DISCLAIMER
Naruto : Masashi Kishimoto
Kako no Himitsu/Rahasia Masa Lalu : Nara Kazuki
.
Happy reading!
...
..
.
Daun-daun kecil beterbangan di sekitar jalanan setapak Konoha. Beberapa helai di antaranya terjatuh di tepi jalan. Angin sepoi yang bertiup, menjadikan suasana siang hari di Negara tersebut terasa sangat nikmat untuk bersantai di bawah pohon atau di tempat tinggi yang langsung mendapat hembusan angin.
Dua orang remaja laki-laki dan perempuan, terlihat berjalan beriringan di salah satu jalan setapak Konoha. Tidak ada suara yang mengisi di antara mereka. Sedari tadi, keduanya hanya berjalan dalam diam. Hingga sebuah suara khas remaja lelaki baru baligh terdengar samar.
"Selamat!"
Temari memiringkan kepala ke arah pemuda di sebelahnya dengan sedikit menunduk. "Hn?"
"Selamat, kau lulus! Dasar merepotkan," jelas Shikamaru dengan pandangan lurus ke depan, tanpa menatap Temari. Garis merah samar terlihat di kedua pipi pemuda tersebut, menandakan kalau ia sangat malu dan genksi dengan apa yang barusaja ia ucapkan.
"Oh..."
'Set!'
Shikamaru menatap tangan Temari yang menengadah di depannya dengan alis terangkat. Ia melirik ke arah gadis tersebut membari isyarat bingung atas tindakan si gadis.
"Hadiah," sahut Temari pendek.
Dengan sangat bosan, Shikamaru melanjutkan jalannya sambil mendengus. "Apa umur segini masih pantas meminta hadiah? Merepotkan!" ujar Shikamaru cuek.
Temari tersenyum. Ia lalu mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya. "Yah, adik kecil, kau sangat pelit!" ujarnya dengan suara yang dibuat sejahil mungkin sambil mengikat satu rambut pirangnya yang tadi ia gerai.
Telinga Shikamaru langsung berdenging mendengar panggilan adik kecil dari bibir Temari. Ia menghentikan langkahnya sebentar sebelum kemudian melanjutkannya kembali dengan tidak peduli.
"Adik kecil, kenapa kau sangat pelit?" tanya Temari, sengaja merendahkan tubuhnya yang memang sedikit lebih tinggi dari Shikamaru.
"Adik kecil..."
Muka Shikamaru mulai memerah mendengar panggilan itu berulang-ulang. Ia sudah berusaha untuk menutup telinga dan tidak peduli, tapi gadis di sebelahnya tetap saja betah menggodanya.
"Wah, adik kecilku sedang ngambek." Dengan santai, Temari memegang kepala Shikamaru sambil memperlihatkan wajah innocent.
"Adik kec-"
"-Aku bukan adikmu!" ketus Shikamaru mulai mengeluarkan kekesalannya. Ia menepis tangan Temari yang hinggap di kepalanya.
"Oh, jadi kau adik apa?" tanya Temari lagi masih dengan wajah super innocent-nya.
Shikamaru menghela napas dengan kesal. Ia menghentikan langkahnya sambil menatap Temari dengan sangat bosan. "Kau merepotkan! Kalau bukan karena perintah dari Hokage-sama untuk menjadi penunjuk jalanmu, aku lebih baik tiduran di rumah."
Temari tercekat. Wajahnya yang tadi cerah, langsung berubah pias mendengar pengakuan Shikamaru. Namun, ditutupnya dengan tatapan anggun yang selalu ia gunakan sebagai seorang Putri Kerajaan.
"Apa Hokage-sama selalu memerintahkanmu?" tanya Temari berusaha bersikap biasa. Walau tak dapat dipungkiri, hatinya sedikit sakit mendengar kenyataan barusan yang benar-benar di luar dugaannya. Ia mengira, selama ini, Shikamaru dengan senang hati menemaninya.
"Hn."
"Jadi, sebenarnya kau sangat terpaksa menemaniku?"
Lagi-lagi Shikamaru bergumam seperti sebelumnya, tidak peduli. "Hn."
Temari lalu menghentikan langkahnya dan berbalik. Rasanya baru kali ini ia dikhianati oleh seseorang yang sudah dianggapnya sebagai teman dekat, bahkan ia sudah menganggap Shikamaru bagian dari keluarganya. "Aku sangat kecewa, kalau begitu aku pulang," ujar gadis itu datar, benar-benar tidak dapat menyembunyikan nada kekecewaan dalam suaranya.
Shikamaru langsung terkesiap.
Wajahnya yang tadi sangat cuek dan acuh, kini berganti dengan beberapa kerutan bingung di dahi. Jelas sekali kalau gadis itu sedang marah padanya. "Hey, kau mau kemana?" tanya Shikamaru dengan volume sedikit keras pada Temari yang sudah mulai menjauh.
Temari tidak menjawab. Kakinya terus melangkah dengan aura pekat yang muncul di sekitarnya.
"Hey!" Shikamaru lalu mengejar Temati dengan langkah malasnya. "Ck, merepotkan saja!"
.
.
.
.
.
Temari memandang kagum pada hamparan samudera biru luas yang ada. Ujung baju khas putri kerajaan warna putih yang ia pakai melambai singkat akibat angin laut yang menerpa. Gadis berambut pirang itu kemudian beralih fokus menatap pada dua orang pemuda tampan yang tengah berdiri kaku di depannya. Mata beriris hijau pekatnya menyipit curiga setelah berkali-kali beralih dari si pemuda berambut merah marun, hingga ke pemuda berambut cokelat kehitaman secara bergantian.
"Apa kalian bertengkar lagi?" tanya Temari tepat sasaran.
"Nee-chan-"
"-Ya atau tidak!" potong Temari cepat sambil menggerak-gerakkan jari telunjuknya dengan kepala menggeleng.
"Ya," sahut Gaara dan Kankuro bersamaan. Keduanya langsung terdiam setelahnya, tidak berani membuka suara kembali. Bagi kedua pemuda tersebut, semenjak sang ibunda meninggal dunia, tidak ada yang bisa menggantikan posisi wanita yang telah melahirkan mereka ke dunia ini, kecuali Temari, kakak satu-satunya yang mereka miliki.
"Alasan?" tanya Temari lagi sambil memiringkan kepalanya dengan mata menyipit. Persis seperti seorang pengacara yang tengah beradu argumen dengan lawannya.
Gaara dan Kankuro sama-sama diam termangu.
"Baiklah, apa alasannya?" tanya Temari kembali dengan nada yang sangat lemah lembut penuh intimidasi.
Kankuro menelan ludah dengan gugup. Rasanya sangat tidak memungkinkan kalau ia mengatakan hal yang sebenarnya pada Temari. Bisa-bisa gadis itu langsung mengamuk dan berniat membunuhnya atau membunuh Gaara seperti yang ia lakukan waktu itu. Untung saja sang Raja datang tepat waktu. Diam-diam Kankuro bersyukur atas kedatangan ayahnya kala itu. Begitulah yang dipikirkan Kankuro. "I-itu..."
"Kami berdua salah, Nee-chan..." aku Gaara cepat sambil menundukkan kepalanya penuh penyesalan. Kankuro yang melihatnya pun ikut menundukkan kepalanya mengikuti Gaara.
"Ya, aku juga salah..."
"Lalu?" tanya Temari sambil tersenyum bijak.
"Kami akan berdamai!"
.
.
.
.
.
Shikamaru kecil bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi sungai berair jernih. Ia menatap bosan pada seorang gadis berambut pirang yang tengah duduk seorang diri sambil mencelupkan kedua kakinya ke dalam air sungai. Wajahnya sembab karena menangis. Tidak dapat dipungkiri, raut khawatir sangat jelas terpeta di wajah tampan pemuda keturunan Nara itu. Ia bahkan berkali-kali mendecak kesal saat mengingat percakapan sebelumnya antara dirinya dan gadis tersebut.
'Pluk!'
Temari melempar batu-batu kecil yang dapat dijangkau oleh tangannya dengan tidak semangat. Lengannya sesekali bergerak mengusap air mata yang mengalir dari sepasang mata hijau kelamnya.
Tidak ada isakan yang keluar.
Dia bukanlah gadis biasa yang selalu memperlihatkan tangisan mereka. Tapi dia adalah seorang Putri yang tidak punya seni dalam menangis. Helaan napas lemah ia tujukan pada alam sekitar.
'Set!'
Wajah Temari berubah kaget saat sepotong es krim muncul secara tiba-tiba di depan wajahnya. Tangannya langsung bergerak refleks demi menghapus jejak-jejak air mata yang masih mengalir. Mata beriris hijau tua itu lalu beralih pada sebuah tangan putih yang terjulur dari sampingnya.
"Ambillah!" sahut Shikamaru singkat sambil memalingkan wajah. Ia menggoyang-goyangkan es krim di tangannya dengan tidak sabaran.
Temari bergeming dengan tatapan datar. Tangan gadis itu sama sekali tidak bergerak mencapai es krim yang disodorkan Shikamaru padanya.
Dengan kesal, pemuda yang selalu bertampang malas itu memasukkan pasangan es krim yang ada di tangan kanannya ke dalam mulut dan menahan dengan sedikit menggigitnya. Ia lalu menarik tangan Temari yang tidak bergerak sedari tadi dan meletakkan es krim itu padanya.
"Sangat enak. Kurasa kau belum pernah mencobanya," ujar Shikamaru sambil mendudukkan dirinya di samping kanan Temari dengan santai dan mulai menjilati es krim yang sudah ia pegang kembali.
'Plung!'
Mata sipit Shikamaru langsung melebar tidak percaya. Wajahnya menyiratkan kekesalan akan tindakan Temari barusan. Gadis itu barusaja membuang es krim yang telah ia berikan dengan senang hati.
"Kau...-"
"-Aku tidak menyukainya! Apalagi yang memberinya adalah kau!" ketus Temari dingin tanpa melirik ke arah Shikamaru sedikitpun.
Shikamaru tertegun sejenak sebelum akhirnya mengalah dengan menghela napas.
Pemuda itu kembali memakan es krim miliknya dengan tenang tanpa mempedulikan ucapan Temari. "Sebenarnya... aku yang memintanya," ujar Shikamaru pelan di sela-sela jilatan es krimnya.
Temari memutar kepalanya untuk menoleh pada Shikamaru. Setelah lama terdiam, mulutnya terbuka ingin mengeluarkan suara, namun tertahan dan kembali tertutup karena egonya yang sedang tidak kompromi.
"Aku meminta izin itu semenjak selesai ujian Chuunin. Dan Hokage-sama mengizinkannya. Karena itu setiap kau datang, aku yang dipanggil," ujar Shikamaru kembali. Kemudian senyum kecil merekah dari bibir pemuda tersebut, "Tapi aku memang punya kebiasaan yang buruk yang tidak bisa ditinggalkan."
Temari termangu di tempat.
Matanya menatap Shikamaru tidak percaya. 'M-meminta?' batin gadis itu bertanya-tanya.
'Pluk!'
Tiba-tiba Temari merasakan sesuatu yang menimpa kepalanya, yang ternyata itu adalah tangan Shikamaru. Pemuda itu menatap ke arahnya sambil tersenyum singkat.
"Aku akan memberimu hadiahnya," ujar Shikamaru sambil menjilati es krim di tangannya dengan cuek dan mulai menarik tangannya.
"Bukan itu..." gumam Temari sangat pelan. Namun, hal itu tidak luput dari pendengaran pemuda di sebelahnya.
"Hn?" Shikamaru mengernyitkan dahi meminta penjelasan pada Temari. Namun sesuatu yang berat telah menimpa tubuh pemuda tersebut.
'Brukh!'
Tubuh Shikamaru langsung terjungkal akibat pelukan tiba-tiba dari Temari. Ia berusaha menggapai-gapai udara demi menyelamatkan setengah es krim yang ada di tangannya. "Hey-"
"-Hiks..."
Mau tidak mau, Shikamaru terdiam dengan reaksi tiba-tiba dari Temari. Ia tidak menyangka kalau gadis itu akan memeluknya sambil menangis. Jantungnya langsung berpacu dengan cepat. 'Sial, inilah masalahnya kalau aku terlalu baik, merepotkan!' batin pemuda itu menggerutu pada jantungnya yang tidak berhenti bekerja cepat. 'Sial!'
Temari lalu melepaskan pelukannya dan menatap haru pada Shikamaru yang mulai duduk sambil meringis. "Apa-apaan kau!" seru pemuda itu dengan wajah yang dipalingkan. Segaris tipis warna merah samar, tidak luput dari pandangan Temari.
"Kau sangat lucu, adik!" timpal Temari dengan senyum tulus yang merekah di bibirnya. Ia mengelap pipinya yang basah oleh air mata. "Adikku ternyata sangat baik! Maaf ya..."
Shikamaru menghela napas dengan bosan kala mendengar kembali kata 'adik' dari bibir Temari. Suasana hangat penuh warna pink dan bunga-bunga itu langsung sirna berganti suasana gelap mencekam seperti rumah angker. Ia mengarahkan tatapan kesalnya sambil menjilat kembali es krim di tangannya yang sudah mulai meleleh dengan rakus. Tidak ada gunanya berbantahan dengan gadis tersebut.
"Hehe, kau adalah adik yang paling kucintai, Shikamaru!" jerit Temari sambil memeluk Shikamaru kembali. Membuat Shikamaru gelagapan seperti sebelumnya. Namun kali ini lebih gugup dari yang sebelumnya, karena mendengar kata 'cinta' dari bibir Temari. Di mata Shikamaru kecil, kata 'cinta' adalah sesuatu yang punya arti khusus baginya. Tanpa sadar, pemuda berambut kucir satu itu menggerakkan bibirnya pada sebuah senyuman.
"E-es krimku..." miris Shikamaru sambil menatap lemas pada es krimnya yang kini sudah berpindah tangan ke Temari. Gadis itu malah menjilatinya dengan senang hati.
"Aku menyukainya!" seru Temari berbinar. "Ini sangat enak, dan aku menyukainya!"
"Aku juga menyukainya."
.
.
.
.
.
"Jadi, di mana letak kejanggalannya?" tanya Itachi sambil menautkan kedua alisnya penuh tanya. Telunjuknya terarah pada sketsa peta yang dibuat oleh Shikamaru.
"Waktu," jawab Shikamaru singkat.
"Kalau begitu, mereka bisa kembali melalui jalan memotong di sini. Ini sangat cepat," ujar Itachi sambil menghela napas. "Sudahlah Shikamaru, ini sudah pernah dibahas. Suna memang bersalah, dan mereka berhak menerima kekalahan demi kekalahan dari kita," tambah pemuda penyandang status Putra Mahkota itu dengan nada datar.
Shikamaru menatap Itachi serius. "Itulah masalah utamanya, Nii-san. Kalau seandainya mereka mengambil jalan memotong, waktu mereka semakin banyak terbuang."
Itachi mengernyitkan dahi mendengar jawaban Shikamaru. "Maksudmu?"
"Jalan memotong yang dimaksud adalah sebuah danau. Sementara, tidak satupun ada yang berbicara mengenai sampan ataupun berenang. Sebagaimana yang dibantah oleh para utusan Suna waktu itu."
Itachi tampak mulai tertarik dengan penjelasan Shikamaru. Jauh di lubuk hatinya, ia mengakui, kalau pemuda yang ada di depannya ini sangat jenius. "Sampan bisa disembunyikan, Adik," ujar Itachi membantah. Hatinya kembali bertanya-tanya, jawaban apa kiranya yang akan diberikan Shikamaru.
"Itu..." Shikamaru mengarahkan telunjuknya kembali pada peta dengan seringai di bibirnya. "Adalah masalah selanjutnya," ujarnya misterius.
"Kau benar-benar tidak akan merahasiakan ini dariku, bukan?" tanya Itachi penuh selidik.
"Tentu saja tidak. Aku akan menunjukkan semuanya padamu," jawab Shikamaru santai. Ia meneguk teh manis yang tersedia di atas meja. Mata pemuda Nara itu mengerling bosan pada beberapa pelayan yang tengah berdiri di sekitar mereka.
"Lalu?"
Shikamaru memberi kode pada Itachi dengan menutup matanya, serius. Menandakan kalau pembicaraan ini adalah pembicaraan yang sangat rahasia dan tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Itachi mengangguk mengerti dan ikut menyesap teh hangatnya dengan tenang.
.
.
.
.
.
Seorang pengawal berbaju formal khas kerajaan berjalan santai di salah satu lorong istana. Beberapa lilin menyala terang di tepi lorong. Di samping kanan dan kiri lorong tersebut, terdapat beberapa pintu yang menunjukkan sebuah ruangan atau lorong yang lain. Beberapa patung ular pun tampak menghiasai sekitar lorong gelap bercahaya lilin itu. Membuat lorong gelap itu terasa sangat mistis dan menyeramkan bagi yang melewatinya.
Langkah kaki pengawal itu tidak terhenti hingga sebuah pintu besar berwarna cokelat gelap dengan ukiran ular berada di depan matanya.
Pengawal berambut putih itu lalu menggerakkan tangannya untuk merapikan letak kacamata bulat yang ia kenakan sebelum membuka pintu besar tersebut dengan tenang.
'Tap... tap... tap...'
...
"Kabuto-kun?"
"Ya, Orochimaru-sama..."
.
.
.
.
.
To
Be continue...
Ouji-sama = Pangeran
Oujo-sama = Putri
Ini udah semakin panjang...
Hahaii... makasih kepada yang udah bersedia mereview, fave, dan alert. Sangat berharga bagi saya, sekalian sebagai pemberi semangat untuk melanjutkan fic gaje ini. Makasih, ya...
Hello Kitty cute Belum ketemu, dek... bosen, yah... nungguin mereka ketemu? Hehe, sabar, ya... mereka ketemunya ntar. Saya mau buat ShikaTema ketemuan, tapi takutnya, ntar alur fic-nya jadi kacau. Secara gitu, Tema aja baru sadar. Trus, duo negara itu lagi konflik. Emm, begitulah keadaannya... mari kita nantikan! :D
Kithara Blue Beauty Hahaha, masa, sih? Kalo yang chap ini, masih keren juga, ngga? :D
SoraYa UeHara Hahaha... iya, betul itu. Saya juga senyum-senyum sendiri pas nulisnya! #dasar authorsebleng# Yah, tapi dia tetap keren, kan? XD Gaara gitu, lho... #keluar deh, fangirlnya
Endah 'pinkupanpu Hahaii... iya, sedikit kasian... tapi dia tetap keren, kok... #lagi2, -.-a
CharLene Choi Hahaha, haduhh, siapa siiih, yang jauh di sana? #sambil ngintip pake teropong jarak jauh
Putri Suna Ouji-sama itu adalahh... pangeran... hehehe... #nyengir sambil garuk2 pipi
MinCha-chan Hihihi... udah, dong sujud syukur-nya... itu Shika ngeliatin terus dari tadi. :D
EMmA ShiKaTeMa Ini, nih... readers saya yang namanya paling unik, hehehe... mantap, dehh... Iyap, mereka sama-sama bushou. Emm... menurut kamu, kira-kira ada, ngga? Hayo, ditebak!
Kagome Sabaku Hehehe... begitulahh... soalnya, Gaara itu kan, kalem banget. Saya selalu berpendapat, sekalem apapun seseorang, paling ngga, dia pernah deh, ngelakuin hal konyol, hahaha... #pendapat apa pula itu? -.-a Emm, kalo masalah slight, saya kasih tebakan, dehh... kira-kira ada atau ngga? Dan kalo ada, slight-nya sama siapa?
Takana Nara Wah wah wah... selamat dataang! #peluk2 Takana-san# :D Ini udah update!
Yap, itulah balasan review dari saya. Kalo ada salah kata, mohon dimaafkan... :) Selamat lebaran, ya... mohona maaf lahir dan bathin... hadeuh, telat ngucapinnya... padahal minggu kemaren saya ngupadate fic ini. :D
Saya akan berusaha untuk konsikuen mengupdate fic ini setiap minggunya. Semoga bisa... aamiin... Kalo ada pembaca yang mau kasih kritik dan saran, review plus PM saya terbuka lebar-bar-bar... :D Silakan kalo gitu...
Dor dor dor! #tembak silent readers. Hayo, ngaku... yang kena tembak siapa, aja... hahaha
Sinopsis chap depan :
"Aku masih belum percaya sepenuhnya dengan pendapatmu,"
"U-uhm... i-itu adalah Oujo-sama yang sedang membaca,"
"Segera cari tahu siapa 'orang khusus' itu!"
"Sampai kapan mau memaksakan diri begitu, Nee-chan?"
"Dia... Shikamaru."
