HALLOOOO MINNA-SAN~~~~

Maaf sangat ya, Yas telat update… tiba-tiba ide yang buat fic ini ilang. Tp setelah Yas bertapa di gunung Galunggung –bohong– yang katanya mau meletus, akhirnya chapy ini muncul..

Ya sudah, tanpa banyak cing-cong mending langsung baca aja…

#

#

NARUTO POV

Tok Tok Tok

Tiga kali ketukan palu dari hakim menandakan selesai sudah persidangan kali ini dan juga, resminya perceraian….

Kami

Disclaimer : Masashi Kisimoto

Genre : Romance & Drama

Main chara : SasuFemNaru

Rating : T

Story by : Yashina Uzumaki

WARNING : Abal, gaje, Typo, gender bender, (agak) OOC, dll

Summary :

Aku masih tetap duduk. Duduk diam, tanpa suara, yang makin memperjelas suara akan ketukan palu hakim di gendang telingaku.

Selesai sudah. Ini akhirnya. Akhir yang mungkin sangat di tunggunya. Akhir yang begitu lama baginya, tapi begitu cepat untukku. Hanya dua bulan. Entah mengapa persidangan perceraian kami begitu singkat. Entah karna Sasuke yang rajin menghadiri persidangan setiap minggunya, atau karna Kami-sama yang begitu mengijinkan kami berpisah? Entahlah~

Sentuhan hangat di pergelangan tangan kananku membuatku mendongakkan kepala. Shikamaru masih disini, duduk diam sembari memegang tanganku. Mencoba memberikan kekuatan dan kehangatan yang sangatku butuhkan.

Aku kuat. Aku bahkan tak menangis dari sejak persidangan pertama sampai sekarang.

Aku tak lemah. Walau sejujurnya aku mungkin tak akan mampu menjalani kehidupanku sendirian tanpamu.

Aku rela. Karna aku mencintaimu Sasuke, aku rela melepasmu untuk kebahagiaanmu.

Aku balas menggenggam jemari Shikamaru sebelum aku melepasnya dan memberikan sebuah senyum yang mungkin dapat di artikan 'Aku tidak apa-apa'.

Aku bangkit bediri, merapikan sebentar dress berwarna biru dongker yang ku pakai. Dan aku melangkah. Melewati setiap orang, Hakim, Jaksa, Pengacara, dan orang lainnya yang menjadi saksi sidang perceraian kami, menuju satu kursi yang masih setia ia duduki dengan calon-ah mungkin sudah pasti menjadi penggantiku.

Selangkah demi selangkah aku mendekat padanya yang duduk sambil menundukkan kepala. Dan saat aku sampai di hadapannya, ia mendongak. Mempertemukan kedua bolamata kami.

Oniks dan safir.

"Sasuke-"dengan segenap keberanianku. Degan seluruh jiwa ragaku. Dengan semua rasa cinta yang ku miliki, aku merendahkan wajahku, mendekat pada wajah porselennya yang kini mendongak kepadaku dalam diam.

Cup

Satu kecupan. Kecupan penuh kasih sayang, kerinduan yang ku berikan untuknya tepat di keningnya.

Aku membingkai wajahnya dengan kedua telapak tanganku. Lama. Aku masih tetap mencium keningnya. Airmataku meleleh, airmata yang selalu kutahan untuk tak jatuh membasahi pipiku. Airmata pernama yang jatuh semenjak persidangan pertama di mulai. Airmata pertama yang meluluh lantahkan semua ketegaran yang aku bangun. Airmata pernama yang aku berikan untukmu, untukmu yang aku lepaskan demi kebahagiaanmu.

Airmataku membasahi pipimu. Dan kau memejamkan matamu. Apa kau menikmati kecupanku Sasuke? Kau merasakan kehangatan yang ku salurkan? Ini yang terakhir 'suke. Ini kecupan cinta sayangku yang terakhir untukmu. Untuk semua kebersamaan kita selama ini.

Aku menjauhkan bibirku dari keningnya. Aku tersenyum kearahnya, dan tanganku mengusap airmataku yang ada di pipi putihnya.

"Terimakasih untuk segalanya. Aku mencintaimu Sasuke, semoga kau bahagia."

END NARUTO POV

NORMAL POV

Sebelum berlalu, Naruto memeberikan satu senyum hangatnya juga pada Sakura yang menatapnya tajam.

"Ayo Shika."Shikamaru hanya tersenyum kecil dan langsung mengikutin Naruto yang sudah mulai berjalan keluar dari ruang persidangan sambil menghapus jejak airmatanya.

"Kita pulang."Sasuke bangkit dari duduknya, dan tanpa banyak bicara lagi dia langsung bergerak melangkah ke arah pintu keluar.

"Kenapa kau tak menghalanginya waktu dia akan menciummu?"tanya Sakura sinis sambil lengannya bergelayut manja di lengan kiri Sasuke. Perutnya agak sedikit mengembang, karna umur kandungannya sudah mencapai empat bulan. Walau sama sekali belum terlihat jelas karna ia memakai dressberwarna merah maroon.

"Itu ciuman perpisahan Sakura."jawab Sasuke. Sasuke sedang tak ingin membicarakan ciuman yang di berikan Naruto tadi. Mengingatnya, menjadikannya ingin terus merasakan kecupan itu. Kehangatan sesaat yang di berikan Naruto tadi membuatnya menjadi ragu dengan pilihannya sekarang.

"Tapi-"Sakura hendak memprotes lagi, tapi langsung di sela Sasuke.

"Aku lelah. Lebih baik kau diam."dan nada ketuslah yang di dapatkan Sakura karna kejengahan Sasuke.

"!"dan yang bisa Sakura lakukan, hanya bungkam.

'Kurang ajar. Lihat saja nanti, aku pasti akan membalasmu."batin Sakura mendendam.

Motor ninja berwarna putih mulus itu berjalan di jalan raya dengan kecepatan sedang. Sang pengendara memakai helm berwarna hijau dan orang yang di bonceng di belakannya memakai helm putih.

Naruto yang ternyata orang yang di bonceng mengeratkan cengkraman tangannya pada pinggiran jaket kulit yang si pengemudi pakai, Shikamaru. Shikamaru yang merasakan cengkraman di jaketnya makin menguat hanya bisa menghelah nafas. Lantas ia langsungmembelokkan stang motornya kearah danau yang ada di pinggir kota Konoha yang tidak terlalu banyak peminatnya.

Sesampainya di danau yang tidak terlalu besar itu, Shikamaru langsung memarkirkan motornya di tempat strategis dan-

"Cepat turun."

"Hah?"Naruto yang sedari tadi hanya melamun kini kaget dan bingung atas suruhan Shikamaru. 'Turun? Memang sudah-'batinnya berhenti bertanya karna melihat sekeliling yang sama sekali tak mirip area parkir apartemen kecilnya.

"Untuk apa kita kesini, Shika?"tanya Naruto. Pasalnya ia sama sekali tak di beri tahu Shikamaru kalau akan menyimpang dulu ke tempat lain.

"Barang kali ada seseorang yang mau menangis di tempat sepi."jawab Shikamaru enteng. Tapi efeknya untuk Naruto atas jawaban enteng Shikamaru adalah kegelisahan yang semakin terlihat jelas di paras manisnya.

"A-apa maksudmu?"Tanya Naruto pura-pura tak mengerti.

"Sudahlah. Ayo."di raihnya dan di tautkan kedua jemari itu. menarik sang malaikat pirang menuju satu pohon besar yang meneduhkan sekitar.

Sesampainya di bawah pohon, Shikamaru duduk terlebih dahulu, dan Naruto hanya memutar kedua bolamatanya sebal dengan kelakuan Shikamaru akhir-akhir ini yang bersikap sangat baik dan ya~walau tak ingin di akuinya tapi sikap Shikamaru beberapa bulan ini begitu penuh perhatian. Dan setiap perhatian yang di berikannya pada Naruto itu selalu dan selalu dapat membuat hati sang malaikat pirang kita ini menghangat. Sangat hangat dan begitu nyaman.

"Duduk!"

"Iya…"

Hening tercipta di antara mereka berdua. Shikamaru hanya duduk diam sambil memejamkan matanya, merasakan hembusan angin yang menyejukkan. Dan Naruto, entahlah. Banyak sekali yang sedang ia pikirkannya saat ini. Sasuke, Shikamaru, calon anaknya, dan perceraiannya. Banyakkan yang ia pikirkan? Dan duduk diam seperti ini malah menambah daftar beban fikirannya, bosan.

"Lebih baik kita pulang."Naruto hendak berdiri dan sedikit membersihkan bagian belakang baju yang ia kenakan. Tapi satu tarikan di tangannya membuat ia terduduk lagi.

"Apa-apaan kau-"

"Berbagilah denganku. Menangislah hanya di hadapanku. Dan aku akan berada di sampingmu, Naru."Shikamaru memeluk pinggang Naruto dari belakang, karna Naruto terduduk tepat di antara kedua kaki Shikamaru yang terbuka.

"Shika-"Naruto tidak bisa berkutik lagi. Karna Shikamaru kini membenamkan kepalanya di lekuk leher Naruto yang terhalang oleh rambutnya yang tergerai indah.

"Percaya padaku."sekali lagi Shikamaru meyakinkan Naruto untuk percaya padanya dan membagi bebannya pada Shikamaru.

Naruto masih setia dengan diamnya. Tapi setelah lama diam Shikamaru malah merasakan ada titik-titik air yang membasahi tangannya yang melingkar di pingang Naruto.

Naruto menangis.

"Aku kuat Shika-hiks.."isakan-isakan kecil mulai terdengar dari setiap celah suara yang Naruto keluarkan. "Tapi-tapi aku merasa tak mampu. A-aku masih mencintainya."sungguh, walau Shikamaru tetap diam, tapi hatinya berteriak mendengar bahwa malaikat pirangnya masih tetap setia mencintai laki-laki yang menyakitinya terang-terangan. "A-aku masih membutuhkannya."Shikamaru makin mengeratkan pelukannya di pinggang Naruto yang sekarang agak membesar karna kehamilannya, "Aku tak punya pegangan. Aku sendiri."tubuh Naruto bergetar karna tangisannya kian menjadi.

"Ada aku."Shikamaru menyela semua curahan hati Naruto yang membuat hatinya ikut sakit dengan ketidak berdayaan orang yang di cintanya. "Aku bersamamu. Aku akan menjadi peganganmu. Dan aku akan membuatmu mencintaiku."tekat Shikamaru yang kembali ia utarakan.

"…"dan yang bisa Naruto lakukan hanya diam membisu. Tidah tau harus bicara apa.

"Kau percaya padaku?"tanya Shikamaru untuk memastikan lagi bahwa Naruto mempercayainya.

"Ta-tapi aku.."sambil memegang perutnya Naruto menghentikan kalimatnya karna tahu bahwa Shikamaru mengerti maksudnya.

"Kau tak ingat yang aku katakana dulu?"Shikamaru memutar kedua bolamata coklatnya bosan. "Aku akan menjadi ayahnya. Aku akan memberikannya kebahagiaan. Aku akan menjaganya, menjagamu."lanjut Shikamaru mantap. Sangat berbanding terbalik dengan wajah bosannya beberapa menit lalu.

"…"Naruto langsung menatap bolamata Shikamaru intens. Mencari sedikit saja kebohongan yang terselip di setiap kata-kata yang di lontarkan Shikamaru. Tapi, nihil. Shikamaru sungguh-sungguh mengatakannya, ia tak berniat mempermainkannya.

"Bukankah ini keputusanmu?"tanya Shikamaru sambil matanya menatap lagit di atasnya yang mulai terlihat menggelap.

"Ya. Ini keputusanku."Naruto kembali menundukkan kepalanya. "Sasuke akan jauh lebih bahagia bersamanya. Dan dia tak perlu tau kalau aku mengandung anaknya."

"Kau yang memutuskan"

"Hm~aku takut di hianati lagi. Aku takut bila aku bicara padanya tentang anak kami, dia akan kembali berubah menjadi seperti dulu, dan aku takut kalau perubahannya itu hanya-hanya sementara. Dan dia akan torehkan sakit padaku lagi."inilah penghianatan. Sekali kau menghianati pasanganmu, seberapa pun pasanganmu masih mencintaimu, tapi ia akan merasa terus terhianati. Tak mungkin ia percaya kembali padamu tanpa rasa takut yang menghatuinya setiap detik. Tak mungkin, dan hanya orang bodoh yang akan mempercayai pasangan yang telah menghianatinya seratus persen. "A-aku tak bisa membayangkan hal itu nanti bila aku mengulangnnya lagi."Ia menyandarkan tubuhnya seutuhnya pada dada bidang Shikamaru. Dan Naruto kembali terisak dalam pelukan Shikamaru.

"Ssssttt…jangan di bayangkan."Shikamaru mengelus pelan rambut Naruto. "Bayangkan saja hanya kita dan anak ini nanti yang akan ada di masa depan. Ya?"

Ini yang tidak di inginkan Naruto. Memberikan harapan lebih pada laki-laki yang sangat baik seperti Shikamaru. "Shika, aku masih-"

"Masih belum bisa mencintaiku? Tak apa. Karna aku tak akan menyerah untuk membuatmu mencintaiku. Aku orang yang pantang menyerah, kau tau?"

Shikamaru dengan sukses kembali membuat Naruto bungkam bengan semua kata-kata manis yang ia lontarkan. Menjanjikan sebuah cinta yang baru. Siapa yang tak mau. Apa lagi laki-laki yang akan membuatmu merasakan cinta yang baru adalah laki-laki baik hati seperti Shikamaru. Kau wanita bodoh bila tak membalasnya.

"Kau pemalas."balas Naruto setelah hening sesaat.

"Tapi aku akan gencar mendapatkan cintamu lo."gombal Shikamaru.

Menghapus jejak airmata di pipinya dan membalas, "Gombal."Naruto melepaskan pelukan Shikamaru di pingangnya dan memalingkan wajahnya ke sisi lain agar Shikamaru tak dapat melihat rona merah yang menjalar di kedua pipinya, atau mungkin sekarang seluruh wajahnya sudah merah padam? Entahlah, author tak bisa melihatnya#plakk

"Itu serius Naru-koi~"Shikamaru sengaja membuat suaranya terdengar seperti sedahan tepat di telinga kanan Naruto.

"Hentikan itu pemalas."di dorongnya wajah Shikamaru yang terlalu dekat dengan leher dan telinganya. Kalau Shikamaru sudah mengeluarkan aura mesumnya itu berarti pertanda Naruto untuk menyiapkan jitakan mautnya.

"Ya..ya..aku tau kau malu aku bicara seperti itu."ujar Shikamaru dengan kembali memasang wajah malasnya.

"Si-siapa yang malu? I-itu terdengan menggelikan."dan sekali lagi Naruto di buat melupakan sejenak kesedihannya akan Sasuke. Shikamaru memang selalu bisa membuat Naruto tersenyum dan kembali ceria. Walau nantinya ia akan kembali bersedih bila mengingat Uchiha bungsu itu. dan Shikamaru juga akan kembali membuat hatinya tenang.

"Apa pun katamu. Ayo pulang. Nanti keburu hujan."di tunjuknya langit yang semakin menggelap akibat mendung. Padahal hari masih siang menjelang sore sih.

"Hm~"mereka kembali menautkan kedua jemari masing-masing. Mengulum senyum bahagia yang tidak dapat di lihat oleh yang lain. Berjalan beriringan, menyongsong masa depan yang baru untuk keduanya.

'Terimakasih Shika. Terimaksih untuk tetap berada di sisiku. Aku akan mencoba belajar mencintaimu. Dan bila saat itu tiba, pastikan aku akan tetap tersenyum, mencintai, dan berada di sisimu, selalu.'

Pagi kembali menjelang. Menggantikan hari yang sudah lalu. Dan terlihat di sebuah halte bus yang tak jauh dari sebuah gedung apartemen sederhana itu, Naruto duduk dengan tenang menunggu jemputannya.

Ya, sudah menjadi rutinitas setiap paginya sejak tiga bulan yang lalu sang dokter Nara selalu menjemputnya untuk berangkat ke rumah sakit bersama. Betapa sungguh gigihnya Shikamaru untuk mengambil hati sang Uzumaki.

"Hhaaah~"Naruto menghelah nafas saat motor ninja putih beserta pemiliknya berhenti di depannya. "Bisakah kau tak telat menjemputku setiap hari? Perawat yang lain menggosipkanku yang selalu datang telat karnamu."memanyunkan bibir dan mengembungkan kedua pipinya, Naruto pura-pura merajuk.

"Maaf. Aku-"

"Ngantu? Sudahlah, itu alasan basimu. Ayo berangkat."Naruto langsung memakai helm putih yang di sediakan Shikmaru dan langsung menaiki jok belakang motornya.

"Haha,,ya maaf,,maaf,,!"

'Hallo?'

"Kau sudah mengikutinya?"

'Ya.'

"Bagus. Kalau dia sudah sendirian, cepat beritahu aku."

'Baik. Tut..tut..-'

"Akanku buat kau menghilang selamanya, Uzumaki Naruto."

Siang harinya di rumah sakit konoha, Naruto terlihat tengah membasuh wajahnya di toilet rumah sakit. Tapi saat tengah asiknya menikmati dinginnya air di permukaan kulit wajahnya Naruto mendengar suara pintu toilet yang di banting.

Naruto lantas menoleh, dan baru saja Naruto akan membuka suara, sesuatu penampar keras pipi kanan Naruto.

"Aww,,apa-apaan kau?"tanya Naruto sembari tangannya memegang pipi kanannya yang terasa panas akibat tamparan.

"Itu untuk kau yang kemarin sudah berani mencium Sasuke."

Naruto langsung memalingkan kepalanya dan matanya memperhatikan wanita yang ada di depannya itu.

"Ooh~"tanggap Naruto enteng.

"KAU-"Sakura sudah akan melayangkan satu lagi tamparannya, tapi tangannya keburu di tahan oleh Naruto, dan sebagai gantinya, Narutolah yang memberikan tamparan balasan pada Sakura.

"Dasar wanita jalang. Kau marah aku mencium Sasuke?"Tanya Naruto dengan penuh emosi. Airmatanya sudah berkumpul di pelupuk matanya.

"Lalu aku apa? kau wanita simpanannya, kau bersetubuh dengannya, kau bercumbu dengannya, kalian berselingkuh di depan mataku."jeda sesaat, Naruto menarik nafas tapi tatapannya tetap ia layangkan tajam pada Sakura yang berdiri kaku di hadapannya.

"Apa kau pikir aku tidak marah? Aku jauh lebih marah, aku jauh lebih sakit, aku jauh lebih tersiksa dengan kebersamaan kalian. KAU TAU ITU?"+

Setelah berteriak, Naruto malah terisak. "Hiks,,ka-kau merebut kebahagiaanku."ucap Naruto lirih.

Sakura diam di tempatnya berdiri. Niatnya ingin melabrak Naruto tapi malah begini jadinya. Ia malah mendengarkan curahan hati dari sang wanita yang laki-lakinya ia rebut untuk kebahagiaannya sendiri.

"Menjauh dariku. Jangan ganggu lagi hidupku."dingin, nada suara Naruto berubah dingin menusuk. Dan Naruto mulai melangkah menuju pintu keluar toilet yang tepat berada di belakang Sakura.

Sakura masih diam, tapi saat Naruto sudah hampir membuka pintu, Sakura berbalik, memegang pergelangan tangan Naruto hanya untuk membiarkannya mendengarkan permohonan maaf Sakura untuknya. Untuk telah merebut kebahagiaanya.

"Uzumaki-san-"

"Lepas!"Naruto berusahan melepaskan tangan Sakura dari tangannya.

"Uzumaki-san, dengarkan aku dulu-"Sakura terus menarik lengan Naruto, berharap Naruto akan mau melihat wajahnya barang sebentar saja.

"Ku bilang lepaskan."Naruto tak dapat menahan kesalnya. Ia menyentakkan tangan Sakura, tapi yang ia dapat malah-

"TOLONG DENGARKAN AKU DULU."

"Aaakh.."

Tanpa sengaja Sakura malah mendorong Naruto ke pintu. "Aaarrggh.."Naruto mengerang kesakitan saat ia terjatuh terduduk di lantai toilet. Terlihat rok perawat berwarna putih yang Naruto kenakan berubah warna. Merah, dan semakin kental.

Naruto terus mengerang kesakitan sembari lengannya memegang perut bagian bawahnya, tanpa ada yang berusaha membantunya. Ya, Sakura diam di tempat. Syok menyerangnya.

Tak pernah ia sangka kejadiannya akan seperti ini. Dan lagi, andai ia tahu kalau Naruto juga tengah hamil, mungkin ia tak akan memaksa Naruto untuk mendengarakannya.

Melihat darah terus keluar dari selangkangan Naruto, membuat Sakura mundur teratur. Dan sedetik kemudian ia berlari keluar dari toilet dan tidak sengaja menubruk seseorang bertubuh tegap.

"Akh,,ma-maaf."dan Sakura kembali melanjutkan larinya dengan airmata yang mengalir deras dari kedua bolamatanya dan keringat dingin mmbanjiri tubuhnya.

Sementara orang yang di tubruk Sakura yang ternyata Shikamaru lantas bergumam, "Bukankah itu-"

"Aaarrgghk.."

Firasat Shikamaru buruk saat telinganya mendengar teriakan kesakitan dari arah toilet wanita. 'Na-naruto'batinnya menyebut nama orang yang ia sayangi. Tanpa banyak berpikir lagi, Shikamaru langsung berlari cepat, dan membuka pintu toilet dengan agak tergesah.

Dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah, merah, darah. Darah dari orang yang ia cintai, darah dari calon malaikat kecil yang berjanji akan ia lindungi.

"NARUTO!"

"Bagaimana ini?"Sakura terus bergerak gelisah di dalam kamarnya. Kejadian siang tadi di rumah sakit begitu cepat terjadi, sampai-sampai ia tak bisa berfikir apa-apa dan malah meninggalkan Naruto sendirian dalan rasa sakitnya 'Ke-keguguran.'batin Sakura menggumam ragu.

"Sakura? Ada apa denganmu?"sangkin gelisah hatinya, Sakura sampai tak mendengar kalau ada yang masuk ke dalam kamar mereka.

"Sa-sakuke. Ah..ti-tidak ada apa-apa kok."jawab Sakura terbata. Ia takut Sasuke mengetahui apa yang ia lakukan tadi siang pada Naruto. Walau pun Sakura tahu bahwa Sasuke sudah memilihnya, tapi ia pun yakin kalau sampai Sasuke tau apa yang ia lakukan pada mantan istrinya itu, Sasuke pasti akan sangat marah padanya. 'Sasuke tidak boleh tau. Ini bukan salahku. Itu salahnya sendiri. Sasuke tidak boleh tau.'batin Sakura terus merapalkan kalimat itu.

"Hn. Terserah."jawab Sasuke acuh.

.

.

Bila kau merasa hidupmu berakhir saat kau tau laki-laki yang kau cintai menghianatimu, suami yang kau banggakan berpaling darimu, dan bagaimana rasanya jika setelah suamimu meninggalkanmu, calon anakmu pun ikut meninggalkanmu?

Sakit? Sesak? Merasa hidupmu berakhir? Tidak. Rasanya jauh lebih sakit dari itu semua. Tidak hanya merasa, tapi hidupmu memang sudah mati. Hidupmu berakhir saat kau terbangun dengan kenyataan di dalam perutmu sudah tak ada kehidupan lain. Di dalam perutmu sudah tidak ada calon anakmu lagi. Kau keguguran.

Kau hanya menangis saat laki-laki baik hati yang bersedia berada di sampingmu mengatakan semuanya. Dan satu kesimpulan yang kau dapat adalah kau kehilangan satu lagi alasan kau untuk hidup.

Kau sungguh tidak menyangka semuanya akan berakhir begini. Kau pergi ke toilet wanita untuk mengeluarkan isi perutmu karna kau merasa mual, dan kau melihat wanita jalang itu berdiri di ambang pintu toilet. Kau malas meladeninya yang hanya membuatmu mengelurkan semua emosi yang kau tahan. Dan saat kau akan pergi, ia malah memaksamu kembali berbalik menghadapnya, membiarkan ia bicara tentang dirinya dan cinta busuknya dengan mantan suamimu. Kau sungguh muak. Kau menolak, dan terjadilah. Kau terjatuh saat ia mendorong tubuhmu. Kau mengerang kesakitan, dan yang ia lakukan adalah meninggalkanmu. Meninggalkanmu yang bersimbah darah calon anakmu, sampai Shikamaru datang menolongmu walau kau masih tetap kehilangan calon anakmu.

Tak cukupkah Kami-sama menyakitimu lantas ia juga mengmbil calon anakmu? Tak puaskah wanita jalang itu merebut Sasuke lantas sekarang ia buatmu kehilangan anakmu?

Naruto sungguh tak habis pikir. Apa Sasuke dan wanitanya tak puas melihatnya di campakkan? Apa mereka masih belum puas melihatnya terpuruk sendirian?

'Sampai kapan semua ini akan berakhir, Kami-sama?'batin Naruto bertanya.

Saat ini Naruto tengan duduk setengah berbaring di ranjang rawat rumah sakit setelah insiden kegugurannya. Di sampingnya Shikamaru duduk diam sembari tangannya menggenggam tangan Naruto. Shikamaru menghelah nafas. Ada rasa lega dan khawatir dalam dirinya. Ia lega karna Naruto tidak mengalami pendarahan yang fatal, dan perasaan khawatir yang begitu besar kala melihat wanita yang ia cintai menatap sekeliling dengan pandangan kosong. Seakan semuanya telah mati, tak ada artinya lagi untuk sang Uzumaki.

"Shika-"

"Y-ya?"Shikamaru tersentak kaget saat Naruto memanggil namanya mendadak dengan suara yang lirih dan parau.

"Tolong-"

"…"

"Tolong bawa aku pergi."

.

SASUKE POV

Deg

Perasaan apa ini? Kenapa hatiku gelisah? Apa akan terjadi sesuatu?

Aku memandang wajah Sakura yang tengah tertidur pulas di sampingku. Tapi tadi ia sesekali mengigau tentang sesuatu yang tak jelas. Sebenarnya apa yang di sembunyikan Sakura dariku. Semenjak tadi sore aku pulang, sikapnya agak sedikit aneh. Ia jd tak fokus dengan apa yang ia lakukan.

"Hhaaaah~"firasatku benar-benar butuk.

Naruto

Naruto, entah kenapa aku jadi tiba-tiba terpikir akan dirinya. Apa ia baik-baik saja di luar sana. Aah, ia bersama laki-laki nanas itu, jadi apa peduliku? Tapi perasaanku benar-benar tak enak…

_TBC_

Yas tau ini juga masih pendek. Tapi sungguh otak Yas mentok di sini.

Dan Yas gak bisa bales review kali ini, pikiran Yas lagi mumet. Tapi Yas sangat berterimakasih kepada semua readers yang udah RnR fic gaje punya Yas.

Thanks to :

_ zee rasetsu _ Kiriya Diciannove _ namikaze malfoy _ Rose _ narusaku20 _ levender orange _ Lee Min Ah _ Uchiha Hikari _ Imperiale Nazwa-chan _ shia naru _ Queen The Reaper _ xxruuxx _ Nasumi-chan Uharu _ Hiruma Karin _ devzlee _ RedRaBBit is Dead _ yuchan desu _

Semua terimakasih yang ada di seluuuuruh Gobras, Yas kasih semuanya deh buat readers n silent readers..

oh ya, buat Nasumi-chan Uharu, kata Aniki Yas kalo password'nya ada tulisan apa tuh Yas lupa, pokoknya artinya si password udah di pake ama orang lain. coba ganti aja.

.

Akhir kata

Review Please~~~