Kuroko no Basuke © by Fujimaki Tadatoshi
Gray Disaster
Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya x Mayuzumi Chihiro
Genre : Hurt/Romance/Comfort
Rated : M (anak kecil dilarang baca)
Warning : BoyxBoy dan konten dewasa
Chihiro menatap wajah damai Tetsuya yang terlelap di tempat tidurnya. Tubuh telanjang Tetsuya hanya dilapisi oleh sebuah selimut besar yang menutupi sampai area pinggangnya, membuat si malaikat kecil itu bergidik kedinginan namun belum mau bangun dari tidurnya. Wajah damai itu sedikit terusik ketika tangan Chihiro membelai surai biru muda dengan lembut.
"Tetsuya sayang, ayo bangun. Nii-san sudah menyiapkan sarapan untukmu." Bisikan lembut terdengar di telinga Tetsuya.
Sedikit mengernyit, Tetsuya berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat. Sinar matahari pagi terlalu menyilaukan membuat sekeliling Tetsuya seakan berwarna putih. "Uuuh, A..Apa ini surga? Ayah? Ibu?" Tetsuya sedikit kebingungan, ia belum sadar sepenuhnya. Tetsuya pastilah sangat depresi sehingga dia mengira sudah ada di surga.
"Hei, apa yang kau katakan Tetsuya? Kau masih memilikiku. Kenapa memanggil ayah dan ibu yang sudah pergi? Mereka sudah tenang di alam sana." Chihiro mengusap air mata yang perlahan mengalir di pipi Tetsuya. Ah, sepertinya Tesuya terlalu mudah menangis. Chihiro kembali tersenyum setelah melihat Tetsuya sudah sepenuhnya sadar, menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tetsuya mencoba beranjak dari tempat menyebalkan itu tanpa mengatakan apapun pada Chihiro namun tubuhnya begitu sakit dan nyeri terutama di pinggang. Padahal Tetsuya sudah mendapat harapan kembali ketika tadi ia berpikir sudah ada di surga, namun orang disampingnya itu kembali menyadarkannya pada kenyataan. Kini ia benar-benar ingin mengumpat dan membunuh orang disampingnya itu.
Melihat Tetsuya kesakitan, Chihiro menahan Tetsuya dengan tangannya. "Apa sakit sekali? Nii-san akan membawakan makananmu kesini. Jadi jangan banyak bergerak oke."
Setelah mengucapkan itu dengan wajah khawatirnya, Chihiro segera bergegas mengambil sarapan untuk Tetsuya. Beberapa menit kemudian Chihiro kembali dengan nampan besar berisi sarapan untuk Tetsuya serta baskom air hangat dan handuk kecil untuk mengompres pinggang Tetsuya.
Sejak bagun hingga sarapan dimakan habis —tentu dengan paksaan Chihiro agar Tetsuya mau makan, Tetsuya tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Chihiro. Padahal Chihiro sudah beberapa kali mengajaknya berbicara. Sebenarnya Tetsuya berpikir sangat keras, ia ingin sekali bunuh diri. Tapi, ia tak punya nyali. Ya, kau tahu, bunuh diri dengan cara apapun itu tetap saja menyakitkan loh, Tetsuya.
"Hari ini aku akan merawat Tetsuya. Semua urusan di kantor sudah Nii-san serahkan pada Haizaki. Orang yang mengaku sebagai paman itu sudah mendapat hukuman yang pantas." Chihiro tersenyum bangga.
Saat itulah Tetsuya merasa tertarik. Kalau dipikir-pikir, Chihiro berubah sikap semenjak diteror oleh orang tak dikenal itu.
"Jadi, apakah orang itu adalah sumber masalahmu selama ini?" Tetsuya bertanya dengan serius.
"Orang itu sudah pasti kau tahu Tetsuya. Dia adalah paman yang mencoba menghancurkanku. Dia tahu kelemahanku adalah Tetsuya. Oleh karena itu, dia ingin membuat Tetsuya dalam bahaya. Aku tidak bisa membiarkan itu."
"Jika paman itu sudah tertangkap. Berarti aku sudah tidak dalam bahaya lagi kan? KAU BISA KEMBALI MENJADI KAKAKKU YANG DULU KAN?" suara Tetsuya meninggi, mengatakan hal itu membuat jantung Tetsuya berdebar. Harapannya sangatlah besar, berharap Chihiro kembali. Matanya menatap Chihiro yang menunduk.
"Tidak mungkin. Tetsuya sudah menjadi milikku. Jika aku kembali seperti dulu, aku tidak bisa memilikimu. Hatiku sakit jika mengingat itu. Sudah terlalu lama aku menahan diriku. Aku tidak bisa. Kau tidak akan tahu bagaimana takutnya aku ketika aku menyadari bahwa aku jatuh cinta padamu, aku takut kehilangan Tetsuya." Chihiro merengkuh kedua pipi Tetsuya dan mencium keningnya.
Untuk kesekian kalinya harapan Tetsuya hancur. Kini ia benar-benar harus memikirkan bagaimana caranya bunuh diri. "Kau bahkan juga tidak tahu bagaimana takutnya aku kehilangan kakakku yang dulu." Tetsuya berkata sangat lirih dalam pelukan Chihiro. Tentu Chihiro tak mendengarnya.
Keesokan harinya tibalah hari pengumuman hasil seleksi ujian masuk SMA Rakuzan. Sekolah elit yang hanya mampu dimasuki orang-orang dengan otak Einstein. Berlebihan memang, tapi begitulah adanya. Sekolah ini adalah sekolah internasional tempat lahirnya orang-orang sukses di Jepang. Jangan lupakan usaha keras nenek moyang keluarga Akashi sebagai pendiri sekolah ini sehingga sampai saat ini SMA Rakuzan masih memegang rekor sebagai sekolah terbaik di Jepang. Proses seleksi memang sangat ketat dengan persyaratan yang berat. Tidak semua orang bisa bersekolah di tempat ini, bahkan anak sang pemilik sekolah pun, Akashi Seijuurou harus mengikuti ujian masuk sekolah tersebut. Namun, tak masalah bagi seorang Akashi untuk melalui itu. Otaknya sudah terlatih sejak kecil memahami soal-soal rumit. Kepintarannya sudah tidak diragukan lagi, konglomerat dengan kecerdasan yang luar biasa. Selain itu, Akashi sangat terkenal terutama dikalangan gadis-gadis karena karisma dan ketampanannya. Benar-benar sempurna.
Pagi-pagi sekali Tetsuya terbangun dari tidurnya. Syukurlah Chihiro tidak menyerangnya lagi malam kemarin. Mata biru itu menyusuri sekeliling kamarnya, ia takut Chihiro ada di sana, namun nihil. Tetsuya bernafas lega. Tiba-tiba Tetsuya melompat dari kasur dan berlari ke arah meja belajar. Mengambil kalender dan mengeceknya. "Ah, hari ini pengumumannya." Segera saja ia membuka laptop dan menelusuri website SMA Rakuzan. Deretan nama peserta yang lolos ia cek satu persatu. Harap-harap cemas karena Rakuzan hanya menerima 150 siswa terbaik dan... mata Tetsuya terbelalak kaget tidak percaya, dia lolos dengan menempati posisi terakhir.
"Oh syukurlah aku bisa lolos. Syukurlah." Tetsuya tersenyum bahagia. Dia segera beranjak dari kamarnya untuk memberitahu Chihiro namun langkahnya segera terhenti tepat di depan pintu kamarnya. Tetsuya berpikir, untuk apa dia memberitahu orang asing itu? Toh Tetsuya sudah tidak menganggapnya kakak lagi.
"Tetsuya? Kenapa berdiri di depan kamar?" suara Chihiro menyadarkan Tetsuya. "Apa ada hal yang ingin kau katakan?" Chihiro bertanya sambil membelai surau biru Tetsuya. Menghela nafas berat, akhirnya Tetsuya memberitahu Chihiro.
"Aku lolos ujian seleksi Rakuzan." Tetsuya berkata tanpa menatap Chihiro.
"Benarkah itu? Ohh, Kami-sama terima kasih banyak. Tetsuya-ku memang hebat!" Chihiro tersenyum bahagia sambil memeluk erat Tetsuya. Dalam hati Tetsuya hanya menggerutu 'bagaimana bisa iblis sepertimu masih mengucapkan nama Tuhan? Ironis sekali'
Singkatnya, tibalah hari masuk sekolah. Tetsuya sudah siap dengan seragam barunya yang begitu bagus. Kemeja biru muda dipadukan dengan Blazer putih membuat tetsuya tampak sangat imut. Untuk ukuran remaja seumurannya, Tetsuya memiliki tinggi badan di bawah rata-rata, dengan mata bulat dan pipi yang tembem, membuatnya masih terlihat seperti anak SD yang lucu. Tapi sepertinya ia semain kurus mengingat tekanan hidupnya saat ini sangat berat. Tetsuya harap, di sekolah barunya nanti ia akan mendapatkan suasana yang lebih baik agar bisa melupakan beban yang menunggunya di rumah.
"Ohayou Tetsuya. Nii-san sudah membuatkanmu sarapan istimewa. Cepatlah duduk dan segera sarapan. Nii-san akan mengantarmu ke sekolah." Chihiro menyambut Tetsuya dengan senyuman yang lebar. Matanya tak henti memperhatikan Tetsuya yang mengenakan seragam itu. Ah, Chihiro semakin jatuh ke dalam cinta yang sesat.
Tetsuya makan dalam diam. Selama sarapan itu hanya diisi oleh ocehan dari Chihiro yang menceritakan tentang bagaimana hari pertamanya saat sekolah di Rakuzan dulu, kondisi sosial yang ada di sana dan lain sebagainya. Namun, Tetsuya tidak menanggapi sama sekali. Pikirannya sibuk oleh pertanyaan 'bagaimana bisa dia cerewet begini?'. Tanpa Tetsuya sadari, dalam ocehan itu terdapat hal penting yang perlu dia ingat. Sayangnya Tetsuya tak mendengarkan.
Tetsuya telah sampai di depan pintu gerbang SMA Rakuzan yang megah. Ia hendak turun dari mobil namun tangannya ditahan oleh Chihiro. "Apa?" Tetsuya menoleh dan bertanya dengan singkat kemudian Chihiro menarik Tetsuya untuk lebih mendekat. Chihiro berbisik, "Jangan lupa kata-kata Nii-san yang tadi ya." Tentu Tetsuya tak mengerti, namun ia hanya mengangguk. Masa bodoh toh dia sudah sangat membenci Chihiro. Tetsuya hanya tidak ingin terlibat percakapan panjang dengan Chihiro. Setelah itu Chihiro menarik sedikit dagu Tetsuya dan mengecup bibirnya dengan perlahan. Tetsuya tidak melawan, pikirannya kosong. Kecupan itu semakin lama menjadi lumatan yang menuntut Tetsuya untuk membuka mulutnya. Ah sial, Chihiro ingin lebih. Tapi dia tidak ingin merusak hari pertama Tetsuya masuk sekolah. Jika melakukan hal itu sekarang, Chihiro yakin dia tidak bisa berhenti hingga Tetsuya pingsan. Chihiro melepaskan pangutannya pada bibir mungil itu. Tetsuya hanya bisa terengah kehabisan nafas. "Maaf Tetsuya, Nii-san terbawa suasana." Segera Tetsuya mengambil sapu tangan disakunya dan mengelap bibirnya yang basah oleh banyak saliva. Tetsuya keluar dari mobil tanpa mengucapkan apapun. Chihiro melihat langkah terburu-buru Tetsuya memasuki gerbang Rakuzan. Sepertinya Tetsuya hampir terlambat.
Upacara penyambutan siswa baru hampir dimulai di aula SMA Rakuzan, namun Tetsuya masih kebingungan mencari letak aula di sekolah semegah itu. Langkah kakinya semakin cepat dan matanya jeli mencari sambil sesekali bertanya pada senpai yang lewat. "Ah, itu dia aulanya!" tersenyum lebar, Tetsuya segera berlari ke arah aula itu, tinggal melewati sebuah koridor dan...
"UGHH!" Brukk! Tetsuya menabrak dada seseorang yang tiba-tiba berlari dari arah samping koridor dan menghadangnya. Tetsuya terjatuh cukup keras karena tadi dia berlari lumayan kencang. Tapi orang di depannya itu masih tegap berdiri. Mengusap hidungnya yang sakit karena benturan tadi, perlahan Tetsuya mendongak dan matanya seketika terbelalak. 'Orang ini? Preman yang waktu itu?' pikiran Tetsuya mulai tidak karuan, bagaimana bisa dia bertemu orang ini lagi. Susah payah Tetsuya berdiri namun tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik paksa oleh preman bersurai merah itu menuju ke suatu tempat.
"T-tolong lepaskan!" Tetsuya masih memberontak berusaha melepaskan tangannya namun apa daya, tubuh ringkih itu tidak mungkin bisa melawan tubuh kekar yang menariknya. Bahkan Tetsuya sudah dibuat terjatuh dua kali.
Sampailah mereka di belakang gedung aula dengan usaha Tetsuya yang tidak membuahkan hasil. 'Uh, tempat ini sepi sekali' batin Tetsuya ketakutan. Apa mungkin orang didepannya ini ingin menghajarnya sampai babak belur. Oh tidak, Tetsuya ingin segera pergi. Upacara penyambutan juga terdengar sudah dimulai. Orang itu masih mencengkeram tangan Tetsuya sambil menyeringai seram. Tetsuya memberanikan diri bertanya "Siapa kau?"
"Heeeh? Kau tidak mengenalku? Apa kau tidak ingat pernah menabrakku? Dan tadi yang kedua kali." Pria merah itu mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.
"I-itu salahmu k-karena sudah menghadangku tiba-tiba! Aku ingat tapi aku kan sudah minta m-maaf waktu itu. Tolong dilupakan. L-lagi pula aku tidak mengenalmu." Tetsuya mendorong dada pria didepannya. Terlalu dekat.
"Hmmm, aku masih belum memaafkanmu. Dan ingat ini baik-baik! Namaku adalah Akashi..."
Tangan akashi bergerak ke arah belakang kepala Tetsuya dan menekannya agar wajah Tetsuya mendekat padanya. Lagi-lagi Akashi menyentuh hidung Tetsuya dengan hidungnya. "Akashi Seijuurou. Dan kau, Kuroko Tetsuya, kau adalah mainanku mulai saat ini."
Kemudian Akashi menggesekkan pucuk hidungnya pada hidung Tetsuya yang memerah karena benturan tadi. "Apa itu sakit? Hidungmu sangat merah." Tetsuya hanya membatu, dia ingin menangis. Sungguh orang yang bernama Akashi ini sangat menakutkan.
"Hiks, Uuuh, aku t-tidak mau. Tolong jangan ganggu aku Akashi-san." Dorongan pada dada Akashi sama sekali tidak berpengaruh, Akashi sama sekali tidak mundur dan malah menekan tubuh kecil Tetsuya semakin menempel pada tubuhnya. "L-lepaskan akuu! Hiks hiks! A-akashi-san!" oh, Tetsuya mulai berlinang air mata.
"No! Kau harus memanggilku Akashi-sama mulai sekarang!" Akashi mulai mengecup ringan pipi Tetsuya hingga kecupannya turun ke dagu membuat Tetsuya mendongak. "A-aku t-tidak mau. Aakh..!" Tetsuya memekik kecil saat Akashi menggigit lehernya. "Aku tidak menerima penolakan Tetsuya. Cepat katakan!" perintah Akashi seketika membuat Tetsuya mau tidak mau harus menyerah.
"B-baik, Akashi-sama." Seringai lebar muncul di wajah Akashi membuatnya terlihat seperti psikopat. Tetsuya cukup mudah untuk ditaklukkan walaupun tadi sempat melakukan perlawanan yang sebenarnya tidak terlalu berarti untuk Akashi. Tetsuya masih terisak karena Akashi masih belum melepaskannya.
Tiba-tiba Akashi melumat bibir mungil Tetsuya dengan kasar. Tetsuya sama sekali tidak bisa bergerak. Lidah Akashi memaksa untuk masuk dan memperdalam ciuman mereka. Sepertinya Akashi sedang dikuasai nafsu. Ia terus melumat bibir Tetsuya, menggigitnya hingga Tetsuya membuka mulutnya. Lidahnya benar-benar ingin menelusuri tidak hanya mulut kecil itu namun seluruh tubuh Tetsuya sangat ingin dia rasakan. Oh, sial! Seseorang harus menghentikan Akashi.
"Uuuhhnnn!" Tetsuya tidak bisa menahan erangannya walaupun hatinya menolak. Tubuhnya terlalu sensitif apabila diberi rangsangan memabukkan begini. Ini semua gara-gara Chihiro. Akashi melepas ciuman sebentar. Kesempatan itu Tetsuya gunakan untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, tubuhnya sangat lemas dengan wajah memerah. Saliva mengalir di sudut bibirnya hingga turun ke dagu. Erotis sekali.
"Hei, sepertinya aku tidak bisa berhenti. Haha, aku beruntung menemukanmu. Apa yang harus kulakukan padamu sekarang Tetsuya. Aku ingin mendengar eranganmu lebih banyak." Akashi menyentuh bibir basah Tetsuya dengan jempolnya dan hendak melumat bibir itu lagi namun suara dari dalam aula merusak mood-nya.
"Panggilan untuk Akashi Seijuurou di harap memasuki gedung aula untuk memberikan pidato. Sekali lagi panggilan untuk..."
"Akh! Sial! Orang tua itu merepotkan saja." Akashi mengumpat lalu segera menarik Tetsuya untuk memasuki gedung aula. Tetsuya masih terlihat ketakutan dengan air mata yang masih mengalir dan wajah yang memerah. Melihat itu, Akashi mengecup bibir Tetsuya sekali lagi, sangat singkat.
"Kau itu terlalu cengeng!" Tetsuya hanya menunduk sambil mengusap air matanya.
Saat memasuki gedung aula. Tetsuya segera duduk di deretan kursi siswa baru atas arahan dari guru yang berjaga. Sedangkan Akashi? Dengan santainya dia menaiki podium untuk memberikan pidato dari perwakilan siswa baru karena Akashi meraih peringkat pertama dalam seleksi ujian masuk. Tidak diragukan lagi bagaimana superior-nya seorang Akashi itu.
Di sekolah itu, tidak akan ada yang berani macam-macam pada Akashi. Salah sedikit saja, hidupmu akan menjadi taruhannya. Oleh karena itu Akashi bebas melakukan apa saja termasuk terlambat hadir untuk memberikan pidato.
Saat Akashi sedang berpidato, dibangkunya Tetsuya sudah tidak punya semangat lagi. Kehidupan sekolah yang ia dambakan rusak seketika oleh seseorang yang bernama Akashi Seijuurou yang menurut Tetsuya adalah preman berhati jahat. Dan anehnya lagi, bagaimana bisa makhluk paling pintar seangkatannya itu memiliki sifat yang setara dengan iblis dirumahnya (baca:Chihiro).
Perlahan Tetsuya mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Ingatan tentang beberapa menit yang lalu kembali berputar diotaknya. Ingatan tersebut tercampur dengan seluruh ingatan buruk yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Bagaimana perlakuan Chihiro padanya, Tetsuya ingat semua itu dan sekarang ditambah lagi seorang Akashi yang juga melecehkannya sama seperti Chihiro. Tetsuya harus bagaimana sekarang, ia terlalu takut untuk melanjutkan hidupnya.
Tes.. tes.. air mata Tetsuya tumpah lagi, kepalanya terlalu pusing memikirkan hal yang berkecamuk dikepalanya dan seketika semuanya gelap. Tetsuya yang malang pingsan sudah.
Bersambung
