Kamu memandangi penampilanmu di depan cermin dengan sweatdrop. 'Emang rencana bagus sih... tapi...' Kamu memandang sekeliling toko pakaian itu. 'Memangnya tidak ada pakaian lain selain baju beginian! Ini sih buat cocktail party!!!'

Gaun ungu, dengan rumbai-rumbai putih yang kau kenakan, adalah pilihan pegawai toko yang langsung saja menyambar baju dan menyuruhmu untuk kau kenakan, padahal kau belum bilang apa yang kau inginkan dan kodenya.

"HEI!! Aku tidak mau yang beginian!" Protesmu pada pegawai itu.

"Hah?" Pegawai itu bingung. "Tapi... itu yang paling terbaik..."

Kamu mendekatkan wajahmu ke wajah pegawai itu. "BUKAN!! Yang BIASA saja!!"

"Yang biasa?" Pegawai itu terlihat bingung.

"2628 Cecill Monarche..."

"OH!!!" Pegawai itu langsung terkejut dan menarikmu dengan berlari ke sebuah ruangan.

///Flashback...

"Rencana?" Tanya Cecill.

"Yep..." Kamu tersenyum. "Jadi tolong beritahu aku di mana aku bisa mengganti bajuku untuk menyamar. Baju ini terlalu ganjil untuk menjadi penduduk biasa."

"Baiklah... aku mengerti, aku akan berusaha semampuku untuk membantumu. Aku tahu tempat untuk membuat identitas palsu, dan kurasa di sana, mereka juga menyediakan barang-barang untuk penyamaran. Tempatnya tidak jauh dari sini, tinggal belok ke kanan ketika keluar dari sini."

"Lalu?"

"Di sana ada toko pakaian atau mungkin lebih baik disebut toko gaun. Ketika masuk, pasti ada pegawai yang langsung memberimu pakaian dan menyuruhmu memakainya. Sesempat mungkin katakan ini padanya, 2628 Cecill Monarche, itu adalah kodeku untuk masuk ke ruangan rahasia di sana. Tapi kau bisa memakainya, karena mereka tidak pandang bulu, yang penting adalah kode. Dan selanjutnya kau akan lihat sendiri. Di sana adalah tempatnya..."

///End Flashback

'Aku mengerti... Tapi, orang ini!!!' Kamu memandang pegawai yang masih menarikmu. 'Dia terlalu rusuh!!"

"Di sini..." Pegawai itu berhenti, lalu berbalik padamu. "Kenapa tidak anda sebutkan kodenya dari tadi!?"

"Memangnya kau memberiku kesempatan untuk bicara ketika aku memasuki toko ini!?" Protesmu.

"Benar juga ya..." Pegawai itu memutar bola matanya.

'Orang ini...'

"Yah, sudahlah, silakan anda mengganti pakaian yang anda sukai di ruangan ini, tapi anda hanya bisa memakai 1 jenis atasan, 1 jenis bawahan, dan 1 jenis asesoris." Tegasnya.

"Memangnya kenapa?" Tanyamu.

Pegawai itu mendekatkan wajahnya hingga jarak wajah kalian hanya tinggal 1 inci. "Kerena adventurer seperti anda pasti akan memakai lebih dari 1 jenis pakaian dengan style mencurigakan untuk seorang penduduk biasa."

Kamu sweatdrop. "Aku mengerti..."

Pegawai itu keluar dan kamu segera mengganti pakaianmu dengan sebuah atasan putih dengan sedikit corak bunga krisan berwarna hijau, celana jeans, dan sebuah topi biru.

"Tapi bagaimana dengan pakaian lama dan senjataku?" Kamu bergumam sendiri.

Tok. Tok. "Apakan anda sudah selesai mengganti pakaian?" Sepertinya pegawai yang tadi.

"Ya..."

Pegawai itu membuka pintu. "Permisi..."

"Apa begini sudah lebih baik?" Tanyamu sambil mengangkat bahu.

"Anda lebih tahu kesan natural ya? Tapi kurasa itu sedikit tomboi." Katanya sambil menutup pintu.

Kamu tertawa kecil. "Agar lebih mudah bergerak." Kamu beralih pada rantaimu. "Bagaimana dengan senjata dan pakaian lamaku?"

"Ini..." Pegawai itu memberikan tas pinggang berwarna hitam. "Anda bisa menyimpan rantai itu di sini, sedangkan pakaian lamamu akan kuurus di sini, silakan ambil kapan saja."

"Oh..." Kamu mengambil tas itu dan langsung memasukkan rantai ke dalamnya. "Terima kasih..."

"Tidak masalah."

"Lalu apa bayarannya untuk semua ini?"

"He?" Pegawai itu bengong sesaat, lalu tertawa. "Anda tidak perlu membayar untuk apapun! Anda adalah pemberontak bukan? Misi kami juga melawan pemerintah, dan kami memakai cara halus, yaitu membantu para pemberontak menyamar!"

"Hoo..." Kamu tersenyum. "Baguslah... Tapi bagaimana kalau aku pemerintah itu sendiri."

"Terpaksa aku membunuh anda."

"Begitu... Sudah berapa agen pemerintah yang kau bunuh?"

"Kenapa anda tanya begitu?"

"Hm..." Kamu memutar bola matamu. "Tidak ada orang yang hanya memakai tangan kirinya saja untuk memberikan sesuatu kalau dia bukan seorang pembunuh berdarah dingin. Kau tidak pernah memakai tangan kananmu ketika berinteraksi denganku. Benar kan?"

Pegawai itu tersenyum. "Bulan ini hanya enam belas orang."

'Menjawab dengan santai seperti itu... Benar-benar pembunuh ulung...' "Boleh kutanya namamu?" Kamu mengulurkan tangan kirimu.

Dia memperhatikan sejenak, lalu tersenyum. "Ternyata kau juga berdarah dingin, eh?" Dia menyambut uluran tanganmu. "Natsume Shima."

" Hanya saja aku tidak pernah membunuh orang. Aku Shaffira."

"Hanya Shaffira?"

"Yeah, aku tidak memiliki nama keluarga. Ibuku melakukannya agar aku tidak diincar pemerintah."

"Dari awal sudah kriminal ya...?"

"Begitulah..."

Mendadak atmosfer berubah menjadi agak aneh. Mengobrol tentang hal yang tidak lazim, mungkin cukup untuk mengubah atmosfer yang tadinya biasa dan ceria menjadi dingin dan bermakna dalam.

-00-00-00-00-

Kamu menatap bintang-bintang yang menghiasi kegelapan langit malam dari balik jendela sebuah gedung kosong. Shima telah mengatakan kalau lebih baik bergerak untuk mencari informasi adalah besok, karena tempat berkumpulnya prajurit ShinRa setengah penghianat berkumpul di base mereka untuk mengobrolkan sesuatu yang penting yang berhubungan dengan pemerintah. Tempat base itu adalah gedung yang berada di depan gedung kosong yang kamu tempati.

Angin berhembus pelan melewati jendela dan mengibaskan sedkit rambutmu.

"...Angin diluar sedingin neraka..."

///esok paginya

Kamu melihat beberapa orang prajurit ShinRa masuk ke dalam gedung yang ada di depan. Kamu segera turun dari lantai 3 dengan melompat dari jendela. Tidak sulit untuk lompat dari ketinggian segitu, karena sebelumnya kamu telah melompat dari tempat yang lebih tinggi. Pengalaman memang pelajaran yang berharga.

"Permisi..." Kamu masuk ke gedung yang di masuki para prajurit tadi.

"Yaa?" Seroang prajurit menghampirimu.

Tampaknya tempat itu adalah asrama prajurit, pantas saja menjadi tempat perkumpulan.

"Ng..." Kamu bingung harus mengatakan apa, dan melirik ke arah sekitar dan menatap seorang prajurit yang berada di dekat tangga.

"Oh... kau ingin bertemu dia ya?" Tanya prajurit yang menghampirimu. "Helarin, ada yang mencarimu nih." Panggilnya ke prajurit yang berada di dekat tangga.

"Hmm?" Helarin, sang prajurit menoleh.

Kamu langsung terkejut melihat wajah prajurit itu dari tampak depan dan langsung menyerukan nama seseorang. "Heiren!"

"Eh?" Prajurit yang ada di dekatmu bingung.

Helarin memandangmu binung.

'Tidak mungkin! Dia... Hei...' Tapi begitu melihat rambut cokelatnya kamu langsung tersadar. 'Bukan... dia juga lebih muda...' "Oh... Maaf..." Kamu tersenyum padanya.

"..." Helarin menghampirimu, dia lebih tinggi darimu walau terlihat hanya bocah biasa yang merupakan prajurit kelas 3. "Ikutlah denganku..."

Sesaat kamu hanya diam ketika ia melangkah lagi untuk menuruni tangga. Tapi akhirnya kamu mengerti kalau prajurit yang satu itu adalah salah satu dari setengah penghianat. Kamu mengikutinya.

"Kau pacar Helarin ya?" Prajurit yang ada di dekatmu bertanya.

"Bukan... Dia pacar kakakku..." Helarin langsung menyambar.

"Hee?" Prajurit itu bingung. "Walau begitu kenalkan saja, namaku Geel."

"Ya... Salam kenal." Kamu langsung mengikuti Helarin dan meninggalkan Geel yang hanya bengong.

Begitu menuruni tangga. Kamu melihat beberapa prajurit sedang mengobrol dan beberapa orang-orang hologram. Helarin duduk di salah satu kotak kayu, agak jauh dari temannya yang lain.

Kamu menghampirinya. "Kau langsung tahu tujuanku ketika aku datang tadi?" Lalu duduk di kotak kayu yang ada di depannya.

"Tidak, tapi aku langsung tahu ketika kau menyebutkan nama Heiren." Ujarnya sambil melepas helm prajuritnya, tanpa helm itu ia tambah mirip dengan Heiren.

"Heiren itu..."

"Kakakku..." Potong Helarin.

"Apa!?" Kamu terkejut. "Tapi Heiren tidak pernah bilang kalau..."

"Kalau dia punya adik? Mungkin dia tidak ingin kalau aku satu-satunya keluarga terlibat dalam perang." Helarin menghela nafas. "Mungkin ia sedang memaki di alam sana karena aku menjadi seorang prajurit."

"...Helarin..."

"Sampingan masalah yang sudah berlalu itu. Kalau kau ingin bertanya tentang pemberontak yang kini ada di kantor pemerintah kau beruntung bertemu denganku karena aku tahu semuanya." Kata Helarin dengan tatapan tajam, lebih tajam dari pada tatapan Cloud ataupun Vincent. Lebih menggambarkan kesedihan dan perasaan yang sedingin es.

"Ceritakan..."

"Dua hari lagi akan diadakan eksekusi untuk para pemberontak. Mereka aka disalahkan sebagai penyebab semuanya. Presiden mengatakan kalau harus ada ayng disalahkan."

"Eksekusi!?"

"Ya... Dan aku adalah pelaksana eksekusi di dalam ruangan gas. Aku akan mengeksekusi seorang wanita bernama Tifa."

"Tifa!?" Mendengarnya kamu lebih terkejut lagi. "La...lalu..."

"Aku akan sengaja menjatuhkan kunci pembuka ikatan di ruang gas, dan membiarkan wanita itu untuk membukanya sendiri. Aku tahu dia bisa melakukannya dan aku akan menjatuhkan kuncinya tepat di depannya."

"Kenapa kau tidak berikan kuncinya ke Tifa saja?"

"Hal itu tidak mungkin karena akan diketahui Scarlet jika aku mendekati wanita itu terlalu dekat. Dengan suara gas, pasti suara kunci terjatuh tidak akan diketahui Scarlet."

"Tapi kau kan bisa..."

"Apa kau tidak mengerti artinya setengah penghianat?" Helarin memotong perkataanmu. "Kami hanya bisa membantu kurang dari setengah. Dan kau harus menyakini kalau wanita itu bisa meloloskan diri. Apa kau tidak bisa mempercayaiku dan mempercayai wanita itu?"

Kamu terdiam. Perkataan Helarin ada benarnya. Terlalu mencurigakan kalau Helarin terlalu dekat dengan Tifa untuk memberikan kunci. Jika ketahuan, Tifa dan Helarin bisa habis.

"Baiklah..." Kamu mengangguk. "Aku mengerti. Bagaimana dengan yang lainnya?"

"Bocah ninja ada di sebuah ruangan di gedung pemerintah, karena dia ninja, kau tidak perlu khawatir karena dia akan menyusup, dan temanku telah memberikan secarik kertas sebagai peta kecil untuknya agar mudah menyusup. Pria jubah merah mudah untuk melarikan diri karena temanku sudah memberikan senjatanya. Kucing dengan Moggle tidak perlu dikhawatirkan, karena dia salah satu agen pemerintah, jadi mudah untuk menyusup. Pria besar bertangan senapan akan dieksekusi bersama dengan wanita bernama Tifa, tapi ia akan lolos karena Kucing Moggle punya rencana lain. Anjing berbulu merah akan lolos dengan mudah karena ia bahan experimen, hanya tinggal menghajar para ilmuwan bodoh. Pria berambut cepak pirang akan temanku bantu untuk lolos, karena pria itu adalah seorang pilot jadi dia harus diantar ke Highwind. Tapi karena perjalan ke Highwind akan sedikit sulit, tolong kau membereskan Prajurit yang menghalangi jalan ke Highwind atau di sekitar lapangan landas. Hanya itu tugasmu dan semuanya akan lolos dengan sempurna."

'Bocah ninja, pria jubah merah, kucing moggle, pria besar bertangan senapan, anjing berbulu merah, pria berambut cepak pirang... Semuanya ia sebutkan tanpa memakai nama, kecuali Tifa... Aku tidak paham pikirannya.'

"Apa kau mengerti apa yang kukatakan?" Helarin mendelik.

"Ah... Iya aku mengerti, hanya tinggal menyusup dengan wajar dan menghajar semua yang ada di jalan menuju lapangan landas. Hanya itu bukan?" Tanyamu.

"Benar... Jangan sampai kau melewatkan satu orang pun agar semuanya berhasil..." Helarin berdiri dari tempat duduknya dan memakai helm prajuritnya. "Kita ke atas..."

Kamu mengikutinya menaiki tangga.

"Oi, Helarin! Lusa jangan sampai gagal ya!" Teriak salah seorang temannya dari bawah.

"Hmph." Helarin menoleh dan tersenyum. "Tenang saja, bodoh..." Lalu naik lagi.

'Dia tersenyum... Makin mirip dengan Heiren.' Kamu terus memandangnya sambil menaiki tangga.

"Besok lebih baik kau mencari kerja sambilan." Kata Helarin ketika kalian berdua sampai di atas. "Agar tidak dianggap mencurigakan karena mondar-mandir mengelilingi kota."

"Ya..." Kamu mengangguk. "Oh iya Helarin..."

"Hm?"

"Kenapa kau bilang kalau aku ini adalah pacar kakakmu?"

Dahi Helarin mengerut. "Lho? Bukan ya?"

"He?"

"...Mungkin aku yang mengambil kesimpulan sendiri..."

"Mengambil kesimpulan sendiri?" Kamu juga mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Seorang gadis berambut perak, punya bola mata yang hijau seperti kucing dan bibir semerah kelopak sakura... Kakak selalu bilang kalau ia akan mempertemukan gadis yang disukainya itu padaku kalau sudah waktunya, dan ia berjanji mempertemukannya denganku sesudah misi yang akhirnya menewaskannya itu..." Helarin tersenyum simpul. "Katanya dia agak ceroboh, ceria namun dingin... Kupikir aku tidak akan bisa bertemu dengan orang yang dicintai kakakku itu dan kakakku telah berbohong tentang gadis itu. Tapi ternyata aku salah..."

Mendengarkan perkataanya, malah membuatmu tambah bingung dan pusing tujuh keliling. "Aku masih tidak mengerti..."

Helarin tersenyum padamu. "Gadis itu datang sendiri padaku... Itu adalah kamu, bukan? Orang yang dicintai kakak."

Entah apa yang kau ingin katakan. 'Heiren mencintaiku...?' Kebenaran yang tidak ingin kau percayai. Tapi itu hanyalah alasan bodoh.

"Kukira kau kekasihnya, ternyata bukan ya? Namamu Shaffira kan? Itu juga nama gadis yang selalu kakak ceritakan padaku. Jadi perasaan kakak bertepuk sebelah tangan ya. Hahaha..." Dia tertawa.

'Heiren...' "Helarin..." Dalam pikiranmu terbayang Heiren yang juga tertawa dan mengejekmu karena kau tidak menyadari perasaannya. Kamu tertawa kecil. "Kurasa Heiren juga sedang tertawa seperti ini ya... di alam sana... Tapi aku akan bilang... Kalau aku juga mencintainya. Dia orang yang berharga bagiku... Dan tidak akan pernah kulupakan."

"Hmm.." Helarin mengangguk. "Begitu juga denganku yang sangat mengaguminya. Lebih baik sekarang kau pergi agar tidak dicurigai orang-orang."

"Baiklah. Terima kasih Helarin..." Kamu tersenyum lalu berbalik. "Dan sampai jumpa." Kamu melangkah keluar.

Helarin tersenyum simpul. "Hm... sampai jumpa...Silver Emerald..." 'Julukan yang diberikan kakakku untukmu... Seangkuh silver, sesejuk emerald... Sungguh pas sekali untukmu...'

"Kau senyam-senyum kenapa?" Tanya Geel, yang baru keluar dari toilet.

"...Bukan urusanmu kok..." Helarin berbalik menuju depan tangga.

"Apa sih... kasih tahu dooong!" Geel merajuk.

Kamu memandang gedung asrama itu sambil tersenyum, lalu melangkah pergi untuk mencari kerja sambilan seperti yang telah disarankan Helarin.