Chapter 4

Walau sudah hampir tengah malam kota Port island ini masih saja penuh dengan orang yang beraktivitas. Jalan di penuhi dengan orang.

Pikiran Hikari tertuju kepada evoker yang diberikan ibunya. Hikari menyimpan evoker itu di balik jas sekolahnya. " Apa sih evoker ini?'' pikirnya

Hikari menengadah kepalanya. Matanya tertuju kepada bulan purnama yang berada di langit. Lampu kota yang gemelap menbuat malam di sini tidak memerlukan cahaya bulan. Hikari melihat jam tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 11.59 pm.

"Sebentar lagi tengah malam." Pikir Hikari.

11.59.58

11.59.59

00.00.00

Tiba-tiba lampu kota padam semua. Langkah kaki Hikari terhenti. Langit malam berubah warna menjadi kehijauan. Atmosfer menjadi berat . Di mana-mana muncul genangan darah. Orang-orang yang sedang berjalan menghilang digantikan dengan peti mati.

Hikari tidak mengerti apa yang terjadi. Hikari menengadah kepalanya dan menemukan bulan purnama berwarna kuning tergantung di langit kehijauan itu. Dan dari kejauhan tiba-tiba muncul sebuah bangunan dengan struktur yang aneh menjuang tinggi seakan-akan berusaha mencapai bulan.

"Bukankah di sana adalah Gekkoukan high school." pikir Hikari "Apa yang sedang terjadi?"

Meskipun terkejut Hikari tetap tenang dan meneruskan perjalanannya dengan hati-hati sambil melihat sekitarnya.

"AAHHHHH!" Hikari mendengar teriakan seseorang dan tanpa berpikir panjang lagi Hikari berlari kearah sumber teriakan tersebut.

Hikari melihat seorang cowok berdiri mematung. Cowok itu berambut pirang dengan mata berwarna coklat. Pakaiannya agak urakan namun Hikari melihat itu adalah seragam Gekkoukan high school sepertinya.

Di depan cowok itu berdiri sesosok makhluk besar yang ukurannya 2 kali lipat lebih besar dari cowokitu. Badan makhluk seperti cairan berwarna hitam dan memiliki banyak tangan yang memegang pisau. Makhluk itu tidak berkaki dan terdapat sebuah topeng berwarna putih di puncak badannya yang besar itu.

Makhluk itu mengangkat tangannya yang mengengam pisau dan menghujamkan tikaman kepada cowok yang berdiri mematung melihat makhluk itu. Dengan secepatnya Hikari berlari menabrak cowok itu. Badan Hikari dan cowok itu terhempas ke samping dan tikaman makhluk itupun meleset.

"Jangan bengong saja, lari!" teriak Hikari bangkit sambil menarik cowok itu.

Cowok itu mengangguk kepalanya. Mereka berdua berlari sekuat tenaga mereka meninggalkan makhluk tersebut.

"Makhluk apa itu? Dan di mana ini? " tanya cowok itu sambil berlari.

"Aku tidak tau." jawab Hikari.

Mereka berdua berlari ke dalam sebuah gang sempit. Setelah berlari sampai ujung gang tersebut, mereka baru sadar ternyata gang itu buntu.

"Buntu! Sialan! Ayo, kembali ke…" kata cowok tersebut sambil menbalikan badannya. Namun katanya terhenti karena makhluk itu telah berada di depan.

Hikari dan cowok itu terkejut melihat makhluk itu telah berada di depan mereka. Tenyata walau berbadan besar gerakkan makhluk itu sangat cepat.

Makhluk itu mengangkat tangannya yang memegang pisau itu ke atas menbelakanngi bulan purnama kuning mendekati mereka.

Tiba-tiba di pikiran Hikari terlintas seseorang cowok berambut biru seperti dia. Hikari sama sekali tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya. Cowok itu juga mengenakan seragam Gekkoukan high school. Dari balik jasnya cowok itu mengeluarkan sepucuk pistol dan menempelkannya ujung pistol tersebut ke kepalanya.

Cowok dalam pikiran Hikari itu berkata " Ayo…."

Hikari mengeluarkan evoker yang diberikan ibunya dari balik jasnya. Hikari menempelkan ujung evoker tersebut ke kepalanya. Keringat mengalir turun dari dahinya.

"Apa yang kau lakukan?" kata cowok berambut pirang di samping Hikari panik.

"Kau pasti bisa melakukannya." Senyum cowok dalam pikiran hikari.

Mendengar ucapan cowok tersebut tiba-tiba Hikari merasa tenang. Keringatnya menghilanng. Hikari tersenyum dan berbisik pelan "per…so..na.."dia menembak kepalanya sendiri.

…..

Cahaya biru dan serpihan kaca muncul dari belakang Hikari. Dan bersamaan dengan cahaya serta serpihan kaca tersebut muncul sesosok makhluk di belakang hikari.

Makhluk itu berbentuk seperti seorang manusia. Makhluk itu berambut putih dan bermata merah. Badanya terbuat dari besi dan sebuah syal merah melilit lehernya. Dibelakang makhluk tersebut terdapat sebuah harpa besar.

"I art i … and.. I am thou... dipanggil dari dasar hatimu. Aku Orpheus, master of string." ujar makhluk tersebut.

Makhluk hitam tersebut berhenti saat melihat kemunculan Orpheus.

"Orpheus serang!" teriak Hikari.

Orpheus bergerak mendekati makhluk itu dengan cepat dan mengunakan harpa yang berada di punggunnya itu menghantam makhluk tersebut. Namun makhluk tersebut berhasil menghindari serangan itu dan balas menyerang Orpheus dengan pisau di tangannya.

Orpheus dengan lincah melompat ke belakang dan mendarat tepat didepan hikari.

Di dalam pikiran Hikari tiba-tiba dia mengerti akan kemampuan yang di miliki oleh Orpheus.

"Orpheus, Agi!" perintah Hikari

Mendengar perintah Hikari, Orpheus mengayunkan tangannya. Dan tiba-tiba muncul bola api menghantam makhluk tersebut. Makhluk itu berteriak kesakitan.

"Serang makhluk itu" perintah Hikari lagi

Tanpa menbuang waktu Orpheus meloncat dan mengunakan harpanya menghantam makhluk tersebut dengan sekuat-kuatnya. Makhluk itu meronta saat pukulan Orpheus mengenai badannya dan beberapa saat kemudian makhluk itu tidak bergerak lagi.

Orpheus mengangkat harpanya. Badan makhluk itu tiba-tiba menghilang tanpa bekas dari hadapan mereka. Orpheus membalikan badannya dan bergerak kearah Hikari.

Hikari tersenyum melihat Orpheus. Dan Orheus pun menghilang dari hadapan mereka.

"Apa itu tadi?" tanya cowok berambut pirang yang sejak tadi melihat kejadian yang baru saja terjadi.

Hikari ingin menjawab pertanyaan cowok itu namun tiba-tiba pandangannya menjadi tidak fokus. Kaki nya merasa lemas tidak jatuh pingsan.

"Hey! Hey! Kau tak apa-apa?" teriak cowok itu.

Waktu menunjukkan pukul 00.01 am. Seorang pria berambut putih berdiri di depan pintu gerbang Gekkoukan school. Keringat mengaril dari dahinya. Dia mengambil handphone dari sakunya dan menelepon seseorang.

" Sepertinya apa yang kita takutkan benar-benar telah terjadi. Dark hour telah kembali lagi begitu juga dengan Tartarus."

"Begitu ya?" balas suara seorang wanita melalui handpohne pria tersebut. " Aku akan segera berangkat ke Port island, Akihiko."

"Ya. Aku akan menunggumu, Mitsuru." kata Akihiko " Dan sebaiknya kita mengabari yang lainnya."

"Aku akan mengabari mereka semua secepatnya dan kita semua akan berkumpul di Port island. Sampai nanti Akihiko." ujar Mitsuru mengakhiri pembicaraan mereka.

"Ya. Sampai nanti." balas Akihiko.

Akihiko menyimpan hanphonenya ke dalam sakunya lagi. Dia mengangkat kepalanya melihat langit malam.

"Apa yang sesungguhnya terjadi? Kenapa dark hour kembali lagi?" katanya dan meninju pintu gerbang Gekkoukan school.

…..


thx for reading! plizz review kalau bisa!