Cryptic – The Fourth

Cast: Kim Jongin, Do Kyungsoo, and other cast.

Genre: Romance

Rated: T

This is yaoi, boyXboy, jadi kalo gak suka mending jangan baca ._.

Well, Happy reading… :)

.

.

.

.

.

.

"Menurutmu, menjadi biasa rasanya akan seperti apa?"

"Mungkin segalanya akan lebih mudah,"

"Kau yakin?"

"Aku, juga tidak tahu,"

"Tapi bukankah kita akan kehilangan segalanya?"

"Ya,"

"Apapun itu, kurasa akan lebih menyenangkan dari pada sekarang,"

"Apa yang kau—,"

"Aku, ingin tahu,"

"Tak akan semudah itu hyung,"

"Aku tahu,"

"Berhentilah berpikir seperti itu,"

"Kau ikut denganku kan?"

"…"

"Kai?"

"Ne,"

.

.

.

.

.

"Kau tahu, dia dari Beijing, aku baru tahu ada namja secantik itu,"

"Tubuhnya mungil, seperti Byun Baekhyun, benar-benar menggemaskan,"

"Matanya bulat sekali,"

"Melihatnya membuatku ingin memeluknya, apa dia sudah punya pacar?"

Luhan tersenyum tipis ketika gendang telinganya menangkap beberapa desisan tentang dirinya. Ia sebisa mungkin mengabaikan ocehan-ocehan itu dan melanjutkan langkah tegaknya di lorong kelas. Dagu lancipnya terangkat, bola mata cokelat keemasannya bergerak-gerak liar menampilkan kesan excited pada setiap objek yang dipandangnya. Bibir tipisnya sesekali melengkung manis bersamaan dengan kepalanya yang merunduk ketika beberapa anak melemparkan senyum sapa padanya.

Ia terus melangkah hingga mata bulatnya menangkap dua sosok yang dilihatnya sekilas di kelas tadi. Sebelum berlari menghampiri dua sosok itu, ia berhenti sejenak dan melambaikan tangannya, membuat dua sosok yang ditujunya menoleh dan menyadari kehadirannya.

"Annyeonghaseyo,"

Luhan sedikit membungkukkan badannya dibarengi dengan senyum lebar yang terlukis di wajah cantiknya. Dua sosok itu—Baekhyun dan Kyungsoo—membalas dengan membungkukkan badan mereka. Senyum tipis terpatri jelas di wajah Kyungsoo, sementara Baekhyun hanya menarik ujung-ujung bibirnya sekilas setelah itu bola matanya terlihat berfokus pada beberapa anak yang berlalu lalang.

"Bukankah kalian sekelas denganku?" suara Luhan terdengar begitu unik ketika ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Korea. Dialek khas China masih sesekali terselip di dalamnya yang justru membuat sosok Luhan terkesan semakin menggemaskan.

"Ne, apa kau membutuhkan bantuan?" tanya Kyungsoo cepat.

"Eum!" jawab Luhan sembari menganggukkan kepalanya.

"Bisakah Kyungsoo-ssi mengantarku berkeliling sekolah?" lanjutnya, bola matanya memendar penuh harap.

Kyungsoo terlihat berpikir sejenak sebelum ia mulai manjawab ajakan Luhan.

"Kau tahu namaku?" tanya Kyungsoo.

Luhan terlihat sedikit salah tingkah sebelum ia kembali tersenyum,"Aku melihat name tagmu."

"Aah. Kurasa aku bis—"

"Kyungie harus membantuku mengerjakan tugas, mungkin kau bisa meminta bantuan yang lain. M-mianhae Luhan-ssi,"

Baekhyun menarik tangan Kyungsoo dan membawanya menjauh setelah berhasil memotong kalimatnya. Sementara itu Luhan hanya memiringkan kepalanya tak mengerti, kelopak matanya berkedip lucu memandangi punggung Kyungsoo dan Baekhyun yang mulai menjauh. Ah, jangan lupakan satu sudut bibirnya yang tertarik beberapa saat setelahnya.

Kontak matanya dengan punggung Kyungsoo dan Baekhyun terputus ketika ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Ia melirik sekilas dan membalikkan tubuhnya sebelum akhirnya tersenyum lebar dengan kepala yang sedikit mendongak menatap sosok di hadapannya.

"Yeollie!" serunya.

Mata bulatnya kembali melirik pada sosok di belakang seseorang yang dipanggilnya Yeollie. Sosok yang kini menatap malas pada beberapa anak di lapangan dengan kedua tangannya yang tersimpan di saku celana seragam. Manik cokelat keemasan itu kembali berbinar dan senyumanya terlihat semakin melebar di wajah cantiknya.

"Ah, Kai!"

.

.

.

.

.

.

.

"Baekhyun-ah bukankan kita sama sekali tak punya tugas?" Kyungsoo bertanya pada Baekhyun yang masih berjalan dengan menarik tangannya, meskipun ia tak mengerti mengapa sahabatnya itu berbohong pada teman baru mereka ia tetap menurut.

Dua namja mungil itu terus berjalan hingga sampai di depan kelas mereka. Perlahan, Baekhyun membiarkan lengan Kyungsoo lepas dari genggamannya. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya di dinding dan memejamkan matanya, mengatur tarikan nafasnya yang terlihat sedikit memburu. Sementara itu, Kyungsoo hanya terdiam menunggu sebuah penjelasan.

Baekhyun membuka kelopak matanya dan mendapati Kyungsoo menatapnya penuh tanya. Ia mengerutkan keningnya seolah berpikir, sesekali menggigit bibir bawahnya—kebiasaan ketika ia tengah cemas.

"Kyungsoo," ia menarik nafasnya dalam, "hanya, sementara ini menjauh dari anak baru itu, okay?" Baekhyun tahu ia tak memiliki alasan kuat untuk melarang Kyungsoo, hanya saja ia tak tahu apalagi yang harus ia katakan saat ini.

Kyungsoo melebarkan matanya, ia benar-benar tak mengerti. Pertama Kim Jongin dan sekarang Xi Luhan? Ia tahu ada sesuatu yang diketahui Baekhyun dan tidak diketahuinya dan melihat apa yang dikatakan Baekhyun padanya, ia sangat yakin Baekhyun tak ingin memberitahunya. Mata bulatnya bergerak liar, tak lagi fokus pada Baekhyun yang mentapnya penuh harap. Bertanya pada Baekhyun tak akan memberikan jawaban apapun, ia harus menemukannya sendiri. Hal yang melibatkan Kim Jongin dan Xi Luhan. Hal yang tak diketahuinya.

"Okay," Kyungsoo memberikan jawaban singkat yang membuahkan pandangan terkejut dari Baekhyun. Tentu saja, ia tak menyangka Kyungsoo akan begitu saja menyetujui permintaannya. Tapi untunglah, ia benar-benar tak bisa berpikir apa yang harus ia katakan jika Kyungsoo meminta alasan darinya.

"Gomawo," ujar Baekhyun sembari memeluk sahabatnya. Setidaknya ia dapat bernafas lega saat ini, sementara Kyungsoo masih mencoba menebak-nebak segala kemungkinan yang muncul di benaknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kai tersenyum kecil merasakan getaran di tempatnya berpijak, bibirnya melengkung membentuk bulan sabit sempurna ketika obsidiannya menemukan sosok mungil dalam objek pandangnya. Ia melangkahkan kaki jenjangnya menghampiri sosok itu, sedikit aneh merasakan engselnya yang cukup jarang ia gunakan. Setelah merasa cukup dekat, ia menghentikan langkahnya dan melipat kedua lengannya di depan dada. Satu-dua getaran kembali ia rasakan sebelum sosok di hadapannya menoleh dan mulai menyadari kehadirannya.

"Kai!"

Merasa dipanggil, Kai justru memalingkan pandangannya dan bersikap seolah tak peduli. Meskipun begitu, ekor matanya masih terlalu ketara sesekali mencuri pandang pada senyuman lebar yang selalu ia rindukan. Setelah bosan berpura-pura ia kembali menatap sosok itu dan mendapati sebuah pout lucu pada bibir yang selalu menggodanya. Ia kemudian melepaskan senyum lebarnya dan merentangkan kedua lengannya, seolah hendak menerima apa saja yang akan dilakukan sosok di hadapannya padanya.

Sebuah pelukan hangat mendarat di dadanya, ia kembali tersenyum dan melingkarkan kedua lengannya pada tubuh mungil yang kini berada di dekapannya. Salah satu tangannya yang bebas mengusap lembut surai cokelat favoritnya, membuat aroma vanilla yang benar-benar khas semakin menusuk penciumannya. Ia mendekatkan wajahnya dan sesekali mengecup singkat surai cokelat itu, mencoba menghirup lebih dalam harum yang begitu disukainya.

"Kalau kau terus berlari seperti itu hanya untuk memelukku, jangan salahkan aku jika nanti seluruh tanah di bumi ini hancur okay?" ujarnya sembari terkekeh pelan. Ia dapat mendengar gelak tawa merdu yang teredam oleh bahunya.

Kai melepaskan dekapannya perlahan, ia kemudian membingkai wajah mungil di hadapannya dan menatap dalam dua bola mata bulat yang berbinar itu. Darahnya berdesir cepat dan hatinya seolah bergejolak menatap senyuman lebar yang begitu indah—menurutnya. Kedua ibu jarinya mengusap lembut pipi yang sedikit chubby itu. Setelah memberikan senyuman singkat, ia mendekatkan wajahnya dan menawan bibir yang sedari tadi menggodanya. Merasakan madu yang begitu candu. Senyuman tak jarang menyelingi pagutan manis itu. Oksigen adalah satu-satunya alasan yang memaksa mereka untuk menjauh dan Kai memberikan satu lumatan singkat dan sebuah kecupan manis di pipi kanan sosok yang benar-benar membuatnya lupa diri.

"Mau berjalan-jalan denganku?" tanya Kai dengan raut wajah seorang pria yang hendak mengajak kencan kekasihnya.

Sosok itu tersenyum sekilas sebelum menjawab, "Dengan senang hati."

Detik berikutnya, Kai membawa jemari mungil itu dalam genggaman tangannya dan matahari pagi menemani mereka berdua menyusuri jalan setapak.

.

.

.

"Apa yang sedang kau lakukan sebelum aku datang?" tanya Kai, pandanganya terfokus pada jalan dan sesekali menoleh lembut pada sosok di sampingnya.

"Tak ada, hanya bosan," jawab sosok itu seadanya, ia sedikit mengayunkan lengannya yang terpaut dengan milik Kai.

"Kau menggetarkan bumi saat bosan?" ujar Kai menggoda.

"Aniya! Aku hanya—, aish! Kau menyebalkan!"

Kai terkekeh, ia benar-benar senang menggoda sosok di sampingnya. Karena saat itu, ia akan melihat bola mata yang gelisah mencari alasan dan semburat merah muda yang begitu cantik di pipi putih itu.

"Ya! Berhenti tertawa!"

"Arasseo, arasseo," ujar Kai masih dengan kekehan samar.

"Jadi mengapa kau bosan?" lanjut Kai.

Keheningan menyelimuti mereka sejenak sebelum akhirnya suara merdu itu kembali menjawab.

"Mereka belum mengijinkanku melakukan apapun jadi, yeah, kau tahu," ia menarik nafas sejenak, "aku hanya menunggu kalian kembali, beruntung Chanyeol tidak membakarku hidup-hidup karena aku selalu meminta Baekhyunnie menemuiku jika ia selesai lebih awal,"

Kai tersenyum kecut, ia kemudian mengacak surai cokelat itu dengan tangannya yang bebas.

"Aku yakin Chanyeol hyung tak akan berani membakarmu karena Baekhyun hyung akan membunuhnya lebih dulu jika ia mencoba melakukannya,"

Sosok itu tertawa renyah mendengar perkataan Kai, membuat getaran di dada Kai semakin menguat.

"Aku bahkan sering berpikir, mungkin Baekhyun hyung lebih mencintaimu daripada Chanyeol hyung, kau tahu ia benar-benar sensitif pada segala hal tentang dirimu,"

"Mungkin, hey, mungkin aku juga mencintainya,"

Kai melebarkan matanya, ia refleks mempererat genggaman tangannya.

"Ya! Apa kau bilang?"

"Huh?"

"Hyung! Ayolah!"

"Apa yang kau bicarakan Kai?"

"Kau tidak serius mencintai Baekhyun hyung kan?"

"Hmm,"

"Hyung!"

Sosok itu tertawa dengan begitu kencang sementara Kai hanya menatapnya dengan raut wajah tegang.

"Kau harus melihat wajahmu Kai! Omona!" ujarnya masih di sela tawa.

Kai masih memasang wajah serius hingga membuat sosok itu menghentikan tawanya dan menatap wajahnya.

"Arasseo~ Hyung hanya bercanda okay?" ujarnya.

"Aku tak suka!" jawab Kai ketus.

"Ya! Kai ayolah! Ini hanya bercanda!"

"Tetap saja!"

"Aish! Arasseo, arasseo!"

Kai sedikit memalingkan wajahnya dan tersenyum penuh arti sebelum kembali memasang wajah datarnya.

"Lihat aku!" ujar sosok itu.

Setelah yakin ia memasang wajah datar, Kai menoleh dan menatap tajam sosok yang lebih pendek darinya itu.

"Aku hanya mencintaimu okay?"

"…."

"Aku hanya mencintai Kai."

Sosok itu menjinjitkan kakinya dan memberi kecupan singkat di pipi Kai. Ia kemudian menunduk, semburat merah muda jelas terlukis di pipinya. Sementara itu Kai hanya tersenyum menatap sosok manis di hadapannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Gudang di ujung lorong itu terkunci rapat, satu-satunya lampu yang berpendar membuat suasana remang tergambar jelas di sana. Tiga orang namja tengah berdiri di dalam ruangan itu, salah satu dari mereka bersender di dinding dengan tangan yang terlipat di depan dadanya, sementara dua namja lain tengah berdiri berhadapan. Salah satu dari kedua namja yang berhadapan itu mengepalkan tangannya dengan erat di sisi tubuhnya, sementara namja yang lain memberikan pandangan tak mengerti, kelopak matanya berkedip polos sementara kedua lengannya terikat di balik tubuhnya.

"Hey, ayolah. Kupikir kalian merindukanku?" Luhan bertanya dengan nada bercanda, senyuman manis melengkung di bibir tipisnya.

Ia kemudian menatap Jongin yang berdiri di hadapannya dan seketika memejamkan matanya erat ketika menyadari Jongin mengangakat kepalan tangannya dan bersiap meninjunya. Setelah tak merasakan apapun setelah beberapa saat, Luhan kembali membuka matanya dan mendapati Chanyeol yang sekarang berdiri di antara Jongin dengan dirinya. Ia kemudian menghembuskan nafas lega.

"Chanyeollie, bisakah kau buka ikatanku? Aku tak akan melakukan apapun. Jika dengan ini kau mencoba menahanku kau tahu tak akan ada gunanya kan?" lanjut Luhan.

Chanyeol masih mencoba menenangkan Jongin ketika ia melihat sebuah paku besi yang semula berada di ujung sepatunya perlahan terangkat hingga berada di samping wajahnya. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan mendapati Luhan dengan wajah yang begitu serius menatapnya, dan ketika senyuman manis kembali terlukis di wajah tanpa cacat milik Luhan dentingan antara paku yang terbentur dengan lantai terdengar nyaring dalam ruangan yang sunyi itu.

Chanyeol menghela nafasnya, "Kami tak bermaksud menahanmu Luhan hyung, hanya saja jika kau hilang kendali setidaknya apa yang akan kau lakukan tak akan berdampak sebesar jika tanganmu bebas."

Luhan menggembungkan pipinya sebelum menjawab, "Kau tahu aku tak mudah kehilangan kendali, kurasa Kai lebih bermasalah dengan hal itu,"

"Tak ada Kai di sini," desis Jongin.

"Ah! Kau benar! Bagaimana aku bisa lupa. Mianhae Jonginnie," ujar Luhan sembari tersenyum, membuat Jongin memutar bola matanya.

Jongin terlihat berpikir sebentar dan menghela nafasnya setelah memejamkan matanya sejenak.

"Apa yang kau lakukan di sini, hyung?" ujarnya mulai melunak.

Luhan mempoutkan bibirnya sebelum menjawab, "Kalian benar-benar menyebalkan. Aku merindukan kalian tapi kurasa kalian tak menyukaiku di sini. Sebelum ini aku juga bertemu dengan Baekhyunnie dan sepertinya dia menghindariku,uugh, padahal aku benar-benar ingin memelukanya, dia terlihat semakin menggemaskan!"

Jongin kembali menghela nafasnya, ia tahu ia tak boleh hilang kendali sekarang.

"Luhan hyung, kau tahu apa yang kumaksud."

Luhan menatap Jongin sekilas dan mendapati kilat tajam dalam matanya.

"Well, baiklah. Kau tahu," ia mengambil jeda sejenak, "untuk mengingatkanmu Jonginnie,"

"Ah, satu lagi," lanjut Luhan.

.

.

.

.

Langit senja menemani langkah Kyungsoo menyusuri jalanan kota Seoul. Ia memutuskan berjalan kaki untuk pulang hari ini setelah mendengar berkali-kali permintaan maaf dari Baekhyun karena tak bisa pulang bersama. Sahabatnya itu harus menerima hukuman kelas tambahan dari songsaengnimnya karena terlalu sering meninggalkan tugas menjaga perpustakaan.

Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, Luhan, murid baru dari Beijing dan permintaan Baekhyun untuk menjauh darinya dan Jongin. Ia pikir, mungkin dengan menikmati pemandangan sisi-sisi jalan bisa membantunya berpikir lebih jernih. Berbagai dugaan tentang apa yang disembunyikan Baekhyun darinya bagaikan kepingan puzzle yang tercecer di kepalanya. Ia sama sekali tak bisa menyatukannya, bahkan dua keeping puzzlepun tak dapat ia selesaikan. Pikiran untuk mengabaikannya sempat membayang di benaknya. Hanya saja, menjauh dari Luhan mungkin mudah karena ia memang sama sekali belum dekat dengannya. Tapi menjauh dari Jongin, ia rasa akan sulit. Atau mungkin tidak bisa.

Ada sesuatu dalam diri Jongin yang membuatnya selalu ingin mendekat bahkan ketika dulu ia ingin menjauh darinya. Sebuah perasaan selalu ingin bertemu dan selalu ingin menggenggamnya karena Kyungsoo merasa sedikit saja ia melepaskan Jongin maka ia akan dengan mudah kehilangannya. Dan Kyungsoo sama sekali tak bisa membayangkan jika tanpa Jongin. Mereka berdua bukanlah apapun, bahkan Jongin tak menjawab ketika Kyungsoo memintanya untuk menjadi teman. Tapi Kyungsoo tahu, mereka telah lama melampaui batas pertemanan. Jongin telah menjadi candu baginya dan ia tak dapat membayangkan betapa sakitnya jika Jongin menjauh dan kemudian meninggalkannya. Ia tak ingin ditinggalkan.

Kyungsoo terlalu dalam tenggelam dalam pikirannya hingga ia tak menyadari ia mulai memasuki gang kecil yang tak cukup terang. Ia kembali tersadar ketika tiba-tiba ia merasakan tubuhnya tak bisa bergerak. Kakinya terasa seperti batu dan tak dapat melangkah, ia hanya berdiri mematung dan berikutnya pupilnya melebar ketika ia mendapati tetesan air dari atap gedung melayang di hadapannya. Ia tak lagi mendengar suara bising dari jalan raya di ujung gang, seekor kucing di pinggir gang bahkan mematung dalam posisi dimana seharusnya ia berjalan. Ia merasakan dunia di sekitarnya seolah berada dalam keadaan 'pause'.

Yang ia dapat dengar hanyalah detak jantungnya. Kemudian muncul suara langkah kaki yang mendekat. Dengan keterbatasan bergeraknya, ia dapat melihat dua orang namja berjalan pelan ke arahnya. Mereka berdua berdiri di hadapannya dan Kyungsoo bersumpah ia seolah berada di bulan Desember saat ini. Tubuhnya seolah membeku. Tetes air yang berada di depannya bahkan perlahan mengeras dan kemudian pecah.

Namja tinggi berambut hitam yang berdiri tak jauh darinya menatapnya dan tersenyum remeh. Sementara itu namja chubby yang berdiri lebih dekat dengannya tersenyum manis padanya. Ia bahkan mencondongkan tubuhnya untuk menatap lebih dekat pada wajah Kyungsoo. Namja chubby itu melambaikan tangannya.

"Annyeong! Tunggu! Namamu," namja chubby itu terlihat berpikir, "Ah, aku ingat!"

"Annyeong Kyungsoo-yah! Bogoshippo!" lanjutnya dengan senyum lebar.

.

.

.

.

Jongin menatap Luhan tajam, ia benar-benar tak ingin hal yang lebih buruk terjadi.

"Kurasa baozi—maksudku Xiumin dan Zitao berada di suatu tempat saat ini," ujar Luhan ringan.

Jongin dan Chanyeol membelalakkan mata mereka.

"Mereka datang bersamamu?" tanya Chanyeol cepat.

"Uhum," angguk Luhan, "Sebenarnya aku ingin membawa Sehunnie, kau tahu Zitao lebih merepotkan, tapi duizhang tak mengizinkannya. Jadi apa boleh buat."

"Bisa kalian lepas ikatanku sekarang? Aku tak mau Sehunnie melihat luka bekas ikatan di pergelangan tanganku," lanjut Luhan.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC.

.

.

.

.

.

.

.

.
Annyeonghaseyo…
Loooooooooooonnnngggggg time no see(?) chingudeul.
Sebenernya nggak yakin masih ada yang nungguin ini ff apa enggak TT_TT
Aku terlalu asik baca ff sampe lupa caranya nulis #plak
Mianhae.. TT_TT
Maaf kalo chapter 4 ini rada maksa nulisnya, aku baru berusaha nulis lagi setelah sekian lama TT_TT dan seperti biasa, no edit jadi mungkin banyak typo ._.
Well, di chapter 4 ini banyak banget yang terbuka XDXD
Jadi pasti chingudeul udah bisa nebak-nebak dong yaa :DD
Buat yang udah baca, gamsahamnida and give me ur review phweasee XD
Review itu bener" penyemangat loh buat seorang author XD

Aku mau tanya dong, ada yang BaekYeol shipper?
Aku lagi suka banget sama BaekYeol XDXD
Let's spread BaekYeol love! #kibarbanner

Finally, see ya on chapter 5 chingudeul :)

Gamsahamnida…^^

.

.

P.S: chapter ini dipost sekitar jam setengah 4 pagi ._.
jadi selamat sahur untuk yg berpuasa #lol XD

.

.

.

.

.

another'kyungie_