Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Knight's and Magic © Hizako Amazake

Date A Live © Koshi Tachibana

.

.

.

4 GEMS OF GALAXY

By Hikasya

.

.

.

Chapter 4. Kebenaran tentang aku

.

.

.

"Keningmu terluka," kataku sambil menunjuk keningnya yang terluka.

"Ah," Origami meraba keningnya. "Aduh... Sakit!"

"Tunggu sebentar!"

Aku melepaskan genggaman tanganku dari tangannya. Aku mencari sesuatu di dalam saku jaketku.

SREK! SREK! SREK!

Akhirnya kutemukan sesuatu yang aku cari. Aku mengeluarkannya dari saku jaketku. Lalu aku menempelnya langsung ke kening Origami.

"Selesai," sahutku setelah menempelkan plester itu di kening Origami yang terluka. "Aku sudah memasang plester di keningmu. Dua menit lagi, memar di keningmu pasti sembuh."

"Te-Terima kasih," Origami menjawab gugup sambil menundukkan kepala.

"Sama-sama."

Aku tersenyum dengan perasaan senang karena sudah membantu menyembuhkan memar yang tercetak di kening Origami. Tapi, aku tidak tahu bagaimana ekspresi Origami setelah ini.

Plester berteknologi canggih ini selalu kubawa kemana-mana dan kusimpan di saku jaketku. Plester yang terbuat dari serat kain yang lembut dengan obat penyembuh luka yang termutakhir di tengahnya. Menjadi andalanku saat aku mendapatkan luka.

Suasana menjadi hening. Kami terdiam dalam kebisuan abadi. Angin semilir bertiup, mendayu-dayu lembut di telingaku. Menerpa kami yang tetap terpaku di tempat kami berpijak.

WUUUSH!

Angin yang semula bertiup pelan, tiba-tiba berubah menjadi sangat kencang. Aku terkejut. Bersamaan aku mendengar suara teriakan di gendang telingaku.

'Awas! Di belakangmu!'

Suara itu begitu berat dan menakutkan. Suara yang memberitahukan aku bahwa ada bahaya yang kini mengintaiku. Aku berbalik ke belakang. Naluriku menuntutku untuk bergerak secepatnya.

"...!" aku melihat dengan jelas sosok bayangan hitam yang melesat cepat bagaikan kilat. Menyerbu tepat ke arahku disertai angin yang sangat kencang.

'Melompat!'

Suara menakutkan itu terdengar lagi. Aku tersentak dan merasakan tubuhku yang bergerak sendiri. Seakan-akan ada yang mengendalikanku.

BETS!

Dengan cepat, aku menarik tangan Origami. Origami berteriak kencang sekali saat aku memeluknya. Kami melompat tinggi sebelum sosok bayangan hitam berhasil mencapai kami.

"Kyaaa!" teriak Origami. Ia memelukku seerat-eratnya.

Kami melayang-layang di udara. Angin kencang menderu-deru di telingaku. Bahkan pepohonan bergoyang-goyang kuat karena tiupannya.

TRAPS!

Kami mendarat di sisi yang lain. Aku melihat sosok bayangan hitam itu bergerak melewati kami. Tapi, ia bergerak memutar dengan cepat dan kembali meluncur ganas ke arah kami.

Gawat! Dia menyerang kami lagi!

"Pegangan yang kuat, Origami!" pintaku sambil menggendong Origami dengan gaya bridal.

Secara refleks, aku kembali melompat. Entah mengapa tubuhku terasa ringan sekali sehingga memungkinkan aku bisa melompat dengan mudah. Juga aku merasakan denyut jantungku memompa dengan cepat. Terasa panas hingga mendidihkan darahku.

Dalam keadaan seperti ini, Origami berteriak lagi. Ia sangat ketakutan. Terbukti, ia memeluk leherku dengan kuat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ada sosok bayangan hitam yang menyerangku?

Aku tidak tahu itu siapa. Namun, yang penting aku harus menghadapinya. Tentunya melindungi Origami agar Origami tidak terluka.

TRAPS!

Kami memang berhasil mendarat di sudut tempat yang lain. Tapi, sosok bayangan hitam tetap menyerbu kami berkali-kali. Ia ingin berniat menyerudukku.

Ayolah, sampai kapan ini akan berakhir! Aku tidak tahan lagi menghindar seperti ini. Membuatku pusing tujuh keliling.

Pada puncaknya, setelah capek bermain berputar-putar tanpa arah, sosok bayangan hitam berubah menjadi kobaran api hitam yang sangat besar. Membentuk wajah yang menakutkan seperti setan.

Wuaaah! Benar-benar menyeramkan! Angin yang begitu kencang, menambah kobaran api semakin besar. Bergerak sangat cepat seperti tsunami. Menyapu bersih semua yang dilaluinya.

Gempa bumi terjadi. Beberapa pohon tumbang karena terseret angin. Beberapa di antaranya terbakar karena terkena kobaran api yang terciprat dari api hitam yang berbentuk wajah itu.

Waktu bergerak sangat cepat. Kami tidak bisa menghindar dari kepungan tsunami api raksasa yang begitu dahsyat. Kami membelalakkan mata dan berteriak kompak.

"Kyaaa/wuaaah!"

BWOOOSH!

Muncul lingkaran api merah yang mengelilingi kami. Bersamaan aku mendengar suara yang menggema di gendang telingaku.

'Flame Circle!'

Lingkaran api merah bergerak dengan cepat. Kemudian berputar-putar cepat membentuk bola api yang sangat besar. Melindungi kami dari terjangan tsunami api hitam.

DHUAAAR!

Ledakan dua elemen yang sama terjadi. Sangat memekakkan telinga. Tanah bergetar seakan-akan dilanda gempa bumi tektonik.

Efek cahaya ledakan itu sangat menyilaukan mata. Sehingga aku terpaksa menutupi kedua mataku. Aku merasa takut karena bahaya yang kini mengancamku.

Origami mungkin merasakan apa yang kurasakan. Ketakutan yang menjalari seluruh tubuh. Ia tetap merangkul leherku dengan kuat. Tak pernah sedikitpun, ia melepaskan rangkulannya itu.

Aku tak tahu apa-apa tentang kekuatan api yang tiba-tiba muncul dariku. Setahuku, aku ini manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Aku sama seperti yang lainnya.

Tapi, sekarang, kusaksikan sendiri kekuatan yang menjelma di hadapanku. Kekuatan yang muncul tanpa kusadari sebelumnya.

Ada seseorang yang mengendalikanku. Firasatku mengatakan itu.

Getaran terus terjadi. Tubuhku ikut bergetar karenanya. Hawa panas terasa keluar dari kulitku.

Beberapa menit kemudian, suasana menjadi hening. Suara ledakan tidak terdengar lagi. Angin yang semula bertiup kencang, kembali bertiup lembut. Getaran juga tidak terasa lagi.

Karena penasaran, aku memberanikan diriku untuk membuka mataku secara perlahan-lahan. Cahaya terang menyapaku dengan kemenangan yang singkat.

Yang kudapati sekarang hanyalah pemandangan yang sangat berantakan; beberapa pohon berserakan dimana-mana dan beberapa pohon lainnya menjadi hitam gosong. Pasti siapa saja yang melihatnya akan heran.

Aku terpaku dengan ekspresi pasrah. Aku tidak tahu mesti bagaimana lagi untuk mengatasi kekacauan ini.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Origami bertanya pada saat aku sudah menurunkannya. Ia berdiri di sampingku.

"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang terjadi," aku menjawab sembari menggeleng pelan.

"Aku melihat ada yang menyerangmu."

"Dan aku tidak tahu siapa dia."

"Yang pasti, dia bukan orang biasa. Dia menyerangmu dengan api yang berwarna hitam."

"Ya. Mungkin ada orang yang tidak menyukaiku."

"Tapi, aku juga melihat ada lingkaran api merah yang melindungimu."

"Lingkaran api merah?"

"Iya."

Origami mengangguk dengan wajah yang sangat serius. Sorot kedua matanya mencerminkan sesuatu yang tidak kuketahui. Seolah-olah mengetahui segalanya.

"Kau memiliki kemampuan khusus, Naruto. Aku merasakan kau adalah 'Singa' yang hilang. Singa api, simbol dari matahari. Pemimpin pasukan 4 Permata Galaksi yang sesungguhnya."

"Pemimpin pasukan 4 Permata Galaksi?" aku mengerutkan keningku. "Apa maksudmu?"

Aku heran dengan arah pembicaraan Origami. Gadis berambut putih itu tersenyum manis dengan wajahnya yang cerah.

"Aku adalah manusia genetika yang bersatu dengan gen ikan duyung. Aku memiliki kemampuan khusus yaitu air."

"Ma-Manusia genetika?"

"Ya. Aku ditugaskan oleh pengasuhku untuk mencari tiga orang yang memiliki kekuatan khusus sepertiku. Mereka memiliki gen Singa, Harimau, dan Burung Gagak. Aku harus secepatnya menemukan mereka sebelum Scorpiry menemukan mereka."

Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Origami. Origami adalah manusia genetika yang bersatu dengan gen Ikan duyung. Itu berarti dia adalah "manusia buatan" dari hasil proyek ilmuwan yang berotak cerdas.

Tidak heran jika ada manusia buatan yang tercipta di zaman canggih ini. Semua orang tidak kaget jika mengetahuinya. Mereka sudah terbiasa dengan penemuan seperti itu.

Tapi, bagi diriku, hal itu sangat mengejutkanku. Terlebih Origami menceritakan perihal tentang diriku yang sebenarnya.

"Kau juga manusia genetika, Naruto. Kau memiliki gen Singa yang bersatu dengan permata kekuatan yang bersarang di jantungmu. Sama halnya denganku. Permata kekuatan juga bersarang di jantungku," ungkap Origami yang memegang dada kirinya. "Permata kekuatan akan bereaksi ketika ada bahaya yang menyerang kita. Dialah yang menuntun kita untuk menghadapi bahaya itu."

Sontak, aku membelalakkan kedua mataku sambil memegangi dada kiriku. Rasa panas dan menyakitkan yang sering menyerang jantungku secara tiba-tiba, ternyata adalah permata kekuatan yang memiliki gen hewan. Juga kebenaran yang mengejutkan, aku adalah manusia genetika.

Tidak! Ini pasti salah. Tidak mungkin aku manusia buatan. Itu berarti aku tidak terlahir murni dari rahim seorang ibu. Itu berarti juga aku terlahir di dalam tabung percobaan dari hasil campur tangan ilmuwan.

Rasanya aku ingin ambruk ke tanah sekarang juga atau perlu memukul kepalaku dengan batu. Berharap ini adalah mimpi.

Namun, saat aku cubit pipiku sendiri, rasanya sakit. Berarti ini adalah kenyataan, bukan mimpi belaka.

Origami terus bercerita. Ia berdiri membelakangiku. Kepalanya terangkat ke atas. Memandang lepas ke arah langit cerah.

"Aku mengetahui rahasia ini dari pengasuhku yang bekerja di Bima Guards. Pemerintah Bumi merahasiakan kehancuran Planet Demeto dari khalayak umum. Juga merahasiakan tentang ras Faorion yang hidup di bumi ini, yang tiba-tiba mati tanpa sebab yang jelas. Karena itu ras Faorion punah dan tidak ada lagi sekarang."

Kedua mataku melunak. Aku sangat sedih mendengar kabar duka ini seiring Origami terus bercerita. Angin bertiup dengan lembut sehingga dedaunan kering beterbangan karenanya. Menghujani kami sebagai tanda turut merasakan apa yang aku rasakan.

"Planet Demeto hancur karena perang yang disebabkan Scorpiry yang melawan pasukan keamanan Demeto. Scorpiry menggunakan senjata penghancur tercanggih sehingga mengakibatkan seluruh wilayah planet Demeto hancur. Tidak ada yang tersisa..."

Origami menurunkan pandangannya dan menoleh ke arahku. Air mukanya suram sekali. Ia melanjutkan kata-katanya.

"Tapi, ada beberapa anggota Scorpiry yang selamat dari perang itu. Mereka sempat mengejar pesawat anggota pasukan keamanan Demeto yang membawa empat bayi. Empat bayi yang memiliki permata kekuatan. Empat bayi yang dimaksud adalah kau dan aku..."

Aku terpaku di tempat. Origami tetap berwajah suram. Aku belum bisa berkomentar apa-apa dan memilih untuk mendengar penjelasan Origami.

"Untung sekali, Bima Guards datang membantu di saat Scorpiry berusaha mencegat pesawat yang membawa empat bayi. Scorpiry kabur dan menghilang entah kemana. Hingga Bima Guards membawa orang yang menyelamatkan empat bayi itu ke bumi."

"Begitu ya."

Aku baru berani berkomentar di sela-sela Origami bercerita. Aku turut memasang wajah suram.

"Ternyata aku manusia genetika yang sama denganmu. Aku baru tahu kebenaran itu sekarang. Tapi, kenapa pemerintah Bumi merahasiakannya?"

"Itu karena mereka ingin melindungi keberadaan kita agar tidak diketahui Scorpiry. Scorpiry menginginkan kita untuk dijadikan senjata yang bisa memperkuat pertahanan mereka. Mereka ingin menguasai galaksi Bimasakti dan menunjukkan bahwa mereka adalah ras yang paling hebat di jagat raya."

"Hmmm... Scorpiry itu... Apakah mereka adalah ras Faorion?"

"Ya. Scorpiry adalah organisasi mafia yang bergerak di bidang teknologi genetika dan selalu berusaha menciptakan senjata genetika yang bisa menguasai planet. Mereka disebut juga bajak angkasa."

"Berbahaya sekali jika mereka mengetahui keberadaan kita di sini. Kau bilang mereka kabur begitu saja saat Bima Guards datang membantu anggota pasukan keamanan Demeto yang membawa empat permata itu, kan?"

"Iya. Diperkirakan mereka akan mengetahui keberadaan kita di sini."

"Karena itu, kau mencariku dan dua orang lainnya yang memiliki permata kekuatan itu."

"He'eh."

Origami mengangguk dengan pelan. Aku sudah cukup mengerti dengan keadaan yang kualami sekarang. Aku akan mencoba untuk beradaptasi dengan keadaan diriku setelah aku mengetahui rahasia tentangku ini.

"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan, Origami?" tanyaku penasaran.

"Tentu saja. Mencari dua rekan yang lain," jawab Origami dengan cepat.

"Kalau begitu, aku akan membantumu. Kita akan bersama-sama mencarinya."

"Ah... Te-Terima kasih, Naruto."

"Ya. Sama-sama."

Aku tersenyum. Kulihat, samar-samar terdapat rona merah tipis di dua pipi Origami. Origami juga tersenyum. Senyumannya manis sekali.

Hari yang begitu ceria, menyegarkan hatiku yang sudah mendapatkan kejutan yang hebat. Kejutan bahwa aku memiliki kekuatan khusus yang tak dimiliki oleh orang biasa manapun. Kekuatan yang berasal dari permata yang kini bersemayam di jantungku. Aku bisa merasakannya. Hawa kekuatannya yang teramat besar.

Sesudah ini, aku bertekad akan membantu Origami untuk mencari dua orang yang memiliki permata kekuatan itu. Kami harus menemukan mereka sebelum terlambat.

Aku memandang dengan tampang bosan ketika Sasuke membicarakan rencananya untuk mencari tahu tentang rahasia yang disimpan oleh pemerintah Bumi. Rencananya Sasuke akan menggunakan robot nyamuk ciptaannya untuk menyelinap ke Markas Pusat Bima Guards yang berada di Kota Elora. Kota yang kutinggali sekarang.

Jarak Markas Pusat Bima Guards sangat jauh dari Space Flight School. Masih dalam Sektor yang sama - Sektor 7.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan kejadian luar angkasa merupakan tanggung jawab Bima Guards. Termasuk melindungi Bumi dan Galaksi Bimasakti. Organisasi ini langsung dibawahi oleh Presiden.

Intinya, pusat sistem pemerintahan di Bumi, dipegang oleh Presiden, tepatnya di ibukota yang bernama Akara. Tapi, banyak juga presiden lainnya yang memimpin sebuah negara.

Lupakan tentang sistem pemerintahan di Bumi ini. Aku hanya fokus ke arah pembicaraanku dengan Sasuke.

Saat ini, kami sedang berbicara serius di kelas. Tidak ada seorang pun yang terlihat kecuali kami berdua.

Semua penghuni kelas sudah berpencar kemana-mana. Aku tidak mempedulikan mereka. Toh, mereka tidak mempedulikanku. Hanya Sasuke yang mempedulikanku.

Aku dan Sasuke duduk bersebelahan. Kami berbicara sambil menikmati makan siang. Kebetulan Sasuke membeli pizza keju daging berukuran jumbo di kantin - lima belas menit yang lalu. Pizza keju daging sintesis yang dibuat langsung dari pabrik makanan yang dikelola oleh pemerintah.

"Aku sudah tahu rahasia pemerintah itu," ungkapku setelah Sasuke mengakhiri pidato panjangnya mengenai cara kerja robot nyamuknya.

"Hah?!" Sasuke ternganga."Kau tahu darimana?"

"Dari Origami."

"Origami... Gadis aneh yang penyendiri itu?"

"Iya."

"Memangnya rahasia apa yang dibilang Origami padamu?"

"Rahasia ... Aku ... Adalah..."

Aku menghentikan pembicaraanku sejenak. Mengatur napas. Hirup, tahan, dan hembuskan. Barulah aku meneruskan perkataanku yang tertunda.

"Aku... Aku adalah manusia genetika."

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Nanti review kalian, saya balas satu-satu ya.

Jawaban saya buat pertanyaan guest:

Cerita ini memang saya ambil dari salah satu cerita saya di wattpad. Terus saya buat versi cerita ffn-nya. Riyanni S itu memang saya kok, itu pen name yang saya pakai di wattpad.

Oh ya kedepannya, saya benar-benar sibuk karena ada proyek membuat novel sendiri di salah satu situs penerbitan. Mungkin untuk urusan kelanjutan cerita-cerita ffnnya akan saya update jika ada waktu luang. Saya akan menamatkan semuanya nanti.

Terima kasih dan sampai jumpa ya.

Jumat, 16 Maret 2018