DON'T LIKE, DON'T READ
Title : Behind The Scene
ES21 Fanfiction
Disclamer : Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata
Warnings : OOC (sangat), AU, GAJE, Typo (s), aneh, dll
Maaf kalau jelek :)
Story : Bii Akari
.
.
.
NORMAL POV
Gerimis-gerimis kecil tampak berjatuhan dari langit, memandikan jutaan tumbuhan-tumbuhan yang haus akan mineral. Angin bertiup sedikit kencang, menerbangkan tetesan hujan ke sepanjang jendela-jendela apartemen bangunan berkelas itu.
"Merasa lebih baik, Agon?" tanya Sena lagi—entah untuk yang keberapa kalinya.
Sementara pemuda yang dikhawatirkannya itu hanya menarik salah satu sudut bibirnya, tersenyum meremehkan. "Aku tak pernah merasa sebaik ini."
BYURR
Agon terhujani death glare dari bermacam-macam tempat.
"Hehe, arigatou, Hiruma."
"Hn."
Seraya menepuk-nepuk celana jeans-nya yang agak kotor, Akaba bangkit dari duduknya dan berjalan santai mendekati Hiruma. Ditepuknya pundak rekan jeniusnya itu dengan pelan, sambil berjongkok di samping sang dokter. "Masih hidup?" tanyanya enteng, di sudut belakang, Karin bergedik ngeri.
"Hn, sekarat," jawab Hiruma ala kadarnya, stetoskopnya tercabut dari kedua lubang telinganya, begitu pun dengan beberapa alat medis yang digunakannya tadi. Tangan kanannya kini meraih sebuah kotak, dan dengan sekali tekan, kotak itu terbuka dengan sendirinya. "Ini akan membuatnya mati rasa, setidaknya jika dia memang masih hidup," lanjut pemuda stoic face itu.
Dengan telaten, Hiruma menyuntikkan cairan bius kreasinya melalui pembuluh darah pria yang dibawa Agon tadi. Usai menunaikan ritualnya, Hiruma pun mengeluarkan pisau bedah dan alat-alat kedokteran miliknya yang lain, guna memulai operasi dadakannya. Live, tepat di lantai kamarnya—di depan semua pengunjung rumahnya.
.
.
Akaba dan Sena saling mengedikkan bahu begitu sang ketua tim—Hiruma—memerintahkan mereka agar membawa pria tadi—yang sukses Hiruma sulap menjadi manusia mumi—ke dalam sebuah peti-entah-milik-siapa di dalam gudang penyimpanan. Atas keinginan Hiruma, kedua pemuda itu mau-mau saja memasukkan musuh mereka ke dalam peti berukuran sedang itu dengan santai. Hm, mereka yakin Hiruma punya alasan tersendiri.
"A-ano.." Karin, yang sejak tadi tak berani berkomentar kini melirik Hiruma dengan takut-takut. Bibir merah mudanya ia gigit, perasaannya masih bimbang seperti sebelumnya. "A-apa tak apa memasukkan dia ke dalam peti?"
Hiruma menarik sebelah alisnya, tatapannya mengarah lurus ke Karin—semakin membuat gadis itu gugup. "Apa pedulimu? Dia itu milikku, mau kubunuh atau kubiarkan hidup, itu urusanku."
Ya, jangan salahkan Hiruma jika dia bersikap begitu dingin pada Karin. Hiruma memang begitu, selalu merasa tak nyaman di dekat orang yang dianggapnya masih asing. Dan secara spontan, kepribadian Hiruma yang seperti ini mendadak muncul begitu saja.
Akaba melirik Karin dengan senyum maklum, yang dibalas Karin dengan kikuk lagi. Gadis itu membuka mulutnya, hendak menyangga. Namun tepukan pelan di punggungnya seketika menghentikan niatnya tadi. "Hiruma memang begitu, jangan diambil hati," bisik Akaba, tepat di telinga kanannya.
Tanpa ambil pusing sama sekali, Hiruma berjalan meninggalkan orang-orang di sekelilingnya—kembali ke kamarnya yang kini dihuni oleh Agon. Kaki kanan Hiruma terangkat, dan mendarat sempurna di lutut kirinya. Seraya menunggu booting laptopnya selesai, Hiruma melirik Agon—dan orang-orang lainnya yang ternyata mengikutinya ke kamar tadi—dengan malas. "Jadi...apa yang kau dapat, Agon?"
.
.
.
FLASHBACK
Kerlap-kerlip bintang terlihat was-was mengawas, memerhatikan aksi lari-larian Agon yang semakin menggila. Ya, berkat spontanitas dan nyalinya yang besar, Agon akhirnya terjerumus perkelahian sengit yang sangat tidak seimbang—tak adil untuk Agon, tentu saja.
Begitu menemukan markas musuhnya, Agon dengan semangat yang menggebu-gebu langsung melabrak pintu gudang bekas itu dan berteriak kencang bak orang kesetanan—hm, mungkin dia memang sedang kesetanan.
Tapi tunggu, jangan berburuk sangka pada pemuda gimbal itu. Agon begitu, bukan tanpa sebab. Alasannya sangat ringan, dan patut dimaklumi.
"Kudengar kodisi Anezaki keparat itu kritis, aku yakin sebentar lagi mereka akan mati, cih."
"Heh, kuharap secepatnya. Aku muak melihat mereka ber-acting sok baik di depan publik."
"Hm, kita sudah menunggu lama untuk ini. Tak ada kata gagal."
'Brengsek, sampah-sampah buangan itu... Awas saja mereka..' batin Agon emosi, alat pelacak di genggamannya seketika hancur berkeping-keping, sementara alat komunikasi sumber kekesalannya itu dengan semangat dia injak-injak. Kacamata gelapnya berkilat keji, begitu langkahnya terhenti di sebuah bangunan besar tua yang tampak tak terurus. 'Its show time..'
Dan, itulah permulaannya. Diliputi emosi yang berkobar-kobar, Agon mendobrak pintu besi di hadapannya tanpa rasa kemanusiaan sama sekali. Puluhan pasang mata memandangnya takjub—sekaligus kaget. Setelah seringai kejamnya terdengar, dapat dipastikan erangan kesakitan telah berkumandang di mana-mana.
Pukul sana, hajar sini, tendang sana, lempar sini. Begitulah kegiatan Agon saat ini. Sibuk terbuai oleh puluhan orang-orangan sampah—begitu cara Agon menyebutnya—yang bersusah payah menyentuhnya.
DOR DOR DOR
Suara tembakan terdengar. Dengan terlatih, Agon menarik tubuh orang-orangan sampah terdekat dan berlindung di belakangnya—menggunakannya sebagai tameng.
'Cih..sampah..' Agon kembali memaki dalam hati, kesal karena pistol kesayangannya tertinggal di dalam mobil. Pandangan Agon melebar, begitu sebuah meja kayu tak bersayap mendadak terbang mendekatinya. 'Kuso..'
BRUK BRAK
Dengan impuls kecepatan dewanya, Agon melempar orang-orangan sampah—alias tamengnya tadi—ke arah meja terbang itu, dan bergegas melesat pergi dari sana. Ya, Agon memang kuat, tapi melawan puluhan pria bersenjata dengan tangan kosong adalah pantangannya saat ini.
Terjadilah aksi kejar-kejaran seperti sekarang. Jangan mengkhayalkan adegan itu layaknya film produksi india kesukaan ibu-ibu. Tidak, tak ada selendang dan pepohonan yang melankolis, hanya ada si gimbal dan puluhan pria berjas yang mengejarnya—lengkap dengan bunyi dentuman peluru yang memburu.
Beruntung Agon dikaruniai kaki emas, cukup berlari dan menghindar di sana-sini, Agon bisa tereselamatkan dari bidikan pistol-pistol itu.
DOR
Suara tembakan semakin melemah, jauh dan berkurang. Agon tersenyum miring, merasa kemenangan telah ada dalam genggamannya.
Mereka masih berada dalam kawasan gudang bekas itu—cukup luas untuk acara kejar-kejaran season dua, nanti. Tepat ketika suara tembakan tak terdengar lagi, Agon menghentikan kaki-kaki ajaibnya. Dengan gaya a la sadako gimbal, Agon menoleh ke belakang. Matanya memicing berbahaya dan senyum pesakitannya membuat orang-orangan sampah yang sejak tadi mengejarnya berhenti dan membeku ketakutan di tempat.
"Mati kalian, sampah!"
Dan teriakan girang Agon itu, resmi memulai permainan kejar-kejaran season dua. Sulit dipercaya, tapi puluhan orang-orangan sampah tadi memang berbalik arah dan berlari menjauh dari Agon—sementara di belakang mereka Agon berlari sambil tertawa setan.
Dengan mudah, Agon dapat mengejar target pembunuhannya tadi dalam waktu singkat. Kaki-kakinya menari kesana-kemari, menghabisi satu per satu musuhnya dengan pukulan dan sundulan maut Agon.
"Khukhukhu~" Agon sangat senang, ia berlari-lari semangat bak mesin pembunuh yang setiap detik berhasil memakan satu nyawa. Mulut Agon terbuka lebar, mengeluarkan sumpah sampah serapahnya pada setiap orang yang dihajarnya. Pemandangan indah.
Satu tendangan pantat mematikan dan pria terakhir resmi mendarat mencium tanah. Agon berhenti, senyumnya memudar. Tak ia sangka permainan akan berakhir secepat ini. Dengan penuh rasa bangga, Agon menatap puluhan mayat yang bertebaran di halaman gudang itu dengan hangat—teringat akan masa-masa menyenangkannya tadi.
BUK BUK BAK
Akibat keasyikan memandangi maha karyanya, Agon tak dapat merasakan kehadiran orang-orangan sampah lain di belakangnya. Tubuh Agon bersimbah darah, lebam dan penuh gores. Pandangan Agon buram, saat ini melawan pun Agon tak mampu. Ya, tubuhnya telah terpuruk di tanah, terinjak-injak oleh belasan orang-orangan sampah itu.
Um, mereka benar-benar membuat Agon marah. Sisi gelap Agon baru saja akan serius. Agon masih terdiam, membiarkan tubuhnya terjamah berbagai merk sepatu. Matanya terpejam, lengan kekarnya tetap setia melindungi area wajahnya—melindungi kacamatanya, mungkin.
Mari kita hitung. Satu. Dua. Tiga.
"E-eh? K-ke mana dia?!"
"Cepat cari!"
"Ayo!"
"Khukhukhu~"
Kekehan khas itu terdengar menakutkan, apalagi jika dipadukan dengan pose Agon yang berdiri kaku dengan darah yang mengalir di beberapa bagian tubuhnya. Pemuda gimbal itu menyeringai pelan—namun efeknya benar-benar signifikan pada kondisi mental lawannya.
"Kalian masih terlalu cepat seribu tahun jika ingin membunuhku, sampah."
GLEK
30% kapasitas otak mereka dipenuhi oleh pertanyaan 'bagaimana dia bisa ada di sana?' sementara sisanya? Perpaduan antara pemikiran pengecut untuk melarikan diri dan dugaan kunjungan maut yang akan menjemput mereka sesaat kemudian.
"Mati kalian..sampah."
.
.
.
Bulan tertutup kabut, tanda bahwa waktu telah memasuki hari baru. Seorang pemuda berkacamata berjalan santai mendekati seorang pria yang masih merintih kesakitan. Berkali-kali pria itu muntah darah, menunggu ajal datang menjemputnya.
"Masih bisa bicara, eh?"
Dengan kasar, Agon menjambak rambut pria sekarat tadi, memandangnya dengan tatapan sinis dan keji. Wajah pria itu menyiratkan keputusasaan, bulir-bulir air mata mewakili rasa sakit yang menjangkiti sekujur tubuhnya. Napasnya tersenggal-senggal, bibirnya melenguh sakit setiap kali Agon memainkan jemari-jemarinya mempekasar jambakannya.
"Enyah kau, sam—"
DOR
Satu tembakan. Peluru terakhir. Melesat cepat tanpa sempat Agon cegah. Beberapa meter di belakang Agon, seorang pria berjas terkekeh puas sebelum benar-benar lenyap dari dunianya. Darah merembes, membasahi kemeja hitam Agon yang sudah lecek di sana-sini.
Beruntung. Sungguh beruntung hanya bagian pundak. Jika tidak, mungkin Agon akan mati konyol saat itu juga.
Dengan sekali gerakan, jambakan Agon terlepas. Bahu kanannya ia cengkram kuat, berusaha menahan pendarahan yang dideritanya. Satu injakan, dan pria tadi terbebas dari masa sekaratnya.
.
.
.
"Sampah, cepat pergi ke rumah sakit. Ambil mobilku dan jemput aku sekarang."
Usai mengucapkan dua kalimat perintah itu, Agon langsung mematikan sambungan teleponnya. Matanya masih terjaga, bergerak mengawasi setiap inchi bagian gudang rusuh itu. Di beberapa sudut, ada berbagai perangkat alat elektronik yang digunakan untuk mengintai keadaan. Berbagai jenis senjata juga terpajang di dinding. Meja kayu dan kartu remi berserakan di bagian tengah ruangan. Pencahayaan kurang. Debu juga masih menggunung di beberapa bagian.
Agon mengangkat kepalanya, memperhatikan sudut atap gudang raksasa itu. Hm, hanya sebuah kamera. Tunggu, kamera?
'Kuso..' desis Agon. Jadi selama ini, pergerakannya tertangkap? Agon bahkan lupa memakai penutup kepala tadi. Kalau begitu, sudah dapat dipastikan. Musuh, sudah tahu wujudnya.
Dengan sekali tembak, kamera pengintai itu telah dibumi hanguskan oleh Agon. Meledak dengan elegant.
.
.
.
Sementara itu, di tempat lain seorang pria bersetelan hitam terkekeh puas di markas miliknya. Ya, dialah dalang dari semua ini. Dengan nikmat, pria itu menyesap cerutu yang terselip di antara celah jemarinya. Dan lalu menghamburkan kepulan asap penuh racun itu keluar dari paru-parunya. "Kongo Agon, rupanya. Sudah kuduga anak itu mencurigakan."
.
.
.
Kurang dari setengah jam, sebuah mobil sport hitam berhenti mendadak tepat di depan sebuah gang gelap. Bunyi sirine terdengar nyaring beberapa meter dari sana, polisi sudah bergerak rupanya.
Dari bayangan gang yang tertutup gelap, Agon keluar dan berlalu santai menaiki mobilnya. Di sampingnya, seorang pria berambut dread bergegas menginjak pedal gas begitu pintu mobil tertutup kembali. Penampilan sang pengemudi terlihat sangat mirip dengan Agon. Hanya saja, dia jauh lebih rapih tentunya.
"Kita ke apartemenku."
"Baik, Agon-sama."
.
.
.
END FLASHBACK
NORMAL POV
Hiruma menyesap kopi pahitnya dalam diam. Semua mata terbelalak kaget—terkecuali Hiruma dan Agon, tentunya. Akaba dan Sena menatap Agon dengan tak kuasa, tersirat kekhawatiran dan keterkejutan kuat dalam pancaran iris mereka. Sementara kedua nona dengan pribadi yang berbanding terbalik itu hanya saling melempar pandangan 'kau percaya?' satu sama lain. Yang satu memancarkan sinar ketakutan, sementara yang satu lebih terlihat jijik bercampur resah.
Gadis berdarah biru itu bangkit dari duduknya, memecah konsentrasi makhluk-makhluk di sekitarnya. "Aku tidak ingin ikut campur dalam permainan bodoh ini. Aku mau pulang."
SRET
Sebelum sempat melangkah menjauh, tangan pemuda berambut coklat itu bergegas meraih pergelangan tangan Suzuna—menahannya sejenak. "Tunggu dulu, Suzuna. Kau mungkin saja dalam ba—"
"Kau sudah masuk."
Suzuna mengernyit, baru saja dia ingin menepik tangan Sena yang seenak jidatnya menyentuhnya, namun suara husky yang terdengar tegas itu menghentikan aksinya. "Hm?"
"Meski kau bilang tidak ingin ikut campur, kau akan tetap masuk dalam permainan bodohmu ini."
Tak ayal, kata-kata Hiruma tadi membuat tubuh Suzuna menegang. Gadis itu berbalik, menatap Hiruma dengan sengit dan penuh ketersinggungan. "Apa maksudmu? Aku tidak tahu ap—"
"Hn. Kau tidak tahu apa-apa, karena itulah..." semua pandangan tertuju langsung ke arah iris tosca itu. "Kau adalah target pertama yang akan mereka musnahkan."
Manik angkuh itu meredup, memberi respon negatif atas dugaan sementara Hiruma tadi. "Hmm, karena kau punya hubungan darah dengan Anezaki. Lagipula, kau tinggal di rumah itu, bukan? Aku juga berpikiran sama," komentar Akaba, sambil memperbaiki letak kecamatanya yang sedikit melorot.
"A-ap—"
"Bagi mereka, kau hanya pengganggu. Rencana mereka adalah menghabisi keluarga Anezaki. Dan dengan adanya kau yang masuk ke kediaman Anezaki, rencana mereka jadi sedikit runyam. Seharusnya kau bisa mengerti hal sesederhana ini," sindir Hiruma, seraya meraih kembali cangkir kopinya dan menyeruputnya sampai tandas.
Suzuna terpaku, pandangannya kosong. Secara refleks, tubuhnya kembali jatuh menimpa sofa. Perkataan Hiruma memang benar, dan itu membuat Suzuna kehilangan kontrol atas tubuh dan pikirannya. Tanpa sadar, gadis itu malah mencengkram tangan Sena yang masih melekat di pergelangannya. Suzuna takut, dan itu sangat manusiawi.
Dengan perlahan, Sena menggerakkan ibu jarinya, mengelus pelan punggung tangan Suzuna. Satu detik. Dua detik. Tiga de—
"Lepaskan aku!"
—tik.
Bagaikan tersetrum listrik bertegangan tinggi, Suzuna menarik tangannya dengan kasar dari Sena, lalu membuang pandangannya ke arah yang berlawanan. Sedikit semburat merah menghiasi wajah cantik gadis bangsawan itu. Dengan gelagapan, Suzuna berujar dingin. "B-baiklah, hanya sampai para pelayanku tiba di sini."
Sena tersenyum tipis, punggungnya kembali ia sandarkan di sofa. Dalam hati Sena melenguh, gadis di sampingnya memang sangat keras kepala. Seraya melirik Suzuna dengan geli, Sena berucap dengan nada setengah bercanda. "Kuharap kau tidak jauh-jauh dariku, Suzuna. Mereka bisa menyerangmu kapan saja," kedipan nakal dari Sena. Suzuna mendengus cantik, mengerucutkan bibir mungilnya lalu mulai menggerutu halus dengan kesal. Padahal diam-diam, hatinya terasa hangat mendengar ucapan Sena tadi.
"Ketemu."
Seluruh perhatian kini tercuri lagi oleh sosok tampan berkaos putih itu. "Simbol yang ada di peluru itu, ternyata ini."
Lagi, kini Hiruma masih dihujani tatapan ingin tahu dari segelintir orang di sekitarnya. Pemuda itu menyeringai tampan, seraya memutar posisi laptopnya hingga layarnya dapat tertangkap langsung oleh semua pasang mata di sana.
"Musuh kita...adalah WB."
.
.
.
.
TBC
Author's note:
Kyaaa~ WB oh WB XD jangan salahkan saya karna musuhnya adalah WB (itu spontanitas karna nggak bisa mendapat nama singkatan keren untuk jadi musuh Hiruma dkk) Ada yang punya ide, WB itu bagusnya kepanjangannya apa? #plak
Oke, saya memang kena WB. Dan ini efeknya #plak
Diksiku berubah ya? *lirik atas* Maaf ToT entah bagaimana, diksiku berubah jadi begini *hiks* ini efek WB jugaa~ #malahsalahinWB
Chapter ini singkat, maaf. Nggak bisa bikin adegan action yang lebih hidup lagi, inget ini rate T~ bloody scenennya nggak boleh berlebihan #jleb
Kritik, saran, komentar, dll saya persilahkan. Saya tau ceritanya masih ngaco, jadi mungkin kalo ada ide lagi, makin lama fic ini akan jadi makin ngaco #jleb
Ada yang nunggu-nunggu scene syutingnya ya? hihi, lagi krisis humor nih, jadi kuharap readers bisa bersabar. tapi chapter depan, kalo udah ada ide, pasti syutingnya udah jalan hohoho #dilempar
Nggak berani jamin bisa update cepat atau nggak. Maklum, fic MCku bukan cuma ini. Jadi kalo lagi nggak ada mood/ide yang cocok, nggak bisa update dulu. Doain aja deh ya? #plak
Saya hiatus berapa lama ya? #dibantai
Maaf dan terimakasih untuk readers yang cantik dan ganteng-ganteng XD Ini balasan review:
Guest : hihi, makasih :3 ini lanjuut, maaf lama hehe #dilempar HiruMamo? ooh~ of course XD untuk sementara masih ngeflirt-in SenaSuzu sama AkaKarin dulu, nanti HiruMamonya nyusul kok, hihi XD
Makasih reviewnyaaaaaa :) Yang lain udah kubalas lewat pm yaa XD Jujur, saya kangeeeeen dengan FESI :3 Udah lama nggak main ke sini soalnya, jadi mau berburu fic-fic disini dulu, hihi. Ada referensi, mungkin? humor dong :3 #ditimpuk
Targetku sekarang cuma dua, ngejar fic MC. Pengennya sih ngerjain finishingnya CPOG, cuma masih belum ada ide dan belum selesai diedit, hehe #duar
Dan juga, lunasin fic hutang :3 hutangku banyak, numpuk lagi #ngenes
Jadi, bagi author-author baik hati yang merasa saya punya hutang dengannya, mohon bersabar *smile a la Hiruma* *ketawa psico bareng Agon* #plak
Saya memang belum sembuh sepenuhnya dari WB, tapi lumayan udah ada peningkatan #dibuang
Maaf bacotannya kebanyakan, hehe. Maklum, fic pertama setelah hibernasi berbulan-bulan (baca: hiatus) sekali lagi, makasih XD
REVIEW yaaaaa ^^
Arigatou :)
