I Don't Know
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rating : T+
Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?
.
Enjoy guise~
.
.
Malam tiba, tapi Ino ternyata tidak bisa pulang karena ada acara makan-makan di kantor. Kiba yang kesepian berakhir mendaratkan diri lagi di bar. Hanya tempat itu yang menyenangkan baginya.
Setiap tetes alkohol yang mengalir lewat kerongkongan benar-benar memberikan efek yang luar biasa pada dirinya. Kiba bisa menjadi apa saja ketika mabuk, bahkan ia bisa menceritakan keluh kesahnya pada orang asing sepanjang malam di bar sana. Meminta orang asing untuk memaki relasi ayahnya yang selalu saja melemparkan tatapan kasihan pun ia lakukan, dan para orang asing itu tidak keberatan untuk menuruti permintaannya.
Memang, Kiba sudah berniat berhenti minum. Tapi mungkin tidak sekarang, jangan untuk malam ini. Tidak ada Ino adalah saat yang paling tepat untuk menenggak alkohol tanpa ditatapi sinis, ataupun diceramahi macam-macam. Ya, walaupun Ino sendiri belum pernah benar-benar marah padanya karena terlalu sering minum. Paling-paling si surai pirang hanya akan membuang semua persediaan alkoholnya di kulkas kalau ia ketahuan minum di rumah.
Itulah kenapa ia tidak bisa lagi minum di rumahnya sendiri.
"Ah, dasar sialan! Semua orang sialan! Kalian pikir cuma aku yang menyedihkan di sini? Seenaknya menatapku seperti itu!" Kiba berjalan sempoyongan sendirian keluar bar.
Ia menyetop taksi yang lewat.
"Mau kemana, pak?"
"Diam saja kalau tidak tahu apa-apa! Kalau kalian tidak bisa mengembalikan orang tuaku, jangan mengasihaniku!"
Si supir taksi agaknya ngeri karena si penumpang tidak sinkron saat menjawab pertanyaannya.
"Pak, mau kemana?"
"Aku mau puang."
.
.
.
Kiba lagi-lagi ada di ruang makan, ditatap Ino luar biasa sinis. Sudah biasa kok ia mendapati situasi semacam ini, hanya saja Ino yang tidak tenang terus-menerus menggigiti kuku jempolnya.
"Ino,"
"DIAM!"
Kiba mengkeret, tidak tahu lagi harus berbuat apa. Memang salahnya karena memberikan seluruh uang yang ada di dalam dompetnya kepada supir taksi tadi malam.
"Kau! Katakan sekali lagi berapa total uang yang ada di dompetmu."
"Eumm, satu juta?"
"Satu juta? Kiba, kau harus segera sadar! Sudah berapa kali ku bilang untuk berhenti minum? Ini berbahaya tahu, mungkin masih ada banyak orang jahat lain di luar sana. Kalau kau mabuk terus, entah hal buruk lain apa yang akan terjadi padamu."
"Ino tenanglah,"
"Aku bisa tenang kalau sudah ku pukul kepalamu itu dengan batu."
Kiba bergidik ngeri. Ia tahu tidak bisa mengimbangi Ino yang sedang marah, tapi tidak memberikan pendapat apapun juga bisa memperparah keadaan. Sama halnya dengan Kiba yang bisa melakukan apapun saat mabuk, Ino juga bisa melakukan apapun saat marah.
"Aku akan telepon polisi!"
"Ino, jangan! Itu hanya beberapa lembar uang saja. Dia tidak mengambil kartu debitku sama sekali. Aku masih punya uang."
"Mana bisa begitu, Kiba? Dia pencuri. Sekali mencuri, selamanya akan mencuri. Bagaimana kalau kau mabuk dan naik taksi itu lagi? Aku tidak bisa membayangkannya."
"Maaf."
"Makanya ku bilang berhentilah minum."
"Baiklah."
Pagi itu harusnya mereka makan dengan khidmat di ruang makan rumah Kiba, tapi lagi-lagi Kiba sendiri menghancurkannya dengan kisah konyolnya selama mabuk. Membuat Ino frustasi.
"Hei," Ino berinisiatif memanggil Kiba yang melamun tanpa menyentuh makanannya.
"Hm?"
"Ku lihat tadi malam kau membawa pulang perempuan lagi. Tidak mau cerita?"
Kiba membelalak. "Benarkah?"
"Kau tidak ingat?" Ino menyingkirkan tulang ayam dari mulutnya ke piring.
Kiba menggeleng. "Tidak, setahuku aku pulang sendiri."
Oh, benarkah?
Sepertinya Kiba agak lupa untuk yang satu ini. Seingatnya dia hanya mengajak bicara salah satu perempuan di bar tadi malam, menceritakan betapa menderita hidupnya di usia 23 tahun ini. Harusnya di usia yang segini dia sedang menikmati kisah cinta seperti anak muda kebanyakan. Tapi ia tidak ingat kalau membawa perempuan itu pulang. Bahkan saat naik taksi pun rasanya hanya seorang diri.
"Kau sudah pulang saat aku pulang?"
Ino mengangguk. "Ya, aku di dalam rumah."
"Dia seperti apa? Maksudku, apakah pakai rok pendek dan sepatu berhak tinggi?"
"Tidak tahu, aku hanya mendengar kalian tertawa saja. Aku tidak melongok ke luar karena takut mengganggu kalian."
"Oh." Kiba mengangguk lemah.
"Baiklah, kurasa ini waktunya berangkat kerja." Ino menepuk roknya sebentar, siap meraih tas kerja yang tergeletak di sofa.
Namun sebelum Ino pergi, Kiba menahan lengannya. "Naik mobilku saja, sudah lama kita tidak berangkat bersama."
Ino tersenyum. "Apa kau lagi-lagi merasa bersalah padaku?"
Kiba mengangguk takut.
"Sudah ku bilang jangan merasa bersalah padaku, mabuk atau tidak kan yang menanggung dirimu sendiri."
"Tapi kau selalu marah setiap kali aku mabuk."
Mendengarnya membuat Ino memutar bola mata. Ia sangat kesal pada Kiba yang bebal, meski begitu ia tidak pernah menunjukkannya.
"Aku hanya khawatir padamu. Aku harap kau bisa berubah jadi lebih baik."
.
.
.
TBC :D
.
.
Maaf ya alurnya pelan banget, karena aku emang sukanya begini. Kalo tiba-tiba konflik ntar cepet tamat donk. :D
