Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Title : With All My Heart

Genre : Romance, Angst

Rate : T

Pairing : NaruSaku slight SasuKarin, dll.

Inspirated : Untuk quote dan plot chapter kali ini, Muki terinspirasi dari lagu 'Fool' (Juniel feat Jung Yong Hwa) Semoga suka! ^^

Warning : OOC, AU, gaje, abal, ancur, minim deskriptif, typo(s), dll.

Summary : "Bukankah aku bodoh, niisan? Aku hanyalah orang yang selalu melihatnya seperti orang idiot. Tidak peduli orang-orang mengusik kehidupanku, aku hanya akan memandang dia seorang. Aku ingin dia menggenggam tanganku, memberiku sebuah pelukan, lalu menciumku. Apa aku salah, niisan?"

"Kau tidak salah, seperti yang kau katakan tadi...kau hanyalah bodoh. Si Naruto itu juga sama saja, kalian berdua benar-benar bodoh!" ujar Sasori yang sukses membuat urat-urat kemarahan di dahi Sakura bermunculan.

Chapter 4 : Fool

I know, how you feel about me. I'm an idiot. I'm an idiot who only sees you. I love you. Even if someone says or teases me. I will only look at you, like a fool. Hold my hand. Give me a hug. I'm an idiot who only loves you—Sakura Haruno—

oooOOcherrybloossomOOooo

Previous Chapter :

Para pemusik itu sudah membubarkan diri. Para pengunjung cafe juga sudah kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda tadi. Sakura masih tersenyum sambil menghadap ke arah para pengunjung. Sementara Naruto masih terus menekan dada kirinya dengan tangan kanannya. Rasanya sakit sekali. Naruto merasa ia sudah tidak sanggup bertahan lebih lama lagi.

'Uhuk...uhuk...uhuk!' Naruto mulai terbatuk-batuk pelan,

"Naruto, ada apa?"

Naruto mendengar suara seseorang memanggil namanya, tetapi ia tidak mau mengarahkan pandangannya pada sosok orang yang memanggilnya. Ia masih terus membelakangi Sakura. Di tekannya semakin kuat dada kirinya yang sakit dengan tangan kanannya, berharap rasa sakit itu akan hilang atau setidaknya berkurang...tetapi dadanya tetap terasa sangat sakit. Naruto terus berusaha menahan rasa sakitnya. Ia tidak ingin Sakura mengetahuinya. Tubuhnya semakin tertunduk, tangan kanannya terus meremas dadanya yang sakit sementara tangan kirinya memegang pinggiran grand piano, berusaha menopang tubuhnya yang terasa semakin lemah.

'Uhuk! Uhuk! Uhuk...OHOK!' batuknya semakin menjadi hingga akhirnya darah segar tiba-tiba keluar beriringan dari batuknya.

'Apa ini?' batin Naruto sambil memandang cairan kental berwarna merah pekat itu dengan tangan gemetar, tentu saja Naruto sangat shock karena ini pertama kalinya ia muntah darah.

"Naruto, kau kenapa sih?" tanya Sakura bingung karena tiba-tiba Naruto bersikap aneh dengan terus memunggunginya.

"Aku...ti-tidak kenapa-kenapa Sa...Sakura-chan!" jawab Naruto terbata-bata karena menahan rasa sakit yang semakin menjadi.

"Jangan-jangan..." Sakura menghampiri Naruto dan duduk di tempatnya tadi, tetapi Naruto malah langsung berdiri dan terus menghindari kontak langsung dengannya.

"Naruto, apa dadamu terasa sakit lagi?"

"Aku baik-baik saja, Sakura-chan."

"Biar kulihat keadaanmu!" kata Sakura, ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan segera beralih ke sebelah kanan Naruto, tapi dengan segera juga Naruto buru-buru membalikkan tubuhnya ke sebelah kiri, kembali membelakangi Sakura.

"Baka! Biar aku lihat keadaanmu!"

"Sudah kubilang aku baik-baik saja, kan?"

"Tidak, aku tidak percaya sebelum kau membiarkanku melihatmu!" kata Sakura yang mulai cemas dengan keadaan Naruto.

Naruto lekas menghapus noda darah di sekitar mulutnya serta di kedua tangan dan sela-sela jarinya hingga bersih dengan saputangan yang kebetulan ia bawa, tadinya Naruto sengaja membawa saputangan itu untuk menghapus keringat di wajahnya jika penyakitnya kambuh tiba-tiba.

"Baiklah..." kata Naruto seraya kembali membalikkan tubuhnya menghadap Sakura yang sekarang berada di sebelah kanannya, setelah memasukan sapu tangan itu ke dalam saku jaketnya.

"Sekarang kau sudah lihat kan? Aku baik-baik saja!" katanya lagi sambil berusaha berekspresi kalau ia baik-baik saja,

"Baka! Wajahmu sangat pucat dan penuh dengan keringat dingin!" kata Sakura semakin cemas,

"..."

"Naruto, kita kembali ke Rumah Sakit saja ya?"

"Tidak, aku sudah sembuh. Jadi untuk apa ke Rumah Sakit lagi?"

"Baka! Rasanya aku ingin sekali memukul kepalamu!" teriak Sakura yang mulai hilang kesabarannya,

"Sakura-chan, aku benar-benar tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah saja, hanya perlu istirahat sebentar..."

"Kau yakin?" tanya Sakura yang hanya dijawab Naruto dengan anggukan kepala.

"Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang dan kali ini biar aku yang menyetir!" tambahnya lagi sambil menarik tangan Naruto dan memegangnya, bermaksud untuk menuntunnya berjalan.

Naruto memandang Sakura selama sekian detik. Dilihatnya tangan Sakura yang sedang mengenggam tangannya.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri..." kata Naruto melepaskan tangan Sakura yang sedang mengenggam erat tangannya sambil tersenyum, senyum yang sedikit dipaksakan karena dia masih berusaha menahan sakit di dada kirinya.

Naruto pun berjalan dengan gontai, sementara Sakura mengikuti di sampingnya sambil terus memandanginya dengan cemas.

'Kami-sama, aku mohon jangan sekarang. Jangan di tempat ini, jangan di depan Sakura-chan...aku mohon berikan aku sedikit kekuatan untuk bertahan!' batin Naruto sambil kembali memegangi dada kirinya. Baru beberapa langkah Naruto berjalan, tiba-tiba saja tubuhnya limbung...

"Baka!" maki seseorang yang langsung menghampiri Naruto dan menahan tubuh itu agar tidak sampai terjatuh ke lantai,

"Gaa...Gaara, ke-kenapa kau bisa ada di si..."

"Narutooo!" teriak Sakura yang melihat Naruto tiba-tiba tidak sadarkan diri dalam pelukan Gaara.

"Baka! Untung saja Kushina-basan memintaku untuk mengikuti kalian diam-diam,"

"Naruto..." lirih Sakura dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya,

"Kita bawa dia ke Rumah Sakit," ucap Gaara yang langsung menggendong Naruto bridal style, membuat Sakura melongo di buatnya.

"Sakura-san, jangan hanya diam saja di situ!" perintah Gaara, dan Sakura pun langsung mengikutinya dengan tergesa-gesa.

"Gaara-sama, memang dia tidak berat ya?" tanya Sakura polos,

"Berat? Yang benar saja, justru tubuhnya begitu ringan."

"Hah? Apa?" tanya Sakura masih nampak kebingungan.

oooOOcherrybloossomOOooo

"Naruto..." kata Sakura pelan sambil menatap Naruto yang lagi-lagi terbaring lemah di atas ranjang Rumah Sakit.

Sakura duduk di samping ranjang Naruto, dilihatnya Naruto masih memejamkan matanya, padahal hari ini adalah hari ketiga setelah kejadian di cafe tempo hari. Apa Naruto belum juga siuman hingga hari ini ataukah dia sedang tidur?

"Sakura-chan, kau di sini?" tanya Naruto, suaranya terdengar sangat lemah dan matanya masih terpejam.

"Apakah aku membangunkanmu?"

"Tidak, aku tidak tidur..." Naruto pun membuka matanya, menoleh ke sebelah kanan, di mana Sakura sedang duduk dan memandangnya dengan tatapan cemas.

"Gomen, aku selalu membuatmu cemas Sakura-chan..." tambahnya masih dengan suara yang terdengar sangat lemah di telinga Sakura.

Sakura menggelengkan kepalanya dan berkata,

"Tidak perlu minta maaf, bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah baikan?"

"Mmm," jawab Naruto pelan, suaranya bahkan nyaris tak terdengar.

"Naruto berjanjilah padaku, kau tidak akan berpura-pura tidak kenapa-kenapa lagi di depanku, berjanjilah kau tidak akan membohongiku tentang kondisimu yang sebenarnya...kau bisa kan?" kata Sakura sambil mengacungkan kelingking kanannya ke arah Naruto.

Naruto hanya terdiam sambil menatap Sakura, kemudian menatap kelingking Sakura yang teracung ke arahnya...

"Ayo, kaitkan kelingkingmu dan berjanjilah padaku!" pinta Sakura dengan serius yang justru di jawab Naruto dengan gelengan kepala.

"Jangan seperti ini, baka!" katanya lagi, raut wajahnya menunjukan rasa kesal dan kekecewaan.

'Keadaanmu semakin lemah, gaki. Kondisi jantungmu semakin memburuk...' Naruto tiba-tiba teringat perkataan neneknya kemarin,

'Aku dan tim dokter di sini akan berusaha semaksimal mungkin, tapi orang tuamu juga harus bersiap untuk kemungkinan terburuknya. Gaki, yang kau butuhkan sekarang bukan hanya perawatan serta obat-obatan tetapi kau juga sudah sangat membutuhkan jantung yang baru. Sulit sekali mencari pendonor untukmu...'

'Gomennasai,' Naruto bahkan masih ingat kalau saat itu, ia dapat melihat neneknya menggelengkan kepalanya dengan lemah sambil memandang ke arahnya dengan ekspresi penyesalan dan rasa sedih yang menjadi satu.

"Gomen, Sakura-chan."

"Doushite?"

"Aku hanya tidak ingin membebanimu dengan keadaanku yang seperti ini."

"Baka, aku sama sekali tidak merasa dibebani olehmu? Apa kau tau, betapa takut dan cemasnya aku melihat keadaanmu tiga hari yang lalu?"

"Gomen, Sakura-chan. Gomennasai."

"Jangan terus meminta maaf padaku, baka! Berjanjilah kau tidak akan bersikap seperti itu lagi...biarkan aku tahu keadaanmu yang sebenarnya!" kata Sakura lagi sambil kembali mengacungkan kelingkingnya ke arah Naruto.

Naruto kembali terdiam sambil menatap kelingking Sakura. Ia kemudian menatap Sakura dan dengan perlahan mengangkat tangan kanannya yang masih lemah ke arah kelingking Sakura teracung.

Sakura tersenyum senang saat dilihatnya Naruto menggerakkan tangannya, berpikir bahwa Naruto akan mengaitkan kelingkingnya untuk menyatakan janjinya...tapi ternyata Naruto tidak melakukannya. Tangan Naruto yang lemah justru mengenggam kelima jemari Sakura.

"Arigatou Sakura-chan, sudah memperhatikan keadaanku..." kata Naruto lirih sambil mengenggam tangan Sakura. Sakura pun membalas genggaman itu dengan tangannya yang lain.

"Baiklah..." kata Sakura yang akhirnya berhenti memaksa Naruto untuk berjanji padanya,

"Istirahatlah, supaya kau cepat pulih...aku ingin melihat dan mendengarmu bernyanyi lagi!" tambah Sakura sambil tersenyum pada Naruto yang di balas Naruto dengan senyuman kecil di wajahnya yang pucat.

"Minggu depan hari ulang tahun sekolah kita, kira-kira saat itu kau sudah di perbolehkan untuk pulang atau belum ya? Bukannya Shinobi band akan mengisi acara?"

"Tentu saja, Sakura-chan. Tsunade-baasan sudah mengijinkanku untuk pulang sebelum hari 'H', kok! Hanya saja dia bilang, aku tidak boleh menyanyi lagi!"

"Nani?"

"Ya, Sakura-chan. Obaasan bilang, saat hari 'H' nanti aku boleh menyanyi tapi itu yang terakhir. Setelah itu aku harus keluar dari Shinobi band,"

"Naruto..." panggil Sakura lirih, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

"Tidak apa-apa Sakura-chan, toh aku memang sudah tidak sanggup lagi. Makanya minggu depan aku akan melakukan yang terbaik."

"...tapi Naruto..."

"Tsunade-baasan hanya menyuruhku keluar dari Shinobi band, dan dia masih memperbolehkanku untuk sekolah dan berteman dengan mereka. Kau jangan sedih Sakura-chan, aku masih akan tetap menciptakan lagu-lagu untuk mereka, kok."

"Siapa yang sedih...yang seharusnya sedih itu kan kau, bukan aku!" ujar Sakura di sela-sela isak tangisnya.

"Kalau begitu kenapa kau menangis?"

"Aku menangis karena kau bilang, sudah tidak sanggup lagi. Aku tidak mau tau, pokoknya kau harus sembuh, titik!"

Naruto hanya tertawa kecil, sementara Sakura terlihat semakin kesal.

"Aku juga ingin Sakura-chan, tapi apa itu mungkin?"

"Kenapa tidak mungkin?"

"...karena saat ini dia sudah sangat membutuhkan jantung yang baru," jawab Karin yang tiba-tiba saja datang dengan kondisi kacau, matanya terlihat bengkak dan sembab. Di sampingnya ada Sasuke yang tengah mengenggam erat tangan kanan Karin.

"Nee-chan?"

"Sudahlah, tidak usah kau sembunyikan apapun lagi dari Sakura! Bukankah kalian sudah menjadi sepasang kekasih? Tidak seharusnya kau menyembunyikan sesuatu dari pacarmu, kan?" ucap Karin dengan nada ketus.

"Apa itu benar Naruto?"

"Sakura-chan..."

"KENAPA KAU TIDAK BILANG?" teriak Sakura yang lantas pergi dari ruangan itu sambil menangis.

'Blam!'

Naruto terus menatap pintu, memandang kepergian Sakura yang telah menghilang di balik pintu. Sasuke hanya diam karena tidak ingin ikut campur. Karin melepaskan genggaman tangan Sasuke, lalu menghampiri Naruto hingga jarak mereka semakin dekat.

"Apa yang kau lakukan, nee-chan?"

"Aku melakukan ini karena aku sadar kalau penyakitmu semakin parah gara-gara dia, coba kalau dia tidak hadir dalam kehidupanmu, keadaanmu pasti tidak akan separah ini Naruto? Itulah sebabnya aku membencinya!"

"Ini tidak ada hubungannya dengan Sakura-chan, kenapa kau jahat sekali?"

"TENTU SAJA ADA HUBUNGANNYA! SUDAHLAH, BIAR SAJA DIA PERGI, DAN KAU LUPAKAN DIA!"

"Nee-chan!" Naruto mulai kalap, ia bangkit dari posisi berbaringnya dan menarik kerah baju Karin, sementara Karin tidak melakukan perlawanan apapun.

"Lepaskan tanganmu itu, dobe!" perintah Sasuke sambil memandang Naruto dengan tatapan tajam, ia tidak rela kekasihnya di sakiti...terlebih saat ini dia-lah yang paling memahami perasaan Karin.

"Doushite? Kau marah karena aku membuatnya menangis?" tanya Karin dengan mata berkaca-kaca.

Naruto melepaskan cengkraman tangannya dan kembali berbaring,

"Gomen. Nee-chan, teme, bisakah kalian meninggalkanku sendiri? Aku ingin istirahat!" ujar Naruto dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Naru, apa kau baik-baik saja?" tanya Karin cemas,

"Pergilah!" sambung Naruto pula, Karin yang semakin cemas pun segera pergi untuk memanggil neneknya diikuti Sasuke di belakangnya.

oooOOcherrybloossomOOooo

Sakura terus berlari sambil menangis, hingga akhirnya ia tiba di tepi danau yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit. Ia benar-benar kecewa, marah, sekaligus sedih karena Naruto tidak pernah mau berterus terang padanya. Ia benar-benar ingin lebih dekat dengan Naruto. Ia ingin Naruto selalu bersikap terbuka padanya. Karin benar, tidak seharusnya Naruto menyembunyikan sesuatu darinya.

"Cherry!" terdengar seseorang memanggilnya dari belakang, Sakura pun membulatkan matanya tak percaya. Orang yang selalu memanggilnya dengan nama itu hanya satu orang, dan orang itu satu agency dengannya. Orang yang kerap kali terlibat skandal dengannya. Orang yang selalu di gosipkan sebagai kekasihnya. Orang yang merupakan gitaris utama Akatsuki band.

oooOOcherrybloossomOOooo

"Sasori-nii?"

Sakura masih memandang Sasori dengan tatapan tak percaya. Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa pemuda di hadapannya ini bisa menemukannya?

"Bagaimana mungkin kau..." Sakura mulai terlihat panik dan ketakutan, Ia mengalihkan pandangannya ke setiap penjuru.

"Cherry, aku hanya sendirian!" ucap Sasori yang sukses membuat kegelisahan Sakura lenyap.

Sasori menghampiri Sakura, gadis itu nampak begitu kacau. Mukanya sedikit pucat dan penuh dengan air mata. Sasori pun langsung merengkuh Sakura ke dalam pelukannya. Sakura memang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Itulah sebabnya mereka begitu dekat, hingga kerap kali keduanya sering di gosipkan memiliki hubungan yang spesial. Tangisan Sakura membuat Sasori tersadar, bahwa saat ini gadis itu tengah mengalami masalah yang pelik. Sakura masih terus menangis. Sasori membelai rambut Sakura selembut yang ia mampu.

"Ada apa denganmu, Cherry? Tidak keberatan menceritakannya padaku?"

"Nii-san, onegai...jangan beritahu siapapun kalau aku ada di sini! Aku masih ingin tinggal di sini lebih lama lagi, nii-san!"

"Jangan khawatir! Aku ke sini bukan untuk mencarimu, Cherry!"

"Kalau begitu kenapa nii-san ada di sini?" tanya Sakura sambil menengadahkan wajahnya menatap Sasori, sekarang ia sudah tidak menangis lagi.

"Kau lupa ya? Akulah yang menceritakan tentang Konoha padamu, karena ini adalah kampung halamanku."

"Eh? Benar juga, kenapa aku bisa lupa? Hahaha..."

Sasori tersenyum getir, ia menyadari bahwa tawa Sakura saat ini adalah palsu. Memang benar, dia-lah yang telah menceritakan tentang Konoha pada Sakura. Awalnya ia pikir Sakura melarikan diri ke tempat lain atau bahkan ke luar negeri, tetapi ternyata dugaannya itu salah...tanpa sengaja ia bertemu dengan Sakura di sini. Untuk satu minggu ke depan, Sasori memang meminta izin cuti kepada Akira-sama, karena neneknya—Chiyo—sedang sakit keras. Biar bagaimana pun hanya dirinya dan kakeknya yang nenek Chiyo miliki, sebab kedua orang tuanya sudah meninggal ketika dia masih berusia 5 tahun.

Siang ini Sasori baru saja pulang dari supermarket, membeli buah-buahan untuk nenek Chiyo. Tak di sangka ia bisa menemukan Sakura di sini. Sasori tidak salah, hanya dengan melihat punggung Sakura saja ia langsung tau jika gadis yang tengah menatap danau itu adalah Sakura. Hubungan mereka berdua memang sudah seperti saudara kandung, namun semua orang selalu mengartikan hal yang berbeda. Menyebarkan gosip yang sama sekali tidak benar. Sasori juga sangat memahami perasaan Sakura, itulah sebabnya ia memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari para members lainnya, manajer mereka, dan juga bodyguard mereka. Dia juga memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari Yakumo dan Akira-sama, karena ia hanya ingin melihat Sakura bahagia.

Setelah tangisan Sakura benar-benar reda, Sasori meminta Sakura untuk menceritakan masalahnya. Sakura pun menceritakan semuanya pada Sasori, termasuk tentang Naruto. Kini keduanya tengah duduk di atas rumput hijau sembari memandangi danau. Sakura masih bercerita, dan Sasori mendengarkannya dengan seksama.

oooOOcherrybloossomOOooo

Naruto, masih dengan mengenakan piyama pasiennya nampak berjalan tertatih. Ia sengaja keluar untuk mencari Sakura karena ia sangat mengkhawatirkan gadis itu dan ingin menjelaskan semuanya. Ia tidak yakin Sakura akan memaafkannya, tetapi ia tidak akan menyerah sampai Sakura bersedia memaafkannya.

Nafas Naruto mulai tersenggal. Bukan karena efek kelelahan melainkan karena kondisi jantungnya yang memang belum stabil. Seminggu berada di rumah sakit membuatnya tidak yakin bahwa ia bisa pulih. Benar yang di katakan oleh Karin tadi, kemarin neneknya memang mengatakan bahwa yang ia butuhkan sekarang bukan hanya perawatan serta obat-obatan tetapi ia juga membutuhkan jantung yang baru. Di satu sisi ia merasa pasrah karena ia sudah menyadari bahwa cepat atau lambat hal ini pasti terjadi, namun di sisi lain ia merasa bimbang. Ia masih ingin hidup bahagia bersama Sakura, tetapi itu berarti ia mengharapkan seseorang mati demi kesempatannya untuk hidup.

Nafas Naruto semakin tersenggal dan wajahnya semakin pucat, keringat dingin mulai bermunculan menghiasi wajah letihnya. Ia pun menyandarkan tubuhnya yang hampir limbung pada salah satu batang pohon yang berada di dekatnya. Saat itu juga rasa sakit itu menghujamnya tanpa ampun. Ia pun mencengkram kuat dada kirinya, kini nafasnya semakin memburu. Selang beberapa menit kemudian ia terbatuk-batuk,

"Uhuk..uhuk..Hoek!" dan tiba-tiba saja darah segar keluar dari mulutnya seperti saat di cafe tempo hari.

Naruto tersenyum miris lalu mengambil saputangannya dan menghapus darah pekat di sekitar mulut dan tangannya sampai bersih. Setelah itu ia pun meminum obatnya. Rasa sakit dan sesak di dadanya sedikit berkurang, Naruto pun kembali melangkahkan kakinya. Langkah Naruto terhenti ketika ia menemukan seorang gadis berambut soft pink sedang menyandarkan kepalanya pada bahu seorang pemuda berambut merah. Naruto mengerutkan kening, pemuda itu mengingatkannya pada Gaara tetapi ia yakin orang itu bukanlah Gaara. Naruto menghampiri mereka. Setelah jarak mereka semakin dekat Naruto mulai tersadar bahwa sosok pemuda itu terlihat begitu familiar di matanya, pemuda itu...

'Sasori-niisan, bukankah dia orang yang sudah Sakura-chan anggap sebagai kakaknya sendiri tapi kenapa dia bisa ada di sini?' batin Naruto dalam hati.

"Bukankah aku bodoh, nii-san? Aku hanyalah orang yang selalu melihatnya seperti orang idiot. Tidak peduli orang-orang mengusik kehidupanku, aku hanya akan memandang dia seorang. Aku ingin dia menggenggam tanganku, memberiku sebuah pelukan, lalu menciumku. Apa aku salah, nii-san?"

"Kau tidak salah, seperti yang kau katakan tadi...kau hanyalah bodoh. Si Naruto itu juga sama saja, kalian berdua benar-benar bodoh!" ujar Sasori yang sukses membuat urat-urat kemarahan di dahi Sakura bermunculan.

"SHANNAROOO!" teriak Sakura, saat itu juga Sasori langsung terkapar di atas rumput dengan kepala benjol. Sakura yang masih terlihat kesal hanya menyeringai penuh kemenangan.

"Hahaha..." suara tawa itu membuat Sakura tersentak, detik itu juga Sakura langsung menoleh ke belakang dan mendapati Naruto masih tertawa lepas.

"Na...Naruto?"

"Aww, sakit Cherry!" protes Sasori yang sudah kembali bangkit,

"Oh, pangeranmu sudah datang rupanya. Kalau begitu aku pergi dulu ya, Cherry! Obaasan pasti sudah menungguku," tambahnya.

"Niisan, di mana Chiyo-baasan di rawat?"

"Di kamar VIV nomor 212, lalu di mana kamar pangeranmu itu?" tanya Sasori seraya melirik Naruto yang sudah berhenti tertawa.

"Dia sih di kamar VVIV, maklum orang kaya."

"Sakura-chan..."

"Ya sudah, jaa!" pamit Sasori yang kemudian pergi sambil membawa buah-buahan yang di belinya tadi.

"Untuk apa kau ke sini?" tanya Sakura ketus, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Aku ingin minta maaf. Gomen, Sakura-chan. Mulai sekarang aku berjanji akan lebih terbuka padamu."

"Benarkah?"

"Hmm, aku tidak akan menyembunyikan rasa sakitku lagi. Apapun yang aku rasakan, akan aku ceritakan semuanya pada Sakura-chan."

"Baiklah, kupegang janjimu!" tegas Sakura, lalu ia memberi isyarat pada Naruto agar Naruto duduk di sebelahnya.

Naruto pun duduk di tempat Sasori tadi, ia mengerutkan kening saat melihat sebuah gitar yang masih terbungkus dalam tasnya tergeletak tepat di sampingnya,

"Ini milik siapa?"

"Ah, itu punya nii-san. Dia memang selalu membawa gitarnya kemana-mana, tetapi dia cereboh sekali meninggalkannya di sini. Sepertinya pukulanku tadi terlalu keras," jawab Sakura.

"Tidak apa-apa, akan aku pinjam sebentar."

"Memangnya kau bisa main gitar?"

"Tentu saja, anak band seperti kami kan harus multi talent. Akan ku buat lagu untuk kita berdua," jawab Naruto yang mulai mengeluarkan gitar itu dan memainkannya.

oooOOcherrybloossomOOooo

Sakura terus memandangi Naruto, sejak tadi pemuda blonde itu terlihat begitu serius memainkan gitar seraya memejamkan kedua matanya...hingga tanpa sadar setengah jam pun berlalu, tetapi Sakura tidak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari sosok Naruto. Ia merasa setiap hari perasaannya pada Naruto tumbuh semakin besar. Ia benar-benar tidak ingin kehilangan pemuda itu.

"Aku tahu kalau aku sangat tampan tapi kau tidak perlu melihatku sampai seperti itu Sakura-chan," ucap Naruto yang masih memejamkan matanya sambil memetik senar-senar gitar milik Sasori tersebut.

Sakura yang tengah asik memperhatikan Naruto sejak tadi langsung tersentak saat tiba-tiba pemuda yang sedang duduk di sampingnya itu mengatakan sesuatu padanya.

'Bagaimana dia bisa tahu kalau aku terus memperhatikannya? Dia bahkan terus menutup matanya sejak tadi...' batin Sakura dalam hati.

"Kau sangat terpesona padaku ya, Sakura-chan?" tanya Naruto yang kini telah memandang Sakura dengan tatapan menggodanya sambil tersenyum lebar.

"BAKA! SEJAK KAPAN KAU KETULARAN NARSISNYA INO PIG?" teriak Sakura bersiap dengan Shanaroo miliknya,

"Sejak ada gadis cantik yang selalu memandangiku dan mengagumi ketampananku," jawab Naruto dengan percaya diri.

"Ya ampun! Apa aku tidak salah dengar? Siapa gadis bodoh itu?"

"Kau..."

"Aku?"

"Mmm..." Jawab Naruto sambil menganggukkan kepalanya,

"Kau masih tidak mau mengaku, Sakura-chan?" tambahnya lagi sambil tersenyum jahil. Wajah Sakura semakin merah seperti kepiting rebus.

"Shannarooo!" dan pukulan telak itu pun mendarat mulus di kepala Naruto,

"Sakura-chan, kau jahat sekali memperlakukan seorang pasien seperti ini!" protes Naruto sambil mengelus kepalanya yang mulai benjol akibat ulah Sakura.

"Habisnya kau menyebalkan, sejak tadi terus saja menggodaku!"

"Gomen. Hmm, aku sudah selesai membuat lagu. Mau dengar?"

Sakura hanya mengangguk-ngangguk penuh antusias,

"Tas yang kau bawa itu, apa ada buku dan pena?" tanya Naruto sambil menunjuk tas milik Sakura.

"Tentu saja, aku kan baru pulang dari sekolah sebelum menjengukmu tadi."

"Kalau begitu pinjamkan padaku, kita akan duet untuk yang kedua kalinya!"

"Duet? Memangnya tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa Sakura-chan, aku sudah mendingan."

"Baiklah kalau begitu," ucap Sakura yang kemudian mengeluarkan sebuah buku dan pena dari tas slempangnya.

Naruto mengambil buku itu, lalu mulai menuliskan lirik. Setelah selesai, ia memberikan buku itu pada Sakura. Meminta gadis itu untuk menghapalnya.

"Naruto, ini bahasa apa?" tanya Sakura dengan wajah bingungnya, bagaimana tidak bingung? Naruto menggunakan hangeul untuk menulis lirik lagu itu.

"Bahasa Korea. Di bawah sudah ku tuliskan bahasa Jepang-nya juga, jadi kau cukup menghapalkan lirik berbahasa Jepang-nya saja Sakura-chan!"

"Kau bisa bahasa Korea?"

"Sedikit, Otousan yang mengajariku. Cepat hapalkan!" sambung Naruto, dan Sakura pun mulai menghapal lagu itu. Waktu terus bergulir, hingga akhirnya lirik lagu tersebut sudah ada di luar kepala Sakura.

"Aku sudah hapal bagianku," ujar Sakura sambil tersenyum sangat manis, membuat rona merah menghiasi wajah Naruto yang masih pucat.

"Teruslah tersipu seperti itu, aku lebih suka melihat wajahmu merona daripada pucat seperti mayat!" kali ini gantian Sakura yang menggoda Naruto.

"Baiklah, kau menang Sakura-chan!" ujar Naruto yang kemudian mulai memainkan gitar Sasori dan menyanyikan lirik lagu bagiannya,

Naruto :

You and I. The word 'friends' is a little unnatural for us

(Kau dan aku. Kata 'teman' sedikit tidak wajar untuk kita)

It's better to use the word 'lover'

(Itu lebih baik dengan menggunakan kata 'kekasih')

Oh, I for the first time

(Oh, aku untuk pertama kalinya)

Will say how I feel

(Akan mengatakan bagaimana yang aku rasa)

Even those stars in the sky

(Bahkan bintang-bintang di langit)

I will bring them for you

(Aku akan membawa mereka untukmu)

No matter what you want

(Tak peduli apa yang kau inginkan)

Oh, I will be able to do it for you

(Oh, aku akan dapat melakukannya untukmu)

oooWithAllMyHeartooo

NaruSaku :

Oh, I love you, love you, love you...

(Oh, aku mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu)

Oh, you love me, love me, love me...

(Oh, kau mencintaiku, mencintaiku, mencintaiku)

I know...

(Aku tahu)

oooWithAllMyHeartooo

Sakura :

I know how you feel about me (your feelings)

(Aku tahu bagaimana perasaanmu tentang aku—perasaanmu)

Oh, I love you, love you, love you...

(Oh, aku mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu)

Are you love me, love me, baby?

(Apakah kau mencintaiku, mencintaiku, sayang?)

Me too...

(Aku juga)

Because I love you too

(Karena aku juga mencintaimu)

oooWithAllMyHeartooo

NaruSaku :

I'm an idiot, I'm idiot who only sees you. I love you...

(Aku adalah orang bodoh, orang bodoh yang hanya melihatmu. Aku mencintaimu)

oooWithAllMyHeartooo

Sakura:

Even if someone says or teases me

(Bahkan jika seorang mengatakan atau menggodaku)

I only look at you, like a fool

(Aku hanya akan memandangmu, seperti orang bodoh)

An idiot

(Orang bodoh)

I'm an idiot who only sees you

(Aku adalah orang bodoh yang hanya melihatmu)

Hold my hand. Give me a hug

(Pegang tanganku. Beri aku sebuah pelukkan)

I'm an idiot who only loves you

(Aku adalah orang bodoh yang hanya mencintaimu)

oooWithAllMyHeartooo

Naruto :

While thinking of you, I fall asleep

(Sementara memikirkanmu, aku tertidur)

I look for you in my dreams

(Aku mencarimu di dalam mimpi-mimpiku)

Oh, I wake up in the morning

(Oh, aku terbangun di pagi hari)

oooWithAllMyHeartooo

NaruSaku :

Oh, I love you, love you, love you...

(Oh, aku mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu)

You love me, love me, love me...

(Kau mencintaiku, mencintaiku, mencintaiku)

I Know...

(Aku tahu)

how you feel about me ( your feeling )

(Aku tahu bagaimana perasaanmu tentang aku—perasaanmu)

Oh I love you, love you, love you...

(Oh, aku mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu)

Are you love me, love me baby?

(Apakah kau mencintaiku, mencintaiku, sayang?)

Me too...

(Aku juga)

Because I love you too

(Karena aku juga mencintaimu)

I'm an idiot

(Orang bodoh)

I'm idiot who only sees you

(Aku adalah orang bodoh yang hanya melihatmu)

I love you

(Aku mencintaimu)

oooWithAllMyHeartooo

Sakura :

Even if someone says or teases me

(Bahkan jika seseorang mengatakan atau menggodaku)

I only look at you, like a fool

(Aku hanya akan memandangmu seperti orang bodoh)

An idiot

(Orang bodoh)

I'm an idiot who only sees you

(Aku adalah orang bodoh yang hanya melihatmu)

Hold my hand. Give me a hug

(Pegang tanganku. Beri aku sebuah pelukkan)

I'm an idiot who only loves you

(Aku adalah orang bodoh yang hanya mencintaimu)

oooWithAllMyHeartooo

NaruSaku :

Baby, want your love...

(Baby want your love)

Baby want your love...

(Sayang, aku menginginkan cintamu)

Love you, love you

(Mencintaimu, mencintaimu)

I'll take you in to my mind

(Aku akan membawamu ke dalam pikiranku)

Baby want your love

(Sayang, aku menginginkan cintamu)

(Oh..oh...oh...)

Baby want your love, oh oh...

(Sayang, aku menginginkan cintamu, oh...oh)

oooWithAllMyHeartooo

Sakura :

I'm an idiot

(Aku adalah orang bodoh)

I'm an idiot who only sees you

(Aku adalah orang bodoh yang hanya melihatmu)

I'm really grateful

(Aku benar-benar bersyukur)

All my friends are jealous

(Semua teman-temanku cemburu)

Because of the fool who only sees me

(Karena orang bodoh yang hanya melihatku)

An idiot

(Orang bodoh)

You're an idiot who only sees me

(kau adalah orang bodoh yang hanya melihatku)

I will believe you

(Aku akan percaya padamu)

Let's be together

(Mari kita bersama)

The two idiots who only look at each other

(Dua orang bodoh yang hanya saling memandang satu sama lain)

oooWithAllMyHeartooo

NaruSaku:

Baby want your love...

(Baby want your love)

Baby want your love...

(Sayang, aku menginginkan cintamu)

Love you, love you

(Mencintaimu, mencintaimu)

I'll take you in to my mind

(Aku akan membawamu ke dalam pikiranku)

Baby want your love...

(Baby want your love)

Baby want your love...

(Sayang, aku menginginkan cintamu)

Love you, love you

(Mencintaimu, mencintaimu)

I'll take you in to my mind.

(Aku akan membawamu ke dalam pikiranku)

oooWithAllMyHeartooo

"Hyaa, aku suka lagu ini! Saat hari 'H' nanti, ayo kita nyanyikan lagu ini di atas panggung!" ajak Sakura dengan penuh semangat,

"Mm, nanti kita nyanyikan lagu ini. Aku akan mengatakannya pada Sasuke teme dan yang lainnya."

"Yosh!" ujar Sakura yang kemudian menyenderkan kepalanya ke bahu Naruto. Naruto tersenyum manis pada Sakura seraya mengenggam erat tangannya.

"Sakura-chan?"

"Mmm?"

"Bolehkah aku mm...bo-bolehkah aku..."

"Bicara yang jelas, baka!"

"Nee, Sakura-chan! Bolehkah aku menciummu?" tanya Naruto dengan wajah yang semakin merah, wajah merona yang sukses menyamarkan wajahnya yang pucat.

Sakura sendiri ikut merona mendengar perkataan Naruto itu. Ia kembali duduk dengan benar, lalu mengerjapkan matanya berkali-kali, kemudian menatap Naruto dan mengangguk mantap. Setelahnya keduanya memejamkan mata masing-masing dan mulai menautkan bibir mereka satu sama lain. Jantung Sakura berdegup jauh lebih kencang, ini adalah ciuman pertamanya, dan Sakura sangat bahagia karena ciuman pertamanya adalah dengan Naruto.

Naruto mencium bibir Sakura semakin dalam dan mesra. Setelah puas berciuman dengan Sakura, Naruto pun melepaskan ciumannya lalu merengkuh tubuh mungil Sakura ke dalam pelukkannya.

"Hari ini aku sangat bahagia. Arigatou Sakura-chan."

"Aku...aku...aku juga sangat bahagia, Naruto. Arigatou, rasanya manis." ujar Sakura dengan polosnya.

"Manis? Hahaha, iya kau benar Sakura-chan...rasanya manis..." sambung Naruto.

oooOOcherrybloossomOOooo

"Yo! Naruto!" sapa Shikamaru saat Naruto masuk kelas sambil bergandengan tangan dengan Sakura,

Di salah satu bangku, seorang gadis berambut hitam kebiruan dengan iris lavender-nya yang indah menatap pemandangan itu dengan tatapan tak percaya. Gadis yang duduk di sampingnya juga tak kalah terkejutnya dengan gadis itu.

Tenten menatap Hinata dengan iba, sekarang Hinata nampak begitu terluka dan sakit hati. Gadis itu menundukkan wajahnya sambil menggigiti bibir bawahnya, berusaha untuk meredam tangis yang mungkin akan pecah sebentar lagi. Tenten memang tidak salah, seharusnya Hinata mengungkapkan isi hatinya pada Naruto sejak dulu. Sebelum semuanya terlambat seperti sekarang ini. Menyesalkah Hinata sekarang?

Seorang gadis berambut pirang pucat dengan iris violet di belakang Hinata dan Tenten menatap Sakura dengan tatapan tajam. Dia benar-benar kesal dan marah, sejak kapan anak baru itu begitu dekat dengan Naruto, teman sekelasnya yang diam-diam ia taksir semenjak masih duduk di bangku Junior High School. Dulu Shion dan Naruto memang satu Junior High School. Naruto sendiri adalah cinta pertamanya, walaupun pemuda itu hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat dan tidak lebih. Biarpun saat ini dia begitu cemburu pada Sakura, dia senang karena Naruto sudah kembali masuk sekolah.

"Ya ampun, pasti menyenangkan ya tidak masuk sekolah selama hampir dua minggu?" komentar seorang pemuda berambut cokelat dengan tatto segitiga merah di kedua pipinya.

"Tidak menyenangkan sama sekali, Kiba!" sanggah Naruto,

"Jadi kau sudah sehat sekarang? Ah...tapi sepertinya belum, wajahmu masih kelihatan pucat. Sepertinya kau juga kurusan Naruto."

"Naruto, harusnya kalau masih sakit tidak usah masuk sekolah...krauk...krauk..." ujar Chouzi yang kembali melanjutkan acara makan keripik kentangnya.

"Sebenarnya kau sakit apa? Sampai tidak masuk sekolah selama itu," selidik Shino.

"Ahahaha, bukan apa-apa!" jawab Naruto yang kemudian duduk di bangkunya. Naruto memang merahasiakan penyakitnya pada semua temannya, kecuali members Shinobi band.

Sakura duduk di samping Ino yang sejak tadi hanya diam saja. Sakura pun menyentuh bahu Ino hingga gadis pirang berkuncir kuda itu sedikit tersentak.

"Pig, kau ini kenapa sih? Melamun terus dari tadi?"

"Apa Naruto-sama benar-benar sudah sehat? Aku khawatir, forehead!"

"Dia di rawat di Rumah Sakit selama 10 hari, meskipun aku tidak yakin...sepertinya dia sudah baikan. Sudahlah, kau jangan memperlakukannya seperti itu pig! Nanti dia bisa merasa tidak nyaman, jadi perlakukan dia seperti biasa saja."

"...tapi..."

"Ada satu hal yang tidak kau ketahui dari orang-orang seperti Naruto, pig. Mereka yang sakit juga berusaha untuk terlihat sehat di mata orang lain. Kau tenang saja, aku akan terus memperhatikannya!"

"Kuharap dia baik-baik saja."

"Dia pasti akan baik-baik saja, aku percaya!" kata Sakura sambil tersenyum pada Ino, dan Ino pun membalas senyuman Sakura.

"Shikamaru, selama aku tidak masuk siapa yang menggantikanku bernyanyi?" tanya Naruto,

"Gaara," ujar Shikamaru yang kemudian menguap lebar.

"Astaga, masih pagi masa sudah mengantuk?"

"Semalaman aku bermain shogi dengan Otousan, makanya...uwaah aku ngantuk sekali!" jawab Shikamaru yang kemudian menempelkan wajahnya pada meja, lalu memejamkan kedua matanya.

"Mmm, Shikamaru?"

"Nani?" tanya Shikamaru malas,

"Tsunade-baasan bilang aku tidak boleh menyanyi lagi, jadi setelah pertunjukan kita di acara puncak hari jadi KHS nanti...aku akan resign dari Shinobi band. Gomen ne."

"NANI?" kaget Shikamaru, mendadak rasa kantuknya hilang seketika.

"Apa kau bilang, dobe?" sambung leader mereka—Sasuke—yang posisi duduknya kebetulan tepat berada di depan Shikamaru dan Naruto.

"Tenang saja, biarpun aku keluar dari Shinobi band...aku akan tetap menciptakan lagu-lagu baru untuk kalian. Saat aku di Rumah Sakit, aku juga sudah menciptakan dua buah lagu baru untuk kita. Salah satu lagunya akan aku nyanyikan bersama Sakura-chan saat hari 'H' nanti."

Di samping Sasuke, Gaara hanya menundukkan wajahnya. Ia terlihat begitu sedih. Ia ingin Naruto tetap menjadi vocalis Shinobi band. Shikamaru masih tampak bengong. Sasuke menghela nafas panjang. Jika Naruto keluar siapa yang bisa menggantikannya? Apa Gaara bersedia menggantikan posisi Naruto?

"Doushite?" bisik Shikamaru pelan,

"Kondisi jantungku semakin memburuk, Shikamaru..." jawab Naruto tak kalah pelan.

"Kalau memang begitu, apa tidak apa-apa jika saat hari 'H' nanti kau tetap menyanyi?"

"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja!"

"Kupegang janjimu!" tegas Shikamaru.

_TBC_

a/n : Bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya, tunggu next chapter. Sedikit bocoran chapter depan Akatsuki band bakalan nemuin Sakura. Mungkinkah Sakura akan di paksa kembali ke Tokyo? Like usual Muki belum siap nerima flame. So, REVIEW please. Arigatou. ^_^

Dan ini balasan untuk review yang nggak login :

Manguni : Nah, Manguni-san karena Muki nggak nemuin lagu indonesia yang cocok. Lagu-lagunya udah Muki terjemahin pake bahasa Indonesia. Yup, silakan ikutin aja cerita selanjutnya. Nanti Manguni-san juga tau Naru-nya mati atau nggak. Nih, udah di lanjut. Arigatou Reviewnya. ^^

Farhan Uzuzaki : Ini udah upadate ya. Mmm, jadi orang ketiga nggak ya? #Rahasia. Iya boleh kok, mau review 5x dalam satu chapter juga boleh hehehe. Arigatou Reviewnya. ^^

Putera Kanonang : Iya, nggak ada yang cocok nih...jadi lagu-lagunya Muki terjemahin aja. Arigatou Reviewnya. ^^

Guest : Jangan donk, ntar Muki bisa d penjara klo Guest-san yg mati jantungan gara2 baca fic ini hehe. Qta liat aja ntar, apa penyakitnya bisa di sembuhin ato ga? Oke, ini udah di lanjut ya. Arigatou reviewnya. ^^

Maesaan : Hahaha, ini Mae-san malah baca puisi. Tuhan ga manggil Naruto kok, tuh dia masih mesra-mesraan sama Sakura. Arigatou reviewnya. ^^