Disclaimer: NCT (c) SM Entertainment


Masquerade

Jung Jaehyun x Kim Doyoung

4

L3KT (JeonNoona)


"Kemana dia?"

Doyoung menatap keseberang jalan. Tidak ada mobil mewah yang sebelumnya parkir disana. Jaehyun sudah pergi, batinnya. Sedikit merasa kecewa.

"Ehh.. Kenapa aku merasa seperti itu?" Doyoung segera menggelengkan kepalanya. Dia membuang tatapan ke arah lain, ke sebuah taman yang sepi dan gelap.

"Apa yang kau lihat?"

Doyoung meloncat kaget mendengar suara yang sangat dekat di telinganya itu. Dengan cepat Doyoung menoleh dan menatap tajam seorang pria Jepang yang menatapnya penasaran.

"Jangan jadi kebiasaan mengagetkan orang lain, Yuta!" Omel Doyoung.

Yuta mencebikkan bibirnya, ia melipat tangan di depan dada,"Tapi kau juga tidak perlu mengomeliku dengan suara tinggi seperti itu!" Yuta balik mengomel lalu pergi masuk ke dalam kafe.

Doyoung mengedikkan bahu kemudian ikut masuk ke dalam Kafe. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Walaupun sebenarnya dalam hati ia bertanya-tanya apa yang membuat pria sesibuk Jaehyun mau-maunya berdiri didepan mobilnya sendiri sambil menatap ke kafe kecil tempatnya bekerja.

.

.

Jika tidak salah hitung, kira-kira sekitar empat jam yang lalu Doyoung melihat Jaehyun berdiri di depan mobil mahalnya yang selalu menyita perhatian para pejalan kaki.

Sekarang, pria itu kembali terlihat didepan kafe dengan tatapan lurus menatap pada Doyoung. Jaehyun tersenyum padanya, berjalan menyeberangi jalan menuju tempat Doyoung berdiri terpaku memandangi sosok tampan Jaehyun.

"Halo," sapa Jaehyun ketika pria itu berdiri di hadapan Doyoung kurang dari satu meter.

"Y-ya, halo," balas Doyoung agak canggung. Dia kebingungan bahkan hanya untuk membalas sapaan Jaehyun.

"Sepertinya kau sudah selesai bekerja." Mata Jaehyun menatap lekat wajah Doyoung, menelusuri wajah itu tanpa terlewat sedikitpun.

"Oh maaf. Kafe kami sudah tutup. Kau bisa datang lagi besok," sahut Doyoung.

Jaehyun menggelengkan kepala. "Aku ke sini bukan untuk itu," Jaehyun berkata dengan suara rendah. Mata Jaehyun tidak luput melihat gerakan gelisah yang tanpa sadar dilakukan Doyoung.

"Tapi aku ke sini untuk bertemu denganmu, Doyoung," lanjutnya sambil menghapus jarak mereka dengan satu langkah kecil.

"Apa?" Tanya Doyoung, tidak mengerti. Doyoung tidak mendengar apa yang dikatakan Jaehyun, karena pada saat Jaehyun berbicara suara ribut angin berhembus membuat perhatiannya teralihkan.

"Sepertinya akan ada badai malam ini." Jaehyun memandang langit diatasnya dengan ekspresi tak terbaca.

Doyoung menatap ke arah langit ketika dia hampir ketahuan mengamati wajah tampan Jaehyun.

"Y-ya, k-kurasa begitu. S-sebaiknya kita harus segera pul-maksudku pulang kerumah kita masing-masing." Doyoung mengumpat tanpa suara sesaat setelah ia mengoreksi ucapannya sendiri. Doyoung menunduk, terlalu malu bersitatap dengan Jaehyun.

"Kau benar, ayo kita pulang," kata Jaehyun seraya berjalan mendekati Doyoung. Jaehyun menyentuh lengan Doyoung namun segera ditepis Doyoung karena kaget.

Doyoung mendongak, menoleh ke kiri menatap Jaehyun dengan mata membulat lucu.

"A-apa maksudmu Jaehyun?" Tanya Doyoung terbata.

"Aku akan mengantarmu pulang," jawab Jaehyun.

Doyoung bergeser ke kanan, memberi jarak di antara mereka. "Aku bisa naik bus. Lagipula, hujan akan segera turun, kau akan kehujanan jika mengantarku pulang," ujar Doyoung, ia berusaha menolak ajakan Jaehyun sehalus mungkin agar pria itu tidak tersinggung.

Tapi sepertinya Jaehyun tetap bersikeras untuk mengantarkan Doyoung pulang ke apartemennya.

"Aku menggunakan mobil, aku tidak akan kehujanan," kata Jaehyun dengan senyum kemenangan di wajahnya tatkala melihat Doyoung tidak bisa berkata-kata.

'Sial! Aku lupa dia kesini menggunakan mobil.'

"Jadi, bagaimana? Kau mau kan Doyoung?"

Doyoung tidak memiliki alasan lain untuk menolak ajakan Jaehyun. Otak Doyoung tidak bisa diajak berpikir. Akhirnya, dengan setengah hati Doyoung menerima ajakan Jaehyun pulang bersama.

"Kau tunggu di sini, aku harus mengambil sesuatu di dalam."

"Jangan terlalu lama, aku tidak terlalu suka menunggu," sahut Jaehyun.

Doyoung menganggukkan kepalanya. Tubuhnya berputar ke belakang, ia mendesah panjang dan di dalam hati berharap kalau teman satu apartemennya tidak sedang ada di apartemen.

"Semoga saja Ten tidak ada di apartemen. Jika bisa sampai besok," gumam Doyoung seraya berjalan masuk ke dalam kafe, dari bahunya ia melihat Jaehyun tersenyum sambil menatap ke arahnya.

.

.

*aku tidak bisa pulang malam ini. Si Johnny sialan itu menambah pekerjaanku. Aku terpaksa lembur. Mungkin aku akan bermalam dikantor.* dikirim pukul 09.45 PM.

Doyoung membaca sederet pesan yang dikirim Ten sambil tersenyum-senyum. Ingin rasanya Doyoung mencium Ten saat ini juga tapi karena mereka sedang berada ditempat berbeda, jadi yaa tidak jadi.

"Kenapa kau senyum-senyum?" Suara berat dari sampingnya menyadarkan Doyoung bahwa dia tidak sendiri di mobil itu melainkan bersama Jaehyun yang sedang menyetir di tengah hujan lebat.

Doyoung terlalu senang karena Ten tidak ada di apartemen hingga melupakan Jaehyun yang ada bersamanya.

"Aku baru saja mendapat kabar baik," ucapnya, senyum senang terpatri diwajah Doyoung.

Jaehyun melirik sekilas Doyoung. "Boleh aku tahu kabar apa itu?" Tanya Jaehyun, kembali menatap kedepan.

Doyoung menoleh ke samping, dia menggeleng dengan imut. Perlu kalian tahu, Doyoung tidak sadar sedang melakukan hal imut.

"Itu rahasia hehehe." Kemudian kembali menatap ke depan. Doyoung bersenandung kecil, kilatan dari luar jendela tak dihiraukannya. Suara petir menyusul kemudian, sedikit kaget ketika mendengarnya tapi senandung lagu dari belah bibir Doyoung tak berhenti.

"Belok kiri, setelah itu lurus saja," kata Doyoung memberi arahan pada Jaehyun. Jaehyun segera memutar stirnya untuk berbelok. Doyoung menatap takjub pada Jaehyun yang sangat gampang mengendalikan mobilnya ditengah hujan deras.

Doyoung memejamkan mata saat suara petir lagi-lagi berbunyi. Dia barusan melihat kilatan jauh didepan sana. Pemuda itu membayangkan seandainya dialah yang menjadi sasaran sambaran kilatan petir itu, apakah dia masih bisa hidup? Atau mati dengan tubuh hangus terbakar. Oke cukup. Itu bukan hal penting untuk dipikirkan.

Ketika mengarakan pandangan ke luar jendela, dia melihat jalanan tampak gelap. Mobil Jaehyun melaju dengan kecepatan sedang. Intensitas kecelakaan meningkat jika saat hujan lebat seperti sekarang. Doyoung sudah mewanti-wanti Jaehyun untuk melajukan mobilnya lambat-lambat saja.

Hujan sepertinya akan lama berhenti, batin Doyoung terus menatap ke luar jendela. Dia membaca berita di handphonenya kalau badai memang akan terjadi malam ini. Oke, lebih singkatnya Doyoung sedang mengkhawatirkan Jaehyun. Badai mungkin terjadi sekitar tengah malam, sekarang sudah lewat dari setengah dua belas. Apakah dia harus menahan Jaehyun di apartemennya dulu sampai hujan reda? Atau setidaknya sampai mereka memastikan badai akan benar-benar terjadi malam ini atau tidak. Doyoung tentu masih punya hati, tidak membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Jaehyun.

"Aku merasa seperti sendiri didalam mobil," ucap Jaehyun. Kilat menyambar jauh di samping mobil.

"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Doyoung. Dia menarik diri dari jendela dan menatap pada Jaehyun.

"Tidak," sahut Jaehyun, senyum tersampir diwajahnya. Doyoung menunduk, wajahnya merona melihat senyum dengan dimple di pipi Jaehyun.

"Apa kita sudah dekat dengan apartemenmu?" Tanya Jaehyun tanpa melihat Doyoung. Doyoung melongokan kepala kedepan, matanya memicing, berusaha melihat di antara guyuran hujan lebat.

"Ya, kau lihat gedung itu." Doyoung menunjuk sebuah gedung yang perlahan-lahan mulai terlihat seiring mobil Jaehyun yang makin mendekat ke sana,"..itu apartemenku," lanjutnya.

"Apa kau tinggal sendiri disana?" Tanya Jaehyun, kali ini dia melirik Doyoung.

Satu tangan masuk ke dalam saku jaketnya, ia mengusap benda persegi nan dingin di dalam sana."Aku tinggal bersama temanku. Aku bukan orang yang cukup mampu menyewa apartemen seorang diri. Kau tahu, hidup di kota itu sangat menyulitkan. Semuanya serba mahal." Doyoung mengeluarkan tangannya dari saku jaket, ia mendengus sebal. Menatap bosan ke jendela.

"Aku harus melakukan dua pekerjaan sekaligus untuk membiayai hidupku disini. Tidak mudah melakukannya, tapi ya tetap harus dilakukan." Doyoung terus melanjutkan keluh-kesahnya tentang tinggal di kota besar yang penuh dengan kesenjangan sosial. Tidak ada keadilan bagi orang miskin. Dan bagi mereka yang kaya keadilan bisa dibeli.

"Jika kau mau, di perusahaanku masih ada tempat kosong yang bisa kau tempati-"

"Ah itu dia! Berhenti berhenti disana Jaehyun. Kita sudah sampai." Doyoung berteriak heboh, menunjuk-nunjuk gedung berukuran sedang didepan sana. Jaehyun memelankan laju mobilnya, ketika sampai di depan apartemen dia menghentikan mobilnya.

Doyoung tidak langsung turun dari mobil. Dia tetap duduk seolah sedang melamun.

Jaehyun melepas seatbeltnya, dia menatap heran Doyoung yang tidak juga bergerak dari tempatnya.

"Doyoung-ssi?" Panggil Jaehyun. Doyoung tak bergeming, masih diam seperti patung padahal beberapa saat lalu dia berteriak heboh pada Jaehyun.

Jaehyun memiringkan tubuhnya, menatap wajah samping Doyoung. Tangan Jaehyun memegang kuat stir mobil, menahan tangannya sendiri yang memiliki keinginan untuk menyentuh wajah Doyoung.

"Doyoung-ssi kau bisa mendengarku?"

Doyoung terlonjak kaget saat merasakan tepukan ditangannya. Dia menoleh patah-patah kearah Jaehyun.

"Y-ya?" Tanya Doyoung dengan alis tertaut. Hujan deras membuat suaranya teredam. Petir terus saja berbunyi dengan awalan kilat yang mengerikan.

"Kau tidak keluar?" Tanya Jaehyun, menatap heran Doyoung. Doyoung mengusap tengkuknya, menggigiti bibir bawahnya dengan gugup.

"I-iya k-keluar. A-aku akan-"

"Doyoung-ssi.."Doyoung menghentikan usapannya di tengkuk, namun bibirnya tetap ia gigit.

"Bisa kau berhenti menggigit bibirmu seperti itu."

"Huh?"

Doyoung menelengkan kepalanya, menatap Jaehyun bingung. Ucapan Jaehyun sebelumnya bukanlah permintaan melainkan sebuah perintah. Dan Doyoung tidak tahu kenapa dia malah menuruti perintah Jaehyun. Doyoung menutupi mulutnya dengan punggung tangan kanannya.

"Lupakan saja," ucap Jaehyun tiba-tiba, pria itu memasang kembali seatbeltnya. Wajahnya mendadak mengeras, pandangan lurus kedepan.

Doyoung merasakan suasana di sekitarnya berubah. Apa dia telah membuat kesalahan? Apa Jaehyun marah? Kenapa wajahnya seperti menahan kesal?

"Eumm.. Ano Jaehyun.." Doyoung menggigiti bibir bawahnya lagi. Sedang berpikir bagaimana caranya mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan.

"Ada yang ingin kau katakan Doyoung-ssi?"Tanya Jaehyun.

Doyoung mendongak, "bisa kau memanggilku dengan Doyoung saja?"

Jaehyun meliriknya, mata pria itu jatuh pada sepasang bibir Doyoung yang basah. "Baiklah Doyoung. Apalagi?"

"Apalagi? Maksudmu?"

"Wajahmu mengatakan jika kau memiliki sesuatu yang ingin dikatakan padaku."

Oke! Doyoung. Kau baru saja melemparkan pertanyaan bodoh. Dan nada suara Jaehyun yang terdengar sarkastis padamu membenarkan itu.

"Ohh itu.." Mulailah kegugupan Doyoung. Dia melihat ke sana ke mari, berusaha menghindari tatapan mata tajam Jaehyun. Suara petir seolah tidak terdengar, kebisuan di dalam mobil itu membuat Doyoung lebih memilih terperangkap di ruangan dengan Johnny yang memarahinya karena artikel yang dibuatnya belum juga selesai padahal deadline satu jam lagi ketimbang bersama Jaehyun yang setiap kali menatap matanya menimbulkan letupan aneh di dada Doyoung.

"Hujan sepertinya akan lama berhenti," Doyoung memulai, "sangat berbahaya melakukan perjalanan saat ini walaupun menggunakan mobil. Dan juga, sebentar lagi sepertinya akan terjadi badai, mungkin beberapa belas menit lagi."

"Kau mengekhawatirkanku Doyoung?" Ekspresi tak percaya sekilas terlihat di wajah Jaehyun sebelum berganti dengan senyuman lembut yang membuat siapapun terpesona melihatnya tak terkecuali Doyoung.

"Y-ya, aku khawatir," sahut Doyoung, ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang ia yakini memerah. Ya Tuhan! Kenapa dirinya bertingkah seperti anak gadis yang sedang berhadapan dengan pemuda yang disukainya. Tidak! Doyoung bukan gadis. Dan dia tidak menyukai Jaehyun. Bahkan tidak sedikit pun merasa tertarik pada Jaehyun.

'Kau pembohong yang sangat payah Kim Dongyoung'

Doyoung pura-pura tidak mendengar suara imajiner dalam kepalanya.

'Sangat sangat payah bahkan lebih payah dari Ten'

'Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan!'Doyoung merasa konyol berbicara dengan pikirannya sendiri. Tapi memang benar kalau dia payah dalam urusan berbohong.

"...kau melamun lagi."

Suara Jaehyun menghentikan suara dikepalanya untuk melempar balasan. Doyoung mengusap telapak tangannya yang basah.

"Jadi, aku menawarkanmu u-untuk mampir d-ditempatku, menunggu di apartemenku sampai hujan reda. T-tapi itupun jika kau mau, a-aku tidak-"

"Tentu saja aku mau," sahut Jaehyun memotong cepat ucapan Doyoung yang belum selesai.

Doyoung menatap tidak percaya pada Jaehyun,"k-kau mau?" Tanya Doyoung. Jaehyun mengangguk dengan senyum senang di wajahnya.

"Aku tidak ada alasan untuk menolak. Lagipula, sekarang masih hujan, jika aku memaksakan diri berkendara maka kecelakaan mungkin saja terjadi."

Doyoung mengangguk mengiyakan. Mengambil posisi duduk paling nyaman di kursi penumpang yang bersisian dengan kursi pengemudi. Jaehyun menyalakan mesin mobilnya lagi, kemudian melajukan mobilnya menuju parkiran gedung apartemen Doyoung.

.

.

Di dalam lift hanya diisi kesunyian. Jaehyun berdiri selangkah di belakang Doyoung sementara pria itu di sisi kanannya sedang asik membalas pesan berisi curhatan Ten tentang betapa cerewetnya Johnny. Ten juga mengatakan kalau kantor terlihat sangat mengerikan saat kilat menyambar dan membuat seluruh ruangan terang dalam sekejap.

Ting

Lift terbuka. Doyoung mendongak, memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket sambil berjalan keluar.

Jaehyun mengikuti di belakang, mata lelaki itu mengamati sekitarnya sebelum menjatuhkan pandangan pada punggung Doyoung. Tangannya tergenggam erat disisi tubuh, pikiran tentang tangannya yang merengkuh bahu Doyoung hampir membuat Jaehyun gila.

"Kita sampai!" Seru Doyoung. Pikiran Jaehyun segera teralihkan. Pandangannya teralih pada pintu berwarna pastel itu.

"Aku bersyukur sebelum kerja di kafe sempat pulang dulu membersihkan apartemen." Jaehyun mengamati gerakan bibir Doyoung ketika mengucapkan kalimat tadi. Pemuda itu bermonolog sendiri. Dia bukan berbicara dengan Jaehyun.

Cklek

Suara pintu terbuka. Doyoung membuka lebar pintu apartemennya. Dia menatap Jaehyun yang hanya berdiri didepan pintu.

"Ayo masuk, di luar dingin." Dan Jaehyun tidak bisa untuk tidak membalas senyuman hangat yang terpatri di wajah Doyoung. Entah ini bisa disebut keberuntungan atau bukan, hari ini Doyoung banyak tersenyum padanya dan Jaehyun menyukai senyum Doyoung.

Satu langkah Jaehyun masuk ke dalam apartemen. Suara indah Doyoung mengalun dekat di samping telinganya.

"Selamat datang di kediaman Ten dan Doyoung. Anggap saja rumah sendiri."

.

.

Doyoung menutup pintu apartemennya setelah Jaehyun masuk, tidak lupa ia mengunci pintu.

"Kau bisa meletakkan sepatumu disana." Doyoung menunjuk rak yang ada didekat dinding. Jaehyun menoleh padanya dan mengangguk, ia pun meletakkan sepatunya di rak.

Doyoung berjalan lebih dulu memasuki ruangan, diikuti Jaehyun yang berjalan hati-hati karena ruangan itu lampunya belum dinyalakan.

Jaehyun tidak tahu di mana posisi Doyoung berada tapi saat tiba-tiba ruangan tempatnya berdiri berubah menjadi terang, ia melihat Doyoung berjalan dari dinding di sudut ruangan dekat sebuah meja kecil.

"Kau bisa duduk dimanapun," kata Doyoung. "Maaf jika tempat tinggalku kecil dan membuatmu kurang nyaman." Doyoung memungut sebuah majalah di lantai dan meletakkannya di laci meja tepat di depan sofa panjang yang ada di ruangan itu.

Doyoung melirik Jaehyun yang masih berdiri ditempatnya.

"Ada apa?" Tanya Doyoung. Jaehyun mengedipkan matanya, menatap Doyoung sambil menggelengkan kepala. "Tidak ada," jawabnya seraya berjalan menuju sofa yang sering dijadikan Ten tempat tidur kedua ketika ia sedang disibukkan dengan semua artikelnya.

Doyoung mengedikkan bahu, dia melepas jaket yang ia pakai dan menggantungnya ke sebuah gantungan di sudut ruangan. Sekarang hanya tersisa sebuah kaos putih berlengan panjang yang menjadi satu-satunya kain yang menutupi bagian atas tubuh Doyoung. Doyoung menarik kedua lengan bajunya sampai siku. Pria itu tidak menyadari kalau sedari tadi Jaehyun mengamatinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Kulit putih leher Doyoung terekpos jelas, bagian tulang selangkanya sedikit terlihat. Dan kemudian, tiba-tiba saja Doyoung terdiam dengan jantung yang berdegup kencang.

"Aku haus, minuman apa yang kau punya?"

Suara Jaehyun ada tepat disamping telinganya, napas hangat Jaehyun berhembus menyentuh kulit belakang leher Doyoung. Doyoung menurunkan kedua tangannya ke sisi tubuh, menoleh lambat kesamping, mata Doyoung bertemu pandang dengan mata Jaehyun.

"K-k-kau haus?" Tanya Doyoung. Jaehyun menganggukkan kepala tanpa suara. Wajahnya terlihat biasa saja padahal jarak antara dia dan Doyoung sangat dekat, selangkah kecil lagi punggung Doyoung akan bersentuhan dengan dada bidang Jaehyun.

"Kopi?" Doyoung memutar kepalanya ke depan, napasnya hampir habis jika saja Jaehyun tetap mempertahankan posisinya di belakang tubuh Doyoung.

Dari sudut matanya, dia melihat Jaehyun menggelengkan kepala.

"Aku ingin cokelat panas," kata Jaehyun. "Apa ada?"

Doyoung menunduk, surainya bergerak ketika dia mengangguk. "Ya, ada," jawabnya. "Aku akan membuatkannya. Kau duduklah disana lagi."

"Aku ingin ikut denganmu," sahut Jaehyun lagi. Doyoung mengangkat kepalanya, alisnya menyatu erat, memandang bingung pada Jaehyun.

"Aku ikut denganmu ke dapur." Jaehyun memperjelas ucapannya.

"Oh, oke." Sahut Doyoung. Dia pun berjalan menuju dapur dan untuk ketiga kalinya Jaehyun mengikuti Doyoung di belakang, menatap punggung Doyoung tanpa berkedip.

Tidak butuh waktu lama untuk membuat secangkir cokelat panas dan secangkir teh hijau. Doyoung meletakkan dua gelas itu di atas nampan yang sudah terdapat satu toples cookies cokelat, kemudian membawa nampan hitam itu ke meja makan di mana Jaehyun duduk sambil sibuk dengan hanphonenya.

Mata Doyoung menatap jas hitam mahal Jaehyun yang tersampir di kursi kosong di samping pria itu. Kemudian mata Doyoung beralih pada si pemilik jas. Doyoung mengedip-ngedipkan matanya melihat lengan berotot Jaehyun di balik kemeja putih yang ia kenakan. Cepat-cepat dia menatap ke arah lain, sebelum si empunya sadar sedang dipandangi.

Jaehyun mendongak dari layar ponselnya saat mencium bau harum cokelat. Dia menatap tangan yang mengulurkan secangkir hot chocolate padanya. Jaehyun meletakkan ponsel di meja dan menyambut hot chocolate yang diberikan Doyoung.

"Sepertinya ini enak." Jaehyun memegang cangkir berisi cokelat itu dengan kedua tangannya, menghirup aroma manis yang menguar.

Di seberang meja. Doyoung mati-matian menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan mengangkat tinggi gelas ditangannya. Doyoung entah kenapa merasa senang mendengar cokelat buatannya dipuji oleh Jaehyun.

Doyoung terus menatap Jaehyun, menunggu reaksi pria itu setelah meminum cokelat buatannya. Samar-samar Doyoung mendengar suara ribut hujan diluar sana. Ah! Sepertinya badai memang sedang terjadi. Lalu, bagaimana dengan Jaehyun? Bagaimana pria itu pulang? Waktu sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Seandainya Jaehyun pulang sekitar dua atau tiga jam lagi atau setelah badai reda, apa itu tidak terlalu kemalaman? Seingat Doyoung, daerah tempatnya tinggal juga cukup berbahaya, jika sudah memasuki lewat jam satu malam. Preman dan anak gangster sering berkeliaran di sekitar wilayah apartemen.

Apa Doyoung harus meminta Jaehyun menginap di apartemennya?

'Tidak tidak tidak!'

Doyoung cepat-cepat menggeleng, menolak keras opini yang muncul di pikirannya. Lagipula, tidak ada kamar kosong yang bisa ditempati Jaehyun. Mustahil Doyoung meminta Jaehyun tidur di kamar Ten. Pria Thailand itu overprotektif sekali terhadap kamarnya. Ten melarang siapapun memasuki kamarnya tanpa izin darinya. Dan juga kamar Ten sedang terkunci. Tidak ada cara membuka pintu kamar itu selain didobrak.

Doyoung membuang nafas lelah, matanya terpejam menghirup harum teh hijau kesukaannya. Masa dia harus menyuruh Jaehyun tidur di sofa ruang tamu? Tidakkah itu terdengar seolah Doyoung kurang menghormati tamunya. Bagaimana jika Doyoung yang tidur di sofa dan Jaehyun tidur dikamarnya? Ohh! Ide yang bagus! Tak apa untuk semalam saja Doyoung tidur di sofa. Sekali-kali menjadi Ten yang hampir setiap malam tidur di sofa karena terlalu malas berjalan menuju kamarnya.

"Eumm.. Jaehyun," panggil Doyoung, ia menurunkan cangkirnya dari depan wajah. Menunggu pria tampan itu meresponnya.

"Ya, kenapa?" balas Jaehyun, menatap lembut pada Doyoung. "Aku hampir mengira kau patung karena tidak bergerak daritadi." Sebuah tawa kecil keluar dari belah bibir Jaehyun.

Wajah Doyoung merona malu, dia diam-diam merutuk pada dirinya sendiri. Kenapa dia selalu kepergok melamun oleh Jaehyun. Hari ini Doyoung terlalu sering mela-

"Hei jangan melamun," ucap Jaehyun lagi. "Sesuatu bisa saja merasuki tubuhmu jika kau melamun lagi," lLanjutnya dengan nada bercanda.

"Aku tidak melamun!" Seru Doyoung, menyangkal tuduhan Jaehyun.

"Benarkah?" Tanya Jaehyun dengan sebelah alis terangkat. "Aku sudah beberapa kali melihatmu melamun hari ini," sambungnya dengan senyuman jahil.

Bibir Doyoung menekuk ke bawah, ekspresi cemberut tampil di wajahnya. Doyoung membuang muka ke arah lain. Dengan sedikit kesal dia meraih toples cookies yang tak tersentuh itu. Membuka penutupnya, mencomot satu cookies dan memakannya langsung. Remahan cookies yang dikunyah Doyoung berjatuhan ke meja. Jaehyun tersenyum geli melihat tingkah lucu pria di depannya itu. Doyoung terus melahap cookies di dalam toples, dua, tiga, sampai enam cookies habis dimakannya hingga menyisakan setengah ruang kosong di dalam toples barulah Doyoung berhenti dan mendesah lelah. Saat sedang kesal, mood makan Doyoung bertambah, jika saja rahangnya tidak lelah mengunyah maka cookies di dalam toples itu bisa habis dimakan Doyoung. Doyoung membersihkan remahan cookies di sekitar bibirnya dengan tisu yang ia ambil dari kotak tisu di tengah meja. Sama sekali tidak sadar kalau Jaehyun menahan tawa melihat tingkahnya.

"Kau lucu," suara Jaehyun.

Mata Doyoung bergerak menatap Jaehyun. Lingkaran mata Doyoung membesar dalam hitungan setengah detik sebelum mengecil lagi bersamaan dengan munculnya rona merah di kedua sisi pipinya.

Ya Tuhan! Doyoung baru saja menghancurkan imagenya sendiri di hadapan Jaehyun.

"Saat kesal kau seperti anak kecil," ujar Jaehyun dengan kekehannya. "Aku jadi ingin tahu sebenarnya usiamu itu berapa Doyoung? Kenapa kau lebih mirip anak kecil ketimbang orang dewasa."

"Usiaku 28 tahun. Perlu kau tahu, aku bukan anak kecil," sahut doyoung kesal. Dia membuang muka ke arah lain, malas melihat wajah Jaehyun. Lebih tepatnya, dia sedang menyelamatkan diri dari rasa malu lainnya.

"Kau lebih tua setahun dariku? Sungguh?" Tanya Jaehyun tidak percaya.

Doyoung memutar matanya, "apa aku harus memperlihatkan kartu identitasku agar kau percaya, Jaehyun-ssi?" Tanya Doyoung balik.

Jaehyun mencoba meredakan tawanya, dia menggelengkan kepala. "Kurasa itu tidak perlu. Aku percaya dengan ucapanmu," katanya.

Doyoung melipat tangan di depan dada seraya mengangguk."Baguslah," sahutnya.

Kemudian tidak ada percakapan lagi. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Selama satu menit penuh hanya dihabiskan dalam kesunyian, sampai suara dering ponsel Jaehyun berbunyi memecah keheningan di sekitar mereka.

Sebuah panggilan dari sekretaris cantik bernama Minkyung. Jaehyun meraih ponselnya, melirik Doyoung untuk izin mengangkat panggilan tersebut. Doyoung menganggukkan kepalanya pada Jaehyun. Sesaat kemudian, pria tampan itu sudah beranjak menjauh dari kursi yang ia duduki.

Jaehyun kembali lagi setelah dua menit. Pria itu tidak duduk ditempatnya tadi, melainkan mengambil jasnya dan memasangnya ke tubuhnya kembali.

"Sepertinya aku harus pulang sekarang," ujar Jaehyun sambil mengancingi kancing jasnya.

Doyoung bangkit berdiri. "Tapi di luar masih hujan. Kau bisa menga-"

"Aku akan baik-baik saja. Ini bukan pertama kalinya aku menerobos hujan lebat seperti malam ini," potong Jaehyun cepat, pria itu menatap lembut Doyoung, memberikan tatapan menenangkan yang sayangnya tidak digubris Doyoung.

"Menginaplah disini, Jaehyun-ah."

Suara memohon Doyoung jelas sangat menarik perhatian Jaehyun. Pria tampan itu lekas menatap Doyoung, melupakan niatannya yang ingin mengetik sebuah pesan untuk seseorang.

Doyoung meremas kedua tangannya yang basah dan dingin di sisi tubuhnya. Doyoung tidak tahu kenapa kalimat itu yang meluncur dari mulutnya, dia tidak memikirkannya, yang ia pikirkan hanya tentang keselamatan pria tampan dengan jabatan CEO itu.

"Kau bilang apa tadi?" Jaehyun bertanya dengan nada menuntut. Pria itu memasukkan hanphonenya ke dalam saku jas, memandang Doyoung dengan mata menyipit.

"Menginaplah disini," ulang Doyoung. "A-aku tidak bisa membiarkanmu pergi di saat badai seperti sekarang. Sesuatu mungkin saja akan terjadi, aku mungkin tidak bisa menghentikan diriku sendiri untuk tidak gelisah kalau kau tetap memaksa pulang saat ini. Jadi..." Doyoung menarik napasnya, matanya terpejam sedetik kemudian terbuka, menubrukkan iris matanya pada sepasang mata Jaehyun. "Aku mohon padamu untuk tetap di sini hingga besok pagi."

Dan Jaehyun, tidak bisa mengindahkan permintaan Doyoung. Jaehyun menganggukkan kepalanya pada Doyoung. Melepas kembali jasnya.

"Baiklah, aku akan menginap," kata Jaehyun, bibir Jaehyun tertarik keatas membentuk lengkungan senyum yang membuat Doyoung segera membuang muka kearah lain dengan wajah merona.

.

.

Doyoung membenarkan kerah piyama yang ia pakai. Wajah Doyoung nampak lelah dan terlihat sedikit frutasi. Sepuluh menit lalu, dia baru saja selesai berdebat dengan Jaehyun. Doyoung baru saja mengetahui sifat buruk Jaehyun, yaitu keras kepala. Saat Doyoung mengatakan pada Jaehyun kalau pria itu bisa tidur di kamarnya, di atas kasur sempit Doyoung sedangkan Doyoung sendiri akan tidur di luar, di atas sofa di depan televisi. Doyoung sempat mengira Jaehyun akan mengiyakan ucapannya tapi ternyata pria itu menolak tegas ucapan Doyoung. Dia malah menawarkan diri kalau dia saja yang tidur di sofa dan Doyoung tidur di kamar. Karena Doyoung juga keras kepala, dia menolak tawaran Jaehyun, akhirnya perdebatan yang menghabiskan waktu hampir setengah jam pun terjadi. Doyoung yang sudah tidak tahan akhirnya mengkahiri perdebatan. Mereka berdua memutuskan sama-sama tidur dikamar, diatas kasur sempit yang seharusnya hanya untuk satu orang itu.

"Haaa..." Doyoung membuang napas, menoleh ke belakang. Jaehyun sudah tidur dengan posisi miring membelakanginya. Agar mereka berdua muat dalam satu ranjang, terpaksa Jaehyun dan Doyoung tidur menyamping. Doyoung berdoa semoga besok dia tidak sakit pinggang karena tidak bisa mengubah posisi tubuhnya.

Doyoung pun membaringkan tubuhnya membelakangi punggung Jaehyun.

"Selamat tidur, Jaehyun," ucapnya sebelum memejamkan mata, dan beberapa saat kemudian suara dengkuran halus terdengar menandakan Doyoung berhasil sampai di alam mimpi.

.

.

Doyoung hampir mengira kejadian semalam hanyalah mimpi jika saja matanya tidak melihat pada sebuah jas yang tergantung di kursi kerjanya. Jas mahal seperti itu jelas bukan miliknya. Jadi, kejadian semalam memang terjadi. Kalau begitu dimana Jaehyun sekarang berada?

Doyoung mengusap cepat wajahnya, bangkit dari atas kasur, kemudian sedikit melakukan peregangan. Doyoung bersyukur karena tidak mengalami sakit pinggang pagi ini.

Selesai berolahraga kecil, Doyoung berjalan keluar kamar. Mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan ―mencari keberadaan Jaehyun. Kaki Doyoung bergerak menuju dapur, berhenti di depan kulkas. Membuka salah satu pintunya. Erangan keluar dari bibir Doyoung melihat freezernya kosong-melompong. Tidak ada makanan apapun, selain beberapa botol air dingin dan sebutir telur ayam. Doyoung baru ingat kalau dia maupun Ten belum berbelanja bahan makanan.

"Apa aku harus berbelanja sekarang?" Monolog Doyoung sambil memasang ekspresi berpikir. Telinga Doyoung mendengar suara air dari arah kamar mandi. Doyoung menjetikkan jarinya. "Aku harus berbelanja," ujarnya. Kemudian ia melesat ke kamar untuk berganti pakaian tanpa perlu mandi.

.

.

Doyoung menahan napas, dua kantung besar belanjaan dari supermarket 24 jam hampir jatuh dari tangannya saat Doyoung membaca pesan yang terkirim ke hanphonenya lima menit lalu.

*Doyoung kau dirumah? Aku dalam perjalanan pulang. Ingat, jangan kunci pintunya!*

Doyoung ingin menjerit keras setelah membaca pesan dari Ten. Tapi Doyoung tahu tidak ada waktu untuk menjerit. Doyoung pun dengan tergesa memasukkan hanphone ke dalam saku hoodienya, dengan terburu dia mencegat taksi yang lewat dan langsung mengucapkan alamat apartemennya kepada sopir taksi sesaat setelah masuk kedalam taksi.

Doyoung menunggu gelisah di dalam lift, kenapa lift gedung apartemennya jadi lambat sekali naik!? Shit! Doyoung bisa gila kalau lift tidak juga naik.

Ting

Doyoung langsung berlari secepat yang ia bisa menuju kamar apartemennya begitu pintu terbuka. Belanjaan di dalam kantong besar di tangannya melonjak-lonjak mengikuti lari Doyoung.

Doyoung memutar knop pintu yang tidak terkunci. Masuk kedalam tanpa mengucapkan permisi. Dia bergegas melepas sepatunya saat melihat sepatu Ten tersusun rapi di sebelah kakinya.

"TEN!" Teriak Doyoung, mencari keberadaan pria Thailand itu.

"Yakss! Jangan berteriak. Ini bukan dihutan," sahut Ten dari arah ruang tamu.

Doyoung berlari menuju Ten. Menatap Ten dengan mata besarnya yang membola, napas yang terengah-engah.

Ten memiringkan kepala, satu tangannya berkacak pinggang sedang tangan lainnya memegang sebuah map yang entah apa isinya.

"Apa kau tadi berlari saat pulang huh?" Tanya Ten dengan alis berkerut.

Tubuh Doyoung merosot ke bawah, dia berjongkok, pegangannya pada dua kantong plastik terlepas. Doyoung menelungkupkan wajahnya di atas tangan di atas lutut, dan berteriak tanpa suara, merapalkan semua umpatan yang dia tahu sebelum kembali berdiri dan menatap Ten yang memandanginya dengan ekspresi heran.

"Kapan kau sampai?" Tanya Doyoung, berusaha bersikap biasa saja. Dia tidak mau ketahuan tengah menyembunyikan sesuatu.

Ten tidak langsung menjawab. Pria seumuran Doyoung itu memincingkan mata. Ten mencium sesuatu yang aneh dari gelagat Doyoung.

"A-apa?" Tanya Doyoung, risih dipandangi terus menerus oleh temannya itu.

Ten mengangkat bahu. "Tidak ada," ucapnya. "Tapi... Kau harus tahu sesuatu Doyoung!" Tiba - tiba saja wajah curiga Ten berubah menjadi wajah ibu-ibu tukang gosip yang mendapat bahan gosipan baru.

Doyoung mengeryitkan alis melihat kelakuan ajaib temannya itu. Tapi syukurkan Ten tidak menaruh curiga padanya. Dengan pura-pura penasaran, Doyoung menyahuti ucapan Ten, "Sepertinya kau baru saja mendengar kabar bahagia hmm?" Doyoung tentu tahu apa maksud dari ucapannya sendiri. Kabar bahagia yang dimaksud bukanlah arti sebenarnya. Kabar bahagia bagi Ten sama dengan kabar buruk bagi orang lain.

"Aku kan semalam memberitahumu tentang betapa cerewetnya Johnny. Kau tahu apa alasan kenapa dia jadi cerewet sekali?" Ten menatap Doyoung dengan antusias. Sebagai teman yang baik, Doyoung berakting kalau dia juga antusias dengan cerita Ten.

"Ya. Lalu?"

Ten menarik tangan Doyoung mendekat. Mereka berdua duduk disofa.

"Jadi, semalaman full aku tidak tidur hanya untuk mendengarkan curhatan Johnny tentang istrinya yang kabur dari rumah.."

"Apa? Kabur? Lagi?" Tanya Doyoung menyela. "Seingatku Hansol hyung juga kabur minggu lalu," lanjutnya.

"Iya, karena itu. Johnny terlihat galau sekali," tambah Ten, memasang ekspresi prihatin yang minta ditampar. "Dan Johnny tidak tahu istrinya kabur ke mana. Sudah dua hari istrinya tidak pulang. Aku merasa kasihan sekali padanya." Ten cekikikan sendiri membayangkan wajah merana bosnya itu.

"Wahhh, Hebat! Aku tidak menyadari ternyata selama dua hari ini Johnny sedang dalam masa galau." Doyoung mengangguk-nganggukkan kepala, seolah takjub akan suatu fakta yang baru diketahuinya.

"Sayang sekali Johnny tidak mengatakan alasan apa sampai istrinya kabur kali ini huh!" Ten mendengus kesal tapi hanya sesaat sebelum dia tertawa lagi. "Tapi ohh aku sudah puas mendengar semuanya! Nanti setelah pulang kerja aku akan menceritakan semuanya."

"Tenie, mau taruhan denganku?" Kata Doyoung tiba-tiba.

Ten menoleh kemudian bertanya, "Taruhan apa?"

"Menurutmu kabur ke mana istrinya Johnny?"

Ten menaikkan satu alisnya, berpikir. "Kerumah orang tuanya?"

"Kau yakin?"

"Ya," jawab Ten. "Kalau menurutmu di mana?"

Doyoung menyeringai. "Aku menebak Hansol hyung kabur ke rumah Taeil hyung."

"Mereka kan sahabat. Mungkin saja dia disana," tambah Doyoung. "Nah.. Jika jawabanku benar kau harus memberikan gajimu untuk mentraktirku makan daging~"

"Yaa! Taruhan macam apa itu!? Aku kerja susah-payah hanya untuk memberikan gajiku padamu?!" Ten menaikkan alisnya tinggi, menatap iritasi pada Doyoung. "Tidak, tidak, tidak, terima kasih!"

"Yaa.. Padahal jika jawabanmu yang benar kau bisa minta apapun padaku." Doyoung memasang ekspresi sedihnya. Beranjak bangun, ketika dia akan membungkuk mengambil kantong belanjaan tiba - tiba saja Ten menarik tangannya.

"Aku terima taruhannya. Aku menang, aku bisa minta apapun darimu tanpa terkecuali?"

Doyoung menganguk,"Yapss."

"Kita deal." Kemudian keduanya berjabat tangan.

.

.

Doyoung menyeka sebulir keringat dari pelipisnya. Doyoung membuang napas berat. Bahunya yang terasa berat sudah lebih ringan setelah Ten pergi dari apartemen. Beruntung sekali, Ten sedang sibuk dengan artikelnya, jadi Ten tidak harus berlama-lama diapartemen dan tahu tentang Jaehyun yang ada di apartemen.

Doyoung mengeluarkan belanjaan dari dalam kantong satu-persatu. Suara pintu terbuka hampir membuat Doyoung jantungan, mengira kalau Tenlah yang datang lagi. Ternyata yang terbuka adalah pintu kamarnya. Jaehyun keluar dari kamar Doyoung dengan penampilan seperti semalam. Jas miliknya membalut pas tubuhnya. Doyoung tersenyum pada Jaehyun. Pria tampan itu membalas senyumnya.

"Aku mendengar keributan tadi," kata Jaehyun setelah berada cukup dekat dengan Doyoung.

Doyoung kembali melanjutkan pekerjaannya mengeluarkan belanjaan dari kantong plastik.

"Temanku tadi pulang," ujar Doyoung. "Tapi setelah itu dia pergi lagi."

"Sayang sekali, padahal aku ingin berkenalan dengan temanmu. Dari yang kudengar, sepertinya dia lebih banyak bicara daripada kau, Doyoung."

Doyoung tertawa, "Ten memang cerewet. Tapi seharusnya kau bersyukur tidak bertemu dengannya. Sebagai informasi, seharusnya yang mewawancaraimu saat itu adalah Ten tapi karena dia sakit terpaksa aku yang menggantikannya."

"Untuk itu juga aku akan berterima kasih pada temanmu," sahut Jaehyun, tangan terlipat di depan dada, matanya mengamati apa yang dilakukan Doyoung. "Berterima kasih, karena dia sakit, maka aku bisa bertemu denganmu saat itu."

Tangan Doyoung yang akan mengeluarkan sekotak susu terhenti. Doyoung menggigit bibirnya, menahan rona merah yang sayangnya tetap muncul di kedua pipinya.

"Aku harus pergi sekarang." Ucapan Jaehyun membuat Doyoung mendongak.

"Kau mau pergi?" Tanya Doyoung.

"Sepertinya kau tidak rela aku pergi. Kau ingin aku tetap disini?"

"T-tidak. B-bukan itu maksudku." Doyoung menoleh ke arah lain, tidak ingin wajahnya yang semerah tomat terlihat Jaehyun.

"Aku ingin tetap disini," kata Jaehyun. "Tapi tidak bisa. Aku memiliki urusan penting yang tidak bisa aku tinggalkan. Mungkin lain kali aku akan mampir kesini," Jaehyun menambahkan seraya mengangkat bahu. Pria itu menurunkan tangannya.

"Aku akan mengantarmu sampai ke depan," Doyoung menatapnya. Tersenyum tipis. Jaehyun tidak tahu apakah dia hanya salah lihat atau salah mengartikan tatapan Doyoung yang seolah tak rela dia pergi.

"Terima kasih," ucap Jaehyun, dan untuk terakhir kalinya Jaehyun mengikuti Doyoung di belakang pria itu.

'Sepertinya aku memang tertarik denganmu Doyoung.'

.

.

TBC

.

.

A/N: Maaf yaa, kalau chapter ini melenceng dari chapter" sebelumnya atau karakter Jh dan Dy jdi OOC ._. Maaf banget chapter ini mengecewakan dan kayanya kepanjangan dan ngebosenin. Astaga maafkan aku! Semoga gak ada reader ff ini yang ilang setelah membaca chapter 4.