Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, iKON, Seventeen, etc.

Pairing: MarkBam

Rate: T

Genre: School-life, mystery/horror, romance

Disclaimer: Casts aren't mine, storyline/plot is mine

Warning: typo(s), boyxboy, indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, story, and author :)

.

.

.

.

.

Bambam POV -

Kurasa semua perlengkapan ini terlalu berlebihan, namun cepat atau lambat aku pasti akan membutuhknnya.

Rasanya seperti akan pergi ke acara perkemahan sekolah, padahal aku hanya akan pergi ke daerah Myeongdong. Namun entah kenapa, aku merasa bahwa aku akan memerlukan semua barang-barang ini selama kami di perjalanan nanti; kotak pertolongan pertama sudah pasti akan kami gunakan, dua botol air mineral berisi dua liter, pakaian ganti, makanan, aku juga membawa charger handphoneku yang siapa tahu kami butuhkan nantinya jika keadaan darurat terjadi, mungkin saja kami akan membutuhkan pertolongan. Tapi semoga saja tidak.

Intinya, aku tidak yakin dengan apa yang akan terjadi di masa depan, hari-hari selanjutnya masih menjadi misteri. Kelihatannya memang ringan, tapi apapun bisa menimpa kami, dari hal yang baik hingga yang paling buruk, semuanya bisa terjadi karena secara tidak sadar kami akan menembus ke dunia yang lain.

Semoga saja, para arwah itu akan menerima kedatangan kami dengan senang hati.

"Appa, aku pergi dulu." aku berpamit kepada appa.

"Kau akan pulang kapan, Bam?"

"Hmm..." jelas aku tidak dapat memastikan kapan kami akan pulang, bagaimana jika kami tidak pulang sama sekali? "Aku belum tahu, tapi aku akan mengabarimu setiap hari."

"Janji, ya? Jangan buat appa khawatir." appa memelukku. Ini yang kurindukan dari sosok appa, pelukannya yang hangat dan juga rasa pedulinya terhadapku. Seandainya saja aku bisa berdiam di rumah dan menghabiskan waktu bersamanya lebih lama.

"Ne, aku akan menelponmu sesering mungkin."

Aku segera meraih tas ranselku dan menggendongnya di punggung. Dengan hati yang masih setengah siap, aku kembali memeluk ayah dan berangkat menuju ke sekolah untuk mengawali perjalanan tidak masuk akal ini.

Di depan pagar rumahku, ada mobil Junhoe yang sudah menunggu dengan sabar. Ketika aku membicarakan tentang rencanaku dan Mark hyung kepada teman-temanku, mereka terlihat begitu antusias dan mendukung apa yang akan kulakukan, padahal sebelumnya mereka sangat acuh tak acuh dengan peristiwa ini. Dan Junhoe, dia orang yang paling yakin sekaligus khawatir, makanya dia berjanji untuk mengantarku ke sekolah dan bertemu Mark hyung.

"Bawaanmu banyak sekali." Junhoe menyapa begitu aku masuk ke mobilnya.

"Kau sudah menunggu daritadi?" tanyaku.

"Belum, lima menit yang lalu baru sampai." jawabnya. "Kau mau ke mana sih hingga bawaanmu telihat seperti orang yang mau pindahan?"

"Aku kan tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami nanti, makanya aku berjaga-jaga."

"Haish," desahnya seraya menyalakan mesin mobil dengan penuh emosi, "jangan berkata seperti itu! Membuatku tambah khawatir saja."

"Hehe, aku akan kembali kok."

"YAK! YAK! YAK!" ia menyentak, "jelas kau akan kembali. Sudah kubilang jangan berkata seperti itu! Apa perlu aku ikut ke perjalanan kalian agar aku dapat menjagamu!?"

"Hehe, mianhae June-ya. Kami hanya jalan-jalan saja kok, lagipula ada Mark hyung yang akan menjagaku."

"Kau tahu!?" Junhoe menatapku beberapa detik dengan sinis. "Aku tidak mempercayai Mark hyung untuk hal ini."

"Waeyo? Dia kan sudah pakarnya, dia pasti bisa menjagaku dari hantu-hantu aneh."

"Ani. Ani. Ani. It's a no no." Junhoe menggoyangkan jari telunjuknya. "Wajah orang seperti dia itu menipu, kelihatannya memang tampan dan baik, tapi aku tidak yakin bahwa dia akan menjagamu dengan baik. Kau tahu kan dia punya pacar? Aku berani bertaruh bahwa dia akan memikirkan pacarnya sepanjang perjalanan."

Hmm... Junhoe tidak salah, dia ada benarnya. Aku juga tidak dapat mempercayai Mark hyung secara seratus persen, karena selain memikirkan dirinya sendiri, dia sudah pasti memikirkan sang pacar. Bayangkan saja, setiap hari mereka bertemu dan saling berbagi kasih sayang, tapi kini ada kemungkinan bahwa mereka tidak akan bertemu untuk beberapa jangka waktu.

Yah... setidaknya aku sudah tahu bagaimana caranya menjaga diriku sendiri tanpa bantuan orang lain.

"Pokoknya, sampai terjadi sesuatu kepadamu, orang pertama yang akan kusalahkan adalah Mark hyung. Jadi sebaiknya dia berhati-hati." kata Junhoe mewanti-wanti. Itu juga menyeramkan, sih. Tidak mungkin Mark hyung disalahkan begitu saja, apalagi jika itu bukanlah kesalahannya.

Selama perjalanan, Junhoe tidak berhenti berbicara. Dia menyuruhku untuk berhati-hati, mengabarinya setiap saat, bahkan menangis sekeras mungkin jika perlu. Junhoe itu memang pada dasarnya cerewet, tukang ceramah, banyak bertanya, dan juga banyak mengeluh, tapi kali ini aku dapat mencamkan segala perkataannya dengan baik, karena aku tahu, dia peduli padaku.

Hingga kami akhirnya sampai di sekolah, Junhoe masih belum juga berhenti bicara.

"Itu Mark hyung." kata Junhoe seraya menunjuk seorang namja yang sedang bersandar di pintu mobilnya. Dia tidak sendirian, ada Jiyeon nuna di sana. "Kau mau keluar sekarang?"

"Mmm..." perasaanku seketika menjadi gugup, "Jun, temani aku, yuk! Tidak enak nih kalau datang sendirian begitu saja."

Junhoe setuju untuk mendampingiku keluar menemui Mark hyung. Selama ada Jiyeon nuna di sana, sepertinya aku tidak akan bisa berbicara dengan Mark hyung dengan nyaman.

"Oh, kau sudah datang!" Mark hyung menyambut kami.

"Kalian mau kemana, sih? Kok bawa barangnya banyak sekali?" tanya Jiyeon nuna seraya menggoyang-goyangkan lengan Mark hyung. "Kau juga chagi, ranselmu sampai menggembung begitu."

"Sudah kubilang, kami kan akan pergi ke pelosok untuk membuat sebuah dokumentasi. Ayahku membutuhkannya, kebetulan Bambam yang tahu tempat itu. Benar kan, Bam?" tatapan mata Mark hyung seakan berkata: katakan saja iya, atau kita berdua akan mati. Makanya, aku segera mengangguk seyakin mungkin.

"Benar, nuna. Kami akan ke pelosok untuk membuat sebuah dokumentasi. Jangan khawatir! Tidak akan berlangsung lama kok." kataku gugup.

"Hmmm, cepat pulang ya!" Jiyeon nuna memeluk Mark hyung dengan manja, bahkan Mark hyung terlihat sedang mencium keningnya lembut. Sementara aku dan Junhoe, hanya saling bertatap dan tersenyum dalam situasi canggung.

"Oke, kalau begitu ayo kita berangkat."

"Hyung." panggil Junhoe, aku tahu saat ini dia sedang mencoba untuk terlihat ramah meskipun banyak hal yang ia pikiran di kepalanya. "Tolong jaga Bambam, ya! Suruh dia mengabariku setiap saat!" katanya.

Mark hyung tersenyum dan mengangguk, "tentu. Aku akan menjaganya."

"Hm." dengan gumaman tersebut, itu malah membuatku takut bahwa sesuatu akan benar-benar terjadi kepada kami. Goo Junhoe, kumohon jangan berpikir macam-macam!

Sementara Mark hyung dan Jiyeon nuna sibuk mengutarakan selamat tinggal mereka, Junhoe menitipkan maaf teman-temanku yang lainnya karena mereka tidak dapat mengantarku hari ini.

"Pokoknya mereka akan menghubungimu nanti."

"Jangan terlalu memikirkannya. Aku juga akan segera menghubungi mereka, bilang saja aku tidak akan pergi lama-lama." kataku.

"Hati-hati, Bam." Junhoe memelukku, aku membalas pelukannya dengan harapan bahwa perjalanan ini hanyalah sekedar perjalanan biasa layaknya tur sekolah, dengan begitu Junhoe tidak akan merasa lebih khawatir lagi.

"Yasudah, aku pergi ya."

"Telpon aku!"

"Ne."

Setelah sekian lama, akhirnya aku dan Mark hyung pergi juga. Tadinya aku berpikir bahwa Jiyeon nuna juga akan ikut dengan kami, ternyata supir pribadinya menjemput saat itu juga. Setidaknya aku tidak menjadi nyamuk, benar kan?

Mungkin setelah lima menit perjalanan kami, aku baru teringat akan sesuatu yang aneh hari ini. "Hyung,"

"Ne?"

"Kok aku tidak melihat Jackson hari ini?"

"HAAAAAAI."

"Aduh..."

Sial, ternyata dia sudah berada di kursi belakang, bahkan sebelum aku. Karena dia berteriak seperti itu, nyawaku nyaris saja melayang. Sementara Mark hyung, ia hanya tertawa geli melihatku dibodohi seperti itu oleh sosok hantu.

"Maaf ya Bam, tadinya aku mau mampir ke rumahmu, tapi Mark hyung bilang tidak boleh."

"Wae?"

"Aku sudah tahu, kalau kau ke rumah Bambam kau pasti akan membuat kegaduhan lagi." kata Mark hyung sambil fokus dengan kemudinya.

"Aniyo! Aku tidak membuat gaduh kan, Bam? Ya, kan? YA, KAN?!"

"Aduh." Aku menutup telingaku karena suara Jackson yang terlalu lantang. "Iya... kau tidak membuat gaduh, hanya saja kau berisik."

"Ih." Jackson terdengar tidak setuju dengan jawabanku.

Sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya apa yang membuat Jackson diperlakukan keji oleh teman-temannya saat itu. Apa mungkin pikiran mereka saat itu masih sempit? Maksudku... lihat lah Jackson sekarang, dia menyenangkan, bahkan dia memiliki perasaan, dia masih layaknya seorang manusia, hidup dan membawa warna untuk orang yang berada di sekitarnya. Mungkin sudah saatnya aku berhenti mengeluh tentang indera keenamku yang tiba-tiba datang, dapat melihat Jackson saat ini merupakan kebahagiaan sendiri untukku.

Di antara kami bertiga, ternyata Jackson yang paling banyak bicara. Kami sampai bingung bagaimana menanggapi semua ocehannya yang tidak penting. Mark hyung seringkali tertawa atau mengomentari cerita Jackson, dan aku hanya bisa complain mengenai suaranya yang terlalu keras.

"Kurasa kita sudah di Myeongdong." Mark hyung memotong kalimat Jackson. "Jack, kau tahu rumahnya ada di mana?"

"Tidak."

"Nice." Mark hyung mendesah kesal. Terpaksa kami harus turun dan mencari tahu tentang arwah yang katanya bernama Do Kyungsoo, itupun kalau Jackson tidak salah menyebut namanya. "Jack, kau meniggal tahun berapa?"

"1992. Kan aku sudah pernah cerita."

"Hft, itu sudah lama sekali. Bagaimana bisa kita menemukan orang yang sudah mati pada masa itu? Aku saja belum lahir." keluh Mark hyung.

"Uhmm.." ada secercah cahaya yang masuk ke dalam kepalaku, "...mungkin Kyungsoo punya tempat special di daerah ini, mungkin? Di mana orang pernah mengenalnya."

"Hmm, aku tidak yakin." Jackson berlagak layaknya manusia yang sedang berpikir. Ini membuatku bertanya-tanya apakah selama ini dia masih punya otak sebagai hantu. "OH!"

"Kau punya petunjuk?!"

"Iya. Aku punya." jawab Jackson begitu semangat. "Dulu di sini ada toko kue beras yang sangat terkenal, namanya Ssal. Kyungsoo sering pergi ke sana, dan kurasa dia cukup dekat dengan penjualnya."

"Semoga ini membantu."

Kami mencari toko kue beras bernama Ssal itu ke seluruh Myeongdong, seraya mencari kami juga berharap bahwa toko kue itu masih berdiri hingga sekarang. Mark hyung menggunakan GPS untuk menemukan toko itu, ternyata tokonya masih beroperasi sampai sekarang.

Ada sebuah toko kecil di pinggir jalan, tampak luarnya sangat tradisional dan juga tertata dengan rapi. Di atas pintu masuknya, terdapat tulisan hangul yang membentuk kata 'Ssal, sejak 1965', yang artinya beras. Begitu kami masuk, penampilan dari toko ini sudah berbeda, semuanya tiba-tiba menjadi sangat modern dan begitu banyak anak muda yang kerja di sini. Mesin, seragam, desain interiornya, semuanya benar-benar kekinian.

"Hft, lalu kita harus apa di sini?"

"Kita tanyakan saja." aku langsung menghampiri salah satu pekerja yang ada di sana, dia terlihat masih muda, mungkin beberapa tahun lebih tua dariku, dan kemungkinan untuk menemui Kyungsoo pun semakin mengecil. "Annyeong haseyo,"

"Selamat datang di Ssal, hari ini kami punya penawaran spesial untuk anak sekolahan."

"Uhmm.. sebenarnya, kami tidak datang untuk membeli." kataku dengan gugup. "Uhm, kami sedang mencari seseorang."

"Nugu?"

Siapa... benar, siapa yang kami cari? Yang kami cari saat ini adalah arwah. Dasar bodoh.

"Umm, apakah di sini ada pekerja yang-"

"Jung Hoseok? Kau sedang apa?" sambar seseorang, ada seorang ahjussi setengah baya yang datang menghampiri kami dan memakai seragam yang sama dengan pekerja muda yang lainnya. Dia terlihat rentan, rambutnya sudah putih dan kulitnya berkeriput, dia seperti tuan besar di toko ini.

"Mianhae, aku akan kembali bekerja." pekerja yang berbicara denganku pergi begitu saja dan melayani pelanggan yang lainnya.

"Wah, kebetulan, kami punya penawaran spesial untuk anak sekolahan hari ini." kata ahjussi itu dengan ramah.

"Mmm, maaf, kami ke sini bukan untuk membeli. Kami, mencari seseorang."

"Nugu?"

"Kami datang mencari seseorang di masa lalu yang bernama Do Kyungsoo." tambah Mark hyung. "Mungkin anda pernah mengenalnya."

"Do Kyungsoo... aku tidak ingat apakah aku pernah kenal dengan nama itu seumur hidupku."

Jelas, ahjussi ini sudah tua, ditambah lagi banyaknya pelanggan yang pernah mampir ke toko ini, tentu saja dia tidak akan mengingat nama pelanggan satu persatu, apalagi di masa lampau.

"Waktu itu dia masih SMA, tapi meninggal pada tahun 1992."

"Ah... anak badungan yang malang itu, dia dan satu orang temannya sering menghabiskan uang hanya untuk makan di sini."

"Jadi anda mengenalnya?!"

"Iya, aku menyesali kematiannya, dia sudah seperti anakku sendiri. Jika saja anak itu masih hidup, pasti dia akan menjadi sukses saat ini."

"Jadi... anda tahu tentang asal-usul Do Kyungsoo?!"

"Dia adalah..." ahjussi itu berhenti bicara, ia melihat ke arah mata kami satu persatu dan dahinya mulai mengkerut. "Mau apa kalian bertanya tentang anak yang malang itu, huh?! Dia sudah mati. Biarkan saja dia tenang di alam sana dan jangan ganggu dia! Kalian anak muda jaman sekarang memang tidak berperikemanusiaan!"

"Aniyo, ani, bukan itu maksud kami." Mark hyung mencoba untuk meluruskan keadaan. "Kami... kami hanya sedang membantu teman kami yang dulu juga berteman dengan Do Kyungsoo. Kami hanya perlu mengetahui di mana keluarganya sekarang."

"Hft, sampai kalian berani macam-macam dengan anak ini, kalian tidak akan mati dengan tenang."

Kami agak tersentak dengan ucapan ahjussi ini, apakah dia baru saja menyumpahi kami?

"Orang tuanya tinggal di panti jompo yang terletak di jalan sebelah. Tanyakan saja apakah di sana ada sepasang suami istri bermarga Do."

Aku dan Mark hyung langsung saling menatap dengan puas, ternyata ini tidak sesulit yang kami bayangkan.

"Kami akan ke sana, terima kasih atas bantuannya."

"Ingat! Jangan macam-macam dengan Do Kyungsoo, walaupun dia sudah mati."

"Tidak akan. Kami hanya ingin bertemu dengan keluarganya, terima kasih. Oh iya, kue berasnya menggirukan. Boleh kami beli dua bungkus?"

.

.

.

.

Panti Jompo Myeongdong

Di sinilah pencarian kami yang sesungguhnya dimulai. Panti jompo ini terlihat sangat tua dan sepi, kuharap tidak ada sisi negatif aneh lainnya selain patung nenek-nenek mengerikan yang ada di tengah-tengah halaman mereka.

"Kami mencari sepasang suami istri bermarga Do." kata Mark hyung saat kami bertemu dengan salah satu pengurus panti ini.

"Di sini tidak ada sepasang suami istri bermarga Do." jawabnya. "Mereka sudah meninggal setahun yang lalu."

Astaga, jika sudah begini bagaimana kami bisa menemukan Kyungsoo.

"Apakah kalian keluarganya?"

"Bukan, kami..." Mark hyung menengok ke arahku seakan meminta kepastian, "kami adalah teman dari anak laki-laki mereka."

"Tapi.. anaknya sudah-"

"Kami tahu, ini mungkin terdengar gila." aku dapat melihat kegugupan yang luar biasa pada raut wajah Mark hyung. "Kami hanya perlu menemukan makam dari keluarga Do, mungkin anda tahu."

"Apa yang akan kalian lakukan dengan makam mereka?!"

"Kami hanya ingin melayat, tidak lebih. Kami... pernah dekat dengan orang tuanya."

Lagi-lagi Mark hyung berbohong soal identitas kami, tapi dia tidak terdengar berbohong sama sekali bahkan di dalam keadaannya yang gugup seperti itu. Ahjumma pengurus panti ini sangat memperlihatkan rasa curiganya terhadap kami, tapi Mark hyung pandai merayu seseorang dengan wajahnya yang sangat menyakinkan itu, ditambah lagi wajahnya tampan, mungkin ahjumma ini akan sedikit jatuh hati kepadanya.

"Rumah sakit Myeongdong punya pemakaman elit tersendiri di belakangnya, sepasang suami istri Do dimakamkan di sana. Di belakang pemakaman rumah sakit yang elit, ada makam yang rusak dan tidak terurus lagi, di sana kalian bisa temukan makam anaknya yang bermana Do Kyungsoo."

.

.

.

.

Author POV -

"Bambaaaaaam kenapa dia belum mengabariku juga!?"

"Sabar, mungkin dia ketiduran."

"Dia itu detektif atau apa sih!? Kenapa dia mau bermain-main dengan hantu di luar sana!?"

"Eh, tapi hantu yang bernama Jackson itu membuatku penasaran juga, lho."

"Yak! Kau mulai gila, ya!?"

"Aniyo, aku hanya bicara saja."

"Sudahlah, cepat atau lambat dia akan mengabari kita. Intinya jangan berpikiran yang macam-macam, mungkin Bambam juga menyukai petualangan ini."

"Yak! Kunpimook Buwakhul, tidakkah dia tahu bahwa aku mengkhawatirkannya di sini?"

Sementara Bambam berada di luar sana menyelesaikan teka-teki, ketiga teman Bambam yang lainnya tengah bersantai di sebuah cafe kecil di kota Seoul. Bukan hanya bersantai, tapi juga menunggu kabar dari seorang sahabat bernama Bambam. Setelah mengantar Bambam ke sekolah, Junhoe langsung tancap gas menuju ke cafe itu dan bertemu dengan Jungkook dan Mingyu, sekaligus mengisi akhir pekan mereka yang membosankan tanpa Bambam.

"Daripada kita menunggu hal yang tidak pasti, bagaimana kalau kita pesan minuman saja?" tanya Jungkook.

"Setuju, aku sudah haus dari tadi." Junhoe mengacungkan tangannya sebagai kode bahwa dia akan segera memesan.

Dari kejauhan, datang seorang pelayan namja bertubuh pendek. Dilihat dari penampilannya, Jungkook adalah orang pertama yang menyadari bahwa ia mengenal pelayan itu.

"Eh... itu... Jinhwan hyung?"

"Mwoya? Tidak mungkin..."

"Benar! Itu Jinhwan hyung!"

"Dia bekerja di sini?!"

"Selamat datang! Boleh saya catat pesanannya?"

Junhoe POV -

Haduh... bagaimana ini? Jungkook benar, orang ini adalah Jinhwan hyung. Aku sudah memiliki firasat bahwa cafe ini bukanlah cafe yang bagus untuk dikunjungi, tapi Jungkook dan Mingyu bersikeras untuk tetap datang. Bagaimana ini? Jinhwan hyung pasti gugup melihat teman satu sekolahnya datang ke tempat di mana ia bekerja.

"Jinan hyung, kau bekerja di sini?" tanya Jungkook dengan ramah.

"N-ne..."

"Uwaa, aku akan sering-sering datang ke sini."

"Yak! Yak!" aku menghentikan omong kosong mereka. "Sudah! Pesan saja! Kalian ini membuang-buang waktu."

Bukannya segera memesan, Jungkook dan Mingyu malah tertawa satu sama lain. Sampai mereka berani mengatakan sesuatu kepada Jinhwan hyung, aku pastikan mereka akan menjadi perawan tua.

"Aku pesan bubble tea rasa vanilla." kataku dengan cepat lalu menutup buku menunya.

"Aku pesan bubble tea rasa taro." kata Mingyu.

"Aku pesan susu cokelat saja."

"Akan segera datang."

Begitu Jinhwan hyung pergi untuk mengambil pesanan kami, aku mulai berniat untuk melakukan cara lain agar Jinhwan hyung merasa lebih nyaman dengan kedatangan kami di cafe ini.

"Aku ke WC dulu ya. Belum buang air besar seharian." kataku seraya bangkit dari kursi.

"Jorok." protes Jungkook.

Biar saja, yang penting aku bisa pergi dari sini dan menemui Jinhwan hyung.

Aku pergi ke arah WC untuk meyakinkan mereka bahwa aku benar-benar akan buang air besar. WC nya tidak jauh dari dapur, jadi aku memutuskan untuk bersembunyi di sana dan menunggu hingga Jinhwan hyung lewat.

"Psst! Jinhwan hyung!" aku memanggilnya saat ia keluar dari dapur dengan nampan di tangannya. Kurasa dia membawa pesanan kami, tapi wajahnya terlihat begitu lelah. "Jinaaaan hyung!"

"Eh?!" ia terkejut, hihi.. lucunya wajah imut itu.

"Disini!" aku mencolek pundaknya, untung saja dia tidak begitu terkejut dan menjatuhkan nampannya.

"Junhoe?! Sedang apa kau di situ?!"

"Bisa kau oper dulu pesanannya ke pelayan yang lain? Aku ingin bicara."

"Tapi-"

"Ayolaaah."

Matanya melirik-lirik ke sekitar, Jinhwan hyung langsung mencegat seorang pelayan yang lain dan menyerahkan nampannya untuk dikirim ke mejaku.

"Junhoe-ya, hyung sedang bekerja!" bisiknya setengah marah-marah.

"Hyung benar-benar kerja di sini?!"

"Mmm," ia mengangguk, "part-time saja."

"Daebak!"

Entah kenapa aku tiba-tiba merasa bangga padanya, mungkin aku bisa belajar banyak dari Jinhwan hyung sebelum aku bisa memulai dunia pekerjaanku suatu saat.

"Mmm, Jinan hyung, kau beres kerja jam berapa?" tanyaku iseng-iseng berhadiah.

"Aku? Kenapa memangnya?"

"Jawab saja!"

"Aku masih harus kerja sampai pukul empat sore nanti."

"Ah! Oke!"

"Yak! Anak muda!" Jinhwan hyung menarik lengan bajuku. Jika saja aku tidak berkeringat dan bau, mungkin baju ini tidak akan kucuci seumur hidupku demi mengenang sentuhan pertama seorang Jinhwan hyung. "Kau terlihat mencurigakan."

"Hehe, sudah ya. Bubble teaku sudah datang." cepat-cepat aku kabur dari sana dan kembali ke meja di mana Jungkook dan Mingyu tengah menikmati minuman mereka masing-masing.

"Cepat sekali? Tidak jadi buang air besar? Yakin sudah bersih?"

"Tidak jadi, belum saatnya." aku duduk dan menikmati bubble teaku dengan senang hati.

"Wajahmu berbeda, Jun." kata Jungkook dengan matanya yang menyeramkan seraya mulutnya menyesap susu cokelat.

"Berbeda apanya? Aku masih tampan seperti biasanya kok."

Melihat Jinhwan hyung yang setiap kali mondar-mandir ke sana ke mari mengantar pesanan pelanggan, ditambah lagi seragam kerjanya yang berwarna hitam dan putih yang sangat pantas untuk dipakai oleh namja yang pendek seperti dia. Ketika Jungkook dan Mingyu sudah merasa bosan untuk berada di sini, aku malah semakin betah untuk menetap.

Hingga akhirnya... Jungkook dan Mingyu terpaksa meninggalkanku sendirian di sini karena mereka pikir aku ini keterlaluan.

Katakanlah aku sudah bertelur di cafe ini karena pantatku mulai panas. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, seharusnya Jinhwan hyung sudah beres dengan pekerjaannya.

"Hyung! Aku pulang dulu!" suara itu, aku mengenalnya dengan sangat baik. Jinhwan hyung berjalan dari arah bar menuju pintu keluar.

Eits! Tidak semudah itu. Dia harus melewati aku dulu sebelum dia berhasil keluar.

"Kau ini... kupikir kau sudah kelelahan duduk di sana." katanya sinis.

"Hehe, tidak dong!"

"Minggir! Aku mau pulang!"

"Eh! Eh! Tunggu!" aku menghambat langkahnya. "Pulanglah denganku!"

"Ne?"

"Pulanglah bersamaku! Aku kesepian nih, Jungkook dan Mingyu sudah pulang daritadi."

"Kenapa kau tidak ikut pulang?"

"Karena..." Jinhwannie hyung, tidakkah wajahku yang tampan ini cukup untuk menggodanya?

"Minggir!"

"Aniyo! Aku tidak akan minggir jika hyung tidak mau pulang bersamaku."

"Yak! Anak muda! Kau sakit, huh?"

"Aku sehat, dua ratus persen."

"Kalau begitu-"

Bosan untuk berdebat, aku menarik tangannya segera dan menculiknya ke mobilku. Harusnya aku mengantar Jungkook dan Mingyu pulang terlebih dahulu, tapi rasanya aku tidak rela untuk meninggalkan tempat ini, makanya aku mati-matian duduk di dalam dan menunggu Jinhwan hyung hingga dia selesai bekerja.

Bambam, jika dia ada di sini, dia pasti akan berteriak-teriak kegirangan karena aku berhasil mengantar Jinhwan hyung pulang.

.

.

.

.

"Jadi kau, yang namanya Do Kyungsoo itu?" tanya Mark kepada sosok arwah yang berdiri di belakang batu nisannya sendiri.

"Mau apa kalian datang ke mari?"

"Maaf kami mengganggu istirahatmu," Mark berdehem, "kami hanya membutuhkan petunjuk."

Hantu bernama Kyungsoo itu terdiam.

"Entah apa kau mengenalnya atau tidak, tapi sepertinya kau bisa melihat arwah lain di belakang kami."

"Hm," Kyungsoo memicingkan matanya ke arah Jackson, "tentu, aku mengenalnya."

"Tidak bisakah kalian bicara satu sama lain?" tanya Bambam.

"Tidak." Kyungsoo menjawab dengan sangat ringkas, sementara Mark, dirinya ingin segera pergi dari tempat itu karena terlalu banyak hal yang mengganggu pemandangannya.

"Baik. Kita to the point saja." kata Mark. "Arwah yang kau lihat di belakang kami ini... ia, sedang membutuhkan bantuan. Kami sedang mencari arwah yang bernama Kim Jiwon, kau tahu di mana dia sekarang?"

"Kalian..." Kyungsoo tertawa dengan sindiran, "kalian pikir kalian bisa semudah itu membuat hubungan secara langsung dengan arwah, huh?"

"Maka dari itu, kami meminta petunjuk." tambah Bambam.

"Baik, aku akan memberi petunjuk. Dengan syarat, jangan pernah datang ke sini lagi."

Mark dan Bambam membuka telinga mereka lebar-lebar dan menyimak.

"Datanglah ke stasiun Jincheon yang berada di Daegu, kalian akan memulai perjalanan kalian dari stasiun itu. Setelah Jincheon, ada sembilan stasiun yang harus kalian lewati untuk sampai di stasiun Sincheon. Di setiap stasiun, kalian akan bertemu dengan satu arwah yang akan membantu kalian untuk menemukan makam Jiwon. Katakanlah kesembilan arwah itu adalah nyawa untuk kalian, jadi jangan lewati setiap kesempatan untuk bertemu masing-masing dari mereka. Mengerti?"

"Bagaimana bisa kami mengetahui bahwa mereka adalah arwah?"

"Teman kalian yang pirang itu akan memberi tahu kalian."

"Baik, kami mengerti. Terima kasih atas bantuannya."

"Ingat! Jangan kembali lagi ke tempat ini. Tidakkah kalian sadar bahwa kalian hampir saja bunuh diri?!"

"Kami sadar." Mark meneguk salivanya dengan berat. "Kalau begitu kami pergi sekarang."

Tanpa berpikir, Mark meninggalkan tempat itu begitu saja, padahal ada Bambam di belakangnya, namun Mark kelihatan begitu tidak peduli dengan keberadaan Bambam di sana. Bambam masih berdiam di tempatnya dan berusaha untuk mengatakan sesuatu yang berguna, setidaknya ucapan terima kasih yang tulus.

"Terima kasih banyak atas bantuanmu, maaf juga jika kami mengganggu istirahatmu yang tenang." kata Bambam mencoba untuk percaya diri.

"Aku tidak akan pernah tenang, tapi terima kasih."

"Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi." Bambam berbalik badan lalu pergi meninggalkan makam yang hancur lebur, berantakan, tak terurus dan mengerikan itu. Di belakangnya, Jackson mengikuti.

"Hey! Anak muda!" sahut Kyungsoo. "Maaf tadi aku sempat mengagetkanmu."

"Tidak apa-apa, Jackson sudah pernah melakukan hal yang lebih parah." Bambam tertawa.

"Jackson adalah anak yang baik, tolong jaga dia."

"Ne."

Bambam berjalan kembali menuju mobil Mark, daritadi ia sudah kebingungan kemana perginya Mark, dia menghilang begitu saja, ternyata Mark sudah berada di dalam mobil, bersandar lemas di joknya.

"Mark hyung?" Bambam panik ketika keringat dingin bercucuran di wajah Mark. "Hyung!? Hyung tidak apa-apa?!"

"Aku... tidak apa-apa..."

"Aniyo, hyung jelas ada apa-apa." Bambam mengambil beberapa lembar tissue dari ranselnya dan menyeka wajah Mark dengan perlahan. Mendengar napas Mark yang menjadi seperti orang sekarat membuat keyakinan Bambam akan keberhasilan mereka menurun drastis.

"Di makam itu terlalu banyak arwah negatif dan mereka menghabiskan tenaga Mark hyung." jelas Jackson.

"Tapi.. bagaimana bisa.."

"Indera keenam yang Mark hyung miliki adalah indera yang sempurna, dia bisa melihat semuanya. Namun, semakin banyak hal yang dia lihat, semakin banyak pula energi yang dibutuhkan, apalagi arwah negatif. Mereka akan membuatmu sakit kepala."

"Hah... Bam..." panggil Mark.

"Ne, hyung?"

"Maaf ya, aku lemah jika sudah seperti ini."

"A-aniyo... hyung tidak lemah. Itu... hal yang wajar, kan?"

"Tapi hyung kan sudah berjanji untuk menjagamu. Bagaimana hyung bisa menjagamu jika hyung saja sudah seperti ini, hm?"

"Ih! Hyung jangan berkata seperti itu! Hyung pasti bisa kok." demi membuat Mark merasa lebih baik, Bambam menyuruh Mark untuk menghabiskan air minum yang ia bawa, setidaknya untuk mengganti cairan yang ada di dalam tubuh Mark karena keringat yang keluar luar biasa banyaknya. "Mungkin..." Bambam menggigit bibirnya dan menyesal karena sudah banyak berbicara, "mungkin hyung hanya rindu saja dengan Jiyeon nuna, makanya collapse seperti ini."

"Hihi, benar. Mungkin seharusnya aku menelpon Jiyeon." Mark tersenyum.

"Bamieee~~~" bisik Jackson, "kenapa kau mengingatkannya kepada Jiyeon, pabo!?"

"Aku harus bagaimana!?" balas Bambam. "Hyung sudah merasa baikan?"

"Sudah, tapi keringatku yang di sebelah sini belum kau bersihkan." Mark menunjuk rahangnya sekaligus menggoda Bambam dengan tatapan yang mematikan.

"UHUUUKKKK! Tenggorokanku masuk angin."

Dengan cepat, Mark meraih botol minum milik Bambam dan melemparnya ke kursi belakang dengan tujuan untuk menghajar Jackson. Sayangnya, Jackson tidak dapat disentuh oleh apapun.

"Mwoyaaa?!"

"Kau bicara macam-macam lagi, kita batalkan misi ini." Mark mengancam.

"Yak! Yak! Yak! Bam! Kau lihat sendiri kan Bam? Mark hyung itu orang yang sangat menyebalkan. Lihat betapa egoisnya dia."

"Ssshhh!" Mark menaruh tangannya di pipi Bambam untuk mengalihkan perhatian Bambam dari hantu yang cerewet bernama Jackson. "Jangan dengarkan dia! Ayo, lanjutkan! Kau belum beres dengan wajahku."

"Eh, ne..."

"Bam! Jadi kau membelanya?!" jerit Jackson.

"Hyung lapar? Sepertinya hyung butuh makanan untuk mengisi ulang energimu." kata Bambam, secara tidak langsung, ia juga tidak menghiraukan Jackson yang daritadi berteriak-teriak di belakang mereka.

"Kau bawa makanan? Boleh kita makan bersama?"

"Aku juga mau makan!"

"Hyung mau makan kue? Aku hanya punya makanan ringan."

"Apa saja. Bam, bisa kau bantu aku? Sepertinya tanganku terlalu lemas untuk makan sendiri saat ini."

"Terkutuklah kalian dua jiwa yang laknat. Aku juga mau kue!"

Sebelum melanjutkan perjalanan mereka untuk bertemu arwah yang lainnya, mungkin sedikit bersantai di tengah sempitnya waktu yang terus berlari akan membuat sisa hari mereka menjadi lebih baik. Siapa yang tahu, mungkin ini waktu bersantai mereka yang terakhir.

.

.

.

.

.

- To be continued -

Ini chapter ini bikinnya rada keburu-buru gitu makanya banyak adegan yang kepotong. Tapi mudah mudahan di chapter depan semuanya lebih jelas ya wkwk *hashtag author peler* Oh iya, sebelumnya, saya sebagai author ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Natal bagi readers yang merayakan :3 mana kado buat author kok belum nyampe? wkwk canda.

[PLEASE YANG INI DIBACA] Satu lagiii. Author mau laporan dulu nih sama kalian *aseek*. PLEASE DIBACA YE WKWK. Tadi author baca artikel gitu di salah satu fanbase, gausa sebut nama ye, trus di artikelnya ngebahas tentang penyalahgunaan boyxboy. Jadi kaya yaoi, ffnc yang pairingnya boyxboy tuh semacam penghinaan gitu buat imej artis itu sendiri. NAAAH walaupun author gapernah bikin ffnc yang castnya boyxboy, tapi author kan sadar diri yak kalo selama ini gue bikin ff pairingnya selalu boyxboy. Menurut kalian gimana? Author tetep lanjutin ff dengan cast boyxboy untuk selanjutnya apa nggak usah? Let's say, author nggak bikin ffnc nih atau yang rating nya 18+, ff romance unyu-unyu gitu tapi cast nya tetep boyxboy, menurut kalian kaya gitu tetep oke ngga? Atau author musti ganti genre boyxboy nya jadi straight?

Naaah sekarang author mau bilang makasiii buat reviewnyaa :3 kalian baik cekali :3 MarkBam moment nya masih belum banyak si emang, ntar yah sabar nunggu Mark sama Jiyeon putus dulu wkwk. Jangan lupa yang ini di review juga yaah siapa tau Mark Jiyeon putus WKWK. #Chapter5Rame #Chapter5MarkJiyeonPutus #Chapter5AuthorGakPelerLagi #SaveBambam