A/N: Menyebalkan itu ketika cuma bisa menulis satu atau 2 paragraf setiap kali mengupdate -_-" Mood jadi kocar-kacir ga karuan... Keliatannya baru bakalan bisa balik ke pace yg dulu itu setelah tahun baru nanti (mungkin). Kerjaan saya lagi menumpuuuuuk... Gomenasaaaaaai T^T

Review replies corner~ Terima kasih banget untuk para guest yang udah menyempatkan diri untuk meninggalkan reviewnya yaa ^^ Akan saya jawab satu persatu di sini:

kouyuki: Eh, halo, Yuki-chan~ *sembarangan manggil* *plak* Ahahaha, iyah lama banget emang... Lagi banyak kerjaan dan agak buntu otak *swt* Sekarang ini mulai agak lenggang sih, tapi yah... Masih harus lebih mentingin RL dulu -_-" Ah, chapter lalu Grimm emang muncul sih, tapi kemunculan dia yg 'bener', masih belum 8)b *plak* Tanda... apa yaa... pengklaiman? XD"

Jamcomaria: Hmhm... Kebanyakan emang nebaknya Ichi setengah vampir sih emang 8Da Dan saya update lambat lagi... *orz* Gomen ne... Tapi, banyak kegiatan RL yg harus diberi perhatian utama sih...

surreaLife: Hehehe, sankyuu :* Saya selalu berusaha semangat untuk kamu, sayang :") *ceritanya ngerayu* *plak*

Cosmojewel: Isshin? Nasibnya bakalan ketahuan di sini kok 8)b Semoga kamu ga benci saya setelah tau... *endap2 kabur*

Devil Magnae Rin: Aih, sankyuu berat sayaaang :** Kenyataan mengenai Ichigo itu apa sebenernya, masih agak lama untuk diungkap sihh... Tapi, mengenai kenapa Ichigo bisa tidur lama, bakalan dijelasin dikit2 mulai dari chapter ini :)b

Ga lupa juga, arigachuu cintaa untuk yg udah login terlebih dulu ketika mereview: Roronoa D. Mico / Everyonepiece / Minami Riru / nanao yumi / Arya Angevin / Kitsune Syhufellrs / Qhia503 / UzumakiKagari / Aoi Ko Mamoru / widi orihara / I Am Silverlight / Hoshi Yukinua / SimbaRella / Aaliya Shim / kagurra amaya / My Name Is Kuzumaki / kinana

.

Warning: Sedikit shota di awal...

.

.

Chapter 4: Departure

I've got this light

I'll be around to grow

Who I was before

I cannot recall

Long nights allow me to feel...

I'm falling...I am falling

The lights go out

Let me feel

I'm falling

~ Long Night (Eddie Vedder)

.

.

Yang pertama kali ia lihat adalah terangnya kilatan cahaya yang menerangi kamarnya yang gelapyang ia percayai terdapat monster-monster di tiap sudut, bersiap untuk menerkamnya. Cahaya yang memberinya ketegasan bahwa apa yang ia percayai itu bukanlah hal yang sesungguhnya, hanya ketakutan seorang anak kecil yang sering kali tidak beralasan.

Walau sesungguhnya monster memang ada di dunia ini.

Di dunia mereka.

Kaki-kakinya yang masih keciltidak beralasmenjajaki tanah yang melembek karena becek. Guyuran hujan yang tidak seberapa deras tidak mampu mengganggunya untuk mendapatkan golnya di ujung sana—Ia suka hujan, dan ini bukan pertama kalinya ia lari-lari di bawah hujan tanpa pelindung apa pun. Ia meninggalkan kamarnya yang gelap, memasuki kumpulan pepohonan rimbun yang jauh lebih gelap lagi, tapi kilatan cahaya yang terjadi setiap sepersekian detik terus menerangi langkahnya. Semakin dalam, pepohonan semakin terlihat menjulang tinggi dari tinggi tubuhnya yang bahkan tidak mencapai ketiak orang dewasa, rimbunnya dedaunan menghalangi tetesan hujan, menimbulkan bunyi yang bergemerisik, hingga kemudian ia sampai di ujung satunya.

Di puncak bukit yang berada tepat di belakang kediaman keluarganya, di sanalah ia melihatnya.

Seorang pria berpakaian serba hitam, bersurai coklat pendek, tidak begitu rapi, tapi terlihat begitu elegan. Kelopak mata yang bersembunyi di balik kacamata ber-frame hitam itu nampak tersenyum, kedua sudut bibir tipis sang pria pun naik, menatap ke arahnya, memberikan gestur kepadanya untuk mendekat.

Dan bagaikan tersihir, kaki-kaki kecilnya melangkah lebar-lebar, cepat, dan banyak. Ia berlari, menabrakkan diri dengan sisi belakang sang pria. Kedua bola mata beriris coklat madunya melebar, mulutnya membentuk huruf 'O', sepoles pink di pipi menunjukkan dengan jelas bentuk kekagumannya.

"Mister! Di sekelilingmu benar-benar tidak hujan...!" dalam suara yang melengking layaknya seorang anak berusia 10 tahun, ia berseru penuh kekaguman.

Sang pria tertawa kecil, dan menggerakkan tangannya untuk membelai surai oranye yang lepek karena basah. Tapi, dalam sekejap, surai oranye itu mengering, mengembang, menunjukkan betapa berantakannya rambut sang bocahatau memang begitulah tipe rambutnya, spiky. Berawal dari rambut, hingga ke seluruh tubuh.

Ia hanya bisa menganga tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dan kemudian, ia mengeluarkan komentar yang langsung terbesit di benaknya, "Mister, kau pesulap?" Imajinasi seorang anak yang baru saja menonton pertunjukkan sulap di pusat kota beberapa hari sebelumnya, tidak bisa membuatnya menebak selain itu.

Sang pria hanya bersenandung pelan, kedua mata yang kini terbuka menunjukkan kedua iris coklat gelapnya berkelip geli. Tapi, bukannya menjawab, pria itu justru bertanya balik, "Kau sendiri, apa yang kau lakukan hujan-hujan begini, Ichigo? Aku percaya, ibumu saat ini tengah kebingungan mencarimu."

Dan sang bocah yang kini benar-benar terpesona dengan pria tinggi di hadapannya pun tidak benar-benar menjawab, "Mister! Jangan-jangan kau ini peramal ya? Papa pernah bilang, katanya peramal itu bisa tahu segala-galanya!"

Kembali, sang pria tidak menjawab dan hanya tertawa kecil.

Tidak tahu berapa lama mereka berdiri berhadap-hadapan berdua, hujan pun perlahan menjadi rintikan kecil, hingga kemudian menghilang. Awan gelap yang membuat malam semakin gelap pergi jauh tertiup angin, menunjukkan bulan purnama yang bersembunyi di baliknya.

Keganjilan akan bagaimana bisa hujan di malam cerah dengan bulan bulat sempurna seperti ini, sama sekali tidak terbesit di benak sang bocah yang hanya bisa mengagumi apa yang dilihat oleh kedua iris coklat madunya. Sang pria yang masih terus tersenyum semenjak tadi, berdiri tepat di hadapan bulan purnama, membuat tubuhnya bagaikan bercahaya, menimbulkan efek yang tampak begitu... fantastik. Ia jadi tidak yakin kalau pria di hadapannya ini manusia atau bukan.

Sayup-sayup suara yang memanggil namanya terdengar dari kejauhan. Ichigo menoleh, menatap ke arah rimbunan pohon yang berada tidak begitu jauh di belakangnya.

Sudah waktunya untuk kembali sebelum ayah dan ibunya mengerahkan seluruh bodyguard hanya untuk mencarinya.

Ia tidak ingin pergi, sungguh. Pria bersurai coklat di hadapannya ini benar-benar membuatnya penasaran. Ia ingin sekali tahu apa sebenarnya sang pria, bagaimana ia bisa melakukan sihir...

"Kau ingin tahu, Ichigo?"

Ichigo kembali menoleh ke depan, bersamaan dengan hembusan angin malam yang dingin dan kencang, membuatnya sempat memekik kaget dan langsung menutup kedua matanya. Benda asing yang terasa dingin dan lembut yang menempel dengan bibirnyalah yang membuatnya kembali membuka mata, terbelalak kaget, bertatapan langsung dengan sepasang iris emas berselimutkan hitam. "Mm" Mulutnya yang lebih kecil, tidak mampu melawan ketika lidah sang pria menyeruak masuk. Bisa ia rasakan cairan kental yang dibawa bersama lidah itu perlahan menuruni rongga mulutnya hingga ia tidak memiliki pilihan lain selain menelan apa pun itu, kalau ia tidak mau tersedak.

Menjauhkan bibir keduanya, sang pria kembali tertawa kecil ketika melihat sebagian kecil darahnya yang ia berikan kepada sang bocah, menetes menuruni dagunya. Ia menyeringai, menyadari sepasang iris coklat madu Ichigo mulai nampak kehilangan fokus, "Jangan khawatir, Ichigo. Jika waktunya sudah tepat, aku akan menjemputmu. Dan saat itulah, aku akan memberitahumu."

. . . . . . . . . .

Kedua iris coklat madu itu membelalak, menatap kegelapan yang ada di sekitarnya dengan grogi.

Ichigo mengerang sementara kedua tangannya mengepal erat pada seprai yang membungkus ranjang di bawahnya. Rasa sakit mendadak menjalar di seluruh tubuhnya, sakit yang seperti disayat-sayat, lalu luka sayat itu pun dibakar, rasa yang mengerikan, membuatnya berkeringat dingin dengan deras. Ia meringis, mendesis, tubuhnya melengkung ke atas sementara kepalanya semakin terbenam ke dalam bantal. Kedua mata yang tadi membelalak itu pun kini menutup rapat.

"... Re... Ren... —ji..."

Kembali mengerang, Ichigo membantingkan kepalanya ke belakang, berharap rasa sakitnya bisa mengalihkan rasa sakitnya yang lain. Namun, nihil tentu, karena bantal yang menopang kepalanya itu terbuat dari bulu burung yang empuk. Mustahil memberikan rasa sakit. "...—ji...!" Sekali lagi ia mencoba memanggil nama bodyguard-nya itu. Orang yang selama ini selalu ia panggil jika dirinya merasa membutuhkan sesuatu. Biasanya, sekali saja ia panggil, pria bersurai merah panjang itu akan langsung datang dan dalam hitungan detik sudah berada di sebelahnya. Tapi, kini membutuhkan waktu yang sangat lama karena ia memanggil nama sang pria dalam sebuah bisikan parau, yang bahkan mustahil terdengar dalam radius lebih dari satu meter.

Rasa sakit luar biasa yang berikutnya terasa di sekitar perpotongan lehernya, membuat Ichigo tidak sadarkan diri selama beberapa detik, sebelum kemudian ia menjerit keras. Jeritan yang memecah keheningan malam dalam kediaman Kurosaki, membuat para bodyguard yang terjaga membeku di tempat, kecuali satu orang yang kini berlari tergopoh-gopoh dari posisinya. Rambut merahnya yang kala itu tergerai ikut bergerak-gerak, umpatan demi umpatan ia keluarkan, lalu dengan tenaga penuh ia banting pintu kamar Ichigo. Memikirkan hal yang terburuk.

Vampir kembali menyerang, tidak ketahuan...

Tapi, yang Renji lihat kala itu hanyalah Ichigo seorang yang berada di atas ranjang, menggeliat-geliat, menghentakkan tubuh ke kiri dan ke kanan. Jeritan yang tadi terdengar kini berubah menjadi isakan di antara erangan yang tanpa henti, menunjukkan betapa kesakitannya sang remaja.

"Oh, shit."

Renji berbalik, dengan kecepatan yang lebih dari sebelumnya, dalam kepanikannya, ia berusaha mencari Urahara. Dan Ichigo yang pada akhirnya sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang mendera tubuhnya, kembali tidak sadarkan diri.

. . . . . . . . . .

Perasaan yang hangat dan sejuk perlahan-lahan mengembalikan kesadarannya. Sedikit demi sedikit ia menggerakkan kedua kelopak matanya hingga sepasang iris coklat madu itu terlihat. Sosok buram seorang wanita berkulit gelap adalah hal pertama yang ia lihat, "... Yoruichi?" Benaknya yang masih terselimuti kabut nampak mampu mengingat kalau wanita berkulit gelap yang ada di kediamannya itu hanyalah istri dari sang penasihat, Kisuke Urahara.

Tidak seperti biasanya, Yoruichi tersenyum. Perasaan lega yang membumbung di hatinya membuatnya tertawa kecil sembari membelai ringan kening dan surai sang remaja yang sudah lama sekali terus tertidur. Mengambil segelas air putih yang terletak di atas meja kecil di samping ranjang, Yoruichi kemudian duduk di tepian ranjang, menyodorkan gelas tersebut kepada Ichigo yang terbatuk karena tenggorokan kering.

Setelah berhasil memposisikan diri duduk dengan bersandar pada punggung ranjang, Ichigo dengan rakusnya menenggak air di dalam gelas. Tenggorokannya yang kering perlahan-lahan terasa segar kembali. Dinginnya air minum yang diberikan benar-benar terasa begitu nyaman.

Entah sudah berapa lama tenggorokannya itu kering kerontang. Berdasarkan rasa perih yang sempat ia rasakan, akan ia tebak sudah berminggu-minggu lamanya. Ichigo menghela nafas lega ketika berhasil menghabiskan seluruh air minumnya, menyerahkan kembali gelasnya kepada Yoruichi yang terus menungguinya, pandangan Ichigo kemudian teralihkan kepada jendela kamarnya yang terbuka membiarkan angin malam masuk untuk menyegarkan ruangan yang sempat panas akibat musim. Dari posisinya, ia bisa melihat beranda kamarnya itu dengan jelas, dedaunan dari pohon yang berdiri tegak tidak jauh dari jendelanya itu sedikit menutupi pandangan, tapi ia masih bisa melihat bulan sabit yang menghiasi langit kala itu.

"... Apa yang sudah... terjadi?"

Yoruichi menghela nafas. Setelah menyimpan kembali gelas di atas meja kecil, wanita bersurai ungu panjang itu kembali duduk tepat di sebelah Ichigo, menatap sang remaja tepat di mata, "... Kau tidak ingat?"

Tidak menggeleng, dan juga tidak mengangguk, Ichigo menatap sepasang iris emas Yoruichi yang seolah memaksanya untuk mengingat semuanya sendiri kala itu. Beragam emosi dan kenangan yang terpancar di kedua bola mata sang wanita membuat nafas Ichigo tercekat. Satu persatu ingatannya yang tercerai-berai kini mulai tersusun.

Ia yang waktu itu dipanggil oleh sang ayah untuk kemudian diberitahu mengenai persetujuan dengan para kelompok vampir...

Kematian Ginjou yang melindunginya, setelah mereka berdua puas berhura-hura di kelab malam...

Pemakaman... Penyerangan segerombolan Arrancar yang secara tiba-tiba...

Ichigo tersentak. Kedua matanya membulat. Warna yang tadi sempat kembali menghiasi wajahnya hingga nampak segar, kini kembali menghilang. Pucat. Mulutnya menganga, bergetar berusaha mengeluarkan sebuah perkataan, namun akhirnya hanya sedikit yang ia keluarkan, "... D, Dad...?" Ichigo merasa seolah hatinya tenggelam jauh ke dasar lautan saat melihat Yoruichi menggelengkan kepalanya, lalu meminta maaf.

Maaf?

Maaf untuk apa?

Ichigo nampak tertawa kecil sesaat sebelum tubuhnya tersungkur lemah, beruntung ada Yoruichi yang langsung dengan sigap menangkapnya, atau ia akan membenturkan kepalanya ke lantai.

"Aku benar-benar minta maaf, Ichigo..."

. . . . . . . . . .

Tik... Tik... Tik...

Entah sudah berapa lama lagi ia hanya terbaring dan menatap langit-langit kamarnya semenjak Yoruichi meninggalkan ruangan, membiarkannya merenung sesuai keinginannya. Ia bahkan sudah tidak ingat apa lagi yang sebenarnya ingin ia renungkan. Mengenai kelemahannya yang sudah membuat dua orang yang mengisi hidupnya pergi begitu saja? Mengenai kelompok manusianya yang kini kehilangan seorang pemimpin, menginginkan pemimpin baru di mana mereka bisa bersandar dengan penuh ketenangan?

Atau mengenai dirinya yang pada akhirnya tidak akan bisa lagi lari dari kenyataan kalau beberapa minggu lagi dirinya sudah tidak akan ada di sini? Meninggalkan kelompoknya tanpa seorang pemimpin sekali lagi.

Walau bukan pada artinya sekarang ini dirinya sudah menjadi seorang pemimpin menggantikan sang ayah.

Ia masih hijau.

Masih berupa benih kecambah yang bisa dihancurkan hanya dengan dua jari.

Demi Tuhan, ia masih bocah 15 tahun yang belum berpengalaman.

Tik... Tik... Tik... Tik...

Sekarang sudah lebih dari tengah malam, sudah merupakan sebuah kewajaran jika tanda-tanda kehidupan di kediamannya ini menghilang. Hanya suara detik jam di kamarnya serta suara langkah kaki yang menggema di lorong depan kamarnya lah yang bisa ia dengarkan. Beberapa bodyguard pastinya masih ada yang berjaga. Berkeliling kediaman untuk terus memastikan kalau penghuninya bisa terlelap dengan rasa aman.

Ichigo merasa ragu apakah Renji ada di antara para bodyguard yang masih terjaga itu. Kalau ada, mungkin ia bisa mengajak sang pria untuk bertanding satu lawan satu demi menghabiskan waktu di mana ia kesulitan untuk tidur.

Bagaimana tidak sulit?

Ia sudah tertidur selama lebih dari satu bulan.

Jadi, tidak heran kalau sekarang ia tidak bisa tidur lagi.

Menghela nafas, Ichigo kemudian berbalik, membuat posisi tubuhnya kini berhadapan dengan beranda kamarnya. Jendela yang ia minta kepada Yoruichi untuk tidak ditutup itu bermandikan cahaya bulan. Walau tidak terlalu terang, sebagian cahayanya yang memantul mengenai wajahnya, sempat membuatnya mengerjap, menggosokkan kedua kelopak mata dengan menggunakan tangan. Ketika matanya terbuka kembali, bayangan entitas yang tidak ia kenal membuat nafasnya tercekat. Tetapi, secepat bayangan itu muncul, cepat pula menghilangnya, hingga mau tidak mau membuat sang remaja bersurai oranye itu meragukan kalau apa yang ia lihat tadi itu benar ada atau hanya halusinasi belaka.

Detik, berubah menjadi menit, dan Ichigo masih terus menatap ke titik yang sama. Benaknya yang tadi penuh dengan beragam pikiran, secara perlahan semakin kosong. Kedua matanya sayu. Kembali ia melihat bayangan sosok yang sama seperti sebelumnya, berdiri tegak di dekat jendela berandanya. Wajah yang sebagian besar tertutup oleh bayang-bayang dedaunan menyunggingkan sebuah senyum yang mengundang. Sosok itu kemudian berbalik, membuat jubah kebesaran yang ia kenakan bergerak, membuat ilusi seolah sosok itu memiliki sepasang sayap untuk terbang.

Ichigo yang benaknya kini berkabut sama sekali tidak menyadari ketika tubuhnya bergerak sendiri, menuruni ranjang, berjalan gontai ke arah beranda. Dan entah bagaimana caranya, beberapa saat kemudian Ichigo tengah berjalan di dalam hutan yang terletak di belakang kediaman Kurosaki. Terus berjalan masuk menuju bukit, kaki telanjangnya menginjak kerikil dan ranting pohon hingga menimbulkan baret, tetapi mimik wajahnya tidak menunjukkan kalau ia menyadari lukanya. Kedua matanya yang masih sayu nampak hanya melihat lurus tanpa benar-benar melihat.

Melewati pohon terakhir, kedua kaki Ichigo terus bergerak maju, semakin lama semakin mendekati sesosok entitas yang berdiri di puncak bukit, di bawah bulan sabit, seolah menunggu kedatangannya. Surai coklat yang disisir rapi ke belakang, meninggalkan hanya beberapa helai saja di depan kening, menunjukkan ketampanan seorang pria yang nampak berusia di akhir 30an. Jubah hitam yang dikenakan sang pria bergerak-gerak diterpa oleh angin, menambah kesan misterius.

Sang pria mengulurkan tangannya ke arah Ichigo yang langsung menyambutnya tanpa ragu. Perlahan, sang remaja merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang pria. Bentuk otot yang berada di balik lapisan kain yang menutupi sang pria bisa Ichigo rasakan dengan tubuhnya yang hanya terbungkus selembar kain piyama tidur, menimbulkan sensasi aneh yang membuatnya meremang. Tanpa banyak kata-kata, Ichigo memejamkan kedua matanya saat sang pria membelai lembut pipinya. Tubuhnya bergidik ringan saat merasakan nafas panas pria tersebut di kulit lehernya, dan secara refleks Ichigo menelengkan kepalanya, memberikan akses lebih kepada sang pria untuk menempelkan bibirnya di sana. Bisa ia rasakan pula ketika pria itu membuka mulutnya, menggoreskan pelan gigi-giginya di sana...

"ICHIGO!"

Bagaikan tersengat aliran listrik tinggi, Ichigo tersentak kuat. Kedua matanya membelalak lebar, menatap kekosongan yang berada di hadapannya. Halusinasikah?

Dengan langkah lebar-lebar, Renji mendekati Ichigo yang hanya termanggu di puncak bukit. Memasukkan kembali pistolnya ke sarungnya yang tersembunyi di balik jas hitamnya, Renji kemudian meraih lengan Ichigo dan memutarkan remaja itu hingga berhadap-hadapan dengannya. Wajah bingung yang ia lihat di kemudian, membuatnya menaikkan satu alisnya, lalu mengernyitkan kening, "Kau ini, apa yang kau lakukan malam-malam begini di sini? Kupikir kita kedatangan penyusup saat aku melihat bayangan yang melesat di dalam hutan. ternyata itu kau. Yoruichi memang mengatakan kalau kau sudah sadar, tapi aku tidak pernah berpikiran akan melihatmu di tempat semacam ini dan bukannya di kamarmu. Memangnya badanmu tidak terasa lemah atau bagaimana...?"

Ichigo yang kini sibuk dengan pikirannya sendiri, sama sekali tidak mempedulikan apa pun yang Renji katakan. Bodyguard-nya itu pun nampak tidak menyadari kalau saat ini tuannya tengah termenung, dan malah terus mengoceh.

Jujur dikatakan, Ichigo benar-benar bingung. Ia ingat bagaimana kagetnya ia saat melihat sesosok orang asing di beranda kamarnya yang sebagian besar tertutup bayangan, membuatnya tidak bisa melihat jelas rupa orang asing tersebut. Ia juga ingat bagaimana rasanya ia tidak bisa berpaling dan hanya terus menatap, bagaimana dirinya berjalan ke arah beranda... Tapi, ia sama sekali tidak menyadari semenjak kapan atau bagaimana caranya dirinya bisa berakhir di puncak bukit. Ia hanya merasa kalau apa yang dilihatnya tadi hanyalah mimpi. Rasanya terlalu tidak nyata untuk dikatakan sebagai sebuah kenyataan.

Ia ingat bagaimana pria berjubah hitam itu menatapnya dengan kedua iris coklat gelapnya yang perlahan berubah menjadi warna emas, seolah membisikkan sesuatu yang menjadikannya begitu patuh.

Bisa Ichigo rasakan tubuhnya bergetar saat mengingat kembali nafas panas sang pria di lehernya, bagaimana gigi-gigi yang terasa tajam itu menggores permukaan lehernya tanpa menorehkan luka. Menyentuh lehernya di bagian di mana ia merasakan nafas sang pria sebelumnya, Ichigo kemudian menghela nafas panjang. Dan nampaknya helaan nafas itu menarik perhatian Renji, membuat sang pria bersurai merah menghentikan celotehannya dan menatap Ichigo yang nampak asik tenggelam dalam dunia sendiri.

Kali ini giliran Renji yang menghela nafas, "Ayo, akan kuantarkan kau ke kamarmu."

Mau tidak mau mengikuti langkah Renji yang menarik lengannya, Ichigo masih terus memikirkan apakah kejadian barusan mimpi atau bukan. Lagipula, entah kenapa rasanya pria berjubah hitam itu rasanya tidak begitu asing.

Ada sebuah ingatan yang tenggelam jauh di dasar benaknya berusaha merayap keluar, tapi sebesar apa pun usahanya untuk menggapai ingatan tersebut, hasilnya nihil.

Mungkin nanti ia bisa ingat apa itu.

. . . . . . . . . .

Yuzu tidak berhenti menangis ketika ia temui pada pagi harinya. Gadis itu bahkan memeluknya sangat erat, tidak mau lepas. Walau membuat nafasnya agak sesak, tetapi Ichigo tidak sampai hati untuk melepaskan. Ia hanya diam, berlutut di hadapan sang adik, menatap ke arah Karin yang terus menatap lantai seolah-olah hal itu adalah hal paling menarik yang bisa ia lakukan di dunia.

Ichigo menghela nafas.

Karin adalah pribadi yang keras dengan rasa gengsi yang tinggi. Sama seperti dirinya. Makanya, dengan segera ia tahu kalau saat ini adiknya yang satu itu tengah menahan-nahan perasaannya. Tidak mau jujur. "Karin..." Ichigo mengulurkan tangan. Seulas senyum di antara wajahnya yang berkerut sedih ia pampang, memancing agar sang adik mau mendekat. Dan kelihatannya, senyum dipaksakan yang ia tunjukkan merupakan garis batas terakhir bagi Karin, sehingga gadis kecil itu pun akhirnya ikut memeluknya, mengeluarkan seluruh kesedihannya di pundaknya.

Sebagai seorang kakak, ia tidak bisa menangis sesedih apa pun dirinya.

Ia harus menjadi orang yang kuat, menunjukkan kalau semuanya akan baik-baik saja.

Ia harap.

Rangkulan Karin dan Yuzu semakin menguat tatkala Ichigo membelai-belai lembut punggung keduanya, seolah mereka tidak mau melepaskan, seolah dirinya pun akan pergi suatu saat seperti sang ayah, meninggalkan mereka.

Mereka tidak tahu, tapi mereka benar.

. . . . . . . . . .

"Kau harus segera mengambil alih posisi ayahmu, Ichigo."

Urahara brengsek.

Penasihat utama Shinigami itu seolah tidak memiliki hati. Mengutarakan kepentingan yang menurutnya penting di saat orang yang harus melaksanakannya kini tengah berduka. Ichigo tersenyum kecut. Bukan berarti ia tidak tahu, bukan berarti ia ingin menyalahkan Urahara karena mengatakannya di saat yang tidak tepat di mana ia masih ingin berpikir—walau sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin ia pikirkan—Ichigo hanya tidak ingin membicarakan hal itu sekarang.

Karena kalau dibicarakan, akan benar terasa kalau sang ayah kini sudah tiada, karena posisinya kini dirinyalah yang memegang.

"Kondisi kelompok kita sudah kacau balau karena perbedaan kekuatan yang semakin lama semakin jauh... Ditambah dengan tidak adanya seorang pemimpin... Ichigo, aku tidak bermaksud kurang aja dengan tidak memikirkan dirimu terlebih dahulu, tapi—"

"Aku mengerti."

Tidak ingin mendengar perkataan Urahara lebih jauh lagi karena ia memang sungguh mengerti, Ichigo memotongnya. Kembali ia menghela nafas, membenarkan posisi duduknya di atas kursi yang sampai sebulan lalu masih merupakan kursi sang ayah—bak singgasana. Kursi jati yang berlapiskan bahan terbaik dan terempuk yang pernah ada, yang sudah pasti akan membuat siapa pun betah duduk di atasnya selama apa pun. Tapi, Ichigo ingat, dulu sang ayah tidak pernah betah duduk di atas kursinya selama lebih dari satu jam. Waktu itu ia tidak tahu apa alasannya, dan hanya berpikir kalau ayahnya itu memang hiperaktif sehingga tidak bisa diam di satu tempat dalam jangka waktu lama, tetapi sekarang ia mengerti apa alasan yang sebenarnya.

Karena kursi singgasana yang terletak di balik meja kerja sang pemimpin Shinigami itu mengingatkan betapa banyaknya tanggung jawab, timbunan beban atas ratusan nyawa manusia yang tidak ingin menjadi budak para vampir, tumpukan harapan yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin.

Kini, ialah yang akan menggotong semua hal itu kemana pun ia pergi.

"... Jika memang secepat ini Ichigo diangkat sebagai pemimpin, kita harus segera memikirkan jalan keluar agar bisa lepas dari bayaran persetujuan perdamaian yang diminta oleh Aizen. Kita tidak mungkin menyerahkan pemimpin kita sendiri di saat kita sangat membutuhkan keberadaannya, walau hanya sesosok figur." Dari sisi lain ruangan, Byakuya yang berdiri tidak jauh dari meja di hadapan Ichigo, akhirnya membuka suara setelah bungkam semenjak mereka berkumpul di ruang kerja ini. Wajahnya yang biasanya selalu nampak tenang, kini berkerut, menunjukkan seberapa besar gentingnya situasi yang mereka hadapi, "Sampai sekarang kita masih belum mengetahui tujuan utama yang mereka inginkan dengan jasad Ginjou, kurasa menyerahkan Ichigo begitu saja pun bukan merupakan ide yang bijak. Apalagi dengan posisinya sekarang ini... Berikan saja Aizen manusia yang lain." Dengan dingin Byakuya menambahkan. Nada bicaranya menggambarkan seolah nyawa lain selain keluarga Kurosaki saat ini sama sekali tidak ada nilainya. Pria bersurai hitam panjang itu menyadari Ichigo yang mengerutkan dahi, nampak tidak suka dengan perkataannya, tapi tidak ia ambil peduli.

"Justru karena aku pemimpin kalian, maka akulah yang harus pergi." Menahan desisan yang ingin ia keluarkan karena perkataan Byakuya barusan, Ichigo memilih untuk menggenggam lengan kursinya kuat-kuat. Apa yang ia tidak suka dari kepala bodyguard-nya itu adalah sifatnya yang dingin, yang sering kali menganggap sebuah nyawa tidak begitu berarti jika tidak bisa menyumbang sesuatu.

Masih segar dalam ingatannya ketika dulu ia dan Rukia pernah diserang oleh sekawanan Childe yang haus darah. Padahal kondisi Rukia saat itu jauh lebih berbahaya daripada dirinya, tetapi malah dirinyalah yang ditolong terlebih dahulu oleh Byakuya, membuat Rukia mengalami luka sobek besar di punggungnya yang tidak pernah bisa hilang sampai sekarang. Padahal Rukia merupakan adik dari Byakuya, satu-satunya keluarganya yang tersisa. Tapi, seolah tidak pernah memiliki kewajiban sebagai seorang kakak, Byakuya dengan tenangnya lebih menjunjung tinggi tugasnya sebagai seorang bodyguard.

Dan yang lebih membuatnya marah adalah ketika Rukia membenarkan apa yang Byakuya lakukan.

Menarik nafas dalam-dalam demi meredam kemarahannya yang sempat memuncak, diam-diam Ichigo berterima kasih karena tidak ada satu pun dalam ruangan yang berbicara lagi dan hanya menunggunya melanjutkan perkataannya. Berlagak tidak peduli, Ichigo mengangkat bahu, "Tidak masalah, 'kan? Toh aku masih bisa mempercayakan kelompok kita kepada Urahara selama aku tidak ada. Aku yakin, itu bukan hal yang sulit untukmu, 'kan, Hat-'n-Clogs?" Ia berbicara dengan nada seolah tengah membicarakan cuaca agar tidak ada yang membantahnya, dan menerima saja. Tapi, kelihatannya hal itu tidak berlaku bagi Renji.

"Ichigo—"

"Tidak apa. Jika kita tidak bisa melakukan apa pun dengan melawan mereka secara langsung dari depan, aku akan mengusahakan sesuatu dari belakang."

Menggeram, Renji pun kemudian memutar kursi yang diduduki oleh Ichigo hingga berhadap-hadapan dengannya. Ia pun menumpukan kedua lengannya di lengan kursi, secara tidak langsung memerangkap sang pemuda, "Tapi, Ichigo! Kita tidak tahu apa yang akan Aizen lakukan padamu! Kita tidak tahu apa ini benar-benar aman untukmu—"

"TIDAK ADA TAPI-TAPIAN, RENJI!" Tidak bisa lagi menahan kemarahannya, Ichigo balas membentak. Ia benar-benar sedang tidak mood untuk adu argumentasi dengan sang surai merah. Kepalanya terasa sakit, seolah setiap saat akan meledak karena terlalu banyak yang ia dapati dalam satu waktu. "Aku tahu Dad memikirkan sesuatu ketika memberitahuku mengenai berita ini! Ia percaya bahwa aku akan melakukan sesuatu! Sesuatu yang hanya aku bisa lakukan! Jadi, akulah yang akan pergi! TITIK! TIDAK ADA PENGORBANAN YANG LAIN!" Di akhir perkatannya, remaja 15 tahun itu menatap nanar ke arah Byakuya, menunjukkan ketidak-sukaannya dengan apa yang pria itu utarakan sebelum ini, sebelum kemudian kembali menatap Renji tanpa mengurangi intensitas pandangannya. "... Ada lagi yang ingin kau katakan, Abarai?"

Renji menarik nafas tajam melalui sela-sela giginya yang terkatup rapat, mengumpat, sebelum kemudian menghentak-hentakkan kakinya keluar ruangan bagaikan anak kecil yang tidak sabaran. Ia membanting pintu di belakangnya, merutuk selama berjalan di lorong.

Sungguh ia berharap ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk tuannya, yang juga merupakan sahabat karibnya.

. . . . . . . . . .

Empat hari berlalu semenjak keributan di ruang kerja utama, dan sudah empat hari juga Renji menolak untuk bicara padanya, hanya melakukan tugasnya sebagaimana layaknya seorang bodyguard. Ichigo menghela nafas. Keinginan hati ia ingin sekali menghajar Renji hingga babak belur dan akhirnya mengerti maksud dari keputusannya. Tapi, di sisi lain, ia juga menyadari kalau perilaku Renji yang menentangnya itu adalah karena ia peduli, jadi ia tidak bisa benar-benar menghabisi sang pria.

Lagipula, kalau ia mencoba bertanding pedang dengan bodyguard-nya itu, ia masih tidak yakin bisa menang.

Membuka pintu kamarnya dan tanpa peduli ruangan menggelap karena hari sudah larut, Ichigo berjalan begitu saja melewati tombol sakelar lampu dan langsung duduk di tepian kasurnya. Hari ini adalah hari yang melelahkan baginya. Sudah mendapati hukuman pada pelajaran olahraga karena ia kurang konsentrasi, ia pun diharuskan kerja kelompok untuk percobaan kimia yang merupakan kelemahannya, hingga kemudian ia baru bisa kembali ke rumahnya ketika sudah larut begini.

Ergh... Memangnya siapa yang akan peduli ethanol itu apaan...

"Akhirnya kau pulang juga, kid."

Nafas Ichigo tercekat, dan dengan segera ia menjauh dari kasurnya seolah ada api yang membakarnya di sana karena ia yakin suara barusan berasal dari belakang tubuhnya. Kedua matanya melotot saat melihat siluet seorang pria berambut gondrong dan mengenakan pakaian berwarna gelap (Ichigo tidak yakin pakaian itu berwarna apa karena suasana kamarnya yang gelap), nampak bangkit dari posisinya di kasur dan menguap lebar.

Masih terlalu shock karena sama sekali tidak menyadari keberadaan orang lain di kamarnya, Ichigo tidak bisa berbuat banyak saat pria tersebut berjalan mendekatinya. Kedua mata sang pria yang nampak mengantuk itu, yang seolah dapat bersinar di kegelapan, hanyalah satu-satunya anggota tubuh sang pria yang bisa ia lihat dengan jelas. Iris mata berwarna biru keabu-abuan itu mengerling, menatap lurus ke arah matanya, membuatnya memikirkan siapa pria di hadapannya itu sebenarnya.

"Ayo, Aizen-sama sudah menunggu."

Dan dengan segera seluruh pertanyaan yang berputar di otaknya pun terjawab secara serempak.

Sekaranglah waktu di mana ia harus pergi, melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin dengan mengambil resiko yang ia sendiri pun tidak tahu akan berujung ke mana. Pria di hadapannya saat ini tidak lain dan tidak bukan merupakan bawahan dari pemimpin kelompok vampir yang menginginkannya, seorang vampir juga.

Tidak ingin dianggap remeh karena merasa terintimidasi dengan keberadaan makhluk yang lebih superior darinya, Ichigo merilekskan tubuhnya, dan menegakkan punggungnya. "Bisakah aku memberitahu rekan-rekanku sebelum pergi denganmu?" Dalam hati, Ichigo menepuk punggungnya sendiri dalam gestur bangga karena suara yang ia keluarkan begitu stabil dan tegas.

Walau pun gelap, tapi Ichigo bisa merasakan kalau kedua alis sang vampir terangkat, "Kau ingin menimbulkan keributan?"

Ichigo terdiam. Lawan bicaranya itu memiliki poin yang tepat. Kalau sampai ia memberitahukan yang lain bahwa di sini saat ini ada seorang vampir yang menjemput dirinya untuk dibawa ke tempat Aizen, mereka semua pasti akan bersikukuh untuk mempertahankan dirinya, terutama Renji. Memutar bola matanya, Ichigo kemudian menghela nafas, "Baiklah... Hanya... Hanya saja bi-bisakah kau memberiku waktu untuk menulis pesan? Setelahnya, kita bisa langsung pergi." Keningnya berkerut semakin dalam saat menyadari kalau barusan ia sempat terbata-bata.

"... Baiklah. Tapi, jangan terlalu lama." Sang vampir kembali menguap dan merebahkan diri di atas ranjang. Ichigo bahkan merasa kalau ia mendengar suara dengkuran lembut beberapa detik setelahnya, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak menggubrisnya.

Berjalan ke arah meja di sisi ruangan, Ichigo menyobek secarik kertas dari buku yang ada di sana. Dengan cepat ia menuliskan pesan, dan kemudian menempelkannya di salah satu jendela beranda agar mudah terlihat. Ia kemudian berjalan menuju ranjangnya dan benar-benar sweatdrop ketika mendapati sang vampir memang tidur. Mulut terbuka, dan dengkuran yang tadinya lembut kini mulai mengeras.

... Padahal yang ia tahu, vampir itu selalu terjaga di malam hari.

"Hei... Hei, kau... Bangun..." Menepuk-nepuk lengan sang vampir, bermaksud membangunkan, semakin lama kerutan di dahi Ichigo semakin tebal hingga akhirnya urat kekesalan yang besar muncul di dahinya karena sang vampir tidak juga kunjung bangun. Dengan penuh kekesalan, sekuat tenaga Ichigo memencet hidung sang vampir, "BANGUN, SIALAN! BUKANNYA KAMU BERTUGAS UNTUK MEMBAWAKU PERGI? ! !"

Bukan berarti ia ingin sekali pergi sih, tapi yah, namanya juga lontaran kekesalan.

Dan kelihatannya caranya kali ini membuahkan hasil karena sang vampir tersentak bangun dengan mulut megap-megap berusaha mengambil udara.

Heh. Nampaknya vampir pun tidak bisa hidup tanpa udara ya?

Menggosok-gosokkan wajahnya dengan telapak tangan, sang vampir kembali menguap sebelum kemudian menatap ke arah Ichigo, "Ah, kau sudah selesai?"

"Sudah dari tadi," desis Ichigo.

"Bagus, bagus... Kalau begitu, ayo."

Sang vampir bangkit dari posisinya, tubuhnya nampak menjulang tinggi di hadapan Ichigo. Dan untuk sesaat, remaja bersurai oranye itu sempat merasa terintimidasi. Kedua matanya begitu terfokus kepada telapak tangan sang vampir yang terbuka di depan wajahnya, hingga dengan cepat ia merasa pandangannya memburam. Kesadarannya menghilang, membuat kedua kelopak matanya secara refleks menutup. Tubuhnya tersungkur ke belakang, dan dengan sigap sang vampir menangkapnya, menutupi tubuh mereka berdua dengan jubah yang dikenakannya.

Tidak sampai dua detik, tanda-tanda kehidupan di dalam kamar milik Ichigo Kurosaki pun menghilang. Tidak tahu akan kembali atau tidak. Meninggalkan seprai ranjang yang kusut, serta tirai yang melambai-lambai dihempaskan angin malam. Dan ketika angin mengencang, beberapa kertas yang berada di atas meja berterbangan, tapi tidak dengan secarik kertas yang menempel kuat di jendela.

'Jangan khawatir. Aku janji akan menemukan hal yang bisa memperbaiki kondisi kita.

Ichigo'

. . . . . . . . . .

TBC

Ah, ada yang sadar kalau saya ganti penname? XD"

Review?