Makasih atas semua review dan dukungannya! Arigato!

Met baca :D

-oOo-

My Never-ending Embarrassing Life © Yuki-chan

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Pairing: SasuIno, SaiIno

Genre: Romance/Humor

-oOo-

Last story.

"Aku tidak suka," ulangku dengan suara agak melirih, "Dan kumohon, jangan tanya kenapa karena kau tahu, aku tak kan mampu menjawabnya."

Aku menunduk. Diam-diam aku mengasihani diriku sendiri.

Sasuke yang lepas control karena wanita. Sasuke yang malu karena wanita. Sasuke yang memohon karena wanita. Dan Sasuke yang tampak tolol, idiot, aneh, karena wanita pula!

Menyedihkan, payah! Bahkan untuk mengucapkan tiga kata 'I love you' rasanya seperti mengucapkan 'Aku saying Itachi'! Dengan kata lain, berat! Konyol! Tidak mungkin!

"Kau… kau cemburu padaku dan Sai?"

-oOo-

Point taken!

Tak hanya menebak pikiranku, Ino telah menyuarakannya.

"Hanya kau yang bisa membuatku begini," ujarku jujur dengan jawaban berbelit. Tak akan aku sanggup menjawab 'ya' untuk pertanyaan tadi secara terang-terangan.

Kuangkat wajahku untuk menatap padanya. Dan rasa malu dan gugupku seolah tergantikan oleh rasa terkejut saat mendapati pipi kiri Ino teraliri oleh air.

Aku mendongak dan menatap langit. Hujan ya?

Tidak. Tidak ada mendung. Bulan dan bintang tengah menghiasi langit dengan indah seolah mengingatkanku bahwa sekarang adalah musim panas dan hanya orang gila yang menanyakan hujan pada musim begini.

Aku kembali menatap Ino. Dan kali ini, saat melihat mata kiri Ino menjatuhkan satu bulir bening ke pipinya, aku baru sadar, air itu bukan air hujan.

Ino menangis?

Oh Tuhan, akukah yang membuatnya menangis? Atau dia hanya kelilipan?

Hatiku seketika mencelos saat melihat wajah cantik itu basah oleh air mata. Tidak pantas! Ino pantas untuk tersenyum! Sakit sekali rasanya melihat wajah cantik itu beraut sedih.

Sial, belum apa-apa saja aku sudah membuatnya menangis. Aku memang kejam. Mungkin aku diciptakan dan hidup hanya untuk membenci Itachi dan mencintai tomat. Bukan untuk Ino!

Aku membuat Ino menangis?

"Dasar Sasuke bodoh! Idiot! Tolol! Jelek! Ayam! Gay!"

JLEB! JLEB! JLEB!

Tiap kata yang diucapkan Ino bagaikan anak panah yang tertancap tepat di dada kiriku.

Oh, baru saja aku bersimpati padanya dan dia sekarang mengataiku dengan begitu lengkapnya? Kurang, Ino! Mana 'gembel' dan 'maniak bokep'nya?

"Maaf."

Kata-kata terlarang nomor satu di klanku malam ini telah kuucapkan.

Aku sendiri tak tahu, untuk apa kata maaf itu. Karena Ino menangis? Karena aku bodoh, idiot, tolol, jelek, ayam dan gay? Aku tak tahu. Mulutku seolah dengan kurangkerjaannya, mengucapkan kata-kata itu tanpa perintah otakku. Tanpa kehendakku. Meluncur begitu saja.

"Aku hanya…," aku kembali berucap lirih, "Aku hanya… A-aku hanya…."

AAARRRGGGHHH!

"What the fuck is with 'aku hanya', Idiot?" innerku ngamuk-ngamuk dengan cerewetnya. Aku sendiri heran, bukankah dia jauh lebih cocok jadi inner Naruto? Mr. Let's Speak English bullshit! "Just fucking say, 'Aku hanya mencintaimu'! what's the big deal?"

"The big deal is my fucking pride, you idiot!" bentakku yang merasa terganggu.

"Just fucking choose! Your beloved Ino or your fucking stupid pride?"

"Shut the hell up, won't you?"

Beberapa saat aku hanya menghabiskan waktu dengan innerku.

'Aku hanya'? Aku hanya apa?

Oh bokep, aku tidak bisaIngin rasanya aku menangis. Aku tidak bisa dan mungkin, tak akan pernah bisa mengatakannya!

Mengapa harga diriku terlalu tinggi?

Jika aku tak bisa mengucapkannya lewat kata-kata, maka aku akan… aku akan…

"Che!"

Dan aku lupa, kapan tepatnya aku bergerak maju dan merengkuh tubuh Ino dalam dekapanku. Prinsip 'tak akan menyentuh gadis sebelum menikah' yang kuanut, kini telah kulanggar.

Kini aku hanya melakukan apa yang selama ini ingin kulakukan. Menyampaikan perasaanku melalui gerakan tubuhku tatkala mulut dan lidahku terasa kelu untuk kata-kata tertentu.

Kudekap Ino rapat-rapat dalam rengkuhanku. Kutenggelamkan wajahnya di dadaku. Kuhirup aroma segar dan wangi dari rambutnya yang terasa lembut di sela-sela jemariku.

Kukatakan dengan lirih, "Maaf, Ino. Aku hanya tak bisa mengatakannya."

Setelah itu suasana menjadi sunyi kembali. Aku terdiam karena aku tak tahu harus berkata apa lagi. Dan Ino masih terisak. Meski suara isakannya mulai melirih, tapi tetap saja, tiap kali mendengar isakannya, maka rasanya ada yang perih di dalam sini.

Kudekap ia dengan makin erat, makin hangat. Berusaha menenangkannya, tak peduli ia suka atau tidak.

Beberapa menit kami habiskan dengan kebisuan. Aku masih merengkuhnya, tanganku masih mendekapnya, mencoba mengatakan bahwa aku tak ingin melepasnya lagi.

Sedangkan Ino hanya terisak kecil. Sampai sekarang aku tak tahu alasan ia menangis karena apa. Dia terasa pasif di pelukanku, tak membalas rengkuhanku, tapi juga tak menolak dan menamparku.

Perlahan, kupejamkan kedua mataku. Inilah pertama kalinya aku memeluk orang lain. Bahkan orang tuaku saja terakhir kali kudekap 10 tahun yang lalu. Dan Itachi? Never!

Lambat tapi pasti, kurasakan kedua tangan Ino yang semula mengepal di dadaku, kini kedua tangan itu mulai bergerak ke atas untuk melingkari leherku.

Ah, dia membalas pelukanku?

Kudengar isakannya pun lenyap, tergantikan oleh tawanya yang lirih dan serak oleh air mata.

"Kau hanya Uchiha angkuh yang tak mau merendahkan dirimu," ujarnya berbisik, "Aku paham, dan aku tahu."

Menyadari bahwa ia sudah tak menangis, terdapat perasaan legah dalam sini dan menggantikan semua rasa sakit atau menyesal yang sebelumnya ada.

Untunglah, Ino telah tenang dan baik-baik saja.

Kuputuskan untuk merespon ucapannya dan membunuh kesunyian ini, "Uchiha memang angkuh." Aku berkata sembari tertawa lirih. Inilah pertama kalinya aku merendahkan klan kebangganku seumur hidupku. Tapi tak apa jika hinaan pada Uchiha bisa membuatnya tertawa begini, akan kulakukan untuknya.

"Terlalu dingin," sambung Ino.

"Munafik," jawabku.

"Belagu."

"Memble tapi kece."

"Ah, narsis juga!"

Dan berbagai hinaan terucap oleh kami dan tertujukan pada klanku. Sigh, maaf, Moyang Madara, ini demi kelangsungan keturunan Uchiha. Well, jika aku menikah dengan Ino tentu saja!

Tubuh kami masih berdekapan erat. Tawa masih mengalun hangat di saat waktu terasa bergulir lambat.

Aku tak menyesal datang ke pesta Sai!

-oOo-

"Kenapa kau begitu bodoh? Menjengkelkan, tahu! Kau sudah mencampakkanku demi sebuah tumbuhan dan sekarang kau dengan gampangnya meminta aku kembali padamu? Apa-apaan kau?"

Begitulah ucapan Ino tadi. Ucapan yang keluar dengan lancar dari mulutnya yang indah. Meski tak ada nada marah atau membentak, tetap saja, kata-katanya begitu menusuk hatiku. Membuatku telak terdiam karena aku tak mampu menyangkalnya.

Iya, itu benar. Aku telah memilih tumbuhan daripada manusia.

Bodoh.

"Beri aku waktu." Itulah kata terakhirnya sebelum aku dengan sangat terpaksa, melepasnya dari pelukanku.

Beri waktu? Maksudnya?

Separuh hatiku berteriak senang. Ino masih mempunyai rasa untukku dan menyuruhku memberinya kesempatan untuk mendepak Sai.

Tetapi separuh hatiku yang lain meneriakkan kata-kata pesimis.

"Memberi waktu agar dia bisa mencari alasan untuk menolakmu."

"Dasar idiot! Kau piker dia mau menerimamu setelah dulu kau memutuskannya dengan alasan sinting itu?"

"Mati aja deh. Sai jauh lebih baik darimu."

"Lebih baik kau benar-benar gay dengan Gaara."

Demikianlah… Bahkan hatiku sendiri juga menyalahkanku dan sama sekali tak mendukungku.

Aku menghela nafas berat sembari menyandarkan diri ke batang pohon di belakangku. Kedua mataku menatap bosan ke arah depan. Oh ya, ruangan pesta kini telah berpindah ke kebun belakang dari rumah Sai dikarenakan ruangan pesta sebelumnya telah terlihat dan berbau lebih parah dan jamban. Di halaman belakang sini yang merangkap sebagai kebun berbagai macam bunga, ternyata telah didekorasi dengan baik untuk tempat pesta. Terdapat beberapa sofa dan meja, juga beberapa meja yang menyediakan berbagai macam hidangan.

Aku mengambil HPku dan melihat pukul berapa sekarang.

Pukul 21.05.

Hufft! Tak terasa, telah dua jam lebih pesta ini berlangsung. Tak ada yang istimewa. Setelah pemotongan kue tart, 'menganiaya' Sai, makan-makan, lalu bincang-bincang, mengobrol, bergosip, dan semua kegiatan yang biasa dilakukan oleh Ibu-Ibu arisan.

Apanya yang menarik?

Aku kembali memasukkan HPku ke saku jaketku tatkala sebuah suara terdengar olehku.

"Sasuke."

Dengan sangat malasnya, aku melirik pada sumber suara, Naruto, yang tampak tengah menghampiriku dengan kardus remi di genggaman tangan kanannya.

"What are you doing here?" tanyanya sembari menepuk pundakku, "Wanna play?" dia menunjuk kartu remi di tangannya.

Aku langsung merebut kotak kardus kecil berisi remi dari tangannya. Sembari mengeluarkan kartu-kartu remi dari kardusnya, aku beranjak menuju ke sebuah sofa kosong dengan sebuah meja di depannya.

Aku mulai mengocok kartu-kartu itu. Lumayanlah, siapa tahu bermain kartu remi bisa menyibukkan pikiranku.

"Bagaimana kau tadi dengan Ino?"

Aku yang baru duduk di sofa dan akan membagi kartu, tertegun sembari menatap Naruto dan merespon pertanyaannya dengan sebuah, "Ha?"

Bukan pertanyaannya yang mengejutkan, tetapi bahasa yang baru saja ia gunakan. Apa jiwa nasionalisme nya telah kembali?

"C'mon, Sasuke! I saw you dragging her out of the room."

Aku tersenyum hambar. Ternyata dugaanku salah. Harusnya aku ingat, dia adalah Mr. Let's-speak-English.

"Apanya yang bagaimana?" tanyaku cuek sembari mulai membagi kartu, untukku dan untuk Naruto.

"Didn't something happen?" Naruto tertawa kecil sambil duduk di kursi di seberang meja di depanku.

"Tidak."

"C'mon, man. You needn't hide anything. I'm your friend, aren't I?" jawabnya sambil mengambil kartu bagiannya.

"Friend my ass," cibirku yang tengah meletakkan tumpukkan sisa kartu di tengah meja, "Kau lebih memilih Hinata daripada aku," lanjutku mengingatkannya pada kejadian saat kami baru sampai di rumah Sai.

"Ew… You sound like a jealous bitc…," ucapan Naruto terhenti saat aku melempar kardus remi tepat ke mukanya, "Hahahaha. Kidding. Kidding."

Malah ketawa, lagi!

"So, have you told her?"

Aku menghela nafas kecil. Jujur saja, aku sama sekali tak ingin membahas tentang kejadian antara aku dan Ino tadi. Terlalu menakutkan bagiku untuk mengingatnya kembali. Aku yang memelas, aku yang romantis di depan seorang gadis, dan yang lebih utama, akan ucapan Ino.

"Beri aku waktu."

Sial, feelingku gak enak sekali. Apa dia lebih memilih Sai?

Demi kenistaan Itachi, Sai tidak selevel denganku, 'kan? Cakep? Jujur deh, aku banget, 'kan? Pinter? Aku meraih juara umum dalam Olimpiade Sains antar kota tahun ini! Kaya? Well, sama, kok! Cool? Banyak fans? Nih, Uchiha Sasuke, anak bungsu dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto, punya nilai plus-plus dalam hal itu!

So, apa yang membuat Ino kemungkinan akan mendepakku demi Sai? Apa yang kurang dariku?

"Setidaknya Sai gak narsis kayak elo!" jawab innerku.

Ah, aku narsis? Benarkah?

"Hey, it's your turn," suara Naruto memecah lamunanku, "What have you been dreaming of, anyway?"

Aku menghela nafas sembari menatap kartu-kartu yang terpegang di tanganku. Lalu, aku mengambil satu di antaranya dan langsung menaruhnya di tengah meja.

"Fufufu… Interesting," gumam Naruto sembari menatap kartu yang baru kuletakkan, "Anyway, what have you been dreaming of, Teme?"

Aku kembali menghela nafas lelah.

Stop thinking about her, dammit, batinku, Dia belum tentu memikirkanmu.

Hah… Andai Gaara ada di sini. Dia adalah sahabat sekaligus orang yang sudah kuanggap sebagai Kakekku. Dia selalu ada untuk membantuku. Bahkan tak sekali dua kali dia mau kuperlakukan dengan mesra untuk mengusir para gadis binal yang mencoba mendekatiku. Dia juga sering berbaik hati memberiku wejangan seperti yang dilakukan seorang kakek pada cucunya. Dia sering mengingatkanku untuk berhenti bersikap dingin –padahal dia sendiri kayak es-, menyuruhku untuk tidak menistai Kakakku lagi, jangan menyontek, harus menabung demi masa depan, kasih uang ke pengemis, dan taati peraturan lalu lintas. Ya, pendiam begitu, dia kalo kumat, bisa cerewet sekali.

'Hm… Kalau ada Gaara di sini, dia akan bilang apa, ya? Oh ya, aku baru sadar, sedari tadi aku tak melihat cowok berambut merah ngejreng itu. Apa dia tidak datang?;

"Gaara…," gumamku tanpa sadar, merasa rindu akan kehadiran sang sahabat.

"Heck? You've been dreaming of Gaara? What are you? Gay?"

Mendengar suara tak merdu itu, kurasakan dahiku berkedut keki dan mataku menyipit terganggu dan menatap Naruto yang kini tampak syok dengan telunjuk kanannya yang tertuding padaku.

Sial! Kenapa telinga tuh anak tajam sekali? Terlebih, kenapa dia ngomongnya 'pelan' sekali hingga beberapa orang yang berada di dekat kamu menoleh pada kami?

"Ngomong apa, sih?"

"Tauk. Gak jelas banget."

Begitulah mereka berucap sebelum kembali mengacuhkan kami.

Fiuh… untunglah. Ada untungnya juga Naruto berbicara dengan Bahasa Inggris.

"SEMUA HARAP KUMPUL DI TENGAH HALAMAN. PEMBUKAAN HADIAH AKAN DILAKUKAN OLEH SAI!" terdengar pengumuman dari mikropon.

Aku langsung membeku.

What the fuck? Pembukaan hadiah?

"Kenapa tidak langsung pulang saja? Jangan-jangan Sai sengaja menyuruh kita menginap di sini!" dumalku muak.

"My, my… It's just fucking nine, Baby Sasuke," kata Naruto mengejekku, "Why? You gave him a gift, didn't you?"

Aku menggigit bibir bawahku tanpa sadar.

Ya… Tapi…

Oh Ozawa, aku ingin pulang!

-oOo-

Semua berkumpul di tengah halaman, berdiri membentuk sebuah lingkaran besar. Terlihat Sai tengah berdiri di tengah lingkaran yang terbentuk dari barisan manusia. Sebuah meja besar tertumpuki banyak kado dan hadiah, terletak di sampingnya. Sebuah mikropon terpegang oleh tangannya.

"Ah, dari Neji-kun," kata Sai dengan mikropon setelah ia mengeluarkan dua buah kardus dari dalam sebuah kotak kado, "Eh, ada suratnya juga. Bentar aku bacain. Um… Sai, Happy Birthday. Kuasnya moga berguna dan membuat lukisanmu makin berseni. Salam, Hyuuga Neji, KetOs. Ah, terima kasih, Neji-kun," ujar Sai ramah sembari menatap Neji yang berdiri tak jauh darinya. Neji hanya bersikap cool.

Aku memutar bola mata dengan muak. Coba, apa gunanya acara beginian? Apanya yang menarik dari mendengarkan sekumpulan surat selamat ulang tahun?

Dasar menyebalkan sekali itu orang!

"Hah! Hadiah yang diberikan pada Sai sesuai dengan kepribadian Sai semua!" dumal Naruto kesal di sampingku. Saking kesalnya, dia sampai lupa memakai bahasa Prince Haryy dalam ucapannya, "Aku jadi nyesel gak membeli pakaian di mall waktu itu untuk Sai! Gah, it's your fault, Sasuke!"

Aku memutar bola mata dengan kesa. Di sana, Sai tampak sibuk membuka kado dan membaca surat yang lain. Tapi sembilan puluh delapan persen dari para tamu, tak menghiraukannya.

"Pertama, pakaian itu membuat zina mata. Kedua, pakaian itu terlalu mahal untuknya. Dan ketiga, selain kau, TAK AKAN ada murid SMA cowok yang mau membeli pakaian itu untuk cowok lain. See? Who's gay now?" balasku dengan pelan, menahan rasa kesal karena harus mengingat pakaian tak layak jual itu.

"Dari Gaara-kun."

Aku mengalihkan pandanganku dari Naruto dan melihat Sai yang sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak berwarna merah marun itu.

Dan saat 'sesuatu' itu telah terkeluarkan dari kotak itu, kedua mataku langsung melotot syok.

Itu kan…

Ya bokep! Itu kan pakaian haram yang mau dibeli Naruto?

Oh! Oh! Oh! Demi kebencianku pada Itachi, Oh, Gaara-kah yang membeli pakaian itu? That cold hearted fellow? My best friend? My fake boyfriend? My Grandpa?

Gaara…?

"See? Even Gaara desired it! That clothe should have been mine!" protes Naruto, namun aku terlalu syok untuk meladeni ucapannya.

Oh Jashin, aku berhasil melarang Naruto dan kini pakaian itu telah menjerat Gaara? Kenapa harus sahabatku?

Gah! Aku membenci siapapun yang menciptakan pakaian itu!

"Sai-kun, maaf aku tak bisa datang. Aku dan keluarga harus menghadiri peresmian perusahaan baru Ayah malam ini. Duh… Maaf, ya…," Sai membaca kertas yang ada bersama pakaian nista itu.

Aku menaikkan sebelah alisku. Jadi Gaara memang tidak datang? Baguslah! Daripada dia harus operasi wajah karena malu. Mungkin dia tidak menyangka jika hadiah darinya akan dipublikasikan begini.

"Sai-kun pasti tambah keren dengan ini. Plis, pake, ya? Aku belinya susah, lho," lanjut Sai membaca surat itu.

Aku bergidik mendengarnya. Sumpah, dengan aku pun, Gaara tak pernah berucap sedemikian lembut dan manjanya.

"Wah, terima kasih ya, Gaara-kun. Demi kamu, aku janji aku bakal pakai ini terus," kata Sai tanpa memedulikan aura horor dari yang lain.

Err… hah! Jangan-jangan doaku terkabul? Setelah ini Sai akan menjadi gay dan berakhir dengan Gaara?

Yey!

Aku tersenyum kala mendapat pemikiran itu. Tak kuhiraukan bisikan-bisikan disekitarku yang mengatakan 'Apa Sasuke tidak cemburu?' atau 'Ckckck! Gaara terang-terangan niat selingkuh!' dan sebagainya.

"It's not fair!" Naruto masih ngedumal.

"Oke, selanjutnya, dari Uzumaki Naruto," ujar Sai sambil membuka kado berwarna oranye.

"Apa yang kau berikan, Naruto?" tanyaku.

"Shut up and see!" tampaknya dia masih kesal.

Ya Gusti, jangan sampai persahabatan kami rusak hanya karena pakaian mesum itu!

Aku mengembalikan pandanganku pada Sai. Dia tampak mengeluarkan dua buah buku tulis dan sebuah pensil.

Baik aku, Sai, dan teman-teman yang lain, bahkan mungkin hewan-hewan kecil yang ada, kompak bergumam, "What. The. Fuck."

"O-oi, kau sadar 'kan, ini ultah anak SMA? Bukan anak SD?" bisikku.

"What's the matter? Sai's a student and those things must be usefull for him. Should I have given him a porn magazine of yours?" Naruto balas berbisik, "I told you, I didn't know what to give to Sai and you fucking stopped me from buying those clothe I desired, dammit!"

Aku menunduk dan menenggelamkan wajahku di balik telapak tangan kiriku.

Jashin, punya dua sahabat saja, 'kok memalukan semua? Apa mau dikata. Mau dikata apa. They're my friends after all. Shit.

"Ah, thank you, Naruto-kun," kata Sai sambil tetap tersenyum. Ya iyalah, dapat kado kotoran kerbaupun dia pasti juga akan tersenyum.

"You're welcome!" sahut Naruto keras.

"Kau tidak memberinya surat, Naruto?" bisikku lagi.

"No need."

Aku menghela nafas. Entah mengapa, perasaanku jadi tidak enak.

Iseng, kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tanpa merasa perlu memerhatikan Sai dengan segala omong kosongnya di depan sana.

Dan pandanganku terhenti saat mendapati Ino yang berdiri di samping Hinata di ujung sana. Dan seperti takdir yang menandakan bahwa kami berjodoh, pandangan kami bertemu pada saat yang sama.

Dan kau tahu apa? Dia tersenyum padaku!

Hell yeah!

Akupun membalas senyumannya dan melambaikan kecil tangan kananku ke arahnya.

Optimis! Sebentar lagi aku akan menjadikan Ino kekasihku kembali, dan sebentar lagi pula, aku akan tertawa di atas penderitaan Itachi yang baru ditinggal nikah oleh kekasihnya!

"Selanjutnya, um, ah, dari Sasuke-kun rupanya," ucapan Sai terdengar olehku dan seketika membuat senyumanku lenyap.

Aku menoleh, dan tatapanku langsung bersorot horor tatkala melihat Sai mengeluarkan sebuah kertas yang merupakan satu-satunya isi dari kotak kado itu.

Oh no! Ini saatnya aku beraksi.

Aku segera mengeluarkan HP dari saku jaketku dan langsung menempelkannya di telingaku.

"Hallo? Mama? Apa? Itachi kecelakaan?" kataku layaknya orang gila yang berbicara pada Hp yang mati karena lowbat. Suaraku sengaja kukeraskan sehingga Naruto dan beberapa orang tampak memerhatikanku dengan ekspresi terkejut. Mataku melirik ke arah Sai. Dia juga memerhatikanku dan mengurungkan atau setidaknya menunda niatnya untuk membaca tulisan di kertas itu. Jarakku dengan Sai yang tidak terlalu jauh, membuatnya mampu mendengar ucapanku tadi.

"Apa? Hah! Oh no! Yeah, yes! Aha? Well. Ugh! Hn," sambungku dengan amat tidak jelasnya.

Sembari memasang ekspresi sedih dan mengakhiri akting murahan via HP itu, aku kembali memasukkan HP ku dan menatap Naruto.

"Naruto, aku harus pulang. Itachi kecelakaan. Parah sampai mukanya kebakar. Oke? Bye!"

Tanpa menunggu respon Naruto, aku segera beranjak menuju Sai.

"Sorry, Sai. Aku harus pulang," ujarku lirih sembari menepuk pelan bahunya.

Akupun tak menunggu Sai menjawab. Aku segera pergi dari sana, berjalan di jalan kecil di samping rumah Sai, menuju halaman depan, keluar gerbang, lalu ke pangkalan ojek.

Itachi kecelakaan? Heh!

"Persewaan DVD, Bang," kataku sebelum motor yang kunaiki melaju.

Saat telah separuh perjalanan kulalui, aku baru menyadari sesuatu.

Apa gunanya aku pergi jika nantinya Sai tetap akan membaca kertas itu di depan umum?

AAARRRGGGHHH!

Harusnya kusambar saja tadi kertasnya!

Shit.

To Be Continued

Yukeh: Ah~~ Akhirnya, aku bisa update fic satu ini! Udah kuketik ampe tamat sih, tapi baru niat update sekarang *ditimpuk* T_T Dan penasarankah kalian akan apa hadiah Sasuke untuk Sai? :D Tunggu chapter selanjutnya yang akan saya update berbarengan dengan opening ceremony FIFA Worldcup 2014! *dihajar*

Review, kritik, saran, pendapat, apapun asal bukan flame,

Akan sangat saya nantikan dan hargai :D

July, 2010

Yukeh