Prince Hadhi ESP
Present
A fanfiction
"60 Days"
.
.
.
"Ingin rasanya aku menangis yang keras, ingin rasanya aku berteriak yang kencang, Ingin rasanya aku mengehentikan semuanya, menghentikan setiap pedih yang menghujam sanubariku. Pedih yang perlahan menghancurkan keyakinanku tentangmu. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Bukan karena aku tidak mampu melakukannya tapi karena Aku terlalu Mencintaimu."
.
.
.
This
Is
A
Third Story
.
.
.
Baekhyun perlahan memasuki kantor, hatinya saat ini berkecamuk tak tentu rasa. Rasa yang sangat sulit dijelaskan. Bahkan Baekhyun sendiri tidak mampu menjelaskan rasa itu. Bukan. Bukan karena dia takut salah tapi dia takut kalau rasa yang dia rasakan itu benar adanya.
"Oh, kau kembali, Baek?" tanya Kyungsoo saat Baekhyun memasuki kantor kembali. "Mengambil ponselmu?"
Baekhyun menoleh sahabatnya itu, dilukisnya senyuman diwajah miliknya "Iya, Soo aku lupa, hehehe." Baekhyun pun berjalan kearah meja kerjanya, dia menemukan ponselnya tergeletak diatas meja.
"Ketemu?"
Baekhyun mengangguk dan tersenyum, "Iya, terima kasih ya sudah menjaganya."
Kyungsoo tertawa kecil, "Kau itu, coba hilangkan sifat pelupamu itu, Baek."
Baekhyun lagi-lagi tersenyum, dia perlahan mendekati sahabatnya itu lalu memeluknya. Mendapatkan perlakuan yang tiba-tiba dari Baekhyun, Kyungsoo hanya diam , bberapa detik kemudia dia membalas pelukan Baekhyun.
"Ada apa? Emm?"
Baekhyun menggelengkan kepala, "Aku hanya ingin memelukmu saja, Soo."
"Aku tidak kemana-mana, Baek. Seolah-olah kita tak akan pernah bertemu selamanya." Kyungsoo membalas pelukan sahabatnya itu, di usapnya perlahan punggung itu.
Baekhyun melepas pelukannya, ditatapnya mata itu, mata bulat penuh keteduhan, mata yang selama ini tidak pernah membohonginya, mata yang selama ini selalu menampilkan kejujuran yang selalu Baekhyun percayai, "Kau sahabatku, Soo."
Kyungsoo menautkan kedua alisnya, bingung. "Kau kenapa, Baek? Emmm? Kau tidak sedang sakit kan?" Kyungsoo meletakkan punggung tangannya di kening sahabatnya itu, mencoba merasakan suhu tubuhnya.
"Bukan aku yang sakit, Soo. Tapi hatiku." Batin Baekhyun.
Baekhyun tersenyum, menangkup kedua pipi tembam Kyungsoo, "Aku tidak sakit, Soo. Aku baik-baik saja."
"Tapi sikapmu itu aneh, Baek."
"Entahlah, aku ingin sekali menyangkal apa yang kulihat tadi, Soo. Aku ingin itu bukan kau dan juga suamiku."
Baekhyun menggeleng dan tersenyum, lagi. "Hanya perasaanmu saja mungkin, Soo."
Kyungsoo menurunkan tangan Baekhyun dari pipinya lalu memeluk sahabatnya itu, "Kau aneh, sangat aneh, Baek. Ada apa? Tak bisakah kau cerita kepadaku?"
Baekhyun menyamankan dirinya dalam pelukan Kyungsoo, mempererat pelukan itu. entah, seperti ada sebuah rasa yang aneh dihati Baekhyun. Rasa yang begitu perih, perih yang terus saja terasa.
"Aku bukan tidak mau cerita padamu, Soo. Hanya saja, aku tidak mau apa yang aku takutkan terjadi."
"Aku sudah bilang tidak apa-apa, Soo."
Kyungsoo melepas pelukannya, "Ya sudah, kalau kau bilang begitu, aku percaya padamu. Sudah sana pulang, sudah gelap."
Baekhyun mengangguk, "Kau juga, jangan pulang terlalu larut."
"Iya."
.
.
.
.
Baekhyun sampai di apartemen miliknya dan Chanyeol, jemari lentiknya menekan tombol bel. Namun, tidak ada yang menyahut. Ditekannya kembali, tetap sama, tidak ada yang menyahut.
"Apa Chanyeol belum pulang, ya?" gumam Baekhyun sendiri, kali ini jemarinya bukan menekan tombol bel melainkan menekan tombol password apartemen-nya. Dibukanya pintu, gelap. Ya, ruangan masih gelap lampu-lampu ruangan belum dinyalakan.
Baekhyun berjalan menuju arah dapur, dia mendudukkan tubuhnya di meja makan. Kedua netra hitamnya menerawang jauh, menerawang kejadian yang sangat tidak ingin dia percaya. Kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu—Suaminya mencium Sahabatnya—di kantor tadi sore.
Kejadian itu, terus saja berputar dikepala Baekhyun. Suara Jam dinding berdetak memenuhi ruangan. Seolah menjadi pengiring disenja hari itu. Baekhyun beranjak, kakinya membawa dirinya ke balkon apartemen-nya. Angin malam semilir menyapa wajah dan tubuhnya.
Baekhyun tertawa bodoh sendiri, "Aku ini kenapa sih? Aneh. Ahh, lebih baik aku memasak untuk Chanyeol jika pulang nanti."
Kakinya pun melangkah kearah dapur, tangannya sigap membuka lemari pendingin. Mengambil beberapa bahan masakan. Seluruh ruangan dipenuhi bunyi potongan dari pisau, gemericik minyak dan harum masakan dari tangan Baekhyun. Tak lama hidangan yang dimasak Baekhyun matang. Ditatanya sajian itu diatas meja.
Baekhyun melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 18.50 KST, "Sepuluh menit lagi Chanyeol pulang." Gumamnya senang, terlihat dari wajahnya yang menyunggingkan senyuman khas miliknya.
Suara detakan Jam dinding terasa berdetak cukup keras, mengisi kesunyian diruangan itu. detik demi detik berlalu, tak terasa ini sudah dua jam berlalu. Makanan yag tadinya panas kini mendingin sudah—Chanyeol belum pulang.
Baekhyun menyandarkan tubuhnya kekursi yang sedang didudukinya, "Chanyeol kemana? Sudah jam sembilan, tak biasanya dia ulang larut."
Chanyeol memang tak pernah pulang larut malam, jam pulang kerja Chanyeol setiap hariya adalah jam tujuh malam. Hanya Baekhyun saja yang sering pulang malam, Chanyeol dengan setia menunggu dirumah atau jika memang sudah terlalu larut Chanyeol akan menelpon untuk menjemput Baekhyun.
"Lebih baik aku hangatkan saja makanannya, siapa tau Chanyeol pulang." Baekhyun beranjak membawa makanan yang dia masak—yang kini sudah mendingin—untuk dia hangatkan kembali.
Tak berapa lama, makanan yang sudah mendingin itu kembali hangat. Baekhyun menatanya kembali diatas meja, "Mungkin kali ini Chanyeol pulang."
Harapan mungkin hanya harapan, tiga jam beralu, seseorang yang ditunggu Baekhyun tak kunjung pulang juga. Baekhyun sudah lelah, maniknya tak terasa menutup membawanya kedunia penuh dengan fantasi-fantasi yang terkadang indah namun juga bisa buruk—Mimpi.
Seseorang pria jangkung memutar kenop pintu perlahan, dia pun menutup pintu yang telah dia buka pun dengan perlahan. Dia sangat tahu, ini sudah sangat larut malam. Bahkan, bisa dibilang pagi buta. Pria itu melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar.
Netra matanya menangkap cahaya di ruang makan, niatnya berubah. Kini kakinya melangkah menuju ruangan yang lampunya masih menyala itu. langkahnya terhenti saat kedua bola matanya melihat sosok pria yang sedang tertidur dimeja. Terlihat hidangan makanan—yang sudah mendingin lagi—tertata diatas meja.
Chanyeol merasa bersalah kali ini, tidak pernah sebelumnya dia membiarkan Baekhyun menunggu. Tak pernah sebelumnya dia tak memakan makanan buatan suaminya itu dan tak pernah dia membiarkan Baekhyun tertidur seperti yang dia lihat saat ini.
"Maaf, sayang."
.
.
.
.
Baekhyun menggeliat dalam tidurnya, dia membangunkan tubuhnya. Baekhyun merasakan tubuhnya terbalut sebuah selimut tebal. Dia mengernyitkan dahinya, setahu dia, dia tidak mengambil selimut semalam. Diregangkannya tubuh yang terasa sakit karena tertidur diatas meja makan. Diliriknya jam dinding, yang kini sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Astaga, aku kesiangan."
Baekhyun segera berlari kearah kamarnya, niatnya untuk membangunkan suaminya itu. Chanyeol paling tidak bisa bangun pagi kalau dia tidak dibangunkan Baekhyun. Tangannya membuka pintu kamar, tidak ada siapa-siapa disana. Baekhyun berjalan kearah kamar mandi. Disana juga tidak ada.
Baekhyun menduduki tubuhnya diatas kasur, menerawang "Apa semalaman Chanyeol tidak pulang?"
Manik Baekhyun menangka sebuah kemeja putih yang ada didalam keranjang tempat biasa pakaian kotor diletakkan sebelum dicuci. Baekhyun beranjak menuju keranjang itu, ditariknya keluar kemeja putih itu.
Baekhyun tersenyum, dia mengingat kejadian dimana dia memeberikan kemeja itu untuk suaminya. Ternyata Chanyeol sering memakainya. Dipeluknya kemeja itu.
"Kenapa wangi parfum Chanyeol berbeda?" gumam Baekhyun, saat sebuah wangi menguar bersama hembusan angin pagi yang berhembus melalui jendela kamar. Wewangian yang menelisik curiga hati Baekhyun. Diciumnya kembali kemeja itu, "Seperti punya..."
"—Kyungsoo."
FlashBack ON ...
"Baek, aku mau minta pendapatmu." Seru Kyugsoo, mendudukkan tubuhnya dimeja kerja Baekhyun.
Baekhyun yang saat itu sedang sibuk dengan berkas-berkas pasiennya, menghentikan sejenak kegiatannya. "Pendapat apa, Soo?"
Kyungsoo menarik tangan Baekhyun, tangan satunya mengambil sebuah benda dalam saku jas dokternya. Mengeluarkan sebuah botol kaca dan menyemprotkannya dilengan Baekhyun. "Menurutmu wanginya enak tidak, Baek?"
Baekhyun mendekatkan tangan yang disemprot parfum oleh Kyungsoo ke hidungnya, menikmati wangi manis dari parfum itu. "Enak, aku belum pernah mencium wangi seperti ini, Soo."
Kyungsoo tersenyum, dia menyemprotkan parfum miliknya ketubuh Baekhyun. "Aku khusus memesannya dari paris, Baek. Perpaduan Vanilla, Cherry dan daun Mint."
"Aku suka, Soo. Seperti aroma terapi, menenangkan."
"Sudah kuduga kau juga pasti suka, Baek."
"Lain kali boleh dong aku minta untuk mewangikan tubuhku, hehehe."
"Tentu saja, kau itu sahabatku."
FlashBack OFF ...
Baekhyun berjalan kearah cermin besar yang terpasang dikamar itu, tak jauh dari posisi Baekhyun saat ini. Baekhyun berdiri tepat didepan cermin itu, dilepasnya semua pakaian yang melekat ditubuhnya. Dipandangnya refleksi tubuhnya sendiri, dipandanginya setiap inci lekuk tubuhnya sendiri, mencari celah disana.
Kemeja kotor milik Chanyeol yang sedari tadi dipegangnya mulai dipakai, satu persatu kancing kemeja itu, menyisakan dua kancing yang tak dikancingkan. Baekhyun kembali memandangi tubuhnya yang kini berbalut kemeja suaminya itu, kemeja yang lumayan besar ditubuhnya yang mampu menutupi semua tangannya dan sebagian paha mulus miliknya. Wangi itu kembali tercium, wangi parfum sahabatnya di kemeja suaminya.
"Sudah sejauh itukah, Yeol?"
"Ini bahkan baru beberapa hari kau mengenalnya."
"Apa kau menyukainya?"
"Atau..."
"—Kau mencintainya, Yeol?"
Baekhyun berdialod pada bayangan dirinya dicermin, tubuhnya bergetar. Tangan kanannya menggenggam erat dada kirinya, terasa begitu menyesakkan disana. Baekhyun memukul-mukul dada kirinya, berharap rsaa sakit itu menghilang.
Mengalir sudah air matanya, air mata yang seharusnya bisa dia tahan, air mata yang seharusnya tidak lolos dari kedua matanya. Namun, sekuat apa pun Baekhyun mencoba, sekeras apa pun Baekhyun menahan semua. Dia hanyalah seorang manusia biasa, yang bisa sakit dan terluka.
.
.
" 60 days "
.
.
"Kau tadi kenapa tidak masuk, Baek? Tidak biasanya kau begitu" seseorag bertanya dari seberang sana.
Baekhyun tersenyum, telinganya sekarang sudah ada benda pipih berwarna putih—ponsel—miliknya. "Aku sedang tidak enak badan, Kai."
"Benarkah? Separah itukah ke'tidak enakan' badanmu, Baek?"
"Benar, Kai. Aku memang sedang tak enak badan."
"Kau bohong, Baek."
Baekhyun tersentak, dia memang bukan ahlinya dalam berbohong. Kai sangat tau siapa dirinya, Kai sangat tau seperti apa Baekhyun. Saat ini Baekhyun ingin sekali menyumpahi dirinya sendiri.
"Baek..."
"Maaf."
Terdengar suara tawa disana, "Aku tau siapa dirimu, Baek. Jangan mencoba berbohong padaku. Tidak inginkah kau bercerita padaku, emm?"
"Aku sedang tak ingin cerita, Kai."
"Aku tau, kau besok harus masuk. Banyak sekali pasien yang bertanya padaku tentangmu, Oke."
Baekhyun mengangguk, "Oke, aku pasti masuk besok."
"Annyeong."
"Ne, Annyeong."
.
.
.
.
"Sudah lama menunggu, Chagi?" seorang pria manis menyapa seseorang yang sedang menikmati secangkir espresso sambil memainkan gedget miliknya. Pria itu menoleh.
"Tidak, hanya lewat beberapa menit dari janji kita." Jawabnya saat pria manis itu sudah duduk dihadapannya.
"Maaf, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku dirumah sakit."
Pria dengan balutan kemeja maroon itu menggenggam tangan sang pria manis itu, "Tidak perlu minta maaf seperti itu, Soo. Kau tak salah apa-apa."
"Aku tentu salah Yeol, sudah membuatmu menunggu. Bahkan, aku melanggar janji kita."
Pria itu—Chanyeol—meletakkan jemarinya dibibir Kyungsoo, membuat Kyungsoo diam. "Ssstt, kau tidak salah apa-apa sayang, sudah lupakan saja. hari ini kan kita ingin berkencan."
"Hari ini, Baekhyun tidak masuk. Apa dia sakit, Yeol?"
Chanyeol mengerutkan dahinya, "Dia tidak masuk?"
Kyungsoo bingung, "Kau tidak tahu klau Baekhyun tidak masuk kerja hari ini?"
Chayeol menggelengkan kepalanya, "Tidak." Pikirannya melayang, dia beranggapan mungkin Baekhyun sakit karena dia membiarkan suaminya itu tidur dimeja makan.
"Kau ini."
"Nanti aku lihat keadaannya."
.
.
.
.
"Aku pulang." Terdengar suara Chayeol, Baekhyun yang sedang menata makanan diatas meja menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia menghampiri suaminya, seperti biasanya membawakan tas kerja suaminya.
"Baek."
"Iya."
Chanyeol langsung menaruh punggung tangannya ke kening suaminya itu, dirasakan suhu tubuh Baekhyun—normal.
"Kau sakit, Baek?" tanya Chanyeol dengan ekspresi dan nada suara yang khawatir.
Baekhyun tersenyum, dia sangat senang suaminya masih seperti dulu. Masih mengkhawatirkannya. "Aku tidak sakit, Yeol. Aku baik-baik saja."
"Kyungsoo bilang kau tidak bekerja hari ini, apa benar?"
"Kau bertemu dengannya?"
DEG~
Ah, bodohnya!
"Iya tadi aku bertemu dengannya, saat aku sedang meembeli kopi detempat biasa aku membeli kopi, Sayang."—Bohong.
Baekhyun merapihkan surai coklat suaminya yang agak berantakan, "Oh begitu. Ya sudah kau mandi, setelah itu kita makan."
"Baek."
"Hmmm"
Chanyeol mendekatkan wajahnya kearah Baekhyun, diberinya sebuah kecupan hangat. Kecupan yang awalnya lembut dan hangat kini agak menuntut. Bahkan, Baekhyun pun larut dalam permainan yang Chanyeol berikn padanya. Malam ini, mereka bercinta begitu lembut dan dalam, berbagi cinta satu sama lain.
.
.
"60 Days"
.
.
"Pagi."
"Hai, Baek. Sudah sehat?"
"Kai, aku tidak sakit. aku—"
"—Oke-Oke."
Baekhyun tersenyum sambil memukul kepala Kai karena saking gemasnya. Kai hanya mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya yang dipukul Baekhyun itu. baekhyun berjalan menuju meja kerjanya, dia mengambil beberapa berkas dan juga pena.
"Kau mau kemana, Baek?" tanya Kai saat Baekhyun ingin beranjak keluar dari ruangan.
"Sedikit udara segar mungkin lebih baik, kau mau ikut Kai?"
Kai menggeleng, "Tidak."
Baekhyun berjalan keluar kantor menuju kearah taman rumah sakit, ditaman itu berjejer rapi bangku-bangku kayu yang memang khusus disediakan untuk pasien atau para pengunjung rumah sakit. Dia mendudukkan dirinya di bangku yang berada di bawah pohon Maple yang saat ini daunnya sudah berubah menjadi warna merah.
Tangan ahli itu kini menulis hal-hal yang dibutuhkan pasiennya dalam menjalani perawatan dirumah sakit itu. Baekhyun memang sangat ingin seluruh pasien yang dia tangani pulang dalam keadaan sehat. Jadi, dia mengerahkan yang terbaik yang dia miliki.
"Kau disini, Baek."
Baekhyun menoleh, "Ah, iya, Soo. Kau disini juga?"
Kyungsoo mendudukkan dirinya disamping Baekhyun, "Aku diberitahu Kai, katanya kau ingin mencari udara segar. Aku pikir kau memang akan kemari. Tempat favoritmu dirumah sakit ini."
"Ada apa kesini?mencari udara segar juga, Soo?" tanya Baekhyun yang kini fokus kembali ke kegiatan menulisnya.
Manik bulat Kyungsoo melirik kepada sosok yang sedang sibuk dengan berkas-berkas dipangkuannya, "Aku ingin membicarakan sesuatu padamu."
"Apa?"
"Tentang..."
"Tentang?" baekhyun masih fokus menulis.
"Suamimu."
Sejenak Baekhyun menghentikan acara menulisnya saat telinganya dengan sangat jelas mengdengar Kyungsoo mengucapkan kata 'Suami'. "Kenapa?"
Netra Baekhyun masih belum beralih dari berkas-berkas milinya, terdengar suara hembusan nafas perlahan Kyungsoo. "Aku... Mencintainya, Baek."
Semilir angin bulan oktober berhembus, semilir angin dingin yang menyapa dua insan yang sedang duduk ditengah taman. Guguran daun Maple pun tak mau kalah memberikan aksen indahnya saat angin itu berhembus melewati dahannya.
Baekhyun menyandarkan tubuhnya dibangu kayu, memejamkan matanya merasakan semilir angin menerpa wajah lelahnya. "Kau mencintai suamiku?"
Kyungsoo menghela nafas berat, "Iya."
"Sejak kapan?"
Kyungsoo mengubah posisi duduknya, "Sejak pertama kali kami bertemu dan kau memeperkenalkannya padaku."
"Sudah ku duga."
"Soo."
"Aku tahu ini salah, Baek. Tapi, aku benar-benar mencintainya."
"Soo."
"Kami sudah berpacaran."
"Soo."
"Kami pun sudah melakukannya."
Membeku sudah, semua hal, semua kata, yang ingin Baekhyun lakukan. Kini membeku sudah. Gemerisik bunyi gesekan dahan menambah suasanya menjadi begitu memilukan. Ya, memilukan untuk Baekhyun, saat dia tau sahabatnya bahkan telah terlalu jauh bermain dengan suaminya tanpa dia ketahui.
Baekhyun memejamkan kedua matanya,
—Lelah.
Tak terasa bulir-bulir bening itu mengalir, lolos keluar dari kedua mata lelah itu. lelah menangis, lelah menatap apa yang seharusnya tak dilihatnya, lelah membohongi apa yang sudah dilihatnya.
"Baek, maafkan aku."
Baekhyun membuka kedua matanya, diusapnya air mata itu perlahan. "Tidak perlu meminta maaf seperti itu, Soo."
"Kau pasti terluka, Baek."
Baekhyun memandang sahabatnya itu sahabat yang selalu dia percaya, sahabat yang dia sayangi dan sahabat yang dia banggakan selama ini. "Aku sudah biasa terluka, Soo."
"Baek."
Baekhyun menghela nafas, "Telpon Chanyeol, Soo. Suruh dia menemui kita di kafe dekat rumah sakit."
"Untuk apa, Baek?"
"Kita perlu bicara bertiga, Soo."
"Kenapa harus aku, Baek?"
Baekhyun tersenyum sambil memegang pundak Kyungsoo, "Karena hanya kau yang akan dia dengar saat ini, Bukan aku."
.
.
TO BE CONTINUED
