– Unlocked –
.
KRY Fanfiction © R'Rin4869
Summary : 'I can never captive your heart, it must be a sign to let you go.' Ryeowook tenggelam dalam rasa bersalahnya untuk kecelakaan 18 tahun silam yang menewaskan orangtua teman kecilnya, Kyuhyun, dan membuat Kyuhyun mengalami kelumpuhan total. Ryeowook terus-menerus berusaha untuk mengurus Kyuhyun dan segala keperluannya. Namun apa jadinya jika Kyuhyun mencintai Ryeowook lebih dari sekedar teman kecil? Apa keputusan Kyuhyun selanjutnya? Membiarkan Ryeowook terikat padanya selamanya ataukah membiarkannya bebas?
.
Rated : T goes to M
Genre : Psychological, Hurt, Comfort, Romance, Drama
Diclaimer : the storyline is originally from my head, but all the characters are belong to theirselves
Warning : this is realistic-themed fanfic like i usually wrote, inspired by some manga, yaoi, typos, OOC
.
There's a key, somewhere in the darkness. But I lost myself, and never know which way to escape. Then you ask me to go back, being free for once again. Once again...
.
"Dengan keadaan perekonomian dunia yang makin tidak stabil sekarang ini, nyaris seluruh mata uang negara di Asia melemah terhadap dollar, sama halnya dengan won. Pemerintah dengan jelas menginstruksikan untuk meningkatkan cadangan kas sampai hal ini selesai ditangani. Jadi kurangi peminta kredit dalam jumlah besar. Suku bunga kita pun harus dinaikkan. Kemudian..."
Ryeowook tidak benar-benar menyimak rapat itu. Meski perlahan, dia menghembuskan napas jenuh. Bukannya dalam keadaan krisis begini sudah jelas sekali apa yang harus dilakukan? Kenapa harus ada formalitas rapat untuk mengumumkan hal ini? Hanya buang-buang waktu, pendapatnya pribadi.
Setelah satu jam lebih berlalu, akhirnya rapat itu dibubarkan. Lega, Ryeowook buru-buru bangkit dari kursinya. Tangannya sudah menggapai pintu keluar sampai Direktur memanggilnya.
"Kim Ryeowook-ssi, tunggu sebentar."
Ryeowook menoleh, matanya nampak terkejut. "Ye?"
"Ada yang ingin kubicarakan."
Dengan patuh, meskipun agak terpaksa, Ryeowook menurut. Mereka sudah duduk berhadapan lima menit kemudian. Mata Ilhoon yang tajam mengamatinya dengan cermat. Ada sesuatu yang tidak biasa pada anak buahnya itu. Namun Ilhoon memutuskan untuk tidak bertanya, mungkin hanya masalah pribadi, putusnya.
"Aku ingin kau membawakanku daftar kreditur lengkap kita. Jumlah, motif peminjaman, cicilan, dan sebagainya. Kukira sudah waktunya inspeksi."
Bukan sesuatu yang baru sama sekali, Ryeowook hanya mengangguk.
"Dan ini sudah mendekati akhir Januari, aku harus mengingatkan jika aku menunggu kabar laporan keuangan akhir tahun darimu." tegas Ilhoon.
"Tentu." Ryeowook menjawab lebih tenang dari yang diperkirakan. "Aku siap membawanya lusa, Sajang-nim."
Puas dengan jawabannya, Ilhoon berkata singkat, "Kau boleh keluar kalau begitu."
"Ye, Sajang-nim."
"Dan pastikan kau dapat istirahat yang cukup."
Ryeowook mengerjap beberapa kali setelahnya. Sebegitu kelihatannya kah wajahnya yang lelah?
"Pasti."
Ѿ
Ryeowook mengabaikannya––atau setidaknya, dia mencoba dengan keras untuk mengabaikannya.
Pandangan Jongwoon.
Ini bukan pertama kalinya, jika diingat-ingat. Mungkin sudah terjadi sejak petama kali mereka bertemu, berbincang. Namun memang baru kali ini Ryeowook sadar. Pandangan Jongwoon padanya... berbeda. Meski sekilas, atau hanya dengan lirikan, Ryeowook bisa merasakan sesuatu yang lain dibalik pandangan itu. Sesuatu yang asing, yang tidak biasanya dia terima. Pandangan pria itu tidak seperti seorang yang baru saja mengenalnya beberapa minggu, tapi tidak juga seperti Kyuhyun yang nyaris seperti keluarga. Itu seperti tatapan dengan ketertarikan, tapi Ryeowook tidak benar-benar bisa mengartikan kata ketertarikan itu sendiri. Jongwoon tidak seperti seseorang yang akan mengajaknya kencan atau apa––Ryeowook bergidik dengan pemikiran konyol ini––jika ketertarikannya diartikan seperti itu.
"Benar, kan, Ryeowook-ssi?"
Lagi, Jongwoon menatapnya dengan cara itu. Ryeowook termenung untuk beberapa saat, dengan berani memandang balik pria itu, mencari sesuatu di matanya yang gelap.
"Ryeowook-ssi?"
"Ah, maaf. Apa yang kau tanyakan, Jongwoon-ssi?" Ryeowook bertanya balik, sengaja mengulur waktu.
Alis Jongwoon bertaut, ekspresinya hanya berubah selama sepersekian detik sebelum kembali seperti biasa, tenang dan tak terbaca.
"Kubilang tadi, keadaan ekonomi sekarang ini makin sulit untuk distabilkan, dan sebagai orang yang bekerja di bagian keuangan bank, kau pasti sadar akan hal itu, bukan?"
"Tentu. Itu sudah jelas. Kupikir orang lain pun akan berpikiran yang sama juga." Jawaban Ryeowook mengalir dengan kasual.
Jongwoon mengangguk, memandangnya sejenak sebelum kembali berkutat dengan laptop di depannya.
Ah, sesuatu di kepala Ryeowook muncul seakan memberi jawaban. Itu dia, pikirnya.
Cara Jongwoon menatapnya tiap kali mata mereka bertemu, Ryeowook bisa mendeskripsikannya sekarang. Tatapannya itu seolah 'tahu'. Seakan-akan Jongwoon bisa melihat sesuatu yang melampaui dirinya. Dan jika dia memandang Jongwoon terlalu lama, dia bisa merasakan jika pria itu seolah menguliti pikirannya, menembus jauh ke dalam dan membaca dirinya. Entah apa yang membuat Ryeowook yakin, dia kurang mengerti, tapi dia tahu jika penilaiannya ini benar.
"Ada sesuatu diwajahku, Ryeowook-ssi?" tanya Jongwoon dengan suara datar, tidak berpaling dari pekerjaannya sama sekali.
"Ne?"
"Apakah ada sesuatu di wajahku? I could feel your stare, you know?"
Ryeowook menggeleng, setidaknya dia sendiri juga memiliki kontrol yang baik untuk tidak langsung gelagapan dengan pertanyaan itu.
"Tidak. Apa pekerjaanmu masih banyak, Jongwoon-ssi? Kurasa sebentar lagi Kyuhyun akan turun dan makan malam dimulai."
Sejak Jongwoon bekerja di perusahaannya, Jongwoon seringkali mondar-mandir mampir ke rumah Kyuhyun untuk mendiskusikan pekerjaan. Dan Kyuhyun, sebagai tuan rumah yang baik sudah lebih dari satu kali menahan Jongwoon untuk tidak pulang dulu dan makan malam bersama, yang lebih sering ditolak ketimbang diterima dengan senang hati oleh Jongwoon.
Bersamaan dengan munculnya Kyuhyun, Jongwoon mengangkat kepalanya dan berucap pelan, "Well, I'm done."
Ѿ
Makan malam sudah berlalu sejak setengah jam yang lalu. Mereka semua pindah ke ruang baca untuk mendapatkan tempat yang lebih baik. Ryeowook sibuk dengan pekerjaan rumahnya, laporan keuangan akhir tahun kantornya, dan kedua pria lainnya sibuk berbincang di sudut lain ruangan. Pelan, Ryeowook mencuri pandang pada keduanya.
Masih menjadi rahasia di mana kedua orang itu saling mengenal. Apalagi untuk Kyuhyun yang tidak biasanya bertemu orang banyak, Ryeowook tidak bisa benar-benar membayangkan jika Kyuhyun bisa menerima dan akrab dengan Jongwoon secepat ini. Meski begitu Ryeowook kira tidak ada salahnya untuk bertanya. Dan saat itu Kyuhyun menjawabnya dengan simpel. Kyuhyun mengenal Jongwoon dari seorang teman, dan mereka sudah lama berhubungan via surel. Jika dipikir-pikir, hal itu masuk akal, internet memang hobi Kyuhyun di waktu senggang. Tapi bagaimana Kyuhyun bisa punya kepercayaan pada Jongwoon seolah mereka adalah teman lama, terlepas dari perbedaan usia mereka, itu yang masih Ryeowook pertanyakan.
Matanya kembali pada pekerjaannya yang telah selesai, melihat worksheet untuk terakhir kalinya, dan Ryeowook logout dari komputernya. Mendesah perlahan ketika merebahkan kepalanya ke sandaran sofa, lalu memejamkan mata sejenak.
"Ryeowook hyung, kau sudah selesai?"
Tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang bertanya. Ryeowook memberikannya jawaban berupa gumaman.
Sebuah tangan terjulur, memberikan Ryeowook sentuhan, awalnya dingin, namun lama kelamaan terasa hangat. Dia membiarkan tangan itu berada di pipinya selama beberapa detik sebelum akhirnya membuka mata.
"Berarti malam ini kau bisa tidur dengan lebih baik, kan?"
Ryeowook nyaris tertawa, tapi dia hanya mengangguk. Terkadang Kyuhyun bisa bertingkah seperti adik kecil, tetapi semakin dewasa, Ryeowook merasa justru dialah yang diperlakukan seperti anak kecil. Dia punya firasat kuat jika Kyuhyun mempelajari hal ini darinya.
Jongwoon memperhatikan semua itu dari tempatnya dan dalam diam. Dia mencatat beberapa hal penting dalam kepalanya sementara matanya mengawasi seperti gagak dalam kegelapan. Tangannya berada di dagunya, beberapa jari menutupi bibir, pose yang selalu dia lakukan ketika sedang mengobservasi sesuatu.
"Kyu,"
"Hmm?"
"Kau masih mau di sini?"
"Aniya, aku mau mengambil berkas di kamar, lalu Jongwoon hyung akan pulang."
Ryeowook mengangguk, lalu bangkit. "Biar aku yang ambilkan."
Baru mau melangkah menjauh, pria itu tertahan ketika Kyuhyun memegang pergelangan tangannya. Nampaknya pria yang lebih muda itu sudah mengekspektasi gerakannya lebih dulu. "Tidak." suara Kyuhyun tenang, namun memiliki penekanan. "Biar aku saja, akan lebih cepat."
Kyuhyun juga bisa meredam protes Ryeowook dengan memberikan alasan yang tepat. Diam-diam Jongwoon merasa geli. Apakah mereka berdua sadar dengan hal ini?
Ryeowook sudah kembali duduk ketika Kyuhyun keluar dari ruangan. Jongwoon berdiri menghampirinya.
"Sejak usia berapa kau mengenal Kyuhyun, Ryeowook-ssi?" tanya Jongwoon, terdengar penasaran. Kemudian menambahkan, "Kalau aku boleh tahu,"
"Practically since we were born." Ryeowook menjawab dengan bahasa Inggris yang lancar, lama-lama terbiasa karena kebiasaan Jongwoon yang sering melakukannya ketika berbicara. "Karena orangtua kami saling mengenal, kami sudah jadi teman sejak masih sangat kecil. Bisa dibilang kami tumbuh bersama."
"Seperti saudara?"
"Semacam itu," Ryeowook membenarkan. "Kau sendiri, Jongwoon-ssi? Sejak kapan dan kenapa kau bisa mengenal Kyuhyun?"
Mata mereka bertemu, Jongwoon mengulas senyum tipis. Dan lagi-lagi, Ryeowook merasakan tatapannya.
"Kurasa itu pertanyaan yang sudah lama tertunda, benar begitu, Ryeowook-ssi?"
Ryeowook menahan dirinya sebisa mungkin untuk tidak meringis, hanya tersenyum gugup. Kata-kata Jongwoon membenarkan perkiraannya, jika pria itu sedikit banyak bisa melihat––atau membaca, apa yang sedang dia pikirkan. Ryeowook tidak merasa takut dengan hal itu, hanya mengira-ngira, apa yang membuat Jongwoon sampai sepeka itu terhadapnya. Mungkinkah dia memang mudah dibaca seperti buku yang terpapar jelas? Pertanyaan itu tidak diajukannya.
"Jongwoon-ssi––"
"Hyung."
"Eh?"
"Panggil saja Hyung, atau hanya Jongwoon." kata Jongwoon singkat.
"Baiklah. Jadi, Jongwoon hyung, kau mau menjawab pertanyaanku atau tidak?" Ryeowook tersenyum.
"Aku mengenalnya dari seorang teman, lalu Kyuhyun menghubungiku lebih dulu karena ada sesuatu yang dia butuhkan untuk didiskusikan denganku. Tertarik, aku membalasnya."
Jawaban itu mungkin masuk akal, tetapi Ryeowook bisa merasakan ada keganjilan di sana. Bukankah orang biasanya menjawab pertanyaan macam itu dengan sesuatu seperti,
'Kami saling kenal lewat seorang teman lalu dilanjutkan ke surel'
Dan cara Jongwoon menjawabnya seperti menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dibalik jawabannya. Seolah menantang Ryeowook untuk mempertanyakan hal itu juga. Dan sialnya, Ryeowook memakan umpannya bulat-bulat.
"Sesuatu untuk didiskusikan?"
Jongwoon mengamati reaksi dari pria yang lebih muda darinya itu. Alis Ryeowook bertaut, kentara sekali dia kecewa karena tidak mengetahui hal ini sebelumnya.
"Semacam masalah pribadi." Jongwoon mengisyaratkan jika dia tidak akan menjawab lebih jauh dari itu dari nada suaranya. Dan Ryeowook menutup mulutnya untuk tidak lagi mendorong topik itu lebih jauh.
Keheningan berjalan di antara mereka dengan ganjil. Ryeowook sibuk dengan pikirannya sendiri dan Jongwoon menggunakan kesempatan ini untuk memperhatikan pria itu dengan seksama. Hal ini baru berakhir ketika Kyuhyun kembali, membawa beberapa map di tangannya dan menyerahkannya pada Jongwoon. Pria itu pamit pulang tak lama kemudian.
Di luar dugaan, Ryeowook menawarkan diri untuk mengantar Jongwoon hingga ke pintu depan. Jongwoon menantikan setiap saat untuk pertanyaan yang ingin dia lontarkan, namun Ryeowook tetap diam hingga mereka berada di luar.
Pria berparas feminin itu hanya menatap Jongwoon ketika dia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, berbalik dan menatap balik ke mata coklatnya. Ryeowook entah mengapa belum juga bersuara, tapi jelas, Jongwoon bisa melihat pertanyaan itu di matanya meski tanpa kata-kata. Dia benar-benar terganggu ketika mengetahui fakta jika Kyuhyun menyembunyikan beberapa hal darinya, untuk alasan yang Jongwoon sendiri masih menduga-duga.
Ketika dirasanya Ryeowook tak akan bicara sama sekali dan tetap terus memandangnya, Jongwoon mendesah perlahan.
"Mungkin nanti akan kuberitahukan padamu, ada saatnya untuk memberitahukan hal itu. Just, absolutely not now."
Ryeowook tak merespon kata-kata itu. Tidak juga menahan Jongwoon untuk kembali ketika pria itu berjalan makin jauh. Dia merasakan angin musim dingin membelai pipinya, membunyikan suara desau ketika menggoyangkan pohon-pohon yang ada di halaman. Daun-daun berkeresakan keras, meruntuhkan kesunyian. Ryeowook mau tak mau berpikir jika malam ini terasa seperti perasaannya, dingin dan tak tenang.
Ѿ
"Kulihat kau sibuk seperti biasa, Kim Ryeowook-ssi." Donghae sudah berada di depan ruangan ketika Ryeowook baru saja keluar dari menyerahkan laporan keuangannya. Santai seperti biasa, dengan pakaian kasual dan kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantung celana, Donghae terlihat benar-benar kontras dengan penampilan Ryeowook.
"Dan kulihat kau menganggur seperti biasa, Lee Donghae-ssi."
"Astaga, kata-katamu itu mengimplikasikan aku tak ada gunanya di tempat ini."
"Memang." Ryeowook menyeringai.
Donghae terkekeh. "Kuanggap kau bebas kali ini, tapi lain kali––"
"Lain kali apa?" Ryeowook memotongnya. "Memangnya kenapa kalau lain kali?"
"Kau akan dapat sangsi karena mengatakan hal seperti itu padaku." Donghae mengangkat bahunya acuh.
"Kenapa sekarang aku tidak dapat sangsi kalau begitu?"
"Kau ingin?"
"Coba saja."
"Ah, bukan pilihan yang bagus." Donghae nyengir, kemudian melanjutkan, "Kau harus menemaniku makan siang?"
Ryeowook pura-pura menghela napas lelah. "Kupikir aku tak punya pilihan lain."
Ѿ
"Kau seperti anak kecil terjebak dalam tubuh orang dewasa, kau tahu?" komentar Ryeowook sambil menyeruput jusnya, makan siang mereka sudah tandas.
Donghae tertawa, suaranya mengundang beberapa pasang mata untuk melirik ke arah mereka, dan beberapa dari mata itu jelas tertarik pada sosoknya.
"Dikatakan oleh seseorang yang mau saja menanggapi anak kecil ini."
Ryeowook tak membalasnya, dia menoleh ke luar jendela. Salju masih menumpuk di jalanan, seperti selimut tebal berwarna keperakan. Orang-orang di luar sana berjalan dengan langkah terburu, mencegah hawa dingin membekukan mereka dan ingin cepat sampai ke tujuan. Sejenak pikirannya mengulang kata-kata Jongwoon malam itu.
Dia tak mengenal pria itu. Tidak, dia hanya sekedar tahu. Dia tidak mengenal Jongwoon di luar urusannya dengan Kyuhyun. Tidak tahu pria itu seperti apa, dari mana asalnya, apa yang membuatnya begitu mudah membaca pikirannya, bahkan sifatnya. Ryeowook terlalu apatis untuk memperhatikan orang lain sejauh itu. Tapi baru kali ini pikirannya yang apatis diganggu. Jongwoon seperti menjatuhkan sebuah batu ke kolam pikirannya yang tenang, dan hampir seketika, kolam itu tak lagi tenang. Gelombangnya merambat ke semua arah. Lumpur di dasar kolam itu bergolak naik, seperti mengisyaratkan sesuatu yang kembali hadir. Ryeowook lupa, sejak kapan terakhir kali dia memiliki kenalan baru.
Bukan berarti dia anti sosial, hanya saja dia seseorang yang terlalu praktikal. Dia tak mengerti bagaimana harus mengurus banyak sekali kenalan, mendapat undangan makan malam di lima tempat berbeda dalam seminggu, atau minum-minum di bar yang berbeda tiap akhir pekan. Pendeknya, Ryeowook menghindari memiliki hubungan yang lebih jauh dari sekedar teman kantor. Beberapa orang yang benar-benar mengenalnya secara personal bisa dihitung dengan jari tangan. Sebegitu sedikit.
"Katakan, apa rencanamu selanjutnya?" Donghae bertanya dengan nada kalem, seolah menanyakan tentang bagaimana cuaca besok dari saluran ramalan cuaca.
Ryeowook mengembalikan pikirannya pada tempatnya berada sekarang, memberi pandangan bingung pada Donghae. "Apa?"
"Aku tahu ada sesuatu yang menganggu pikiranmu. Kau memang suka berpikir sendirian, tapi kau terlihat sedang agak bermasalah kali ini. Nah, aku tak akan bertanya apa masalahmu, kau juga tidak akan mungkin mau memberi tahu lagipula. Jadi aku bertanya apa rencanamu untuk membereskan hal ini. Biasanya kau lancar dalam hal ini."
Jika Ryeowook terpana, itu jelas sekali terlihat dari ekspresi wajahnya. Dia tak pernah menyangka Donghae mengerti sejauh itu tentang dirinya.
"Sudah berapa lama sejak kita masuk kuliah pertama kali?" pertanyaan itulah yang pertama kali keluar dari bibir Ryeowook.
"Hmm, sembilan tahun lalu."
Ryeowook menggeleng perlahan. "Pantas saja, sudah selama itu, ya, ternyata aku mengenalmu." Dia tertawa tertahan.
"Yah, aku tak menyangka ingatanmu seburuk itu sebagai anak yang masuk kuliah prematur karena akselerasi tingkat." sindir Donghae.
Tak menghiraukannya, Ryeowook bertanya, "Donghae-ah, menurutmu, berapa lama yang dibutuhkan seseorang untuk benar-benar mengenal seseorang?"
Mata Donghae menyipit saat memandang sahabatnya. "Kau sedang mencari teman kencan?"
"Sama sekali tidak." sahut Ryeowook tegas. "Ini bukan tentang itu, jadi jawab sajalah."
"Kupikir itu tergantung padamu sendiri, kalau kau mengerti maksudku."
"Tidak, aku tidak mengerti." Ryeowook berkata otomatis.
Donghae meringis pelan. "Maksudku, kalau kau mengenal seseorang, itu tergantung caramu sendiri untuk mengenal orang itu. Seberapa cepat kau menangkap sifat dan pola pikirnya, semacam itu."
"Kau pikir aku lambat dalam mengenal seseorang?"
"Kau ingin opini pribadi?"
Ryeowook mengangguk.
"Tidak juga, kau berada di atas rata-rata malah. Kau biasanya mampu menghindari orang-orang bermasalah lebih cepat, seperti binatang yang mencium ancaman." Donghae nyengir. "Anggaplah itu pujian."
"Kalau kukatakan kali ini aku seperti tidak bisa membaca apa-apa tentang satu orang, bagaimana?"
Donghae memandangnya sesaat. Ryeowook balik menatap matanya. Berbeda, sangat berbeda dari tatapan Jongwoon, pikirnya. Dia yakin dia bisa mengira-ngira apa yang Donghae pikirkan hanya dari matanya. Tapi Jongwoon? Tatapan pria itu tak tertembus, seperti selubung kain hitam. Gelap, nyaris tanpa emosi, dan terlalu dalam untuk diraih. Pikiran ini membuat Ryeowook bergidik karena takut dan antisipasi.
Donghae menghela napas perlahan.
"Mungkin," katanya pelan, "orang itu punya kepribadian yang kompleks." Dia memberi kesimpulan, tapi kemudian menambahkan dengan kemungkinan yang lain, "Atau dia punya topeng untuk menyembunyikan dirinya."
Ѿ
Jongwoon duduk di balik meja kantornya. Jemarinya menggoyang gelas wiski yang sejak tadi dia pegang. Pikirannya sibuk dengan satu topik yang beberapa hari ini tak bisa dia lepaskan. Topik tentang seorang pria berambut coklat dengan warna mata senada.
Pelan, terdengar desahan napasnya.
Mungkin dia sudah keterlaluan dengan memancing pembicaraan itu dengan Ryeowook. Pria itu tidak semestinya tahu. Dan dia tidak semestinya memberikan bocoran apapun tentang hal itu. Tapi dia tak bisa menahan diri untuk tidak terlalu eksperimental. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Ryeowook, dan dia tidak dikecewakan dengan itu.
Tetapi dia memang sudah keterlaluan karena bicara sejauh itu.
Kyuhyun memberinya instruksi jelas untuk mendekat perlahan dan memposisikan dirinya sebagai teman. Teman dekat yang nantinya akan menyembuhkan Ryeowook dari traumanya. Namun Jongwoon tidak yakin dengan rencana Kyuhyun. Rencana itu terlalu kasar, terlalu banyak bercelah, dan klise. Dia sendiri punya rencana yang lain, yang lebih matang dan diperhitungkan dengan jelas. Hanya saja rencana itu... jauh lebih beresiko.
Jongwoon meneguk wiskinya, menghabiskan satu gelas sekaligus. Alkohol yang mengalir dalam tubuhnya memberikan adrenalin baru. Keberanian yang dia butuhkan untuk mengeksekusi rencananya. Dia tersenyum samar, kemudian bangkit. Berjalan menuju satu dinding kaca yang memberinya pemandangan eksotis matahari tenggelam beserta semburat cahaya terakhir untuk hari ini.
"This life is way more thrilling with risks and challenges, no?"
Ѿ
"Tiga bulan, dan aku mendapat laporan kenaikan harga saham yang drastis." Ryeowook mengangkat sebelah alisnya. "Akhirnya perusahaanmu mendapat orang yang tepat."
Jika Kyuhyun terkejut, dia pandai menyembunyikannya. Dia sendiri tak tahu harus berkata apa tentang hal ini. Ini bukan sesuatu yang dia perkirakan mengenai kinerja Jongwoon, tapi harus dia akui, pria itu pantas mendapatkan pujian untuk pencapaiannya.
"Begitulah," Kyuhyun tersenyum.
"Tidak heran kau sangat percaya padanya."
Kyuhyun merasa komentar itu diitujukan sebagai pertanyaan. Dan dia merespon, "Tidak ada gunanya bekerja dengan seseorang yang hanya kau percayai setengah-setengah, Hyung."
Ryeowook mengalah. "I understand that very well."
Kyuhyun menoleh ke arahnya, memberikan senyum geli. "I see that you can pick up with his habit quickly."
"I––" Ada sedikit rona merah yang naik ke pipinya, Ryeowook berkilah, "Aku tak tahu apa yang kau maksud."
Terkekeh, Kyuhyun menjelaskan, "Tiga bulan, dan kebiasaan Jongwoon hyung menular pada kita, eh?"
"Kebiasaan apa?" sebuah suara lain muncul, dan Jongwoon berjalan mendekati keduanya. Lama kelamaan, pria itu terbiasa juga berada di rumah Kyuhyun. Dan dia tahu betul di mana harus mencari Kyuhyun di sore hari akhir pekan seperti ini. Ruang baca pribadinya.
"Oh, kebiasaanmu yang multi bahasa ketika bicara." Kyuhyun mengedikkan dagunya ke arah Ryeowook.
Jongwoon maupun Ryeowook tidak menanggapinya. Pria yang lebih tua itu hanya menggumam pelan sebelum akhirnya mengarahkan topik ke hal yang lain, dan Ryeowook bersyukur untuk itu.
"Maaf aku mengganggumu sore ini, Kyuhyun. Ada yang mau menjalin kerjasama dengan perusahaanmu, tapi kupikir ini cukup krusial, jadi lebih baik aku menghubungimu secepatnya."
"Tak masalah. Biar kulihat berkasnya."
Selama beberapa menit ke depan Jongwoon dan Kyuhyun sibuk dengan pembicaraan mengenai kantor, dan Ryeowook bergegas ke dapur untuk mengambil teh dan makanan kecil. Kapan pun Jongwoon datang, kunjungannya akan menjadi kunjungan panjang karena selalu saja ada pembicaraan yang harus dilakukan bersama Kyuhyun.
"Aku bisa melihatnya dengan jelas."
Suara Jongwoon terdengar geli, tapi juga tenang.
"Dan apa maksudmu memberitahuku ini semua? Kau pikir aku tidak mengerti perasaanku sendiri?
Ryeowook terpaku di depan pintu, ragu untuk masuk atau tidak. Kedengarannya dua orang yang berada di dalam sedang terlibat semacam argumen. Suara Kyuhyun mengindikasikan jika dia tidak senang dengan pembicaraan itu.
Tapi pembicaraan apa?
"Kalau kau memang mencintainya, bukannya kau hanya akan menyesal jika kau memendam hal itu selamanya?"
"Jongwoon hyung," Kyuhyun terdengar mengerang frustasi. "Tolong jangan gunakan kemampuanmu untuk mengendus hal ini. Dan ya, Ryeowook hyung memang tidak sebaiknya tahu apapun soal ini."
Salah besar ketika Ryeowook memutuskan untuk memuaskan rasa penasarannya saat ini. Menangkap dari apa yang mereka bicarakan, Ryeowook bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini, dan dia tidak suka sama sekali. Tapi sekali lagi, semua ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Kyuhyun tak akan memberitahunya, itu jelas. Dan meminta informasi dari Jongwoon juga mustahil. Kalau begitu kesempatan ini seharusnya tidak Ryeowook sia-siakan. Namun, apa tindakannya ini tepat? Ryeowook merasa terbelah antara rasa penasaran dan rasa bersalahnya.
"Bukan mauku juga menyadari hal ini." Jongwoon menanggapi dengan terlampau tenang. "Caramu menatapnya, Kyu––"
"Tidak sekarang, Jongwoon hyung. Kita sudah sepakat jika pembicaraan macam ini tidak dilakukan secara lisan." potong Kyuhyun.
"I simply stated it."
"But your statement is not considering my feelings. And this is nothing to do with anything." suara Kyuhyun berubah menjadi tak sabaran. "Just cut the crap already."
"If that so,"
Pembicaraan––potongan pembicaraan yang tak sengaja didengar Ryeowook sore itu meninggalkannya dengan lebih banyak teka-teki. Dia tahu benar Jongwoon adalah orang yang suka berahasia, tapi dia tak tahu jika Kyuhyun sama parahnya. Dan yang manapun, dia jauh lebih tahu jika dirinya bukan pembohong yang baik. Jadi dia menyingkir dari depan pintu sepelan mungkin, kembali ke dapur, menaruh nampan yang sedari tadi dia pegang jauh-jauh, dan berpura-pura membuka buku masak. Menyingkirkan kemungkinan jika seseorang––Kyuhyun maupun Jongwoon––tahu jika dia mendengar apa yang mereka bicarakan hanya karena dia orang yang mudah dibaca. Terutama oleh Jongwoon.
Ѿ
Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak padanya sore itu. Orang pertama yang menemuinya setelah kejadian 'mencuri dengar' itu tidak lain tidak bukan justru Jongwoon sendiri. Pria itu memasuki dapur dengan langkah yang nyaris tidak terdengar sama sekali. Membuat Ryeowook nyaris menjatuhkan sendok di tangannya ketika Jongwoon muncul. Tubuhnya yang menegang seketika sudah lebih dari cukup untuk membuat Jongwoon melempar pandang curiga.
Ryeowook mengalihkan perhatian pada masakannya secepat yang dia bisa. Memblokir pandangan tajam Jongwoon ke matanya.
"Aku tak tahu kau bisa memasak." kata-kata Jongwoon yang terdengar cukup normal itu membuat Ryeowook bisa kembali bernapas.
Dia mencoba menanggapinya sewajar yang dia bisa. "Lebih dari itu, ini sudah hobiku."
"Oh?" Jongwoon terkejut dengan hal itu. "Apa yang sedang kau buat?" dia berusaha mengintip dari balik bahu Ryeowook.
Pria yang lebih kecil darinya itu bisa merasakan tubuh Jongwoon yang berjarak sangat tipis dari tubuhnya sendiri. "Sup ayam." jawab Ryeowook, berharap itu cukup untuk membuat Jongwoon puas dan berlalu dari sana secepat mungkin.
"Pretty simple."
"Ya, memang."
"Tapi kau terlihat tegang seperti sedang membuat resep baru yang super sulit dan kau berkonsentrasi berlebihan dengan supnya." Jongwoon tidak beranjak dari tempatnya berdiri, malah dia makin mendekatkan kepalanya dengan bahu Ryeowook. "Kalau begitu bisa kukatakan jika keteganganmu adalah hal yang lain, dan konsentrasi itu karena kau berusaha membuatku tidak menyadarinya, benar kan?"
Tidak pernah ada saat-saat dalam hidupnya di mana Ryeowook ingin mengumpat keras-keras seperti saat ini. Tapi jika diingat-ingat dengan baik, memang tidak pernah ada saat-saat semenegangkan ini dalam hidupnya. Ketegangan di kantor saat presentasi di hadapan klien dan ketegangan yang dibawa oleh Jongwoon adalah dua hal yang sangat jauh berbeda. Entah mengapa saat ini Ryeowook merasa seperti seorang anak kecil yang tertangkap sedang berbuat nakal.
Ryeowook kehilangan kata-katanya. Dan sejujurnya, dia tidak tahu sama sekali apa yang bagusnya dikatakan untuk menanggapi pernyataan Jongwoon barusan. Jadi dia memilih untuk tetap diam.
"Melihat tingkahmu itu, sepertinya kau sudah sadar dengan kemampuanku yang empatis, ya?"
Ryeowook memberanikan dirinya untuk berbalik setelah mematikan kompor di depannya. Menatap––seperti menantang, kedua obsidian Jongwoon.
"Empatis berarti membaca perasaan, Jongwoon hyung," kata Ryeowook dengan penekanan pada tiap katanya. "Tapi di saat-saat tertentu, aku merasa kau seperti bisa membaca pikiranku, bukan perasaanku. Kenapa?"
Jongwoon tersenyum, lebih lebar dari yang dia kehendaki ketika mendengar hal itu dari Ryeowook.
"Kenapa, kau pikir?"
"Aku tak tahu rahasia apa yang kau miliki dengan Kyuhyun!" Ryeowook membentak pria itu, lupa sama sekali dengan kontrol dirinya. "Tapi aku peduli padanya, sangat peduli, jadi aku tak ingin hal ini menganggu Kyuhyun."
Tanpa basa-basi, setelah mengatakannya dengan nada dingin di depan Jongwoon, Ryeowook pergi.
Pria itu tak bisa menahan rasa gelinya ketika dia terkekeh, menutupi tawa pelannya dengan telapak tangan dan melihat ke arah di mana Ryeowook menghilang. Tak habis pikir dengan tingkah laku pria itu. Konyol. Dan sama sekali jauh dari kebiasaannya, kali ini Ryeowook tak punya kendali, bahkan tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan sepenuhnya. Namun Jongwoon mengerti alasannya.
"Ini pertama kalinya kau sadar dengan keinginan dirimu sendiri, bukan begitu, Kim Ryeowook? Tapi kau merasa terlalu egois, jadi kau memakai Kyuhyun untuk menutupinya. Merasa jika kau melakukannya untuk Kyuhyun agar rasa bersalahmu berkurang. How typical of you."
Jongwoon menoleh ke samping, pada sup ayam yang ditelantarkan begitu saja oleh Ryeowook. Dia mengambil sendok dan mencicipinya sedikit. Merasakan sup itu meleleh di mulutnya, membuatnya hangat. Tak salah lagi, Ryeowook menggunakan seluruh konsentrasinya untuk membuat sup ini. Untuk mengalihkan pikirannya dari hal lain. Hal yang, sayangnya, Jongwoon tahu dengan pasti apa itu. Dia bisa melihat dengan jelas nampan berisi ceret teh dan tiga buah cangkir beserta kue kering di ujung meja dapur, Jongwoon membuka tutup ceretnya dan melihat isi tehnya yang masih penuh dan... masih hangat. Dia tersenyum paham.
"Seems like I managed to pull the trigger."
Ѿ
.
.
.
To be continue...
Ѿ
o––kay...
Dua bulan ya?
Let's not make any excuse to explain how delayed my update was... sigh
Yah, saya cuma lagi mondar-mandir belakangan ini di ffn, merambah fandom baru dan tenggelam di fic otp di sana, dan gitu aja, saya lupa kalau saya punya kewajiban di sini. Dan lagi, ff yang saya baca di sana semuanya bukan bahasa indo dan sulit banget buat balikin mood untuk ngetik ke bahasa indo lagi di sini /kemudian reader ngamuk/
Tapi akhirnya update juga kan kan kan?
So, untuk chapter kali ini saya berusaha kasih liat gimana kepribadian Ryeowook lebih jauh, dan gimana Jongwoon berhasil baca kepribadian itu dan bahkan make fun of it. Rin mesti bilang kalau bikin psychological fic itu betul-betul bikin Rin enjoy. Jadi di sini lebih banyak ke hal-hal personal ketimbang dunia luar, kayak karir dan masalah kantor Ryeowook, semua itu bisa ditunda lah ya. Toh reader semua juga lebih penasaran sama otp kan? /smirk/
Memang Jongwoon dan Ryeowook di sini bakal banyak berselisih. Ryeowook gak nyaman dengan kedatangan Jongwoon yang menganggu gitu aja dan Jongwoon yang mau tahu lebih banyak. Tapi untuk reader semua tahu, konfliknya di sini masih banyak banget dan masih jauh jalannya di mana Ryeowook sama Jongwoon bisa akur. Yah sebetulnya mereka akur sih, cuma saling meneliti satu sama lain aja.
Gomen banget kalau bahasanya makin lama makin berat aja... it's not like i can help it...
Nah, review? =)))
Ѿ
