselamatannya. Karena itu, dia memutuskan untuk berhenti di sebuah mall yang kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berada. Tujuan pertama gadis itu berhenti di mall itu adalah untuk mendinginkan kepala. Tujuan kedua adalah karena di mall tersebut ada sebuah restoran dengan tempat yang cukup cozy plus sandwich tuna di sana enak.

Semua berjalan biasa saja sampai Luka menyadari pandangan orang-orang yang begitu aneh terhadapnya.

Beberapa anak muda yang duduk-duduk di bangku di salah satu sudut mall, seorang ibu yang menggandeng lengan anak laki-lakinya, beberapa pegawai sebuah toko roti yang kebetulan sedang istirahat, cleaning service yang sedang berjalan sambil menenteng pel-pelan kotor—semua memandangnya dengan sama; sinis, seolah menyumpahinya untuk mati saja. Semua berbisik. Semua seperti…. Menyerangnya.

Demi apa pun, Luka belum pernah ditatap dengan hina seolah ia telah melakukan suatu dosa tak termaafkan begini. Ada apa dengan semua orang? Apa salahnya? Apa yang telah ia perbuat?

Gadis itu kemudian berpikir untuk mengabaikan semua tatapan mata orang-orang itu dan tetap berjalan. Namun, langkahnya terhenti di depan sebuah televisi plasma berlayar datar yang dipasang oleh pihak mall. Pihak mall memang sengaja memasang televisi berlayar datar di beberapa sudut. Yah…. Walaupun sebenarnya channel yang dipasang cuma yang menayangkan berita sepanjang hari.

Bola mata biru otomatis membulat ketika melihat berita yang tengah disiarkan. Meski suasana mall terlalu bising hingga suara dari televisi tersebut sama sekali tak terdengar, namun Luka masih bisa mengetahui berita apa yang sedang disiarkan oleh stasiun televisi tersebut. Terima kasih pada tulisan dengan font raksasa yang memenuhi layar televisi tersebut.

Video Tidak Senonoh Aktris Megurine Luka Terungkap ke Media.

Tidak senonoh?

Apa maksudnya?

Ketika Luka sibuk bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mata birunya menangkap news ticker[2] dan kembali terkejut mendapati deretan kata yang ada di sana.

Video skandal aktris Megurine Luka yang diduga dibuat ketika dirinya pertama kali datang ke Shion Management jadi perbincangan masyarakat. — Video tersebut memerlihatkan Luka, yang ketika itu masih gadis biasa, melepas pakaiannya di depan Shion Kaito, manajernya saat ini. — Sampai sekarang, Kaito mau pun Luka, belum memberi penjelasan apa pun mengenai video ini.

Dunia rasanya runtuh.

Seketika itu pula, Luka merasakan tubuhnya lemas. Namun, gadis itu tetap memberi instruksi kepada kakinya untuk tetap tegap dan menopang berat tubuhnya. Dia tak ingin semua orang mengalihkan pandangan mereka padanya—

—meski pada kenyataannya semua orang kini sudah menatapnya. Jijik dan hina. Luka adalah makhluk menjijikkan yang tak pantas ada di antara mereka.

Udara saat itu seperti gas beracun buatnya dan malah membuat napas Luka semakin sulit. Belum lagi pandangan para pengunjung dan bisikan-bisikan pedas penuh bisa yang dilontarkan untuknya ("Hei, bukankah itu Luka? Artis yang katanya rela menunjukkan tubuhnya agar Shion mau menjadi manajernya?", "Cantik, sih. Tapi ternyata kelakuannya menjijikkan.", "Pantas manajer ternama seperti Shion Kaito mau mengurus artis baru seperti dia. Ternyata ada udang di balik batu!", "Dasar jalang!") entah kenapa jadi terdengar begitu jelas dan membuat suasana semakin keruh.

Luka tidak tahan lagi. Wajahnya terasa panas karena menahan marah dan malu secara bersamaan.

Dengan kesal, ia kembali menarik kaki-kaki jenjangnya untuk pergi dari tempat itu. Ia melangkahkan kakinya lebar-lebar sambil menutup bagian hidung dan mulutnya, menahan tangisnya agar tidak pecah. Dia tidak peduli pada semua kepala yang kini mengarah padanya dan ikut bergerak mengikuti kemana arah langkah kakinya atau pada bisikan pedas yang terus dilontarkan dengan sangat tak berperikemanusiaan.

Ia ingin segera pergi dari sini. Berada dalam himpitan suasana seperti ini membuatnya sesak napas. Ia harus segera pergi. Harus.

Luka sudah hampir tidak menaruh atensi terhadap apa pun yang berada di sekelilingnya. Semua terasa mengabur akibat letupan emosi yang bertubulen dan mengaduk jiwanya. Namun semua kabut yang menutup matanya tiba-tiba gugur begitu saja seperti keping sepia saat bahunya menabrak seseorang yang jelas lebih tegap dan besar ketika ia sedang berjalan menuju pintu keluar.

Luka segera mengeluarkan suara terkesiap sebagai refleks saat ia merasakan tubuhnya, dalam sepersekian sekon, hilang keseimbangan dan nyaris menghempas lantai keramik yang padat. Beruntung sesuatu, dengan sigap, menahan tubuh Luka. Membuat gadis itu terhindar dari lantai yang mungkin akan menyakitinya. Ketika kesadaran perlahan kembali pada dirinya, Luka terkejut sendiri mendapati sebuah lengan merengkuh pinggangnya yang ramping. Tangan itu begitu besar dan kuat. Dan ketika ia mendapati campuran emas dan peach yang begitu asing masuk ke dalam visinya, Luka mau tak mau mengeryit dan menahan napas di waktu yang sama.

Siapa...?

Waktu terasa membeku dan orang-orang seperti bergerak dalam gerakan lambat ketika bola mata yang mencuri warna mentari itu beradu dengan sepasang safir milik Luka. Membuat gadis itu nyaris tidak mampu menelan ludahnya sendiri. Bahkan saat kedua mata itu bergerak sedikit menyipit bersamaan dengan terciptanya sebuah kerut di dahi, tanda bahwa yang bersangkutan tengah menekuk ekspresi, Luka masih merasakan jika putaran jarum jam berhenti beberapa sekon.

"Ke mana matamu, hmm?" Pemuda itu mengeluarkan gumaman pelan bernada kasar, jelas bukan pembukaan yang ramah. Dan ketidakramahan itulah yang pada akhirnya mengembalikan Luka pada dunia yang sebenarnya: Di mana jarum detik jam selalu berlari dan orang-orang bergerak dengan semestinya.

Luka mengerjap dua kali hanya untuk mendapati kesan baik yang tadi sempat tertanam di benaknya—dan membuatnya terpesona untuk sepersekian sekon— lenyap begitu saja. Dengan segera Luka menegakkan tubuhnya kemudian menyingkirkan lengan pemuda itu dengan kasar. Dalam hati, dia berusaha memberi sugesti untuk melupakan fakta bahwa dirinya baru saja terjebak dalam sebuah adegan klise yang kerap muncul dalam film-film romansa tahun 90-an.

Setelah mengerling bola-bola emas itu sejenak, Luka segera mengeluarkan sebuah gumaman kasar—dengan sengaja berusaha menandingi betapa kasar dan tidak ramah ucapan pemuda itu sebelumnya.

"Minggir," ucap gadis itu dingin, sambil lalu segera melewatinya. Meninggalkan pemuda bertubuh tegap itu memandanginya pergi dalam diam. Luka tak punya waktu untuk terjebak lebih lama dalam adegan drama dengan orang asing itu ataupun memikirkan alasan mengapa ia bisa terjebak di sana. Dia masih punya banyak hal yang harus ia lakukan dan pikirkan. Memikirkan berita-berita itu, misalnya.


Luka terus melangkah cepat menuju tempat di mana mobilnya terparkir dan melemparkan tubuhnya di atas jok kemudi dengan kasar. Gadis itu menangis, wajar. Sekuat apa pun Luka, ada batasan dalam hal apa ia mampu menahan semua tekanan. Bagaimana pun juga, Luka cuma gadis biasa. Meski begitu, ia tidak mau cuma menangis dan meratap.

Dengan sigap, ia meraih ponsel yang ada di dalam tasnya. Mencari nomor Kaito di deretan kontak dan segera mengirim panggilan. Sayangnya—atau mungkin, sialnya— ponsel pemuda biru itu sama sekali tak bisa dihubungi. Dua kali Luka mencoba menelponnya, dua kali pula sambungannya berakhir dengan suara jernih operator. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, begitu katanya. Ketika itu, Luka terus menyumpahi Kaito dengan serentetan kalimat kutukan yang ia hapal.

Bagaimana bisa Kaito tidak dapat dihubungi disaat genting begini? Kaito, 'kan, manajernya! Harusnya Kaito langsung bertindak begitu berita miring mengenai artisnya tersebar ke media. Ya, harusnya. Terlebih lagi jika kasusnya lumayan berat begini. Masalah video yang tersebar itu—

Luka menggigit bibir bawahnya. Menahan isakan yang keluar bersama tangisnya.

—bagaimana bisa media mendapatkan video itu? Dari mana? Siapa yang memberikannya pada mereka?

Luka menggenggam kemudi erat.

Kaito brengsek. Waktu itu dia bilang jika dia tidak akan menyebarkan video itu pada orang lain. Dia bilang jika dia hanya akan menaruhnya di rak ruangannya.

"—Tenang, hanya kusimpan untuk kenang-kenangan dan koleksi pribadi."

Tapi apa yang terjadi sekarang? Kenapa semua orang tahu tentang keberadaan benda itu? Dan lagi, sekarang citra baiknya telah tercemar.

"... Brengsek." Luka kembali mengumpat di sela tangisnya ketika sambungannya ke nomor Kaito—untuk yang kesekian kali— kembali tersambung pada operator.

Kemana Kaito sebenarnya?

Luka segera menekan nomor kantor Kaito dan berharap seseorang akan menjawabnya. Butuh kesabaran ektra untuk menunggu sambungan telpon terhubung ke seberang hingga akhirnya—

"Di sini kantor Shion Management."

—Tersambung!

Sebuah senyum lega jelas terukir di wajah cantik Luka. Akhirnya dia bisa tersambung juga. Yah, walaupun yang mengangkat sama sekali bukan Kaito. Suara yang terdengar dari seberang sambungan sana adalah suara khas seorang wanita dengan nada yang cukup tegas. Luka mengenal siapa pemilik suara ini.

"Meiko!" Terlalu senang, Luka tanpa sengaja berteriak memanggil nama si pengangkat telpon. Masa bodoh jika orang yang menerima telponnya refleks menjauhkan gagang telpon dari telinga karena terkejut. "Ini aku, Luka!"

"Ya ampun, Luka. Kupikir siapa." Suara Meiko terdengar teredam di telepon, namun masih tetap mampu menghantarkan desiran yang membuat Luka merinding waspada. Ada sesuatu yang berbeda dalam nada suara gadis itu, tapi Luka tak tahu apa. Mungkinkah Meiko sudah mengetahui apa yang terjadi?

"Dengar, aku ingin sekali berbasa-basi denganmu. Tapi, sayangnya aku tidak punya waktu untuk itu. Kautahu di mana Kaito?"

"Sudah kuduga, kau mencari si Maniak Es itu."

"Sekedar mengingatkan, si Maniak Es itu adalah bosmu, tahu. Dan kau adalah asistennya."

Meiko tertawa. "Ya, ya. Aku tahu. Tapi ... sayangnya Kaito sedang tidak ada di sini," nada suaranya kemudian berubah misterius, seperti tengah membagi rahasia yang sangat kecil. "Ponsel Kaito sedang tidak aktif, kutebak?"

Otot wajah Luka bergerak sedemikian lupa dan membentuk ekspresi waspada mendengar nada suara Meiko. "... Ya."

Dari seberang sana, Meiko mengeluarkan suara desahan napas. "Sudah kuduga."

Ia tahu hanya sedang bicara lewat telpon, tapi Luka sadar akan perubahan nada bicara Meiko yang begitu kentara. "Meiko, bisakah kau mencoba menghubungi Kaito?" pinta Luka. "Ada sesuatu yang terjadi di sini. Media sedang menyorotku dan video yang entah mereka dapat dari mana. Aku—demi Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini!"

Tak ada respon.

"Meiko?"

"Ya?"

"Kau masih di sana?"

Lagi, terdengar hembusan napas dari ujung sambungan. "Ya, aku masih di sini. Aku…. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," kata Meiko. "Kaito sempat menghubungiku setengah jam lalu dan melarangku mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan berita itu. Tapi ... karena kau sendiri sudah tahu masalahnya, jadi…. Yah…. Begitulah…."

Jantung Luka berhenti berdetak. "Tunggu, maksudmu Kaito sudah tahu?"

"Ya, aku yang memberitahunya," jawab Meiko cepat. "Beritamu menghias televisi sepanjang hari, makanya aku refleks mengabarkan Kaito."

Kerut di dahi Luka makin dalam. Entah kenapa ia merasakan hal yang tidak enak ketika mendapat fakta bahwa Kaito sudah mengetahui bagaimana situasi saat ini namun sama sekali tak berpikir untuk memberitahu Luka. Apakah ini firasat buruk? Apa pun itu, ia makin menggenggam erat ponselnya dengan perasaan yang makin berat. Sepertinya masalah ini akan bertambah berkali lipat hanya dalam semalam.

"Tapi kenapa Kaito tidak bilang apa-apa padaku?" Retoris. Luka paham. Namun dia tak dapat mencegah pertanyaan itu keluar dari bibirnya.

"Aku juga tidak mengerti bagaimana logika bekerja di kepala Kaito," jawab Meiko dan Luka hampir saja tertawa mendengarnya. Hampir. Jika saja situasinya tidak seperti ini, gadis itu pasti sudah tertawa lepas. "Tapi, percayakan semuanya pada Kaito."

Bisakah ia?

"Terakhir kali Kaito menghubungiku, dia bilang sedang dalam perjalanan menuju ke sini," suara Meiko kembali berubah serius, "mungkin butuh waktu yang lumayan lama bagi Kaito untuk bisa masuk karena saat ini gedung ini telah dikepung oleh segerombolan wartawan yang mencari berita. Bahkan semua telpon di sini pun tak pernah berhenti berdering sejak sejam yang lalu."

Luka makin merasa gelisah. Jika wartawan memenuhi gedung Shion Management, berarti mereka tengah mencari Kaito. Mungkinkah mereka juga mencari-cari Luka?

"Lalu ... sekarang aku harus apa?"

"Di mana kau sekarang?" Meiko tiba-tiba bertanya.

"Err…. Di tempat parkir sebuah mall?"

"Kau belum pulang ke rumahmu, 'kan?"

"Belum, tentu saja."

"Syukurlah," Meiko mendesah lega. "Sebaiknya malam ini kau jangan pulang ke rumah."

Luka mengeryit. "Kenapa aku tidak boleh pulang ke rumahku sendiri?"

"Jika tempat ini saja sudah dipenuhi wartawan, pasti rumahmu juga begitu," Meiko menjawab cepat, seolah pertanyaan barusan adalah soal paling mudah di dunia. "Malam ini pergilah ke suatu tempat—ke mana pun terserah, asal jangan pulang ke rumah. Menginaplah di hotel kalau perlu."

Meski merasa enggan, Luka tetap mendengar instruksi yang diberikan Meiko hingga akhir. Untuk kali ini saja, dia merasa butuh mendengar instruksi dari seseorang.

"Aku harus akhiri telponnya sekarang," kata Meiko. "Aku akan segera menyuruh Kaito menghubungimu jika dia sudah sampai di sini—atau mungkin justru aku sendiri yang akan melakukannya. Pokoknya, jangan angkat telpon kecuali itu dariku atau Kaito, mengerti?"

Luka mengangguk, meski orang yang ada di seberang sana tak bisa melihatnya sama sekali. "Ya, aku mengerti."

Kemudian sambungan terputus.

.

.

.

can you playing this role for us...?


Foot Notes:

[1] Peran yang dimainkan Luka dalam drama itu. Akan dijelaskan lebih lanjut pada chapter depan.

[2] Mungkin udah pada nggak asing lagi, tapi saya tetep mau jelasin... mungkin ada yang belum tau. News ticker itu semacam slide show news. Biasanya ada di bagian bawah layar tv dan jalan.

Makasih buat yang udah review chapter kemaren. err... ada yang mau meninggalkan review? kritik dan saran amat dinanti