Chapter 4

Malam kian larut, menciptakan hening yang terjadi diantara Naruto dan Sasuke. Sejak makan malam tadi, sikap Naruto sedikit berubah dan jujur itu membuat Sasuke sedikit khawatir. Sasuke tak habis pikir, bagaimana bisa si blonde bodoh itu bisa terpengaruh ucapan Orochimaru. Dan lihat, sekarang polisi malah menganggap Naruto sebagai anak berandal karena pertengkaran itu. Oke Naruto, sepertinya Orochimaru telah selangkah lebih maju dibanding dirimu.

"Sasuke, mau kuceritakan alasan mengapa aku ingin membunuh Orochimaru?"

Ah benar, sebelum pulang kerumah Naruto mengatakan hal itu pada Sasuke. Mata Sasuke menerawang pemuda blonde dihadapannya ini. Sejak tadi ia hanya terdiam, menutup mulutnya rapat-rapat. Pandangan penuh amarah ia layangkan pada langit yang kini berawan tanpa bintang. Sasuke sedikit ragu untuk bertanya pada Naruto. Apakah tak apa jika ia bertanya tentang Orochimaru?

"Kau panasaran ya?" akhirnya mulut itu bersuara. Sasuke sedikit tersetak.

"Berhenti membaca pikiranku dasar bodoh." Kesalnya. Naruto hanya diam, enggan menggoda Sasuke. Biasanya ia selalu menggoda Sasuke hingga Sasuke naik darah.

"Aku ingin balas dendam— membalaskan dendam orang-orang yang telah dibunuh oleh iblis itu." Cerita Naruto. Sasuke memasang telinganya baik-baik, mendengarkan kalimat demi kalimat yang dikeluarkan Naruto.

"Aku hanya tinggal berdua dengan ayahku. Ayahku adalah seorang CEO dari perusahaan yang bergerak dibidang interior. Banyak orang yang memakai jasa dari perusahaan ayahku yang menyebabkan perusahaan ayah berkembang pesat. Namun seiring berkembangnya perusahaan ayah, saat itu 'dia' muncul. Aku yang masih kecil benar-benar tidak mengetahui alasan si iblis itu menaruh dendam pada ayahku."

"Apa yang terjadi pada ayahmu?" tanya Sasuke pelan.

"Sebuah truk menabrak mobil ayahku. Dan kau tahu siapa pelakunya? Dia Orochimaru. Aku dan ayah mengalami benturan yang hebat. Aku bahkan bisa menyium anyir darah yang mengalir dari kepalaku. Ayahku pingsan, kepalanya berdarah. Aku berteriak sebisa mungkin agar ada seseorang yang bisa menolong kami. Saat itu Orochimaru datang, kupikir ia akan menolongku namun aku salah. Sebuah linggis menghantam kepala ayahku. Aku bahkan bisa mendengar suara hatinya yang berteriak 'mati kau!'. Aku ketakutan, tak ada yang bisa menolongku. Saat aku hendak dibunuh olehnya ada seorang laki-laki bodoh yang memfoto tindakan Orochimaru. Orochimaru berusaha mengejar laki-laki itu untuk menghapus bukti pembunuhan yang ia lakukan. Aku yang tak bisa bergerak se-inchi pun hanya berdoa agar Tuhan melindungi laki-laki itu. Hanya dialah yang bisa menolongku."

Naruto menekuk lututnya, menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Sasuke hanya diam membatu. Apa ini? Kenapa Sasuke tak bisa mengulurkan tangannya untuk sekedar mengusap punggung Naruto. Kenapa tangan ini begitu kaku untuk melakukannya? Padahal Sasuke tahu jika Naruto itu orang baik.

"Kau tahu Sasuke, sejak saat itulah aku mendapatkan kekuatan ini. Kupikir dengan kekuatan ini aku bisa menangkap Orochimaru tanpa harus mengharapkan bukti foto yang dimiliki laki-laki tadi. Karena aku yakin laki-laki itu pasti tak akan datang. Ketika aku ingin memberi kesaksian entah kenapa aku tak bisa bersuara. 'Trauma berat' itu kata mereka, dan ini butuh waktu yang lama. Aku mencoba meyakinkan para polisi bahwa aku melihat pelakunya dan bisa membaca pikiran manusia, namun mereka tak percaya dengan perkataan bocah kecil sepertiku. Aku kesal, aku marah, bagaimana bisa aku selemah ini? Saat itu aku benar-benar menunggu keajaiban dari Tuhan dan berharap laki-laki itu datang dan membawa buktinya. Singkat cerita ternyata doa-ku terkabul, laki-laki itu datang dengan wajah pucat, aku yakin ia diancam oleh Orochimaru. Saat itu Orochimaru menatapnya dengan tajam, seakan-akan ingin mencekik lehernya hingga kehabisan nafas. Setelah bersaksi di depan hakim, ia menunjukan handphonenya. Tapi kali ini nasib baik ada pada Orochimaru—"

Naruto terkekeh kecil. Membuat Sasuke bertanya-tanya dalam benaknya.

"Bukti fotonya tak ada. Handphone laki-laki itu rusak. Dan kesaksian yang diberikan olehnya kurang meyakinkan jaksa dan hakim. Hingga akhirnya hakim menyimpulkan bahwa Orochimaru tak bersalah. Aku hanya bisa menangis, mengapa Tuhan begitu jahat padaku? Namun tiba-tiba laki-laki itu berkata dengan lantang 'Aku mengidap sindrom pinocchio!'. Saat itu semua tertawa mendengar ucapanya itu, namun berbeda dengan hakim. Ia percaya dengan sindrom itu dan memberikan kesempatan pada laki-laki itu untuk bersaksi. Dan berkat perkataannya itulah ia menolongku."

"Pinnochio? Itu berarti dia—"

"Ya, benar. Laki-laki yang sama sepertimu. Dan kau tahu nama dari laki-laki itu?"

"Apa mungkin itu—"

"Izuna. Ya, itu namanya. Aku berhutang budi padanya. Setelah persidangan itu aku menemui dirinya yang sedang menangis ketakutan. Walau aku tak bisa bicara, aku mencoba menenangkannya. Ia menatapku sinis, menepis tanganku dan berkata—"

'Apa kau sudah puas tuan muda?! Sekarang hidupku penuh teror. Bisa saja aku akan dibunuh oleh penjahat itu. Bahkan aku terlihat seperti orang bodoh dipersidangan tadi. Mengapa aku harus mengatakan penyakit bodoh ku ini. Ahh sial aku bingung apa aku menyesal menolongmu atau tidak? Oh Tuhan, mengapa ini terjadi padaku'

"—aku tahu jika ia benar-benar ketakutan. Aku menuliskan kata-kata diatas tanah. Aku bilang padanya jika aku besar nanti aku akan melindunginya. Tak akan kubiarkan Orochimaru menyakitinya. Saat itu ia tertawa dan mengusap kepalaku dengan lembut."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Saat aku berumur 15 tahun aku bertemu lagi dengannya. Awalnya ia ingin menjauhi ku, namun kakaknya melarangnya. Madara, kakak dari Izuna mengajakku untuk mampir kerumah mereka. Semenjak saat itu aku dekat dengan mereka. Setiap pulang sekolah, aku akan pergi kerumah Izuna. Dan seiring berjalannya waktu Izuna mulai menerimaku dan bersikap baik padaku. Dia bahkan tahu tentang kekuatan yang kumiliki."

Naruto mengambil earphone jingga dari dalam tasnya.

"Earphone ini sudah rusak. Namun aku tetap menyimpannya karena ini adalah hadiah dari Izuna saat hari ulangtahunku. Ia tahu jika aku begitu tersiksa ketika mendengar 'suara-suara' itu."

Sasuke diam seribu bahasa. Ia tak menyangka jika earphone jingga yang selalu dikenakannya setiap hari itu begitu berharga baginya.

"Selama dekat dengannya, aku mengetahui segala sesuatu tentang Izuna. Masa kecilnya, cita-citanya dan sebagainya. Izuna itu orang yang baik, dia sangat peduli pada sesama, maka dari itu ia bercita-cita menjadi seorang pengacara. Lambat laun aku mulai menyukai sosoknya itu. Sosok baik hati yang menjunjung tinggi rasa keadilan. Aku menyukai Izuna, ah tidak melainkan mencintainya. Tepat saat hari ulang tahunku aku membelikan sebuah boneka padanya karena ia lolos seleksi sebagai pengacara publik. Aku bertekad akan mengutarakan perasaanku padanya. Dan kau tahu apa kebodohanku saat itu? 10 November.. itu adalah hari dimana Orochimaru bebas dari penjara. Karena terlalu larut dengan rasa sukaku pada Izuna aku sampai lupa janjiku padanya."

Langit semakin gelap. Setetes demi setetes hujan turun membasahi tanah yang mengering. Udara semakin dingin hingga menusuk tulang. Angin bertiup cukup kencang hingga membawa air hujan kedalam kamar Sasuke. Lantai kamar itu basah, tak hanya itu air hujan juga membasahi baju Naruto.

"Aku membuka pintu. Gelap. Bahkan cahaya rembulanpun tak bisa menerangi rumah Izuna. Kupikir mereka sedang membuat kejutan kecil untuk ulang tahunku. Namun tebakanku salah. Aku mencium bau amis darah, dan saat itu aku melihat Izuna dan kakaknya tergeletak bersimbah darah. Mereka terluka karena tusukan pisau diperut mereka. Aku menghampiri Izuna, tubuhku bergetar hebat tak karuan. Mencoba memanggil Izuna agar ia tak pergi. Izuna hanya memandangku sayu.'Dia datang.. cepat kau pergi sebelum ia membunuhmu.' Itu yang kudengar dari dalam hatinya. Izuna memintaku untuk pergi, dan dengan bodohnya aku pergi tanpa menolongnya. Kasus kematian Izuna ditutup karena tak ada bukti dan saksi. Saat itu aku tak bisa bertindak apapun, Orochimaru telah menang. Dan saat itulah aku bertekad akan membunuh Orochimaru."

Kilatan amarah keluar dari iris safir itu. Tekadnya membara, Sasuke bisa rasakan itu. Sasuke tak menyangka jika Orochimaru tega melakukan itu pada Naruto.

"Naruto, aku—"

Naruto memeluk Sasuke. Erat seakan tak ingin Sasuke pergi sama seperti ayahnya dan juga orang yang ia cintai, Izuna.

"Jangan pergi. Aku janji, akan melindungimu dari si busuk itu. Aku janji. Jadi kumohon, berikan kekuatanmu padaku."

"Yeah, aku mengerti.." Sasuke membalasnya. Membalas pelukan yang diberikan Naruto. Tubuh Naruto dingin, sangat dingin. Seakan-akan ia telah ditarik oleh kegelapan didalam hatinya. Sasuke tak mau itu terjadi. Sasuke harap dengan begini ia akan menghangatkan Naruto, memberinya kekuatan untuk hidup. Namun tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang sedari tadi mendengar kisah menyedihkan itu.

..

..

..

Pagi telah tiba. Hujan yang semalam mengguyur kota ini telah berhenti. Tetesan air masih menempel pada dedaunan diatas pohon. Mentari mulai muncul, menghangatkan suasana pagi dikota ini. Manusia memulai aktifitasnya kembali. Begitu pula Itachi. Sedari tadi ia sibuk memijit pangkal hidungnya itu. Cuaca cerah yang ada diluarpun tak digubrisnya. Itachi masih setia duduk dikursi ruangannya itu.

"Uchiha Izuna ya?" gumannya pelan.

Ya, semalam ia tak sengaja mendengar percakapan Naruto dan Sasuke. Walau tak sepenuhnya ia dengar. Namun yang menarik bagi Itachi adalah kasus pembunuhan Izuna. Setahunya, Orochimaru menjadi pelaku utama bagi kasus pembunuhan Namikaze Minato, Itachi tak tahu jika Orochimaru juga terlibat dalam pembunuhan Uchiha Izuna.

"Uchiha Izuna dan Uchiha Madara. Kudengar dari ayah jika mereka dikeluarkan dari daftar keluarga karena penyakit memalukan yang dimiliki Izuna."

Tok! Tok! Ketukan pelan dari arah luar mengagetkan Itachi.

"Ah maaf menunggu lama Itachi-san. Ini berkas yang kau minta." Yahiko datang sambil membawa beberapa berkas yang diminta Itachi. Setelah Itachi mengucapkan terimakasih, Yahiko pun pamit dan menutup pintu dengan pelan.

"Sudah kuduga, pelakunya tidak ditemukan dan kasus pembunuhan ini ditutup." Ucap Itachi. Ia menghela nafas panjang. Bagaimanapun ia merasa gagal sebagai seorang polisi. Bagaimana bisa kasus ini dengan gampangnya ditutup tanpa harus menyelidikinya terlebih dahulu. Dan lagi, bagaimana bisa Orochimaru yang baik dan ramah itu bisa membunuh Izuna.

"Diberkas ini mengatakan jika Orochimaru berperilaku baik selama didalam sel. Ia bahkan selalu menolong dan bersikap ramah pada penghuni penjara." Pikir Itachi. Ia ragu jika Orochimarul yang membunuh Uchiha Izuna.

Kalaupun memang Orochimaru pelakunya, Itachi tak bisa menuduhnya langsung. Perlu beberapa bukti yang kuat untuk menyatakan jika Orochimarulah pelakunya. Itulah tugas seorang polisi.

"Jangan pergi. Aku janji, akan melindungimu dari si busuk itu. Aku janji. Jadi kumohon, berikan kekuatanmu padaku."

Itachi tertegun, mencoba menafsirkan maksud perkataan Naruto. Apa yang sebenarnya mereka berdua sembunyikan?

Tok! Tok! Lagi-lagi ketukan pintu membuat Itachi terkejut. Orochimaru masuk setelah diberi izin oleh Itachi. Itachi sebisa mungkin bersikap tenang, ia tak ingin terlihat mencurigakan dihadapan Orochimaru.

"Ya? Ada apa Orochimaru-san?" tanyanya halus.

"Err.. bukankah Itachi-san menyuruh saya untuk datang kesini?"

"Eh? Ah iya kau benar. Kurasa ruanganku kotor lagi. Padahal kau baru saja membersihkannya beberapa hari yang lalu. Maaf merepotkanmu." Itachi menggaruk tengkuknya dan tertawa pelan. Orochimarupun tersenyum. Ia melihat sekeliling ruangan milik Itachi, dan benar saja ruangannya begitu berantakan. Berkas-berkas yang berceceran dimana-mana serta cup sisah mie instant yang tergeletak disudut ruangan itu.

"Sepertinya anda benar-benar sedang sibuk, Itachi-san?"

"Ah? Yeah, begitulah. Nah, silahkan bekerja. Lakukan tugasmu dengan baik ya." Itachi menepuk punggung Orochimaru, memberinya semangat. Tak berapa lama, Orochimaru mendengar suara pintu yang tertutup. Berarti Itachi sudah keluar. Orochimaru mengepal tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih. Gigi-giginya saling beradu, menimbulkan gertakan keras, pertanda amarah yang tertahan.

"Brengsek! Sepertinya kau mulai mencurigaiku ya?" guman Orochimaru.

"Nagato-san, apa kau lihat berkas kematian orang yang bernama Izuna. Sepertinya kasus ini terjadi sekitar dua atau tiga tahun yang lalu."

"Coba kau cari dilemari sebelah sana. Aku sudah menyusunnya dengan baik, kau ini. Ah maaf telah mengganggumu Orochimaru-san."

"Sepertinya kalian sedang sibuk."

"Yeah, tiba-tiba Itachi-san meminta berkas kasus orang yang bernama Izuna. Padahal kasus tersebut sudah ditutup cukup lama. Ah, jika kau ingin bertemu dengan Itachi-san kau naik kelantai dua. Ruangannya ada diujung. Ahh sudah kuduga pasti dia memanggilmu karena ruangannya kotor lagi."

Orochimaru tak sengaja mendengar percakapan dari anak buah Itachi itu. Ia tak menyangka jika kini musuhnya bertambah menjadi dua. Ahh ini pasti akan merepotkan. Ia terlalu mengulur waktu. Sebaiknya Orochimaru harus bergerak cepat.

"Ku urus si bocah Namikaze dulu, setelah itu kuhabisi si polisi brengsek itu. Itachi, padahal aku tak berniat membunuhmu. Namun kau sudah menghalangi jalanku."

Angin bertiup kencang dari arah jendela yang terbuka. Menghamburkan kertas-kertas yang berserakan ke udara. Orochimaru mengambil kertas yang melayang diudara itu dan meremasnya dengan kuat.

"Pertama-tama aku harus memisahkan Naruto dan Sasuke, menghadapi mereka berdua saat bersama ternyata cukup menyulitkan."

Seringai bagai iblis menghiasi wajah pucat Orochimaru.

"Setelah semua ini beres akan ku pikirkan cara untuk menghancurkan Itachi."

..

..

..

Orochimaru menepuk bajunya yang kotor terkena debu. Ia menyeka keringat yang menetes didahinya, wajahnya terlihat kelelahan setelah membereskan ruangan Itachi.

Setelah dirasa sudah bersih ia menutup pintu ruangan itu. Itachi mengucapkan terimakasih padanya dan memberikan beberapa lembar uang padanya. Setelah itu Orochimaru pamit.

"Ah Orochimaru-san? Apa pekerjaan anda sudah selesai?" Yahiko yang sedang duduk dikursi kerjanya menyapa Orochimaru dengan ramah.

"Yeah, ruangan Itachi-san benar-benar sangat kacau." Ia terkekeh pelan diikuti anggukan dan tawa kecil dari para polisi yang ada disana.

"Biasanya adik laki-lakinya yang akan membersihkannya. Namun akhir-akhir ini aku jarang melihatnya." Ucap Nagato.

"Adik laki-laki?"

"Yeah. Itachi-san punya seorang adik laki-laki yang benar-benar manis. Ah, sayangnya ia mengidap sindrom pinnochio."

"Sindrom pinnochio? Itu artinya sindrom tidak bisa berbohong?" Tanya Orochimaru. Yahiko mengangguk membenarkan ucapan Orochimaru. Sindrom pinnochio? Ahh itu mengingatkan ia pada salah satu korbannya. Hati Orochimaru berteriak girang. Entah kenapa Orochimaru merasa ada hal bagus yang akan datang padanya.

"Siapa namanya?"

"Kalau tak salah namanya Sasuke." Ucap Nagato.

Bingo! Benar dugaannya. Ah, Orochimaru tak menyangka jika ia mendapatkan informasi yang bagus.

"Bisakah kau beritahu aku tentang adik Itachi-san itu?"

Orochimaru tersenyum ramah pada Yahiko. Dengan semangat Yahiko pun menceritakan adik Itachi itu pada Orochimaru.

"Dengan begini sekali dayung dua pulau bisa kulewati. Kemenangan ada dimataku."

..

..

..

Sasuke menghela nafas panjang. Entah kenapa pikirannya penuh dengan si pirang bodoh itu. Sudah tiga hari ia dan Naruto tidak bicara sama sekali. Biasanya mereka selalu berangkat sekolah bersama. Namun sekarang Naruto memilih untuk berangkat sekolah lebih dulu. Bahkan saat pulangpun juga begitu. Sasuke seolah-olah seperti orang asing bagi Naruto. Ini terjadi ketika mereka berpapasan saat istirahat tadi. Sasuke yakin jika Naruto melihatnya, namun Naruto tak menegurnya sama sekali. Sasuke sempat berpikir, apa ini ada kaitannya dengan kejadian semalam itu?

"Kurasa ia memang perlu waktu untuk melupakannya lagi." Guman Sasuke. Sasuke memakluminya. Menceritakan hal menyedihkan yang ingin dilupakan itu bukan perkara mudah. Naruto mungkin butuh waktu untuk melupakannya lagi. Terlebih Sasuke mirip dengan Izuna, orang yang dicintai Naruto. Yeah, itu yang dapat disimpulkan Sasuke.

Padahal Sasuke ingin bertanya tentang hasil memata-matai Orochimaru. Pasalnya Naruto sudah merubah warna rambutnya lagi. Jika seperti ini bisa Sasuke simpulkan kalau Naruto gagal memata-matainya. Bagaimana itu bisa terjadi?

"Wah wah wah. Ternyata si emo sombong ini tidak ditemani oleh 'anjing' setianya lagi." Deidara mencegat Sasuke digerbang. Sasuke menghela nafas, dan menatap Deidara dengan malas.

"Apa mau mu?"

"Astaga kurasa 'tikus' ini mulai marah. Ohh Naruto si anjing setia~ kenapa kau tak datang menolong tikus ini? Jahat sekali kau. Huhuhuhu.." Deidara mulai mengejek Sasuke. Demi Tuhan, Sasuke sangat malas untuk meladeni sikap bodoh Deidara itu. Sasuke ingin cepat-cepat pulang.

"Huhuhuh.. pangeran Naruto, tolong antar putri ini kerumahnya huhuhu.. panggil kekasihmu itu Sasuke."

"Brengsek! Dia bukan keka—"

"Yo! Maaf membuatmu menunggu lama Sasuke!" Naruto merangkul pundak Sasuke. Sasuke tersentak kaget. Bukankah Naruto sudah pulang sejak tadi?

"Hei Deidara, dari pada kau mengganggu kami lebih baik kau cepat pergi ke toko anime itu. Bukankah kau ingin membeli game hentai waifu mu itu hah?" ejek Naruto. Wajah Deidara memerah.

"Ba—Bagaimana ia bisa tahu? Sial."

Naruto terseyum. Bingo! Kau kena Deidara!

"Ayo kita pulang! Aku ingin makan puding yang Itachi-san beli semalam."

"Sial jangan merangkulku bodoh!" Sasuke mencoba melepas rangkulan Naruto—dengan wajah yang memerah. Sedangkan Naruto hanya tertawa dan semakin erat merangkul Sasuke.

Deidara memanas. Benci. Ia benci pada Sasuke. Bagaimana bisa orang sombong sepertinya memiliki teman yang setia menemaninya. Deidara bertekad, ia akan membuat Sasuke hancur. Makhluk sombong sepertinya memang harus dihukum.

"Hei nak. Sepertinya kau sangat membenci anak raven itu?"

Deidara menoleh kebelakang ketika mendengar suara berat dari seorang pria. Disana, tepat dibawah pohon nan rindang itu berdirilah seorang pria bersurai panjang serta berkulit pucat seperti salju. Tatapannya dingin serta seringainya yang –agak— menakutkan membuat bulu kuduk Deidara bergidik ngeri.

"Siapa kau?" tanyanya serak. Pria itu berjalan mendekat, membuat Deidara tersentak dan melangkah mundur, mengambil ancang-ancang jikalau pria itu berbuat jahat padanya.

Pria itu terkekeh pelan.

"Aku ada dipihakmu, tenang saja. Ah, apa kau mau kuberi tahu rahasia terbesar milik Sasuke Uchiha hah?" tawarnya. Deidara berpikir sejenak. Sesungguhnya ia tertarik dengan tawaran laki-laki ini. Walau terlihat mencurigakan tapi pria berambut panjang itu terlihat meyakinkan.

"Apa rahasianya?"

Orochimaru menyeringai.

"Bagaimana kalau kita berbincang sebentar dicafe dekat halte, bagaimana? kau setuju?" tanpa berpikir lagi Deidara langsung menyetujuinya.

..

..

..

Sasuke menatap punggung lebar pemuda yang ada didepannya itu. Setelah membantunya keluar dari olokan Deidara, Naruto tak banyak mengeluarkan suara. Ia bahkan memilih untuk diam tanpa mau berbicara dengan Sasuke. Mereka terus berjalan seperti tak saling mengenal. Lagi-lagi seperti ini, padahal tadi Sasuke kira Naruto sudah mau berbicara dengannya lagi namun ternyata tidak.

Naruto tiba-tiba berhenti berjalan.

"Pulanglah duluan, ada yang harus kuselesaikan." Katanya dingin.

"Kau mau ke— hei Naruto!" panggil Sasuke, namun Naruto sudah berlari secepat kilat. Ia bahkan mengambil sebuah sepeda milik orang lain. Ada apa dengannya? Wajahnya terlihat ketakutan. Ada kilatan kekhawatiran pada bola mata safir itu. Ekspresi yang sama ketika ia menolong Sasuke saat Orochimaru masuk kerumahnya.

"Naruto, apa yang sedang kau sembunyikan dariku?"

..

..

..

"Jadi, bisa paman ceritakan apa rahasia yang dimiliki Sasuke?" tanya Deidara tanpa basa basi. Orochimaru menghirup aroma teh hijau dicangkir miliknya dan meminumnya dengan pelan. Ia menatap Deidara. Sepertinya Deidara benar-benar tertarik dengan tawarannya itu.

"Ia mengidap sindrom pinnochio."

"Si—Sindrom pinnochio? Apa itu?" tanya Deidara.

Orochimaru terkekeh. Tak disangka jika bocah –yang akan menjadi 'bidak caturnya'—ini begitu polos.

"Sindrom dimana pengidapnya tidak bisa berbohong. Jika mereka berbohong maka pengidapnya akan cegukan. Cegukan akan berhenti jika ia berkata jujur. Singkatnya seperti itu." Dalam setarik nafas, Orochimaru menjelaskan seadanya. Mulut Deidara terbuka lebar. Matanya membola, menatap pria pucat yang ada didepannya itu. Ia tak menyangka jika Sasuke si emo sombong itu memiliki penyakit aneh seperti itu.

"Sasuke menyimpan rahasia ini dengan sangat baik. Maka dari itu teman-temanmu tak ada yang tahu dengan penyakitnya. Ia memiliki pengalaman buruk ketika teman-temannya mengetahui penyakitnya itu."

"Maksudmu dulu ia pernah dibully?"

Sebuah anggukan menjadi jawaban dari Orochimaru. Ia melirik Deidara dan menyeringai. "Jadi kau tahu kan apa maksudku?" sebuah pertanyaan dilayangkan untuk Deidara. Deidara menatap mata Orochimaru dan terkekeh.

"Tentu saja." Jawabnya mantap. Bagus, bukankah ini adalah salah satu 'senjata' untuk menghancurkan si sombong Sasuke? Deidara jadi tak sabar melihat ekspresi manusia sombong itu saat rahasia terbesarnya disebar kesiswa lain.

"Aku memberikan rahasia itu padamu. Namun kau harus berjanji padaku."

"Apa itu?"

"Ketika Naruto bertanya padamu bilang padanya jika kau bertemu dengan pamanmu yang berasal dari desa, dan satu lagi jangan pernah berbicara dalam hati. Asal kau tahu Naruto bisa membaca pikiranmu. Maka dari itu kau harus berhati-hati." Deidara mengangguk. Ah jadi Naruto bisa melakukan hal itu. Pantas ia bisa menebak pikirannya tadi.

"Um! Aku mengerti."

"Baiklah selamat tinggal Deidara. Kuharap rencanamu berjalan mulus."

..

..

..

Naruto terus mengayuh sepeda merah itu. Tak peduli jika ia dianggap seorang pencuri. Yang lebih penting ia harus menyelamatkan Deidara. Entah kenapa ia punya firasat buruk yang akan terjadi.

"Deidara!" panggil Naruto saat melihat Deidara keluar dari sebuah cafe. Naruto melempar sepedanya asal dan menghampiri Deidara. Ia memegang pundak Deidara, memastikan tak ada luka ditubuhnya itu. Naruto sangat khawatir. Takut jika temannya menjadi korban kejahatan si busuk itu.

"A—Apa mau mu bodoh?!" protes Deidara yang merasa risih dengan tindakan Naruto.

"Kau bertemu siapa tadi?"

"Hah? Apa maksudmu? Itu tak ada kaitannya denganmu!"

'Dia ini kenapa sih? Aku hanya bertemu dengan pamanku. Memangnya salah?'

"Apa benar itu pamanmu?"

"Yeah, dia datang ke kota ini dan menanyakan keadaan orang tua— hei bagaimana kau tahu jika itu pamanku?!"

"Ah, itu err.. lupakan! Deidara dengarkan aku. Jangan pernah berbicara pada orang yang tidak kau kenal. Terutama pria berambut panjang yang kulitnya sangat pucat. Mengerti?!"

"Argh! Kau seperti ibuku saja! Minggir aku mau pulang!" Deidara menepis tangan Naruto kasar dan pergi meninggalkan Naruto. Sesekali ia menggerutu kesal karena Naruto bersikap sangat menyebalkan padanya. Naruto hanya memandang punggung Deidara yang semakin menjauh. Apa benar Deidara bertemu pamannya? Sebenarnya Naruto sedikit ragu, namun setelah membaca pikirannya, Naruto tak melihat kebohongan pada Deidara.

"Kenapa aku merasa jika esok akan ada sesuatu yang akan terjadi?" guman Naruto pelan. Ia menghela nafas dan menuntun sepeda yang tadi ia pakai. Sebaiknya Naruto harus memulangkan sepeda ini sebelum terjadi hal yang buruk.

Diujung jalan sana, Sasuke diam mematung. Sejak Naruto meninggalkannya sendirian, Sasuke langsung membuntutinya sampai akhirnya ia melihat Naruto bersama Deidara. Benaknya bertanya-tanya. Mengapa Naruto bertemu dengan Deidara? Apa yang mereka bicarakan?

"Apa yang sedang kau rencanakan, Naruto." Batinnya khawatir.

..

..

..

Hari telah berganti, dan seperti biasa Sasuke berangkat sekolah sendiri. Itachi bilang jika Naruto sudah berangkat duluan. Yeah, Sasuke tak heran jika itu terjadi.

Saat memasuki gerbang entah kenapa perasaan Sasuke tidak enak. Ia merasa jika siswa-siswa disana menatapnya aneh. Tatapan yang sama ketika ia duduk dibangku SD dan SMP. Buru-buru Sasuke menepis pikiran aneh itu, mungkin itu hanya halusinasinya saja.

Sasuke berjalan melewati lorong-lorong kelas. Kali ini ia mendengar bisikan-bisikan dari siswa disana.

"Oh jadi dia?"

"Wajahnya tampan, tapi tak kusangkah dia orang aneh."

"Aku penasaran dengan gosip itu."

Sasuke menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tidak, tidak mungkin jika mereka tahu sindrom Sasuke, iya kan? Sasuke sudah merahasiakan ini dari siapapun. Bisikan-bisikan itu mulai terdengar keras ditelinga Sasuke. Sasuke berlari. Menutup telinganya rapat-rapat agar ia tak mendengar bisikan-bisikan menyakitkan itu.

"Hahh.. hah.. hah.." nafasnya terengah-engah. Sasuke membuka pintu kelasnya, berharap jika disini ia tak akan mendengar bisikan itu.

Namun apa yang diharapkan Sasuke berbeda dengan kenyataan. Suasana disini jauh lebih parah. Semua teman-temannya menatapnya jijik. Tatapan itu. Tatapan yang sama dengan perlakuan teman-temannya saat tahu sindrom yang dimiliki Sasuke.

Jantung Sasuke berdegup kencang, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia merasa seperti seorang tikus yang dikelilingi kumpulan kucing yang siap menerkamnya kapan saja.

Tidak. Sasuke takut. Tolong, siapapun, bawa ia pergi dari sini.

"Wah si pinnochio sudah datang rupanya? Ahh benar, kami punya 'hadiah' untukmu.." mereka tersenyum sinis.

"Ka—Kalian.." tubuhnya menegang seketika. Matanya memanas saat melihat sebuah gambar yang menyerupai dirinya dengan hidung panjang seperti pinnochio. Jadi ini 'hadiah' yang diberikan oleh teman-temannya itu?

"Kenapa kau menyembunyikan hal ini dari kami, Sasuke?" ejek Deidara. Sasuke menatap Deidara dengan tajam. Sudah ia duga jika Deidaralah dalang dibalik semua ini.

"Hiiii! Mata yang sangat menakutkan. Harusnya kau jangan bertindak seperti itu pada temanmu."

"Dari mana.. Darimana kau tahu semua ini?!" bentak Sasuke, membuat teman-temannya bertepuk tangan –karena berhasil membuat Sasuke marah— dan semakin mengolok-oloknya.

"Eum.. haruskah ku katakan jika aku mendapatkan rahasiamu dari 'anjing setia' mu itu?"

"A—Apa?" kilatan dari mata Sasuke meredup. Hatinya mencelos tak menyangka dengan apa yang dikatakan Deidara. Naruto? Tapi bagaimana bisa? Kenapa ia melakukan hal itu? Ah, benar juga. Bukankah kemarin Sasuke melihat Naruto dan Deidara berbicara sesuatu. Jadi memang Naruto yang membeberkan rahasia Sasuke.

Sasuke tahu jika Naruto sedang menjauhinya, tapi mengapa Naruto menyebarkan rahasianya pada Deidara. Apa Naruto sangat benci padanya? Cih! Persetan dengan semua janji-janjinya. Naruto, kau memang bajingan!

"Jadi, apa benar jika kau mengidap sindrom ini hah?" pertanyaan Deidara semakin menyudutkan Sasuke. Sasuke benar-benar panik saat ini.

"Tidak! Itu semua—hik!" Sasuke menutup mulutnya rapat-rapat. Teman-teman sekelasnya terdiam saat mendengar cegukan kecil yang keluar dari mulut Sasuke. Ternyata apa yang dikatakan Deidara itu memang sebuah fakta. Ini benar-benar menakjubkan! Mereka bertepuk tangan seolah-olah baru saja melihat pertunjukan dari aksi sirkus.

"Tidak! Kalian salah! Aku ini hic! Ahh bukan kalian salah hic! Paham! Sungguh aku tidak menderita penyakit ini hic! Hic!" Sasuke terus cegukan sampai-sampai ia kesulitan bernapas. Wajah dan matanya bahkan memerah, menahan sesak.

"Kau dengar, dia cegukan!"

"Kupikir hidungnya akan memanjang."

"Astaga! Mengerikan, dia benar-benar aneh."

"Dia harusnya masuk sirkus dunia. Dia akan masuk kumpulan orang-orang aneh didunia ahahha."

"Ternyata Uchiha elit sepertinya memiliki penyakit yang aneh."

Cukup! Sasuke tak tahan lagi. Ini sama saja seperti dulu. Mereka menakutkan. Sasuke benar-benar takut.

"Hey! Pinnochio itu kabur!"

"Hahahahaha.."

Sasuke ingin pergi dari tempat ini.

..

..

..

"Hoaammm.." Naruto menguap dengan lebar. Ia melihat kedepan dan ternyata tak ada guru disana. Sepertinya kelas sejarah sudah berakhir saat ia tidur tadi. Naruto merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Walau ia tak suka tidur dikelas—dengan posisi meja sebagai bantal. Siapaun tolong katakan jika lehermu pegal saat tidur disana— ia tak punya pilihan lain. Memang akhir-akhir ini Naruto sulit tidur. Ia selalu terjaga saat malam hari, maka dari itu dia melampiaskan rasa kantuknya disekolah. Bersyukurlah Naruto karena ia duduk dibelakang. Jadi guru tak akan menyadarinya. Jika mereka tahu pasti sebuah pukulan menyakitkan akan mendarat dikepala Naruto.

Naruto menahan dagunya dengan tangannya. Menatap malas keluar jendela yang berada disampingnya. Banyak siswa yang sedang bercengkrama ataupun bermain dengan teman-temannya. Naruto menghela nafas berat.

"Kurasa aku terlalu berlebihan pada Sasuke."

Sejak hari dimana Naruto menceritakan masalalunya pada Sasuke, entah kenapa ia tak berani menatap Sasuke. Berbicarapun apalagi. Jantungnya berdetak sangat kencang, perasaan yang sama saat ia jatuh cinta pada Izuna. Karena saat itu sosok Sasuke begitu mirip dengan Izuna.

Kontur wajahnya, kulit putihnya, ah jangan lupakan surai hitam pekat serta tatapan tajam milik Sasuke. Itu benar-benar mengingatkannya pada Izuna. Tunggu, apa mungkin Naruto menyukai Sasuke?

"Ughhhh.." Naruto menutup wajahnya yang memerah.

"Kau kenapa? Seperti gadis yang sedang jatuh cinta saja." Kiba melemparkan sebuah roti yakisoba pada Naruto. Naruto memukul kepala kiba dengan roti yakisoba itu. Tapi sebelumnya ia mengucapkan terimakasih atas hadiah dari teman seperjuangannya itu.

"Kurasa aku terlalu berlebihan pada Sasuke. Maksudku aku tak pernah berbicara ataupun menyapanya selama beberapa hari ini."

"Kau bertengkar denganya?"

"Err.. bukan bertengkar. Hanya saja aku terlalu menjaga jarak dengannya."

"Minta maaf padanya."

"Itu tak semudah yang kau kira bodoh."

Naruto membuka plastik pembungkus roti itu dan memakannya.

"Ahh ngomong-ngomong tentang temanmu itu. Sepertinya ada gosip yang tersebar tentangnya."

"Gosip jika aku ini anjing pengawalnya?" Naruto terkekeh pelan.

"Bukan, gosip jika ia mengidap sindrom pinnochio."

...

...

...

Naruto berlari melewati lorong-lorong sekolah. Entah sudah berapa kali ia menabrak siswa-siswa tak bersalah yang ada dilorong itu. Tak heran jika Naruto selalu mendapat cibiran dan omelan dari siswa-siswa yang terganggu dengan ulahnya itu. Naruto terus berlari, mencari Sasuke yang saat ini tidak diketahui keberadaannya.

"Semua siswa telah mengetahuinya. Sasuke mengidap sindrom pinnochio kan? Awalnya aku sempat kaget, namun ternyata itu semua benar setelah aku mendengar kesaksian dari teman sekelasnya. Benar-benar orang yang aneh."

Ternyata firasat buruk yang Naruto rasakan itu benar terjadi adanya. Pasti Sasuke akan salah paham padanya. Kemarin ia melihat Sasuke diseberang jalan. Naruto bahkan bisa mendengar 'suara' kegelisahan dalam hati Sasuke. Tapi dengan bodohnya, Naruto bertindak seolah tak terjadi apa-apa.

"Hei Naruto! Pergi mencari si pinnochio ya?" tanya Deidara. Tanpa sadar Naruto menarik kerah baju Deidara. Matanya menatap tajam laki-laki yang ada dihadapannya itu.

"Dimana Sasuke?!"

"Aku tidak tahu, sejak jam pelajaran pertama ia sudah menghilang." Deidara mengangkat bahunya seolah tak peduli.

"Brengsek!" Naruto mendorong Deidara hingga ia terjatuh ke lantai. Menyebabkan keributan kecil dilorong-lorong gedung ini. Tahan. Naruto kau harus menahan amarahmu. Sebenanrnya ingin sekali Naruto memukul wajahnya yang menyebalkan itu. Naruto yakin Deidara-lah pelaku penyebaran gosip itu. Naruto sudah menduga jika Deidara bukan bertemu dengan pamannya, melainkan bertemu dengan Orochimaru.

"Aku harus menemukan Sasuke terlebih dahulu. Aku harus menjelaskan jika ini semua salah paham."

Naruto memejamkan matanya, memfokuskan pendengarannya untuk mendengar suara hati milik Sasuke. Ia harap bisa mendengarnya walau tersamarkan dengan suara hati milik orang lain. Tak jarang Naruto memegang kepalanya yang terasa sakit ketika mendengar 'suara-suara' yang berlebihan itu.

"Aniki.. tolong aku."

"Atap sekolah!" buru-buru ia lari seperti orang kesetanan. Menaiki tangga menuju atap sekolah. Dan membuka pintu pembatas itu. Matanya menerawang sekitar. Kosong tak ada siapapun disana. Hanya ada hamparan langit biru dengan awan tipis diatas sana.

"Sasuke! Apa kau ada—"

Bugh! Dengan cepat Sasuke memukul rahang Naruto dengan keras hingga Naruto jatuh tersungkur ketanah.

"Sasuke tunggu—"

"Aku tak perlu mendengar penjelasanmu, brengsek!" Sasuke menindih tubuh Naruto, menarik kerahnya dan berteriak lantang didepan wajah Naruto. Naruto terdiam saat melihat wajah Sasuke yang benar-benar kacau. Kekecewaan, amarah, kesedihan, dan ketakutan bisa dilihat dari raut wajah Sasuke saat ini. Naruto rasa ia sudah terlambat. Ah, baru pertama kali Naruto melihat Sasuke sekacau ini.

Sasuke terus memukuli wajah dan tubuh Naruto. Melepaskan semua amarahnya pada Naruto. Sedangkan Naruto hanya diam, tak membalas pukulan yang dilayangkan bertubi-tubi oleh Sasuke. Sasuke tak habis pikir mengapa Naruto tega melakukan hal seperti itu. Padahal Sasuke sudah percaya jika Naruto tak akan menyebarkan rahasianya. Seharusnya Sasuke tidak pernah berteman dengan Naruto. Seharusnya Sasuke tidak pernah bertemu dengan Naruto. Pasti kejadian ini tak akan terjadi. Sasuke benar-benar seperti orang bodoh.

Pukulan Sasuke mulai melemah. Pertanda jika tenaganya mulai habis. Ia kelelahan, bahkan untuk memukul wajah Naruto pun ia tak sanggup lagi. Sasuke merebahkan tubuhnya disamping Naruto, menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Peluh membanjiri kulit pucat mulik pemuda Uchiha tersebut. Nafasnya tak beraturan, pertanda ia sangat kelelahan. Naruto tahu itu.

Semenit kemudian Naruto bisa mendengar isak tangis yang keluar dari mulut Sasuke. Ingin sekali ia memeluk Sasuke namun tubuhnya terasa sangat sakit. Naruto tak menyangka jika pukulan Sasuke sekuat ini.

"Aniki.. aku takut.. Ibu.. tolong aku.." lirihnya ketakutan yang mampu membuat hati Naruto mencelos. Semuanya sudah terlambat. Menjelaskannya pada Sasuke pun Naruto yakin tak akan berhasil. Dilihat dari manapun juga pasti sudah jelas jika Narutolah yang menyebarkan rahasia itu pada Deidara, walaupun Naruto tak melakukan hal itu.

"Maaf." Hanya itu yang bisa diucapkan Naruto.

"Diam kau brengsek! Aku membencimu! Jangan pernah tunjukan mukamu lagi dihadapanku!" itu kata terakhir yang diucapkan Sasuke sebelum ia pergi meninggalkan Naruto. Naruto meludahkan darah yang ada dimulutnya. Wajahnya benar-benar babak belur, bisa ia rasakan jika tulang hidungnya patah.

"Ini tidak seberapa. Hati Sasuke lebih terluka dari pada ini."

Sepertinya kini ororchimaru telah maju 'dua langkah' didepan Naruto. Naruto bahkan sudah menebak siapa yang akan menjadi pemenangnya. Orang yang menjadi 'tenaga' bagi Naruto kini membencinya. Bisa dikatakan permainan Naruto akan berakhir.

Dengan mata sayunya, Naruto menatap langit biru yang ada dihadapannya.

"Game over ya?" lirihnya pada udara hampa.

TBC

a/n:

Haiii! Oe balik lagi bawa ff ini. Gila, pas liat terakhir publis ini ff ternyata setahun lalu. Wkwkwk gak nyangka udah 1 tahun gak dilanjut. Oh ya, ini ff persembahan buat ultah Sasuke . Udah telat banget sih tapi seenggaknya punya hadiahlah buat uke kesayangan oe. Udah lah gini aja, moga-moga oe gak males ngalnjutin ini ff ya.

Btw oe sebisa mungkin gak bakal sama kaya dramanya. Awalaupun ada beberapa scene yang menurut oe perlu dimasukin.

Akhir kaya, Jya! Mata ne~