Jangan menangis...

Aku tidak ingin melihat kau menangis seraya membayangi langkahku setiap saat...

Itu karena kau adalah orang itu...

Sang pembawa kegembiraan...

.

.

.

Disclaimer: Harry Potter © JK Rowling

Warning: OC, OOC, Typo(s), EyD, dll.

.

.

Chapter 4

.

.

.

21 Desember

Musim Salju...

Lima bulan berlalu dan sekarang memasuki musim salju di mana butiran putih beku berjatuhan dengan putaran piruet versi mereka. Siang itu aku berada di bawah pohon bersama Luna dan Ginny. Aku duduk di samping Ginny seraya menggambar asal di atas tanah berhamparkan salju.

Mimpi-mimpi aneh yang sering kuimpikan itu ternyata adalah déjà vu. Itu pernah dialami salah satu dari anggota keluargaku dan itu menurun kepadaku dalam bentuk mimpi, mimpi tentang seorang gadis bernama Sicilia yang amat cantik dengan rambut pirangnya. Aku benci mimpi itu, karena itu tidurku tidak pernah tenang dan membuat lingkaran hitam di mataku makin kentara.

"Hermione, ada yang mengganggumu? Kau kelihatan...err...tidak tenang." Ucap Ginny menyadarkanku. Aku menaruh daun yang kupegang ke sembarang tempat dan mulai bangkit lalu menyandarkan diri pada batang pohon.

"Ada yang harus kuceritakan pada kalian." Ucapku pelan.

"Apa itu?" tanya Luna. Aku hanya tersenyum kecil lalu mulai menceritakan semuanya.

"Selama dua bulan ini aku mendapatkan mimpi aneh, tentang seorang gadis bernama Sicilia. Kata Hagrid, itu sebuah déjà vu dan aku mempercayainya. Kalian tahu déjà vu, kan?" dan keduanya mengangguk. Aku kembali melanjutkan.

"Namun yang aku tidak tahu adalah siapakah Sicilia itu? Seingatku aku tidak pernah mempunyai leluhur ataupun kerabat bernama Sicilia dan mimpi-mimpi itu aneh, seolah kejadian itu bukan dialami Sicilia saja, namun juga olehku. Rasanya aku terlempar secara tiba-tiba dalam permainan memori masa lalu dari kerabat yang bahkan tidak kuketahui." Jelasku. Ginny dan Luna mendengarkan dengan seksama.

"Terkadang itu terjadi begitu saja." Ujar Luna. Mata abu-abunya bersinar cerah seraya menatapku, "Kau gadis terberuntung di dunia."

"Huh?"

"Kau gadis terberuntung di dunia karena bisa mendalami apa sisi déjà vu itu. Banyak orang yang tidak memiliki itu dan kau sepertinya memiliki kemampuan melihat masa lalu lewat mimpi." Ujar Luna. Ginny menggeleng tidak percaya, "Bagaimana kau tahu semua itu?"

"Aku kan cenayang tingkat lima."

Mataku dan Ginny langsung terbelalak kaget. Aku speechless sementara Ginny masih dengan kekagetannya, "Kau-kau..."

"Maaf aku tidak memberitahu kalian. Aku baru naik tingkat sembilan bulan yang lalu dan aku merayakannya bersama Hagrid, tahulah sesama cenayang." Ucap Luna.

Weasley temper Ginny langsung kambuh, "Kau tidak mengajak kami..."

"Maaf, teman-teman tapi dengarlah penjelasanku dulu." Ucap Luna halus dan sementara aku menenangkan Ginny yang sudah mulai panas, aku mendengarkan penjelasannya.

"Kau tahu mereka sering mengataiku 'Loony' karena aku memiliki kelakuan aneh, karena aku cenayang murni dan aku sempat kaget dan bahagia karena kalian ingin menjadi sahabatku ketika semuanya mengira otakku sudah terbalik,"

"Tapi aku tak ingin kalian tahu kalau aku sebenarnya cenayang, aku khawatir terhadap apa yang terjadi nanti dan kalian mungkin tidak ingin berteman denganku lagi karena hal itu. Aku sayang kalian." tambahnya. Aku dan Ginny langsung meleleh.

"Owh, kami tidak akan meninggalkanmu. Kau adalah sahabat kami dan aku tidak mungkin menjauhimu hanya karena kau berbeda. Kami menerimamu apa adanya, Lu." Ujarku seraya memeluknya. Ginny juga memeluknya dan melupakan kemarahannya.

Aku menyayangi mereka. Sangat.

.

.

.

22 Desember

Siang hari...

Aku menatap jendela dengan tatapan kosong, seolah menantikan sesuatu yang jelas dan seketika terlempar ke dalam mimpi yang aneh tadi malam ketika aku terlelap...

Kakiku menginjak tanah putih, salju malam itu sangatlah dingin dan kulihat cahaya api kecil itu memanduku lagi, persis seperti hari itu lagi. Ada cahaya kecil yang bergemerlapan ketika aku menginjak tanah putih bersalju itu dan aku bisa melihat semua pohon menyeringai kepadaku, menanti untuk kedatanganku.

Aku melihat sebuah wanita tua bungkuk dengan tampang mengerikan. Matanya memicing, guratan keriput terlihat di wajahnya dan dia membentuk sebuah senyum seringai yang mengerikan. Aku serasa masuk di dunia yang tidak kukenal, di bentang alam berwarna putih dan terasa akulah satu-satunya manusia disini. Aku sadar bahwa wanita tua bungkuk itu bukanlah manusia, melainkan sekedar pohon apel yang mati.

Aku sampai di tengah hutan, di depan sebuah rumah dan berdirilah seorang pemuda berambut pirang platina yang berbalik menatapku dengan tanpa ekspresi.

Rambutnya berwarna pirang platina, tubuhnya cukup tinggi dan tegap, matanya berwarna abu-abu perak, wajahnya runcing dengan rahang tegasnya. Aku menatapnya lama, mengamati pemuda itu dari atas sampai bawah.

Aku mendengar suara gesekan di tanah di belakangku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati seekor serigala putih besar, aku menoleh ke tempat di mana pemuda itu berdiri namun pemuda pirang itu sudah tidak ada. Tiba-tiba semua itu menjadi berubah, rumah dan hutan tadi berubah menjadi sebuah padang bunga aster dan aku berdiri di tengah-tengahnya, dengan sebuah cermin besar di depanku.

Aku mengamati diriku di cermin tersebut namun ada yang berbeda. Tubuhku sangat besar dan dipenuhi bulu-bulu coklat, cuping telingaku berbentuk runcing dan terletak di sisi kiri dan kanan sudut kepalaku, mataku agak cekung dan masih berwarna coklat madu.

Aku seekor serigala.

Aku terkejut dan di tengah-tengah keterkejutanku, sebuah tangan kekar merangkul lenganku dan kulihat dialah pemuda pirang tadi. Aku melihat pantulan pemuda itu di cermin, dialah seekor serigala putih itu, serigala penyelamatku.

Udara serasa habis di paru-paruku dan pemuda itu meraih tanganku, "Alangkah cantiknya dirimu, putriku. Raja sudah menunggumu."

Dan aku terbangun...

"Hermione."

Aku terbangun dari lamunanku tentang mimpi tadi malam dan menoleh ke belakang. Harry berdiri di depanku seraya tersenyum, "Kau disini rupanya." Aku langsung memeluk Harry erat. Harry yang kelihatannya bingung segera membalas pelukanku dengan ragu, "Kau baik-baik saja?"

"Aku baik." Aku segera melepas pelukanku lalu duduk di bibir tempat tidur, Harry ikut duduk disampingku, "Aku sudah mengenalmu sejak kita lahir, Mione, dan aku tahu kau tidak baik-baik saja. Ceritakanlah padaku."

Aku menghela napas lalu segera menceritakan isi mimpiku. Harry mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk. Aku selesai bercerita dan menanyakan pendapatnya. Mungkin akan lebih baik jika dia memberiku pendapat.

"Itu hanyalah bunga tidur, Mione, nanti akan hilang dengan sendirinya." Harry halus. Aku menggeleng frustasi, "Bunga tidur apa yang selalu muncul selama lima bulan ini dengan tema yang sama dan tidak pernah berganti?"

Kau tidak mengerti, karena kau tidak pernah mengalaminya...

Harry speechless. Aku menatapnya, "Sudahlah, Harry. Aku mengerti kau punya niat baik untuk menghiburku. Tinggalkan saja aku sendiri."

"Kau yakin tidak ingin ditemani oleh pemuda yang tampan ini?" tanyanya setengah bercanda, aku hanya terkekeh dan membalas, "Siapa juga yang tampan?"

"Aku. Aku cukup tampan untuk bisa menjadi kekasihmu." Balasnya. Aku menggeleng sok jijik, "Tidak, tidak mungkin."

Kami berdua tertawa hingga akhirnya kami berhenti.

"Mione, mungkin kau harus keluar dan melihat bakat apa yang kumiliki di dapur untuk membuatmu senang, kau tahu. Kebetulan semuanya sedang sibuk di luar, jadi...biskuit sirop?"

"Pasti."

Dan kami segera meninggalkan ruangan.

.

.

.

23 Desember

Siang hari...

Hari itu aku segera pergi menuju The Burrow, rumah Ginny, dengan menunggangi Chele bersama Harry dengan firebolt-nya. Chele adalah kuda peliharaanku yang berwarna putih kecoklatan, yang hanya kupakai ketika perjalanan jauh.

Kami melintasi kebun buah, juga beberapa rumah-rumah dan pertanian dan bisa kulihat Firebolt, kuda kehitaman itu meringkik bahagia. Sebenarnya hari ini bukanlah hari yang bagus untuk berkuda di tengah-tengah salju namun entah ide apa yang sempat terpikirkan olehku dan Harry sehingga kami pergi ke The Burrow.

Seraya mengeratkan mantelku, aku segera turun dari Chele dan mengikatnya. Aku mengetuk pintu dan Ginny menyambut kami dengan hangat, "Hermione! Harry! Senang bertemu kalian." dia memeluk kami dan kami segera masuk.

Sekarang aku berada di ruang tamu, duduk bersampingan dengan Ginny dan membahas tentang seputar hari natal dan hadiah. Harry bersama Ron yang keadaannya sama dengan kami namun jaraknya agak berjauhan.

"Aku suka hadiah yang kau berikan September lalu pada saat ulang tahunku. Cincin yang sangat indah." Ujarku seraya menatap cincin yang sekarang berada di jari manisku. Cincin itu terbuat dari tulang sapi dan ada ukiran kalimat dalam bahasa latin yang sangat cantik,

Kehidupan adalah lingkaran...

"Aku menemukannya di tengah ladang di hutan pada saat musim gugur kemarin yang berdekatan dengan Narcissus Meadow. Cincin tersebut sangatlah cantik dan semenjak aku menemukannya, aku mendapat semacam...keberuntungan." Ujar Ginny.

Mataku melebar seketika tanda penasaran, "Keberuntungan apa?"

Ginny tersenyum malu-malu dan menarikku lebih dekat lalu membisikkan kata-kata di telingaku, "Aku dipinang Neville."

"Astaga!" pekikku cukup keras sehingga membuat beberapa orang tersentak kaget dan menoleh ke arah kami, "Maaf."

Semuanya kembali ke kegiatan masing-masing. Aku kembali ke Ginny, "Benarkah itu? Apa jawabanmu?"

"Aku jawab 'iya' karena aku memang ingin menikah dengannya. Kami akan segera menikah Januari nanti dan aku yakin Mom akan senang karena dia bisa menimang cucu. Tinggal tunggu tahun saja."

"Aku ingin memberikan cincin itu agar kau bisa bernasib baik. Efeknya saja sudah terlihat padaku dan mungkin kau akan menemukan keberuntungan cincin itu sendiri. Itulah mengapa aku memberimu hadiah itu." Tambah Ginny.

Aku tersenyum tulus untuk peristiwa ini, berharap semoga pernikahannya langgeng. Aku menunduk untuk memandang jariku sejenak, Kehidupan adalah lingkaran. Akankah aku juga akan mendapatkan keberuntungan yang baik seperti Ginny oleh cincin ini? Aku menyelamati Ginny.

"Selamat, Ginny!" ucapku lalu memeluknya.

.

.

.

Ron dan Harry terkaget ketika mendengar pekikan yang berasal dari sofa di mana Hermione tengah memekik tadi. Gadis itu sempat meminta maaf dengan nada kikuk dan cengiran lucunya. Kedua pemuda itu kembali ke kegiatan masing-masing.

"Aku punya kabar bagus." Ujar Ron. Harry menoleh ke arahnya setelah berlama-lama memandangi Hermione yang sibuk mengobrol dengan Ginny jauh di sofa sana, "Berita apa?"

"Kau tahu, hanya kami-kami saja yang mengetahui berita ini. Ini belum tersebar luas ke seluruh desa. Mungkin Hermione dan Luna juga sudah diberitahu oleh Ginny."

"Katakan saja berita apa itu!"

"Ginny akan menikah dengan Neville, mate. Tahun depan di pertengahan Januari nanti."

Harry segera tersenyum, "Sebenarnya itu berita yang sangat bagus, kuucapkan selamat untukmu. Kau akan jadi paman!"

Ron menyengir, "Terima kasih, mate."

Tiba-tiba terdengar suara halus seorang wanita yang menyusul dari arah dapur menuju ruang tamu di mana keempat bersahabat itu berada. Itu Fleur, istri Bill. Wanita itu nampak cantik walaupun dengan perutnya yang buncit.

"Ron, kata Mom ajaklah Harry dan Hermione melihat taman belakang yang baru saja Dad buat untuk kita." Ujar Fleur dengan sedikit aksen Perancis yang terselip dalam kalimatnya seraya menatap Harry dan Ron.

"Baiklah." Balas Ron. Fleur segera menghampiri Hermione dan Ginny dan terlihat menawarkan beberapa kue mentega yang ada di dalam stoples.

Fleur Delacour adalah salah satu murid dari sekolah Beauxbatons dan juga kontestan turnamen yang pernah diadakan Hogwarts tiga tahun yang lalu selain Harry, Cedric Diggory, dan Viktor Krum yang pernah menjadi pasangan dansa Hermione masa itu. Kini dia sudah menjadi istri Bill dan tengah hamil anak pertama.

"Sulit membayangkan kalau kau pernah naksir dia sewaktu tahun keempat kita di Hogwarts ketika aku juga masih naksir Cho waktu itu. Dia juga pernah mencium pipimu, mate!" Ujar Harry seraya terkekeh melihat Ron bersama Fleur.

"Bloody hell yes! Sekarang dia telah menjadi kakak iparku. Aku sempat tidak percaya awalnya," Balas Ron, "Kau sendiri kapan, Harry? Apa kau sudah punya pilihan?"

"Kau sendiri?"

"Tentunya sudah ada."

Harry menghela napas sabar dan menatap Ron, "Siapa?"

"Luna. Luna Lovegood," Jawab Ron, "aku harus cepat sebelum Rolf Scamander mendahuluiku."

"Luna?! Kau mengencani gadis tergila di dunia! Kau gila, mate! Selamat untukmu." Ujar Harry.

"Kau sendiri? Apa kau masih mengharapkan Ginny?" tanya Ron. Harry menggeleng, "Tidak, itu dulu. Aku sadar bahwa selama ini sejak aku masih berusia dua belas, aku sudah menyukai orang itu."

"Siapa, Harry? Beritahu aku!" pinta Ron seraya memandang Harry yang sedang tersenyum.

Dalam benak pemuda itu, dia sudah memikirkan siapa gadis beruntung yang menjadi pilihannya itu. Dia juga sempat membayangkan kehidupan bahagia bersama gadis itu di dalam sebuah rumah di mana ia mengajarkan putra atau putrinya bermain pedang sementara gadis yang akan menjadi istrinya akan memasakkan makanan yang enak seraya bergurau kepadanya.

Namun apakah dia bisa menerima pinanganku? Akankah dia merasakan hal yang sama?

"Dia adalah..."

.

.

.

Aku segera pulang bersama Harry ke rumah setelah kami menelusuri halaman belakang yang sudah jadi di The Burrow. Taman itu sangat indah dengan hamparan salju putih di rerumputan suburnya, ada satu pohon besar dan rindang dengan dua ayunan gantung di kanan dan kirinya. Pada tali ayunan itu, terdapat tumbuhan rambat yang melilitinya. Aku teringat akan taman dunia dongeng yang selalu Mama ceritakan ketika aku masih kecil.

Cuaca sangat dingin saat ini dan aku singgah di rumah Nenek yang tidak jauh dari lokasi perbatasan Cranbbery Hollow dan desa tua di seberang. Aku segera turun dari Chele dan menariknya menuju rumah sederhana itu. Harry memerintah Firebolt untuk melambat mengikutiku. Aku mengetuk pintu dan Nenek membukakan kami pintu.

"Oh, Hermione! Harry! Ayo masuk!" Nenek sepertinya terkejut akan kedatangan kami yang mendadak. Kami segera masuk dan disambut dengan aroma coklat panas yang menguar. Nenek segera masuk ke dapur untuk mengambil coklat panas sementara aku dan Harry sibuk dengan urusan masing-masing.

"Ini untuk kalian." ujar Nenek. Aku segera mengambil cangkir coklat panas itu dan meminumnya.

.

.

.

Saat itu sudah petang dan aku masih meringkuk di atas sofa sembari memainkan sebuah hiasan gantung yang kata Nenek adalah penangkap mimpi. Benda itu berbentuk lingkaran dan ditengahnya terdapat jaring yang dibentuk sangat cantik dan memenuhi bagian tengah lingkaran itu. Ada terdapat tiga bulu kalkun yang digantung oleh tali tipis dibagian bawah lingkarannya.

Aku juga melihat ada dua tali yang lebih panjang di antara jajaran tali gantungan kalkun itu. Di kedua tali itu, terdapat kaca cermin berbentuk wajik yang dibolongi bagian atasnya agar tali itu bisa masuk dan diikat. Benda ini sangat melirik ke arah Harry yang sibuk memainkan seruling kayu dengan asal dan menciptakan suara ribut yang tak beraturan.

"Apa keguna––HARRY DIAMLAH!" bentakku. Kulihat Harry hanya menyengir lalu menghentikan permainannya. Nenek menatapku dengan tatapan tanya sekaligus menuntut kelanjutan kalimat yang sempat kupotong dengan bentakan.

"Apa kegunaan benda ini?" tanyaku sembari memainkan bulu-bulu kalkunnya. Nenek menyodorkan telapak tangannya, tanda ia meminta benda itu. Aku segera mengembalikan benda itu dan membiarkan Nenek menjawabku.

Harry beringsut mendekatiku, ingin mendengar penjelasan tentang benda cantik itu. Nenek mengangkat penangkap mimpi tepat di depan wajah kami berdua dan kaca-kaca cermin yang berbentuk wajik itu berkilau diterpa cahaya.

"Ini adalah penangkap mimpi, ini bukan benda sembarangan karena ini benda yang mengandung sihir baik yang artinya ini salah satu artefak magis. Temanku yang merupakan salah satu dari kaum indian memberiku benda ini ketika usiaku lima belas tahun," jelas Nenek.

"Jaring-jaring yang berada di tengah-tengahnya ini menyaring setiap mimpi buruk dan hanya membiarkan mimpi yang indah masuk. Bulu-bulu kalkun dan cerminnya ini aku lupa fungsinya, mungkin hanya sebagai hiasan. Gantung ini di pintu kamarmu atau di atas ranjangmu." Tambahnya. Aku dan Harry mengangguk tanda mengerti.

"Mungkin aku harus memakainya karena aku sering mendapat mimpi buruk akhir-akhir ini." Ucapku seraya meminta penangkap mimpi itu dari Nenek. Mungkin aku harus memasangnya di kamarku agar mimpi bodoh itu tidak datang lagi.

.

.

.

Saat itu adalah siang hari di hutan dan seorang pemuda bersama seorang gadis sedang berlari melintasi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Cahaya matahari yang hangat menerpa tubuh mereka. Si gadis berlari lebih cepat ketika pemuda dibelakangnya makin mengejarnya.

"Eveleighne! Tunggu!" seru seorang pemuda seraya berlari mengejar seorang gadis berambut hitam yang lebih cepat darinya. Gadis bernama Eveleighne itu berlari lebih kencang seraya tertawa lembut.

"Kau tidak bisa menangkapku, William!" serunya. Will hanya tersenyum menyeringai lalu berlari lebih cepat hingga akhirnya menerjang Eveleighne hingga jatuh ke tanah.

Keduanya tertawa bahagia dan Will yang berada di atas Eveleighne yang terlentang membelai lembut pipi gadis itu, "Ayo bangun."

"Kau yang duluan karena kau berada di atasku." Ucap Eveleighne lembut. Will hanya tertawa dan menyingkir dari tubuh Eveleighne. Pemuda itu segera membantu gadis itu berdiri. Eveleighne segera berjalan menuju sebuah pohon apel.

"Ingat pohon ini?" tanyanya dan Will tidak menjawab, "Kau pernah membantuku memanjat di pohon ini dan kau mencium pipiku ketika kita berusia tiga belas tahun." Will mengangguk lalu maju beberapa langkah.

Eveleighne tahu apa yang ingin dilakukan Will dan dia segera mundur pada saat Will melangkah ke depan hingga akhirnya dia terpojok di pohon apel yang barusan dia bicarakan. Will mengunci tubuh Eveleighne agar gadis itu tidak bisa lari kemanapun.

Eveleighne menyeringai, "Aku tahu apa yang ingin kau lakukan, sepupu."

Will balas menyeringai, "Kau ingin aku melakukannya, sepupu?" dan gadis tercintanya menjawab, "Terserah padamu saja."

Will segera mencium dan melumat bibir sepupunya dengan penuh gairah. Keduanya terbakar dengan gairah dan Eveleighne segera mengalungkan lengannya di pundak Will, membiarkan pemuda itu melumat bibirnya. Eveleighne segera melepaskan bibirnya.

"Bagaimana jika ada yang tahu? Bagaimana jika kedua orang tua kita tahu? Mereka pasti akan menjauhkan kita dan kita tidak akan bisa bersama lagi." ucap Eveleighne lirih. Will membelai rambut hitam lurus kekasih sekaligus sepupunya itu, "Kita akan temukan jalan."

Eveleighne tersenyum dan kemudian melanjutkan ciuman panasnya bersama Will, di tengah hutan dimana cahaya matahari masih terang dan menghangatkan juga berusaha untuk membuang beban dan batasan yang ada dalam hati mereka.

Cousin..

Yes, cousin...

.

.

.

24 Desember

Pukul 2 malam...

Hermione terbangun dari tidurnya dan segera menatap penangkap mimpi yang tergantung di bagian kusen atas jendelanya. Benda itu tertiup angin dan membelai lembut bulu-bulu kalkun yang tergantung di permukaan bawahnya.

Setidaknya aku mendapat mimpi tentang diriku yang berubah menjadi serigala lagi...

Siapa itu Eveleighne? Aku mendapat tokoh baru yang kudapat dari mimpiku dan mungkin aku harus menanyakannya pada Hagrid, atau mungkin Luna. Aku masih di rumah Nenek dan salju masih turun di luar sana. Kurapatkan selimutku dan kembali melanjutkan mimpi.

.

.

.

Harry melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan. Dia berdiri lama di depan pintu kayunya dan masuk ke dalam. Pemandangan di dalam sangatlah rapi juga ada sebuah penangkap mimpi yang tergantung di jendela ruangan itu. Mata hijaunya menjelajahi ruangan itu hingga akhirnya sampai pada sesosok gadis cantik yang sedang tertidur layaknya seorang putri tidur.

Dia segera menutup pintu ruangan tersebut dan segera mengambil kursi lalu menatapi paras elok sang gadis, sepupunya.

"Harry, aku ingin pergi ke festival bunga lily malam nanti." Hermione berucap ketika dia berada di depan pintu rumah tepat ketika orang tuanya sedang berada di dapur. Harry menatapnya, "Tapi bagaimana caranya? Kita bahkan tidak bisa pergi. Kau tahu orang tua kita melarang."

"Tapi aku tahu caranya." Balas gadis itu. "Kalau begitu beritahu aku bagaimana caranya."

"Kita hanya harus..." dan Hermione menatap kebelakang pundaknya lalu mengecilkan suaranya, "berpura-pura tidak ada apa-apa karena orang tuamu datang."

Seketika itu mereka berpura-pura Hermione akan menginap di rumah Harry. Malamnya Hermione menjalankan rencana cerdiknya untuk kabur dari rumah lewat jendela kamar lantai atas dan memanjat pohon tinggi yang berada di depan jendela. Mereka memanjat turun dan segera pergi ke festival bunga lily.

Arti bunga Lily adalah cinta abadi dan festival itu ditujukan untuk semua orang yang hadir agar bisa mendapatkan cinta abadinya suatu saat. Disitu dia pertama kali naksir Ginny pada saat gadis berambut merah lurus itu bertemu Hermione. Namun ada yang aneh ketika Hermione menatapnya, dan itu membuat dadanya berdesir hebat.

Pada akhir malam festival tepat ketika pukul 9 malam, dia bahkan dengan kikuk memberikan Hermione seikat bunga lily putih dan Hermione menerima bunga itu dengan perasaan amat bahagia.

"Bunga lily ini sangat cantik, Harry. Terima kasih." Hermione memeluknya dengan erat dan bunga lily dalam genggamannya. Hermione melepaskan pelukannya, "Aku menyukainya."

Harry hanya tersenyum lalu mencium pipi Hermione lama. Itu adalah momen paling bahagia yang pernah ia alami, dimana dia berada pada festival bunga lily dan semua orang saling melempar kelopak bunga lily dari keranjangnya untuk memperingati sekaligus berharap agar semuanya saling mendapat cinta abadi masing-masing.

Dia masih berusia dua belas tahun saat itu dan dia masih ingat betapa bersinar, cantik, dan cerdiknya Hermione saat itu dan itu bisa membuat seorang Harry Potter tersenyum kikuk sambil memberi seikat bunga lily pada gadis berparas elok itu. Dia teringat akan peri hutan, makhluk yang sangat cantik jelita dan baginya, Hermione-lah peri hutannya.

Dia segera mengecup kening gadis itu lama dan membelai pipinya. Dia segera bangkit dan tersenyum seraya meninggalkan ruangan itu. Dalam hatinya dia teringat akan pertanyaan Ron kemarin ketika pemuda berambut merah itu selesai mengatakan perihal pinangannya dengan Luna.

"Siapa, Harry? Beritahu aku!"

"Dia adalah Hermione."

"Tapi aku dengar dari gosip para ibu-ibu dari keluargaku dan keluargamu bahwa Hermione akan dijodohkan dengan orang lain yang aku tidak tahu siapa."

"Hermione adalah milikku dan dia tetap akan jadi milikku walaupun dia sudah berkeluarga."

Dia tahu itu sangat tidak baik jika menggoda seorang wanita yang sudah mempunyai suami jika seandainya Hermione sudah menikah nanti. Namun ia sudah yakin bahwa ia sangat mencintai Hermione, sangat, dan tidak boleh ada yang menghalangi itu. Keegoisan merambati jiwanya akan Hermione.

Hermione-nya.

Hermione adalah milikku dan tetap akan jadi milikku seorang.

TO BE CONTINUE

Aaaargh! *teriak nggak jelas*

Apa yang salah sama saya sampe saya bikin pair Draco x Hermione x Harry!

Dari awal saya sebenarnya mau bikin pair diatas dan bakalan jadi cinta segitiga yang gimana gitu tapi ragu. Sekarang udah nggak ragu lagi jadinya saya bikin deh. Bagi pecinta Dramione, tenang, ini tetep Dramione kok dan Hermione bakalan end up sama Draco sampai akhir. Pair Harmony itu cuma slight aja di fic ini.

Untuk yang kemarin-kemarin saya minta maaf karena updatenya lama. Saya pulang kampung dan nggak sempat bawa laptop, disana juga sinyalnya nggak bagus jadi nggak sempat update deh.

Oh iya, jangan lupa review ya...