Wedding Mistake

.

Disclaimer : Tadotoshi Fujimaki

Genre(s) : Romance, Humor

Rated : T++++ #plaak

Pair : AoKaga, slight AkaKuro

Warning : Mpreg!? OOC, AU, Typo(s), Shounen-Ai, ada bagian yang nyaris 'anu-anu' atau sudah sampai 'anu-anu'. Humor mulai menipis keberadaannya. Etc

~Read and Review Please~

.

Happy Reading

KirigayaKyuu©

.

.


Akashi dan Kuroko sekarang sedang duduk di teras belakang. Duduk berdua mengamati indahnya langit sore menjelang malam itu. Dengan di temani suara burung berkicau dan dua gelas teh, suasana ini cukup romantis. Bagi Kuroko.

Kuroko menyandarkan kepalanya pada bahu Akashi-sang suami.

"Tetsuya…aku ingin bertanya padamu" ucap Akashi sambil menggenggam tangan Kuroko.

"Ung…"

"Apa kau ingin menggugurkan bayi ini?" tanya Akashi. Dan Kuroko menggeleng.

"Apa kau akan malu jika memiliki perut buncit?" tanya Akashi, dan Kuroko menggeleng lagi.

"Apa kau ingin merawat bayi kita? Hingga besar nanti? Bersamaku?" tanya Akashi lagi. Dan Kuroko mengangguk.

"Se-sekarang giliran aku yang bertanya…" ucap Kuroko dengan suara lemahnya.

"Apa Akashi-kun malu dan jijik memiliki istri yang jelas-jelas lelaki, dan hamil? Dan juga akan melahirkan? Lelaki yang tidak normal seperti aku?" tanya Kuroko.

Jujur, pertanyaannya tadi cukup me'nohok' hatinya dan hati Akashi. Akashi tidak pernah sama sekali berfikiran macam itu. Akashi mencintai Kuroko sepenuh hati, sampai kapanpun. Mau orang bilang dia aneh atau tidak normal, Akashi pasti akan melindunginya dan tidak memikirkan kata-kata orang. Dan juga –pasti- menghabisi orang yang berbicara seperti itu.

"Mengapa kau bertanya hal seperti itu?" tanya Akashi, melewatkan pertanyaan Kuroko.

Mendengar jawaban–pertanyaan–balik sang suami, Kuroko membenarkan posisi duduknya. Meninggalkan bahu Akashi dan sedikit mengambil jarak.

"Ung…tidak apa." Kuroko menggeleng. Pelupuk matanya sudah penuh. Dan mungkin sedikit lagi akan mengeluarkan isinya.

Melihat sang istri yang terlihat kecewa, Akashi dengan sigap mendekatkan kembali jarak diantara mereka.

"Aku tidak pernah berfikir seperti itu. Dan tidak akan pernah ku lakukan. Aku mencintaimu Tetsuya. Hanya kau" Akashi mendekatkan wajah mereka. Menghilangkan semua jarak yang dibuat Kuroko sebelumnya.

Tentu sudah ketahuan bukan? Apa yang akan di lakukan Akashi selanjutnya?

Dengan sepenuh rasa kasih sayang dan cintanya pada Kuroko, Akashi mencium lembut kening sang istri. Kuroko yang mengira akan di cium pada tempat lainnya, sedikit terkejut.

"Aku berjanji akan menjaga dan melakukan tugasku yang benar sebagai suami mu. Dan juga sebagai ayah dari anak kita. Aishite, Tetsuya" kata Akashi dengan berwibawa. Dan yap. Kali ini wajah berwibawanya benar-benar nampak.

Kuroko meneteskan air matanya. Bukan karena sedih. Tetapi bahagia. "Hai…Akashi-kun. Boku mo, kimi no koto, aishite" Kuroko tersenyum. Akashi melebarkan tangannya, mengajak Kuroko untuk berpelukan. Dan…sepertinya Akashi harus sedikit lebih sabar selama sembilan bulan kedepan.

.


Di jonggol…ralat. Di bagian bumi lainnya…

Kagami terus menerus memandangi ponselnya.

"Yare…aku ingin mandi segera rasanya. Ta-tapi kalau dia telepon bagaimana? Haaaah! Ya sudah deh! Di bawa saja!" batin Kagami.

Dengan cepat dia menuju kamar mandi yang berada di pojok kamarnya. Uh, sepertinya bagian ini di lewat saja ya? Konten 18+ ha. Uhuk.

.

Keluar dari kamar mandi. Kagami, dengan wajah kesal memandangi iPhone 6 nya yang tidak ada notif tentang telepon dari nomor baru. Ia pun melempar iPhone nya ke kasur dan memilih pakaian dari lemari.

Celana pendek Adidas, dan kaus Hollister berwarna hitam -yang kontras dengan kulitnya- sepertinya sudah cukup untuk dirumah. Di karenakan belum menemukan notifikasi telepon, Kagami memilih untuk nyemil dahulu. Tak lupa membawa ponselnya. Untuk jaga-jaga.

"Beep…Beep"

Mendengar suara dari iPhone 6 miliknya (yang ga mungkin author beli dalam kurun waktu 6 bulan), Kagami menariknya dari kantung celananya. Dengan buru-buru melihat isi dari pesan tersebut.


Subject: -none-

From: -uknown-

To: Kagami Taiga

Sisa kuota anda sudah habis. Silahkan mengisi ulang kembali. Atau telepon ke *123#. Mau iRing dari Granrodeo? Hanya 0,3/minggu! Cukup klik *555*12#.


"APAAAAAAAAAAAAAAA?! Kuotaku mau habis? Tidak mungkin! Baru aja tadi isi ulang! Huaaaaa-!" Dengan hiseteris Kagami mengelilingi ruang tamu seperti orang gila.

"Beep…Beep"

Dan sekali lagi ponsel Kagami bunyi.


Subject: -none-

From: Alex-nee

To: Kagami Taiga

HAHAHAHA! Gatcha! Kena troll niyee! Ciyee yang kuotanya mau abis. Uhuhu~. Gomennee, itu cuman troll kok. Oh iya. Apa kau mau ikut Kagami? minggu depan temanku akan menikah. Di Teiko Katedral. Ikut ya? Ikut ya? Pleaseee~ aku yang buatin pakaiannya deh! Cepat jawab!


"Ugh. Kena troll. Dasar Alex-nee…." Kagami menggengam erat ponselnya. Beruntung tidak hancur.

"Nikahhan? Ah males lah. Dan juga…kalau yang buatin bajunya Alex-nee…nanti kayak dulu lagi deh. Hiii" Kagami merinding mengingat masa kecilnya dulu.

Dulu waktu berumur 7 tahun, Alex pernah membuatkannya pakaian untuk upacara murid baru di SD-nya. Tentulah, dengan sangat senang Kagami mau memakainya, bahkan dia sudah janji. Tetapi saat hari H, saat pakaiannya ia kenakan…Kagami kesal setengah hidup dengan Alex-nee. Dia disuruh menggunakan gaun berwarna pink! Gaun berwarna pink woi! Gila kan? Kagami itu laki-laki! Beruntung, ibu Kagami membawa pakaian ganti dan mengomeli Alex-nee.

Dengan cepat Kagami membalas pesan Alex.

"Kirim-"

"Beep…Beep"

Kagami membuka pesan Alex "Wuanjir! Cepet amat di balasnya?"


Subject: Harus Datang!

From: Alex-nee

To: Kagami Taiga

POKOKNYA KAU HARUS DATANG! AKU YANG AKAN MEMBUATKAN PAKAIANNYA! Kalau kau tidak datang…akanku hantui rumahmu dan kau seumur hidup! Bye.


Glek! Kagami menelan ludah saat membaca kalimat terakhir Alex. Dengan terpaksa dia harus datang ke pernikahan teman Alex-nee.

"Di Teiko ya? Yah, lagi-lagi aku harus kesana" Kagami menghela nafas panjang.

Lelaki pemilik surai merah-hitam itu menghempaskan bokongnya ke sofa yang empuk, tepat di mana Aomine sempat duduk disana. Dia meletakkan iPhonenya di meja. Sekarang tugas tangannya sudah di gantikan dengan La**ys dan Tang**o.

"Drrtt…Drrrttt"

Kali ini ponsel Kagami berdering kembali. Karena kesal (Kagami mengira kalau yang telepon adalah Alex-nee) acara nyemilnya mau di ganggu dan ia mengira kalau itu Alex-nee, Kagami mengangkat telepon dengan kasar.

"APA LAGI?!" ucap Kagami saat mengangkat telepon.

"Uh…Kagami?" Kagami merasa familiar dengan suara orang diseberang. Yang pasti itu bukanlah Alex-nee.

"Eeto…siapa ya?"tanya Kagami dengan suara di lembut-lembutkan.

"Ini Aomine. Masa sudah lupa?" ucap seseorang di seberang yang ngaku-ngaku menjadi Aomine. Atau memang Aomine.

Glek!

Baru saja Kagami sangat–amat–berharap di telepon Aomine. Dan voila, Aomine benar-benar meleponnya. Sayangnya, kesan pertama saat di telepon Aomine adalah, Kagami berteriak kesal. Huh, coba kalau dia tahu itu Aomine. Mungkin sudah tergagap-gagap bagai burung gagap. Ralat, burung gagak. Eh. Aziz gagap.

"O-oh, Aomine…" see? Sekarang saja sudah tergagap-gagap.

"A-aku ingin mengecek apa ini benar nomormu atau bukan. Ung, ngomong-ngomong kau lagi apa?"

"I-ini nomorku kok. A-aku lagi nyemil. Ma-mau?" Kagami menyodorkan La**ys rasa rumput lautnya ke depan. Padahal tidak ada siapapun di depannya.

"Mau! Aaaa~" Aomine bertingkah seperti anak kecil yang sedang di suapi.

"Eits! Gak geratis ya!" kata Kagami. yang sepertinya sudah tidak tergagap lagi.

"Jiiiiiiii…pelit!"

"Ahahaha, biarin, bweek" Kagami menjulurkan lidahnya (baca: melet)

"Um, Kagami?" suara orang diseberang menjadi serius.

"Uh yeah?"

"Ba-bagaimana kalau minggu depan kita jalan-jalan lagi?"

Thump…Thump

Jantung Kagami berdetak kencang. Ma-maksudnya date nih? Ja-jadi mereka berdua udah pacaran apa belum? Eh tunggu! Kagami…minggu depan kan kau harus ikut ke acara nikahan temennya Alex-nee! Kau mau dihantui apa?!

"Bo-boleh!" uh-oh. Kagami sudah tidak sayang nyawa.

"Ung, kalau begitu aku jemput ya?"

"Okay, ta-tapi kenapa harus minggu depan?" tanya Kagami. Tapi sepertinya dia memang masih sayang nyawa deh. Sepetinya.

"Lima hari kedepan aku ada tugas. Yeah, you know lah. Lucky you Kagami. tidak ada tugas minggu ini" kalimat Aomine lebih mirip orang yang sirik yah. 'Kata siapa aku tidak ada tugas?!' batin Kagami yang tidak bisa di ucapkan ke Aomine.

Yeah, memang pada dasarnya Aomine itu pemalas, jadi kalau ada tugas di tempat kerjanya (kepolisian: bagian penyelidikan a.k.a detektif. Bukan detektif konan tapi) paling-paling di limpahkan pada anak-buahnya (baca: Aomine juga chief di divisinya. Entah kenapa para atasan tertinggi di kepolisian mau memilih Aomine menjadi chief) dan dia hanya malas-malasan. Tapi kali ini, Aomine di suruh (baca: paksa) untuk mengerjakan tugas kali ini, yang katanya sulit itu. Yah, pasti dia akan lelah setelahnya. Mangkanya Aomine ingin bertemu dengan Kagami. Un…untuk melepas kangen lebih tepatnya. Mungkin.

"Souka…okey okey…Ganbatte ne!" Kagami menyemangati Aomine. Tanpa dia sadari, satu kata itu membuat rasa malas Aomine menguap hilang entah kemana.

"Ung! Ja, aku harus berurusan dengan anak-anak dulu. Ja ne! Kagami."

"Ja"

Dan sambungan di putus pihak seberang.

.


Matanya berbinar-binar. Wajahnya bersemu kemerah-merahan. Dan Kagami, berguling-guling senang di lantai. Hanya karena di telepon Aomine bisa membuatnya sesenang ini? Mungkin Kagami benar-benar menyukai Aomine.

Tak berbeda dengan Kagami. Aomine sedang berteriak dengan kencang di kamarnya. Dan bahkan berguling-guling di kasur. Hanya karena menelepon Kagami dapat membuatnya sesenang ini? Mungkin Aomine benar-benar menyukai Kagami.


.

Sayangnya, kebahagiaan Kagami harus di pauze dahulu. Dikarena gorila- ehem. Kakaknya yang datang menerobos apartemennya.

"KA-GA-MI…" geram seseorang di atas Kagami yang masih menutup matanya senang.

Merasa ada bayangan yang menutupi cahaya, Kagami segera membuka matanya. "Uh? Ah! Alex-nee. Ada apa?" tanya Kagami sambil berdiri. Meninggalkan wajah kebahagiaannya sementara.

"Ada apa? Ada apa?" Alex menirukan pertanyaan Kagami, bedanya sambil di lebay-lebaykan gitu.

"Ck, kau ini. Sudah main menerobos apartemenku, lalu mengejekku. Padahal tadi kau sudah meng-e-mail ku! Ada apa emangnya sih?" Kagami mulai kesal pemirsa.

"Kau mau date-ing ya? Iya kan? Minggu depan?!" desak Alex. Sekarang Alex sudah menghimpit belakang Kagami dengan dinding, dan 'anu'nya yang menghimpit di depan. Semua lelaki akan tergiur dengan posisi ini. Tetapi tidak untuk Kagami yang sedang jatuh cinta (?).

'Lah, tau dari mana dia?' batin Kagami. "Kau mau tau dimana aku mengetahuinya? Aku menguping pembicaraanmu dengan seseorang." Kata Alex tepat sasaran. Dan menekankan kata 'seseorang'

"Kau kan sudah berjanji untuk menemaniku ke pernikahan temanku…kau mau meninggalkan Nee-chan tersayangmu ini sendiri, hm?" kata Alex yang lebih meghimpit Kagami lagi. Kali ini dengan tambahan wajah memelas andalan miliknya.

'sejak kapan aku berjanji seperti itu?!' batin Kagami lagi.

Dikarena kan jutsu Alex-nee yang ini sangat kuat, Kagami tidak bisa mengelak. "Ttaku… apa benar-benar harus? Memangnya acaranya jam berapa?" tanya Kagami. sepertinya Kagami harus meng-e-mail Aomine untuk date pada sore hari.

"Harus! Jam 10 pagi sampai selesai!" ucapnya.

"Sampai selesai itu jam berapa?"

"Entah"

Jleb.

Jawaban Alex-nee dan wajah polosnya itu membuat Kagami geram.

"Ayo ayo! Mari kita mengukur tubuhmu dulu!" Alex membawa (baca: menggeret) Kagami ke ruang tamu lagi.

Mengeluarkan alat-alat seperti pita pengukur dan buku untuk mencatat.

.

Acara ukur-mengukur itu menghabiskan waktu satu jam lebih. Yang harusnya bisa sepuluh menit selesai.

Mengapa?

Itu di karenakan pertarungan mulut adik-kakak. Hanya karena perbedaan pendapat warna apa tuxedo Kagami, kain apa, dan sebagainya.

"Mo…cepat buatkan aku iced choco!" titah Alex saat duduk di sofa.

"APA?! Kau kan bisa membuatnya sendiri! Kau tahu kan dimana tempat-tempatnya?!" ucap Kagami menolak.

"Aku lupa cara membuat iced choco, dan terlebih lagi aku tidak tahu dimana kau menaruh bahan-bahannya…" kata Alex-nee dengan wajah polos plus moe. Wajah yang nyaris membuat Kagami muntah di tempat.

"Ttaku!" kesal sih. Tapi tetep aja dilakuin. Itulah Kagami.

Mengambil dua gelas besar, 4 sachet 'Delfi Cocoa', dan dua sendok. Kedua gelas itu di isi masing-masing dua sachet. Gelas pertama –milik Alex– di tuangkan air dingin, sedangkan gelas kedua –milik Kagami– di tuangkan air panas. Dan di aduklah kedua gelas itu dengan sendok oleh Kagami.

Kagami menyodorkan gelas yang berisi air dingin itu kepada Alex-nee yang sedang sibuk menulis apalah itu di buku tulisnya tadi "Nih"

"Sangkyu…kau tidak bekerj-" pertanyaan Alex terpotong dikarenakan bunyi telepon genggam milik Kagami.

"Beep…Beep"

Sebuah mail. Kagami membukanya sambil menyeruput hot choco-nya.


Subject: Red Tiger back to work

From: Hanamiya Makoto

To: Kagami Taiga

Konbanwa, chief! Kita memiliki tugas besar untuk diselesaikan minggu ini. Kami tunggu anda di kantor besok. Lebih lanjutnya akan dijelaskan besok. Maaf mengganggu liburan anda. Sekali lagi, konbanwa.


"Aku akan bekerja besok, Alex-nee." Jawabnya setelah membaca mail dari anak-buahnya.

"Souka…ja. Kalau begitu aku pulang. Terima kasih atas iced cocoa-nya. Dan serahkan saja tuxedo ini pada nee-chan tersayangmu!" kata Alex setelah mencium pipi Kagami. rutinitas biasa jika mereka berdua bertemu. Untung saja Aomine tidak melihatnya, atau dia akan cemburu, eh?

Dan minggu ini akan menjadi minggu yang sibuk untuk Aomine, Kagami, dan Alex-nee

.


.

Sudah seminggu. Dan hari ini adalah hari yang dinanti-nanti Kagami.

Bukan karena dia akan dapat makanan geratis di pernikahan, yah itu juga termasuk sih. Ehem. Tapi karena sorenya dia akan bertemu dengan Aomine. Yap, bertemu dengan Aomine setelah seminggu yang melelahkan.

Pukul 8.30 pagi Kagami sudah tebangun. Pakaian yang di buatkan Alex sudah jadi kemarin, tetapi belum sempat dibuka Kagami karena terlalu lelah.

Sesudah mandi, pemilik manik crimson itu menggunakan deodoran untuk mencegah cairan kuning atau hitam di ketiaknya seperti di iklan-iklan itu. Masih dengan sehelai handuk yang menempel di bagian bawahnya, Kagami menyisir rambut yang senada dengan maniknya. Tanpa tambahan gel-gel rambut, Kagami sudah cukup keren sekarang.

Membuka pelastik yang menyimpan tuxedonya, untuk pertama kali Kagami kagum dengan hasil buatan Alex-nee. Tuxedo yang berwarna hitam –yang kontras dengan kulitnya itu– yang kelihatan sangat menawan jika Kagami memakainya. Lengkap dengan dasi kupu-kupu yang juga berwarna hitam.

Di clothes tag-nya bertuliskan 'A. Garcia ' nama kakaknya yang membuatkan tuxedo keren ini. Berbeda dengan saat Kagami berumur 7 tahun, yang Alex buatkan adalah gaun berwarna pink. Dengan bangga Kagami makai kemeja putih dan tuxedo tersebut. Tak lupa, parfum Clive Christian No. 1 kebanggaannya juga di pakai.

Mengapa Kagami mau dengan repot-repot melakukan ini semua? Ya karena permintaan kakaknya tersayang. Walau Kagami kelihatan seperti ogah-ogah gitu, tapi untuk kakaknya, apapun akan dia lakukan. Bahkan meminum air got sekalipun!

Setelah memakai sepatu 'A. Testoni Norvegese' berwarna senada dengan tuxedo-nya, Kagami dengan cepat (karena terus menerus di teleponi Alex-nee) turun dari apartemennya untuk menuju rumah Alex-nee yang berada di Kurobas-ku. Oh, Kagami juga membawa pakaian ganti untuk jaga-jaga.

Pukul 09.00 Kagami berangkat dari apartemennya, dan pukul 09.15 dia sudah sampai di depan rumah Alex-nee

"Lama!" omel Alex saat duduk di samping Kagami.

"Yaelah, upacaranya jam 10.00 ini" balas Kagami.

"Tapi kan aku harus menyapa teman-temanku dulu!" balas Alex lagi.

"Ya paling mereka semua sudah lupa denganmu" balas Kagami tidak mau kalah.

"Mooooo…!" Alex kesal, Kagami tertawa. Itulah rutinitas mereka jika sedang berantem.

.

Dan pada pukul 09.30 Kagami dan Alex sudah sampai di 'Teiko Cathedral'. Suasana sudah lumayan ramai di sana. Eh? Bukan ramai, tapi…kisruh? Kagami memarkirkan McLaren-nya dan segera keluar dengan Alex.

"Hey semua! Ada apa ini?" sapa Alex setelah sampai di kerumunan.

"Ah! Alex! Uh, tunggu dulu ya nostalgianya. Sekarang kami sedang panik!" ucap seorang perempuan yang sepertinya teman Alex.

"Ada apa emangnya?" tanya Alex.

"Hai Alex! Hm, jadi begini. Pendamping wanitanya terserang sakit perut dan mual-mual. Dan tidak ada lelaki di sini yang memenuhi kriteria Riko untuk menjadi pendampingnya. Jadi…"

"Kagami saja!" usul Alex sambil menyodorkan Kagami.

"APA?!" Kagami kaget. Ya iyalah kaget. Baru dateng tiba-tiba disuruh jadi pendamping pengantin wanita.

"Ah! Ayo mari kesini!" Kagami di tarik seseorang bersurai pink.

.

"Ri-chan, bagaimana dengan lelaki ini?" tanya perempuan bersurai pink itu sesampainya di ruangan pengantin wanita.

"Hm? Mana-" perempuan yang bernama Riko itu terdiam setelah melihat Kagami. "Ya! Aku setuju dengan yang ini. Sankyu Satsuki!" perempuan yang berpakaian gaun itu memeluk orang yang menarik Kagami. 'Satsuki? Sepertinya aku pernah dengar…dimana ya?' batin Kagami.

"Okay, kau pernah menjadi- Ahhh! Alex! Apa kabar?" pertanyaan Riko terpotong lagi setelah melihat Alex yang memasuki ruangan.

"Hey Riko! Genki?"

"Tentu lah! Kau?"

"Baik! Aku rindu kauuu~" Alex memeluk Riko dengan erat. Satsuki yang melihatnya tertawa kecil.

"Ah! Alex, mari ku perkenalkan. Ini Momoi Satsuki. Satsuki ini Alex, Alex ini Satsuki" kata Rico. Kagami seperti di asingkan.

"Konnichiwa!"

"Konnichiwa, Alex-san"

"Ah, tidak perlu pake embel-embel –san segala!" Alex menepuk pelan pundak Satsuki.

"Oh iya, Ri-chan, lebih baik kau mempermasalahkan pendamping mu dulu. Baru nanti kita semua kan ber-reuni. Okay?" kata Satsuki mengingati. Karena waktu mereka juga tidak terlalu banyak.

"Okay, okay. Kalian bisa menunggu diluar. Kan kau…" Riko menunjuk Kagami "…pernah menjadi pendampingkan?"

.

Dan sekaranglah saatnya. Kagami tidak gugup sama sekali, toh minggu kemarin dia melakukam ini dengan mudah. Begitu pula dengan saat latihan tadi. Riko tidak terlalu kaku seperti Kuroko.

Mungkin karena terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi nanti sore ('kencan'nya dengan Aomine), Kagami tidak memperhatikan sekitarnya.

'Kayu manis?' batin Kagami setelah sampai di depan altar. Ia mencium wangi yang familiar 'Tidak salah lagi! Ini bau kayu manis!' Kagami menoleh ke arah kanan –dimana pendamping pengantin pria berada–.

"Aomine?!" bisik Kagami kaget.

Lelaki yang merasa namanya di panggil itu ikut menoleh "Kagami?!" yap. Ikut kaget juga.

Di karenakan sedang ada perjanjian suci yang sedang di jalankan di depan mereka. Aomine dan Kagami harus menahan rasa terkejut mereka dahulu

.


"Selamat ya Riko!" "Ciye yang sudah menikah!" "Cepat buat momongan ya!" "Sabar-sabar sama si Clutch!"

Ocehan-ocehan yang keluar saat upacara telah selesai. Sekarang adalah waktu bebas, jadi Alex dan teman-temannya melakukan reuni.

Kagami sekarang ingat siapa Satsuki. Yup. Nama perempuan yang membuat Aomine mencium Kagami. dan membuat Kagami menangis. –karena mengira itu adalah kekasih Aomine–.

"Jadi Aomine, bisa jelaskan kenapa kau bisa disini?" tanya Kagami pada Aomine yang sedang duduk di kursi taman.

"Hey. Itu kan kalimat ku!"

"Ck. Lupakan. Oh iya, ngomong-ngomong nanti so-" "Ah itu Kagami-kun dan Aomine-kun!" kalimat Kagami terpotong.

"K-Kuroko?!" "Akashi?!" Kagami dan Aomine kaget. Mengapa mereka berdua ada disini coba?

"Konnchiwa. Kita kan juniornya Hyuuga-senpai Kagami-kun, lagi pula Hyuuga-senpai juga datang saat pernikahanku dan Akashi-kun" jelas Kuroko. Padahal tidak ada yang tanya ya?

"Oh…" Aomine ber 'oh' ria mendengarnya. Ya maklum, dia disuruh menjadi pendamping pengantin pria secara tiba-tiba oleh Satsuki. Dia juga tidak terlalu kenal dengan Hyuuga dan Riko siapa lah itu. Bahkan Aomine kesini juga karena di ajak (baca: paksa dan seret) Satsuki.

"Um…sebenarnya-" kalimat Kuroko di potong. Sepertinya banyak sekali ya, kalimat orang yang dipotong-potong di cerita ini?

"Acara lempar bunga sekarang. Kalian berdua ayo ikut?" ucap Akashi.

"Oh, iya okay. Ayo Aomine" ajak Kagami yang menarik tangan Aomine tanpa sadar. Ralat. Menggandeng.

Merasa mereka berdua sudah cukup jauh, Akashi melanjutkan kalimatnya "Kasih tahunya nanti saja Tetsuya. Ini bukan waktu yang tepat" katanya.

"Ung…" Kuroko mengangguk.

.

Di sinilah mereka sekarang. Dalam kerumunan banyak ornag yang menunggu acara 'lempar buket bunga'. Sebenarnya Kagami dan Aomine tidak terlalu berharap mendapatkan bunga lagi. Yang mereka harapkan adalah acara himpit-terhimpitnya itu. Ha.

"Minna~! Siaaaap?" teriak Riko dari atas gedung. Balkon lantai dua. Persis seperti acara nikahannya AkaKuro minggu kemarin.

"3…2…1…!" hitung Hyuuga. Dan Riko melempar buket bunganya.

Kagami yang terdorong-dorong arus lautan manusia terjatuh di pundak Aomine (dikarenakan tinggi mereka sama). Hampir persis seperti minggu yang lalu.

"Uh… gomen" ucap Kagami seraya bangun.

Pluk.

Sebuah benda terjatuh di tangan Aomine.

"Eh?" satu detik, dua detik, tiga detik "EEEHHHHH?!" teriak mereka berdua.

"Selamat bagi kalian yang mendapatkan bunganya!" teriak Hyuuga. Alex, Riko, Satsuki, Akashi dan Kuroko yang melihatnya hanya tertawa.

"Ka-Kagami… ki-kita dapat dua kali ya?" tanya Aomine dengan wajah tak percaya

"I-iya…"

Aomine memegang pergelangan Kagami seperti tidak ingin melepaskannya. Uh, walau hubungan mereka berdua belum jelas, banyak yang berfikir kalau Aomine dan Kagami itu berpacaran. Bahkan Satsuki dan Alex berfikir begitu.

.

"Lihat Tetsuya? Kita hanya perlu mendukungnya dari jauh kan?" ucap Akashi melihat Aomine yang mendapatkan buket bunga.

"Iya, Akashi-kun. Tapi aku masih bingung. Mengapa selalu mereka berdua yang mendapatkan bunga ya?" tanya Kuroko.

Akashi mengeratkan pegangannya pada pinggul Kuroko "Karena semua yang ku bilang selalu benar, dan selalu Absolut"

"Ahahaha…" Kuroko tertawa kecil mendengarnya.

"Dan, Tetsuya?"

"Ya Akashi-kun?"

"Kalau kau ingin menceritakan kandunganmu, lebih baik jangan sekarang. Mari kita menunggu waktu yang lebih tepat" kata Akashi.

"Um…" Kuroko mengangguk sambil tersenyum.

Dan chapter ini di akhiri dengan kecupan penuh kasih sayang dari Akashi di pucuk kepala Kuroko.

~TBC~


A/n:

Hai lagi! hoho~ gak tau mau bacot apa nih :v

oh iya! aku cukup sedih melihat reviewer yang menurun :v kalau ceritaku ini ada yang kurang... bilang aja! review, PM... gapapa! aku juga masih baru... ehehe :v

balasan review untuk chap3 ya! :

Kagami Tania-san : iya aha tanda :v uhm... bagian AkaKuro ambigu gimana ya? :/ makasih mau review dan membaca fic ku! ehe :3 ini udah lanjut ya~~

Shizukanaharuka-san : Hyaaa~ thank yuuuu~~ #peluk ciyum. semuga chap ini romatic ya :v tapi menurutku belum kelihatan romensnya.. :v chap depan insyaallah aku buat fluf yang banyak~ ehe :3 thank u buat review dan membaca fic ku :3

Ningie Cassie-senpai : Uhu senpai :3 hai hai! irasshai~~ aku masih esempe kakak :v ehehe soalnya chap 2 aku ga baca berulang-ulang... hoho #apa nyambungnya coba #abaikan. hoho~ aku aja yang ngetik sambil cengar-cengir gitu :v belom.. itu ralat ceritanya kan gini 'kekasih-Aomine' gitu ya? maksudnya itu kagami kyk ngaku" kalo aomine itu pacarnya :V hoho :v udah main ngaku" aja -_-. iya dia nangis karena ngedenger momoi bilang aku sayang dai-chan. terus aomine jwb aku juga atau apa gitu :v (lah yang ngetik lupa '-') wkwkwk kuroko hamil :v okayy! makasih udah mau review dan membaca ceritaku!

semua! aku ga tau mau bacot apa lagi nih :v. tapi selalu selalu selalu akan aku ucappkan

Terima kasih banyak! untuk kalian yang sudah membaca, mem-fav, mem-follow,dan me-review ceritaku! aku sayang kalian! #peluk ciyum

semoga kualitas ceritaku ga menurun ya~

kalo ada saran, kritik, silahkan review atau PM aku aja~ aku akan setia mendengarkannya #eyak

Sonja,

Kirigaya Kyuu

Ps: Pokoknya chap depan aku mau buat Fluff titik!