"Ouuhh... akh! Akkh! Akhhh! Gaaraaahhh... apa tidak bisa pelan sedikit, umhh... Gaarhhhhh!"
Gaara terus menusuk Sakura dengan miliknya yang keras dan besar tanpa menghiraukan erangan wanita itu yang merengek di bawahnya. Bibirnya memagut bibir Sakura, pinggulnya tidak berhenti bergerak, satu tangannya meremas payudara penuh Sakura keras dengan satu tangannya yang lain meraba punggung polos Sakura pelan dan sensual.
"Tid-dak bissaahhh.. arghh, kau sangat sempit dan nikmat." Entah sudah berapa lama Gaara tidak melakukan ini dengan Sakura, kalau di hitung kira-kira dua bulan. Sakura yang selalu sibuk dengan Haru, tak jarang saat mereka melakukannya baru sampai setengah jalan, pakaian bagian atas Gaara dan Sakura sudah terbuka, Haru menangis dan Sakura meninggalkan Gaara yang menggeram menahan gairah. Kesal? Tentu saja Gaara kesal setengah mati, rasanya dia ingin menarik tubuh Sakura yang sedang menyesui Haru saat itu ke tempat tidur mereka kemudian memperkosanya tanpa ampun. Tapi bagaimana dengan Haru, bocah berbadan super yang haus akan asi ibunya, bisa-bisa Haru jadi kurus. Bagaimanapun juga Gaara menyayangi keduanya dia berusaha keras untuk menjadi suami dan ayah yang tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.
.
.
.
.
.
OoO
.
.
Bosan dengan posisi itu-itu saja, Gaara membimbing Sakura mengganti posisi bercinta mereka. Mendudukkan Sakura di lantai, posisi Sakura membelakangi Gaara dengan kedua kaki menekuk menyatu dengan lutut. Gaara duduk tegak dan kaki kiri naik pada sudut 90 derajat ke lantai, pinggul kiri dan kaki kanan terlipat langsung di depannya, sementara kedua tangannya memeluk Sakura, menyandarkan tubuh Sakura pada tubuhnya dan saat membalikkan punggung Sakura ke arahnya, ia mencium Sakura dengan lembut dan penuh sensasi. Sakura yang sudah klimaks tiga kali hanya menurut. Tubuhnya sudah sangat lemas untuk sekedar menolak atau memohon istirahat sebentar pada Gaara yang belum klimaks satu kali pun. Laki-laki berrambut merah itu benar-benar kuat. "Anhh..." desah Sakura lemah Saat Gaara mulai menggerakkan miliknya di dalam tubuh Sakura.
"Mereka menyebut ini posisi angsa." Gumam Gaara di sela ciumannya.
"Ouhh..." Sakura mengerang. Kedua tangannya mencengkram tangan Gaara yang memeluk perutnya. Gaara mengecupi setiap senti wajah Sakura sampai wajah wanita yang mulai merintih sakit itu penuh oleh liurnya.
Suara decapan kulit basah bertabrakan, suara erangan dan desahan mengisi kamar mandi dengan cahaya tamaran tempat mereka bercinta sementara itu Haru yang tertidur di box bayi mengerjap menengok kanan-kiri mencari ibunya lalu menghisap ibu jarinya sampai dia kembali tertidur dengan sendirinya.
.
.
.
.
.
OoO
"Bagaimana menurutmu?"
Sakura mendongak menatap Gaara yang memeluknya dari belakang di dalam bathup. "Maksudmu?"
"Kita buatkan kamar untuk Haru" Gaara mengecupi garis leher Sakura membuat wanita itu kembali mendesahkan namanya. "Anhh... Garahhh!"
"Agar kita bisa melakukan ini di atas tempat tidur bukan di kamar mandi seperti ini." Bercinta di kamar mandi memang menggairahkan dan menyenangkan baginya tapi Gaara tahu itu berbeda dengan apa yang Sakura rasakan terbukti dengan punggung Sakura yang memar karena terlalu tertekan pada sandaran bathup yang keras saat dia menggerakkan pinggulnya.
Sakura terkekeh. "Ide bagus."
"Hm?" Gumam Gaara bertanya apakah Sakura serius mengatakannya, di kiranya Sakura tidak akan setuju. Gaara menarik dagu Sakura dengan telunjuknya. "Kau serius mengatakannya?"
Sakura menganggukkan kepala dengan senyum manis di bibirnya. "Ya. Dengan begitu aku bisa menemani Haru tiap malam."
"Ide buruk." Ucap Gaara tegas seraya memeluk tubuh Sakura erat.
Sakura terkekeh, senang rasanya menggoda Gaara, dia balik menarik dagu Gaara lalu mencium bibir lelaki itu lembut. Gaara membalas ciumannya, menekan lebih dalam. Tangannya kembali bergerilya di setiap sudut tubuh polos Sakura. "Anhh... apa yang tadi belum cukup."
"Belum. Sangat belum." Gaara menyeringai kemudian menempatkan diri di antara selangkangan Sakura.
"Ha?!" Pekiknya tak percaya. "Hwaaaa! Anhhs... Gaarmmm..." Sakura memekik saat Gaara menindih tubuhnya dan mencium bibirnya.
"Kau siap honey." Dia memasukan kembali miliknya yang tegak ke dalam labia basah Sakura.
"Anhh..."
.
.
.
.
.
OoO
Gaara terbangun dari tidurnya dengan hanya di tutupi selimut tebal, keadaannya sangat kacau rambut merah bata berantakan dan tubuhnya yang lengket karena keringat dan ehem, Cairan cintanya dan Sakura, Gaara memperhatikan sekitarnya. Ah.. ternyata dia masih di dalam bathup lalu di mana Sakura? Melilitkan tubuhnya dengan selimut Gaara berjalan lemas keluar kamar mandi.
"Kau sudah bangun." Sapa Sakura yang sedang menyiapkan kemeja dan setelan jas kerja Gaara berserta tas juga sepatunya.
Gaara yang setengah sadar hanya tersenyum lemah lalu berjalan mendekati Sakura yang sedang menyiapkan pakaiannya. Di peluknya tubuh Sakura, bibirnya sudah mengecupi leher Sakura, tak di pedulikannya selimut yang membungkus tubuh polosnya merosot kebawah menampilkan seluruh tubuhnya. "Kau meninggalkanku lagi." Rajuk Gaara manja. Di pelukkan Sakura semakin erat.
Sakura mencubit perut Gaara, "Jaga prilakumu Gaara." Matanya mengerling ke arah box bayi, di sana Haru berdiri dengan senyumnya yang khas. "Pakai selimutmu aku tunggu kau di bawah." Sakura berjalan mendekati Haru lalu menggendongnya.
"Cepat mandi kita sarapan bersama."
Gaara melirik jam dinding di kamarnya jam 08 pagi. "Kau sudah mandi?"
Sakura yang sedang menggendong Haru menoleh ke arahnya dan tersenyum. "Sudah, di kamar tamu." Gaara mengangguk, tanpa memungut selimut untuk menutupi tubuh polosnya dia berjalan malas ke kamar mandi.
OoO
Pagi hari adalah saat-saat tersibuk bagi ibu rumah tangga. Sakura sibuk menyiapkan sarapan pagi di meja makan juga sarapan pagi di meja kecil khusus milik Haru. Selesai menata meja makan dengan makanan lezat yang di masak para maid Sakura mendekati Haru yang duduk di kursi khususnya dengan semangkuk bubur beras merah yang lezat. Haru dengan serbet dan sendok makan khusus miliknya tertawa senang melihat sang ibu datang dengan makanan kesukaannya. Kaki kecilnya mulai menghentak-hentak kursi dengan mulut mungil penuh liurnya yang bergumam khas. "Mamam... mam, pa mammam."
Sakura tertawa lalu mengusap rambut merah muda Haru sayang melihat Haru makan dengan lahap. Haru bukan tipikal bayi manja yang cengeng, bayi merah muda itu sangat ceria, lebih suka makan juga bermain sendiri, tidak suka menyusahkan orang lain. Dia hanya akan cerewet kalau sedang demam. "Anak pintar." Puji Sakura yang di sambut kerjapan polos Haru. Sakura kembali tertawa.
"Hy, Honey." Sapa Gaara yang baru masuk ke ruang makan.
Sakura berbalik dan melongo melihat Gaara yang berjalan mendekatinya dan Haru. Gaara tampak berbeda dari hari biasanya, tidak memakai setelan jas tapi memakai Kaus merah lengan pendek dengan bagian lengan berwarna putih dan jins di bawah lutut, Sakura mengerjap beberapa kali sebelum Gaara memeluk tubuhnya erat lalu menciumi pipi juga pucuk kepalanya sayang. "Kau tidak kerja?" Tanya Sakura sedikit bingung.
Gaara melepas Sakura dalam pelukkannya, satu tangannya yang bebas meraba Saku celana jeans lalu mengeluarkan handphone layar datar warna hitam, di jauhinya Sakura yang menatapnya bingung seraya berbicara dengan seseorang di sebrang telepon. Selesai berbicara dengan orang itu Gaara berbalik dengan senyuman tipis saraya menggerakkan tangan kanan yang memegang Handphone. "Aku cuti." Ucapnya di sertai kedipan genit.
"Eh?" Bingung Sakura.
Gaara kembali mendekati Sakura yang ke bingungan, dia kembali memeluk tubuh mungil Sakura, tangan kanannya yang memegang Handphone menarik dagu Sakura sampai wanita yang memakai tanktop warna hitam dengan celana bahan selutut itu mendongak menatapnya. "Kita pergi piknik." Bisik Gaara sebelum mencium bibir Sakura lembut, melupakan sesosok bayi yang tertawa di meja khusus bayi seraya memperhatikannya dan Sakura intens.
"Gaara." Tegur Sakura seraya berusaha melepaskan diri dari suaminya. "Jangan lakukan itu di depan Haru. Haru terlalu kecil untuk melihat yang tidak-tidak, aku tidak mau Haru mesum sepertimu"
Gaara terkekeh. "Semua lelaki normal itu mesum."
OoO
Di dampingi tiga mobil Ferrari hitam mewah, satu di depan dua di belakang, Gaara bersepeda dengan Sakura yang duduk di belakang dan Haru duduk di pangkuan Sakura. Sepeda yang di kendarai pria berrambut merah bata itu berjalan santai begitu pula mobil di depan juga di belakangnya, sesekali Gaara menggoda Sakura yang cemberut di boncengannya. "Kenapa?" Tanya Gaara tanpa menggoes sepedanya, tapi anehnya sepeda itu tetap berjalan dengan santai. "Kau bilang ingin berpiknik naik sepeda, ini sudah naik sepeda." Ucap Gaara santai. Keluarga kecil ini akan berpiknik di bukit yang di kelilingi perkebunan bunga Aster, Daisi, Granium, Tulip dan bunga cantik lainnya, pengecualian untuk bunga lavender karena Gaara tidak menyukai bunga itu. Peralatan piknik di bawa mobil yang berjalan di belakang, karena itu mempermudah mereka.
"Ini sih sama saja." Rajuk Sakura dengan bibir yang semakin memanjang, cemberut. Gaara terkekeh. "Aku ingin kau memboncengku,"
"Ini sudah aku bonceng." potong Gaara cepat di sertai kekehan kecil.
Sakura semakin cemberut. Di abaikannya pemandangan luas kebun bunga Aster milik Sabaku yang menakjubkan, bunga cantik dengan kelopak tebal yang mewarni hampir seluruh kebun merambat di sisi kanan-kirinya, yang di dominasi warna pink, merah dan biru. "Tapi tidak seperti ini, di tarik Ferrari. Menyebalkan."
"Ini menyenangkan. Sejauh manapun sepeda ini berjalan aku tidak merasa lelah, hebat bukan?" Cengir Gaara.
