Chapter sebelumnya Sasuke dan Sasori yang mengejar Sara malah bertemu dengan Itachi dan terjadi perkelahian. Itachi melarikan diri setelah melihat kekuatan yang dimiliki Sakura! Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Bagaimana keadaan gadis yang bernama Sakura itu?

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Action/Adventure/Friendship/Romance/Tragedy

Pair : Mainly SasuSaku hints and another hints

Warning : T rate, kemungkinan OOC (tergantung sudut pandang kalian sebagai pembaca), Crack pair, AU, Typo(s)

Story By Yuki19

Dedicated to all readers, please enjoy it and happy read.

o0o

Tale Of Spirit

Chapter 3

-Classic Plan-

o0o

.

...

Sakura yang pingsan akhirnya terbangun. Dia melihat keadaan sekeliling yang tampak begitu asing baginya. Gadis itu bangun perlahan dari tempat tidur yang ukurannya sangat besar dan terlalu empuk baginya.

"Tempat apa ini? Kemana semua orang? Apa yang sebenarnya terjadi... ?" gumamnya pelan sambil berjalan ke luar kamar. Kini dia berdiri di depan ruangan sambil menoleh kiri dan kanan kebingungan.

"Ah, Nona sudah siuman?" seorang gadis memakai pakaian maid tampak tersenyum lega saat melihat Sakura sudah bangun. Gadis itu berjalan mendekati Sakura.

"Uh... Di-dimana ini? Apa yang terjadi dan kemana semua orang?" Sakura kembali mengulangi pertanyaan yang sejak tadi berada dalam benaknya ketika terbangun pada pelayan itu.

"Anda berada di kediaman Putri Sara Cultriss," jawabnya dengan tersenyum. "Lebih baik anda tetap di dalam, saya akan memanggil teman-teman anda yang lain," katanya dengan sopan. Pelayan itu menuntun Sakura untuk masuk kembali ke dalam kamar.

.

"Tunggulah di sini sebentar, saya akan segera kembali." Setelah menuntun Sakura dan mendudukkan gadis itu di atas tempat tidur, pelayan itu berjalan kembali keluar.

Tak berapa lama Sakura menunggu di dalam, Sasuke, Jiraiya, Tsunade dan Sara masuk ke dalam kamar menemuinya.

"Bagaimana keadaanmu Sakura? Sudah merasa lebih baik?" Tsunade menanyakan keadaan Sakura lebih dahulu.

"I-iya, kurasa begitu... " jawab Sakura sedikit canggung. Dia merasa seperti orang asing di tengah orang-orang hebat dan penting yang sekarang sedang mengelilinginya.

"Apa aku boleh pulang?" tanya Sakura dengan perasaan tak sabar.

"Maaf sekali, tapi sepertinya kau harus berada lebih lama lagi di sini," ucap Tsunade sambil tersenyum aneh. Tiba-tiba saja sakura merasakan firasat buruk.

'He? Tapi kenapa?" tanya Sakura lagi dengan tatapan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia ingin sekali pulang dan tak tahan berlama-lama diantara para artistocrat.

"Maafkan kami, ya Sakura. Tapi sepertinya kami harus melibatkanmu dalam urusan ini." Sasori berusaha menenangkan Sakura yang tampak panik.

"Aku tidak mengerti... Bisa diantara kalian menjelaskannya padaku?" Sakura mengedarkan pandangannya ke satu-satu orang yang ada di hadapannya.

"Sigh... " Sasuke berdiri paling pojok tampak menghela napas sejenak. "Kami berencana untuk menukarkan posisi Putri Sara denganmu selama upcara pelantikan," katanya yang langsung disambut protesan dari Sakura.

"Apa? Aku? Kenapa harus aku?" Sakura tentu saja tidak bisa menerima keputusan yang diambil sepihak begitu saja, apalagi keputusan itu tidak menguntungkan baginya.

"Karena hanya kau yang memiliki kemiripan dengan Putri Sara," timpal Tsunade dengan santai, bikin Sakura jadi merasa sebal seketika pada wanita itu.

"Tidak. Itu tak bisa dijadikan alasan! Orang-orang pasti akan menyadari kalau aku bukan Putri Sara!" Sakura tetap tegas menolak ide konyol itu.

"Kau tenang saja. Orang-orang tak akan mengetahui kalau kau bukan Putri Sara." Lagi-lagi Tsunade membalas dengan enteng.

"Selama ini Putri Sara tak pernah keluar dari kalangan istana, jadi masyarakat umum tak ada yang tau pasti dengan wajahnya. Mereka hanya tau kalau Putri Sara memiliki kemiripan wajah dengan Ratu Sarah. Jadi kau tidak usah khawatir, mereka tidak akan menyadarinya karena kau juga agak mirip dengan Sarah." Akhirnya Jiraiya turun tangan menjelaskan pada Sakura.

"Semua ini demi keselamatan Putri Sara. Pada upacara nanti akan banyak pembunuh bayaran yang akan mengincar nyawa Putri Sara. Kami tak berani mengambil resiko untuk membiarkan Putri dalam keadaan yang berbahaya seperti itu," timpal Sasuke ikut menjelaskan dengan ekspresi datar.

'Kalian mencemaskan keselamatan Sara tapi kalian mengorbankanku dan menjadikanku umpan! Apa-apaan mereka!' Sakura memaki dalam hati.

"Lagipula, kalau kau menolak untuk membantu, aku terpaksa harus memenjarakanmu," ucapnya lagi yang sukses besar membuat urat kesabaran Sakura putus. Seenaknya saja mau memenjarakan orang! Bukankah dia juga memiliki hak untuk menolak?

"Maaf sekali tapi aku tetap menolak. Kau tidak punya alasan untuk menghukumku!" tegas Sakura sekali lagi, "aku berterima kasih karena kalian telah menolongku, tapi maaf saja aku tak mau terlibat. Aku pergi," katanya sambil berdiri dari tempat tidur dan berjalan menuju luar.

"Haruno Sakura, 17 tahun. Dia adalah salah satu incaran Anbu karena aksinya yang berhasil mencuri berbagai berlian di beberapa planet. Reputasinya cukup terkenal dan aku bisa saja menangkapmu sekarang." Mendengar perkataan Sasuke membuat Sakura sukses mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia tau Sasuke tak main-main dan kalau dia menolak, dia harus siap-siap tinggal di penjara.

"Grhhh! Baiklah-baiklah tuan Anbu yang sok tau, aku akan membantu!" Sakura kalah dan akhirnya menyetujui rencana yang sama sekali tidak disukainya itu.

"Kalau begitu ayo kita ke ruangan Sara!" Tsunade tersenyum puas sambil menarik tangan Sakura keluar dari kamar yang juga diikuti oleh Sara.

"Aku minta kalian berdua menjaga Sakura. Buat seolah yang kalian jaga itu adalah Putri Sara agar musuh tidak curiga." Jiraiya memberikan perintah pada Sasuke dan Sasori. Perintah yang harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian.

"Ingat, kalian harus waspada apalagi kudengar Itachi juga terlibat ke dalam masalah ini." Raut wajah Sasuke berubah ketika Jiraiya menyebutkan nama Itachi. Ada perasaan kesal bercampur sedih, semuanya bercampur menjadi satu dalam benak kecilnya.

"Aku mengerti, tak usah khawatir," balas Sasuke dingin meskipun saat ini benaknya tengah bergemuruh menyimpan begitu banyak teka-teki yang membingungkan.

"Aku akan melakukan persiapan untuk acara, kalian mulai berjagalah".


Sesuai dengan yang dikatakan oleh Jiraiya, Sasuke langsung menyuruh semua anak buahnya untuk menyebar ke seluruh penjuru istana dan melakukan penjagaan ketat. Tak ada satu pun celah yang luput dari pengamatannya. Sementara Sasuke dan Sasori berjaga persis di luar ruangan kamar milik Putri Sara.

Drrrtt... Drrttt... Drrrttt...

Ponsel Sasori kembali berdering membuat Sasuke yang berdiri di sebelahnya sedikit mengernyit. Mungkin pemuda itu berpikir Sasori tidak profesional karena disaat seperti ini Sasori malah sengaja menyalakan ponselnya yang pastinya akan menjadi pengganggu kalau tiba-tiba saja ponsel itu berbunyi disaat yang genting.

"Ah, maaf ya. Aku angkat telepon dulu." Dengan perasaan tidak enak Sasori meminta ijin sebentar pada Sasuke untuk mengangkat telepon.

"Pergilah," balas Sasuke dengan dingin. Sasori mengangguk sebentar dan kemudian dia pergi mencari tempat yang sepi.

.

.

"Kenapa kau menelpon disaat seperti ini?" desis Sasori yang jadi merasa tak enak pada Sasuke tadi.

"He? Kau ini bagaimana! Kita sudah janji untuk menemui Putri Sara, kan?" balas dari sebrang yang merasa tak terima kalau telpon darinya dianggap mengganggu.

"Aduh, kau ini bagaimana?" Sasori mengacak-ngacak rambutnya frustasi, "Putri Sara pagi tadi menghilang dan—" belum sempat dia menjelaskan keseluruhan ceritanya, tiba-tiba saja sang penelpon sudah memotong kalimatnya.

"APA? MENGHILANG? BAGAIMANA BISA!" teriakan histeris bergema di telinga Sasori dan membuat telinga pemuda itu berdengung nyeri.

"Astaga, jangan teriak-teriak begitu! Kau mau membuatku terkena gangguan telinga?" balas Sasori setengah nyolot, "sudahlah sekarang jangan panik karena Putri Sara sudah ditemukan. Hanya saja aku butuh bantuanmu sekarang," ucapnya lagi sambil menempelkan kembali sang ponsel ke telinganya.

"Bantuan apa?" tanya si penelpon dengan datar.

"Aku ingin kau dan yang lain tetap di sana dan jangan menyusulku, mengerti?" Sasori kemudian menjelaskan kalau dia tak ingin teman-temannya ikut terlibat ke dalam masalahnya sekarang.

"A-apa? Tapi kenapa?"

Click!

Sasori tanpa menjawab semua alasannya langsung memutuskan kontak dengan si penelpon. Pemuda itu menggenggam ponsel merah miliknya sambil menghela napas berat. Setelah merasa jauh lebih tenang, pemuda itu bergegas kembali ke tempatnya tadi.

.

.

Sasuke dan Sasori tak bicara banyak, keduanya hanya diam sambil menunggu kedatangan 'Putri Sara' dari dalam ruangan. Tapi disaat hening itu tiba-tiba saja Sasori berbicara mengenai sesuatu yang cukup mengusik Sasuke.

"Kudengar klan Uchiha merupakan klan paling tua yang menempati bumi dan merupakan salah satu klan yang mencetuskan perang," kata Sasori yang bercerita mengenai klan Uchiha yang dia pelajari dari sekolahnya.

"Hn," Sasuke hanya sedikit mendengus sambil melirik Sasori dengan tatapan bosan.

"Klan Uchiha merupakan klan terkuat diantara semuanya. Mereka memiliki kecepatan, ketangkasan bahkan kejeniusan. Tapi sayang kemampuan hebat itu tidak diimbangi dengan moral mereka." Sasori bercerita dengan nada suara yang mengejek sambil senyum meremehkan.

"Tch... " Sasuke yang awalnya bersikap biasa saja jadi sedikit merasa sebal dengan perkataan Sasori mengenai klan Uchiha, meskipun apa yang dikatakan pemuda itu memang benar.

"Pada pertempuran yang dikenal dengan Holy war, klan Uchiha berhasil ditaklukan oleh Sarah. Kemudian klan tersebut dipindahkan oleh Sarah ke planet lain dan mengikat klan itu dengan sebuah kontrak agar kelak klan Uchiha tidak kembali mengkhianati manusia," tambahnya lagi sambil menutup sebuah buku besar (sepertinya itu buku pelajaran) yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya.

"Sasuke, aku tau kau adalah salah satu klan Uchiha yang masih tersisa saat ini. Aku benar, kan?" Sasori kemudian menoleh dan menatap Sasuke dengan tajam.

"Kalau benar, kau mau apa?" balas Sasuke dengan datar. Dia tak peduli akan mendapatkan cibiran atau hinaan dari Sasori karena dia tau, leluhurnya sudah sangat berdosa yang kini harus ditanggung oleh seluruh keturunan Uchiha yang ada saat ini.

"Kau tenang saja Sasuke. Aku tidak membencimu karena hal itu... Kita adalah teman," balas Sasori yang kemudian mengalihkan pandangan dari Sasuke dan menatap lurus ke depan sambil sedikit tersenyum.

"Hn." Sasuke tak tau harus berkata apa. Tapi jujur saja mendengar Sasori bilang seperti itu dia merasa sedikit lega.

Krieeet...

Tak berapa lama pintu ruangan kamar Sara terbuka lebar. Dari dalamnya muncul Sakura yang sudah rapih dengan pakaian kebesaran milik Sara (baju yang dipakai Sara di movie waktu Sara lagi mau pidato? Di depan rakyatnya itu).

"Arghhh! Kenapa baju ini begitu merepotkan! Aku jadi susah bergerak!" oceh Sakura yang sudah frustasi dengan pakaian yang dia pakai. Gadis itu mengangkat rok panjang dari baju tersebut sampai ke bagian betisnya.

"Ayolah, Sakura. Jangan bersikap seperti ini! Turunkan lagi rokmu itu!" Tsunade spontan memukul tangan Sakura dan menyuruh gadis itu bersikap selayaknya seperti seorang putri.

"Huh, iya-iya aku tau!" dengan muka super kesal Sakura terpaksa menuruti perkataan Tsunade.

"Kalian berdua tolong kawal dia." Tsunade meminta Sasuke dan Sasori untuk mengawal Sakura sampai ke depan dan terus menjaganya sampai upcara.


Headquarters


Di luar keadaan sudah sangat benar-benar ramai. Semua penduduk bumi yang ingin melihat putri Sara sudah memadati aula istana dengan berdesak-desakan. Tak hanya itu, peristiwa akbar ini juga disiarkan ke seluruh galaksi untuk ikut menyaksikan acara penting dan sakral ini.

Sakura keluar menuju aula, dia berjalan dengan begitu anggun. Tak tampak kalau sebenarnya dia bukanlah seorang putri. Sasori dan Sasuke yang berjalan di kiri dan kanannya mengamati tiap orang yang lewat dengan sikap waspada.

"Apa kalian sudah melihat gerakan mencurigakan?" tanya Sakura sambil berbisik-bisik.

"Entahlah... Sulit untuk memastikan dalam keramaian seperti ini," balas Sasori yang tanpa sengaja menginjak kaki Sakura.

"Aw!" gadis itu menjerit pelan, "apa yang kau lakukan bodoh! Singkirkan kakimu dariku!" Sakura reflek menggeplak kepala merah pemuda itu dengan kasar.

"..."

Hening... Semua orang yang menyaksikan sikap Sakura hanya mampu terdiam.

"Kalian berdua hentikan," sela Sasuke menyuruh Sakura dan Sasori untuk menyadari keadaan sekeliling mereka.

"Eh-oh... Hehehehe... " kedua orang itu hanya bisa cengengesan canggung.

"Ke-kenapa dengan kalian semua?" tanya Sakura dengan perasaan dag-dig-dug. "A-aku hanya reflek. Meskipun aku adalah seorang Putri tapi aku juga manusia sama seperti kalian! Aku bisa sedih dan juga marah da-dan bisa juga bersikap seperti tadi kalau sedang kesal!" Sakura berusaha menjelaskan mengenai kejanggalan sikapnya tadi.

"Hahahah kami suka Ratu yang seperti itu, karena dengan sikap seperti tadi membuat kami semua merasa lebih dekat dengan anda!" celetuk salah seorang dengan begitu antusias.

"HIDUP PUTRI SARAA! HIDUP PUTRI SARA!" pada akhirnya semua orang menyerukan nama Sara ke seluruh penjuru.

"Ahahahaha... Terima kasih, terima kasih," balas Sakura yang hanya bisa tersenyum malu-malu.

'Fiuh... Syukurlah' batin Sakura dan Sasori dengan lega secara bersamaan.

'Ya, ampun... ' Sasuke hanya bisa memijit kening melihat kelakuan Sakura dan Sasori.


Meanwhile


Di tempat yang berbeda Jiraiya tengah membawa Sara yang asli ke suatu tempat untuk diamankan.

"Anda kenapa Putri Sara?" tanya Aoba yang duduk di sebelah Sara.

"Aku... Merasa seperti lari dari tanggung jawab," jawab Sara sambil tertunduk.

"Putri Sara. Anda sama sekali tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Semua ini demi keselamatan anda," balas Jiraiya yang sedang menyupir di depan.

"Menyuruh orang menggantikan posisiku dan membuatnya berada dalam bahaya... Ratu macam apa aku ini membiarkan salah satu warganya berada dalam situasi bahaya?" Sara benar-benar merasa begitu menyesal membiarkan Sakura menggantikan dirinya, padahal dia tau banyak orang yang sedang mengincar nyawanya dan hal itu sama saja menyuruh Sakura untuk mati.

"Tenang saja. Di sana ada pasukan Anbu yang akan menjaganya." Jiraiya berusaha untuk menenangkan Sara yang sedang gelisah.

"Ngomong-ngomong Putri Sara, kenapa tadi pagi anda kabur dari istana?" Jiraiya segera mengganti topik mengenai pelarian sang putri tadi pagi. Jujur saja hal itu masih mengusik otaknya.

"Aku tidak melarikan diri! Aku pergi karena disuruh seseorang. Pagi itu aku mendapatkan pesan ada seorang anak kecil yang ingin menemuiku di bandara, makanya aku pergi ke sana," jawab Sara menjelaskan alasannya mengapa dia sampai pergi pagi tadi.

"Lalu, siapa orang yang menyuruh anda untuk pergi?" tanya Jiraiya penasaran.

"Nama orang itu adalah Itachi".

Suasana langsung menjadi hening sesaat ketika nama Itachi disebut.

DHUAAAR!

Mendadak saja terjadi ledakan yang tak terduga di depan mereka. Ledakan itu mengeluarkan kepulan asap putih yang sangat tebal. Dari balik asap itu Jiraiya secara samar dapat melihat tiga orang sosok yang sedang berjalan mendekati mereka.

Siapakah ketiga sosok itu? Apakah acara pelantikannya bisa berjalan dengan lancar?

TBC


A/N : Sedikit menjelaskan, perang di mana Sarah membagi-bagi planet antar klan disebut Holy war. Bagaimana Sarah melakukan hal tersebut masih belum diketahui. Di chapter ini dijelaskan kalau Sarah memiliki kontrak dengan klan Uchiha. Klan Uchiha ini adalah klan demi-human (bukan manusia seutuhnya) bisa dikatakan klan ini adalah perpaduan antara monster dan guardian.

Untuk yang nanya hint SasuSaku, I will said "YES!" tapi mungkin di chapter-chapter selanjutnya dan belum mau terburu-buru mengumbar romance (takutnya ngasih kesan terlalu cepat).

.

.

THANKS FOR READING!