Kalau hanya berteman, bolehkah ada rasa cemburu?
Friend
Shingeki no Kyojin belongs to Hajime Isayama
Warning(s) : too many as always
Harap siapkan obat mata jangan lupa
Enjoy!
Ini pertandingan basket terakhir Eren, sebelum dia keluar karena sudah kelas 12. Dan juga, ini kemenangan terakhirnya bersama anak-anak kelas 12 lainnya.
Pemuda beriris zamrud itu jadi tak bisa berhenti tersenyum, bahkan hingga keesokan harinya. Dan itu, membuat Mikasa lama-lama merinding. "Kamu kenapa sih?"
"Kenapa memangnya?"
"Senyum-senyum terus dari kemarin."
Eren tertawa kecil, "Ya, kan tim basketku menang. Masa aku nggak boleh senyum-senyum?"
"Tapi kan, memang tim basket kita jarang kalah, dan biasanya, kalau tim basketmu menang, kamu nggak sebahagia ini. Kau kira aku tak memperhatikan?"
Mendengar ucapan Mikasa, Eren jadi tersenyum jahil, "Ooh, jadi kau memperhatikanku terus ya selama ini?" godanya, membuat perempuan bersurai raven itu memalingkan wajah.
"Lagipula, memangnya kenapa kalau aku senyum-senyum terus? Bukannya aku jadi makin tampan ya?"
Sialnya, iya.
Dan Mikasa jadi tak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak memelototi para adik kelas yang kerap mencuri pandang pada Eren. Dari gerbang masuk, hingga sekarang, di kantin, ada saja ular-ular yang menatap Eren tanpa berkedip.
Mikasa kan jadi kesal sendiri.
Tapi tak apa kan, kalau dia kesal saat ada perempuan lain yang menatap Eren penuh binar, selain dirinya?
"Mikasa, kalau nanti kami menginap di rumahmu bagaimana? Untuk menyelesaikan tugas kelompok ini."
Mikasa tertegun sebentar saat melihat Krista dan Sasha yang menatapnya penuh harap. Mau tak mau, dia mengangguk, membuat dua gadis itu bersorak kegirangan dan sibuk membahas apa saja yang akan mereka lakukan.
Oh, dan jangan lupakan ide Sasha yang ingin memasak aneka makanan berbahan dasar kentang untuk persediaan makanan saat tengah malam, yang segera mendapat jitakan pelan dari Ymir, dan seperti biasa, pandangan datar dari Annie.
Mikasa diam-diam mengulum senyum.
Tak apalah rumahnya akan jadi berantakan nantinya. Hitung-hitung membuat satu lagi kenangan baru dengan sahabat-sahabatnya.
Annie memandang datar Sasha yang mulai melancarkan aksinya. Gadis brunette itu mulai mengecek isi kulkas Mikasa. "Sasha, kau berniat kerja kelompok atau menghancurkan rumah Mikasa?"
Perempuan penggila kentang itu hanya tertawa, tak memperdulikan ucapan Annie sama sekali, dan kembali sibuk dengan kulkas Mikasa.
Annie makin badmood saja gara-gara Krista dan Ymir yang tak kunjung datang. Bahkan sang pemilik rumah juga sedang sibuk bersama si bocah Jaeger, entah membahas apa di ambang pintu.
Jadilah dia hanya berdua dengan Sasha. Dia duduk di ruang keluarga rumah Mikasa, dan Sasha sibuk meporak-porandakan dapur gadis raven itu.
"Oh, jadi teman-temanmu menginap di sini? Ya sudah, aku pulang saja kalau begitu."
Setelah mendengar samar-samae suara dari pintu depan, iris aquamarine miliknya terarah pada Jaeger yang memasang tampang lesu. Kenapa lagi bocah itu?
Kembali menghadapi ketidak pekaan Mikasa?
Ya, salahnya juga sih, dia terlalu berbelit-belit. Tinggal bilang apa yang dia mau saja repot.
"Maaf, Eren. Kita bisa pergi ke perpustakaannya besok kan? Sekalian, ajak Armin juga."
"Armin?"
"Kenapa? Armin kan juga suka buku, dia pasti senang."
"Ah, iya. Kalau begitu, aku pulang dulu ya."
Annie terkekeh pelan, memandangi Mikasa yang menutup pintu setelah kepergian Jaeger. "Kau kenapa tidak peka sekali, sih?"
Mikasa balik memandangnya bingung, "Apa?"
"Bocah Jaeger itu pasti ingin mengajakmu kencan. Kenapa kau menyuruhnya mengajak teman kalian yang pemalu itu?"
"Bicara apa kau ini, Annie. Kami bertiga sudah sering keluar bersama sejak dulu."
Annie memang tak terlalu akrab dengan Mikasa, tapi tak dia sangka ternyata Mikasa sebodoh ini, "Terserahmu deh. Aku tahu kalian saling suka, hanya saja tertutupi dengan tingkah bodoh kalian berdua itu."
Mikasa terdiam sejenak setelah mendengar ucapannya, kemudian gadis itu mengangkat bahu, dan memilih bergabung dengan Sasha di dapur. Annie sendiri tak terlalu mempermasalahkannya. Dia membuka aplikasi chatting di ponselnya, dan mengetikkan sesuatu di sana.
To : Bocah Jaeger
Hei bodoh, lain kali katakan saja apa maumu pada gadismu itu. Jangan terlalu banyak kode. Seperti yang kuduga, dia terlalu bodoh.
To : Bocah Jaeger
Ah, tapi kau juga sama bodohnya sih.
Annie menghela napas pelan. Dan sama seperti biasanya,
Selalu diam-diam.
Benar dugaannya.
Malam ini dia tak bisa tidur.
Mikasa menghela napas, sedikit lelah mendengar celotehan Sasha dan Krista yang tak habis-habis. Dia melirik pada jam dinding di kamarnya.
Ah, padahal sudah jam 23.30, dan besok dia harus sekolah. Mikasa mengusap tengkuknya, "Kalian tidak tidur?" cicitnya membuat Sasha terdiam sejenak, sebelum tertawa, "Nanggung ah, nanti kalau tidur, besok nggak bisa bangun. Jadi begadang aja," jawabnya santai, yang ditimpali anggukan oleh Krista.
Mikasa menoleh ke arah Ymir yang sudah terlelap. Enak sekali, sedangkan Mikasa kemungkinan tak akan bisa tidur kalau Sasha dan Krista tak kunjung diam. Kini, onyx-nya beralih pada Annie yang masih sibuk dengan ponselnya. "Annie, kau juga mau begadang?"
"Mm, tidak sepertinya. Setelah jam 12 malam nanti, aku akan tidur."
Mikasa mengangguk-angguk, dan mencoba membaringkan tubuhnya di kasur.
Hal yang masih dia syukuri adalah, kasur di kamarnya ada 2, itupun dua-duanya berukuran queen size. Jadi dia tak harus berdesakan dengan teman-temannya. Sebenarnya, dulu, ini kamarnya dan Levi, sebelum Levi menempati kamar lainnya di lantai bawah, semenjak dia duduk di bangku SMP kelas 1.
Dan tentu, hari ini Levi sedang tak ada di rumah. Kakaknya itu ada perjalanan dinas selama dua hari ke depan. Maklum, orang sibuk.
Mikasa mencoba membaringkan tubuhnya di sebelah Ymir yang sudah terlelap. Dia memejamkan kelopak matanya, berusaha untuk tertidur.
Meskipun, jauh di lubuk hatinya, dia merasa ada yang dia lupakan kali ini.
Sebenarnya, bukan hanya kemenangan tim basketnya yang membuat Eren terus tersenyum. Ya, kau tahulah ada apa kalau seseorang begadang sambil gelisah menunggu pergantian hari?
Eren memandangi jam di wallpaper ponselnya. Sudah jam 23.58, dan belum ada tanda-tanda pesan masuk dari Mikasa.
Apa jangan-jangan dia lupa ya?
Eren menghela napas. Mungkin Mikasa sedang mengobrol seru dengan teman-temannya. Seperti mengobrol cowok yang disuka, misalnya? Hehe. Dia jadi berharap, namanya terucap di antara pembicaraan itu.
Jangan tanya lagi terucap dari mulut siapa yang dia harapkan.
Atau mungkin, sekarang Mikasa sedang asyik dengan teman-temannya saling menceritakan kisah seram mengingat di sana juga ada Ymir.
Atau mungkin, sekarang Mikasa sedang asyik membully Krista bersama teman-temannya.
Hmm.. Lupakan yang terakhir. Itu terdengar cukup tak masuk akal.
Eren membaringkan tubuhnya di kasur, dan berguling-guling sejenak. Enaknya ngapain ya?
Ingin dia menelepon Mikasa, tapi dia tak mau mengganggu gadis itu yang pasti sedang bersenang-senang. Lagipula, dia tidak lebih berharga dari teman-teman Mikasa yang lain juga, kan. Dia hanya temannya, sama dengan anak-anak perempuan yang sedang menginap di rumah gadis raven itu. Mereka semua sama-sama teman Mikasa.
Ya.. Teman.
Entah kenapa Eren mulai merasa kalau dirinya ini sungguh munafik.
Tiba-tiba ponsel Eren bergetar, membuat sang empunya sigap mengusap lock screen untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan. Ah, sudah jam 24.00. Pas sekali.
Eren bersyukur ternyata Mikasa masih mengingat- eh?
From : Leonhardt sialan
Kau bisa ulang tahun juga ya, rupanya? Selamat ulang tahun, kalau begitu.
Eren pias seketika.
Hogyaa..
Ada yang nungguin gak nih?:v
Ya gapapa kalau nggak ada, author mah nggak suka berharap ntar jatoh euy, sakit:v
Ngenes ya.
Eh iya buat yang sudah review terima kasih yaa, insya Allah dibales di ending:v itupun kalau mau dibales. Dan..
...itupun kalau fic ini bisa sampai ending/plak.
Gak gak becanda, insya Allah tamat ntar ini work, chapter juga nggak banyak-banyak amat juga si kelihatannya.
Dadahh everyone. See ya. Ya, dan jangan lupa review, heheh:v
