Chapter 4 update !
Balasan Review :
Naozumi-kun :
Sankyuu atas dukungannya... to gomen karena lama update...
Arum Junnie :
Ehehehehe... aku hanya bisa bilang tebakanmu benar atau salah, langsung baca aja Chap 4-nya#PLAKK.. ehehhehe...
Malachan12 :
Yosh, sankyuu atas dukungannya dan udah mau baca... ^^
dark blue
Ehehehehhe... gomen pendek, soalnya kejar kebut sih... Sankyuu udah mau baca...
Minna, terima kasih atas dukungan dan reviewnya.
Dukungan dan review kalian sangat membuat Author bersemangat untuk tetap melanjutkan fic ini.
"..." : Speak/berbicara
'...' : Think/berbicara dalam hati
Uchiha Sasuke : Normal time/waktu sekarang
Namikaze Naruto : Flashback/masa lalu
Well, Happy Reading~
Fandom :
Naruto
Disclaimer :
Masashi Kishimoto
Author :
MC Shirayuki
Story :
MC Shirayuki
Genre :
Supernatural / Romance
Rating :
T / Maybe M for gore
Pairing :
Uchiha Sasuke and Namikaze Naruto
Uzumaki Kyuubi and Namikaze Naruto
Uchiha Itachi and Namikaze Naruto
Warning :
AU, Typo, OOC, Gaje, FemNaru
DON'T LIKE ? DON'T READ !
Uchiha Sasuke : 15 tahun
Namikaze Naruto : 15 tahun
Uzumaki Kyuubi : 16 tahun
Uchiha Itachi : 16 tahun
Uchiha Shisui : 16 tahun
Akasuna Sasori : 15 tahun
Nara Shikamaru : 15 tahun
Hyuuga Neji : 15 tahun
Inuzuka Kiba : 15 tahun
Sabaku Gaara : 15 tahun
Hyuuga Hinata : 15 tahun
Yamanaka Ino : 15 tahun
Tenten : 15 tahun
Haruno Sakura : 15 tahun
Deidara : 15 tahun
Shion : 15 tahun
Haku : 16 tahun
Yahiko : 16 tahun
Konan : 16 tahun
Aburame Shino : 16 tahun
Chapter 4 : The Ring
"...sebuah cincin...?" Naruto memainkan cincin yang berada di tangannya dan menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk melihat lebih rinci cincin yang terbuat dari silver dan mempunyai sebuah batu ruby berbentuk sebuah sayap kanan di atasnya tersebut. Lalu Naruto menyematkan cincin tersebut di jari manis tangan kirinya. Ia menatapnya sejenak dan seketika wajahnya menjadi cerah. "Cantik sekali..." lalu dengan cepat wajahnya menjadi murung. "Tapi... ini kan milik seseorang... pasti pemiliknya akan merasa sangat kehilangan dan dia akan mencarinya..." Naruto terdiam sejenak sambil memandangi cincin tersebut. "Hmm, tapi sampai nanti ada yang melapor kehilangan cincin, ini akan kupakai dulu... dan kalau tidak ada yang mencarinya, ini akan kupakai saja..." dia tersenyum kecil.
"Naruto..."
Merasa namanya dipanggil oleh suara yang sangat di kenalnya, Naruto membalikkan tubuhnya. Kedua sapphire-nya menatap penuh semangat sosok yang sangat disayanginya yang sedang berdiri di pintu kelasnya.
"Kak Kyuubi...?"
Kyuubi melangkahkan kakinya ke arah Naruto. "Kamu tidak makan ?"
"Ah, iya. Aku baru saja mau makan."
Kyuubi yang telah berada di hadapan Naruto, menjulurkan tangan kanannya sambil menyeringai. "Mau ke kantin bersama ?"
Naruto tertegun sejenak. Rona tipis menghiasi wajahnya. Ia menerima tangan Kyuubi dan tersenyum lembut. "Ya, tentu saja..."
Lalu Naruto dan Kyuubi berjalan menuju kantin. 30 menit kemudian, bel istirahat selesai berbunyi.
Teng, Teng.
Para murid sudah kembali ke kelas masing-masing dan guru yang mengajar pelajaran berikutnya pun segera memasuki kelas.
Sasuke hanya berekspresi datar sepanjang pelajaran berlangsung. Ia menatap malas guru dan papan tulis yang berada di depan.
Sasuke mendengus. 'Kehidupan manusia memang menyebalkan...'
Jam pun berlalu dengan sangat cepat. Sekarang sudah jam 2 dan pelajaran sudah berakhir.
Teng, Teng.
Dengan cepat para murid berjalan keluar kelas. Sebelum Sasuke berada di luar kelas, suara seseorang memanggilnya.
"Sasuke."
Sasuke melirik sebentar orang yang memanggilnya.
"Kakak ? tumben kau mau repot-repot datang ke kelasku..."
Itachi mendengus. "Yah, aku sedang kesal dengan Shisui. Ayo pulang..."
Sasuke mangangguk kecil.
Sepanjang langkah mereka di lorong yang sepi hanya diikuti oleh keheningan. Itachi yang merasa bosan, menoleh ke arah Sasuke dan menatapnya bosan. Namun, matanya dengan cepat melirik ke arah sesuatu yang janggal. Matanya terbelalak. Dengan cepat ia mencengkram kedua pundak Sasuke dengan kedua tangannya dan menatapnya tajam.
"Sasuke...!"
Sasuke merasa sangat terkejut.
"A-ada apa kak...!?"
"Mana...?! Mana...?!"
Sasuke menepis dengan keras kedua tangan Itachi dari pundaknya.
"Ada apa...?! bicara yang jelas...!"
"Mana cincin yang ada di kalungmu ?"
Sasuke segera menundukkan kepalanya dan tangan kanannya mengangkat kalungnya. Matanya membulat tatkala terkejutnya ia karena cincin yang berada di kalungnya menghilang.
"Ke-kenapa bisa hilang...?!" Sasuke mencengkram kepalanya frustasi dengan tangan kanannya.
"Apa tadi pagi masih ada ?"
"Masih... saat pelajaran di mulai juga masih ada..." Tangan kiri Sasuke terkepal erat. "Kemana hilangnya...?" bisik Sasuke pelan.
"Tapi... ini aneh..." Itachi berkata pelan.
Sasuke menatap bingung Itachi.
"Maksud kakak ?"
"Yah, kau tidak sadar ? bagaimana mungkin cincin itu bisa terlepas dari kalungmu kalau kalungmu saja masih menyatu dengan sempurna begitu ?" Itachi menunjuk kalung Sasuke dengan jari telunjuk tangan kanannya.
Sasuke terdiam sejenak.
"Kakak benar... Kalau begitu... apa mungkin...?" Sasuke menatap Itachi dengan ekspresinya yang biasa, yaitu datar.
"Ya, tentu saja... tidak ada kemungkinan yang lain bukan ?"
"Tapi siapa...?"
"Entahlah... agak rumit untuk mencarinya. Kau harus memperhatikan semuanya satu-persatu secara rinci. Atau kalau mau lebih mudah, kau dapat merasakan cincinmu sampai jarak sepuluh meter darimu."
"Tapi... aku sangat yakin... sepanjang pelajaran aku merasakan cincinku." Sasuke terdian sejenak. "Aku lalai..." ia menggeleng pelan "Aku tidak merasakannya ketika istirahat pertama dan kedua."
"Bagus, kalau begitu petunjuknya sangat jelas. Berarti cincinmu berada di kelas."
"Aku akan segera ke kelas. Kakak tunggu saja di sini."
Dalam sepersekian detik Sasuke sudah menghilang dari pandangan Itachi.
Sasuke kini sudah sampai di kelasnya. Ia berjalan perlahan mengitari kelasnya dan berusaha fokus untuk merasakan cincinnya. Namun nihil, ia tidak dapat merasakannya di mana pun.
"Sial...!" Sasuke mengepalkan kedua tangannya. Dalam sekejap onyx-nya berubah menjadi ruby yang terselimuti dengan amarah.
Sasuke kembali ke tempat Itachi dalam sekejap.
"Bagaimana, Sasuke ?"
"Tidak ada..." Sasuke menatap tajam jendela yang berada di koridor tersebut dengan ruby-nya. "Siapa pun yang memegangnya saat ini... dalam masalah besar denganku..." katanya dengan nada mengintimidasi.
Itachi yang sedang bersender dengan kedua tangannya terlipat di depan dada dan mata yang terpejam menghela nafas.
"Tidak bisa begitu Sasuke..."
Tatapan tajam Sasuke beralih ke Itachi dengan cepat. "Kenapa ?!" katanya dengan nada membentak.
"Kau tahu dengan pasti alasannya."
"Tapi, aku sudah memperhatikan semuanya. Dan sepanjang penglihatanku, tidak ada."
Itachi tersenyum meremehkan. Ia membuka kedua matanya dan menatap Sasuke dengan kedua onyx-nya. "Itu kan menurutmu, Sasuke."
Sasuke berdecih.
Itachi menatap datar Sasuke. "Ya, sebaiknya kamu cepat pastikan siapa yang sekarang sedang memegang cincinmu. Sekarang, kita pulang dulu." Itachi menegakkan tubuhnya. Kedua tangannya di gerakkan ke kedua sisi tubuhnya.
Lalu Sasuke dan Itachi berjalan menuju termpat parkir VIP, di mana Shisui yang berada di kursi pengemudi di dalam mobil sedang memasang wajah masam karena terlalu lama menunggu Sasuke dan Itachi.
"Chk, mereka kemana...? biasanya mereka paling anti dengan yang namanya lambat." Shisui menggerakkan tangan kanannya untuk menyangga kepalanya yang sedang bersender. Ia perlahan memejamkan matanya.
BLAM
"Hey, kalian dari mana saja ? aku pikir kalian tidak suka dengan hal-hal yang berbau lambat." Shisui berbicara sambil tetap memejamkan matanya.
"Segera jalankan mobilnya dan pulang !" Perintah Sasuke dengan nada yang dingin.
"Huh...?" Shisui membuka matanya, menoleh kebelakang, dan menatap heran Sasuke yang sedang melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil menunduk.
'Auranya sangat mengerikan... aku rasa dia sedang dalam mood yang tidak baik.'
"Hey, Sasuke ada a..."
"Shisui, jangan ganggu dia dulu." Potong Itachi yang duduk di sebelahnya dengan cepat. Itachi sangat hafal sifat Sasuke. Jika Sasuke sedang dalam keadaan bad mood, sebaiknya biarkan dia sendiri jika tidak ingin terjadi hal-hal yang mengerikan. Karena sifatnya yang emosional, Sasuke mudah mengalami lost control. Dan Sasuke yang berada dalam keadaan tersebut itu sangat sulit untuk di tenangkan.
Shisui menatap bingung Itachi yang sedang bersender dengan mata terpejam. Ia mengangkat kedua bahunya. "Baiklah..." kemudian Shisui menjalankan mobil Lamborghini hitam tersebut menuju Uchiha mansion.
Sementara di dalam sebuah mobil Lamborghini merah, Kyuubi menggerakkan tangan kanannya dan mengenggam lembut tangan kiri Naruto. Naruto sedikit tersentak. Ia menoleh ke kiri dan menatap tangan Kyuubi yang sedang menggenggam tangannya. Seketika alis Kyuubi berkerut ketika telapak tangannya merasakan benda dingin. Kyuubi menarik tangan kiri Naruto ke hadapan wajahnya. Ditatapnya lekat-lekat sebuah cincin yang terbuat dari silver dan mempunyai sebuah batu ruby berbentuk sebuah sayap kanan di atasnya tersebut.
"Dari mana...?" Kyuubi berkata sangat pelan seperti berbisik dengan nada mengintimidasi.
Naruto menoleh dan menatap bingung Kyuubi.
"Dari mana apanya...?"
Lalu pandangan Naruto beralih ke cincin yang sedang dipakainya.
"Oh, cincin itu... tadi aku menemukannya di kelas."
"Lalu, kenapa kau memakainya ?" katanya lagi dengan nada yang masih mengintimidasi.
"Karena sampai sekarang belum ada yang melapor kehilangan, jadi cincin itu akan kupakai saja mulai sekarang."
Kyuubi menatap tajam cincin tersebut dengan kedua ruby-nya. Dia berdecih.
'Siapa pemiliknya ?! berani sekali dia ! akan kucari tahu segera dan akan kubuat dia menyesal karena telah membuat cincin sialan itu berada di jari Naruto !'
Naruto menatap heran Kyuubi yang sedang menguarkan aura yang menusuk. Sasori dan Gaara hanya dapat diam membisu. Mereka belum mau cari mati sekarang. Perlahan, rasa takut mulai menjalari Naruto.
"Ka-kak Kyuubi...?" Naruto berkata dengan suara yang bergetar.
Menangkap rasa takut dari Naruto, Kyuubi berhasil mengontrol dirinya. Dengan cepat aura di sekitar Kyuubi kembali seperti semula. Kyuubi menoleh ke arah Naruto yang memasang wajah ketakutan dengan setitik air mata di kedua pelupuk matanya. Kyuubi menggerakkan tangan kanannya mendekati wajah Naruto. Dan dengan ibu jarinya dia mengusap pelupuk mata Naruto dengan lembut.
"Hei... maafkan aku karena telah membuatmu takut." Kyuubi tersenyum lembut. Dia menarik punggung Naruto mendekat dengan tangan kirinya dan mendekap lembut Naruto. "Sudah, jangan takut... aku tidak bermaksud untuk menakutimu. Hanya saja, ada yang sedang aku pikirkan."
Naruto mengangguk kecil. Kedua tangannya perlahan bergerak untuk memeluk Kyuubi dan meremas erat jas Kyuubi.
Tatapan Kyuubi kembali menjadi tajam.
'Vampire sialan...!'
Sementara di sebuah kamar yang berada di sebuah mansion bertingkat empat dengan gaya Eropa yang di dominasi oleh warna hitam, kegaduhan terdengar dengan jelas. "Apa !? ci-cincin Sasuke hilang !? apa aku tidak salah dengar ?!" Shisui berteriak histeris.
"Ssssttt..." Itachi dengan cepat berdiri dan membekap mulut Shisui yang sedang duduk di pinggir ranjangnya dengan tangan kanannya. "Kalau kau teriak-teriak seperti itu dan ada yang mendengar teriakanmu, Sasuke akan mendapat masalah dari Ayah." Itachi menatap serius Shisui. "Dan kau tahu apa artinya itu kan...?" kata Itachi dengan nada horror.
Shisui menelan ludahnya dan mengangguk dengan terpatah-patah.
Itachi melepaskan mulut Shisui dan kembali duduk di sofa berwarna merah yang berada di dalam kamarnya yang di dominasi oleh warna hitam tersebut.
"Yeah... hidupku akan berakhir..." kata Shisui miris.
TAK
Itachi melempar sebuah pulpen ke arah Shisui. Dan dengan tepat mengenai keningnya.
Shisui menatap kesal Itachi yang sedang menatapnya datar. Shisui mengelus-elus keningnya yang bertanda merah tersebut dengan lembut. "Hei, apa maksudmu melempariku dengan pulpen ?"
"Ada dua alasan." Itachi mengangkat tangan kanannya dan membentuk angka satu dengan telunjuknya. "Pertama, kau terlalu berlebihan soal hidupmu yang akan berakhir. Hmm, mungkin paling parah kau hanya akan mengalami patah tulang di beberapa letak." Itachi menegakkan jari tengahnya. "Dan yang kedua, hanya balas dendam saja atas perlakuanmu di kelas pagi tadi."
Shisui menatap bosan Itachi dan menghela nafas. "Hei, Itachi..." Shisui menatap serius Itachi.
Itachi sudah menurunkan tangan kanannya ke tangan sofa. "Hmm...?"
"Apa yang akan Sasuke lakukan ketika mengetahui siapa yang memegang cincin itu...? Eerr, maksudku... yah, kau tahu... cincin itu kan..."
Thanks For Read
Sedikit cerita untuk Chapter berikutnya.
"Benar-benar vampire yang menyusahkan..."
Kyuubi masih terdiam di sana sambil menundukkan kepalanya. Gaara dan Sasori hanya menatap diam Kyuubi. Seketika, aura di sekitar Kyuubi berubah menjadi lebih tajam. Gaara dan Sasori sudah afal benar dengan aura Kyuubi saat ini.
"Ada tugas untuk kami, pangeran ?" tanya Sasori.
"Ya, ada."
"Baik, pangeran."
"Sebenarnya..."
"Hmm, tunggu sebentar... bukan seorang manusia, eh ?"
"Kak..."
"Ada apa, Sasuke ?"
"Aku merasakannya..."
Kyuubi tersenyum meremehkan. "Kau mau melihatnya ?"
"O-oh, tidak..."
"Apanya...?! jangan mengatakan hal yang aneh-aneh ! dan lepaskan kak Kyuubi !"
"Ti-tidak mungkin..."
"Mau apa kau ?! Jangan macam-macam terhadap adikku !"
"Tentu saja sudah jelas, kan ? aku ingin membunuh adik kesayanganmu itu."
"Itachi, apakah..."
Oh ya, di Chapter depan mulai akan disinggung mengenai OC. Hanya disinggung.
Mind to review ?
