¤Series of Loves Surounding Hwang Minhyun During Produce 101¤

▪▪▪Chapter 4

Kim Jaehwan

.

Disclaimer:

I don't own anything except this story..

.

Summary:

Semua Kejadian yang terjadi baik didepan maupun dibelakang layar Produce 101.

Dan tentunya yang melibatkan member favorite kita, Hwang Minhyun...

.


Orang Bilang Tidak ada yang namanya kebetulan dalam hidup dan kebetulan yang terus menerus terjadi bisa jadi adalah sebuah takdir. Dan meski enggan, mau tidak mau Jaehwan mengakuinya.

Awalnya bertemu dengan sosok Hwang Minhyun adalah saat Grup Perfomance awal mereka, saat itu Jaehwan sedang memandang kosong saat pemilihan anggota team dimulai. Ia tahu ia bukanlah orang yang pesimis tapi sebagai seorang individual trainee, tidak ada grup dan agensi yang mem-backup-nya seperti yang lain, tidak ada teman untuknya bebragi cerita dan berbagi rasa. Meski ada beberapa trainee yang lain yang hampir senasib sepertinya, mempunya agensi tapi tidak terlalu membantu karena tidak cukup terkenal untuk mendongkrak popularitas mereka. Namun setidaknya mereka memiliki kawan yang akan selalu mendampingi mereka.

"Untuk team selanjutnya akan dipilih oleh Traine Dari Pledis, Kelas D Hwang Minhyun" samar-samar Jaehwan mendengar suara Daehwi memanggil nama Minhyun.

Jaehwan melirik sosok tampan yang melewati dirinya, wajah Minhyun tampak tegang saat berjalan menuju panggung. Saat itu perasaan iri menyesapi hati Jaehwan, 'Sungguh beruntungnya ia' pikir Jaehwan. 'Dikelilingi teman-teman yang baik, tampan dan memiliki postur yang proporsional, kemampuan vocal juga sangat memukau dan sikapnya juga sa-'

"Kelas B, Individual Trainee Kim Jaehwan" tepukan dipunggungnya menyadarkan ia dari lamunannya.

"Huh?" Jaehwan mengerjap bingung saat dirasakannya mata seluruh trainee mengarah kepadanya.

"Trainee Kim Jaehwan.." Ujar Minhyun yang tersenyum sambil memandang Jaehwan yang masih tampak Syock. "Aku merasa aku akan cocok dengannya lagipula suaranya sangat bagus dan aku berharap bisa debut bersamanya" Minhyun menyelesaikan ucapannya sambil tidak berhenti tersenyum, membuat perut perasaaan Jaehwan terasa dipenuhi oleh perasaan hangat yang membuat dirinya bergidik gemetar.

"Waahhh" Sorakan para Trainee seakan seperti background yang tidak berwarna bagi Jaehwan. Ia merasa dirinya sedang bermimpi. Ada seseorang yang memperhatikannya dan seseorang itu ingin bisa debut bersamanya. Dan orang itu adalah Hwang Minhyun. Langkahnya terasa melayang saat menuruni tangga untuk menghampiri Minhyun, semburat merah di pipi membuat Minhyun Tertawa kecil melihatnya.

"Err, Te-terimakasih hyung.." Cicit Jaehwan yang masih merasa ini semua seperti Mimpi. Minhyun hanya tersenyum dan memeluknya hangat. "Jangan terlalu formal Jaehwanie, Mari kita berjuang agar bisa debut bersama.." dan saat itulah Jaehwan merasa ia orang paling bahagia di dunia.

.

.


Kali kedua ia bersama dengan Minhyun adalah saat Evaluasi Vokal mereka. Dan meski besar kemungkinan mereka untuk kembali satu tim hal itu tidak bisa menghilangkan rasa berdebar yang Jaehwan rasakan saat melihat Minhyun memeluk dirinya ketika ia menemukan dirinya kembali satu tim dengannya. Jaehwan tidak menampik perasaan senang saat melihat tatapan cemburu anggota yang lain saat Minhyun memeluknya terutama Hyunbin yang seakan dipenuhi perasaan iri yang kentara saat melihat Minhyun memeluknya.

'Ah, seperti itukah perasaan cemburu' pikir Jaehwan. Tapi ia berusaha mengabaikan semuanya dan menikmati kehangatan yang ia rasakan dalam pelukan Minhyun. Ia berharap kehangatan ini akan terus ada di sepanjang harinya.

.

.


Ketiga kalinya ia satu tim dengan Minhyun, saat itulah ia benar-benar merasakan bahwa Takdir dirinyalah untuk terus bersamanya. Jaehwan tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Minhyun memasuki ruang latihan mereka. Dan perasaannya berubah hangat saat melihat Minhyun tersenyum dan kembali memeluk dirinya. Ia membalas pelukan itu dengan erat membenamkan wajahnya di ceruk namja yang lebih tinggi darinya tersebut, menghirup aroma memabukan Minhyun yang selalu berhasil membuat perasaannya terasa hangat.

Minhyun hanya tertawa melihat tingkah Jaehwan ia mengacak rambut Jaehwan pelan dan berkata "Tampaknya kita benar-benar berjodoh Jaehwani" Ucapnya ringan.

Tapi bagi Jaehwan kalimat itu serta merta membuat dirinya terpaku 'Jodoh'. Ia yang bukan siapa-siapa ini berjodoh dengan Hwang Minhyun? Bagaimana mungkin? Tapi kalau bukan jodoh lantas bagaimana bisa mereka bisa terus bersama selama ini. Memikirkan hal itu membuat wajah Jaehwan memerah yang kembali memancing tawa Minhyun.

Saat itu Jaehwan tidak sadar akan sosok lain didalam ruangan yang tengah memandang tajam kearahnya.

.

.


Hari ini adalah hari penentuan bagi mereka, performance terakhir mereka sebagai tim sebelum pemilihan final nanti. Dan Jaehwan sangat senang saat ia lagi-lagi kembali bersama dengan Hwang Minhyun. Jaehwan sudah siap merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan Minhyun seperti biasa saat penentuan pertama kelompok. Minhyun tertawa melihat tingkah Jaehwan. Iapun membiarkan Jaehwan memeluknya dan membalas pelukannya.

"Hyung, ini sudah keeempat kalinya kita bersama. Dan aku benar-benar merasa kita berjodoh Hyung.." Ucapnya malu-malu. Minhyun tersenyum simpul mendengarnya "Aigo, Jaehwannie sekarang sudah mulai berani yah.." Ucapnya sambil tertawa kecil saat dilihatnya Jaehwan bersemu merah akibat ucapannya.

"Bu-bukan begitu Hyung, aku hanya senang kita terus menerus bersama.. Aku harap aku terus bisa berjodoh denganmu sampai dengan pengumuman final nanti, Saat kita debut bersama.." Ujar Jaehwan bersemangat. Minhyun tertegun mendengar ucapan Jaehwan, namun dengan cepat ia menutupinya. "Tentu saja kita akan debut bersama, jangan khawatir Jaehwanie.." Ucap Minhyun sambil tersenyum kaku.

Jaehwan yang senang merasakan perasaaannya berbalas tidak menyadari pandangan Minhyun yang berubah menjadi sendu.

"Pasti menyenangkan kalau kita nanti debut bersama, lalu kita tinggal satu dorm bersama dan terus berlatih bersama, tampil bersama.. Ahh, aku benar-benar berharap itu semua bisa terwujud Hyung.." Ujar Jaehwan berseri-seri sambil menatap Minhyun menunggu responnya.

Minhyun tampak merenung dan terdiam, wajahnya tampak tidak fokus membuat Jaehwan pun terdiam "Hyung, kau tidak apa-apa?" Tanya Jaehwan pelan.

"Ah, maafkan aku Jaehwan" Ucap Minhyun "Tentu akan menyenangkan melakukan hal itu bersama yah." Ucap Minhyun sambil tersenyum sendu. "Ah, Ada yang harus aku lakukan sebentar, jangan lupa sore ini kita latihan yah" sambung Minhyun cepat.

Jaehwan memandang bingung saat dilihatnya Minhyun berjalan keluar ruangan. 'Apa ucapanku salah?' Pikirnya.

.


Jaehwan berniat mencari ruangan kosong untuk melanjutkan latihan vocalnya, sampai sore Minhyun tidak kunjung tiba diruang latihan membuatnya merasa gelisah. Daniel bilang Minhyun tadi datang saat ia sedang keluar bersama Jihoon dan tidak lama kembali pergi keluar karena dipanggil oleh produser. Jaehwan menghela nafas pelan mengingat sikap Minhyun sebelum dirinya pergi. Baru kali itu ia melihat senyuman Minhyun yang terkesan jauh, seakan Minhyun tidak benar-benar tersenyum.

'Benarkah kau tidak benar-benar tersenyum hyung?' Pikir Jaehwan, dalam tanya ia terus melanjutkan langkahnya sampai didengarnya isakan lirih dari suara yang amat ia kenal, suara Hwang Minhyun.

"A-aku tidak bisa Jonghyun, aku tidak bisa..." Jaehwan langsung menyembunyikan dirinya dibalik dinding koridor saat ia mendengar suara itu. Ia tidak tahu kenapa ia lantas bersembunyi, ia tidak ingin dituduh menguping tapi baru kali ini ia mendengar suara Minhyun terdengar frustasi dan kacau.

"Aku tidak bisa membayangkan untuk berpisah dari kalian, Aku takut..." Suara lirih Minhyun membuat perasaannya berdebar. Dengan siapa Minhyun berbicara, dengan Jonghyunkah?

"Mendengar ucapan Jaehwan tadi membuat perasaanku kacau, bagaimana kalau aku berdiri sendiri disana, memandang wajah kalian bertiga, meninggalkan dorm, meninggalkan NU'EST, meninggalkan kalian, meninggalkan dirimu Jonghyun, Bagaimana bisa aku melakukannya?" Ucapan Minhyun membuat perasaan Jaehwan mencelos, jantungnya terasa terhenti.

"Kita melakukan ini bersama-sama, bagaimana bila nanti kita tidak kembali bersama-sama..?" Bisik Minhyun pelan, namun terdengar amat jelas dalam pendengaran Jaehwan. Jantungnya bertalu-talu mendengar ucapan Minhyun 'Tapi bukankah kau ingin debut bersamaku Hyung?'

"Sshh.. Minhyunie jangan menangis.." Jaehwan bisa mendengar suara Jonghyun yang parau, isakan Minhyun kini teredam dalam pelukan Jonghyun. "Hiks, a-aku takut Jonghyunie... Aku takut.. Masa depan tanpa kalian terlihat menakutkan.." Ucapnya lirih.

Jaehwan merasakan rasa sakit yang tidak dapat didefinisikan di dadanya. Ia tidak tahu kenapa ia merasa amat sedih mendengar ucapan Minhyun. Terasa sakit seakan menyayat hatinya.

'Tapi kau selalu tampak senang saat berkata akan debut bersamaku hyung..' Pikir Jaehwan kalut.

"Sshh.. tidak apa-apa sayang, itu hanya ketakutanmu.. Kita akan bersama, selalu bersama.. Jangan khawatir" Suara lembut Jonghyun membuat Jaehwan dengan takut-takut mencoba mengintip kembali mereka, dan ia kini amat menyesalinya keputusannya saat dilihatnya Jonghyun mengecup dahi Minhyun lembut dan penuh perasaan, membuat hati Jaehwan bergemuruh sakit.

'Bodohnya' Pikirnya, 'Bodohnya aku berusaha membohongi diriku sendiri, sungguh bodoh' Jaehwan menggigit bibirnya. Berusaha mengehentikan tangannya yang bergetar, perlahan dan penuh kehati-hatian ia membalikan dirinya dan berlari kembali keruang latihan.

.


Sekitar satu jam setelah ia kembali, Minhyun pun datang keruang latihan, ia sempat membungkuk meminta maaf kepada para anggota team karena terlambat. Beberapa Trainee menyambutnya dengan gembira, Daniel tampak bertanya Apakah Minhyun sakit karena melihat muka Minhyun yang tampak memerah. Jaehwan hanya terdiam ditempatnya saat yang lain mengelilingi Minhyun yang hanya mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

'Seperti itukah caramu membohongiku hyung? Berusaha terlihat tegar meski hatimu merana' Batin Jaehwan. Gelombang kesedihan kembali menghantam dirinya. Rasa sakit yang ia rasakan membuat perasaanya terasa hampa, ia hanya tersenyum kecut saat dilihatnya Minhyun melambai saat memandang kearah dirinya.

'Seharusnya aku tahu, bahwa takdir itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan.. Seharusnya aku tahu bahwa seberapa seringpun kita bersama, kau tidak akan pernah menjadi jodohku' Batin Jaehwan Pahit.

'Karena dirimu tidak akan pernah menjadi milikku, dan kini aku menyadari bahwa semua pertemuan kita hanyalah kebetulan ..'

.

.


.

.

Oke, maaf bgt kalau ceritanya jadi makin dan semakin bikin depresi dan berat. Kondisi kerjaan yang menumpuk membuat aura negatif jadi menumpuk pula *Plak*

On side note, finally bisa update juga untuk chapter selanjutnya meski dengan akhir yang bikin baper berjamaah *Ketawa setan*

Please kasih respon kalian saat selesai baca cerita ini biar lil punya semangat untuk ngelanjutin ceritanya. Dan mungkin bisa kasih ide siapa selanjutnya yang harus lil galauin sama Minhyun..

Hahaha..

Thanks for reading, Please Review and leave your comment :*