Title : Get Out

Writer : Nickey Jung Rae Suk

Rating : T

Cast : Kim JaeJoong (21) , Jung YunHo (21), Tiffany Hwang (20), yg lain nyusul.

Pairing : YunJae, YunFany (Hoeekkk)

Genre : YAOI, Bi, Mpreg, Hurt, Little bit Angst^^

Disclaimer : YunHo MILIK JaeJoong, JaeJoong MILIK YunHo, Cerita ini ASLI MILIK saya.

Lenght : 4 of 10

Warning : YAOI, BOY x BOY, Boys Love, Ide pasaran, EYD kacau, Judul ga sesuai dg cerita, No Majas, alur lambat-kadang cepet(?) TIDAK SUKA JANGAN BACA, NO BASH.

NP: -Get Out~JYJ from TVXQ
-Pergi saja~Geisha
#plakkk/ ga nyambung

Chapter 4

BRUKK

Yunho menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya, namja tampan itu mengurut keningnya. Beberapa saat lalu ia mencari tahu tentang penyebab jatuhnya Tiffany.

Sebenarnya Yunho juga masih tak percaya jika yang membuat Tiffany terjatuh itu Jaejoong, tapi semua bukti menunjukan jika kemungkinan Jaejoong lah pelakunya.

Ia menemui bagian pengawasan, dan karyawan yang bekerja di sana mengatakan kebetulan CCTV yang mengarah ke tempat jatuhnya Tiffany sedang dalam perbaikan, dan bukan hanya CCTV di sana saja, masih ada di beberapa tempat lain juga yang sedang diperbaiki.#padahal sebenarnya CCTV nya rusak dimakan author :D

Yunho yang mendengarnya sangat kesal, padahal menurutnya, hanya itu yang bisa menjadi bukti akurat. Ia menyalahkan kelalaian karyawannya dibagian itu.

Tak hanya itu, Yunho juga bertanya pada resepsionisyang kebetulan berada di sana. Namun mereka bilang tidak melihat dengan jelas kejadiannya. Selain saat itu masih pagi, dan belum banyak orang yang datang, hanya sebagian tamu di lobi, mereka sendiri juga sedang sibuk saat itu. Dan mereka hanya melihat jika sebelumnya Tiffany dan Jaejoong terlihat seperti sedang bertengkar. Hingga saat Tiffany jatuh barulah mereka sadar dan menghampiri istri GM nya itu. Sebenarnya mereka juga mengatakan jika ada satu orang lagi yang tergeletak tak jauh dari tempat Tiffany, tapi karena mereka terlalu mengkhawatirkan Tiffany, mereka tak tahu siapa orang itu.

"Siapa orang itu?" Gumam Yunho. Ia mengacak-acak rambutnya. Di satu sisi ia ingin mempercayai Jaejoong, tapi di sisi lain ia menaruh kecurigaannya pada namja cantik itu, karena yang Yunho tahu, Jaejoong sangatlah membenci Tiffany. #Appa suudzon -,-'

.
.

"Joesunghamnida Jaejoong-ssi, anda tidak boleh masuk." Cegah Soo Eun ketika Jaejoong hendak masuk ke dalam ruangan Yunho.

"Waeyo?" Bingung Jaejoong.

"Saya kurang tahu, tapi Yunho-ssi bilang anda tidak di bolehkan lagi masuk ke sana...Ah, ige..Yunho-ssi menitipkan ini." Ujar Soo Eun memberikan sebuah amplop pada Jaejoong.

Dengan ragu Jaejoong membuka amplop putih tersebut.

DEG

Tangan Jaejoong mengepal hampir meremas surat itu, rahangnya mengeras. Dengan segera ia berjalan masuk ke ruangan Yunho tanpa memperdulikan seruan Soo Eun.

BRAKK!

Jaejoong membuka pintu ruangan Yunho kasar. Ia menghampiri Yunho yang terlihat terkejut dengan kedatangannya.

"Joesungmamnida sajangnim, Jaejoong-ssi—" Ujar Soo Eun yang terpogoh di belakang Jaejoong.

"Gwaenchana, kau boleh kembali." sahut Yunho. Soo Eun kembali ke mejanya dengan perasaan cemas, karena ia tak pernah melihat keadaan ini sebelumnya, mengingat hubungan Yunho dan Jaejoong yang terlihat selalu mesra di matanya.

"Ige mwoya?" Jaejoong menunjukan surat yang tadi diterimanya dari sekretaris Yunho itu. "Kau memecatku?" Tanya jaejoong lagi. Yunho hanya menghela nafasnya.

"Ne, aku sudah menemukan penggantimu. Dia yang akan meneruskan pekerjaanmu." Jawab Yunho datar. Namja tampan itu berpura-pura membolak-balikan beberapa dokumen yang ada di mejanya. Sedangkan Jaejoong sendiri terdiam mendengarnya.

"Apa kau sungguh tak ingin mendengar penjelasanku dulu? kau menghakimiku seolah aku yang bersalah. Padahal Demi Tuhan aku tak tahu apa-apa Yun-ah..." Lirih Jaejoong. Yunho yang mendengarnya menghentikan kegiatannya. Namja tampan itu menatap Jaejoong.

"Baiklah, aku akan mendengarkan penjelasanmu...marebwa..!" Suruh Yunho akhirnya, ia juga sangat ingin mendengar detail kejadianya.

Sebenarnya Yunho bisa saja menanyakan langsung pada Tiffany, tapi mengingat keadaan Tiffany sekarang, Yunho tak ingin membebani pikiran yeoja yang masih sah sebagai istrinya itu. Dan ia harap Jaejoong tak akan berbohong.

"Aku...aku sungguh tak tahu apa yang terjadi pada Tiffany..dia tiba-tiba datang dan memberikanku foto-foto kita..."

.
.

Sementara itu di ruang rawat Tiffany, Nyonya Jung sedang membujuk Tiffany makan. Sejak kejadian itu dan penjelasan Dokter tentang keadaanya-bahwa Tiffany tak akan bisa mengandung lagi- kejiwaan Tiffany terganggu. Kadang tiba-tiba saja ia tertawa, kadang ia juga menangis tiba-tiba, Nyonya Jung yang melihatnya sangat sedih. Ia memang tidak menyalahkan Jaejoong, tapi jujur ia juga kecewa pada namja cantik itu. Ia pikir, kalau saja Yunho dan Jaejoong tak melakukan hubungan terlarang itu, mungkin sekarang ia bisa melihat menantunya itu bahagia bersama anaknya.

Nyonya Jung menghela nafas, ia menyimpan mangkuk bubur itu di nakas. Sangat sulit membujuk menantunya itu, dan ia bisa mengerti memang. Siapa yang tidak terpuruk jika kita kehilangan anak yang bahkan belum sempat melihat wajahnya, di tambah dengan kenyataan bahwa kita tak bisa mengandung lagi, padahal mempunyai anak yang lahir dari rahim sendiri adalah dambaan setiap perempuan, karena dengan begitu mereka merasa sempurna sebagai seorang wanita.

.
.

Yunho terdiam menatap Jaejoong. Beberapa saat lalu namja cantik itu menjelaskan kronologis kejadiannya.

"Kau sangat pandai berbohong Jae."

DEG

"Nde?"

"Kau pikir aku percaya ucapanmu eoh?" Namja tampan itu menghela nafasnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, dan melipat tangannya di dada. "Kau bilang Tiffany menarik tanganmu sampai kau terjatuh. Tapi kenapa dia juga bisa terjatuh? Kau pikir Tiffany gila untuk menjatuhkan dirinya hingga mengorbankan anaknya?" Desis Yunho.

"Aku...Bukannya sudah kubilang aku tidak tahu apa-apa, saat itu aku langsung tak sadar." sanggah Jaejoong.

"Kau pasti mendorong Tiffany, dan karena tubuhmu tak seimbang kau juga ikut terjatuh, iya 'kan?" Tuduh Yunho sarkastik.

"MWO? Kau?"

"Sudahlah Jae...aku tak mau mendengarnya lagi. Geokjeongma, aku tak akan melaporkanmu pada Polisi, kau boleh pergi, aku akan segera mengirim surat cerai itu." Suruh Yunho. Ia kembali membuka dokumen yang ada di mejanya. #jedotin appa k tembok ,

Jaejoong mematung mendengar ucapan Yunho. Matanya memanas, Yunho suaminya tak mempercayainya? bahkan dengan tega menuduhnya.

TES

Butiran bening itu akhirnya terjatuh juga, padahal Jaejoong sekuat hati menahannya, karena ia tak ingin terlihat lemah di mata namja tampan itu. Dengan kasar Jaejoong menghapus air matanya. Cukup sudah ia mendengar ucapan kejam Yunho yang menyayat hatinya.

"Jung Yunho...Aku pikir kau akan mempercayaiku tapi...kau menuduhku?" Ucap Jaejoong sambil menahan tangisnya. Bibirnya bergetar, matanya memerah. "Dan kau sungguh ingin menceraikanku? Apa karena Ibumu?"

Yunho mendongkakkan kepalanya menatap Jaejoong. Terbesit rasa sesal di hatinya saat melihat mata indah Jaejoong yang berkaca-kaca.

"Aku tahu, Jung Umma...menyuruh kita bercerai aniya? Apa karena itu kau ingin menceraikanku?" Tanya Jaejoong menatap dalam mata Yunho. Ia tahu Nyonya Jung menyuruh Yunho menceraikannya, karena setelah Nyonya Jung meminta Yunho menceraikan Jaejoong. Yeoja paruh baya yang sudah dianggap ibu oleh Jaejoong itu pun, tanpa sepengetahuan Yunho mendatangi Jaejoong, bahkan Nyonya Jung sampai berlutut meminta Jaejoong agar melepaskan Yunho.

"Ibuku benar, hubungan kita memang salah.. Tak seharusnya kita bersama." Jawab Yunho masih dengan mimik datar.

Jaejoong terhenyak, bukankah secara tidak langsung Yunho menyesali hubungannya dengan dirinya?

Di tatapnya mata musang Yunho dalam. Mata yang dulu selalu melihatnya dengan penuh cinta sekarang tak terlihat lagi, bibir hati yang selalu mengucapkan kata-kata cinta dan rayuan gombal, sekarang dengan mudahnya melontarkan tuduhan dan mengucapkan kata-kata yang membuat hatinya sakit bagai tertusuk ribuan pisau.

"Ha-ha-ha...hahhh..." Jaejoong tertawa hambar. "Semudah itukah? Lalu...kau anggap apa sembilan tahun kebersamaan kita? Kenapa sekarang kau baru menyadarinya kalau hubungan kita salah?" Tanya Jaejoong sendu.

Yunho yang mendengarnya hanya terdiam.

"Lalu...untuk apa dulu kau memintaku tetap di sisimu? Untuk apa kau memintaku bersabar menunggu perceraianmu dengan Tiffany? Untuk apa kau menikahiku? Dan untuk apa kau mencintaiku? Atau memang sejak dulu kau tak pernah mencintaiku? JAWAB AKU JUNG YUNHO!" Teriak Jaejoong kesal mengeluarkan isi hatinya. "Wae...?" Imbuhnya lirih. Air matanya kembali jatuh.

Yunho hanya terpaku mendengarnya. Bibirnya seolah terkunci, Ia tak bisa menjawab pertanyaan Jaejoong satupun, karena sebenarnya ia pun masih bingung dengan perasaanya sendiri.

Jaejoong kembali menghapus air matanya dengan kasar.

"Geurae..aku setuju bercerai denganmu, hajiman.." Jaejoong menarik nafasnya. "Kau jangan pernah menyesalinya nanti, karena aku...aku tak akan pernah memaafkanmu." Desis Jaejoong tajam. Matanya merah menahan tangis dan amarah. "Di sini..." Jaejoong mengepalkan tangan menepuk dadanya. "Terlalu sakit."

"..."

"Selamat tinggal Jung Yunho..terimakasih untuk luka yang kau berikan. Semoga kau bahagia, walau aku tak yakin kau akan bahagia." Ucap Jaejoong meremehkan. Ia membalikan tubuhnya hendak pergi "Aku membencimu, sangat." Imbuhnya sinis dan berlalu dari hadapan Yunho.

BLAM!

Bunyi pintu tertutup menyadarkan Yunho yang terpaku karena ucapan yang dilontarkan Jaejoong kepadanya. Ia tahu Jaejoong tak pernah main-main dengan ucapannya. Terlihat dari tatapan mata bulatnya yang memancarkan dendam.

Sebenarnya Yunho sendiri tak percaya dengan apa yang ia ucapan pada Jaejoong, entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Yunho tak tahu apakah keputusan yang ia ambil salah atau benar. Karena ia sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berharap inilah yang terbaik untuk semuanya. Biarlah Jaejoong membencinya.

Yunho teringat kembali ucapan ibunya kemarin.

["Kau lihat, kalau saja kau tak mengkhianati Tiffany, pasti anakmu lahir dengan selamat Yun..dan pasti Tiffany tak akan seperti ini."

"Sekarang tebuslah semuanya. Ceraikan Jaejoong..Tetaplah di sisi Tiffany, Umma tahu, kau anak yang bertanggung jawab."

"Bahagiakan Tiffany, dia sudah tak punya siapa-siapa lagi selain kita Yun...dia juga sudah tak bisa lagi mempunyai anak, jika kau menceraikannya, Umma tak yakin akan ada orang yang mau menikahinya dengan kekurangan dia. Dia istrimu sekarang dan dia sangat mencintaimu. Minta maaflah padanya, dan kau tak boleh menyakitinya lagi, Umma mohon..."]

"Aaarrgghhhh..."Teriak Yunho frustasi seraya menjatuhkan barang-barang yang ada di mejanya. Ucapan Nyonya Jung selalu terngiang di telinganya. Yunho menelungkupkan wajahnya di atas meja kerjanya. "Mainhae..." Ucapnya lirih entah pada siapa.

.
.

Jaejoong duduk di tepi tempat tidur. Tempat tidurnya dengan Yunho, tempat yang menjadi saksi cintanya ketika tengah bergumul menyatukan rasa cinta mereka.

Cinta? Apakah itu bisa disebut dengan cinta? Atau mungkin hanya nafsu? Mengingat perkataan Yunho beberapa jam lalu. Mungkin saja Yunho memang tak pernah mencintainya bukan?

Jaejoong merebahkan tubuh lelahnya di kasur, aroma tubuh Yunho masih tercium oleh hidungnya. Sejenak ia merasa nyaman, tapi hatinya kembali sakit tatkala teringat perkataan Yunho yang membuat dadanya sesak.

Jaejoong merogoh kertas yang sudah lusuh dari saku celananya. Surat hasil pemeriksaanya, Selembar surat yang awalnya ingin ia tunjukan pada Yunho di Hotel tadi, tapi ia mengurungkannya. Jaejoong tak sudi jika Yunho sampai tahu ia sedang mengandung anaknya, setelah apa yang namja tampan itu lakukan padanya.

["Selamat Jaejoong-ssi, anda sedang mengandung. Usia kandungan anda empat minngu."]

["Sebenarnya saya sangat khawatir mendengar anda terjatuh dari tangga, tapi untunglah kandungan anda cukup kuat, tapi anda juga harus tetap menjaga kandungan anda, jangan sampai anda terjatuh untuk kedua kalinya, karena itu sangat berbahaya, mengingat anda seorang namja, dan berbeda pada kehamilan pada umumnya. Tapi saya percaya anda bisa menjaganya."]

Perkataan dokter yang memeriksanya masih terngiang di telinganya. Jaejoong mengelus lembut perutnya yang masih rata. Sungguh ia tidak menyangka akan diberi keistimewaan oleh Tuhan. Tapi dengan senang hati ia akan menerimanya, walaupun mungkin kehamilannya akan menghambat kegiatannya sebagai seorang namja.

Tapi Jaejoong sangat bahagia, walaupun ia sangat membenci orang yang menanamkan benih di rahimnya. Namun ia tak akan membenci anaknya, ia akan menjaganya sampai bayi itu lahir.

Yah... Jaejoong sudah menetapkan hatinya untuk membenci seorang Jung Yunho. Namja yang dulu pernah ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya.

~*YunJae Is Real*~

Semenjak kejadian yang membuat Jaejoong membencinya. Yunho tak pernah bertemu lagi dengan namja cantik itu. Jaejoong menghilang begitu saja tanpa ada yang tahu keberadaannya sekarang.

Beberapa kali Yunho datang ke apartemennya bersama Jaejoong dulu, tapi ia tak pernah menemukan Jaejoong.

Menyesal? ada sedikit perasaan itu muncul di hatinya, apalagi ketika teringat airmata yang mengalir dari mata indah Jaejoong saat itu. Mata yang dulu tak pernah ia biarakan mengeluarkan air mata seperti janjinya. Janjinya yang akan membahagiakan Jaejoong dan tak akan pernah membiarkan Jaejoong menangis, kecuali tangisan bahagia tentunya.

Buru-buru ditepisnya perasaan itu, tekadnya sudah bulat, ia harus melupakan Jaejoong dan sebisa mungkin membahagiakan Tiffany, sesuai janjinya pada sang Ibu.

Tiffany sendiri keadaanya masih belum ada perubahan. Ia masih di Rumah sakit atas saran dari dokter yang menanganinya, karena mereka takut Tiffany akan melakukan hal yang tidak diinginkan seperti sebelumnya, yeoja itu berniat bunuh diri dengan melompat dari atap bangunan Rumah sakit, kalau saja saat itu Yunho tak cepat datang menggagalkan usahanya.

~*Tong Vfang Xien Qi*~

Delapan Bulan Kemudian

"Kapan kalian akan berangkat ke Jepang?" Tanya Tuan Jung sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.

Saat ini Yunho dan Tiffany sedang makan malam dengan Tuan dan Nyonya Jung. Setelah tujuh bulan Tiffany mendapatkan perawatan intensif, kondisi kejiwaannya sudah mulai membaik. Yeoja itu sudah bisa menerima takdirnya, mungkin karena Yunho selalu men-suportnya, dan selalu berada di sisinya.

"Mungkin minggu depan Appa." Jawab Yunho setelah meneguk minumnya.

"Berapa lama kalian akan di sana? Pasti Umma akan merasa kesepian..." Ujar Nyonya Jung sedih.

"Umma tak perlu bersedih, kita tak akan selamanya di sana, aku hanya ingin suasana baru untuk sementara. Aku ingin melupakan kejadian pahit di sini." terang Tiffany menjawab kegelisahan ibu mertuanya.

Nyonya Jung hanya tersenyum mendengarnya. Ia mengerti, mungkin kepindahan Yunho dan Tiffany ke Jepang bisa membuat menantunya itu benar-benar kembali menjadi sosok Tiffany yang seperti dulu. Semoga saja, harapnya.

Sementara itu Jaejoong sedang memandang pantulan dirinya di cermin. Ia mengelus Perut buncitnya yang semakin terlihat. Jaejoong terkikik geli melihat penampilannya. Baju hamil selutut warna pink yang di pakainya serta rambut panjang sebahunya yang diikat, semakin membuat dirinya terlihat seperti seorang wanita. Tentu saja karena wajahnya yang cantik melebihi kecantikan para yeoja itu.

Semenjak hamil Jaejoong memang sengaja tak memotong rambutnya, karena ia pikir akan lebih mudah berpura-pura menjadi seorang yeoja dengan rambut panjang, mengingat kehamilan pada pria masih terlalu aneh, apalagi di lingkungan tempat tinggalnya sekarang, Jaejoong lebih di kenal dengan sosok yeoja hamil yang di tinggal suaminya karena meninggal. #kesian deh Babe ga di anggap :DD

Jaejoong masih tinggal di kota Seoul, tapi sedikit lebih jauh dari kota Seoul. Sebenarnya ia bisa saja pergi jauh, karena Ia memang tak ingin bertatap muka lagi dengan Yunho. Namun ia yakin Yunho tak akan mencarinya. Dan Jaejoong sendiri memang tak ingin pergi meninggalkan tempat kelahirannya yang sudah banyak memberikan kenangan hidup untuknya itu.

Jaejoong bersiap akan berangkat kerumah sakit. Besok adalah waktunya ia melahirkan, tentunya lewat Operasi Sesar. Dokter yang dulu pertama kali memeriksanya, kini menjadi dokter yang menanganinya. Dokter itu bilang bahwa besok adalah tanggal perkiraan kelahiran anaknya.

Selama seminggu ini Jaejoong memang sering merasakan mulas di perutnya, tapi itu tak seberapa, dan hari ini ia memutuskan berangkat ke Rumah sakit, untuk mempersiapkan proses kelahiran anaknya besok.

Dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya, Jaejoong terus melangkahkan kakinya. Setelah ia keluar dari taxi yang mengantarnya, Jaejoong melangkahkan kakinya untuk memasuki lobi Rumah sakit.

Tapi saat baru beberapa langkah, sesorang mengambil tas yang di peganggnya. Dan dengan cepeat orang itu berlari hendak menyebrang jalan, padahal mobil masih berseliweran.

Jaejoong yang sadar jika tas nya telah dicuri bersiap lari untuk mengajar orang itu. Pasalnya banyak barang berharga di sana selain pakaian ganti dan pakaian calon bayinya, di tas itu juga terdapat ponsel dan dompet serta kebutuhan Jaejoong lainya selama ia berada di Rumah sakit nanti.

"PENCURI..!" teriak Jaejoong sambil berusaha berlari, ia tak mempedulikan perutnya yang besar.

Jaejoong hendak menyebrang jalan menyusul pencuri itu. Orang-orang yang mendengar teriakannya pun berusaha menangkap pencuri itu. Tapi sayang pencuri itu lebih gesit.

Tanpa melihat kiri-kanan dan lampu penyebrangan yang masih berwarna merah, Jaejoong menyebrang, namun tanpa diduga mobil dengan kecepatan tinggi melaju cepat ke arahnya.

Jaejoong yang masih berada di tengah jalan menengok ke arah mobil tersebut. Jaejoong terpaku, bayangan kebersamaannya yang penuh kebahagiaan dengan Yunho dulu, pertengkarannya dengan Tiffany yang berakhir dengan kebenciannya pada Yunho, keterangan Dokter yang menyatakan bahwa ia hamil, keseharian menjalani kehidupannya merawat kehamilannya tanpa Yunho berputar bagaikan sebuah film.

a/n : Bayangin aja ky MV In Heaven pas Jihyo mo ketabrak ya

Perlahan Jaejoong memejamkan matanya, ia sudah siap jika harus pulang pada-Nya sekarang.

BRAKKK!

TBC

Makasih yg udah ninggalin jejaknya di chap kemarin, maaf blm bisa bales reviewnya *Bow*

Review lg yah...^^

YUNJAE IS REAL...!
Always Keep The Faith...^^