.

.

MATRIMONY

Chapter 4

.

.

-::-


"Ugh," Ying mengerang. Rambutnya tergerai di atas bantal, dan ia berbaring di ranjang yang terletak di tengah-tengah ruangan. Kamar itu luas dan gelap, bukan karena matahari tak masuk ke kamar itu, tapi karena dindingnya dicat dengan warna hitam jelek. Segala sesuatu di ruangan barunya itu berwarna hitam. Demons memiliki afinitas untuk warna.

Hampir satu minggu sejak ia berdiri di altar dan bertukar sumpah dengan suaminya. Setiap malam, ia menangis sampai tertidur. Suaminya telah membuat semuanya jelas, bahwa suaminya itu tak ingin ia berada di hadapannya.

Perpisahan mereka adalah bukti. Saat ini, ia tinggal di sebuah kamar di sayap timur istana, sementara suaminya tinggal di sayap barat. Ia belum bertemu suaminya sejak resepsi pernikahan. Satu-satunya orang yang berinteraksi dengannya adalah para pelayan, yang bergumam diam-diam menghinanya.

Ia benci tempat ini. Ini seperti penjara. Para penjaga menolak untuk membiarkannya menginjakkan kaki di luar istana, tak peduli seberapa keras ia memohon... dan memaksa.

Hal-hal yang membuatnya bertambah buruk adalah, kerinduan dan keinginannya untuk bertemu suaminya secara intensif setiap hari. Pada titik ini, sakit itu hampir tak bisa ditoleransi. Rasa sakit itu seperti luka bakar di denyut jantungnya yang berlangsung lama. Ying tahu jika ia tak bertindak cepat, mentalnya akan memburuk.

Pikirannya melayang ke malam pernikahannya dan bagaimana kacaunya saat itu. Suaminya telah mencoba untuk menuntunnya. Namun, itu tidak memungkinkan suaminya untuk melakukan tanpa persetujuannya.

Frustrasi, Ying menendang selimut dari tempat tidur dan membanting pintu hingga tertutup. Ia tak bertemu suaminya sejak saat itu, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang suaminya lakukan dan lakukan saat ini.

Hanya berpikir tentang malam yang mengerikan itu membuat air matanya mengalir.

Ia mengira kekejaman suaminya tak lebih dari kata-kata yang diutarakan padanya di altar, tapi jelas ia telah keliru.

Tiba-tiba, ia merasa mendapatkan dorongan untuk memecahkan sesuatu. Mungkin jika ia bertindak gegabah, ia akan mendapatkan perhatian suaminya. Ia meraih salah satu vas dan melemparkannya ke dinding. Vas itu hancur dengan bunyi keras dan menarik perhatian penghuni istana. Pelayan yang segera berdiri di balik pintu, menanyakan apa yang terjadi.

Ia mengatakan pada mereka jika tak ada yang terjadi dan menghancurkan vas lain. Ia terus menghancurkan kamarnya yang mengerikan itu, bahkan lemari pun tak luput dari amukannya. Menggunakan kekuatan malaikatnya, ia mengangkat lemari kayu itu dan melemparkannya hingga menghantam dinding, menghasilkan patahan-patahan kayu.

Pintu kamarnya terbuka lebar, dan suara terkejut meledak dari pelayan.

"Putri!" Salah satu dari mereka berteriak.

"Kami mohon taruh kembali meja itu!"

Ying mengangkat meja dengan satu tangan dan menggerak-gerakkannya ke sekitar, mengancam. "Beri aku satu alasan kenapa aku tak boleh melakukan ini."

"Pangeran akan marah!" jawab seorang gadis bodoh, salah satu pelayan muda.

Jawaban yang salah.

Para pelayan menjerit dan menghilang dari balik pintu. Jika mereka terus berdiri di ambang pintu, mereka akan hancur terhantam meja berat yang dilempar Ying.

"Panggil penjaga, sang putri sudah gila!" teriak salah satu pelayan yang lebih tua.

Lima penjaga, tinggi dan kekar, datang menerobos ke kamarnya, memegang perisai siap untuk menangkis serangan dari Ying. Ying mengepalkan tinjunya dan memelototi pria yang berkeringat gugup itu. Mereka tahu bahwa mereka tak bisa menghentikan sang putri jika sang putri sendiri serius memutuskan untuk merusak sesuatu. Pengalaman masa lalu membuktikan banyak.

"Sekarang putri..." Kapten penjaga mengulurkan tangannya entah bagaimana menyalurkan pikiran positif pada putri mereka. "Apakah ada sesuatu yang Anda inginkan, yang bisa saya lakukan untuk Anda?"

"Aku ingin suamiku, di sini." Ying menuntut dingin.

"P-Putri." Sang kapten berkeringat. "P-Pangeran berada di negara lain mengurus hal diplomatik."

"Kau bohong," Ying menggelap. "Aku bisa merasakan dia berada di sini. Dia masih di negara ini. Di mana dia?"

"Sial," gumam sang kapten pelan. Ia tak menyangka sang putri dapat melihat kebohongannya. "Pangeran tidak bisa ditemui saat ini."

"Tidak bisa? Omong kosong apa itu breng—" Ying menahan napas sebelum ia kelepasan mengucapkan kata-kata kasarnya. "AKU ISTRINYA! Aku tak perlu membuat janji untuk bertemu dengannya! Aku ingin dia di sini, SEKARANG! Tuhan bantu aku, aku bersumpah akan mematahkan segala sesuatu di ruangan ini."

"Jujur, putri," Seorang gadis pelayan mengintrupsi. "Tidak ada yang tahu di mana pangeran sekarang." Ying merasakan bahwa gadis itu tak berbohong dan ia menghentikan omelannya. "M-Mungkin aku bisa memberi saran, putri?"

Ying melipat kedua tangannya di dada dan mengangguk.

"Mungkin Anda harus bertanya pada salah satu teman pangeran. Master Boboiboy atau Master Gopal mungkin."

"Di mana aku bisa bertemu mereka?"

"Master Boboiboy tidak berada di istana lagi. Dia telah pindah ke istananya sendiri ketika dia menikah. Namun, Master Gopal masih berada di istana, dia tinggal di sayap barat, dekat dengan tempat sang pangeran. Mungkin akan lebih bijaksana jika Anda berkonsultasi dengannya?" Kapten menyarankan.

"Benar," jawab Ying. Ia terganggu dengan para penjaga yang masih gelisah seolah-olah ia akan membuat langkah buruk setiap detiknya. "Jangan khawatir. Aku berjanji tidak akan melakukan apapun lagi. Aku hanya... aku hanya ingin tahu di mana suamiku."

Sekilas, perhatian yang tulus melintas di wajah sang kapten penjaga. "Saya yakin Anda akan menemukannya."

Ying menerobos melewati pelayan dan penjaga yang membiarkannya pergi, ia berjalan sekitar 10 menit sebelum mencapai sayap barat. Sayap barat mirip dengan sayap timur dalam banyak hal.

Dinding dicat hitam, begitu pula ubin lantainya. Lampu lorong yang redup dan tenang. Koridor yang mirip di film horor.

Dan kemudian ia mendengar sesuatu. Sebuah suara begitu mengerikan dan menghebohkan.

"Ooooh baby... Y-Yess! F-Fuck me."

"Lebih cepat, Sayang."

Suara bercinta merusak telinganya dan menghilangkan tujuan awalnya. Kini yang bisa ia pikirkan adalah bahwa telinga perawannya telah kotor.

Dan yang membuatnya bertambah buruk, suara-suara yang memalukan itu datang dari kamar suaminya. Kesimpulan negatif mulai terbentuk di kepalanya.

Apakah ia begitu menjijikkan hingga suaminya lebih suka untuk menggunakan pelacur daripada bersamanya, istrinya? Apakah dia benar-benar enggan dengannya?

Tapi kau menolaknya, itu wajar untuk iblis seperti dia, untuk mencari sumber lain dari kesenangannya, suara dalam pikirannya mengejek. Diam, ucap Ying pada dirinya sendiri.

Ying tak mengerti apakah ia mengepalkan tinjunya karena marah atau terkejut. Ia hanya bingung. Segera mendapatkan kembali kontrol tubuhnya, ia menendang pintu itu dengan keras. Pemandangan yang menyambutnya benar-benar berbeda dari apa yang ia bayangkan.

Ia menemukan seorang wanita bersama pria gempal setengah telanjang. Ia bersyukur bahwa itu bukan suaminya dan ia telah terjebak dalam suatu tindakan yang mengerikan sekarang.

Tunggu sebentar, pikir Ying. Kenapa di dunia ini ada dua orang berhubungan seks di kamar suaminya?

Pria berbadan gempal, yang Ying asumsikan adalah Gopal, menggeram marah sebelum ia bisa melihat persis siapa yang menganggunya. "Apa-apaan! Sial, kau pikir kau siapa mengangguku? Aku akan membunuh... Oh... Sial..."

"Putri," Gopal melompat dari tempat tidur, meninggalkan pasangannya terbaring di sana. Wanita itu tampak benar-benar keenakan.

Ying menyadari otot-abs Gopal yang padat saat ia berjalan ke arahnya setengah telanjang. Ia berusaha untuk tidak melihat otot-otot perut pemuda itu, dan memutuskan untuk menundukkan kepalanya. Sebuah kesalahan besar.

Matanya segera melihat tonjolan besar di celana pemuda itu.

Malu, Ying memerah dan memejamkan mata, mencoba untuk menghapus pemandangan itu dari pikirannya, tapi kerusakan telah terjadi. Sekarang mata perawannya ikut-ikutan kotor juga.

Gopal tersenyum atas ketidaknyamanan sang putri, dan memutuskan untuk menggodanya sedikit. Ia mendekati sang putri sehingga hembusan napasnya benar-benar menerpa wajah gadis itu. Menggenggam pergelangan tangan sang putri, ia membimbing jari-jari mungil itu ke dada dan perut berototnya.

Ying mencoba protes, tapi usahanya sia-sia. Ia merasa tertarik dan penasaran juga. Jadi bagaimana rasanya...

"Kau si mungil yang lucu," Gopal mengejek, menusuk hidung Ying dengan jarinya, seperti majikan pada anjingnya. "Fang adalah bajingan beruntung, bukan? Semua dalam dirimu hanya untuk dia sendiri... Bayangkan hal yang bisa kulakukan dengan seorang wanita... seperti dirimu."

Oh Tuhan, Ying tak mampu menahan pesona si Gopal ini. Pemuda itu cukup memiliki lidah perak, tak seperti suaminya.

Suaminya. Suaminya! "Di mana Fang?"

"Ah-Ah-Ah!" Gopal menggeleng dan menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan. "Jika aku memberitahumu, kau harus memberikan sesuatu sebagai balasannya."

"Kedengarannya adil," jawab Ying.

"Cium aku," Gopal memerintahkan tegas. "Tapi tidak seperti kau mencium Fang. Itu menyedihkan."

"A-Apa?" Ying berubah merah lagi. Gagasan itu benar-benar tidak masuk akal baginya. "Apa kau idiot?"

"Tidak, tapi jika kau membuang-buang waktu, mungkin Fang telah bercinta dengan wanita lain. Apa yang menjadi pilihanmu, putri?"

Ying berpikir keras dengan pilihan berat itu. Jika ia membiarkan Gopal menciumnya, ia tak akan setia pada suaminya, tetapi jika ia tak membiarkan Gopal menciumnya, suaminya akan melakukan hal-hal yang tak setia padanya.

"Oke," bisik Ying seolah ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka. "Ayo kita mulai." ia menutup matanya dan mengerucutkan bibirnya, tapi tak ada apapun. Yang ia dengar malah suara tawa.

"Ahahahahaha!" Gopal tertawa hingga mengeluarkan air mata. "Kau benar-benar berpikir aku akan menciummu? Oh Tuhan, kau sangat polos seperti yang mereka katakan tentangmu. Biar kuajari sesuatu, putri. Demons adalah makhluk yang sangat posesif. Aku mungkin teman terbaik Fang, hanya temannya. Yeah tidak termasuk Boboiboy, dia gay... Kecuali ia menikah dengan Yaya... Oke aku berbohong tentang Boboiboy, jangan percaya. Aku mungkin menjadi teman terbaik Fang, tapi dia akan membunuhku dalam sekejap jika aku berbagi momen intim denganmu. Inilah sifat iblis. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika seseorang mencoba untuk menyentuh pasanganku."

"Itu informasi cukup penting."

"Itu yang kau bilang," Gopal menyeringai. "Maaf tak bisa menahan diri tadi."

Ying tak mengerti mengapa ia tersenyum setelah mendengar informasi itu.

"Oh tidak... Serius? Kau tak pernah MENDENGAR ini sebelumnya?" Gopal menepuk dahinya. "Tadi kau bilang 'itu informasi cukup penting'. Lalu kubilang 'itu yang kau bilang' karena—kau tahu apa? Sudahlah! Kau memang terlalu murni. Oh Tuhan, ini menyakitkan berada di depan makhlukmu yang murni. Aku tak layak untuk bernapas menghirup udaramu."

Ying menggeser kakinya, menyebabkan Gopal untuk bergerak dan menutup pangkal pahanya.

"Apa?" tanya Ying, ia bertanya-tanya kenapa Gopal bertindak begitu aneh dan defensif.

"T-Tidak." Gopal tergagap. "Aku menghargai permataku, itu saja."

"Oh," Ying mengerjap, seakan baru memahami segalanya. "Kau... Oh."

"Nah, jadi? Apa yang terjadi," kata Gopal. "Sekarang kita bahas hal-hal yang lebih penting seperti pertanyaanmu mengenai lokasi Fang saat ini. Aku takut aku tak memiliki jawaban yang akurat. Yang bisa kukatakan mungkin dia sedang berada di salah satu dari sekian banyak klub minum dan tak ada yang tahu dia dengan siapa."

Ying tak bisa menyangkal, ia merasa terluka oleh kata-kata Gopal. Ia mengutuk sentimentalitas bodohnya. Air mata menyelinap di pipinya.

"Oh sial," Gopal mengutuk. Ia menarik sang putri dan memeluknya di dada. Tindakan kecil itu cukup untuk membuang sedikit rasa sesaknya. Sang putri mulai menangis. Air mata mengalir di wajahnya, membasahi kulit Gopal. Pemuda itu, bagaimanapun, tak keberatan. "Putri, aku minta maaf. Aku tahu ini tak mudah. Ssst... Ada aku sekarang. Tidak apa-apa."

Fang, kau sialan, pikir Gopal marah. Keinginan untuk membunuh sahabatnya itu sangat besar. Apa yang kau lakukan pada gadis ini? Sekarang yang ia ingin lakukan adalah menemukan Fang dan menghilangkan sifat buruk sahabatnya itu pada sang istri. Jujur, bahkan Fang tak cukup bodoh untuk tidak melihat lezatnya sang putri ini.

Ying tetap menangis. "Apa yang harus aku lakukan?" ia bersandar di dada Gopal, merasa sangat lemah dan mengantuk. Untuk beberapa alasan, ia percaya pada pemuda gempal ini. Sesuatu di mata pemuda itu mengatakan bahwa dia dapat di percaya. "Aku berharap aku tak mencintainya. Aku berharap aku bukan malaikat. Aku akan berubah menjadi iblis dalam sekejap jika itu memang bisa membuatnya melihatku..."

Ketulusan dalam suara Ying membuat hati Gopal hancur. Ia tak lagi memasang senyum menyenangkan di wajahnya. Tergantikan dengan ekspresi tegas.

Fang pasti tak buta untuk melihat cinta dan kesetiaan wanita indah ini untuknya.

Sebelumnya, hanya ada satu orang yang patut dihormati oleh Gopal, tapi sekarang ada dua, yaitu: dirinya sendiri dan sang putri malaikat.

Ia Gopal, seorang mogul media, pengusaha, selebriti, dan terkenal di dunia playboy. Orang lain tak akan menjadi selebriti kecuali ia menyetujui mereka. Mode tren tak akan menjadi tren kecuali ia berpikir mereka cukup tren. Ia seorang pria dari prospeknya sulit untuk menyenangkan orang dan berteman, tapi sang putri telah melakukan hal dengan cara yang paling sederhana untuk meluluhkannya.

Ia hanya terlalu sulit untuk membenci sang putri. Ia tak tahu bagaimana Fang bisa melakukannya.

Menatap mata kristal sang putri, membuat Gopal tersipu. Untuk pertama kalinya, ia mengalami kesulitan melakukan kontak mata dengan seorang wanita. Mata sang putri yang menusuk dan tampaknya tengah mengamati jiwanya.

Hukum Prompto di dunia adalah: Dia tak pernah tersipu. Dia membuat orang lain tersipu.

Tapi sial, ia diam-diam mengamati sang putri ini. Cantik, pinggul lezatnya yang sempurna untuk melahirkan anak, dan sosoknya yang sangat menggoda dan lezat. Para jalang di luar sana jauh sekali jika dibandingkan dengan sang putri, dan bagian terpanas adalah pantat gadis itu sampai saat ini.

"Putri..." Gopal menyenggol dengan lembut.

"Hmm?" Ying menjawab, membuka bibirnya dengan polos. Namun, Gopal dan pikiran kotornya melihat tindakan itu sebagai tindakan hasrat seksual.

Sial, Gopal mencoba menekan dirinya. Denyutan di antara kakinya mencapai titik di mana ia serius ingin melepas celananya untuk meringankan sakit di pangkal pahanya.

Menelan nafsunya, Gopal menemukan kekuatan untuk menyelesaikan ucapannya. "Ayo kita simpulkan beberapa hal. Pertama, Fang tak mencintaimu. Mungkin dia gay, yang sangat kuragukan, atau mungkin karena dia hanya menyangkalnya. Aku cukup yakin itu yang terjadi; ia menyangkal banyak hal seperti cintanya pada krayon, jangan katakan padanya aku mengatakan ini. Dan kemungkinan kedua, Fang sedang sakit parah karena ingin bercinta denganmu, tapi tak bisa."

Ying mengangguk. "Kedengarannya benar."

"Kau memiliki kesempatan besar. Bahkan, kau bisa memiliki Fang dalam genggamanmu."

"Bagaimana?"

"Demons menyukai seks, sangat menginginkan hal itu. Kami dikenal sebagai monster di tempat tidur dengan kemampuan dan keterampilan untuk menyenangkan diri kami sendiri dan pasangan kami semaksimal mungkin. Namun, itu hanya berlaku untuk pure-blooded sepertiku dan Fang. Itu sebabnya wanita banyak berpikir bahwa kami adalah dewa saat di tempat tidur." Gopal membual main-main. "Tentu saja dorongan seksual yang kuat juga kelemahan kami. Jika kami menjauhkan diri dari seks menyenangkan—yeah aku berkata menyenangkan karena bertentangan dengan pendapat seks populer yang hanya menyenangkan kadang-kadang—untuk jangka waktu yang lama, kami akan menjadi sangat bergairah dan gila. Kurasa Fang ada pada tahap ini, apalagi ia belum menyentuhmu hampir seminggu."

"Tapi dia bisa mendapatkan orang lain yang bisa memuaskan dirinya," Ying menyatakan dengan tak suka. "Kau bilang sendiri. Wanita berpikir dia... dewa... di tempat tidur."

"Tidak," sergah Gopal. "Fang dalam situasi yang berbeda. Dia telah menjadi pasanganmu, sehingga dia takkan peduli dengan siapa dia bercinta atau seberapa luar biasa seksnya, dia tak akan pernah puas sampai dia tenggelam di dalam dirimu. Jika dia bercinta dengan yang lain, keinginan untuk bercinta denganmu akan tumbuh. Dan akhirnya akan membangun ke titik yang harus Fang pilih, memotong penisnya atau mengambil tindakan dan memperlakukanmu seperti yang seharusnya. Kau mungkin tak akan membiarkannya menyentuhmu sampai dia cukup layak, dia memiliki banyak hal yang harus dilakukan untuk memenangkan cintamu."

"Tapi ada masalah. Aku seorang malaikat dan aku memiliki kelemahan juga. Keadaanku akan memburuk karena tak mendapatkan kontak secara konstan dengan suamiku. Aku akan bertahan seminggu sebelum aku gila dan mulai berhalusinasi," kata Ying. "Seandainya aku mati, Fang dapat mencari pasangan baru untuknya, untuk melengkapinya."

"Sial," Gopal mengutuk. "Itu benar-benar masalah. Jadi pada dasarnya ini adalah pertempuran untuk melihat siapa yang bertahan lebih lama. Fang memang keparat. Dia akan serius untuk melakukan hal ini."

"Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan," bisik Ying, suara dinginnya runtuh. Ia merasa menyedihkan dan tak berdaya.

Gopal menepuk kepala Ying dan mengacak-acak rambutnya. "Apa kau percaya padaku?"

"Itu pertanyaan yang cukup absurd," Ying mengangkat alis. Ia memiringkan kepalanya untuk melihat pesona mata Gopal, yang begitu lembut dibandingkan dengan mata biru dingin suaminya. "Anggap saja aku tak mempercayaimu."

"Cukup adil," Gopal meraih tangan Ying. "Ikut aku. Kita harus bersiap-siap untuk ini."

Sebelum Ying bisa memprotes, Gopal menyeretnya melewati lorong-lorong tak berujung dan koridor istana. Para pelayan yang mereka lewati memberi tatapan ingin tahu, tapi tak berani mengatakan apa-apa.

"Kenapa ada begitu banyak kamar di tempat ini?" tanya Ying saat mereka berjalan bersama. "Aku tahu ini sebuah istana, tapi apa perlu untuk memiliki seratus kamar per-lantai di istana?"

Gopal hanya mengangkat bahu. "Fang berpikir itu perlu. Dia ingin mempunyai 20 anak, kurang lebih."

Ying memucat. "Kau tak serius."

"Aku hanya mengatakan apa yang dia katakan."

Mereka tiba di depan pintu besar, pintu abad pertengahan yang mengarah ke ruang yang sebenarnya milik Gopal. Gopal menarik gagang besar pintu itu dan membukanya. Ying terkesiap pada desain indah ruangan itu. Dinding tak dicat hitam, melainkan putih. Di tengah ruangan itu, tempat tidur sederhana namun elegan yang cukup besar untuk memenuhi tak lebih dari dua orang. Gopal menyibak tirai untuk mengungkapkan pemandangan spektakuler.

Dari balkon, Ying bisa melihat laut dan lampu-lampu di pusat kota. "Ini indah," Ying mendesah.

"Yeah, yeah," Gopal melambaikan tangannya perlahan. "Kemarilah." Gopal membuka pintu lain. Ruangan itu adalah sebuah studio, mirip dengan studio seniman dan fotografer profesional yang digunakan untuk tempat bersantai mereka. Terdapat peralatan top-notch: kamera, mikrofon, radio, dll.

"Selamat datang di kantorku," Gopal tersenyum dan menjulurkan lidahnya ke sisi mulutnya. Ying menyadari bahwa Gopal suka menggerakkan lidahnya di sekitar mulutnya. Mungkin itu menjadi kebiasaan, pikirnya. Ying seharusnya malu dengan inspeksi dekatnya pada Gopal, tapi ia tidak. Ia mulai merasa Gopal seperti saudara baginya.

"Tunggu, aku harus membuat panggilan cepat."

"Oke, tak masalah." jawab Ying. Ia menggunakan waktunya untuk melihat semua foto yang menghiasi dinding. Semua foto-foto itu kebanyakan adalah foto Gopal dan selebriti terkenal. Ia mengamati salah satu dari foto itu dan hampir—cukup—memekik gembira.

Seseorang yang berdiri di samping Gopal dalam gambar itu sangat lucu. Meskipun ia tak akan pernah dalam hidupnya berani mengungkapkannya, ia, seorang putri yang memiliki titik lemah, menyukai penyanyi seperti Roxas Hikari, yang telah menyita dunia pada usia empat belas.

Selama dua tahun, dia telah mendominasi tangga lagu dan menarik perhatian orang dari segala usia dan ras. Saat ini, dia sedang mengerjakan sebuah album baru. Ying tahu semua ini karena adiknya, yang bercita-cita untuk menjadi seorang musisi sendiri, terobsesi dengan remaja pirang itu.

Gopal datang dan menatapnya lucu. "Kau tampak senang? Sesuatu terjadi saat aku pergi?"

Ying menunjuk gambar Roxas. "Kau mengenalnya?"

"Tentu saja!" Gopal berseri-seri dengan bangga. "Aku yang melahirkan dia... Yeah mungkin seharusnya aku tak bicara seperti itu. Biar kuulangi bahwa, aku yang melahirkan karirnya, mendaftarkan namanya dalam daftar selebriti dan aku akan memberitahumu yang memulai karir mereka... adalah aku."

"Bisakah kau mengaturnya untuk bertemu denganku? Y-Ya bukan aku, tapi adikku akan senang untuk bertemu dengannya." Ying berkata sedikit jujur.

"Apapun yang kau inginkan, putri." Gopal mengedipkan mata. "Untuk membuktikannya, biarkan aku memanggilnya sekarang." Gopal mengeluarkan ponsel dan menekan beberapa nomor.

"Hei boo! Bagaimana kabarmu sobat? Apa? Kau ingin konser di pusat kota? Tentu, apapun untukmu. Hei dengar, aku memiliki seseorang di sini yang ingin berbicara denganmu. Dia seorang penggemar."

Ying memelototi Gopal.

"Ini untukmu, putri," Gopal mengulurkan lengannya yang memegang ponsel.

Waktu terasa berhenti, Ying membeku. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Oh bintangku," Gopal terkekeh. "Kau tersipu! Oh Tuhan, putri!"

"Diam," Ying mendapatkan kembali ketenangannya dan mengepalkan buku-buku jarinya, mengancam untuk melakukan sesuatu yang menyakitkan. Ia perlahan maju ke arah Gopal.

"Hei Roxas," suara Gopal tergagap berbicara pada ponselnya. "Aku harus pergi, b-bye!" mematikan ponsel dan menghadap sang putri, "Putri tenanglah. Itu hanya lelucon. Tidak ada dendam, kan?"

Ying gusar dan melipat tangannya. "Terserah."

"Oke sekarang kembali ke masalah. Duduklah di sini," Gopal memberi isyarat untuk Ying agar duduk di salah satu kursi berputar. Ying menurut dan mendapati dirinya menghadapi cermin.

"Jangan bergerak." Gopal meraih kuas dan menggerakkan pada rambut Ying, mengurai setiap simpul. Berikutnya, ia menggunakan sebuah alat rambut untuk meluruskan dengan sempurna rambut gadis itu.

"Apa yang—"

"—Ah, Ah, ah. Percayalah." Gopal menerapkan makeup di wajah Ying, dan terakhir disempurnakan dengan perona cahaya. Ia kemudian menghilang di balik pintu kamar lain, dan kembali dengan gaun hitam di tangannya.

"Pakai ini."

"Kau pasti bercanda. Aku tak akan cocok dengan itu, ditambah lagi aku tak ingin tertangkap mati mengenakan gaun itu." Ying menggeleng cepat.

Gopal memutar matanya. "Pakai saja. Kau mau memakai ini sendiri atau aku yang akan memakaikannya, aku akan dengan senang hati melakukan itu. Pilihan ada di tanganmu."

"Baik!" teriak Ying. "Berbalik dan jangan berani melihat."

"Aku akan membayangkannya, tapi aku berjanji tak akan melihat."

"Kau terlalu berharap."

"Aku tahu."

Ying membuka baju dan celananya dengan cepat. Lalu menyelipkan lengannya ke gaun itu dan merapikannya di tubuhnya. Tidak pernah ia membayangkan akan memakai hal seperti ini lagi. "Kau bisa berbalik sekarang."

"Oh Tuhaan," Gopal tertawa, ia mengamati Ying secara menyeluruh.

Ying menyipitkan mata. "Kau tak perlu memikirkan hidupmu sebentar lagi jika kau terus menatapku begitu."

Ancaman Ying menyebabkan Gopal tertawa lebih keras. Lalu ia memberi isyarat pada Ying untuk berbaring di salah satu sofa. Di belakang sofa itu terdapat layar hijau sedikit abu-abu. Ying melakukan seperti yang diperintahkan dan berbaring di sofa dengan kepala disangga oleh satu tangannya. Saat ia melakukannya, gaunnya meluncur ke bawah, menunjukkan cukup jelas belahan dadanya. Ia mencoba menariknya untuk merapikan kesopanannya, tapi Gopal menghentikannya.

"Biarkan saja," Gopal menyarankan. "Semuanya akan baik-baik saja."

"Tentu saja tidak apa-apa untukmu. Bukan dadamu yang tertangkap kamera," Ying bergumam, tak senang dengan situasi ini.

"Aku bisa melepas kemejaku jika itu akan membuatmu merasa lebih baik," Gopal menyeringai dan mengangkat kemejanya.

"Tidak tidak!" Ying berteriak cepat. "Cukup sudah sekali seumur hidup..."

Menyiapkan kamera di tripod, Gopal juga menyiapkan beberapa alat dan menyesuaikan lampu. Ia memastikan semuanya berada di tempat yang tepat. Sementara ini, Ying masih tetap dengan posisi seperti yang ia perintahkan tadi.

"Oke," Gopal berseri-seri cerah. "Semuanya sudah siap." Wajahnya menghilang di belakang lensa kamera mahal itu. "Tunggu. Bisa kau memberiku senyum menggoda?"

Meskipun ini hal baru, Ying mencoba melakukan yang terbaik untuk terlihat 'menggoda'.

Gopal muncul kembali di balik lensa dan tampak sedih. "Sayang sekali, aku pernah melihat bayi yang baru lahir terlihat lebih menggoda darimu."

"Yeah aku minta maaf aku benar-benar tak bisa melakukan hal semacam ini!" Ying membentak marah.

"Ini," Gopal menunjuk ke depan lensa. "Wajah Fang. Bayangkan ini Fang. Sekarang Fang di sini untuk melihatmu. Beri dia tampilan yang akan membuatnya menginginkanmu. Buatlah dia menyesal setiap saat karena menghabiskan waktu jauh darimu."

Dengan dorongan itu, Ying memiringkan dagu ke bawah dan melihat ke kamera dengan mata lebarnya, mata polosnya. Ia membentuk bibirnya menjadi mengerucut lezat, dan membayangkan bahwa ia akan memberi suaminya ciuman hangat dan penuh kasih. Kamera diklik cepat dan dengan cahaya silau yang tak kalah cepat.

"Oh Tuhan," ia mendengar Gopal mengerang. "Ini adalah hal paling terpanas yang pernah kulihat."

Ying bergeser ke posisi duduk dan mengusap sikunya. Sikunya terasa sakit karena menanggung beban berat badannya. "Apa sudah selesai?"

"Kau bercanda?" kata Gopal. Ia mengangkat baju renang one-piece, jas hujan kasual, dan beberapa potong pakaian lainnya. "Kita bahkan baru mulai!"

.

.

.

Fang mengerang untuk keseratus kalinya hari itu. Tak ada minuman atau seks yang bisa meredakan ketegangan yang tumbuh dalam dirinya. Rasa panas dan nyeri itu mengaburkan indra perasanya. Ia mengangkat gelasnya lagi dan meneguknya habis dalam sedetik.

Jiwa iblis dalam tubuhnya menangis menginginkan pasangannya. Menginginkan sebuah tindakan untuk memuaskannya. Tapi ia tak akan tunduk pada keinginan tubuhnya dan mengorbankan harga dirinya untuk berbaring bersama istrinya. Tidak, harus ada cara lain untuk melawan sakit ini dan kerinduannya.

"Persetan!" Fang mengumpat keras saat pangkal pahanya berdenyut tak tertahankan lagi. Tangannya mengepal begitu erat hingga berdarah dan bagian tubuh bawahnya yang mengeras memaksa untuk melepaskan diri dari sangkarnya: celananya.

Dengan segera, setiap gambar dalam pikirannya terganti dengan gambar wajah istri malaikat-nya, yang menatapnya penuh cinta dengan mata indah seakan menusuk dirinya. Ia tak bisa melupakan saat sang istri menangis diam-diam di altar pernikahan dan terus menyebut namanya. Ia telah melihat semua itu, tepat di hari itu.

Cukup menyerah saja, bisik jiwa iblisnya. Tiduri dia, kau tahu kau sangat menginginkannya. Klaim dia sebagai milikmu, dan kau akan puas.

Bartender berjalan ke arahnya dan memberi minuman pesanannya. Sebelum pergi, bartender itu mengatakan beberapa kata. "Selamat pangeran, dia sangat cantik. Semua orang berbicara tentangnya."

Fang duduk. "Berbicara tentang siapa?"

"Istrimu tentu saja!" Bartender berseru.

"Katakan padaku, di mana kau melihatnya?" Fang melotot mengancam. Jari-jarinya sudah gatal ingin mencekik seseorang. Siapa pun yang berani berbicara tentang istrinya, itu berarti mereka siap untuk dibunuh.

"Dia ada di sampul setiap majalah hit fashion!" Bartender menjawab. "Aku heran kau tidak tahu."

Bartender melemparkan edisi terbaru majalah fashion—Gopal's popular Magazine.

Sial, bartender tak berbohong. Di sampul majalah itu adalah gambar istrinya, mengenakan salah satu gaun paling menantang yang pernah dilihatnya. Tuhan, istrinya tampak begitu panas mengenakan gaun satin yang menempel di setiap lekuk tubuhnya seakan gaun itu adalah kulit keduanya.

Fang menggeram marah dan membanting gelasnya ke lantai.

Tak seorang pun.

Tak ada yang boleh melihat kulit halus istrinya. Tidak, istrinya khusus hanya untuknya. Ia melihat gambar istrinya sekali lagi, ia melihat istrinya begitu berani untuk memamerkan belahan dadanya dengan jelas.

Ia membanting tinjunya di atas meja dan menggertakkan gigi. Keinginannya untuk memiliki istrinya telah mencapai titik di mana sudah tak mungkin baginya untuk tidak mengklaim istrinya sebagai seksual pasangannya.

Pertama, ia akan membunuh Gopal karena ini. Dan kemudian, ia akan bercinta dengan princess-nya yang berani menggodanya. Hell, memikirkannya saja, membuatnya sakit kepala.

"Ray!" Fang mendengar seseorang berteriak. "Jalang ini sungguh panas! Aku akan memberikan semua yang kupunya hanya untuk menidurinya."

Orang-orang di sekitar pria itu tertawa. "Lihatlah bibirnya. Seolah dia mengatakan silahkan tiduri aku."

"Yeah!" Half-goblin lainnya menjawab. "Aku yakin dia akan menelan seluruh ereksiku!"

"Ha ha ha ha!" Mereka semua tertawa.

Dengan cepat Fang merencanakan kematian mereka di kepalanya, dan ketika ia membuka matanya, hilang sudah iris birunya. Tergantikan dengan iris merah haus darah.

Dalam dua detik, ia telah berada di meja mereka. Tanpa ragu-ragu, ia meraih kepala pria yang telah memulai percakapan tentang istrinya, dan menghancurkan wajahnya, membenturkannya ke meja marmer. Darah berceceran di seluruh pakaian goblin itu yang berteriak kaget.

Satu demi satu, ia menggorok leher mereka dengan pedang. Ia menikmati suara mereka yang tercekat dan napas terakhir mereka. Tak ada yang lebih manis daripada suara kematian.

Mereka yang membawa ini pada diri mereka sendiri. Tak ada kesempatan kedua bagi mereka yang menganggap istrinya sedemikian rupa. Satu-satunya orang yang bisa melakukannya hanyalah dirinya. Orang lain akan mati di tangannya, dan ia akan menikmati untuk menyaksikan mereka tenggelam dalam darah mereka sendiri.

Fang berdiri bersiap untuk pergi.

"Mau kemana kau?" tanya bartender. Ia tak terganggu dengan hal mengerikan barusan. Pangeran datang ke bar-nya terlalu sering, tak ada alasan baginya untuk merasa heran lagi. "Kenapa buru-buru?"

"Aku harus mengurus hal penting," jawab Fang dingin. Ia mengenakan jasnya dan merapikan dasinya.

"Hal penting apa?" tanya bartender penasaran

"Anak-anakku."

"Kau belum punya anak," kata bartender mengungkap fakta.

"Aku tahu," Fang menjilat bibirnya. Sedikit ekspresi emosi Fang membuat merinding tulang belakang sang bartender.

"Tapi setelah malam ini, aku pasti akan memilikinya."

.

.

To be Continued

.

.

Ini panjang banget, sampe 4k -_-

Tapi semoga puas deh.

Thanks for reading, guys.