Empat: Ter-segalanya
.
.
Citadel dalam keheningan malam.
Kane-san sedang duduk di emperan citadel. Cara duduk yang gagah, melipat tangan, dengan rambutnya menyapu lantai. Kunang-kunang berwarna cantik datang mendekat, pasti tertarik pada ketampanan Kane-san. Kunang-kunang itu hinggap di rambut panjang bak mayang terurai, masuk ke antara helainya, lalu terjebak tak bisa keluar lagi. Kane-san keliatan bete sebentar, kemudian tentram lagi.
Bagi Horikawa, kedamaian itu sudah cukup. Ia duduk di samping Kanesada, sama-sama memandangi malam berkilau kunang-kunang.
"Selamat datang kembali, Kane-san."
"Hm." Jawaban cool seperti biasa.
Horikawa tersenyum keistrian. "Aku senang Kane-san sudah bisa menerima dirinya sendiri dan jadi semakin percaya diri."
"Hm." Cool.
"Aku percaya kau akan semakin keren setelah ini. Walau jadi uchigatana, stat bertempurmu tidak kalah dengan para tachi, walau rarity-mu tidak meningkat, dan sekarang kau jatuh hampir di mana saja (sudah ada seratus Kanesada level 1 di sini)."
"Hm." Cool, namun dengan nada yang ketahuan bangga.
Horikawa tersenyum penuh semangat. "Kane-san, jangan lupa besok kita dapat giliran bersih-bersih kamar."
Kane-san mengangguk kalem, dan Horikawa sangat bahagia karena Kanesada yang rela bersih-bersih rumah atau memandikan kuda, bagaikan mimpi basah jadi nyata.
Kanesada menoleh. Mata biru beradu dengan mata biru seolah dapat saling menyedot. "Terima kasih, Kunihiro."
Horikawa merasa telah jadi pedang terbahagia di dunia. Senyumnya sumringah.
"Untuk seterusnya, aku pun butuh dukungan dan bantuan darimu," lanjut Kanesada.
Horikawa mengangguk.
"Terutama untuk urusan bersih-bersih bagianku besok. Tolong dikerjakan ya."
Horikawa mengangguk.
Kanesada mengangkat tangannya, jemari lentik nan tampan membelai sisi wajah Horikawa yang kenyal.
Momen langka itu terjadi. Momen yang pembaca dapat menebak apa yang terjadi. Taman asri citadel di malam hari yang bersaksi. Bila penasaran, dapat ditanyakan pada kunang-kunang yang bergoyang.
Keesokan harinya, seperti biasa, Kane-san kabur dari pekerjaan bebersih kamar. Alasannya karena ia mempercayai Horikawa sebagaimana Horikawa mempercayainya. Mereka satu hati sejak ratusan tahun bersanding hidup dan mati.
Di penghujung hari, Saniwa mencatat hukuman tambahan untuk pedang yang mangkir. Izuminokami Kanesada terdaftar pada urutan pertama. Catatan kesalahannya antara lain membiarkan kuda mandi sendiri, dan absen membersihkan kamar.
Tentu saja Horikawa Kunihiro lagi-lagi tidak mengerjakan tugas yang ditinggalkan Kane-san.
Ringan dengan pipi bersemu inosen, Horikawa berkata, "Maaf, Kane-san, karena ini perintah Aruji, jadi—"
"KUNIHIRO!"
